Audisi Idola cilik 2_story. Jogja part 2

Aduh… maaf ya lama. Kerjaan sekolah makin banyak… semoga part yang ini memuaskan. Silahkan komen jika ingin dilanjutkan.Aku Saniyyah, silahkan membaca.

——-

Audisi Idola cilik 2 story. Jogja, part 2

Jogja Expo Center masih penuh dengan anak-anak kecil yang ingin mewujudkan mimpinya untuk menjadi idola. Penampilan mereka, terutama yang perempuan, tambah menarik ketika mama-mama mereka mendandani masing-masing putrinya agar terlihat cantik saat audisi nanti. Ibu-ibu yang anaknya laki-laki juga nggak mau kalah. Mereka ikut mendandani putranya agar kulitnya terlihat mulus, putih, keren, dan berwajah tampan. Kan ada yang bilang, kalau mau jadi artis, setidaknya harus punya modal tampang. Walau tidak dicantumkan di syarat audisi manapun sih.. Tapi tentu saja tampang di perlukan sebagai penambah. Ibaratnya Indomie, kan tidak enak kalau tidak ada bumbunya.

Sementara itu, di luar bangunan Jogja Expo Center, kedai-kedai dan tempat jajanan juga sudah mulai penuh. Jajanan yang ditawarkan saat itu  sangat laku, terutama Indomie. Kini waktu sudah mulai mendekati jam makan. Agar stamina fit, perut kita kan juga harus tetap diisi. Perasaan mereka yang perutnya telah diisi dengan makanan lezat berupa indomie instan sangat gembira dan kembali semangat. Begitu juga dengan seorang anak gadis berparas cantik, imut, dan berkulit putih, yang sedang berlari dengan riangnya menuju ke tempat jajanan yang menawarkan berbagai eskrim dan pop ice.

“Hm.. enak banget..” ujar anak gadis yang imut itu. Padahal ia sendiri juga belum merasakan ice cream yang terpajang di daftar menu tempat jajanan itu. Mukanya terlihat sangat exited. Ia sibuk melihat-lihat gambar ice cream dan minuman dingin yang tertera di daftar menu. Sampai akhirnya pemuda penjaga tempat jajanan itu menanyakan langsung pesanan anak gadis itu.

“ehem.. mau apa ya, Dek?” tanya pemuda itu.

“Oh.. itu, mas… aku… pesen 2 cappuccino yang ada es krimnya aja..” kata anak gadis itu hati-hati. Ia takut salah mengucapkannya.

“Yang mana?… yang nomor 3 di daftar menu ya?” tanya pemuda itu lagi.

“He-eh..” jawab anak itu mengiyakan. Kepalanya ia anggukan dua kali dan ia memberikan senyum manisnya ke pemuda penjaga yang telah melayaninya dengan baik tadi.

Tak lama kemudian, pesanan anak gadis itu pun sudah siap. Pemuda penjaga kedai es krim itu memberikan pesanan anak gadis di depannya dengan ramah.

“Ini, Dek. Pesanannya, 2 cappuccino dengan es krim..  silahkan di nikmati..” kata pemuda itu kembali.

“Iya, Mas… terimakasih…” anak gadis itu tersenyum lagi. Ia memberikan uang 20.000 untuk membayar cappuccino tersebut.

Saat pemuda penjaga kedai eskrim itu mengambil uang kembaliannya di laci kasir, ia sempat melirik ke leher si anak gadis. Terlihat sebuah kalung berwarna emas dengan bandul yang membentuk kata “Oik”.

“Adek namanya Oik yah?” tanya pemuda penjaga kedai itu.

“Loh?… kok mas bisa tau?” tanya anak gadis yang bernama Oik itu.

“Keliatan dari kalungnya, Dek..” jawab pemuda penjaga kedai sambil tersenyum dan memberikan kembaliannya ke Oik.

“Oh… iya juga ya, Mas… ya udah, kalo gitu Oik ke dalam ya. Nanti es krimnya meleleh lagi, Mas” canda Oik.

Pemuda penjaga itu pun mengangguk sambil tersenyum, sementara Oik juga balas tersenyum dan pergi meninggalkan kedai es krim.

..

“Haa.. senangnya. Akhirnya bisa beliin cappuccino buat Ma’e..” ujar Oik ringan. Ia berlari-lari kecil sambil tersenyum di halaman Jogja Expo center. Sebentar lagi ia akan sampai di tempat ma’e menunggunya. Ia ingin membuat kejutan untuk ma’e. Dan ia sangat berharap ma’e akan senang.

Tiba-tiba awan yang berada di atas kepala Oik berarak jauh. Udara jadi semakin panas. Oik mulai kecapaian. Tubuhnya tiba-tiba lemas. Tanpa ada seseorang yang melihat, “Bruk!” Oik jatuh pingsan. Cappuccino yang ia beli pun tumpah semua.

Suasana masih sepi. Tidak ada orang yang berlalu lalang. Sampai akhirnya, munculah seorang anak laki-laki dari kejauhan. Laki-laki itu adalah Obiet. Dan Obiet jelas kebingungan saat melihat gadis cilik di depannya tergeletak di jalanan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Aduh… Eh… Dek?… Eh, mm… Kak… Bangun dong… Eh, bangun…” Ia terus mengguncang tubuh Oik tapi tidak ada tanda-tanda Oik akan sadar.

“Aduh.. gimana nih?… Tolong!… tolong! ada yang pingsaaan….”

..

Ini adalah saat makan siang. Beberapa anak telah menjalani sesi audisi pertama. Kini tinggal siap-siap untuk sesi audisi menyanyi secara berkelompok. Suasana di dalam masih ramai dengan anak-anak yang sedang makan siang ditemani dengan walinya. Namun ada dua anak yang tidak makan siang. Pasalnya mereka sudah duluan kebingungan mencari tas mereka yang tertukar. Ya!.. itu adalah Cakka dan Agni.

Mereka sibuk mencari-cari sendiri, bolak-balik kesana-kemari, hingga akhirnya takdir menemukan mereka (jialah!..).

Bruk!

Cakka dan Agni bertubrukan tanpa sengaja karena pandangan mereka yang sama-sama melihat ke samping. Jadi mereka tidak sadar ada orang di depannya dan tubrukan. Dua-duanya terdorong ke belakang sampai-sampai jatuh ke lantai. Cakka lah yang pertama kali bangun. Dan dirinya langsung nge-judge kalau Agni lah yang meleng.

“Eh!… kalo jalan liat-liat dong!” kata Cakka.

“Enak aja! kamu emang liat-liat?.. kalo kamu liat-liat harusnya kamu juga minggir!” Agni nggak mau kalah sama cowok kayak artis di depannya. “Emang aku takut sama artis?” benaknya.

Cakka terdiam, Ia tidak tau harus membalas apa. Hingga akhirnya ia melihat tas hitam yang di pegang oleh Agni. “Loh! itu kan task u!”

“Hah?” Agni belum menyadari. Lalu ia melihat tas yang di pegang Cakka. “Itu juga tas aku!”

Dan mereka sama-sama melepas tas yang mereka pegang dan berlari meraih tas mereka sendiri. Lalu saling menatap muka, dan berseru.

“Kamu maling yah!?”

“Hih! enak aja!.. ngapain aku maling tas kayak gitu” kata Cakka. Rencananya ia ingin menyindir tas Agni.

“Tas kayak gimana? orang tas aku sama kayak tas kamu!” balas Agni. Wah! Agni pintar membalas ejekan yah..

Baru nyadar deh si Cakka. Kalo dia nyindir tas Agni kan, berarti dia nyindir tas nya sendiri. “Biarin!” balasnya.

Lalu mereka sama-sama melihat lawan adu mulutnya, dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Siapa sih kamu?” kata Cakka dengan nada agak kasar. Dia masih gengsi untuk bermaaf-maafan dan saling memaklumi dengan Agni.

“Kamu siapa?” Agni balas bertanya dengan nada yang sama.

“Aku cowok!.. kamu?”

“Ya aku cewek!..”

Lah? kok malah saling membeber-beberkan status?

“Dasar cewek!” seru Cakka.

“Apa cowok?!…”

Mereka terus bertengkar tanpa tau ada salah satu kru RCTI yang sedang bekerja di situ. namanya kak Melisa. Ia sedang menghitung jumlah anak-anak yang telah di audisi hari itu. Dan tentu saja suara-suara teriakan mereka ini sangat mengganggu.

“Eh denger ya!, cowok-cowok tuh nggak bakal lahir di dunia ini kalo nggak ada cewek!” seru Agni.

“Cewek juga nggak bakal ada di dunia ini kalau buyutnya cowok nggak mau menyerahkan satu tulang rusuknya ke cewek!” seru Cakka.

“Eh! buyutnya kamu, Adam alias kaum cowok tuh bakal frustasi kalo nggak ada cewek!” balas Agni.

“Tanpa cowok, cewek juga nggak bisa ngelahirin anak!” balas Cakka lagi.

“Aah!… dasar cowok!”

“Dasar cewek!”

“Cowok!”

“Cewek!”

“Cowok!”

“Cewek!”

“Huaaah!… udah berhenti berantemnya!. Semua orang juga tau mana yang cowok sama mana yang cewek di antara kalian”

Wah! akhirnya ada yang mau melerai, siapa lagi kalau bukan kak Melisa. Yah… mau gimana lagi. Kalau sudah seperti itu masalahnya, harus langsung di tangani dong. Kak melisa kan juga harus bekerja. Nanti kerjaannya nggak kelar-kelar dong?

“Udah sana makan!.. dasar anak kecil!…” ujar kak Melisa. Ha ha… emang susah ya, Kak.. kalau harus berada di dekat anak-anak. Pasti ada aja kehebohannya. Namanya juga Idola cilik.

“Nih!… 20.000!”

Wess! kak Melisa bahkan rela mentraktir Cakka dan Agni.

“Cari makan sono!… beli Indomie di tempat jajan sana!… masih banyak tuh!”

Yah.. karena sudah dimarahi seperti itu, Cakka dan Agni pun sepakat untuk mengaitkan kelingking mereka dan saling maaf-maafan tentang masalah tas yang tertukar. Tapi dalam hati mereka masih ada unek-unek untuk marahan lagi. Sudah deh… tenaganya disimpan dulu untuk sesi audisi selanjutnya. Akhirnya mereka pun pergi ke tempat jajan untuk beli Indomie bersama.

Kira-kira apa yah yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana situasi Oik dan Obiet? Akankah mereka berempat bertemu? Comment lagi untuk lanjutannya… Semoga makin bagus dan seruuu!

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

    • DINDApotter_Daindehh
    • May 16th, 2010

    lanjuuut! ceritanya keren kok!

  1. lanjuttt….
    siip deh ceritanya….

  1. No trackbacks yet.