Aishiteru ~ satu cerpen
Hallo semua!…
Aku mau bagi-bagi naskah drama nih… Sebenarnya ini naskah drama udah kebikin dari dulu. Pas aku kerja kelompok B. Indo dan disuruh menampilkan satu contoh Drama 1 section. Tapi akhirnya aku nggak pake naskah yang ini…
Nah… setelah dipikir-pikir, naskah ini… gak buruk-buruk amat kok. Terus, kepikiran deh nge-bikin naskah itu jadi cerpen. Silahkan di baca…
–
Aishiteru
I love you
–
Di satu siang yang panas, ada 3 orang siswa SMP Citra Mulia yang masih berada di dalam kelas mereka, yaitu kelas 8-1. Mereka sedang sibuk melakukan hal masing-masing, dan ekspresi mereka sepertinya tidak terlalu berbeda dengan suasana siang pada saat itu. Sama-sama kering, sama-sama kusut, tidak bergairah sama sekali.
Arin, satu-satunya cewek yang ada di kelas itu sedang menulis sesuatu di papan tulis. Ada juga Vio yang duduk terkulai dengan lemasnya di kursi depan dengan tampang murung. Dan Candra yang hanya duduk diam di atas meja pojok sebelah pintu kelas, memperhatikan ekspresi loyo kedua temannya itu. Sepertinya mereka berdua sedang marahan.
Tiba-tiba masuklah seorang cowok dengan membawa satu buku tulis kecil. Cowok itu teman mereka bertiga, nama cowok itu Fardo. Fardo Masuk dengan semangat dan menyapa 3 temannya.
“Hai!… gue ketinggalan apa nih?” sapa Fardo.
Ketiga temannya hanya diam. Fardo menjadi bingung, ada apa dengan ketiga temannya ini?. Ia pun menatap Arin, Vio, dan Candra bergantian.
“Kok auranya gini sih?” tanya Fardo.
“Mereka lagi marahan” jawab Candra singkat sambil melirik Arin dan Vio.
“Gara-gara dia tuh” kata Vio sambil melirik Arin.
“Kenapa gue? bukannya elo yang emosian” balas Arin ke Vio tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis.
“Gimana sih ceritanya?” tanya Fardo. Ia menunggu salah satu dari 3 temannya agar menjawab pertanyaannya barusan. Lagi-lagi, Candra lah yang menjawab pertanyaannya itu, dan Fardo pun duduk di sebelah Candra agar ia bisa mendengar dengan leluasa.
“Jadi gini… Vio tuh lagi marahan sama ceweknya, Ify” kata Candra. “Gara-garanya, kemarin Ify dateng nyamperin Vio.. Ify mau ngajak Vio jalan, tapinya…”
“Vio emosian, dia nganggep Ify ganggu kesibukan dia. Vio kan lagi sibuk-sibuknya remed minggu ini” kata Arin menyelak penjelasan Candra.
Fardo mengangguk, ia mulai mengerti permasalahannya. “Terus?”
“Terus, gara-gara Vio marah, Ify juga marah. Ify bilang,.. ‘Dan sekarang kamu lebih suka deket sama cewek itu?’..” Candra melanjutkan penjelasannya sambil menirukan suara Vio dan Ify. “..Vio jawab,.. ‘cewek apa?’.. Ify bilang lagi, ‘Arin’..”
“Tapi kan gue nggak deket-deketin Vio. Ngapain juga.. nggak ada kerjaan banget. Kita kan sekelompok, gimana nggak deket?” selak Arin.
“Terus?” Fardo menunggu kelanjutan cerita Candra lagi.
“Di saat seperti itu, si Arin tiba-tiba dateng” kata Candra.
“Aturan lo nggak usah masuk, Rin” Vio menyelak cerita Candra dengan nada kesal.
“Gue kan nggak tau ada Ify di dalem..” kata Arin, mencoba membela dirinya sendiri.
“Ketuk dulu kek” balas Vio.
“Kalaupun gue ngetuk, terus elo bukain, tapi kalo Ify tiba-tiba nanya ‘itu siapa?’ lo mau jawab apa?… Hantu?” balas Arin.
“Bukan! Topeng monyet keliling!” balas Vio asal.
“Ya, elu monyetnya” balas Arin lagi.
“Ha ha.. pantes pantes!” seru Fardo. Ia kembali menatap Candra.
“Terus?”
“Lu, dari tadi ngomong tras trus tras trus mulu! Cape gue dengernya…” kata Candra sambil menoyor kepala Fardo.
“Aduh!” Fardo mengelak, ia hendak membalas perbuatan Candra, tapi tidak jadi. Candra sudah duluan melanjutkan ceritanya.
“… Pokoknya, habis itu Arin masuk.. Ify keluar dengan tampang marah, dan.. marahan dah tu berdua”
“Oh… gitu doang?” kata Fardo.
“Gitu doang?!.. lo nggak tau sih gimana rasanya ditinggalin cewek..” kata Vio dengan emosi.
“Ya masalahnya gue belum punya cewek” balas Fardo enteng. “Dan gue emang males punya cewek. Nggak bebas..”
“Masalahnya bukan gitu bro…” kata Candra ikutan. “Masalahnya nggak ada cewek yang mau ama lu. Udah item… idup lagi!” lanjut Candra, ia bermaksud mengejek Fardo, tapi niatnya bercanda sih..
“Wah.. songong lu..” kata Fardo yang langsung menggeplak kepala Candra pakai buku yang ia bawa.
Tiba-tiba Arin berhenti menulis di papan tulis. Ia berbalik dan menatap ketiga temannya itu. “Eh..” kata Arin. “Gue punya ide supaya Vio bisa baikan sama Ify…”
Candra, Fardo, maupun Vio pun langsung tertarik pada topik yang baru saja Arin tawarkan.
“Apa?” tanya mereka antusias.
“Baikan dulu…” kata Arin. Ia mendekati Vio, mengajaknya bersalaman dan berbaikan.
“Bakal berhasil nggak?” tanya Vio.
“Makanya kita coba dulu”
Setelah beberapa detik, akhirnya Vio menjabat tangan Arin dan berbaikan dengannya. “Kalian juga bantu ya” kata Vio sambil menatap Fardo dan Candra.
Fardo dan Candra malah saling tatap-tatapan muka. Mereka memperlihatkan senyum licik mereka dan menjawab ajakan Vio.
“Tergantung… Goceng dulu!”
“Mata duitan, lo!” kata Vio dan Arin.
“Wajar dong.. dari pada mata jereng!..” balas Fardo dan Candra dengan kompak.
Vio dan Arin nggak bisa apa-apa selain geleng-geleng kepala. Sementara Fardo dan Candra malah tos-an.
..
Setelah di iming-iming beberapa kali, akhirnya Candra dan Fardo bersedia untuk membantu. Beberapa hari ke depan, akan diadakan pensi di sekolah, dan sepertinya rencana Arin berhubungan dengan pensi ini.
Beredarlah gosip-gosip baru. Semua itu dikarenakan kehadiran Vio di ruang musik yang katanya angker. Memang jarang ada siswa yang mau masuk ke ruang musik tua sekolah itu. Karena jarang dipakai jadi berdebu. Apa lagi Vio bukan tipe orang yang doyan musik. Parahnya, sampai ada yang bilang, “Vio udah kerasukan sama hantu di ruang musik itu, dan bentar lagi dia bakal jadi tumbal, dan bunuh diri”. Yup! itu tak mungkin terjadi.
Singkatnya, sekarang hari pensi pun dimulai. Dan pada malam penutupan, tiba-tiba Vio muncul dari keramaian dan naik ke panggung. Vio naik ke panggung dengan membawa sebuah gitar. Anak-anak sekolah yang menyaksikan itu langsung bersorak. sebab tidak ada yang tau Vio bisa main gitar. Dan itu adalah jawaban atas kehadiran Vio di ruang musik. Ia belajar memainkan gitar. Tapi dengan siapa??…
Tiba-tiba terdengar teriakan dari bawah panggung. Asalnya dari cowok berkulit hitam.. tapi nggak manis. Well… siapa lagi kalau bukan Fardo?
“Woi!.. Gue yang ngajarin tuh!!” seru Fardo dengan lantangnya.
Candra yang ada disamping Fardo langsung memukul leher Fardo. “Bo’ong banget lo!.. orang gue juga yang ngajarin..”
Habis itu si Fardo cuma bisa cengengesan plus nyengir kuda. “He he..”
Lalu datanglah Arin dari kejauhan. “Eh lo pada liat Ify nggak?” tanya Arin.
Fardo dan Candra menoleh ke Arin, “Hah? enggak tuh” jawab mereka.
“Bukannya masalah Ify diserahin ke lo?” tanya Candra.
“Iya. Tapi tadi gue udah telepon.. katanya dia mau dateng… kok dari tadi nggak kelihatan yah?” jawab Arin.
“Ditelepon aja lagi” kata Fardo memberi usul.
Candra setuju, dan begitu juga dengan Arin. Lalu Arin segera menelepon Ify.
..
“Halo?..” kata orang di balik telepon.
“Ify yah?” tanya Arin. “Fy, kok lo nggak dateng?”
“Nggak ah, Rin.. Males nih…” balas Ify.
“Kenapa males?” tanya Arin lagi. “Ini tuh penting banget, Fy”
“Ya udah sih.. biarin aja. Nggak usah ikut campur lah..”
..
Saat Arin sedang menelepon Ify, Fardo menyenggol siku Arin. “Oi, Vio udah mulai nyanyi tuh..”
“Ssst! Bentar… gue lagi ngomong sama Ify” kata Arin.
..
“Fy..”
“Rin, aku nggak mau dateng…”
“Jangan bilang ‘nggak’ dulu…” kata Arin. Ia mengambil jeda beberapa detik dan kembali berbicara dengan Ify. “Fy.. Sekarang lo denger ini..” Arin maju mendekati Vio yang sedang menyanyi dan mendekatkan Handphone-nya ke speaker di panggung.
“Itu…” Ify diam untuk beberapa saat.
“Lo tau itu siapa?” tanya Arin, ia kembali berbicara pada Ify.
Ify menjawab perlahan. “Vi… Vio?”
“Tuh kan! Gue tau lo masih ada koneksi sama Vio!.. sekarang cepet lo dateng ke sini!.. dia nyanyi buat lo, Fy!” kata Arin. “Sia-sia Vio nyanyi kalo lo nggak dateng! Cepet, Fy!”
..
Setelah beberapa saat, Arin akhirnya selesai menelepon Ify. Fardo dan Candra langsung bertanya.
“Gimana?” tanya mereka.
“Ify mau dateng. Rumahnya nggak jauh-jauh amat kan dari sini?” kata Arin.
“Iya, emang nggak jauh” kata Candra. “Hampir tetanggaan malah..”
..
Sudah hampir 10 menit berlalu. Pensi di sekolah makin ramai. Mungkin karena acara penutupannya akan di akhiri dengan peluncuran kembang api. Namun keadaan yang ramai akan mempersulit Arin, Fardo dan Candra menemukan Ify. Ya.. sampai sekarang Ify masih belum kelihatan. Untungnya Vio masih bernyanyi di panggung. Tapi durasi waktu untuk Vio bernyanyi akan habis tidak lama lagi. Candra, Fardo dan Arin terus mencari Ify. Hingga akhirnya Candra berseru.
“Itu Ify!” seru Candra sambil menunjuk seseorang di kejauhan. Arin dan Fardo segera mencari orang yang ditunjuk oleh Candra. Ternyata benar! Orang itu memang Ify.
Ify sadar dirinya telah ditemukan, dan ia malah berlari menjauh.
“Loh… kok lari?” tanya Candra keheranan.
“Kejar, Do!” Arin mendorong Fardo agar mengejar Ify.
“Aaah… Enggak ah!” Fardo menolak. “Kan ladies first!” katanya lagi. Fardo malah balas mendorong Arin.
“Loh?… be gentle dong!.. lo yang kejar!” Arin kembali mendorong Fardo.
“ah! pada repot banget lo berdua!” Candra yang nggak tahan melihat kedua temannya itu dorong-dorongan kayak anak kecil langsung maju mendekati Vio dan menyuruh Vio memanggil Ify.
“Ify..” panggil Vio dengan miq.
Ify menoleh. Dalam seketika semua mata penonton yang ada disana langsung tertuju kepada Ify. Mau bagaimana lagi? Ternyata Fardo dengan sengaja telah mengarahkan cahaya lampu sorot kepada Ify dan Vio.
“Jangan lari, Fy…” kata Vio lagi. “.. Asal lo tau gue ngerasa kesepian nggak ada lo…”
Di belakang panggung Fardo berbisik kepada Arin. “Ciaellah… kata-katanya…”
Arin Cuma ketawa kecil, tapi sebenarnya ia pingin ngakak.
“Maafin gue fy… gue emang orang yang paling nggak sempurna di dunia ini… karena gue udah nyakitin hati elo… gue nggak bisa nge-jaga hati lo, Fy…” Vio menatap jauh kedalam mata Ify. Begitu juga dengan Ify.
“Kita baikan ya, Fy… please…” Vio memohon sebesar-besarnya. Kali ini benar-benar dari hati. Dan Vio juga berharap kata-katanya dapat menyentuh Ify hingga ke hati, dan membuat Ify yakin kalau ia sangat ingin berbaikan dengan Ify.
“Ify…” Vio memanggil Ify lagi. Ia mengambil nafas panjang. Sepertinya Vio ingin mengatakan sesuatu. Dan sesuatu itu harus berarti. Walaupun hanya sedikit.
Ify menunggu Vio mengatakan kata-kata berarti itu. Dan akhirnya…
“Ify…. Aishiteru..”
Aishiteru.. kata yang sangat singkat, namun itu tetap berarti. Artinya ‘Aku cinta kamu’.
“Iya…” Ify mengangguk. Tiba-tiba Candra datang dari kejauhan dan memberikan Ify satu miq terakhir di backstage.
Lalu Ify membalas kata-kata Vio.
“watashi mo Vio wo suki…” ( aku juga suka vio )
..
Whuuu… Fuu Fuu… Fardo langsung berseru dan bersiul agar suasana kembali hangat. Semua anak pun ikut bersorak dan bertepuk tangan. Dan goda-godain Vio-Ify juga tentunya. “Cieeeee” Koor semua anak. Candra tersenyum, Fardo dan Arin juga tos-an di belakang panggung. Kerja mereka ternyata nggak jelek-jelek amat. Namun sudah pasti Vio dan Ify lah yang paling bahagia di malam ini. Acara puncak yang di isi dengan peluncuran kembang api pun dipenuhi dengan rasa cinta dan gembira.
Dan kenangan berarti di malam itu takkan terlupakan di hati-hati yang menyaksikannya. Kenangan itu akan tetap ada, tersimpan di hati, dan akan ditemani oleh rasa cinta di dalamnya.
– Fin
Gimana ceritanya?
dikomen yah… ^_^
Saniyyah A.K
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.