Black Berry Forest ~ icy time ~

Lanjutan potongan cerita dari “Caramel chocho milk” as usual there is a picture for you.
Please Enjoy it!^^

……..

2nd day

Black Berry Forest ~ icy time ~

Sekarang siang telah berubah menjadi sore. Setelah anak-anak Icil divo, Agni, Oik dan juga Rahmi selesai latihan, mereka di bolehkan beristirahat, atau istilahnya jam bebas. Kali ini Oik dan Rahmi yang belum terlalu afal koreo untuk penampilan mereka esok hari memilih untuk tetap di ruang koreo. Anak-anak Icil divo bubaran, maksudnya memilih jalan-jalan untuk mengisi jam bebas itu sendiri.

Agni sendiri memilih untuk jalan-jalan di sekitar halaman atau taman depan. Udara disana sedang sejuk. Mungkin dikarenakan hujan yang baru mengguyur area RCTI siang tadi. Ada kemungkinan hujan akan turun lagi tidak lama setelah itu, namun Agni tidak peduli. Toh, belum hujan, mending waktunya di manfaatkan.

Lalu Agni jalan-jalan ke arah kolam ikan. Di sana ada kumpulan batu-batu besar yang halus. Dulu anak-anak lainnya suka duduk-duduk di situ sebagai tempat istirahat, refreshing, ataupun tempat menghafal lagu. Dan biasanya kolam ikan itu sepi, apalagi areanya terpencil.

Tak lama kemudian, Agni sampai di kolam ikan. Ternyata ia tidak sendiri. Ada Cakka juga disana. Dan Cakka sudah sibuk dengan hp blackberry-nya. Seketika, Agni merasakan suasana yang berbeda. Dulu biasanya Kalo ketemu Cakka sapa – sapa aja.  Sekarang ia jadi agak segan ke Cakka. Takut dianggap pengganggu atau lain-lainnya.

“Sapa nggak yah?…” benak Agni. “Nggak usah kali yah… kan di tempat lain juga masih ada kolam ikannya… lewat aja deh..”. Agni pun melangkah dengan niat menyembunyikan dirinya dari Cakka dan pergi ke kolam ikan lainnya. Tapi apa mau dikata pemirsa?, Ia tak sengaja menginjak ranting kecil yang bunyinya
*Kretek*
Sudah pasti Cakka mendengar bunyi ranting yang terinjak itu. Cakka menoleh dan mendapati Agni yang sedang berdiri mematung seperti maling yang tertangkap basah. Agni berusaha tersenyum, harusnya melakukan itu akan menghilangkan kekagokan dirinya. Namun setelah disenyumi, ekspresi Cakka tetap datar. Ia hanya menatap Agni dengan mata sedingin es di kutub dan mengalihkan pandangannya ke hp BB-nya lagi.

Agni sedikit lega, tapi kecewa juga sih. Ternyata Cakka emang bener ‘agak’ berubah. Nggak cuma tinggi, besar, otot dan paras muka kecilnya aja yang berubah, Sifatnya juga agak dingin. Individualnya keliatan banget. Kayaknya cuma hp BB-nya yang kini partner sejati dan selalu di prioritaskan olehnya. “Si Cakka… setia banget sama hp-nya..” ujar Agni di pikirannya. Kalo geng-geng ayu dan popular di sekolahnya Agni sih, pasti mereka nanggapin Cakka dengan kata-kata, “Ih!.. Sok artis banget sih, si Cakka”. Oalah… Cakka kan memang sudah jadi artis, wajar dong megang BB dan berlaga eksis. Tapi… apa nggak berlebihan, Cak?

Agni pun melangkah dengan penuh keberanian mendekati Cakka. Masa dari pertama ketemu belum saling sapa. Harus diakrabkan lagi dong, biar hubungan antar anak-anak idola cilik tidak putus. Seperti kata bunda Romi. Pokoknya persahabatan itu adalah segalanya. Kita bisa saling bantu kalo ada masalah. Kan enak punya banyak sahabat. Apalagi kalo salah satu sahabat kita, Cakka. Kan bisa numpang eksis… [...Gubrack!...]

“Hai, Cak” sapa Agni. Ia berdiri di belakang Cakka dan mencoba duduk di sebelahnya. “Aku boleh duduk di sini?” tanya Agni setelah itu.

Cakka menoleh ke Agni tanpa sepatah kata pun di ucapkan. Lalu ia mengangguk diiringi senyuman yang seperti dilakukan setengah hati, dan Ia kembali serius dengan hp-nya lagi.

“Lagi OL ya Cak?” tanya Agni. Rencananya sih mau basa-basi.

“Iya” jawab Cakka singkat. Hfft… Agni agak kecewa sih, tapi setidaknya Cakka udah ngejawab.

“Ganggu gak?” tanya Agni lagi.

“Nggak…” lagi-lagi Cakka menjawabnya dengan singkat.

“Beneran?…” Agni mulai berusaha mencairkan suasana agar lebih ceria. Hawa disini kayaknya sudah terlalu dingin. Bahkan Cakka sikapnya ikut ke bawa dingin.

“Nggak…” kata Cakka tiba-tiba. Agni tersentak. Kok Cakka bisa berkata seperti itu.

“Eh, Ag, kalo aku jawab aku keganggu sama kamu, kamu pasti langsung ngabrur ke Oik sama Rahmi, terus ngadu kali… aku males aja dibikin repot cuma gara-gara orang bilang aku nyakitin atau bikin nangis seorang cewek..”

Aduh Cakka… nyadar nggak sih, sebenernya dengan menjelaskan sebeber-bebernya pikiran kamu itu udah duluan bikin hati cewek di samping kamu menangis karena tersakiti.

“Kalo aku mah nggak bakal nangis, Cak…” balas Agni. Ia berusaha tegar. Namun pada akhirnya pembicaraan itu tetap berakhir sunyi. Cakka lagi-lagi diam.

Dalam sekejap Agni merasa aura disini makin dingin. Bukan sejuk lagi… malah membeku. Dan itu sakit.

“hhhh….” Agni menghelakan nafas panjang. Asap putih terlihat keluar dari mulutnya. Kini ia menyesali dirinya sendiri. Pantas saja dari tadi dirinya serasa mulai membeku. ternyata dari tadi dia nggak pake jaket, lupa dibawa, jaket itu masih ada pada Oik dan Rahmi. Lupa itu memang kecerobohan yang sangat fatal.

“Belakangan ini sibuk apa, Cak?” tanya Agni, ia coba membuka topic baru.

“Biasa… manggung”

“Oh…”

“Lo?…” Wah Cakka udah ngajak Agni pake lo-gue. Ya udah, ikutin maunya aja dulu.

“Gue… Biasa… sekolah..” balas Agni.

Terus… Cakka dan Agni diem-dieman lagi. Nggak asik banget sih…

“Lah, trus…. lo mau ngomong apa lagi, Ag?” tanya Agni dalam hati. “Ngomongin nilai?… Nggak banget… baru ketemuan kok langsung ngobrol tentang salah satu jenis pressure bagi sebagian pelajar di dunia?”

Setelah diam-diaman beberapa saat, Agni baru ingat, kalau ia harus menelepon ibunya jam segini. Itu adalah janji Agni kepada ibunya sebelum ia meninggalkan rumah. Janji antara sesama perempuan, janji ibu dan anak. Sebabnya?… masa nggak tau? Agni kan sekarang sudah besar,  sudah mulai tumbuh menjadi remaja. Fisik maupun mental. Tambah Cantik lagi. Terlebih lagi, sudah bisa ditaksir orang. (Whayolo!) Seorang ibu pasti takut kan, kalau anaknya kenapa-napa, diculik orang, apalagi Agni datang ke RCTI sendiri, paling sama Oik.

Lalu Agni segera meraih kantong celananya dan ia cari hp yang biasanya ia taruh disitu. Tapi setelah dicari dan tangannya dimasukan ke kantong celananya sedalam-dalamnya, ternyata hasilnya nihil. Hp-nya  nggak ada di situ. Dan Agni pun langsung ingat, kalau hp-nya ia taruh di jaket saat latihan. “Aduh Agni!… kok belakangan ini lo sering banget lupa?…” Agni pun langsung murung. Bisa-bisa ibunya marahin dia segera setelah ia pulang dari RCTI. Dan pada akhirnya ia tidak bisa memikirkan jalan keluar lain, selain meminjam hp Cakka.

“Cak… boleh pinjem hp kamu nggak?” tanya Agni dengan ragu-ragu.

“mm?…”

“Buat… nelepon ibu aku… aku udah janji mau telepon jam segini…”

Cakka diam.

“Boleh nggak, Ca..”

“Udah jelas orang lagi make… minta di pinjemin, modal dong…” bentak Cakka tiba-tiba.

Agni yang tadinya sudah mendekatkan tangannya ke tangan Cakka langsung menarik tangannya kembali. Ia langsung berdiri, mungkin karena kaget dan ketakutan.

“jadi…”

“Ya, nggak boleh” Cakka menyelak pertanyaan Agni, sementara Agni hanya bisa gigit bibir.

Hhh… pertemuan ini ternyata diakhiri dengan Agni yang takut dan semakin segan kepada Cakka. Niat dan hasilnya bertolak belakang sekali. Lalu ia pun turun dari batu besar yang Cakka duduki.

“Ya udahlah… aku pinjem Obiet aja…”

Jiah, si Agni. Ternyata Obiet dijadikan pelarian. Habis… teman sesama IC 2 yang paling dekat dengannya sekarang kan cuma Obiet. Obiet kadang menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke rumah Agni. Agni juga pernah main ke rumah Obiet. Jadi… begitulah…

Sore ini pada akhirnya akan tetap menjadi mendung. Sebentar lagi hujan turun… lalu siapa yang akan menghangatkan suasana?

~ fin ~

Akan dilanjutkan lagi… tunggu lanjutannya!^^

Seperti yang telah di janjikan,
Ini bonus picture-nya…

Black berry forest_white ver.

"Black berry forest_white ver."

Black berry forest_black ver.

"Black berry forest_black ver."

Makasih udah baca ~._.~
sama-sama untuk gambarnya…
Don’t forget to comment^^

Saniyyah Ardina K.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.