Archive for the ‘ Kingom of dream ’ Category

Bonus Pic from Kingdom Of Dream part 13

vampire chlotes

ify's

Kingdom Of Dream_Part 13: Kelas Germstone dan Para Pelayan Pribadi

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream Part 12: Pagi Pertama

Sudah sebegitu lama aku nggak ngelanjutin cerita ini. Dikarenakan jadwal sekolah yang makin padat. Minggu-minggu ulangan mulai berdatangan nih. Maaf banget buat yang nunggu. Dan kayaknya habis part ini aku belum akan melanjutkan ceritanya sampai semester depan.

Sebagai penutup, semoga Part yang nggak begitu banyak ini memuaskan. Selamat membaca!

Kingdom Of Dream
Part 13: Kelas Germstone dan Para Pelayan Pribadi

Teng… teng… teng…

jam besar di menara kerajaan berbunyi nyaring. Suaranya menggema ke seluruh pelosok kerajaan. Kini seluruh pangeran dan putri Kingdom Of Dream sudah ada di kelas masing-masing. Semuanya di bagi menjadi 3 kelas. Kelas Princia, Kelas Regina, dan Kelas Germstone. 1 kelas di isi oleh 20 orang. Kelas Princia hanya di anggotai oleh para pangeran. Kelas Regina hanya di anggotai oleh para putri, dan Kelas Germstone di masuki oleh dua-duannya.

Agni, Oik, Cakka, Patton, Debo, Obiet, Irysad, dan Zevana masuk ke kelas Germstone. Mereka tentu sangat senang memasuki kelas yang sama. Seperti kata Patton, Anggota kelas Germstone sepertinya memang menarik. Dari bajunya saja sudah terlihat berbagai macam warna dan model yang berbeda. Ada Pangeran Ozy, Putri kupu-kupu Ify bersama temannya, Putri Dea, 3 putri awan, 3 Raika bersaudara, dan seorang pangeran dengan baju serba hitam dan kulit coklat pucat.

“Wah… kalo dihitung-hitung, sudah ada 18 orang yah. Tinggal kurang 2 lagi.” ujar Irsyad.

“he-eh.” Yang lain mengangguk. Kelas sudah penuh. Bangku yang tersisa hanya 1 di pojok depan dan 1 lagi di pojok belakang. Ify duduk bersampingan dengan Dea. Mereka sama-sama memilih tempat duduk depan, tempat dimana mereka dapat melihat guru paling jelas. Ozy duduk di sampingnya. 3 putri awan duduk di barisan tengah, berjejer ke belakang. Mungkin mereka ingin mendapat perhatian dari segala arah. Apalagi di atas mereka terpasang lampu yang paling besar di kelas itu. Cahayanya pun memantul ke baju mereka dan memantul lagi ke semua mata yang memandang. Barisan paling kiri diisi oleh para pangeran. 3 Raika bersaudara ada di sana, dan dibelakangnya duduk pangeran dengan baju hitam dan kulit coklat hitam, taring tajam, dengan tingkah seasalnya dan semaunya. ya.. kesimpulannya ia Sion.

“EHHEM!.” suara deheman keras terdengar dari pintu kelas yang ada di belakang ruangan. Seluruh perhatian pun tertuju pada seorang professor yang berdehem itu.

“Cukup istirahatnya. Sekarang sudah waktunya pelajaran.” ucap professor itu. “Sekarang kalian duduk di tempat masing-masing dan buka buku tulis yang sudah di siapkan di laci meja kalian.” lanjutnya sambil melangkah ke area guru di depan kelas yang 1 tingkat lebih tinggi dari pada area murid.

Professor itu berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu, ia memakai terusan rok yang panjangnya sampai selantai dan berwarna ungu. Sepatunya boots coklat dengan tali yang warnanya lebih muda satu tingkat dengan warna sepatunya. Lalu hampir semua itu ditutupi oleh jubah berwarna ungu dan berlambang bulan emas.

“Seenaknya menyuruh. Memang  kau siapa?”seru Lintar ketus.

Professor itu menghentikan langkahnya ketika ia mendengar kata-kata lintar dengan nada penuh ketidakhormatan. Ia menatap Lintar tajam. “Seenaknya bicara. Apa kau kira kau yang berkuasa di sini?” ucapnya tajam.

Professor itu kembali melangkah ke tempatnya. Mulutnya melanjutkan perkataannya tadi. “hati-hati nak, 1 kali lagi berbicara acuh namamu akan tertulis secara permanen dalam daftarku”

BUK. 3 buah buku diletakan dimeja guru yang terbuat dari kayu. “Hmm… Tapi benar.” Lanjut professor itu. Ia mengusap debu-debu yang ada di meja dan merapihkan beberapa peralatan yang ada di meja itu. “Aku adalah professor yang akan mengajar kalian mulai sekarang… Dan Sebagai murid, kalian harus tau siapa namaku.” ucapnya penuh wibawa.

“Namaku Dave, Panggil saja Professor Dave atau Prof Dave, itu terserah kalian.” jelas Professor Dave. Semua anak mengangguk kecil. Professor Dave tersenyum puas dan melanjutkan kata-katanya.“Baik.  Hari ini kita akan memulai pelajaran dengan Pre-Test!..”

“Yaaaaah….” mendengar kalimat terakhir Professor Dave anak-anak murid langsung ber-koor kecewa.

“Hei jangan mengeluh padaku. Ini kurikulum. coba saja cek guru lain, mereka pasti akan memulai pelajarannya dengan pre-test juga” jelas Professor Dave.

“Aah..” Sivia mengeluh kecewa. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan 1 buku tulis dengan tampang tidak niat sama sekali.

Tidak lama setelah itu…

Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Professor Dave menghelakan nafasnya panjang. “Huuh… baru hari pertama sudah ada saja murid yang terlambat..” keluhnya.

Professor Dave  duduk di kursinya, bersender dan mengarahkan tangannya ke pintu kelas yang ada jauh di belakang kelas.

“BRAK!”

Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar seperti ditiup angin. Suaranya menggema di dalam ruangan.

“Itu adalah bunyi pintu yang terbuka untuk anak yang terlambat… Dan kau! anak yang berdiri di depan pintu..” ucap Professor Dave tegas. “Kau terlambat!” lanjutnya dengan nada menghukum. Tangan kanannya menunjuk pada seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu kelas, yang menatapnya dingin.

Anak itu masuk. Tak peduli tentang pandangan professor Dave padanya. Professor Dave juga terlihat masih tenang. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati anak laki-laki yang terlambat itu. Ia menatap anak laki-laki itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lalu Professor Dave bertanya.

“Dari negari mana?” tanya Professor Dave sambil menatap muka anak itu.

“Daerah lembah hitam” jawab anak itu singkat.

“Oh.. Vampire..” Professor Dave berujar sesaat. Ia hafal kalau negeri yang terletak di daerah lembah hitam adalah negeri Vampire. “Siapa namamu?” tanya professor Dave lagi.

“Gabriel stevent Vulvoria”

“Oke. Stevent.. aku memberikan kau satu poin karena terlambat.” Professor Dave memberikan 1 buah kertas kecil berwarna merah dengan logo harpa.

Gabriel mengambil kertas itu. Professor Dave mempersilahkannya duduk. Namun ia enggan untuk segera duduk.

“Ehm…” ucapnya dengan jelas.

Professor Dave berbalik menatapnya.

“Aku tidak terbiasa dengan Stevent. Bisa panggil dengan Gabriel saja?” jelasnya singkat.

Professor Dave mengangguk mengerti dan menyuruh Gabriel duduk dengan lambaian tangan. Gabriel pun melangkah ke bangku kelas pojok belakang. Tepat di dekat kakaknya, Sion.

Sion melirik padanya dengan pandangan menertawakan. “Baru hari pertama… masa udah telat?” ejeknya pelan.

“Bukannya kau lebih tau sebabnya?” balas Gabriel agak kesal.

Ya, Sebenarnya yang menyebabkan Gabriel terlambat memang Sion sendiri. Sion menguncinya di toilet saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kelas.

Sementara di sisi lain. Oik yang sedari tadi melamun langsung terbangun oleh tepukan Agni di pundaknya.

“Apa sih?” tanya Oik agak sewot karena terganggu. Oik memang suka marah kalo tiba-tiba dibangunkan dari lamunannya.

Agni mendekatkan mulutnya ke telinga Oik dan berbisik.

“Pangeran yang itu…” katanya sambil menunjuk Gabriel. “Pangeran yang aku temuin di taman kediamannya Obiet..” ucapnya exited.

“Hah…” ucap Oik terkejut. Matanya yang tadi setengah terpejam jadi bangun kembali. Ia ikut menatap Gabriel meneliti. Ia lalu ngangguk-ngangguk. “Dari tampangnya keren yaa.. tadi perilakunya pas ngomong sama prof. Dave juga keren..” ujarnya sambil tersenyum.

“Alah… kayak kamu ngeliat dari tadi aja.. Bukannya kamu ngelamun, Ik?” balas Agni menyenggol pundak  Oik lagi.

“Yee… walau gitu kan suaranya masih kedengeran dikit.” kata Oik membela diri.

“Eh, pada ngomongin apa sih?” tanya Zevana.

“Ceritanya panjang, Zev. Panjaaang banget” jawab Agni.

“Iya. Yang udah tau tuh cuman Patton, Irsyad, sama Obiet” tambah Oik.

Patton yang mendengar namanya di sebut pun langsung ikutan ngombrol. “Cerita apa emangnya?” tanyanya.

“Itu loh, Ton. Yang pangeran di taman kediaman Obiet itu.” jawab Oik.

“Oh… udah tau pangerannya? mana-mana?” tanyanya lagi.

“Yang tadi terlambat” jawab Oik. Agni juga mengangguk sambil tersenyum dan menunjukan jari telunjuknya ke Gabriel yang berada di pojok kelas. “Keren yaa” tambah Oik iseng.

“Ah… terlambat di bilang keren. Nggak masuk akal..” ujar Irsyad yang nyambung tiba-tiba. “Kerenan aku..” katanya pede.

“Ya ampun syad.. syad…, Jauh!” balas Oik segera.

“Aha ha! Iya!..” Zevana yang dari tadi hanya mendengarkan ikut tertawa. “Hmm… kok selera kalian pada yang item-item sih?. Aku sih beda. Kalo menurut aku mending Cakka tuh.. Putih..” tambah Zevana.

Cakka yang ikut mendengarkan hanya senyum-senyum aja.

“Loh?… jadi Zevana kalo nanti milih pangeran maunya sama Cakka?” tanya Debo sekaligus menggoda Zevana.

“Ih nggak tuh.” jawab Zevana dengan dagu dicondongkan ke atas. “Kayak kata Oik tadi.. Jauh…” tambahnya. “Cakka tuh bukan tipe aku. Aku maunya yang bukan sesama ras kucing. Mau-nya yang jauh. Ikan misalnya.. jadi bisa mengenal belahan dunia lain yang beda banget dari semua yang pernah aku rasakan” balas Zevana mantap tanpa ragu sedikitpun.

“Ooo,.. ikan mas dong!” celoteh Debo.

“Wah… kalo nanti Zevana melanjutkan tahta kerajaan bareng raja ikan, repot dong. Nanti kalo laper, rajanya dimakan sama Zevana!.. Ha ha ha ha..” Patton yang jail mengomentari cerita Zevana dari sudut pandang yang berbeda. Ketawanya jahiiil banget. Bikin Zevana pingin menjitak si Patton yang tengil itu. Yang lain yang juga ikut menyaksikan jadi tertawa lepas deh.

Obiet yang dari tadi kaleem mulu. Menopang dagunya di telapak tangan ikut tertawa geli. Setelah beberapa saat, Obiet pun memulai topic baru di pembicaraan itu.

“Eh…  Kan Agni udah tau itu pangerannya tuh. Terus kalo udah tau, nanti mau ngapain lagi?” tanya Obiet memecahkan suasana yang tadi.

Agni pun terdiam, langsung terpikir olehnya. Kalo udah tau nama dan negara asal, nanti mau ngapain lagi?.

“Yah… kenalan lah. Iya kan Ag? tanya Cakka. Ia mulai pede sekarang ikut dalam pembicaraan mereka. Walau tidak tau dari awal, yang penting join aja.

“He-eh”Agni mengangguk akan tebakan Cakka. Ia juga merencanakan untuk kenalan.

“Tapi kayaknya, pangeran itu susah didekatin deh.” ujar Debo. “Lagian kan mereka makan darah. Vampire gitu..” tambahnya.

“Tapi aku yakin Vampire bangsawan macam mereka nggak bakal minum darah kita. Kan mereka sudah dilatih untuk memakan darah yang disediakan saja. Dan biasanya cuman dari binatang atau pelayan mereka yang memang sudah terikat janji. Itu pun di batasi. Lagi pula, kalau mereka bisa makan darah kita, mana mungkin diikut sertakan dalam acara seperti ini?” ucap Zevana mengeluarkan pendapatnya.

“Tapi aku setuju kok kalo kita akan coba ngedeketin dia. Kayaknya seru deh. Ayuk deh… kita deketin aja.. oh iya, yang duduk di belakangnya itu kakaknya kan? kalau perlu kita deketin kakanya juga.. gimana?” ucap Oik bersemangat.

“Aku sih setuju-setuju aja.” ucap Cakka. Obiet mengangguk dengan tenang dan mengatakan kalau ia setuju. Debo , Patton dan Zevana  setuju karena niatnya untuk mencari teman lebih banyak. Agni sudah pasti setuju. Lalu Irsyad, walau masih ngotot kalo dia lebih keren dari Gabriel tapi ia akhirnya juga setuju.

“Ya udah. Gimana kalo nanti siang di jam istirahat kita nyamperin dia dan kakaknya? Setuju? tanya Patton pada semuanya.

“Setuju!!”

Sementara itu di taman Palladius…

Suasananya terlihat sangat sumpek. Banyak sekali pelayan-pelayan pribadi yang ada di sana. Apalagi terik matahari yang sangat menyengat. Membuat suasana semakin panas. Untung sudah di sediakan dengan berderet, 5 meja beserta tempat duduknya di tengah-tengah taman. Satu buah meja mempunyai dua kursi yang masing-masing kursinya dapat diduduki oleh 6 orang. Para pelayan yang malas berdiri pun dapat mengistirahatkan kaki di sana. Sayangnya tidak di sediakan minum sama sekali. Jadi keadaan tidak jauh lebih baik.

Alvin, Nova, Siyenna, dan satu orang pelayan pribadi yang baru menjadi teman mereka tadi: Oliv, duduk di salah satu kursi yang disediakan. Mereka duduk berhadap-hadapan. Alvin duduk sederetan dengan Siyenna, sementara Nova dan Oliv duduk di depan mereka.  Namun tidak hanya mereka yang duduk di meja itu. Di meja itu duduk satu orang pelayan pribadi lagi yang terlihat sangat kaku hingga akhirnya mereka berempat memilih untuk mendiamkannya saja. Tadi sudah disapa oleh Oliv, tapi pelayan itu tetap diam memandang kosong kedepan.

“Eh..” bisik Siyenna pada Nova, Alvin, dan Oliv yang duduk di dekatnya. Nova menatap Siyenna siap untuk menyimak kata-kata Selanjutnya. Oliv yang duduk di sebelahnya langsung memperhatikan Siyenna sementara Alvin yang duduk di sebelah Siyenna hanya mengangguk agak cuek. Di kepalanya masih penuh dengan komentar “Panas, Panas, Panas..”

Siyenna pun melanjutkan. “.. Kok pelayan yang duduk di meja kita kayaknya ngeri banget deh…” bisik Siyenna mengeluh.

“Yeu…” Oliv langsung menunduk. Di kira Siyenna mau mengatakan sesuatu yang penting. Macam rahasia yang menarik. Ternyata cuman mau ngeluh dan curcol.

“Udah mana panas lagi… nggak dikasih minum pula..” keluh Siyenna terus menerus. “Bisa dehidrasi kita…”

Alvin pun menambahkan. “Setuju. Kenapa dikumpulinnya nggak di dalem aja sih?…” keluh Alvin sambil menatap ketiga temannya.

Oliv menggeleng-gelengkan kepalanya. “Udahlah… kita memang seharusnya menerima. Wajar kali… kita kan pelayan.. bukan putri atau pangeran..” katanya menengahi. Nova mengangguk-ngangguk setuju.

“Tapi kan harusnya kita di hormati juga. Kan kalo nggak ada kita: pelayan pribadi, para putri dan pangeran itu bisa kewalahan mengatur pekerjaannya.” balas Siyenna lagi. “Iya kan, Nov?” lanjut Siyenna meminta persetujuan dari Nova.

Nova yang kebingungan cuman bisa ngangguk-ngangguk lagi. Lalu Alvin tertawa kecil. “Tadi pas Oliv ngomong, Nova ngangguk. Pas Siyenna ngomong Nova juga ngangguk. Gimana sih Nova?…” candanya dengan tampang ceria.

Nova pun cuman cengengesan kecil.

“Ini aneh.” ujar Siyenna tiba-tiba.

“Apanya yang aneh?” tanya Oliv.

“Keputusan ini. Mengunci Para Pelayan Pribadi di satu tempat. Walaupun perkataannya ingin mengumpulkan tapi tetap saja sebenarnya kita dikunci di taman ini. Kalau niatnya ingin mengumpulkan para pelayan pasti tujuan pihak minister adalah mengumumkan sesuatu untuk para pelayan pribadi. Tapi dari tadi tidak ada yang keluar masuk taman. Yang ada di sini hanya pelayan pribadi saja.”

“Seperti di batasi ya?” tanya Nova.

“Hm. Tepat” jawab Siyenna menganggukan kepalanya.

“Oh. Iya, kalau tidak salah taman Palladius memang bisa di bilang taman yang paling tertutup di banding taman-taman lainnya di istana ini. Taman ini hanya bisa di jangkau melalui pintu gerbang taman dan satu pintu istana yaitu pintu istana timur yang ada di salah satu sisi taman ini.” ucap Alvin penuh misteri.

“Loh, bukannya hal-hal itu juga berlaku di taman barat. Taman barat kan hanya punya satu pintu gerbang, lalu terhubungnya dengan pintu istana barat kan?” sanggah Oliv.

“Oh.. Iya. Berarti aku salah..” ucap Alvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi seingatnya ada satu hal yang membuat taman ini sangat berbeda dengan taman-taman yang lainnya.

Sementara itu di suatu tempat yang gelap dan tersembunyi seperti gua. 3 minister utama, yaitu minister Syltha, Winda dan Vrone berkumpul dengan jubah yang menutupi kepala mereka. Vrone menatap pantulan cahaya air kolam yang berada di gua. Winda bersandar pada dinding gua seakan melafalkan sesuatu. Mereka kelihatan panik, kecuali minister Syltha yang hanya menatap tingkah keduanya bagaikan tak peduli.

“Bagaimana?.. apa dia sudah terlihat?” tanya Winda dengan tampang khawatir.

“Belum. Tak ada satupun tanda-tanda keberadaannya. Apa seluruh pelayan pribadi sudah berkumpul di sana?” Vrone balik bertanya untuk memastikan keadaan.

“Sudah.” jawab Winda

“Tanpa terkecuali?” Vrone meyakinkan.

“Ya. Tanpa terkecuali” jawab Winda kembali.

“Mungkin dia sudah keluar dari gerbang taman itu.” ujar Syltha dengan santainya.

“Tidak mungkin. Semua yang mencoba keluar dari gerbang akan langsung terlihat di pantulan kolam ini.” balas Winda.

“Mungkin saja. Siapa tau mereka mendapat ilmu baru dari seseorang. Seseorang yang bisa menutup sosoknya dari pandangan siapapun dan apapun. Dan setelah kuingat lagi… Reva masih belum terlihat sejak 4 bulan terakhir bukan?” Syltha membalas dan meniup asap putih dari pipa barunya.

Winda tersentak. Raut wajahnya tiba-tiba marah ketika ia mendengar balasan Syltha. “Reva tidak mungkin berkhianat. Dan dia tidak akan memberikan ilmu nya itu ke sembarang orang, terlebih lagi musuh kita” serunya tegas.

“Semua hal berubah. Mungkin Reva sudah berubah.” balas Syltha tanpa henti.

“Sudah! Diam kalian berdua!…” seru Vrone menengahi keadaan. “Winda, Syltha benar. ada banyak kemungkinan kalau kemampuan mereka dapat bertambah.”

“Vrone..” Winda tidak menyangka Vrone akan membela Syltha. Raut mukanya seketika murung. Syltha tersenyum licik.

“Sudahlah… Kita harus membuat seseorang menciptakan sebuah jebakan di gerbang itu…” tambah Vrone. “Apa ada seseorang diantara para pelayan pribadi yang bisa melakukan sihir berantai?”

“Ya.” jawab Syltha segera. “Ada dua orang.”

“Vrone! Jangan bilang kau ingin melakukan sihir boneka… Aku tidak berniat sedikitpun untuk melakukannya” seru Winda.

“Tidak usah repot. Aku yang akan melakukannya. Aku tidak mempermasalahkannya sedikitpun” Syltha menawarkan jasanya dengan senang hati. Senyumannya makin terlihat.

“Syltha!” Winda mencoba menghentikan, tapi Vrone sudah terlebih dulu menyelaknya.

“Pilih yang paling cocok untuk di korbankan” ucap Vrone jelas.

“Ya.. aku tau.” jawab Syltha.

Dalam waktu yang singkat Syltha sudah beranjak dari tempatnya. Segera melakukan tugasnya tanpa rasa ragu sedikitpun.

“Vrone…, mereka bisa terluka..” ucap Winda mengingatkan.

“Aku tau.. hanya demi putra putri mahkota kita. Tidak ada pilihan lain..”

Di taman Palladius di meja Alvin, Siyenna, Nova dan juga Oliv. Mereka masih sibuk memikirkan sebab-sebab mengapa mereka harus berada di sini. Menikmati panasnya siang yang membara. Alvin terus memutar kepalanya. Apa yang menyebabkan taman ini berbeda dengan yang lainnya?

“Ah! Iya aku ingat!!” seru Alvin tiba-tiba. Meja di depannya ia gebrak dengan kencang. Yang lainnya langsung terkejut sampai-sampai Oliv ngelatah

“Panas!!”

“Apaan sih?” tanya Siyenna penasaran.

“Aku ingat apa yang membedakan taman ini dengan taman lainnya..” lanjut Alvin dengan yakin. Oliv di tempatnya masih mengatur nafas sambil mengusap-ngusap dadanya karena terkejut. Nova langsung memperhatikan.

“Apa?” tanya Nova.

“Matahari. Hanya taman ini yang terkena sinar Matahari sepenuhnya di waktu siang. Makanya hawanya panas banget.” jawab Alvin.

“Lalu apa hubungannya dengan kita berkumpul di sini?” tanya Oliv.

“Coba lihat sekitar. Kata orang di negeriku. Untuk mengetahui sesuatu lebih dalam kadang kau harus melihat ke sekitar.” saran Siyenna. Ia langsung menajamkan matanya, mencoba melihat sekitar lekat-lekat.

“Aku tidak lihat apa-apa” ucap Oliv segera. Alvin masih sibuk melihat ke sekitar. Siyenna mencoba melihat ke atas di sekitar matahari. Dan berbeda dengan yang lainnya, Nova melihat ke bawah kakinya. yang ia selonjorkan ke samping. Sinar matahari yang panas membuatnya ingin segera memasukan kakinya ke balik meja lagi.

Karena bingung harus lihat apa, Nova pun berujar dengan asal sambil menatap kakinya yang selonjoran di bawah terik matahari.”Aku tidak bisa melihat bayanganku..”

“Bayangan!..” seru Siyenna.

“Bayangan? apa yang istimewa tentang bayangan?” tanya Oliv tidak mengerti.

“Tidak tau…” jawab Siyenna. “Tapi sepertinya ada sesuatu dibalik kata bayangan itu. Mendengarnya serasa tidak nyaman..”

Mereka berempat pun terdiam. Mencoba memikirkan sesuatu yang lain. Hingga akhirnya Oliv menyarankan Siyenna untuk mencoba menyapa pelayan pribadi yang dari tadi mereka diamkan. Dengan rasa sedikit ragu Siyenna pun mengiyakan saran Oliv.

“Udara di sini semakin panas ya…” ucap Siyenna mengawali topiknya. “Kalo.. menurutmu.. bagaimana?”

Alvin, Nova, dan Oliv langsung menatap pelayan pribadi itu seperti tidak ingin berkedip sedikitpun. Mereka penasaran respon apa yang akan diberikan? apa akan didiamkan seperti yang Oliv tadi?

“Hmm..” Akhirnya pelayan itu mau mengeluarkan suara. Hanya gumaman kecil sih.. Namun tetap saja mata Alvin, Nova, dan Oliv masih memperhatikan pelayan itu, bahkan mata mereka makin terbuka. Apalagi Siyenna yang duduk paling dekat. Makin penasaran dia dengan respon pelayan di sebelahnya.

“Aku harus ke gerbang taman Palladius.” tiba-tiba pelayan itu menjawab dengan random. Ia berdiri dari tempat duduk masih dengan pandangan kosong. Hendak melangkah ke gerbang taman.

“Hah??” Siyenna keheranan, begitu juga dengan yang lainnya.

“Apa tadi dia salah dengar ?” tanya Alvin di dalam hati.

“Mau apa?” tanya Siyenna pada pelayan itu.

Pelayan itu berhenti sejenak. Ia menjawab dengan nada datar. “Merangkai jaring laba-laba di sekitar gerbang.”

“Agar apa?” Siyenna yang semakin tidak mengerti bertanya kembali.

“Agar gelap yang ingin melewati gerbang taman tidak dapat lewat gampangnya.” jawabnya datar lagi.

“Hah??” Kini Siyenna dan Oliv sama-sama keheranan.

Nova masih terdiam mencoba mencerna maksud dari pelayan itu. “Kenapa tidak boleh masuk dengan gampangnya ke taman ini? Kenapa jaring laba-laba? Dan maksudnya dengan ‘gelap’ apa?” tanyanya dalam hati.

Di saat semuanya masih diam keheranan, pelayan itu melangkah keluar dari area tempat duduk dan pergi ke gerbang taman yang berada cukup jauh dan tertutup dari tempat mereka berkumpul.

“Hei!” seru Siyenna sebelum pelayan itu pergi semakin jauh. “Kalau kita mau keluar bagaimana?” tanya Siyenna melanjutkan.

Pelayan itu berhenti melangkah. Ia menjawab, “Para pelayan akan keluar melalui pintu timur istana, jadi tidak ada yang akan keluar melewati pintu gerbang taman.” ucap pelayan itu dengan datar.

“Kalau kita maunya keluar lewat pintu gerbang taman bagaimana?” tanya Siyenna lagi yang masih belum puas dengan jawaban Pelayan itu. Tapi pelayan itu hanya berlalu dan semakin menjauhi pandangan. Siyenna pun balik menatap meja dengan kepala tertunduk.

“AH… tidak jelas. Dan.. dari mana dia tau kalau kita akan keluar lewat pintu timur?” curcol Siyenna yang semakin malas.

Alvin mengangkat bahunya. Oliv menampakan ekspresi tidak tahu. Dan Nova berkomentar. “Kok.. kayaknya pelayan itu kayak kerasukan sih?”

“Iya yah. Aneh… aku ngerasa ada sesuatu yang akan terjadi nanti..” balas Siyenna ikut mengomentari.

Keadaan di taman Palladius pun berlangsung seperti tadi lagi. Panas menyengat, sebagian besar dari pelayan mengusap keringat mereka. Siang ini semakin tidak dimengerti. Dan tanpa orang-orang ketahui, di luar taman Paladius, ada 2 orang anak yang sedang berjalan dengan semangat dan penuh dengan keyakinan. Dengan rencana untuk memasuki gerbang taman Paladius.

Siapa mereka?
Apa yang akan terjadi nanti?
Do you feel the mystery today? Bisa jawab pertanyaan-pertanyaan mereka nggak?
Oh iya… part ini cukup, kedikitan, atau kepanjangan?

Feel free to comment ^_^ aku mengharapkan masukan semua…
Bonus Gambar akan masuk di Post berikutnya. (USBnya lagi sama Biila sih… ^,^)

Kingdom Of Dream_Part 12: Pagi Pertama

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 11: Makan Malam Pertama, Utusan Cathiophia dan Happy Chipmunks Di dapur.

Astaghfirullah… Dengan sungguh aku meminta maaf sebesar-besarnya karena penundaan waktu publish part ini. Sungguh… aku sama sekali nggak ada niat untuk menghentikan ceritanya. Allhamdulillah akhirnya bisa aku post juga. Terimakasih ya Allah karena telah mengisi otak ku dengan ide-ide dan bahasa cerita itu. Dan nggak lupa terimakasih juga yang udah setia menunggu dan terus mau membaca cerita ini. Moga-moga nggak bosenin deh… Maaf yaa… Maaf juga kalo ternyata part ini kurang panjang (Aduh aku khawatirnya di situ).

Ya udah! Sekarang kalian baca deh kelanjutan cerita Kingdom Of Dream ini. Semoga puas yaa.. Wassalamualaikum wr. wb.

Kingdom Of Dream
Part 12 : Pagi Pertama

Terik matahari memasuki celah jendela kamar Pia Aluna yang terbuka setengahnya. Burung-burung berkicauan, embun pagi berkilauan, meluncur cepat di atas daun-daun hijau segar lalu jatuh membasahi tanah. Gemericik air kolam di kamar Pia aluna terdengar pelan, sangat teratur. Dan piano Pia masih terus mengalun dengan sendirinya, mengalunkan nada-nada ceria namun masih dalam tempo yang sedikit pelan, sangat cocok untuk memanjakan telinga di pagi hari ini.

Sulit dipercaya bahkan di malam hari piano itu masih terus mengalunkan nada-nada penghantar tidur yang indah. Sepertinya arwah Martiz memang tidak pernah tidur. Makan pagi kali ini menunya seafood segar yang dibakar. Tambah kekar semangat Oik untuk bangun pagi hari ini.

“Zeva!… nggak mau ikut ke ruang makan?” ajak Oik yang sudah siap dari tadi. Agni masih menyisir rambutnya tapi ia sudah sepakat dengan Oik akan ikut ke ruang makan pagi-pagi sekali.

Zevana masih mandi. Ia tidak biasa bangun pagi-pagi sekali. Sementara itu Agni yang sudah selesai merapihkan rambutnya langsung melapor dengan riang.

“Aku siap!” serunya. Oik menengok ke kamar mandi. Sekarang hanya putri Zevana yang masih belum siap dengan dandanannya.

“Kalian duluan saja!” seru Zevana dari dalam kamar mandi. “Nanti aku juga mau ke dapur dulu kok. Ketemu Rio!..” serunya makin keras.

Agni dan Oik pun berpandangan satu sama lain. Mengangguk dan berseru bersamaan.

“Ya udah!.. kita duluan ya!..”

“Iya!..”

*kepak. kepak*

Patton sedang bersiap untuk menyambut hari. Debo yang sedang memakai sepatu menyaksikan Patton dalam keadaan yang menurutnya sangat langka. Sekarang Patton sedang bertelanjang dada, mengepakan kedua sayap kecilnya yang bercorak coklat ke hitaman. Katanya ritual itu adalah kegiatan rutinnya untuk mengeringkan sayap kecilnya yang basah.

“Kenapa nggak di lap pakai handuk saja, Ton?” tanya Debo berbasa basi.

“Kalo pakai handuk nanti bulu-bulunya bisa rontok.” jelas Patton memberi tahu. Patton ini walaupun putra mahkota tapi umurnya masih tergolong cilik. Jadi sayapnya pun ikut cilik. Makanya ia masih bisa memakai baju-baju pangeran biasa yang punggungnya tidak di bolongi. Karena sayapnya dapat bersembunyi dengan baik.

“Haah… airnya segar banget!” ujar Cakka riang. Ia baru saja keluar dari kamar mandi Laven Lair. Sudah siap dengan kostum kucingnya, baju pangerannya, dan ia sudah siap untuk menjalani hari baru di Kingdom Of Dream ini. Ia gosok-gosok rambutnya dengan handuk yang sudah tersedia dan menghirup nafas panjang. Menjadi dirinya saat ini adalah hal yang cukup merepotkan. Ia harus memakai kostum kucing buatan Rahmi kapan pun dan di manapun ia berada. Kostumnya lumayan mengganggu kegiatan tidurnya.

Cakka menengok kesamping. Langsung terlihat ekspresi sebal Patton gara-gara sayap ciliknya di colek terus sama Debo. Ia makin manyun ketika Debo malah membalasnya dengan tertawaan jail.

“Waduh jangan sampai Debo narik telinga atau ekor aku nih..” gumam Cakka dalam hati.

Sementara itu di dapur istana…

“Nggak mau tau! pokoknya aku mau ada cemilan tambahan di kamarku malam ini!” tegas Zevana masih belum menyerah. Ia masih kekeuh sama keinginannya agar ada cemilan di malam hari. Kini ia sedang berhadapan dengan Rio. Tepatnya Rio yang merasa benar-benar berhadapan dengan the mighty Zevana. Bener-bener deh, kalo debat sama Zevana emang susah banget ngalahinnya.

Topik yang Rio junjung adalah ‘ini semua dikarenakan peraturan’. Sementara topic yang Zevana junjung adalah ‘peraturan utama kerajaan, intinya adalah melindungi para putra dan putri mahkota dan termasuk di dalamnya mood para putra dan putri mahkota kerajaan’.

“Kue-kue itu harus ada di kamarku setiap malam. Itu sudah menjadi kebiasaan semua putri kerajaan harimau. Tanpa itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak!” tegas Zevana sekali lagi. Sebenarnya kebiasaannya memakan cemilan itu memang turunan dari mamanya. Sifat turunan khusus yang melekat kuat sekali padanya. Jadi… mau bilang apa?

“Tapi bahan-bahan makanan yang sudah dipesan dan diantar di jam penerimaan bahan makanan hanya cukup untuk membuat menu makan malam saja. Walaupun ada bahan makanan yang diantar di luar jam itu, aku tidak bisa membuat kue apapun karena ketua pelayan menyuruhku untuk mencurigai semua bahan makanan yang dikirim setelah jam itu. Jadi maaf aku tidak bisa mengubah keadaan…” balas Rio mengatakan semua yang ia tahu. Sudah kewalahan dia meladeni kata-kata Zevana yang susah ditangkis.

“Tapi-..”

Brak!

Pintu dapur yang ada di belakang Zevana dibuka oleh seseorang. Padahal tak ada maksud membanting atau apapun, tapi pintu itu selalu otomatis terbuka dengan keras.

“Siyenna!” Rio berseru tiba-tiba. Ada nada riang dalam seruannya tadi. Melihat ada Siyenna di sana sekarang, ia sedikit agak lega. Setidaknya kalau harus berhadapan dengan Zevana ia tidak harus menghadapinya sendiri.

Tapi Zevana yang mendengar nama itu, tiba-tiba dalam otaknya muncul rekaman memori masa lalu. Kepalanya tiba-tiba panas, ujung alisnya naik ke atas, dahinya berkerut, menunjukan ekspresi marah yang dulu sempat terpendam. Zevana menengok ke belakang. Mengeker setiap bagian tubuh perempuan yang ada di belakangnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. *Cling* terbersit 1000 kilat di ruang imajinasi Zevana. Matanya seketika berapi-api, menatap perempuan di belakangnya dengan pandangan keji. Sementara itu si perempuan malah tersenyum tenang, dengan bahasa tubuh yang juga tenang namun pandangan agak meremehkan.

“Wow… hai, lama tidak bertemu. Masih ingat denganku?” sapa si perempuan alias Siyenna masih dengan senyuman dan aura misteriusnya. Pelayan pribadi yang satu ini memang tidak takut apapun.

Zevana hanya diam. Namun tidak mematung. Dada dan perutnya terlihat naik turun bergantian. Dan mukanya masih penuh dengan berbagai macam ekspresi marah. She’s in “red”.

Brak!

Pintu dapur yang hampir tertutup sendirinya di buka kembali oleh Zevana, lalu ia pergi dengan mood yang masih diliputi warna merah cerah (baca: api). “Ah.. sebal!” serunya dalam diam.

“Haah… akhirnyaa..” seru Rio legaaa sekali. Ia langsung menjatuhkan kepalanya ke meja dapur yang kinclong, baru dibersihkan. “Untung Siyenna datang..” tambahnya. Ia berterimakasih karena kalau Siyenna nggak datang mungkin dirinya sudah habis oleh Zevana.

“Hei, jangan malah malas-malasan seperti itu. Aku kan datang ke sini bukan ingin menyelamatkanmu..” balas Siyenna yang langsung duduk santai di bangku kayu sebelah Rio setelah Zevana berlalu.

“Oh iya yah..” Rio bangun dari posisinya, menatap Siyenna dengan senyum ramah seperti biasanya. “Jadi, ada perlu apa, Siyenna?”

“Mau pinjam mangkok.” jawab Siyenna to the poin.

Rio pun berdiri dan membuka lemari tempat mangkok di simpan.

“2 mangkok.” Siyenna menambahkan.

Rio pun mengambilkannya. “Untuk apa?” tanya Rio penasaran. Ia menyerahkan 2 mangkok itu ke tangan Siyenna. Siyenna menjawabnya enteng.

“Untuk tadahan minum darah.”

“Hah?!” Rio terkejut setengah mati. Ia baru ingat kalau Siyenna datang dari negeri vampire. Jangan-jangan ia yang akan jadi santapannya selanjutnya. Ekspresi Rio langsung takut-takut. Siap-siap lari ngibrit kalau ternyata memang benar si Siyenna ngincer darahnya.

“Haha!..” Siyenna tertawa geli, ia sudah bisa membaca apa yang ada dikepala Rio. “Nggak segitunya kali. Masa aku mau minum darah rekan kerja?.. Lagian bukan aku yang mau minum darah..” jelas Siyenna. Senyum masih terukir di bibirnya.

Tapi mau Siyenna ngomong apa, Rio tetep aja menganga. Nggak inget kalau lalat terdekat mungkin bakal penasaran dan masuk ke terowongan pink yang gelap alias mulut Rio.

“Buat para pangeran vampire.” tambah Siyenna lagi. Rio manggut-manggut, mulai sadar dari kekagetannya.

“Eh, ada pisau nggak?” tanya Siyenna dengan pandangan kesana-kemari, mencari pisau.

“Ada” Rio langsung menjawab. Ia akhirnya sadar sepenuhnya dan kembali pada state seperti biasanya. Pisau kecil yang cocok untuk ukuran Siyenna ada di sebelah sink dapur. Ia pun mengambil pisau itu dan hendak melangkah ke Siyenna, memberikan secara langsung pisaunya. Tapi Siyenna menyuruhnya ‘lempar aja’. Ya sudah.. biar nggak repot dan nggak buang waktu. Lagi pula Rio juga tau si Siyenna ini ceweknya diem-diem ahli masalah pedang/benda tarung nan tajam lainnya.

“Hap” Siyenna menangkapnya tanpa kesulitan. Ia lalu mendekatkan pisau itu ke lengan bawahnya agak dekat dengan pergelangan tangan dan berujar. “Pinjem bentar ya. Nanti aku cuci kok..”

Rio tidak mengerti sungguh-sungguh apa arti perkataan si Siyenna itu. Tapi matanya langsung terbelalak ketika melihat apa yang Siyenna lakukan setelahnya.

Syrats!

“Heh! Mau ngapain?!”

Sinar mentari pagi memancar dari jendela, menerangi sebagian kecil dari salah satu kamar tersembunyi yang dibuat oleh Sion. Arsitekturnya indah, permadaninya, lampunya, pahatan di jendela, segala perabot di sana terlihat sangat indah, dengan nuansa merah tua dan hitam. Namun auranya tetap… gelap…

Mawar merah yang hampir layu tersandar di vas bunga kecil dari kaca, ditaruh di meja kecil sebelah tempat tidur besar dengan tirai beludru merah tua berlapis-lapis. Mawar itu terlihat rapuh. di sebelah vas-nya, terlihat tangan seseorang pangeran yang belum sadar dari tidurnya tergeletak begitu saja.

Gabriel namanya. Pangeran kedua dari negeri vampire. Naluri vampire dalam dirinya yang berjumlah lebih dari kakak kandungnya, Sion, membuat dirinya memiliki lebih banyak kemampuan-kemampuan vampire yang menakjubkan. Suatu anugerah.., namun juga suatu kutukan. Diberikan kemampuan besar mengerikan bagai vampire di saat ia masih terlalu kecil untuk bisa mengendalikan sepenuhnya kekuatan itu. Membuatnya harus dikurung setiap saat, takut kekuatannya itu tiba-tiba keluar tak terkendali dan mencelakai siapa pun yang ada didekatnya. Burung merak dalam sangkar emas… Ia haus darah.

Tlek.

“Ugh..” Gabriel mengerang pelan. jari-jarinya bergerak menekuk, meregangkan setiap otot di dalam kulitnya. Salah satu kemampuan Gabriel adalah memiliki pendengaran tajam. Walau bukan kemampuan khusus vampire yang mencolok tapi ia melatih kemampuan ini sendiri. Kemampuan itu telah membangunkannnya dari tidur yang nyenyak. Salah satu bukti bahwa bagi Gabriel kemampuannya itu juga kutukan, dengan ini ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak seutuh-utuhnya.

“Bagus. Akhirnya kau meminum darahku juga..” ujar seseorang yang membuat suara ‘tlek’ tadi.

Tak tau apa maksud kata-kata orang di depannya, apakah lega atau tidak senang, Gabriel pun mengeluarkan respon.

“Siyenna?”

“Ya. Hari sudah pagi. Kau harus bangun sebentar lagi. Acara hari ini yang hampir seluruhnya pelajaran, tidak bisa kau lewati begitu saja” balas orang didepannya yang sebenarnya Siyenna. Ia datang untuk mengganti jatah makan malam Gabriel kemarin, yang bertadahkan cangkir kecil, dengan jatah makannya pagi ini yang baru saja ia buat dari lukanya di dapur istana tadi. Ingat kan insiden Rio kaget? Itu semua karena ini.

Gabriel melahap atau tepatnya meminum jatah sarapan paginya dengan lahap. Siyenna bersandar di meja kecil Gabriel, memperhatikan lukanya yang sudah diperban oleh Rio. Ia langsung ingat ekspresi Rio di dapur tadi. Panik setengah mati. Katanya Rio, dia panic banget karena nggak mau kalau sampai dirinya di tuduh mencelakai Siyenna dan masuk penjara. Dan dia sendiri nggak bakalan bisa membiarkan seorang cewek yang deket banget jaraknya dari dia, bunuh diri. Ha ha.. jadi dia pikir aku bunuh diri? ujar Siyenna dalam hati.

“Oh iya..”  ucap Gabriel, membuyarkan segala hal yang ada dalam pikiran Siyenna tadi. “Apa kamu nggak bakal sakit kalo aku sama kak Sion minum darahmu terus?” tanyanya.

“Tadi aku udah minta ke Rio minuman yang bisa menggantikan sel-sel darah yang hilang kok. Katanya dia-ada, dan bakal disiapin setiap hari. Jadi.. nggak usah khawatir lagi.” jawab Siyenna.

“Oke” Gabriel menyudahi pembicaraan. Ia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil baju untuk dikenakan hari itu.

Siyenna berbalik, hendak keluar kamar. Tapi sebelum itu, ia sempat memberi pesan peringatan singkat pada Gabriel. “Jangan bikin masalah ya. Kalau nggak, Aku dan Sion nggak akan segan-segan menghukum”

“Aah.. Sebel!…  Sebel! Sebel! Sebel!” Zevana mencak-mencak di ruang makan istana. Di sebelahnya duduk Agni dan Oik dan mereka sama-sama tidak tau harus berkata apa.

Zevana sudah mencak-mencak sejak ia masuk ke ruang makan. Bahkan mungkin di jalan ia sudah mencak-mencak duluan. Penyebabnya apalagi kalau bukan Siyenna.

“Ah… tampangnya itu loh. Gerak geriknya itu… Ihh!.. kayak gak tau derajat aja! udah tau dia pelayan aku putri raja. Suaranya… trus.. nada bicaranya itu! Argh!… nyebelin!” bentak Zevana sendiri. Dari tadi bentakannya nggak habis-habis. Ngalir aja kayak sungai

“Katanya Zevana, derajat seluruh orang di dunia ini sama..” ujar Agni mengingatkan.

“Ya tapi… dia kayak meremehkan… Ekspresinya… kayak gak pernah takut sama apapun dan siapapun..” keluh Zevana dengan tampang mumetnya.

“Ya mungkin dilahirkannya memang dengan muka seperti itu kali…” balas Oik asal. Yang ada di pikirannya memang itu sih. Kalau didengar dari cerita Zevana, Siyenna memang bagaikan tidak takut apapun.

“Ya tapi kan… Haah..” *Bruk* Zevana mendesah tidak kuat lagi. Sudah bingung mau ngeluh apalagi tentang Siyenna. Bagus lah, kalau ia tetap bersihkeras mencak-mencak bisa-bisa suaranya habis di tengah hari.

Agni menengok kesana kemari, mencari sesosok pangeran misterius yang kemarin ia lihat di taman belakang kediaman cranofile. Kini suasana di ruang makan masih sepi. Hanya ada kurang lebih 8-10 orang di sana. Beberapa kue kering, kue kecil, kue lucu, kue manis, pokoknya berbagai cemilan kue sudah ada di sana. Oik berpikir, mungkin kue-kue ini bisa menggantikan kue-kue malam yang kemarin tidak bisa Zevana makan. Tapi ternyata Zevana bilang, selera makannya memuncak hanya pada malam hari. Jadinya Oik deh yang paling banyak memakan kue-kue di sana. Saat Ray, Deva, dan Acha mengisi kembali piring-piring sedang yang kosong dengan kue baru yang masih hangat. Ray menggoda Oik.

“Makan nya jangan banyak-banyak, Ik. Nanti jadi gendut loh..” goda Ray dengan tampang jailnya. Tapi seseorang membalas godaan Ray.

“Nggak usah takut gendut, putri. Kan kuenya rendah kalori..” balas Acha sambil melirik tajam ke Ray. Sedikit meleletkan lidahnya sampai Ray mengacungkan kepalannya. Seakan berkata, “Awas loh!”

2 anak ini memang kayak kucing dan anjing. Suka berantem tiba-tiba, saling mukul tiba-tiba, saling ejek tiba-tiba. Gak harmonis deh.

Sementara Deva yang berada di tengah, memisahkan mereka, cuma cekikikan merhatiin tingkah 2 crazy chipmunk di sebelahnya.

“Eh, bentar lagi jam makannya dimulai kan?.. Cakka sama yang lainnya di mana ya? kok belum dateng-dateng?..” tanya Oik.

“Nggak tau…” jawab Zevana lemas. Ia masih berusaha menganggap acara pertemuannya dengan Siyenna tadi hanya mimpi. Males banget kalo setiap hari harus ketemu dia.. pikir Zevana.

Deva, Ray, Acha, dan Keke sudah kembali ke dapur. Rencananya nanti mereka akan masuk kembali ke ruang makan lewat pintu utama ruang makan dengan masing-masing membawa troli makanan bertatakan masakan-masakan lezat. Deva membawa troli bertatakan makanan pembuka, Ray makanan utama, Acha, makanan penutup, dan Keke jus serta susu murni.

*Teng.. Teng.. Teng..*

Dentingan jam dinding di ruang makan terdengar. Itu artinya jam makan sudah hampir dimulai. Para pangeran dan putri-putri yang sudah berdandan ayu berhamburan masuk ke dalam ruang makan. Baju-baju mereka terilhat cerah, indah, menarik, unik. Tapi yang paling unik adalah bajunya pangeran monyet, Ozy, tidak ada yang menyamainya masalah gaya baju yang dikenakan. Sementara dikalangan putri-putri, para putri awan lah yang bajunya paling menyita perhatian. Baju putih gemerlapan bagaikan semuanya terbuat dari berlian dengan segala bling blingnya. Dan di bagian seperti rok atau kerah, dan lengan mereka terdapat bulu-bulu putih bersih bagaikan bulu beruang kutub di kutub utara.

Agni tidak bisa mengalihkan pandangannya pada mereka, para putri awan. Bajunya terlalu mengkilap. Oik malah dengan sinisnya menyipitkan mata bagaikan terkena silau yang mematikan. “Ih.. norak.” komentarnya pedas.  Kepala Zevana masih tidak bisa bangun dari posisi ambruknya di meja makan. Sementara itu dari kejauhan 5 orang pangeran datang mendekati mereka dan menyapa riang.

“Agni!.. Oik!.. Zevana!..” sapa mereka. Mereka adalah Cakka, Obiet, Patton, Debo, dan Irsyad.

“Hai! Pagi!” balas para putri yang dipanggil. Mereka tersenyum manis ke 5 pangeran itu dan mempersilahkan mereka duduk di dekat kursi-kursi mereka.

“Menunggunya lama ya??… Maaf.. tadi ada kemacetan di tengah jalan” ucap Irsyad meminta maaf.

“Iya… lama banget.” keluh Oik. “Kok bisa sih? memang ada macet apa?” tanyanya.

5 pangeran itu tersenyum geli mendengar pertanyaan Oik. Karena persitiwa “macet” tadi memang lucu, dan sangat tidak disangka-sangka.

“Tadi tiga putri awan ternyata salah jalan. Terus mereka masuk ke kawasan permandian air panas di area laki-laki!..”

“Hah?!” Oik, Agni dan Zevana menganga tidak percaya.

“Iya! bener!.. nggak di sangka banget kan?. Harusnya kalian lihat ekspresi mereka!” seru Patton sambil ketawa ngakak.

“He-eh!” Irsyad nyambung ke pembicaraan. “Lucu banget!.. mereka langsung jerit-jerit histeris terus loncat-loncat nggak jelas gitu! padahal kan salah mereka sendiri. Asal jalan sih! nggak mau tau situasi sekitar. Jadinya masuk ke permandian cowok deh..”

“Ah… tapi kalo gitu doang kayaknya nggak ada hubungannya sama macet di jalan..” kata Agni bingung.

“Iya. Sebenernya akibat dari semua itu yang bikin macet. Jadi gara-gara kejadian itu pangeran-pangeran yang lagi mandi jadi ketawa. Terus  pas para pangeran lagi di lorong menuju ke ruang makan, mereka muncul. Tiba-tiba nyuruh kita yang ngetawain mereka minta maaf di depan mereka sambil membungkuk hormat” kata Patton. “Sok berkuasa banget yah. Padahal derajat mereka kan nggak ada bedanya sama kita”

*Melody*

Tiba-tiba terdengar dentingan melodi-melodi gitar yang berkombinasi membuat harmoni. Dentingan-dentingan tersebut keluar dari rongga-rongga dinding di tembok ruangan bagian atas. Alunan musik ringan mulai terdengar, menghiasi awal hari ini dengan nada-nada ceria. Pintu utama ruang makan terbuka. Dari sana muncul para pelayan café Happy Chipmunks. Seperti yang di ceritakan tadi, Deva, Ray, Keke dan Acha berjalan dari luar membawa troli-troli makanan cantik berhiaskan taplak kuning cerah berkilawan dari sutra. Mereka berjalan mengelilingi meja-meja makan dan membagikan jatah makanan para putra dan putri mahkota.

“Wah… ada suara gitar yang keluar dari rongga-rongga tembok itu. Pasti sihir dari salah satu professor..” tebak Obiet.

“Menurutmu professor siapa?” tanya Irsyad pada Obiet.

“Hm… mungkin… ketua minister?” tebak Obiet tidak terlalu yakin.

“Ketua minister tidak akan membuat sihir seperti ini. Sihirnya hanya dikeluarkan di saat-saat tertentu..” kata Patton memberi tahu.

“Kalau tidak salah, yang bisa membuat sihir seperti ini adalah professor Syltha” ucap Zevana ikut obrolan. Agni dan Oik yang duduk di sampingnya lebih konsentrasi pada makanan mereka.

“Ah masa?.. aku kira dia cuma bisa membuat sihir mistik. Yah… yang gelap dan sejenisnya..” balas Cakka tidak percaya.

“Kalau setauku. Yang ahli dalam sihir mistik seperti itu malah minister Heina” kata Zevana lagi.

Cakka berfikir sejenak. Ia ingat-ingat lagi siapa si professor yang Zevana sebutkan. “Oh… yang marahin aku kemarin ya?.. cocok sih…” ujar Cakka manggut-manggut.

“Emh.. iya!..” Agni berseru saat semuanya berhenti berbicara. Mulutnya masih penuh makanan. *Glek* ia telan habis makanan di mulutnya itu dan bertanya. “Hari ini ministernya nggak ada ya? kok meja makan di atas kosong?”

“Wah iya!… minister sama professornya nggak ada!” Patton berseru keras saking nggak nyangkanya. Riko yang kebetulan sedang berjalan di sebelah kanan kursi Patton langsung menangkap perkataan Patton. Ia pun berujar dengan suara yang agak keras.

“Berarti hari ini nggak ada pelajaran dong..”

“Hah? nggak ada pelajaran?” tanpa sengaja seorang pangeran yang duduk di kursi sebelah kanan Riko mendengar ujaran Riko tersebut. Kata-kata itu tersebar ke teman disebelahnya, dan teman di sebelahnya lagi, dan terus berlanjut sampai semua putra dan putri mahkota menerima kabar burung hasil ujaran Riko tersebut. 1…2…3 detik terlalui.. dan…,

“YEEEEEE!!!!…”

Whoa… semua pun bersorak kegirangan. Ada yang loncat-loncat, tos-an bareng teman-temannya, lempar sapu tangan keatas, dan lain-lain. Namun tiba-tiba…

*Ngiiiiing*

Tiba-tiba suara dengungan keras memekikan setiap telinga putra putri mahkota yang sedang bersorak sorai dengan gembira. Semuanya mengeluh sambil menutup telinga mereka rapat-rapat.

“Tidak!.. Hentikan sorak sorai itu. Kalian akan tetap mendapatkan pelajaran hari ini.” seru sebuah suara yang datang entah dari mana.

“Siapa yang bicara?” tanya Lintar lantang dari tempatnya duduk.

“Minister Heina. Siapa kau berani bertanya dengan nada seperti itu kepadaku?” balas si suara asing pada Lintar.

Lintar hanya mencibir kecil dan cuek bebek dengan kata-kata minister Heina lalu kembali menikmati sarapan paginya. “Hh.. Memangnya kita sampai harus hafal suara-suara minister?” ucap Lintar ketus di dalam hati.

“Ya sudah. Sebentar lagi waktu makan akan habis. Ketika jam dinding berbunyi kalian harus langsung siap-siap memasuki kelas kalian masing-masing!”

*Ngiiiing*

“Ah…” para putri dan putra mahkota mengeluh karena dengungan itu lagi.

*Jreng jreng jreng..*

Harmoni gitar kembali mengalun dan pengumuman pun berakhir. Sebagian besar dari putra putri mahkota di sana langsung mengeluh akan pengumuman yang baru berakhir tadi. Sementara Riko kembali berjalan ke tempat duduknya sambil berujar.

“Ah.. nggak asik.”

“Haaah… selesai juga… kenyang aku!” seru Patton. Ia bersandar ke tempat duduk dengan nyaman dan menepuk-nepuk perutnya yang membesar.

“Jangan tidur dulu, Ton. Hari baru mau dimulai..” kata Debo ikut menepuki perut Patton.

Oik meletakan sendok dan garpunya di piring. Ia puas sekali dengan sarapan pagi kali ini. Benar-benar “Right to the spot”

“Eh iya!… hari ini pelajaran pertama professornya siapa?” tanya Zevana.

“Professor Dusty” jawab Agni yakin.

“Hmm… aku penasaran bagaimana orangnya” balas Zevana.

Debo mengakhiri sesi makan paginya. Kini yang ia butuhkan hanya minuman. Ia pun mengajak yang lainnya untuk mengambil teh di pojok ruangan dekat meja makan professor dan minister, tapi tidak ada yang mau ikut. Akhirnya ia pun berjalan ke sana sendiri.

Tanpa Debo sadari, seorang putri kupu-kupu, Ify, juga ikut berjalan ke meja di pojok ruangan hendak mengambil minum juga.

Debo yang sama sekali tidak sadar saat ia mengambil salah satu gelas yang ada di sana dan berbalik untuk meminum teh di gelas tersebut sambil melihat suasana ruang makan pun menabrak Ify yang ada di belakangnya dan tidak sempat menghindar. Mereka berdua terkejut. Gelas yang Debo pegang pun tumpah ke bajunya, sementara gelas-gelas yang ada di meja juga jatuh dan airnya tumpah mengenai baju belakang Debo. Debo pun kena tumpahan air teh dari depan dan belakang. Bajunya sudah pasti basah kuyup.

“Maaf… aku nggak bermaksud nabrak kamu..” kata Ify meminta maaf.

Debo langsung salah tingkah. “Eh… nggak nggak… aku yang salah… harusnya aku liat-liat dulu. Tadi aku malah asal balik aja, nggak liat ada orang atau enggak di belakang aku..”

“Ini…” Ify meraih sapu tangan di saku bajunya. “Baju kamu basah banget. Di lap deh..”

“Nggak usah… itu kan sapu tangan kamu. Aku bisa ganti baju kok nanti..” Debo yang makin lama makin grogi pun langsung pamin undur diri ke tempat dia duduk bareng temen-temennya. Ify di sana mengangguk mempersilahkan Debo pergi walau dirinya masih merasa bersalah.

“Weh!.. kena apa kamu, Bo? bajunya basah depan belakang gitu…” tanya Irsyad.

Obiet yang melihat Debo seperti itu tertawa lucu sambil menunduk.

“Tadi tabrakan sama Ify..” ucap Debo malu. Seperti ingin buru-buru pergi dari sana. “Patton, anterin yuk… ke kamar. Ganti baju..” ucap Debo memohon.

“Hmh.. Enggak ah… perutku masih berat nih… masih mau duduk..” balas Patton mengelus-elus perutnya yang masih dalam keadaan gendut.

Debo pun langsung menatap ke teman sekamarnya yang lain. “Cakka!… anterin yuk…” mohon Debo lebih memelas.

Cakka tidak merasa keberatan. Ia pun berdiri dan mengiyakan ajakan Debo. Mereka berdua pun keluar dari ruang makan dan berjalan menuju kamar asrama mereka.

“Nanti…” ucap Obiet lambat. “Kelasnya dibagi tiga kan?” tanya Obiet.

“Iyah..” Oik mengangguk dan meminum teh nya yang sudah agak dingin.

“Kira-kira siapa yah yang sekelas sama kita?” tanya Obiet lagi. Matanya menerawang ke atas, ia berpikir dan menebak-nebak.

“Untungnya sih kita sekelas..” ujar Patton. “Kalo putri dan pangeran yang lain… yang pasti, aku rasa sifat-sifat mereka akan lebih menarik di banding semua putri dan pangeran di kelas lain. Yang aku tau, ada Ozy, Dea, Ify, 3 bersaudara, lalu putri awan juga ada.. ha ha..” Patton tertawa sebentar karena ingat akan insiden tadi pagi yang sangat menggemparkan. “Lalu… ada 2 orang pangeran lagi, dari negeri yang sama… aku tidak tau siapa mereka. Tapi aku yakin… mereka juga akan menarik” tambanya.

“Ya sudah… aku sudah selesai makan. Lebih baik kita mulai siap-siap ke kelas saja.” usul Zevana.

semuanya mengangguk setuju. Mereka pun meninggalkan bekas-bekas piring mereka di meja dan pergi ke kamar masing-masing.

Di balkon perpustakaan lantai tiga yang menghadap ke taman belakang, Nova sedang bersandar, menikmati angin segar yang bertiup sepoi-sepoi. Rambutnya berkibasan ke belakang. Ia menatap taman belakang, memperhatikan pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh subur di sana, dan juga Alvin yang sedang mengecek keadaan bunga-bunga di sana. Ia berkonsentrasi, mencoba mendekatkan pandangannya ke Alvin, namun konsentrasinya seketika buyar ketika terdengar lonceng pengumuman berbunyi menggema dari dalam perpustakaan.

“Pengumuman untuk para pelayan pribadi putra maupun putri mahkota Kingdom Of Dream. Di wajibkan pada kalian semua untuk berkumpul di dalam area taman Palladium sekarang juga”

*Teng teng*

Pengumuman berakhir. Nova mengirup udara segar sebisanya. Ia sebenarnya agak keberatan meninggalkan perpustakaan ini. Menginggalkan suasananya yang tenang, meninggalkan bayangan-bayangan indah yang dihasilkan bingkai-bingkai jendela yang tertepa cahaya mentari pagi. Meninggalkan bau bau buku yang penuh akan pengetahuan, meninggalkan angin-angin yang bertiup semilir, namun apa yang bisa ia lakukan? Ia adalah pelayan, harus mematuhi segala peraturan yang ada. Ya, itu hukumnya.

Nova melangkah pelan, mundur menjauhi balkon kedamaiannya. Lalu berjalan di tengah 2 rak penuh buku, memegang gagang pintu, dan keluar dengan suara kecil.

Klek..

Pintu tertutup.

“Ray!… Ray!..” Deva berlari buru-buru memasuki dapur. Ia menghampiri Ray dengan ekspresi gembira dan bersemangat. Mukanya berseri-seri, bagaikan baru saja mendapat ilham dari langit.

“Ini saatnya, Ray…” ucapnya sungguh-sungguh sambil memegang erat pundak Ray yang sedang sibuk merapihkan piring-piring di dapur.

“Saatnya apa?” tanya Ray nggak ngerti.

“Saatnya kita beraksi…” lanjut Deva. Ray malah tambah nggak ngerti. Ia mulai berpikir jangan-jangan temannya ini tiba-tiba sakit gara-gara kerja keberatan tadi pagi.

“Beraksi mau ngapain?… emang kamu sangka kita apa? pahlawan bertopeng?” balas Ray mencantumkan nama salah satu legenda yang diceritakan turun temurun oleh keluarganya.

“Ya bukan lah… maksud aku.. kita mau nyamperin Nova..” kata Deva nggak sabar. Pundak Ray yang tadi hanya dipegang sekarang sudah dicengkramnya.

“Oh.. itu…” Ray masih santai-santai aja. Nggak bisa ikut merasakan betapa bersemangatnya Deva saat itu. “Emang harus sekarang yah? gimana kalo nanti siang aja..” tanya Ray masih sempet tawar-tawaran.

“Enggak! pokoknya harus sekarang!.. memang kamu nggak denger pengumuman tadi? semua pelayan pribadi harus berkumpul di taman Palladium istana. Itu berarti Nova sudah pasti ada di sana, jadi kita nggak perlu susah susah nyari lagi keberadaan Nova… Ayo lah, Ray.. Cepet!” ucap Deva panjang lebar. Kini ia tarik baju Ray saking nggak sabarnya.

“Iya iya… eh tunggu!.. minta izinnya gimana?” tanya Ray lagi.

“Ya sama Rio lah… Ayo cepet!”

Akhirnya Ray pun menghentikan pekerajaannya yang tadi dan ikut Deva keluar dari dapur. Rio ada di ruang makan. Ia tidak sabar untuk meminta izin kepada Rio dan tentu saja pergi ke taman Palladium untuk bertemu dengan Nova.

“Palladium! Aku datang!..”

To be Continued to the next part >> Kingdom Of Dream part 13 : Perjuangan Deva

Thx for reading. Maaf kalo ada salah-salah kata…
see you

Kingdom Of Dream_Part 11: Makan Malam Pertama, Utusan Catiophia dan Happy Chipmunks di Dapur

Kelanjutan dari Cerita Kingdom Of Dream_Part 10: Vulvoria, Tigerlily, dan Sejarah Dunia Kingdom Of Dream.

Part yang ini cukup panjang. Oke, menurutku sangat panjang. Semoga semuanya jadi puas karena part ini panjang. Aku kan ngepost part yang ini lama banget. Sori ya bikin nunggu.. Well, baca aja deh ya. Dan menurutku, malam ini adalah malam misteri. Jadi bersantailah di tempat duduk anda dan nikmati bacaan dariku ini dengan senang hati.

Selamat Membaca.. jangan lupa dicomment yah..^_^

Kingdom Of Dream

Part 11: Makan malam pertama, Utusan Catiophia dan Happy Chipmunk di dapur

BRAK!!

Pintu perpustakaan istana dibuka dengan keras. 3 orang pria masuk dengan buru-buru ke dalam seluk beluk rak perpus. Bunyi bantingan pintunya merambat sampai ke ujung-ujung ruangan. Oik yang baru saja melahap kue kering Zevana sampai keselek. Mukanya langsung merah dan tubuhnya melompat-lompat panik mencari pertolongan. Agni langsung menolong kakaknya dari situasi kritis itu. Ia memukul-mukul punggung kakaknya namun sayang kekuatannya terlalu besar. Oik malah jadi batuk-batuk. Sementara Zeva sibuk menadahkan kue-kue keringnya yang jatuh gara-gara piringnya oleng ke samping.

“Untung rok aku lebar” ucapnya dalam hati.

“Agni! Oik!” Seru salah satu pria yang tadi pasuk ke perpus.

Oik dan Agni langsung menengok. Kini keseleknya juga ikutan hilang. “..Obiet, Irsyad?… eh… hai!” Oik langsung menyapa 2 orang yang masuk ke perpus tadi walau ia sempat nge-blank selama dua detik saking kagetnya. 2 orang tersebut adalah Obiet dan Irsyad.

Agni langsung nanya to the point. “Kenapa kesini?” tanyanya. Ia bertanya seperti itu karena ia ingat kalau tadi Obiet sempat berkata kalau mereka akan ketemu lagi paling lambat saat makan malam.

“Ada hal penting yang harus aku tanyakan” kata Obiet tegas. Raut mukanya serius, membuat Agni dan Oik langsung khawatir. Apa mereka melakukan kesalahan? sepertinya tidak. Irsyad sih dari tadi ikut-ikut aja sama Obiet. Sementara Zevana, bengong sendiri di depan meja rak.

“Hal apa?” tanya Agni lagi.

“Ini!” Obiet langsung mengarahkan tangannya ke kanan. Ia meraih sesuatu yang sembunyi di balik rak perpus. Dan tangannya pun terlihat kembali, sedang menarik satu-ekor kucing.

Jrebb..

Akhirnya bentuk keseluruhan benda yang ditarik Obiet pun terlihat. Siapa lagi kalau bukan…

“Cakka?!… kok bisa?” seru Oik dan Agni bersamaan.

“Itu dia yang ingin aku tanyakan” kata Obiet. “Tadi kan Cakka tidak dapat undangan ke pesta teh yang seharusnya dikirimkan ke semua putri dan pangeran yang ada di sini. Tapi kok ia bisa masuk ke dalam istana, lalu ke dalam asrama, lalu masuk sebagai pangeran lagi” lanjutnya panjang lebar.

“Dia jadi teman sekamar Patton dan Debo” tambah Irsyad sambil menunjuk ke Cakka.

Cakka cuma bisa cengar-cengir. Mau ngomong apa coba? kalau salah sedikit kan bisa bahaya. Ancaman copcastle dari Rahmi langsung terngiang-ngiang di kepalanya. Saat ini ia sedang mempertaruhkan masa hidup matinya. Dan malaikat yang bisa menolongnya hanya 2 putri animalia di depannya itu.

“Jadi… siapa sebenarnya Cakka ini?” tanya Obiet.

“Ya…” Oik kebingungan. Ia tidak bisa menjawab.

“Cakka memang pangeran” kata Agni dengan yakinnya. “Ia datang dari negara Catiophia”

“Hah?” Oik menatap Agni tajam. “Dari mana kamu yakin dia dari Catiophia. Emang Negara itu ada?” tanyanya sambil berbisik pada Agni.

“Tenang aja. Negara itu ada kok. Tadi aku baca di buku pengetahuan Kingdom Of Dream. Negara itu ber-ras kucing” bisik Agni pada kakaknya.

“Hei ada apa sih ini?” tanya Zevana yang masih belum nyambung.

“Oh iya! Zeva, kenalin… ini Cakka temen kita. Dari Negara Catiophia” kata Agni riang. Ia menyuruh Cakka untuk say hi ke Zevana.

Tapi Zevana malah kelihatan tambah bingung. “Catiophia?” tanyanya. “Bukannya Negara itu sudah punah ya?”

Dan Agni pun kena batunya. Ia baru sadar, buku yang ia baca tadi kan edisi dulu. “Oops…”

Akhirnya permasalahan pun berakhir dengan Cakka yang mengaku kalau dia adalah utusan terakhir dari Negara catiophia itu dan ia membuat pernyataan kalau Catiophia itu belum punah, cuma hampir punah. Walaupun mengada-ngada untungnya semua percaya dengan perkataannya. Dan karena waktu sudah hampir malam, mereka pun kembali ke kamar masing-masing dan bersiap-siap untuk makan malam yang akan di adakan di ruang tengah istana.

Di tengah jalan Agni, Oik dan Zevana bertemu dengan Alvin. Oik meminta Alvin untuk mengantarkan beberapa baju pangeran untuk Cakka. Alvin mengangguk dan segera melakukan tugasnya.

Sementara itu di dapur, kawan-kawan Happy Chipmunks sedang bercengkerama sambil mengecek stok-stok makan malam. Kini waktu memasuki saat-saat terakhir sebelum makan malam pertama dimulai.

“Deva, tadi pas pesta teh mau dimulai kamu kemana aja?” tanya Ray sambil mengelap piring-piring kecil yang akan di taruh di meja makan nanti. Rio masih berada di ruang makan. Mengatur letak-letak makanan di meja makan. Sementara Keke dan Acha berada di ruang ganti, merias diri mereka.

“Nggak kemana-mana kok. Orang aku ngambil bunga di taman belakang kediaman Cranofile” jawab Deva.

“Ah bohong. kalo ngambil bunga paling 1-2 menit doang. Kok yang tadi sampai 10 menitan?” tanya Ray tidak percaya.

“Ya… nggak tau..” jawab Deva lagi.

“Udah… jujur aja. Pasti ketemu seseorang ya?… pasti… ketemu cewek yah?” goda Ray.

“Loh?…” Deva serasa ke tangkap basah. ‘Kok Ray tau?’ tanyanya dalam hati.

“Kaget ya aku tau?…” tanya Ray pede.

“Iya. kok tau sih?” tanya Deva penasaran.

“Ya iyalah… orang aku yang nyuruh Agni nyari kamu. Agni kan cewek” ucap Ray dengan tampang polosnya.

“Jiah… bukan itu, Ray..” kata Deva sambil memukul paha Ray.

“Aw!..” Ray balas memukul pelan dan mengusap-ngusap pahanya. “… emang apa?” tanya Ray ingin tahu.

“Aku ketemu cewek yang aku tabrak di dapur tadi pagi..” kata Deva excited. “Namanya Nova”

“Oh… trus?” Ray bertanya lagi.

“Ya terus seneng lah!..” jawab Deva. “walau… gara-gara harus ngebungkus pecahan pot di taman itu, sapu tanganku jadi hilang sih..”

“Hah?.. hilang di mana?”

“Ish! si Ray ini nggak ngerti perumpamaan yah?… maksudku saputangannya malah jadi bahan membungkus pecahan pot itu..” ucap Deva agak kesal dengan sifat Ray yang kadang susah ngerti. “Tapi, nggak papa sih. Setidaknya sapu tangannya ada di tangan Nova. Hi hi… jadi pingin ketemu lagi” Deva menghelakan nafas panjang dan kembali mengelap piring-piring istana.

“Hm… kenapa nggak diambil lagi aja, Dev?” tanya Ray polos.

“Ih! ni anak. Ya nggak lah.. kan kesannya jadi… eh… iya juga ya?” tiba-tiba terlintas ide yang cukup cemerlang di kepala Deva. “Iya!… kenapa aku nggak kepikiran dari tadi?… ya ampun Ray, ternyata kamu pinter juga ya?” seru Deva sambil menepuk pundak Ray.

“Pinter? Pinter apanya?… emang aku bilang apa sampai-sampai aku bisa jadi pinter?”

“Ah!.. masa kamu nggak ngerti juga sih?…” Deva menempeleng kepala Ray karena tingkah Ray yang tiba-tiba polos banget. “Aku bakal ketemu Nova lagi dengan alasan pingin minta balik sapu tangan itu. Gimana?.. bagus nggak idenya?” kata Deva dengan semangat.

“Oh.. iya iya! Semua Ide Deva mah selalu bagus..” ucap Ray sambil mengacungkan jempolnya.

“He he..” Deva tersenyum bangga. Ia tersanjung telah dipuji oleh Ray.

“Tapi aku nggak ikut ya.” kata Ray datar.

“Yah!… ikut dong, Ray. Kita kan sohiban… bantuin aku dong…” mohon Deva sepenuh hati.

“Aah.. nggak ah… banyak kerjaan.” tolak Ray.

“Ya kan tinggal bilang ke Rio baik-baik. Lagian ada Gita kok. Terus ada Acha pula. Ayolah Ray… besok doang kok” pinta Deva sambil memelas.

“Hh… Iya deh. tapi ada gantinya ya. Besok kamu harus bikinin aku air panas buat mandi sore. He he..” seru Ray semangat. Senyum usilnya muncul seketika.

“Ah… si Ray mah… gituu..”

Raja siang kini telah kembali pada tempat peristirahatannya. Dewi bulan menggantikan tempatnya di alam semesta ini. Saat itu bintang-bintang masih terlihat samar dan kecil. Para pangeran dan putri di kerajaan animalia dapat melihat pemandangan langit malam itu di ruangan besar istana animalia yang kini digunakan untuk ruang makan. Beberapa pangeran dan putri kingdom of dream sudah ada di ruang makan itu. Begitu juga dengan Agni, Oik, dan teman-teman mereka. Patton, Irsyad, Obiet, Debo, Agni, Oik, Zevana, dan tentu juga Cakka duduk berdekatan di barisan tengah meja makan panjang ke-2. Zevana, Cakka, Agni dan Oik duduk bersebelahan di sebelah kanan meja. Sementara Obiet, Irsyad, Patton, dan Debo duduk di depan mereka.

Ruangan sudah mulai penuh. Para putri dan pangeran bergiliran masuk ke ruang makan itu. Deva berdiri di sebelah pintu masuk ke ruang makan. Ia menyambut para putri dan pangeran yang masuk dengan senyum yang ramah. Waktu makan malam belum benar-benar dimulai. Tapi memakan kue-kue kecil yang sudah disediakan di 4 meja makan sudah diperbolehkan.

Agni memperhatikan para pangeran dan putri yang dari tadi masuk ke ruang makan. Baju-baju mereka unik. Sangat bagus dan kelihatan royal. Zevana seperti biasa sedang menikmati santapan manis di depannya. Kue-kue masakan Rio memang pantas untuk diacungkan jempol. Debo dan Patton, terutama Debo lagi-lagi terkesima melihat salah satu ruangan di istana animalia. Obiet kembali mencoba mengutak-atik limas perunggunya sementara Irsyad yang duduk di sebelahnya terus menatap ke jam dinding besar di dinding kanan ruangan. Lalu Cakka memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Oik yang mulai bosan, hanya menopang dagunya di tangan dan menghembuskan nafas dengan pelan.

“Woaa… ruang makan kalian besar sekali, Oik. Jadi setiap jam makan kalian akan makan di sini?” tanya Debo penasaran.

“Hmm?…” Oik sadar. Ia menegakan punggungnya dan menjawab. “Enggak. Aku dan Agni belum pernah makan di sini. Yah… habis, ruangan ini sebenarnya kan bukan ruang makan”

“Hah?” Debo terkejut.

“Iya.” Oik mengangguk. “Tadinya ruangan ini hanya ruangan besar yang kosong. Alvin lah yang mendekorasi ruangan ini sampai terlihat seperti ruang makan. Dia mengatur semua dekorasi dan tata letak ruangannya. Hebat yaa..” ujar Oik.

“Oh.. iya..” Debo manggut-manggut. Ia melihat ke sekeliling lagi. Dekorasinya memang bagus sekali.

“Eh.. nanti yang bakal ngajarin kita di pengajaran ini… siapa saja sih?” tanya Patton.

“Hm… yang aku tau, professor nya Oik dan Agni termasuk salah satunya” jawab Zevana.

“Professor ku juga ikut mengajar” balas Obiet dengan semangat. Limas perunggunya sudah ia taruh di kantong bajunya.

“Bagaimana sifat professormu? Serem nggak?…” tanya Patton lagi.

“Ah… nggak serem sama sekali. Dia kan perempuan, cantik lagi. Orangnya ramah, terbuka, dan jarang marah..” jelas Obiet.

“Enak banget…” seru Oik dan Agni bersamaan. Mereka langsung ingat raut-raut muka professor Degor kalau sedang mengajar. Dan hukumannya…

“Terus, kalo misalnya lagi istirahat. Kamu dibolehin keluar istana nggak?” tanya Zevana antusias. Ia mau coba membandingkan professornya dengan professor lain di kingdom of dream.

“Yah… pada dasarnya sih nggak boleh. Tapi, kalo ada pelajaran yang lebih baik dilakukan di luar istana, kita akan belajar di luar istana” jelas Obiet lagi.

Mendengar itu Zevana langsung loyo. “Hh… aku merasa tertindas…” ujarnya tanpa gairah.

“Memang kenapa, Patton?..” tanya Irsyad yang mulai ikut kedalam pembicaraan.

“Ya… aku penasaran aja. Terus, sekalian jaga-jaga. Kalo tau-tau ada guru-guru yang nyeremin, aku bisa jauh-jauh dari guru itu” jawab Patton sambil tersenyum jail.

“Ah… kalo aku, lebih tertarik untuk tau tentang putri-putri dan pangeran yang ada di sini” ucap Agni mengubah arah pembicaraan.

“Iya. Kadang kita malah harus lebih hati-hati sama teman-teman yang lain. Apalagi mereka yang tidak terlalu dekat. Mungkin mereka bisa langsung berbuat jahat ke kita kalau mereka tidak suka” tambah Cakka. Akhirnya ia mencoba berbaur dengan sesama. Kan biar nggak mencurigakan. Dan usulannya barusan juga keluar berdasarkan kehidupannya di bumi.

“Wah… Cakka pinter juga ya” ujar Zevana.

“He he..” tanpa sadar Cakka pun cengengesan ke Zevana.

“Hm… kalau mau tau tentang putri dan pangeran di ruangan ini. Tanyakan saja padaku. Aku kenal 50% dari mereka, walau tidak kenal dekat” usul Patton mempromosikan dirinya.

“Hm… kalo gitu, aku mau tanya… pangeran yang itu!” seru Irsyad. Ia menunjuk ke pangeran yang duduk di bangku kanan meja ketiga barisan tengah.

Berdasarkan pikiran Cakka, pangeran yang ditunjuk oleh Irsyad memakai baju seperti baju alladin di salah satu film disney. Ia memiliki ekor yang panjang dan rambut hitamnya dipotong agak acak.

“Oh… itu Ozy, pangeran monyet. Orangnya ramah, baik, tapi lumayan usil sih kadang. Tapi… dia juga cinta damai. Jadi dia paling nggak suka kalo ada orang yang berantem” jelas Patton.

Semuanya ngangguk-ngangguk mengerti. Lalu giliran Debo bertanya.

“Kalo putri yang iris matanya berwarna ungu dan putri yang di sebelahnya itu siapa?”

“Kalo yang iris matanya ungu itu Dea, putri beruang. Lihat kan telinga bulatnya yang berwarna putih?. Nah.., yang disebelahnya itu Ify, dia putri kupu-kupu. Kalau dilihat sekarang, dia tidak punya sayap kupu-kupu, tapi sebenarnya ia mengubah sayap kupu-kupunya menjadi tato di punggung. Kalau ia perlu untuk terbang, ia bisa mengubah tato itu menjadi sayap kupu-kupu kapan saja ia mau” jelas Patton tanpa kesulitan.

“Hei,.. kalau 3 orang pangeran yang mengganggu seseorang di situ siapa?” tanya Zevana dengan pandangan sinis pada 3 orang pangeran yang ia sebut tadi sambil menunjuk dengan dagunya.

Patton menjawab dengan raut muka yang juga tidak senang. “Raika 3 bersaudara. Mereka yang harusnya kita waspadai. Aku dengar mereka sering menindas para putri dan pangeran yang mereka rasa lebih bawah derajatnya dari mereka”

“Tidak adil!.. Mereka kira mereka siapa?!.. semua derajat putri dan pangeran di sini kan sama!..” ujar Zevana kesal. Ia paling tidak suka hal-hal yang bersangkutan dengan pelanggaran hak mahluk hidup.

“Yah… kita berdoa saja supaya mereka cepat dapat balasannya” balas Patton setuju.

Agni, Oik, Cakka, Obiet, dan yang lainnya ikut melihat apa yang dilakukan Reika 3 bersaudara itu. Dan mereka turut prihatin juga dengan pangeran landak yang ditindas oleh 3 bersaudara itu.

“ugh, cukup. Aku akan memberikan mereka balasan” geram Zevana kesal. Ia hampir saja bangun dari kursi tapi di tahan oleh Patton yang duduk di depannya.

“Tidak usah. Ini kan baru hari malam pertama. Jangan cari masalah dulu. Lagi pula 3 bersaudara itu tidak akan dengan gampangnya melupakan seseorang yang melawan mereka” kata Patton.

“Oh ya?… sama halnya denganku. Aku juga tidak akan melupakan orang yang membuatku kesal” balas Zevana dingin. Rebel side dari dirinya mulai keluar sementara pandangan sinisnya masih terus tampak.

“Siapa nama masing-masing bersaudara itu. Tidak mungkin kan mereka hanya bisa dipanggil dengan sebutan 3 bersaudara Reika saja..” ucap Cakka ingin tahu.

Patton pun menjelaskan. “Yang sedang duduk di meja itu Lintar Reika, yang berdiri di tengah Rizki Reika, dan yang sedang memegang bola bening milik si pangeran landak yang ditindas namanya Riko Reika”

dari kejauhan..

Si pangeran landak memohon agar bola beningnya di kembalikan. Tanpa sengaja tangan Riko terkena air panas dan bola bening itu pun terlontar ke tempat Agni duduk.

“Hap!” Agni menangkap bola itu. Si pangeran landak terlihat lega. 3 Reika bersaudara menatap Agni dengan pandangan dingin namun tak lama setelah itu mereka hanya berlalu ke tempat lain.

“..’Aku harus memperingati pihak dapur. Bisa-bisanya mereka menaruh air panas sial itu di sini’.. itu kata Riko” ucap Irsyad memberi informasi cuma-cuma.

Yang lainnya tampak tidak mengerti. Irsyad pun langsung menepuk dahinya pelan. “Oh iyya!.. sudahkan kalian aku beri tahu?.. aku bisa membaca pikiran orang lain” ucap Irsyad riang. Yang lain, masih bengong saking nggak nyangkanya.“Mm… kurasa belum. Yah… sekarang kalian tahu..” Irsyad hanya mengangkat bahu sekali dan memakan kue coklat di depannya seperti tak terjadi apapun.

“Ja… jadi.. jadi..” Zevana masih tidak percaya, Oik dan Agni juga masih speechless.

“Wah… aku harus waspada nih sama Irsyad” ujar Obiet iseng.

“Hei!…” seru pangeran landak dari tempatnya duduk. “Kalau tidak keberatan. Boleh tidak kau menyerahkan bola bening itu padaku sekarang?”

“Oh iya! Aku baru ingat” seru Agni. “Ini!” Agni hampir melemparkan bola bening itu pada pemiliknya. Tapi si pangeran mencegah.

“Tu.. tunggu!… jangan dilempar. Bola itu sangat berharga, aku tidak mau kalau bola itu jatuh dan pecah” serunya.

‘Hm… kalo gitu aku harus menyerahkan padanya secara langsung’ pikir Agni. Agni pun berdiri dan melangkah ke tempat pangeran itu duduk. Tapi di tengah jalan rok nya tersangkut pada salah satu kaki kursi. Ia langsung menarik bajunya agar terlepas dari kaki kursi itu.

“Hm… eh!” rok Agni terlepas. Ia berjalan kembali. Tapi tanpa ia sadari ada 3 orang putri yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia pun menabrak putri-putri itu.

Bruk!

“Hei!!.. kalau jalan liat-liat!!” salah satu putri yang tertabrak olehnya membentak kesal dan mendorong Agni ke samping. Untungnya Agni bisa berpegangan pada kursi kosong di sebelahnya, tapi bola bening milik pangeran tadi jadi terlepas dari genggamannya.

“Hah? Bolanya!..”

“Hap”

Agni terkejut. Ia kira bola itu akan jatuh membentur lantai dengan keras dan pecah berkeping-keping. Tapi ada seseorang yang menangkap bola itu saat jaraknya tinggal 10 cm dari lantai.

“Ini..”

Agni menengadahkan kepalanya, menatap seseorang yang tadi menangkap bola bening itu. Seorang gadis, dengan baju terusan merah tua, rambut hitam panjang yang terikat di atas kepala, dan sorot mata yang begitu tenang. Siyenna.

“Eh..” Agni masih tidak tau harus berkata apa. Ia mengambil bola bening itu kembali dan berdiri dengan tegap.

“Hati-hati jika berada di dekat 3 putri awan. Mereka tidak terlalu ramah pada orang asing” ucap Siyenna tenang. Ia tersenyum ramah dan berlalu melewati Agni. Padahal Agni baru mau berkata ‘terimakasih’.

Agni langsung saja cepat-cepat berjalan ke pangeran pemilik bola bening. Mengurangi kesempatan kalau bolanya akan jatuh kembali.

Sementara itu Siyenna dan Sion memperhatikan dari jauh.

“Tidak biasanya Siyenna lembut..” ujar Sion dengan lirikan iseng.

*Gemplannng!..*

“Jadi kau bilang aku kasar?” balas Siyenna sambil memberikan pukulan nampan untuk Sion.

“Ah!!.. Sakit, Siyenna!” seru Sion.

“Salah sendiri..” balas Siyenna lagi.

“Hei, memang memukul tuanmu tidak kasar?” tanya Sion.

“Aku kan hanya kasar kalau orangnya menyebalkan” Siyenna mengelak lagi.

“Siy, aku ini tuanmu”

“Hm.. aku tidak pernah mengakui telah dimiliki oleh siapapun. Tidak ada yang berkuasa penuh atas diriku selain aku”

“Yah… sudahlah. Setidaknya hari-hari tidak akan membosankan dengan adanya kau di sini”

“Aku mau ke balkon”

“Hm?” Sion bertanya meyakinkan. Ia rasa pendengarannya mungkin sedang salah.

“Ada janji dengan pelayan pribadi putri animalia” kata Siyenna sambil mulai beranjak dari sisi Sion.

“Hei!… pelayannya cowok kan?… kalian mau ngapain?” tanya Sion serius.

“Pfh.. tidak usah seserius itu. Posisimu di hatiku belum terganti kok” goda Siyenna dari jauh.

Sion langsung cemberut. Walau bagi dirinya itu melegakan juga. “Tapi tunggu…” Sion terdiam untuk sesaat. “’Belum’ katanya?..”

“Patton,..” panggil Agni setelah ia duduk nyaman di kursinya. “Kalau 3 putri yang sedang berjalan itu siapa? Tau tidak?”

Patton melihat ke sekitar dan ia pun menemukan 3 putri yang Agni maksud.

“Oh.. itu… mereka Sivia, Shilla, dan Angel. Mereka putri awan” kata Patton sambil tersenyum.

“Kelihatannya tidak ramah..” ucap Agni dengan nada mengeluh. Dagunya pun ikut ditopang pada telapak tangannya.

“Ha ha… memang tidak” balas Patton layaknya memaklumi tindakan Agni.

“Maksudnya putri awan apa?” tanya Oik.

“3 putri itu berasal dari kerajaan langit. Dekat dengan kerajaanku” ucap Patton.

“Kerajaan langit?” Oik masih belum sepenuhnya mengerti.

“Kerajaan langit.. kalian tau kan? Tanya Zevana, ia pasti tau” kata Patton sambil menunjuk ke Zevana. Zevana langsung mengangguk sambil tersenyum ke Patton lalu ke Oik.

“Oh!..” dan Oik pun ingat saat-saat di perpustakaan tadi sore. “Maksudnya Skyrea ya?”

“Ya. Mereka memang jarang datang ke acara pertemuan seperti ini. Dan seperti awan kumulus, mereka kadang bisa menyengat perasaan orang seperti petir-petir di awan kumulus itu”

“Tubuh mereka juga agak gemuk, kayak awan kumulus.. empuk.. he he..” canda irsyad.

“Ya… tampang fisik itu juga bisa masuk ke dalam perumpamaan” balas Patton sambil tersenyum jail.

Teng… teng… teng…

Jam menunjukan pukul 6 sore. 15 menit lagi waktu makan malam akan dimulai. Semua putri dan pangeran terdiam saat menyaksikan para minister dan para professor memasuki ruangan dan duduk di Meja besar yang letaknya di sisi utara ruangan. Pijakan di daerah sana lebih tinggi dari lantai ruangan, jadi semua putri dan pangeran dapat melihat para minister dan professor dengan jelas.

“Eh, itu kan orang yang menangkapku di hutan terlarang tadi..” bisik Cakka ke Agni.

Agni memperhatikan sosok yang disebut Cakka dari belakang. Tubuhnya tinggi besar, memakai jubah hitam dan kulitnya bersisik dibeberapa bagian.

“Patton, itu siapa?” tanya Agni sambil menunjuk ke sosok yang disebut oleh Cakka tadi.

“Itu…kalau tidak salah dia minister Syltha. Dia jarang terlihat. Lebih sering bekerja di tempat persembunyiannya” jelas Patton.

*Ting ting ting…*

“Perhatian semuanya. Waktu makan malam akan dimulai sebentar lagi. Sebelum kalian semua dibolehkan memakan santapan. Kami mohon untuk mendengarkan sedikit pengumuman dari kepala minister” ucap seorang professor wanita yang sudah lumayan tua. Mempersilahkan sang ketua minister berdiri di podium utama.

Semua orang yang ada di ruangan itu diam memperhatkan sang ketua Minister. Membuktikan charisma nya yang begitu besar. Ia adalah seorang laki-laki berumur kira-kira 24 tahun dengan tattoo segitiga di dahinya, tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan rambut hitamnya panjang terurai sampai punggung.

“Para putri dan putra mahkota semuanya. Aku Alltar Monarchi, ketua minister di sini” ucapnya.

“Wah.. muda ya..” ujar Obiet.

“Zaman seperti ini orang muda memang memimpin, Biet..” balas Irsyad iseng.

“Sekarang aku akan menjelaskan sedikit tentang sistem pengajaran di sini. Kami para minister memutuskan untuk membagi jenis pelajaran yang ada menjadi 2, yaitu pengetahuan umum dan keahlian khusus. Seperti yang kalian tau, kelas pengetahuan umum akan mencangkup imlu geografi, alam, sosial, bahasa, sejarah, dan pengetahuan dasar lain yang setiap anak wajib ketahui. Sedangkan kelas keahlian khusus akan mengajarkan pelajaran tambahan lain diluar mata pelajaran kelas pengetahuan umum. bagi para pangeran kelas ini akan mengambil tempat belajar lebih banyak di luar bangunan istana. Seperti berkuda, memanah, bertarung, dan sebagainya untuk para pangeran. Sementara para putri akan diajarkan memasak, pengobatan, menyulam, dan kegiatan lain yang dapat meningkatkan keterampilan kalian.”

“Eh..” Agni bergumam sebentar. Tangannya mengepal seperti menahan sesuatu di dirinya.

“Kenapa, Ag?” tanya Debo.

“Eh, boleh nanya nggak sih?” Agni balas bertanya.

“Kalo lagi pengumuman gini mending diem aja..” usul Patton. “Mau nanya apa?” ucap Patton lagi dengan suara dikecilkan.

“Aku males kalo harus nyulam sama masak doang… boleh gak sih tuker pelajaran. Jadi aku ikut pelajarannya pangeran-pangeran.”

*Sank!*

“Hah!” Agni dan Patton terkejut bukan main. ada garpu tajam kecil yang tiba-tiba saja menancap di depan mereka.

“Kalian berdua!.. diam kalau minister sedang berbicara!” seru salah satu minister yang tadi melempar garpu itu.

Agni dan Patton langsung diam. Mereka tidak berani berbicara lagi.

“..Dan bertukar pelajaran antara putri dan pangeran…” sang ketua minister memulai dengan permasalahan yang diucapkan oleh Agni. “…tidak dibolehkan.”

“Ugh!..” Agni langsung loyo. Dengan refleksnya kepalanya langsung jatuh ke meja.

Sang ketua minister pun melanjutkan. “Selain itu, ada juga kelas tambahan khusus yang diikuti oleh pangeran maupun putri yaitu kelas ramuan dan kelas pengasahan bakat. Di kelas ramuan kalian akan belajar tentang berbagai jenis ramuan dan cara membuatnya, sedangkan di kelas pengasahan bakat, kalian dibimbing untuk mengasah bakat terpendam yang ada, yang masing-masing ras-nya juga berbeda”

Sang ketua minister terus menjelaskan sistem-sistem pengajaran yang akan dilaksanakan nanti. Semua putri dan pangeran di sana kelihatan serius memperhatikan. Namun berbeda dengan yang lainnya, bukannya menaruh seluruh perhatian pada kata-kata ketua minister, Irsyad malah asyik membaca pikiran teman-temannya. Itu juga disebabkan oleh ucapan ketua minister yang mengatakan sesuatu tentang bakat terpendam. Ia kan sudah lumayan mengetahui tentang bakat terpendamnya. Terlintas di pikiran Irsyad untuk membaca apa yang ada di pikiran 3 putri awan yang duduk di meja panjang ke-4. Irsyad pun mengambil segelas air dan meminumnya perlahan. Padahal ia hanya ingin agar tindakannya itu tidak terlihat.

‘waah… kira-kira kelas merias ada nggak ya?..’

“Hmpphf!..” Irsyad langsung keselek mendengar itu. Maklum, dia kan bukan cewek. Bagaimana kalau nanti memang ada kelas merias?. Air yang ia minum muncrat setengahnya. Untung tidak terlalu banyak dan para minister tidak menyadari itu. Walau ada sih korbannya. Oik yang duduk di depannya langsung cemberut berat karena bajunya jadi basah.

“Maaf..” Irsyad langsung saja menaruh gelas itu dan menepukan ke-2 telapak tangannya di depan mukanya.

“…Dan yang terpenting adalah, kalian tidak boleh melanggar aturan yang telah kami buat pada hari kemarin di rapat minister” ucap ketua minister.

“Aturan?… aku harap aturannya tidak banyak” kata Patton dalam hati.

“Nah… hal terakhir yang akan aku sampaikan adalah… tentang orang-orang yang akan menjadi pengajar kalian di pengajaran khusus ini” ketua minister terus menjelaskan. “Professor pertama adalah Professor Degor” katanya sambil menatap Professor Degor dengan penuh hormat.

Professor Degor pun berdiri dan pada saat itu juga Oik dan Agni langsung merasa lebih semangat. Professor Degor kelihatan berwibawa di sana.

“Professor Degor akan mengajarkan kalian di kelas geografi” ketua minister melanjutkan. “Yang kedua adalah Professor Winda. Dia akan mengajar di kelas pengasahan bakat”

Dan seorang wanita berparas cantik dan anggun pun berdiri dari kursi meja makan professor serta minister.

“Nah, itu dia professor ku” bisik Obiet ke teman-temannya.

Professor Winda memang kelihatan sangat ramah. Pasti dia bukan seseorang yang akan dipanggil guru killer di pengajaran itu. Tampangnya berbalik  dengan seorang minister disebelahnya. Manusia setengah ular yang tadi siang menangkap Cakka.

“Nah, ini adalah Minister Syltha yang juga menjabat sebagai Professor. Dia akan mengajarkan para pangeran di kelas bertarung” jelas ketua Minister.

“Ah.. bagaimana bisa?… minister brutal itu?.. menjadi pengajar?… dapat bagian mengajar pangeran pula..” keluh Cakka.

“Tenang saja, walau tampangnya seram begitu… aku dengar ia tidak terlalu keras dalam mengajar kok” bisik Patton.

Sang ketua minister terus mengenalkan para pengajar-pengajar di sana. kira-kira ada 6 pengajar lain yang dikenalkan pada para putri dan pangeran kingdom of dream. Setelah itu pengumuman di akhiri dan semua diperbolehkan untuk menyantap makan malamnya. Tapi sebelum itu, salah satu minister yang tadi melemparkan garpunya ke depan Patton dan Agni meminta semua pangeran dan putri menyerahkan bet pesta teh mereka kepada petugas istana yang sudah dikerahkan oleh minister itu. Semua tidak keberatan, lagi pula 1 jam sebelumnya para putri dan pangeran juga telah diberitahu untuk membawa bet pesta teh mereka. Tapi masalahnya, Cakka tidak memiliki bet pesta teh apapun. Dan ia pun harus terpaksa dibawa ke ruang peristirahatan minister di sebelah ruang makan.

“Siapa kau! Katakan dengan jujur! aku tau kau utusan dari kegelapan!” bentak minister yang menangkap Cakka.

“Bukan!..” bantah Cakka.

“Jangan bohong!”

“Aku tidak tau apa itu kegelapan!… sama sekali tidak tau!”

“Bohong!” Minister itu membentak tanpa ampun. Ia mengangkat tangannya keatas dan mengayunkan tangannya ke leher Cakka.

“Heina!.. biarkanlah dia menjelaskan semuanya dulu..” Professor Winda mencegah Minister itu memukul leher Cakka.

Minister Heina yang masih marah terus mencengkram tubuh Cakka. Muka Cakka mengkerut, cengkraman itu sangat kuat. Namun 3 detik kemudian keuatan cengkraman Heina berangsur hilang. Ia mundur dan Cakka bisa melihat kakinya yang berbulu seperti elang. Cakka pun mengerti kenapa cengkraman minister Heina sangat kuat. Ia adalah manusia setengah elang.

“Nak,..” Minister Syltha menatap Cakka dingin. asap putih dari pipa coklatnya (kayak rokok) mengepul pelan dari mulutnya. “Dari mana kau berasal?”

“Aku… dari…” Cakka bingung harus menjawab apa. kalau ia jawab Catiophia, mungkin para minister dan professor disana akan menyangka ia berbohong. Karena Catiophia saja sudah punah. Professor Winda menatapnya penuh iba. Jika Cakka tidak bisa menjawab apapun, maka ia tidak dapat menolongnya sekali lagi. “Catiophia…”

“Catiophia?!.. yang benar saja!.. negara itu sudah punah sejak dulu!” bentak minister Heina.

“Tidak.” minister Syltha masih berdiri dengan tenang. “anak ini mungkin utusan terakhir Catiophia. benar bukan?” tanyanya pada Cakka.

“Eh.. iya” Cakka mengangguk cepat. Ia tidak tau apa yang ia lakukan benar atau salah. Yang pasti tubuhnya gemetaran saat itu.

“Jika ia utusan terakhir..” ucap Syltha. “Maka kau tau apa artinya..” Syltha melirik tajam pada Winda dan Heina. Seperti mengirimkan suatu pesan lewat mata. Heina tidak bereaksi, tapi Winda.. akhirnya ia tau maksud Syltha.

“Hh’!.. jangan bilang… ramalan itu..”

“Ya.” Alltar muncul dari balik pintu. “Jika dia memang utusan terakhir Catiophia… maka kemungkinan besar keberuntungan berada di pihak kita..” Ia berjalan mendekati Cakka, lalu menepuk-nepuk rambutnya. “Cakka, kan?”

“Ya” jawab Cakka gugup.

“Kembalilah ke teman-temanmu. Makanlah sebanyak-banyaknya. Besok kemungkinan akan sangat melelahkan.”

Cakka pun kembali ke tempatnya makan tadi. Dan pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang semua itu. “Ramalan?… apa maksudnya?”

3 jam kemudian..

Agni, Oik dan Zevana masuk ke dalam kamar mereka. Lalu hal yang pertama Agni lakukan adalah menghempaskan tubuh di kasurnya. Oik mengaca di pantulan air kolam. Ia rasa ia tidak akan perlu meja berkaca lagi. Sementara Zevana, ia mengeluh habis-habisan.

“Tidak bisa dipercaya!.. apa ini?!” keluh Zevana sambil memegang sebuah surat kecil di meja kecil kamar.

“..’Para putri dan pangeran di istana hanya dibolehkan makan di waktu-waktu makan yang telah ditentukan. Dan hanya boleh di ruang makan. Para putri dan pangeran hanya dibolehkan memakan makanan buatan istana animalia. Itu artinya tidak ada cemilan pada waktu-waktu diluar jam makan. Ini semua untuk menjamin keselamatan semua putri dan pangeran kingdom of dream. Mohon dimengerti. Rio, kepala pelayan dapur’?!… Nggak adil!!” keluh Zevana lagi. Ia meremas-remas kertas surat dari Rio setelah selesai membacanya. Lalu membuang kertas itu ke lantai.

Bek Bek Bek! Zevana menginjak-nginjak kertas itu dengan penuh perasaan kesal.

*Ting ting*

Terdengar suara bel kamar dibunyikan. Oik membuka pintu kamar dan menemukan satu buah surat di depan kamar.

“Ini untuk Zevana!” seru Oik sambil membolak-balik sampul suratnya, mencari-cari nama pengirimnya. “Eh… pengirimnya nggak dicantumin” lanjutnya sambil menggaruk-garuk kepala.

“Berikan padaku!” seru Zevana dengan mood yang masih tidak stabil.

Oik memberikan surat itu pada Zevana dan membiarkan Zevana membuka suratnya sendiri.

“Dari Rio lagi?!” kata Zevana hampir meledak. “..’sekali lagi maaf jika hal ini membuat putri kesal. Tapi ini memang sudah jadi aturan pengajarannya. Lagi pula, professor anda juga berkata. Hal ini dapat digunakan untuk kesempatan diet putri.’..” ucap Zevana membacakan isi surat Rio. “Apa?!!.. Diet?!.. Diet katanya?!… coba lihat diriku!.. apa aku gendut?!..” seru Zevana tidak terima.

Oik dan Agni diam menatap Zevana dengan pandangan takut.

“Ah! sudahlah! liat saja! aku pasti bisa melanggar aturan ini. Aku masih punya persediaan makanan yang banyak di tas ku. Aku akan melaporkan hal ini pada professor. Pasti ada yang tidak beres dengan pelayanan konsumsi di sini” Zevana berbicara pada dirinya sendiri. Ia mengambil alat komunikasi di tasnya dan menghubungi sang professor.

Oik menghampiri Agni, ikut duduk di kasur Agni. “Hei, menurutmu mungkin nggak Rio berbuat seperti itu?” tanya Oik.

“Enggak” jawab Agni pasti. “Itu pasti karena aturannya yang memang ketat. Lihat… aku juga dapat surat pemberitahuan” kata Agni memperlihatkan surat yang ia dapat.

..

Berikut uraian peraturan selama pengajaran:

- Bangun dan tidur harus tepat pada waktunya.

- Selama pelajaran dilarang keluar dari tempat belajar

- Tidak boleh makan sembarangan. Hanya dibolehkan memakan makanan dari dapur istana

- Makan hanya pada jam tertentu

- Dilarang keluar pada waktu malam hari

- Dilarang memasuki perpustakaan barat istana

…<dst.>

..

“Ah.. membosankan..” keluh Agni.

Oik mengangguk setuju. Ia bangun dari kasur Agni dan mencoba berbaring di kasurnya sendiri. *Sekk..sek..* “Hei, apa ini?” Oik merasakan sesuatu mengganggu bagian punggungnya. Ia bangun dan menemukan sebuah surat di atas kasurnya. Oik pun membuka surat itu dan membaca isinya keras-keras.

“Jadwal pelajaran untuk besok ada di peti besar di kamar kalian. Disertai juga dengan buku-buku dan peralatan yang mungkin akan dibutuhkan besok. Semoga tidak akan ada keluhan dihati putri/pangeran. Terimakasih. Kepala pengajar..”

“Oh.. jadi tinggal ngambil di peti?” tanya Agni.

“Ya” Oik menjawab dengan singkat.

“Ya sudah. Aku mau tidur saja. Sudah ngantuk… Hoaaam..”

“Ya.. aku juga. Zeva, tidak tidur?” kata Oik memanggil Zevana yang masih serius di alat komunikasinya.

“Aku tidur belakangan. kalian duluan saja..” kata Zevana.

“Oke.” Oik mengangguk dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. “Hoaam.. semoga besok bisa lebih menyenangkan”

Di balkon..

“Oh ya, sebelum kau pergi… Deva bilang tadi kau membantu putri Agni..” kata Alvin. Menunggu penjelasan sebenarnya dari mulut Siyenna.

“Oh… iya. Tapi hanya sedikit kok” balas Siyenna.

“Boleh aku tau alasannya kenapa?” tanya Alvin.

Siyenna mengangguk pelan. “..20 % karena aku memang tidak suka putri-putri awan itu.. dan 80%… karena aku menganggap putri Agni-mu itu spesial..”

“Spesial?” tanya Alvin lagi. Ia belum mengerti.

“Hm… bagaimana menjelaskannya ya?” ujar Siyenna bingung. “… mm.. Agni terlibat di salah satu peristiwa penting bagi salah satu pangeranku”

“Ah?”

“Ah.. sudahlah. Lupakan… kau memang tidak seharusnya tau kok. Sudah dulu ya.. daah…”

Malam sudah semakin larut. Lampu-lampu istana sudah hampir dimatikan seluruhnya. Siyenna dan Sion masih berjalan di salah satu lorong istana. Sinar bulan dan bintang di langit malam terpancar jelas dari balik kaca jendela. Mereka menikmati itu sepenuhnya.

Mereka menuju ke kamar Sion. Ia memang mempunyai aturan sendiri untuk pelayan pribadinya. Ia sudah menyiapkan kamar tersembunyi di dalam dinding kamarnya. Dan di setiap malam, Siyenna tidak akan tidur di tempat para pelayan pribadi tidur, melainkan di kamar yang sudah disiapkan Sion itu. Membuat tempat tersembunyi, itu adalah keahlian Sion. Dan keahliannya itu sudah sangat sering membantunya dalam hidup ini.

“Ugh… makan malam tadi mengecewakan..” keluh Sion. “Tadinya aku sudah semangat dengan menu makan malamnya. Daging segar!.. tapi aku lupa.. maksud daging segar di sini kan daging yang sudah bersih, bukan daging yang masih penuh darah” lanjut Sion mengutarakan ketidakpuasannya. “Aku masih lapar…”

Siyenna juga masih diam. Dari pertama mereka memasuki lorong, ia belum mengeluarkan sepatah kata pun.

“Jadi… apa yang kau bicarakan dengan si pelayan pribadi di balkon?” tanya Sion memulai pembicaraan.

“Hm?… Oh.. Alvin?” tanya Siyenna balik.

“Ya” jawab Sion.

Siyenna menunduk sedikit. Seperti ada sesuatu perasaan yang mengganggunya barusan. “Bukan hal penting bagimu kok. Dia hanya penasaran dengan motif tattoo di pergelangan tanganku. Sepertinya ia sadar akan tattoo itu saat aku sedang mencuci tangan di dapur”

“Memang ada apa dengan tattoo itu?” tanya Sion berbasa-basi.

“Katanya… orang tuanya dibunuh oleh seseorang dengan tattoo yang sama denganku..” Siyenna menyembunyikan raut wajahnya. Perasaannya bimbang.

“Tattoo itu,… turun temurun dari keluarga kan?” tanya Sion lagi.

“Ya..”

“Jadi maksudnya… salah satu dari keluargamu pernah membunuh orang tua pelayan itu?”

“Tidak tau…” Siyenna menghela nafas pelan. “Lagi pula… aku belum benar-benar melihat seperti apa orang tua ataupun kakek nenekku. Mereka hanya bilang aku keluarga ventaurie… ditakdirkan untuk menjaga nama kerajaan vampire. Apa-apaan itu?… aku tidak pernah sepenuhnya setuju..”

“Hei,… maaf… kalau aku memang menyebalkan…” ucap Sion jujur dari hati.

“Hm?…” Siyenna agak tidak percaya. Tidak biasanya tuannya berkata gentle seperti itu.

“Em.. malam ini.. kau boleh melakukan apapun yang kau mau” ucap Sion sungguh-sungguh. Walau agak berat mengatakannya. Karena sifat Sion sebenarnya memang tidak seperti ini. Tapi ia memang sedikit tersentuh oleh perkataan Siyenna. Entah kenapa, ada satu bagian dari hati Sion yang merasa bersalah.

“Ha?… ha ha!.. jangan terharu seperti itu.” Ucap Siyenna sambil tertawa kecil. Ia menepuk-nepuk pundak Sion yang raut mukanya tidak seenergik biasannya. “Sebenarnya aku juga kadang bosan kalau kau tidak menyebalkan. Dan karena makan malam hari ini tidak memuaskan… malam ini aku akan membiarkanmu meminum darahku”

“Hah?! Benarkah?!..” tanya Sion tidak percaya. Mungkin malam itu akan jadi malam yang paling nikmat dalam hidupnya.

“Ya..”

“Yes!..”

Sion dan Siyenna pun melanjutkan langkah mereka dengan senyum riang. Vampire memang seperti itu. Masa paling aktifnya pada malam hari. Tapi meminum darah sesama Vampire sebenarnya tidak akan benar-benar memuaskan kehausan mereka. Lalu kenapa Sion mau meminum darah Siyenna? Itu karena, walau Siyenna berasal dari negara vampire, ia bukan seorang vampire.

“Oh iya, satu hal sebelum kau meminum darahku..” ucap Siyenna pada Sion. “Jangan minum banyak-banyak. Sisakan untuk adikmu… pasti ia juga lapar”

Krik krik…

“Degor, sudah ku kira hal ini akan terjadi. Di malam pertama, sudah ada putri dan pangeran yang mengeluh tentang aturan di malam hari” ucap professor Dema khawatir.

“Lalu.. siapa saja mereka?”

“Para binatang malam tentunya. Beberapa binatang yang lebih aktif di malam hari, dan termasuk didalamnya putri didik ku Tigerlily”

Professor Degor hanya diam membisu. Memandang langit malam bintangnya mulai hilang.

“Jadi… apa yang harus kita lakukan?”

“Tak ada satupun” professor Degor menjawab. “Jika kita ingin para putri dan putra makhota itu tetap aman, mereka harus mematuhi aturannya. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Selama kegelapan masih ada di tempat ini, kita tidak boleh membiarkan satupun dari putri dan putra mahkota keluar dari batas perisai istana. Atau mereka akan ditelan oleh kegelapan”

And the 11th part stop here… To be continued to the next part.

Thank you for reading. Terimakasih telah membaca. Terus tunggu lanjutannya. Aku harap semuanya puas membaca ini. Terus sabar menunggu part selanjutnya yah.

Bonus picture is now here.

ify's tattoo

ify's tattoo

Click to make it larger

Terimakasih… ^_^

Kingdom Of Dream_Part 10: Vulvoria, Tigerlily, dan Sejarah Dunia Kingdom Of Dream

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 9: Pangeran Misterius dan Kamar Laven Lair.

Dan lagi-lagi aku minta maaf karena nge-post lanjutannya kelamaan. Haaa…. It’s just! my homework!! OMG!! (oops! sorry kok jadi curcol??). Well… semoga bisa tetep lanjut sampai tamat deh. Dan bisa menulis cerita yang sudah terbayangkan juga.

Sekali lagi maaf banget semuanya. Ini lanjutan dari kingdom of dream part sebelumnya. Jangan lupa comment yah.. ^_^

Kingdom Of Dream

Part 10 : Vulvoria, Tigerlily, dan sejarah dunia Kingdom Of Dream

Di sebuah kamar dengan nama Crimsone Red, seorang putra mahkota berbaju hitam duduk di sofa.

“Siyenna!..” panggilnya.

Pangeran itu bernama Sion Simbolo Vulvoria. Seorang pangeran dari kerajaan Vampire. Umurnya 2 tahun lebih tua dari putri-putri dan pangeran-pangeran lainnya. Dan sebentar lagi ia sudah bisa mengambil alih tahta kerajaan ayahnya.

Sesuai dengan ciri khas vampire, Baju, perabot, dan seluruh isi kamarnya bergaya ghotic. Bajunya hitam dari atas sampai ke bawah, hanya layer berumbainya yang berwarna putih, kontras dengan segala atribut pakaiannya. Warna dinding kamar didominasi oleh warna merah tua dengan gambar bunga mawar hitam. Lantainya dengan beludru, meja kayu berpahat rumit dan tirai sutra berwarna merah.

Sion kelihatan bingung. Orang yang ia panggil dari tadi tidak datang juga. Ia menengok ke sana ke mari, terlihat tidak tenang dan akhirnya memanggil orang itu kembali.

“Siyenna!..” seru Sion.

“Hmm?…” jawab seseorang dari luar kamar.

Sion tersenyum, kali ini ia mendapat sahutan. Ia pun menunggu selama 3 detik dan seorang gadis seumurannya muncul dari balik pintu kamar dengan tampang santai dan cara jalan yang sama sekali tidak tergesa-gesa. Percaya atau tidak gadis itu adalah Siyenna Sense Ventaurie, pelayan pribadi pangeran Sion yang mungkin lebih kelihatan sebagai teman atau partner. Namun Sion malah lebih suka menganggapnya sebagai sang penghibur.

Siyenna menatap Sion dengan pandangan bertanya. “Apa?” tanyanya tenang.

“Aku bosan..” Sion menjawabnya dengan keluhan.

“Terus?”

“Hmm…” Sion berpikir sejenak. “Hibur aku..” ucapnya di sebelah telinga Siyenna. Ia memainkan rambut panjang Siyenna yang diikat di atas kepala.

“Hh… lakukan saja sesuatu sendiri… jalan-jalan di luar kek..” Siyenna menolak permintaan Sion itu. Lagi pula ngehiburnya gimana coba?

“Ah… itu malah lebih membosankan..” keluh Sion lagi. “Ah, aku tau!” seru Sion tiba-tiba. Semangatnya terlihat jelas dari mata, ia memunculkan senyum liciknya.

“Tau apa?” tanya Siyenna agak cuek.

“Ha ha… aku tau apa yang ingin kulakukan sekarang..” ujar Sion bangga.

Siyenna diam dan menunduk malas. Ia sudah tau apa yang ada di pikiran Sion.

“Ramalkan sesuatu tentang Gabriel…” ucap Sion licik. “Apa yang ia lakukan tadi di pesta teh… dan… hm.. apa lagi ya?..” Sion mundur, kembali duduk di sofa merah tadi. Mimik mukanya menggambarkan kalau ia masih berpikir.

Siyenna mendesah pelan. Bagaimana pun juga Sion adalah tuannya. Dan sesuai dengan undang-undang kerajaan ia harus mematuhi apa kata Sion. Ia meraba meja kayu di depannya, mendekati 1 buah bet pesta teh di sana. Tangannya mulai menyentuh bet itu, ia memulai proses ramalannya. Tapi sebelum itu ia berkata.

“Hh… tidak kah kau merasa bersalah mengambil hak dan privasi adikmu?…”

“Kenapa harus merasa bersalah?…” tanya Sion balik. “Kita kan di sini juga untuk mengontrolnya… kalau tiba-tiba kekuatannya membesar dan tidak terkendali, kamu mau salah satu orang di sini terluka?…”

“Terserahlah…” Siyenna memejamkan matanya. Dan ketika matanya terbuka, pandangannya sudah kosong. Ia mengambil bet itu dan didekatkan ke mata.

“Oh ya!… apa yang ada dalam pikirannya sekarang?” cetus Sion tiba-tiba.

Siyenna memejamkan matanya sekali lagi, lalu ia membuka matanya kembali dan mejawab dengan tenang.

“Pikirannya masih sama… tentang kebebasan…” ia menggenggam bet itu lebih keras, hampir meremasnya.

“Dan di pesta teh… dia bertemu dengan… hh’..” Siyenna kelihatan terkejut untuk sesaat. Pandangannya tidak kosong lagi. Untuk beberapa detik ia sempat terdiam, namun tak lama setelah itu senyumnya mulai merekah. Ia sepertinya senang dengan apa yang baru saja ia lihat di benaknya tadi.

“Hi hi…” Siyenna tertawa kecil. Sion yang melihat itu langsung penasaran.

“Apa??… dia bertemu siapa??.. katakan!”

“Hm… seseorang…” jawab Siyenna dengan maksud menyembunyikan ramalannya.

“Seseorang?… siapa?!… kau pasti melihat orang itu!!”

“Aku memutuskan pandanganku sebelum melihat jelas orang itu” jawab Siyenna nge-les.

“Kalau begitu lakukan sekali lagi..”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Aku bosan”

“Haah… Siyenna…”

Agni dan Oik berjalan di lorong istana diiringi Alvin yang berada di depan mereka. Sekali-kali Alvin menatap ke belakang, melihat kedua majikannya berjalan dengan tenang mengikutinya.

“Alvin..” panggil Agni.

“Iya, putri?” sahut Alvin.

“Kita… maksudku Aku dan kak Oik tidak akan tidur di kamar putri istana lagi kan?”

“Ya. kalian akan tidur di salah satu kamar asrama” jawab Alvin.

“Lalu.. kalau misalnya kita mau masuk…, boleh nggak?” tanya Agni.

“Kalau hanya berkunjung sih boleh. Tapi jangan terlalu lama. Kalau untuk tidur, sementara ini tidak dibolehkan..” jelas Alvin.

Mereka bertiga terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan belokan memasuki lorong lain.

“Baik putri. Aku hanya akan mengantarkan sampai sini. Kamar kalian bernama ‘Pia Aluna’, ada di sisi kiri lorong ini. Aku permisi dulu…”

Agni dan Oik mempersilahkan Alvin pergi. Alvin berlalu dan hilang dari pandangan, baru setelah itu Agni dan Oik melangkah ke dalam lorong dan mencari kamar yang akan mereka tempati.

Setelah beberapa detik, mereka pun sampai di depan kamar mereka. Di atas pintunya terdapat pahatan berbentuk bunga tali putri, dan diantara batang-batangnya yang memutar terlilit satu buah papan nama yang bertuliskan,

“Pia Aluna”

Agni dan Oik pun memegang gagang pintu dengan rasa berdebar-debar. Sejujurnya mereka baru pertama kali memasuki area bangunan istana yang di jadikan asrama itu. Dulu bangunannya masih terkunci dan tidak boleh dimasuki. Professor juga berkata kalau bangunan itu hanya digunakan untuk acara-acara tertentu. Dan acara pengajaran ini merupakan acara tertentu yang pertama kalinya.

Pintu kamar Pia aluna dibuat dari bahan kayu putih. Warnanya memang benar-benar putih. Ini kayu asli dari hutan timur Kingdom Animalia. Di tubuhnya terlihat mata-mata kayu yang berwarna coklat tua, namun teksturnya halus. Pintu ini pun jadi terlihat seperti batangan coklat putih dengan caramel-caramel yang manis. Gagang pintunya terbuat dari bahan licin berwarna emas. (kayak aluminium/emas buatan) Itu bukan emas sungguhan, namun dari jauh akan terlihat seperti emas.

Cklek…

Pintu di buka, cahaya dari dalam kamar keluar menyinari lorong tertutup yang agak gelap. Ketika Agni dan Oik masuk, langsung terdengar alunan piano dari sudut kanan kamar. Tepat di seberang mereka terlihat jendela kaca yang besar, yang merupakan sumber datangnya cahaya dari kamar itu tadi.

Kamar Pia Aluna bernuansa naturan dan cerah. Kamar ini luas dengan air mancur kecil berbataskan batu-batu kecil di tengah kamar. Lantainya beralaskan permadani dengan abstrak indah dan di sisi kiri kamar terlihat 3 buah tempat tidur yang di tata berurutan depan belakang. Ketiganya memiliki tiang-tiang hitam dengan tirai-tirai sutra berwarna orange yang tembus pandang tergantung di atas tempat tidur.

Dinding kamar itu berwarna coklat krem, ada lukisan-lukisan hewan di sana. DI sisi kanan kamar, karpetnya lebih halus dengan beberapa bagian yang terbuat dari beludru. Ada bantal-bantal kecil maupun besar di sana. Meja kecil beserta lemari besar juga. Di dindingnya tergantung tempat untuk memajang berbagai hiasan, buku, dan pernak-pernik lainnya. Sementara di bawahnya ada peti putih yang cukup besar untuk di masuki oleh tubuh Oik.

Oik terkagum-kagum dengan keadaan kamar itu. Luas, nyaman, alami. Agni juga sama-sama kagum, namun perhatiannya lebih condong ke piano di sudut kamar.

Piano itu masih mengalun pelan, namun tidak ada orang yang memainkannya.

Oik ikut memperhatikan piano itu, matanya was-was karena ia tidak terlalu suka hal-hal berbau mistik. “Jangan-jangan itu piano hantu…” ucap Oik dengan suara gemetar, sama seperti tangannya yang sudah buru-buru sembunyi di balik bahu Agni.

“Bukan..” terdengar suara asing dari sisi kiri kamar. Suaranya datang dari balik tirai tempat tidur yang tergantung rapih di tiang-tiang atasnya.

Oik mulai berprasangka buruk. “Jangan-jangan itu hantunya!”

“Hei! siapa yang kau bilang hantu!” seru orang yang tadi.

Agni dan Oik menengok ke sumber suara, dan betapa tidak percaya nya mereka ketika melihat sesosok putri yang bisa di bilang terkenal di jajaran dunia Kingdom Of Dream. Putri itu berambut hitam panjang, lurus dengan ujung yang agak tajam, berkulit agak hitam namun manis, memakai gaun orange dan pita besar di kepala. Ia tersenyum imut, matanya agak menyipit lalu menyapa Agni dan Oik.

“Hai!… salam kenal.. namaku -“

“Tunggu!..” Agni menyelak perkataan putri itu. “Biar kutebak. Kamu… Putri Tigerlily kan?”

Oik mengangguk, ikut menebak dengan tebakan yang sama seperti Agni.

Putri itu tersenyum dan menambahkan. “Ya. Tigerlily,… lebih tepatnya, Zevana chetta Tigerlily. Tapi gampangnya panggil saja Zeva atau Zeze..” katanya riang.

Zevana Chetta tigerlily adalah seorang putri asal negara harimau. Ia adalah peraih prestasi di Kingdom Of Dream. Dia ahli debat dan sampai sekarang hampir tiap lawan di arena debat dikalahkannya. Kini ia telah meraih sebanyak 50 medali dalam lomba debat. Ia merupakan orang yang lumayan cocok menjadi pemimpin dan dikenal selalu up to date.

Sifatnya humble dan ceria, tapi kalau lagi marah akan susah untuk dikendalikan. Ia akan selalu ingat muka orang yang telah membuat dia marah hingga ia memaafkan orang itu. Sampai sekarang orang yang pernah menang debat darinya hanya satu. Itu pun bukan dalam lomba, melainkan 2 orang gadis yang memperebutkan limas perak di puncak menara freedom mountain.

Zevana sudah pasti ingat muka orang itu. Putri keluarga Ventaurie yang kini menjadi pelayan pribadi pangeran Vampire. Siyenna Sense Ventaurie.

“Kalau begitu giliran kami memperkenalkan diri..” kata Oik. “Namaku’..”

“Tunggu!” Zevana menyelak. “Aku ingin tebak. Kalian pasti Oik Unico Counelli & Agni Dosecca Counelli”

“Benar!” seru Oik. “kok bisa tau nama kami?… kami kan bukan siapa-siapa, hanya putri kerajaan biasa”

“Bukan siapa-siapa gimana?.. kalian terkenal dengan keceriaannya. Dan professorku sering mendengar cerita dari professor degor. Tentang kalian yang suka kabur ke belantara kota, bahkan keluar dari batas kota..” sanggah Zevana.

“Hah?!… yaah… aku jadi takut. Nanti jangan-jangan para professor lainnya sudah mengecap kita sebagai nakal..” ujar Oik.

“Kalau mereka bilang itu hal nakal, aku tidak akan setuju. Para putri dan pangeran kan seharusnya juga boleh bebas, tidak dikurung terus di istana. Kita punya hak untuk mengenal keadaan kota. Kalian malah beruntung dapat kesempatan keluar dari istana, setidaknya 1 kali. Aku tidak bisa melakukan semua itu..” Ucap Zevena panjang lebar, mengutarakan segala keluh kesahnya.

“Iya! kita juga berpikiran seperti itu..” kata Agni setuju.

Mereka bertiga saling mengangguk. Rupanya jalan pikiran mereka tidak terlalu berbeda. Mungkin kapan-kapan mereka akan berencana untuk kabur keluar istana bareng-bareng.

“Eh iya!” seruan Oik membangunkan Agni dan Zevana dari pikiran mereka. “Aku masih bingung… kenapa piano di sudut kanan kamar masih mengalun?.. kan tidak ada yang memainkan…”

Agni mengangguki pertanyaan Oik. Lalu mereka berdua sama-sama menatap Zevana. Sebagai putri yang selalu up to date seharusnya ia tau tentang piano misterius itu.

“Ya. Aku tau… piano itu adalah keistimewaan dari kamar kita” kata Zevana memulai penjelasannya. “Nama piano itu adalah Pia. Dan itu menjelaskan kenapa nama kamar kita ‘Pia Aluna’ yang artinya Alunan Pia. Setahuku piano itu peninggalan sebuah perkumpulan besar di kerajaan melodi yang sekarang sudah tidak ada lagi. Nama perkumpulannya aku tidak terlalu ingat, yang pasti di belakangnya ada kata-kata ‘café’. Mereka memang memulai masa nya dari acara perkumpulan di café. Ada beberapa orang yang menganggap kalau orang yang sekarang memainkan piano itu adalah arwah dari pemimpin perkumpulan itu yang memegang alat musik piano, kalau tidak salah namanya Martiz. Tapi aku tidak tau apakah itu benar atau tidak…”

“Wah… kalau misalnya benar, berarti sekarang arwah Martiz ada di kamar ini dong?…” tanya Agni.

“Ya… mungkin aja..” balas Zevana. Ia berdiri mendekati piano itu. “Tapi aku penasaran… sampai sekarang belum ada orang yang berani memainkan piano itu, mereka takut kerasukan arwah Martiz. Padahal mungkin Martiz terus memainkannya karena tidak ada orang yang memainkan piano itu. Kan kalau pianonya dibiarkan sendiri nanti jadi kesepian… terus… karatan..”

“Hi hi…” Oik terkikik kecil mendengar ujaran Zevana yang asal keluar dari mulut. “Kalo Martiz nya denger gimana ya?” pikirnya.

Irsyad dan Obiet berjalan menelusuri lorong asrama pria. Mereka menengok ke kanan dan ke kiri, mencari kamar yang bernama Laven Lair, tempat ke-2 teman mereka tinggal.

“Jadi…” Irsyad membuka pembicaraan. Dari tadi mereka hanya serius mencari kamar lave lair, suasana harus dicairkan.

“Hya! hya! hya!… ayo! buka topengmu, putih!”

Debo dan Patton berseru, sibuk bergulat di lantai dengan sosok yang tidak jelas rupanya karena tertutup oleh kasur yang agak tinggi. Topi mereka sudah terlontar ke pojok kamar, baju mereka sudah acak-acakan dan rambut mereka sudah tidak beraturan.

“Eh… Patton?..” Obiet bertanya dengan heran. Irsyad bengong dengan mulut menganga setengah.

“Ah!.. Irsyad! Obiet!…” seru Patton balik. Ia berlari menghampiri kedua tamunya dan menyambut dengan pertanyaan membingungkan. “Kalian!… coba tebak dari mana asal pangeran yang sedang Debo jatuhkan itu, dan siapa namanya?..”

Obiet diam karena tidak mengerti pertanyaan Patton. Irsyad bergeming sebentar, ia melirik kaki sosok pangeran itu yang putih mulus. Sepatu bootsnya baru lepas tadi karena kehebohan serangan Debo. Sosok itu mengerang minta tolong.

“Eh… awan?” tebak Irsad yang buntu ide. Padahal apa nyambungnya coba sama sosok itu? “Ya… warna kakinya agak putih… terus.. kayaknya empuk… itu kan ciri fisik awan..” ujarnya dalam hati.

“Heheh.. awan?…” tanya Patton balik. “Tebakanmu agak aneh..” ujarnya.

Irsyad hanya menutup mulutnya, ia tersenyum kecut dan mengangguk penuh pengakuan. Memang aneh kok..

“Ah! tapi siapa peduli?… Aku sendiri tidak tau tebakanmu salah atau benar. Tau kenapa?… karena pangeran itu memang tidak mau memberitahu identitasnya. Aku tidak terima!… ah.. nggak adil!” seru Patton kekanak-anakan.

Debo bangun, melepaskan cengkramannya dari tangan sosok yang hampir sekarat itu. “Iya! Patton benar!”. Ia mengambil sepatu boots kepunyaan sosok itu dan mengangkatnya bagaikan pedang atau pistol yang diarahkan ke dada sang pangeran. “Ayo! katakan atau kau akan tau akibatnya!” seru Debo lantang.

“Iya!… iya.. iya.. maaf…” kata sosok pangeran yang masih tidak terlihat oleh Obiet dan Irsyad. Ia meminta maaf dengan nada memelas. Lalu badannya bergerak ke samping, mencoba bangun tapi yang ada pinggangnya malah terpentuk dasar kasur.

Dak!

“Aduduh… Aa… sakit..”

“Ha ha..” Irsyad terkikik sebentar dan berbisik ke Obiet yang masih memperhatikan. “Kayaknya pangeran itu baru encok deh…”

“’hhaha..” Obiet tertawa tertahan mendengar ujaran Irsyad. Ia menutup mulutnya sebentar dengan telapak tangan sementara dirinya masih senyum-senyum sedikit. Tapi ia mulai merasa kalau suara pangeran itu familiar di telinganya. “Siapa ya?..” Obiet berusaha mengingat-ngingat. Ia pun mendekati pangeran itu dan melihat dengan mata sendiri muka sang pangeran.

“Hah!!…” Obiet terkejut. Matanya terbelalak melihat sosok pangeran itu. Benar-benar tidak terduga, pangeran itu adalah,

“Cakka?!”

Sementara itu di perpustakaan istana

Crsh… crsh…

Zevana mengunyah biscuit coklatnya dengan nikmat. Mungkin baginya biscuit coklatnya pada saat itu adalah makanan terenak di dunia ini. Agni dan Oik sibuk dengan kerjaannya masing-masing yaitu mencari buku-buku pengetahuan dan Geografi. Agni mencari buku pengetahuan untuk mencari tau tentang negara-negara yang ada di Kingdom Of Dream. Mungkin dengan itu ia akan dapat setidaknya satu petunjuk tentang pangeran misteriusnya. Sementara Oik, ia ingin mengobservasi beberapa tempat menarik yang ada di Kingdom Of Dream. Mungkin jika suatu saat ia bisa berkelana bebas di dunianya ia akan tau tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi.

“Hm… Zeva mungkin mau ikut..” pikir Oik.  Ia menengok ke Zevana yang dari tadi masih mengunyah biskuitnya tanpa rasa terganggu. “Zevana… bukan kah kita dilarang makan di perpustakaan?” tegurnya.

“Ya. mm… aku liat papannya.. crsh.. crsh.. tapi toh… nggak ada yang liat kan?” balas Zevana nakal.

“Ya… iya juga sih… kalo gitu… bagi dooong…” pinta Oik memelas. Sebenarnya ia juga lapar sih. Perutnya sudah bergetar dari tadi.

“Silahkan diambil sebanyak yang kau mau, putri…” sambut Zevana riang.

Oik tersenyum riang. Akhirnya… perut yang dari tadi lapar akan mendapat jatah makannya.

crsh crsh… Oik dan Zevana pun memakan biscuit-biskuit itu dengan gembira. Namun Agni masih serius pada buku yang ia baca. Ia menemukan beberapa informasi tentang negara-negara di Kingdom Of Dream. Ada negara Tikusika, yang merupakan negara Debo, Avesky negara asal Patton di mana semua jenis burung berkumpul jadi satu, dan masih banyak lagi. Tapi Ia bingung, arti kata ‘Animalia’ adalah seluruh hewan yang ada di dunia.

“Tapi kenapa hanya ada ras kelinci di kerajaan Animalia?” Tanya Agni setelah ia menceritakan beberapa informasi dari buku yang ia baca.

“Karena dulu.. jauh sebelum kita lahir, Kingdom Of Dream hanya terbagi menjadi 3 bagian” Zevana memulai ceritanya.

“Haah!… Benarkah??”

“Iya.” ucap Zevana sambil tersenyum, mengundang perhatian. Oik dan Agni memperhatikan dengan seksama dan ia pun mulai bercerita.

“Yaitu ‘Skyrea’, kerajaan langit, ‘Undertown’ kerajaan bawah tanah, dan kerajaan bumi yang disebut juga dengan ‘Animalia’. Tapi pada suatu saat, ketiga negara mengalami kekurangan persediaan untuk hidup. Skyrea kekurangan air, Animalia kekurangan panas, sementara Undertown kekurangan cahaya.

Skyrea dan Animalia mempunyai ide yang sama yaitu saling bertukar persediaan. Animalia memberikan airnya untuk Skyrea, Undertown memberikan panasnya untuk Animalia, dan Skyrea memberikan cahayanya untuk Undertown, tapi Undertown tidak menyetujui usulan itu. Ia tidak ingin membagi miliknya untuk siapapun. Akhirnya terjadilah pertempuran antara 3 negara.

Skyrea dan Animlia tentu bekerja sama untuk menaklukan Undertown. Namun walau Undertown hanya sendiri, ia mempunyai pasukan yang sangat besar sehingga perbandingan mereka hampir sama. Pada akhirnya yang menang adalah Skyrea dan Animalia. Tapi Undertown masih belum hancur, pemimpin dan beberapa pasukan dari Undertown masih bersembunyi di bawah bumi, dan legenda berkata bahwa mereka akan bangkit kembali dan menghancurkan Animalia serta Skyrea. Namun sampai sekarang masih belum diketahui kapan mereka akan bangkit.

Berkat perang itu tadi negara Animalia yang menjadi arena perang mengalami kerusakan yang lumayan parah. Dan saat Animalia memulai masa perbaikannya, masing-masing ras mulai berkumpul sendiri dan memisahkan diri dengan Animalia. Mereka membuat negara sendiri dan berusaha menghidupi rakyatnya sendiri. Dan pada akhirnya ras yang ada di kerajaan animalia pun hanya ras kelinci yaitu kalian” jelas Zevana panjang lebar.

“Aku mau Tanya” seru Agni sambil mengangkat tangannya.

“Apa?” sahut Zevana. Ia tidak keberatan untuk menjelaskan lebih rinci tentang pertempuran itu.

“Kenapa ras terakhir yang tersisa di kerajaan Animalia ras kelinci? Kenapa tidak harimau? atau yang lainnya” lanjut Agni.

“Karena… pada saat pertempuran itu, raja yang memimpin kerajaan Animalia ber-ras kelinci”

“Oh…” Agni manggut-manggut. Begitu juga dengan Oik yang ikut memperhatikan. Ternyata sejarah dunia mereka sangat menarik. Wawasan Zevana memang benar-benar luas.

Agni hendak bertanya lebih jauh lagi tentang kejadian itu, tapi tiba-tiba mereka bertiga dikagetkan oleh bunyi pintu perpustakaan yang terbuka dengan kencang. Sepertinya baru dibanting oleh seseorang. Tidak… ada 3 orang, dan mereka berjalan tergesa-gesa menghampiri 2 putri counelli. Hmm… Siapa ya mereka??

Tunggu kelanjutannya dan tetaplah bersabar. Orang sabar disayang tuhan. Ya allah… semoga bisa nulis lanjutannya secepatnya…

Bonus picture nya akan di post hari-hari mendatang. (komputer satunya, tempat aku nyimpen pic itu lagi kehilangan mouse) maklum dimakan mouse alias tikus. tikus memakan tikus. =P

Hooray! Komputernya sudah dalam keadaan baik lagi. Dan ini adalah bonus picturenya…

Siyenna's dress

Siyenna's dress

Thank you sekali lagi karena telah membaca ^_^ see you next part!!

Kingdom Of Dream_Part 9: Pangeran Misterius dan Kamar Laven Lair

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_part 8: Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi (bag2).

Pertama-tama, Aku memohon maaf sebesar-besarnya karena kelamaan nggak ngelanjutin cerita ini. Mohon dimaklumi yah… tugas pelajar jaman sekarang emang banyak banget. Ya pr lah, presentasi, bikin rangkuman diketik terus di print, harus punya flash disk,… ah… makin pusing.

Pokoknya, semoga part ini bisa memuaskan. Menghibur semua yang membacanya. Jangan lupa baca next partnya (dan prev partnya juga bagi yang baru baca). Dan mohon di Comment.. ^-^

Kingdom Of Dream
Part 9: Pangeran Misterius dan Kamar Laven Lair

*Pak ketipak ketipuk ketipak ketipuk ketipak ketipuk*

Kereta-kereta kuda memenuhi jalan perbukitan menuju ke istana animalia. Cuaca kelihatannya mulai berangsur malam dan menjadi gelap, kecuali kalau itu semua hanya efek dari langit yang mendung.  Burung-burung masih berterbangan di langit, namun jumlahnya tidak sebanyak hari-hari biasanya. Angin yang tadi masih sepoi-sepoi kini mulai menggalak. Semak-semak serta pepohonan sedikit bergoyang karena sapuan angin yang keras. Daun-daun terlepas dari tangkainya. Ikut terbang mengikuti arah tiupan angin.

Di barisan paling belakang, kereta kuda berwarna hijau tua dan emas melaju dalam kecepatan sedang. Jalanan yang berbatu-batu membuat kereta itu seperti terguncang oleh gempa bumi. Sang pengemudi duduk sambil memegang topi di kepalanya agar topi itu tidak ikut terbang. Sesekali ia terjonjak karena guncangan yang besar. Ia kesulitan mengendalikan tali kemudi beserta kuda-kudanya yang suka lari tiba-tiba.

Orang-orang yang duduk di dalam kereta juga ikut terguncang. Untungnya bangku di dalam kereta dilapisi dengan sutra dengan busa-busa atau kapas di dalamnya. Maka saat mereka terguncang, mereka tetap dapat merasa nyaman.

Para putra dan putri mahkota kingdom of dream yang duduk di dalam kereta yakni Oik, Paton, Debo, Irsyad, Obiet dan juga Agni kelihatan tenang-tenang saja menghadapi guncangan tersebut. Mereka masih kelelahan dengan aktifitas di pesta teh yang cukup melelahkan. Dalam pesta itu mereka harus berdiri hampir setiap saat. Makanan dan minuman lezat yang memenuhi perut mereka juga menjadikan diri mereka mengantuk dan lelah. Makan kan juga perlu tenaga.

Ourel, putri minister yang kebetulan ikut naik kereta kuda mereka malah kelihatan sangat ceria. Dari tadi ia terus tersenyum, dan di setiap lompatan ia akan tertawa kecil dengan mata yang berbinar. Oik tersenyum meihat tingkah Ourel tersebut. Ia paham jiwa kanak-kanan Ourel yang masih berkembang, maka ia memakluminya.

Patton, Irsyad dan Debo tertunduk dengan lemasnya di bangku seberang Oik. Mata mereka sangat sayu, merem-melek merem melek melulu. Mungkin sebentar lagi mereka akan tertidur.

Obiet mengutak-atik perunggu limas kecilnya. Sebuah benda teka-teki peninggalan orang tuanya. Semacam permainan melatih otak. Benda itu terdiri dari bangun-bangun acak dari perunggu, yang bisa di gerak-gerakan sesuai dengan alurnya. Di permukaannya terdapat relief-relief dan pahatan, beberapa lambang masa lalu, serta tulisan-tulisan kuno layaknya prasasti. Namun relief-relief itu seperti teracak. Orang-orang kerajaannya seperti mentri pengadilan Chobits berkata, bahwa kelak ia akan memecahakn sebuah teka-teki yang ada di balik limas itu.

Agni duduk di sisi bangku sebelah jendela. Menopang dagunya di pergelangan tangan yang di sandarkan di jendela. Matanya menghadap ke luar jendela kereta yang terbuka. Sebagian rambutnya berkibaran tertiup angin. Oik lagi-lagi tersenyum. Agni kelihatan nyaman menikmati tiupan angin yang urung berhenti itu. Namun Yang Oik herankan adalah pandangan mata Agni yang kosong. Sepertinya Agni sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Agni..” panggil Oik pelan.

“Eh.. Hah?” Agni menoleh tiba-tiba ke Oik. Sepertinya dugaan Oik benar. Agni memang baru melamun.

“Ngelamunin apa?” tanya Oik.

“Oh… enggak kok.. bukan apa-apa” Agni langsung menggelengkan kepalanya. Ia seperti menutupi sesuatu.

Oik merasa ada yang berbeda dari Agni. Ia pun sengaja menebak dengan salah agar Agni mau menjawab pertanyaannya. “Oh… Pasti ngeliatin Nova sama Alvin yang ada di kereta depan ya?” ucapnya.

“Hah?… Bukan kok… Itu tadi aku… ketemu…” kata Agni terbata-bata. Ia agak ragu untuk menjawab rasa penasaran kakaknya itu.

“Ketemu?… ketemu siapa??” seperti yang sudah Agni kira, Oik makin penasaran dan antusias. Karena takut Oik marah padanya akhirnya Agni mau menceritakan hal yang sedang ia pikirkan dari tadi.

“Itu… tadi di halaman kediaman Cranofile, aku ketemu sama seseorang…”

“Hooh!…” Mata Oik langsung membesar, berbinar. Telinganya langsung on, wajahnya berseri-seri. Wah! Oik penasaran banget kali ini. Sekarang imajinasinya memang lagi on banget. “pasti seru!…” pikirnya.

orangnya gimana? Laki-laki atau perempuan??” tanya Oik yang langsung menanggapi cerita Agni.

“Em… laki-laki” balas Agni agak pelan.

“Laki-laki?!… woooh… trus trus! habis itu kalian ngapain?” tanya Oik lagi. Ia makin antusias. Kira-kira mengarah kemana ya pikirannya? Snow white? Cinderella? Beauty and the beast?

“Eng… kita nggak ngapa-ngapain kok” jawab Agni agak menunduk.

“Loh kok?… nggak kenalan??” keluh Oik. Kalo mau tau, Oik tuh bener-bener kecewa pas denger Agni nggak ngapa-ngapain. padahal harapannya udah jauh dari itu.

“Nggak sempet… Lagian… pas itu tiba-tiba aku nggak berani kenalan…” jawab Agni jujur.

“Yah…” Oik mengeluh. Agni juga ikut nunduk. Mereka sama-sama nyesel kali ya?

“Terus, orangnya kayak gimana?” tanya Oik lagi. Kalo nggak bisa kenalan setidaknya ia tau tampangnya kayak gimana.

“Orangnya… agak… ah susah di tebak!.” kata Agni. “Kalau dari bet yang dia pakai sih… harusnya dia pangeran..” lanjutnya.

“Pangeran??… terus ciri-cirinya seperti apa?” tanya Oik lagi.

“Eng… Negara asalnya nggak ketahuan. Tapi pakaiannya gelap. Kulitnya agak pucat, dan matanya…emm…”

“Apa??.. matanya kenapa?”

“matanya nggak papa kok. Cuman… pandangannya tajam…”

“Hoooh!… jadi dia adalah pangeran misterius?… hi hi.. aku jadi ingat saat-saat bunda menceritakan beberapa cerita tentang pangeran dan putri yang tanpa sengaja bertemu… coba aku bisa melihat peristiwa itu…” Oik berangan-angan.

Agni hanya bisa tersenyum. Ia juga ingat akan cerita bundanya itu. Akankah ia mengalami cerita yang sama?

“Jadi… pertanyaannya adalah, ‘Akankah Agni bisa bertemu lagi dengan pangeran’ hooh… aku jadi pingin liat pangerannya..” kata Oik penasaran. Ekor kelincinya goyang-goyang ke kanan dan ke kiri.

“Iya aku juga… tapi aku tidak tau apa-apa tentangnya…” balas Agni.

“Oh iya yah… kalau begitu, tanya saja ke Patton. Biasanya kan burung hantu pintar!…” usul Oik. Pikirannya seperti ini.., ‘Lambang professor apa?? Burung hantu kan?’

“Hah?… apa? ada yang manggil aku??” Patton yang mendengar namanya dipanggil langsung bangun dari posisinya. Sigap banget si Patton.

“Oh! gini Patton!…” Oik langsung bertanya. “Kalo misalnya kita mau nyari seseorang, tapi kita nggak tau orang itu namanya siapa, kita nyarinya gimana?”

“Wah… itu sih nggak bisa…” jawab Patton. Oik dan Agni jadi agak murung. Melihat itu, Patton pun langsung menanyakan lebih lanjut. “Memang ketemunya di mana?” tanyanya.

“Ketemunya di pesta teh tadi” jawab Oik segera. Kayaknya kok malah Oik yang antusias banget ingin bertemu dengan pangeran misterius itu. Agni agak… malu.

“Oh… pesta teh… itu sih bisa coba liat ke buku absennya” kata Patton lagi.

Agni dan Oik tidak mengetahui apa maksudnya buku absen? setelah itu pun Patton menjelaskan semuanya. Jadi ternyata, di pesta teh itu ada yang namanya buku absen. Buku yang dipegang oleh minister dan digunakan untuk mencatat siapa saja yang datang dan tidak datang ke pesta teh itu.

“Biasanya sih di bolehkan. Tapi… aku tidak tau juga. Mungkin hanya bisa kalau kita punya satu hubungan dekat dengan salah satu keluarga minister…” kata Patton mengakhiri penjelasannya.

Agni dan Oik mengangguk-nganggukan kepala mereka. Kini tinggal cari orang yang dekat dengan minister. Mereka masih sibuk berpikir, sampai akhirnya Patton menjentikan jarinya.

“Kalian tau?… sebenarnya tidak perlu susah-susah berpikir untuk mendapatkan buku itu..” Patton tersenyum jail. Jari telunjuknya mengarah ke Ourel yang sekarang sedang menatap mereka polos. Matanya berbinar dan sepertinya ia sudah penasaran duluan. Hmm.. kelihatannya dapat diajak kerja sama.

*Tess.. Plung..*

“Hah?!..”

Cakka terbangun oleh suara tetesan air yang jatuh ke sebuah genangan air. Ia membuka matanya. Keningnya agak dingin, tetesan air tadi sempat jatuh ke kepalanya dulu sebelum benar-benar jatuh ke genangan air. Keadaan di sekitar masih gelap baginya. Sungguh sangat gelap. Rasanya ia buta saat itu. Perasaan takut mulai merasuki hatinya. Dan tanpa ia sadari, seekor mahluk dengan dua pasang mata yang tadi sedang mengintainya dari jauh… kini mulai mendekat.

Bulu kuduk di belakang tubuh Cakka mulai berdiri. Jantungnya makin berdebar-debar. Matanya mulai was-was melihat ke sekitar, tapi apa yang ingin dilihat. Tidak ada satupun! Dan dalam jangka waktu dekat… satu buah tangan yang kasar akan menyentuh lehernya. Namun sebelum itu, persis di sebelah telinganya, satu suara yang mendesis akan memberikannya tanda akan kehadiran seekor mahluk. Mahluk… pemilik tempat ini.

“Ssss…”

GYUT!..

“AAaaah..”Cakka terkejut. Ia memekik perih. Mahluk itu telah menjerat lehernya bahkan hampir mencekiknya. Cakka seperti seekor semut melawan gajah.

“Ss… Diam kau!… sudah kukira akan ada satu putra mahkota yang berusaha lari dari istana” kata Mahluk itu masih dengan desisan kecil. Cakka berusaha melawan namun itu semua sia-sia. “H’h… Diam!… Kau akan kubawa!.. Jangan coba lari!”

Setelah menempuh perjalanan dari kediaman Cranofile, Agni, Obiet, Oik, Patton, Debo, Irsyad, dan juga Ourel akhirnya sampai di istana Animalia.

Debo, Patton dan Irsyad yang baru pertama kali berkunjung pun terpana dengan keindahan istana Animalia. Arsitekturnya yang megah dan royal membuat bangunan itu bermakna sangat penting. Dindingnya terbuat dari marmer-marmer berkilau.Tirai-tirai merah dan emasnya terbuat dari beludru. Pilar-pilar putih menjulang tinggi sampai langit-langit istana. Lantai dengan berbagai macam mozaiknya, dan juga langit-langit yang berlukiskan awan dengan dewa-dewi agungnya. Terlihat pahatan-pahatan bergambar hewan di pilar-pilar putih. Lantainya memantulkan sinar matahari yang masuk melalui atap yang terbuat dari kaca. Semuanya kelihatan sempurna untuk sebuah istana.

Debo berdecak kagum. “Istanamu hebat…” pujinya.

Oik menggeleng. “Ah… namanya juga istana. Istana kalian juga bagus kok..” balas Oik merendahkan diri. Tapi Debo tetap teguh akan statementnya.

“Tidak. Istanaku jauh lebih kurang dari pada ini. Istanaku agak… gelap” kata Debo mereka-reka. Yah… mau bagaimana lagi? Namanya juga istana tikus.

Tak lama kemudian, para pelayan istana datang. Lalu barang-barang mereka pun diambil oleh pelayan kerajaan dan langsung di bawa ke kamar yang telah di persiapkan. Mulai hari itu, Agni dan Oik tidak akan tidur di kamar mereka lagi. Melainkan di kamar lain yang sengaja di jadikan asrama.

Tadi di jalan, Nova dan juga Alvin sudah mendapat surat petunjuk tentang letak kamar putri dan pangeran mereka. Disana dikatakan kalau 1 kamar akan ditempati oleh tiga orang. Obiet dan Irsyad yang ternyata sekamar pun langsung diantar Nova ke kamar mereka. Patton dan Debo diantar oleh pelayan dan pendamping mereka, sementara Agni dan Oik diantar oleh Alvin.

Tok tok tok

Pintu kamar Laven Lair diketuk oleh Patton dan Debo.

“Ada orang?” tanya Patton lantang.

Suasana hening dan tidak ada jawaban mereka pun membuka pintar kamar tanpa beban sedikit pun. “Berarti untuk sementara, kamar ini milik kita..” ujar Patton. Dan mereka pun masuk.

“Whoaaa…” Mereka lagi-lagi takjub dengan kemegahan istana ini. Kamar yang luas, dinding putih tak bernoda, lantai marmer yang kinclong, 3 kasur empuk bersepraikan sutra merah muda soft, pajangan-pajangan antik beserta lampu-lampu yang bersinar terang.

“Hoooh… aku bahagia bisa tetap berada di Negara animalia ini” ujar Debo. “Setidaknya untuk sementara aku terlepas dari aura kamarku yang gelap. Aku tidak menyangka ternyata ada kamar asrama yang senyaman ini..” lanjutnya sambil berbaring di kasur pertama.

“Asrama?” Patton seperti bertanya. “Bukannya ini pengajaran khusus?”

“Huu… sudahlah terima saja. Walau dijelaskan seperti apapun, intinya system pengajaran ini tetap seperti asrama. Memang kenapa? kamu seperti sebal dengan system asrama, Patton” Debo balas bertanya.

“Tidak. Aku bukannya sebal dengan asrama. Hanya saja, asrama dipikiranku selalu terkait dengan yang namanya aturan. Dan kadang aturan itu membuatku bosan” jawab Patton dengan jujur. Ia duduk di kasur kedua sambil terus memandang Debo yang terus berguling ke kanan dan ke kiri.

Debo pun bangun dan memandang kasur ke-3 dengan penuh tanya. Patton juga mengikuti kerjaan Debo. Dan ia pun sadar ada kejanggalan di sini.

“Hei!… bukankah seharusnya kita bertiga dalam kamar?” tanya Patton heran.

“Hmm… mungkin pangeran lainnya belum datang” Debo menebak-nebak kemungkinan yang paling besar.

“Tidak mungkin!..” sanggah Patton tidak setuju. “Setauku, kereta kita adalah kereta terakhir yang sampai di istana. Kalau memang benar ada yang menempati kasur itu, pasti sudah ada barang-barang yang ditaruh di samping kasur itu” jelas Patton.

Debo pun melihat ke lantai sebelah kasur ke tiga. Dan ternyata benar, tidak ada satupun barang yang ditaruh di sana.

“Hmm… kalau begitu, ini kasurku” kata Debo sambil menduduki kasur ketiga yang sama nyamannya seperti kasur ke-1 dan ke-2.

“Ah!.. tapi aku juga mau…” kata Patton. Mereka berdua duduk di kasur dan saling dorong-dorongan, memperebutkan kasur terakhir yang ada di kamar Laven Lair. Waduh… padahal kan mereka sudah punya kasur masing-masing.

“Punyaku!” seru Patton.

“Aku!” Debo nggak mau kalah.

“Aku!”

“Aku!”

“Hei!… Dari pada berantem, mending kita bagi dua saja!” usul Patton.

“Wah!… bener tuh!…” Debo setuju. “Aku kiri!”

“Waa… enggak!.. Kamu kanan!” balas Patton.

“Kiri!”

“Kanan!”

“Kiri!”

“Kanan!”

“Hei!!..” Oh tidak!. Ada teguran dari luar kamar.

Debo dan Patton terkejut. Ternyata itu adalah salah satu professor yang mungkin akan menajar mereka nanti.

“Ah… jangan bilang kita dihukum. Tidak seharusnya professor datang ke kamar kita saat ini, kecuali ada hal penting yang harus disampaikan ke kita..” bisik Patton kepada Debo.

“Semoga sih bukan… kita tidak melakukan apapun yang melanggar kan?” Debo balas berbisik.

“Debo! Patton!” panggil professor.

“Iya?” balas mereka berdua.

“Bersikap baiklah pada teman baru kalian… Hei kamu!… Ayo masuk!”

Finally! Aku telah berhasil menge-post KOD part 9. Tapi aku takut juga… jangan-jangan part ini mengecewakan yah?? iya gak sih?… kurang banyak yah? Kalo mau kritik – kritik aja ya… selalu di terima kok. Commen ya commen. Maaf kalo part ini kurang, aku akan mengusahakan kalau part selanjutnya akan lebih baik lagi! (AMIN!… Bertekad mode: On!)

Oh iya! kisi-kisi part selanjutnya. Nanti kemungkinan disana ada krew-krew Café Happy Chipmunks, kamarnya Agni dan Oik, dan 3 tokoh baru beserta para pengajar di pengajaran khusus ini. Siapa ya??… mau tau?? baca aja part selanjutnya!…

salam manis ^_^

Kingdom Of Dream_Part 8: Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi (bag 2)

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_part 8: Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi (bag 1)

Nah ini bag 2 nya. Singkat aja yaa..
Mending langsung baca.
Bonus gambar : Baju Oik, Agni, Acha dan Keke

Selamat membaca. Please comment…

Kingdom Of Dream
Part 8(2): Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi

Hari semakin siang. Udara semakin panas di kota Kingdom Animalia. Debu-debu berterbangan dengan pelan, tertiup angin kering. Kalau dilihat, jadi seperti kawasan-kawasan Westward, kawasan Amerika yang datarannya kering, seperti Grand Canyon dan sebagainya. Debu-debu jadi seperti kabut. Bedanya, kalau kabut hanya menyamarkan pandangan,
namun debu-debu ini, dapat menyakitkan mata kalau terselip di sisi-sisi mata kita.

Untungnya hal-hal di atas tidak terjadi di kediaman Cranofile-bukit ketiga dari selatan. Malah keadaan sangat bertolak belakang. Di sana udaranya sejuk, cerah, dan tidak banyak debu. Yang ada hanyalah oksigen yang sejuk dan segala partikel-partikel baiknya yang ada di udara. Kediaman Cranofile, tempat tinggal Obiet di Kingdom Animalia untuk sementara ini sangatlah subur. Banyak pohon di mana-mana. Kebanyakan halamannya di dasari oleh rerumputan hijau yang rapih.

Agni dan Oik sangat senang dapat berkunjung ke Kediaman Cranofile ini. Banyak tanaman hias, kupu-kupu yang hinggap, dan tentu saja, rumput-rumput yang hijau nan subur. Bagaimanapun juga naluri kedua putri ini sebagiannya naluri kelinci. Rerumputan subur di mata mereka tentu saja member kesan menggiurkan. Ketika kereta kuda yang mereka tumpangi telah berhenti. Oik yang berada di sebelah pintu langsung membuka pintu kereta kuda dan menyeruak keluar. Merasakan angin sepoi-sepoi melambaikan rambut, baju, serta telinganya. Malah Alvin, sang pelayan yang baru saja ingin membuka pintu kereta kuda yang kena batunya. Ia mengusap-ngusap kepalanya yang barusan terpentuk ganggang pintu.

Agni keluar dengan tampak tenang. Kalau bahasa daerahnya, kalem. Tapi mukanya berseri-seri, ia tersenyum manis dari hati, dan dengan otomatis pipinya mengembang, tambah tembem, dan membuat matanya jadi sedikit menyipit.

“Ah…. indahnya… Aku mau main seharian di sini…” kata Oik mengungkapkan perasaan yang ada di hatinya.

Agni ikut antusias seperti Oik. Mereka berdua berputar beberapa kali, tidak peduli walau beberapa penjaga gerbang yang ada disana memperhatikan mereka. Kalau saat itu Oik ingin berbicara, ia pasti akan berkata, “Ah, biarkan saja mereka melihat kita. Mungkin karena kita terlihat manis di pemandangan seperti ini..”

Agni berbalik, menatap Obiet yang baru saja turun dari kereta kuda. Obiet tersenyum manis seperti biasa. Ia tau Agni akan mengatakan sesuatu, maka ia balas memandang Agni seperti bertanya, “Ada apa?”

Lalu dengan lembutnya, Agni meraih tangan Obiet dan menariknya agar sedikit menunduk. Dan setelah itu, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Obiet. Ia berbisik, “Obiet…” selang beberapa detik sebelum Agni melanjutkan kata-katanya, sejenak Agni melihat ke sekitar, lalu berbisik lagi ke telinga Obiet. “… Aku mau lepas sepatu…”

“Hah?.. Eh-hahaha!..” Obiet ternganga sebentar dan langsung tertawa. Ia selalu menganggap Agni ini putri yang unik, dan selalu begitu. Tidak semua putri doyan nyeker kan?

Agni yang sebel ditertawakan pun langsung memukul lengan atas Obiet. Mukanya tertekuk, dahi mengkerut, dan mulutnya mulai cemberut. “Tuh kan… Obiet mah malah ngetawain..”

“Iya iya… maaf…” Obiet meminta maaf kepada Agni, walau sebenarnya ia masih ingin tertawa. Tangan kanannya mengusap-usap lengan kiri yang tadi dipukul Agni, masih sakit.

“Boleh nggak?” tanya Agni memastikan.

Obiet mengangguk dan berkata, “Boleh… tapi nggak sekarang..”. Yah.. memang Agni sudah berencana untuk melakukannya nanti. Mungkin setelah pesta teh usai, atau di tempat tersembunyi di salah satu taman kediaman Obiet. Tidak mungkin ia melepaskan rasa rindunya kepada alam saat itu juga. Alvin sempat berkata kalau Professor Degor sudah menunggu di pesta teh. Ia datang bersama minister.

Obiet melirik Oik dan berfikir, kalau Agni mau, sudah pasti Oik juga mau. Mau nyeker maksudnya..

Rio dan anak-anak lain dari Cafe Happy Chipmuks juga sudah turun. Namun mereka sibuk mengatur siapa yang akan membawa barang ini dan barang itu. Rio lah yang mengkoordinasinya. Yang lainnyaselalu setuju-setuju aja. Lagi pula, Rio kan ketua mereka, dan mereka juga sudah mengakui kalau Rio adalah orang yang paling bijaksana di antara mereka semua. Beberapa penjaga gerbang ikut membantu Cafe Happy Chipmunks. Sepertinya keberadaan para pelayan cafe ini cukup di perhatikan dalam acara yang terhormat di kalangan kerajaan dunia Kindom Of Dream.

Agni, Oik, dan rombongan dari kereta kuda Kingdom Animalia telah sampai di gerbang taman istana utama. Nova terus setia berdiri di samping tuannya, Obiet. Alvin berjalan di barisan paling belakang. Rio dan kawan-kawan Cafe Happy Chipmunks tidak akan masuk ke tempat pesta teh melalui gerbang itu. Mereka akan masuk lewat jalan lain yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara pesta teh.

Sebelum benar-benar masuk, Agni memeluk kakaknya dulu. Adik kakak ini sama-sama murung. “Kak Oik nggak papa… ditinggal di sini?..” tanya Agni pada Oik yang bet-nya masih tertingal dan belum disampaikan Pak Chiko.

Oik pun mengelus kepala adiknya dengan lembut, lalu membalas pertanyaan adiknya. “Nggak papa kok.. Bentar lagi aku juga bakal nyusul.. Pak Chiko kan bisa diandalkan. Lagian… kan aku sama Obiet…” Oik mengucapkan kata ‘Obiet’ sambil melirik Obiet yang berdiri di sampingnya. Obiet mengangguk dan tersenyum ramah. Akhirnya Agni beserta Oik bisa tersenyum riang lagi.

Maka Agni dan Alvin pun masuk ke tempat pesta teh berlangsung. Obiet menyuruh Nova untuk ikut masuk ke tempat pesta teh. Tapi Nova berkata dengan sejujur-jujurnya, kalau ia tidak terlalu nyaman berada di dalam kerumunan orang, Nova lebih memilih untuk masuk ke rumah kediaman cranofile dan menghabiskan waktunya di ruang pustaka. Obiet tidak merasa adanya masalah dengan permintaan Nova, maka ia membolehkannya.

Kini tersisa Oik dan Obiet di depan gerbang taman. Karena sama-sama bingung mereka pun berjongkok di samping gerbang sambil menunggu Pak Chiko. Dan diam-diam Oik menyandarkan kepalanya di bahu Obiet.

So sweet…

Agni berjalan ke tengah taman di temani Alvin. Di sana ada sebuah kolam kecil dari marmer. Di tengah kolam itu terdapat air mancur besar dengan batu-batu alam sebagai dasar kolam dan bunga-bunga teratai di permukaannya. Terlihat ikan-ikan kecil bercorak emas berenang dengan riangnya di kolam itu. Agni iseng mencelupkan tangannya ke dalam air kolam. Ikan-ikannya sempat terkejut, namun tak lama kemudian mereka mulai mendekati jari-jari Agni. Ada satu ekor ikan yang malah mengecup jari kelingking Agni. Mungkin dikiranya makanan. Ikan itu langsung terkejut ketika mengetahui kalau jari kecil itu bukan makanan. Agni tertawa riang dan terus bermain dengan ikan-ikan itu. Alvin ikut tersenyum melihatnya, ia berhasil menjaga suasana hati majikannya agar tetap ceria.

“Agni!..”

Terdengar suara seorang teman laki-laki memanggil Agni. Agni langsung menengok ke asal suara tersebut datang. Dan ternyata itu adalah Debo, temannya dari Kerajaan tikus. Debo juga seorang putra mahkota, sama seperti Obiet. Dia adalah teman laki-laki kedua yang paling dekat dengan Agni dan Oik. Seperti nama negaranya, negara tikus, ia juga bertelinga tikus dan memiliki ekor tikus yang lumayan panjang. Namun ekor dan telinga tikusnya sangat bersih dan terawat. Namanya juga putra mahkota.

Debo berjalan mendekati Agni. Alvin segera menjauh ketika tau majikannya akan melakukan sedikit perbincangan dengan keluarga kerajaan dari negara tetangga.

“Agni, gimana kabarnya?” Debo menyapa Agni sambil melakukan salam sahabat.

Agni membalas salam dari Debo dan menjawab, “Baik!.. Debo gimana?”

“Debo juga seneng!.. bisa ketemu lagi sama Agni dan juga O’…” Debo berhenti berbicara sebentar. Ia melihat ke sekitar, mencari-cari kakaknya Agni, si putri Oik. “Oik di mana, Ag?” tanyanya ketika ia tidak juga menemukan Oik.

Agni pun menjawab seadanya. Ia menjelaskan dari awal sampai akhir, tentang penyebab Oik tidak bisa masuk ke pesta teh itu. “Dan sekarang, Oik masih di depan gerbang taman sama Obiet” kata Agni, mengakhiri penjelasannya.

Sementara itu, di bawah pohon oak, Deva, Ray, dan Rio, sedang bersiap-siap untuk pesta teh. Mereka menata piring-piring kecil dengan kue-kue ringan di meja besar di depan mereka, merapihkan kain putih yang menutup meja itu, dan juga menata bunga-bunga sebagai penghiasnya. Mereka melakukan semuanya dengan sepenuh hati. Acha dan Keke tidak terlihat di sana. Mereka dapat bagian menaruh piring beserta kue-kuenya di meja kecil lainnya.

Beberapa meter di depan meja Deva, Ray, dan Rio, terdapat sebuah pondok kecil dengan gaya arsitektur classic. Penyangga pondok itu berupa pilar putih yang berukiran seorang perempuan duduk di atas bulan sabit, melambangkan dewi bulan. Di pondok itu terlihat beberapa dewan kerajaan berseta minister yang sudah datang duluan, membicarakan tentang runtutan acara yang sebentar lagi akan di mulai. Professor Degor ada di antara para minister, ikut berbincang bincang sambil membawa selembar kertas yang tergulung dan diikat dengan tali emas. Sepertinya kertas itu sangat penting. Lambang minister agung tertera di kertas itu.

“Rio..” Deva menepuk pundak Rio dari belakang. Rio menoleh dan membuat mimik muka bertanya. “..Bunga untuk mengisi pot terakhir kurang. Apa aku harus petik beberapa bunga lagi untuk pot itu?… kalau harus.. boleh tidak?” lajut Deva meminta izin.

“Sepertinya boleh… tapi petiknya dari tanaman bunga yang sudah di sediakan di tempat tadi ya” jawab Rio. Ia menyuruh Deva memetik bunganya di taman belakang, taman kecil sebelum mereka sampai di taman utama.

Nova duduk manis di atas kursi ruangan pustaka. Ia hanya sendiri di sana. Semua pelayan di Kediaman Cranofile sedang sibuk membatu persiapan pesta teh. Ia suka hawa tenang dan damainya ruangan pustaka. Kita berasa bisa melakukan apapun tanpa takut ditertawakan orang. Ketika teh yang telah tersuguh sudah habis, Nova berdiri dan akan membuat teh itu sendiri. Ia keluar dari ruangan pustaka dan menuju ke dapur rumah cranofile yang dekat dengan taman belakang.

*tink tink tink..*

Suara sendok kecil saling beradu dengan tubuh cangkir teh, terdengar bening. Nova mengaduknya sekali lagi dan ia tersenyum. Teh-nya sudah jadi. Nova selalu senang kalau ia berhasil membuat teh dengan baik, dan membuat orang yang meminumnya menjadi senang. Itu merupakan kepuasan sendiri bagi dirinya. Tapi kali ini, sepertinya ia tidak cukup puas hanya dengan secangkir teh saja. Nova keluar dapur, memasuki area taman belakang dan berniat untuk memetik setangkai bunga mawar putih di sana. Pasti akan lebih menyenangkan jika ia bisa membaca buku, menikmati teh, dan melihat keindahan bunga mawar sekaligus.

Deva berjalan dengan santainya sambil bersiul-siul ria. Ia hampir sampai di taman belakang. Di sisi lainnya Nova masih bingung memilih bunga mawar untuk di petik. Deva mengintip taman belakang dari kayu pembatas yang bersilangan. Ada seorang gadis hitam manis yang sedang melihat bunga-bunga mawar di sana. Ya, itu Nova. Di dasarkan oleh ingatannya yang samar-samar dan peristiwa tubrukan di istana Kingdom Animalia tempo hari, Deva jadi penasaran. Ia tau gadis di depannya ini akan langsung kabur dari tempat ini jika ia langsung menyapanya. Maka Deva memilih untuk memperhatikannya dari jauh dulu.

Saat Deva membuka pintu taman belakang yang berhubungan dengan taman utama, Nova masih sibuk mencari bunga mawar putih yang tepat. Suara gerbang taman yang bergesekan tidak membuyarkan konsentrasi Nova walau gesekan itu menghasilkan bunyi yang membuat ngilu. Deva saja sampai meringis.

Deva mulai melangkah dengan pelan mendekati Nova. Perasaanya campur aduk. Antara penasaran, senang, khawatir, dan ragu; jangan-jangan Nova malah takut bertemu dengannya. Lalu ia mulai mengumpulkan keberaniannya untuk memberanikan diri menyapa Nova.

Deva sudah berdiri di belakang Nova, tapi Nova bahkan masih sibuk mencari bunga mawar putih. Deva berujar, mungkin Nova suka akan mawar. Ia kelihatan antusias saat mencari bunga mawar itu.

“Eh..”

Belum sempat Deva menyentuhnya dan menyapa, Nova sudah duluan berbalik, tentu saja dengan ekspresi yang kaget. Malah seperti baru disambar petir. Nova langsung gelagapan, tanpa disadari kakinya melangkah mundur sendiri. Matanya fokus menatap muka Deva. Deva sih menangkap kalau Nova seperti berkata, “Siapa kamu… jauhi aku..” Jadinya Deva salting sendiri. Deva yang melihat gerak gerik Nova yang ketakutan setengah mati pun tidak berani melangkah lebih dekat. Ia tetap berdiri di situ, tapi tetap berusaha tersenyum.

“Eh.. kamu..”

*PRANG!*

Mereka berdua di kagetkan oleh suara benda pecah. Nova semakin panik, ia melihat ke segala arah, mungkin ingin mencari asal suara itu. Padahal sebenarnya, suara itu adalah pot bunga mawar yang tak sengaja tersenggol oleh tangannya dan jatuh ke tanah. Ia berdiri tepat di depan pot yang pecah itu. Dan hampir saja menginjak pecahan pot tersebut.

“Eh, awas!..” Deva yang duluan mengetahui, kalau di belakang Nova ada pecahan pot, langsung meraih tangan Nova dan menarik Nova ke sisinya.

Nova masih tidak seimbang, tapi Deva ada di sampingnya dan siap menjaga Nova agar tidak jatuh. Nova berusaha untuk berpijak pada tanah, menyeimbangkan dirinya, dan menstabilkan detak jantungnya yang sudah sangat cepat saat itu. Tangannya terus gemetar, ia tak ingin Deva menyadari hal itu, maka Nova langsung melepas pegangan tangan Deva
pada dirinya.

Mereka berdua masih terdiam dan bingung harus berkata apa. Harusnya sih Nova bilang ‘makasih’, tapi mulutnya masih tidak bisa diajak bicara, masih shock. Deva juga, tadinya ia ingin minta maaf, walau kurang yakin, kenapa ia harus minta maaf? bukannya dia yang menyelamatkan Nova dari pecahan barusan?, Hm… Atau Deva ingin meminta maaf karena.. agak lancang langsung menarik tangan Nova tanpa minta izin terlebih dahulu. Siapa tau Nova jadi tambah takut karenanya.

Nova murung, ia telah memecahkan pot bunga mawar dan lumayan mengotori taman belakang Kediaman Cranofile ini. Walau itu semua terjadi tanpa sengaja, dan hanya sebagian kecil yang rusak, tapi Nova merasa telah melakukan kesalahan yang benaaaar-benar besar. Deva yang menangkap pandangan murung itu ikut merasa bersalah. Bagaimanapun juga, ia ambil bagian dalam peristiwa yang tidak sengaja itu. Kalau ia tidak mengagetkan Nova, mungkin itu semua tidak akan terjadi.

Nova duduk di tanah, dengan bertumpu pada kedua lututnya. Ia mengumpulkan pecahan-pecahan pot itu, masih dengan ekspresi murung. Melihat itu, Deva langsung berinisiatif membantu Nova mengumpulkan pecahannya. Bagi Deva, membantu seseorang, terutama perempuan adalah harus. Itu syarat untuk jadi lelaki sejati. Pasalnya, ia pernah membicarakan hal ini bersama Rio dan Ray.

Lalu setelah semua pecahan-pecahan pot itu terkumpul, Deva mengambil sapu tangannya dan membungkus pecahan pot itu dengan rapih.

Deva berdiri dan menggesekan tangannya pada celananya setelah meletakan bungkusan pecahan pot di tempat asalnya. Lalu setelah tangannya bersih, barulah ia membantu Nova untuk berdiri. Nova masih kagok, ia masih terus menunduk. Akhirnya Deva bertanya duluan.

“Eh… kamu.. putri yah?”

“Hah?… eng.. enggak..nggak..” Mendengar tebakan Deva, Nova langsung mengelak. Ia sama sekali bukan putri ataupun bagian dari kalangan bangsawan.

“Oh…” dan Deva kembali diam. Sebenarnya… mereka berdua yang kembali diam. Sampai akhirnya Deva lagi yang mulai berbicara.

“Em… namanya siapa?..” tanya Deva hati-hati.

Seperti biasa, Nova hanya menjawab singkat. “Nova..”

Deva mengangguk dan terus berusaha ramah. “Aku Deva.. aku dari Cafe Happy Chipmunks. Nanti, aku yang bakal jadi pelayan di pesta teh..”

Nova masih terus diam. Deva mencoba mencairkan suasana lagi. “Kalo kamu… em.. Aku lihat Nova dekat dengan pangeran Obiet yah?.. Nova siapanya pangeran?..”

“Eh… aku pelayannya..” jawab Nova singkat.

Dan akhirnya mereka berdua kembali diam. Walau tidak berhasil membuat Nova tertawa, setidaknya Deva sudah lebih tau tentang Nova ini.

Deva yang masih belum berhasil mencairkan suasana, masih terus berusaha agar perempuan di dekatnya ini bisa tertawa. Otaknya berpikir keras, matanya sampai berputar, mencari kata-kata yang tepat. Sampai akhirnya ia menemukan satu ide. Ia merasa lampu di atas kepalanya sudah menyala terang kembali.

Di tengah keheningan taman itu, Deva memperhatikan Nova dari bawah sampai atas. Lalu ia membuat mimik muka seperti sedang berpikir sejenak.

“Ih.. Nova cantik deh..” ujar Deva iseng.

Nova langsung mengangkat kepalanya, menatap Deva. Agak heran, tapi… agak malu juga. Entah mengapa kata-kata itu sampai di hati Nova. Nova mulai menganggap, kayaknya Deva itu ramah sekali, dan… Sepertinya muka Nova mulai memerah…

“Ih.. Nova mukanya merah..” kata Deva semakin iseng.

Nova tambah malu, cuman kali ini tidak nunduk, malah bilang, “Enggak kok enggak…”. Ia mulai berani bercanda dan membalas kata-kata Deva. Ia mengusap-ngusap wajahnya, mengira kalau wajahnya diusap merahnya bisa hilang. Lalu menunduk lagi.

Deva tertawa kecil, “Iya deh.. iya…” kata Deva, agar bercandaannya tidak kelewatan.

Dan setelah agak diam,

“Hi hi..” Deva tertawa kecil.

“Kenapa?” Nova bingung. ‘Jangan-jangan ada sesuatu yang salah dengan ku’ batinnya. Nova memperhatikan bajunya sambil mencoba membenarkannya, lalu memegang mukanya, siapa tau merah lagi.

Deva tertawa kecil di dalam hati. Ia tidak menyangka kata-katanya itu bisa membuat Nova sampai segitunya. “Enggak kok.. cuman.. lucu aja, nama kita akhirnya sama-sama ‘va’” kata Deva agak menunduk dan tersenyum.

“Eh, iya juga ya.. ha ha..” Nova ikut tertawa. Deva tersenyum melihat Nova tertawa, senyum Nova sangat manis..

“Eh, kalau gitu aku ke ruang pustaka dulu yah..” kata Nova yang hendak pergi dari situ.

“Iya..” kata Deva sambil mengangguk dan tersenyum.

Akhirnya Nova kembali ke dalam rumah dengan membawa pecahan pot yang terbungkus sapu tangan Deva. Deva terus memandang Nova dari kejauhan, sampai Nova berbelok ke lorong lain. Tanpa disadari Deva sedikit melamun. Sepertinya belakangan ini ia akan sering kepikiran tentang Nova.

“Deva!…” tiba-tiba saja seseorang memanggil Deva dari kejauhan. Suaranya berasal dari area pepohonan anggrek. Orang itu adalah Agni. Ia kesulitan mengendalikan rok gaunnya yang lumayan besar. “Deva!” Agni berhenti dengan tangannya berpegangan pada pundak Deva.

“Deva, ternyata kamu di sini… Rio mencarimu kemana-mana…” Agni menstabilkan nafasnya sebentar. Tapi ketika ia mau berbicara lagi pada Deva, ia baru sadar sepertinya Deva sedang memperhatikan hal lain. Dari tadi, Deva terus saja memandang ke depan. Padahal sudah tidak ada lagi orang di situ.

“Deva ngeliatin apa?…” tanya Agni polos.

“Hm?.. hooh.. Agni?…” Loh! Deva malah kaget melihat Agni di sampingnya. Sepertinya memang sudah dari tadi Deva melamun.

“Aah… Deva ngelamun yah? Ngelamunin apa?..” tanya Agni.

“Em… itu… tadi aku ngeliat bunga… cantiiiik banget” jawab Deva.

“Bunga?.. warnanya apa??”

“Warnanya… hitam manis.. dibalut oleh kain sutra berwarna hijau muda… mahkotanya hitam berkilau, di padu dengan warna hijau muda, kuning cerah, dan biru muda..”

“Hah??” Agni menyerah. Ia tidak tau sama sekali arti pendeskripsian Deva itu. Perasaan ia tidak pernah melihat bunga seperti itu, ia terus berpikir.

Karena terlalu lama, Deva langsung menepuk pundak Agni, mencoba mengagetkannya.

“Ngerti nggak?..”

“Hah?.. eh.. enggak..”

“Bunganya itu.. bunga langka..” tambah Deva. “Manis…”

Huh Deva… Agni malah tambah bingung deh…

Akhirnya saat-saat pesta teh pun dimulai. Para putri dan pangeran pun berkumpul dan bercanda bersama. Saling kangen-kangenan, dan suasana semakin ceria dengan hadirnya anak-anak dari Cafe Happy Chipmunks.

Sekarang, tempat pesta teh diadakan, sudah ramai. Ada Rio dan Ray yang sedang sibuk membuat teh dan kue pastry. Ada Deva yang baru muncul dari taman belakang dan langsung menjalankan tugasnya sebagai pelayan. Dan Agni yang langsung berlari-lari kecil, pergi ke tempat Alvin berada. Lalu langsung menyeret Alvin untuk ikut mencicipi makanan-makanan dan teh andalan dari Cafe Happy Chipmunks. Ada juga Obiet dan Oik yang akhirnya dapat masuk ke dalam area pesta teh itu dan saling sapa ke Patton; si pangeran burung hantu, Debo, si pangeran tikus, Irsyad; sang pangeran elang, dan Ourel; peri kecil dari hutan yang merupakan anak dari salah satu minister.

Sementara itu, di stand Cafe Happy Chipmunks, Acha dan Ray masih belum bisa akur. Mereka ejek-ejekan sampai akhirnya Ozy, seorang pangeran kera, membela Acha dan melerai mereka. Rio geleng-geleng kepala melihat tingkah 2 orang teman kerjanya itu. “Dasar…” katanya sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi.

Agni sedang mencicipi pastry-pastry buatan cafe Happy Chipmunnks, “Hm… enak…” katanya. Ia terus makan sementara Alvin berdiri dibelakangnya sambil melihat-lihat sekitar.
Tiba-tiba saja, Agni menyenggol bahunya. Dan saat Alvin menengok, Agni sudah siap dengan sendok berisi pastry paling enak buatan Rio di tangan kanannya dan menyuruh Alvin untuk mencicipinya.

“Alvin coba deh..” kata Agni riang sambil berniat menyuapi Alvin.

Alvin ragu-ragu untuk mencicipi kue itu. Ia melihat ke sekeliling. Kalau saja Professor Degor melihat semua ini, pasti ia akan kena marah besar. Agni yang tidak mendapat respon dari Alvin langsung menegurnya lagi. “Alvin!.. aa..” Agni menyuruh Alvin membuka mulutnya. Alvin terus menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak tawaran dari Agni. Sampai-sampai ia mundur satu langkah sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya di depan dada seperti bilang, “enggak”.

Agni terus bersikeras. Ia ingin Alvin ikut menikmati pastry yang enak itu bersama. Alvin kan dari tadi sudah mengantarnya ke mana-mana dan membuat ia senang, masa ia tidak melakukan
apapun buat Alvin.

“Ayo.. sesendok aja deh..” kata Agni lagi.

Tapi Alvin terus menolak dengan lembut. “Tapi aku hanyalah pelayan, putri..” kata Alvin akhirnya.

“Gak papa. Kan, gak ada larangan kalo pelayan tidak boleh mencicipi pastry yang sudah disediakan” jawab Agni
polos.

Alvin tersenyum dan ingin tertawa mendengar jawaban Agni tadi. Ternyata majikannya ini memang benar-benar polos. Padahal kan, maksudnya, ‘Aku kan pelayan, gak seharusnya disuapin sama putrinya’

Alvin tidak kunjung menjawab pertanyaan Agni. Akhirnya Agni pun menjadi murung. Ia merasa tidak bisa memberikan apapun pada Alvin dan membalas kebaikannya. Alvin yang melihat majikannya murung jelas-jelas langsung ikut sedih. Ia pun menepuk siku Agni pelan sampai Agni melihatnya. Alvin berusaha tersenyum semanis-manisnya untuk menghibur majikannya itu, lalu membuka mulutnya seperti mau disuapin.

“Aaa..” ujar Alvin. Walaupun ia merasa tak pantas menerima perlakuan Agni, tapi lebih tidak pantas lagi jika ia membiarkan majikan manisnnya ini bermuram hati. Lagi pula, Alvin tau benar apa yang harus dilakukannya pada Agni di saat murung-murungnya seperti ini. Seperti yang Alvin tau, Agni anaknya suka hal yang manis-manis dan cute-cute, jadi.. ya… seperti itulah.

Sesuai pikiran Alvin, muka Agni langsung berubah ceria. Ia tersenyum senang dan semangat menyuapi Alvin.

Alvin melahap 1 sendok pemberian Agni sambil menjadikan tangan kanannya sebagai tadahan agar tidak pastry-nya tidak jatuh, lalu memakannya dengan senang. Agni sangat gembira dan berniat memberi Alvin satu sendok lagi, tapi Alvin bilang hanya ingin satu. Agni pun mengangguk dan menerima apa keputusan Alvin. Saat Agni bertanya enak atau enggak, tentu saja Alvin mengangguk. Pastry itu memang sangat lezat!

Siapa dulu yang bikiiin… Rio gitu..! hehe..

Agni merasa puas dan tersenyum senang. Ia melahap lagi pastry-nya. Sementara Alvin menunduk, melahap pastry sambil memandang sekitar, masih dengan perasaan was-was. Dimanakah Profesor Degor??

“Alvin, Agni!.. Siniii!…” tak lama setelah itu, Oik memanggil Alvin dan Agni dari kejauhan. Agni menoleh dan langsung menggenggam tangan Alvin, lalu mengajaknya ke tempat Obiet, Oik dan teman-teman lain berada. Alvin mengangguk dan mengikuti Agni. Setelah sampai, Agni menyapa semua teman-temannya termasuk Obiet dan Oik. Sementara Alvin hanya menunduk untuk memberikan tanda penghormatannya kepada para pangeran dan putri-putri.

Suasana di pesta semakin meriah. Seluruh putri dan pangeran yang diundang telah datang ke pesta. Seluruh pihak minister pun telah duduk di bangku yang telah disediakan. Lalu akhirnya, ketua minister mengangkat sendok dan gelasnya, lalu mendentingkan gelas dengan sendok tersebut. Sampai terdengar bunyi ‘ting ting ting ting’ yang lumayan keras.

Seketika, perhatian para undangan beralih ke minister-minister yang duduk di meja khusus yang berada di depan. Ketua minister yang berada di kursi paling tengah pun berdiri. Beliau berkata.

“Selamat datang para putri dan pangeran yang terhormat, di pesta teh yang cerah ini.

Kami para minister sangat berterimakasih pada kalian yang bersedia datang ke pesta teh yang bisa dibilang mendadak ini. Terimakasih juga kepada para pelayan dari Cafe Happy Chipmunks yang telah menyuguhi makanan dan minuman yang sangat lezat, juga kepada para pendamping putri dan pangeran yang telah setia menemani pangeran dan putrinya.

Pengumuman kami tidak panjang lebar. Di sini, kami hanya ingin mengumumkan kepada kalian tentang tujuan kami mengumpulkan kalian semua di Kingdom Animalia ini. Kami meminta kalian untuk berkumpul disini tidak hanya untuk melepas kerinduan dan berkumpul kembali setelah sekian lama, tapi karena ada acara penting.

Setelah acara pesta teh ini, kalian tidak akan pulang begitu saja. Esok, kalian akan tinggal di Kerajaan Animalia sebab, kami para minister telah bermufakat untuk mengadakan pengajaran khusus untuk kalian, dengan alasan yang kami tidak bisa beritahukan saat ini. Pengajaran akan dilakukan dalam jangka waktu yang agak lama, dan kalian akan tinggal di Istana Kingdom Animalia dengan sistem seperti asrama.”

Ketika ketua minister berhenti berbicara sebentar, terdengar riuh di sana-sini. Banyak yang bertanya-tanya tentang maksud para minister mengadakan pengajaran itu. Wakil ketua minister mengambil alih keadaan, ia mengangkat gelas dan sendoknya dan mendentingkannya lagi. Seketika, ke riuhan pun berhenti. Dan ketua minister kembali melanjutkan pidatonya.

“Kalian juga tidak perlu khawatir tentang barang-barang yang harus kalian bawa, karena barang-barang yang diperlukan telah tersedia di istana kingdom animalia dan barang-barang kalian akan segera dipindahkan ke asrama tempat kalian tinggal nanti. Untuk saat ini kalian tinggal bersiap-siap. Sekitar 1 jam lagi, kereta kencana akan menjemput kalian dan mengantar kalian ke istana kingdom animalia. Sekian dari kami. Untuk lebih lanjutnya, akan diumumkan di hari pertama pengajaran di mulai, di aula Istana Kingdom Animalia.

Terimakasih.”

Wakil ketua minister berdiri lagi setelah ketua minister duduk. lalu ia berkata, “Untuk para putri dan pangeran, di persilahkan untuk menikmati kembali hidangan yang telah tersedia”

Akhirnya, seperti yang dikatakan wakil minister, para putri dan pangeran pun menikmati kembali hidangannya.

Satu jam berlalu. Beberapa putri dan pangeran telah pergi dengan kereta kencana mereka menuju ke Istana Kingdom Animalia. Namun, Agni, Oik, dan juga Obiet belum pergi. Obiet harus melunasi janjinya kepada Agni dan Oik untuk memperbolehkan mereka bertelanjang kaki di hamparan rumput hijau Kediaman Cranofile.

Agni melepas sepatunya di salah satu taman yang agak jauh dari keramaian orang, seperti taman pepohonan oak, disini udaranya lebih sejuk dan areanya agak tertutup. Jarang sekali dilewati orang. Agni duduk di bawah pohon yang teduh. Ia berputar-putar di sana. Namun di tengah kesunyian damai dan keteduhan itu, sebenarnya ia tidak sendiri.

Agni tadinya belum sadar akan hadirnya seorang anak laki-laki misterius di pojok taman, tapi ketika ia berhenti berputar. Matanya memandang lurus ke depan. Dan baru ia sadar, sekarang ia sedang beradu pandang dengan anak laki-laki misterius itu. Kulitnya hitam pucat, bibirnya tipis, baju yang dikenakannya hitam, dan di dadanya terpasang bet pesta teh tadi, itu menunjukan kalau anak itu adalah seorang pangeran yang akan menerima pengajaran khusus juga nanti di Istana Kingdom Animalia.

Biasanya Agni langsung takut jika melihat seseorang seperti anak laki-laki itu, tapi kali ini tidak. Ia malah ingin tau lebih banyak tentangnya. Dan salah satu hal yang membuat Agni tidak bisa mengalihkan pandangannya dari anak itu adalah, pandangannya yang tajam. Bahkan saat itu juga Agni merasa perasaan baru yang beda dari biasanya. Ia takut… tapi ia penasaran. Ia tidak ingin menjauh dari anak itu. Ada sesuatu dari diri anak itu yang membuatnya ingin terus mendekat, tapi Agni tidak tau apa rasa itu.

Apa yah?..

Apakah perasaan Agni itu? Siapakah anak misterius itu? Bagaimana nasib Cakka selanjutnya? Bagaimana kelanjutan kisah Kingdom Of Dream di asrama??

Tunggu terus lanjutannya di Kingdom Of Dream part 9.
terima kasih..

Ini bonus gambarnya:

Baju Agni dan Oik pesta teh

Baju Agni (hijau-biru) dan Oik (merah-pink) di pesta teh

Baju Keke dan Acha di pesta teh

Baju Keke (kiri) dan Acha (kanan) di pesta teh

Terimakasih telah membaca! ^^
Ayo!… yang mau comment…
kritik dan sarannya juga selalu diterima^^

Kingdom Of Dream_Part 8: Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi (bag 1)

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_part 7: Nova, Deva, dan Pengumuman tentang pesta teh

Part yang akan kamu baca ini adalah bagian satu dari part 8 – yaitu, perburuan burung pelangi.
Bonus gambarnya : Gambar bet pesta teh.

Selamat membaca dan mengomen kalau mau.. (mau ya mau!..)
Semoga menghibur yaaa…

Kingdom Of Dream
Part 8(1): Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi

Siang ini di dunia Kingdom Of Dream, cuaca terasa panas sekali, terutama yang ada di luar kawasan negara Kingdom Animalia. Sekarang Cakka sudah bersama Rahmi di hutan pinus; bukit timur. Tadi, saat Cakka baru sampai di depan rumah Rahmi, dengan antusias tinggi, Rahmi langsung keluar rumah dan menyambut Cakka seperti orang yang saat itu juga akan memberikannya hadiah miliaran koin emas untuk digunakan. Lalu, Pak Chiko malah disuruh pergi begitu
saja. Ha ha… sebenarnya tanpa di usir pun Pak Chiko akan langsung pergi kok. Tadi di tengah perjalanan, kereta Pak Chiko didatangi burung merpati milik Alvin. Di kaki burung itu terdapat surat yang berkata..

~

Untuk Pak Chiko yang setia.

Pak Chiko, nanti usai mengantar Cakka, kami minta agar Pak Chiko segera datang ke kediaman Cranofile. Beberapa hal memang tak bisa kami lakukan sendiri. Tadi saat berkemas, bet tanda terundangnya Putri Oik ke pesta teh,
tertinggal. Maukah pak Chiko membawakan bet itu ke kediaman cranofile? Kami
juga akan setia menunggu kedatangan Pak Chiko.

Terima kasih.

~ Alvin ~

~

Pak Chiko tentunya selalu siap untuk membantu. Terlebih lagi di bawah surat yang agak formal itu, terdapat tulisan tangan Oik yang berkata..

- PS: Pak Chiko, datengnya cepet-cepet ya pak! Kalo nggak ada bet-nya, Oik nggak bisa masuk nih.. Pokoknya, nanti Oik bagi kue deh! Makasih Pak Chiko! (<3) -

“Ha ha..” Pak Chiko terus saja tertawa jika terbayang akan majikan imutnya yang selalu ceria itu.

“Ayo, Cak… jangan loyo.. bantuin aku dong..” pinta Rahmi yang sedang membabat habis semak-semak liar yang menjadi hama hutan pinus.

Cakka mendesah pelan. Akhirnya ia tau apa maksud keceriaan Rahmi saat menyambutnya barusan. Ternyata saat itu Rahmi sedang berniat untuk keluar rumah, melakukan rutinitas dulunya yang sempat terabaikan. Berburu burung pelangi, itu adalah rutinitas yang akan dilakukannya tadi. Burung yang tubuhnya seperti merpati, tapi warna bulunya warna-warni seperti pelangi. Bulu burung itu, jika dicampur dengan air yang berasal dari mata air di bukit 7 bintang, di bagian timur Prairie of the lost, dan ditambah dengan bunga kapas hutan yang berwarna merah, akan menghasilkan ramuan cinta. Kerena burung pelangi itu sangat susah di cari, terbangnya cepat, dan kadang mematuk, maka tentu saja Rahmi butuh teman pendamping kalau ingin berburu burung itu. Bahkan tadinya niat berburu itu hampir pupus. Untung saja Cakka datang, dia telah memberikan setengah harapan untuk Rahmi. Tapi kayaknya, Cakka agak nggak niat
berburu burung itu. Dari tadi wajahnya menampakan ekspresi bosan.

Karena Cakka masih tidak merespon apapun kata-kata Rahmi, Rahmi pun berhenti bekerja untuk sejenak. Ia berdiri menghadap Cakka dengan mimik muka yang agak memelas. “Cakka…, kamu nggak niat bantu aku yah?” tanya
Rahmi yang ikut murung karena aura Cakka yang nggak semangat.

Cakka tersentuh. Muka murung dan melasnya Rahmi sepertinya tidak dibuat-buat. Ia mulai merasa bersalah. Selain Rahmi hanya meminta bantuan yang tidak banyak, secara gender, harusnya kan Cakka membantu Rahmi. “Yah…
nggak gitu juga…” dan Cakka bingung sendiri menjawab pertanyaan Rahmi itu.
Kalau bilang nggak niat, nanti Rahmi nya bisa marah atau kecewa.

“Makanya… bantu aku dong.. nggak rugi kok. Nanti Cakka bisa lihat burung pelangi yang indah banget!”

“Memang burungnya seperti apa?” tanya Cakka, berusaha berbasa basi. Padahal ia ingat, sebenarnya tadi di awal perjalanan Rahmi juga sudah menjelaskan tentang burung pelangi itu. Jadi Cakka bisa ikut mencari.

“Yah… kayak yang aku bilang tadi. Mirip burung merpati tapi warna bulunya kayak pelangi. Burung pelangi itu burung terindah yang ada di Kingdom of Dream” jelas Rahmi, mempromosikan burung pelangi yang selalu ia
idamkan.

Setelah 30 menit mencari, tenaga Rahmi dan Cakka sudah mulai hilang. Mereka masih belum dapat hasil. Sampai akhirnya Rahmi melihat bulu-bulu pelangi di antara semak-semak samping kanannya.

*Srak!*

Rahmi membelah semak-semak itu menjadi dua dengan tangannya. Dan ia berhasil! Akhirnya satu ekor burung pelangi ditemukan!

“Cakka!… itu burung pelanginya! Tangkap Cak!” Rahmi berseru nyaring. Ia begitu bersemangat sampai-sampai ia lupa di mana ia taruh jaring tangkapnya saat baru mau membuka semak-semak. Jadi ia suruh Cakka untuk
menangkap burung pelangi.

Ternyata benar yang dikatakan Rahmi. Burung itu memang sangat indah. ‘Mana ada burung seperti itu di bumi?’ ujar Cakka dalam hati.

Tapi tiba-tiba muncul pikiran licik di otak Cakka. Ia berpikir untuk kabur dari Rahmi dengan berpura-pura mengejar burung itu. Karena tempat dirinya terdampar di dunia Kingdom Of Dream tak jauh dari sini, mungkin tempat untuk kembali ke Bumi ada di sekitar sini.

“Iya! Aku lihat!… Bentar, Mi! Aku bakal kejar burungnya!..” seru Cakka. Ia mulai melakukan ide nya itu, tanpa memikirkan tentang resikonya terlebih dahulu.

Burung pelangi itu terbangnya cepat, tapi tidak tinggi. Menangkap burung pelangi mungkin seperti menangkap kupu-kupu. Cakka membayangkan teman di sekolanya, Randy. Randy itu juara lari di sekolahnya. Kalau Randy ada di sini, ikut mengejar burung pelangi, mungkin Randy dapat menangkap burung itu.

Tak lama kemudian burung pelangi yang ingin di tangkap Cakka berbelok ke kanan. Cakka merasa ini adalah kesempatan yang datang tepat waktu. Ia menengok ke belakang, ia lihat kalau Rahmi masih jauh. Maka ia ikut berbelok
mengikuti burung pelangi itu, namun ia tidak mengejar burung pelanginya. Cakka berlari dengan bebasnya. Ia kira kini dirinya akan segera bebas dari dunia Kingdom Of Dream dan menemukan portal untuk kembali ke dunianya, Bumi. Padahal tanpa ia sadari, ia sebenarnya telah tersesat, ke dalam hutan terlarang.

15 menit telah berlalu. Cakka masih terus berlari di tengah hutan yang ia tidak kenali sama sekali itu. Dan lama-lama ia lelah juga. Maka ia memutuskan untuk mengistirahatkan kakinya.

Tiba-tiba, ada seekor burung pelangi yang melintas di depannya. Dan tiba-tiba saja, burung itu mematuknya. Tadinya Cakka tidak ingin menghiraukan burung itu. Motonya, tidak akan menyakiti sesama makhluk hidup!
Tapi, gara-gara burungnya mematuk dan terus mematuknya lagi, ia pun ikut emosi dan akhirnya berseru,

“Heh, burung! Awas loh! Nanti aku tangkap!” Cakka pun mengejar burung itu. Sementara burung itu akhirnya terbang ketakutan. Kini hasrat Cakka untuk menangkap burung itu lebih besar dari pada hasratnya saat Rahmi menyuruhnya tadi.

Cakka terus dan terus mengejar burung itu. Jalanan yang ia lalui mulai tidak beraturan. Banyak batu kerikil, kadang ada batu besar, kadang ada lubang, kadang ada jeglokan. Setelah agak lama, akhirnya jarak antara dirinya dan burung itu semakin dekat.

“Hampir!..” Cakka menyemangati dirinya sendiri. Jarak Cakka dengan burung itu paling tidak hanya 10 -15 cm. Cukup dekat lah untuk melompat dan menerjang burung itu dari atas.

Cakka bersiap-siap untuk melompat, memperkirakan segala bentuk resiko kalau saja ia melompat dan tidak berhasil menangkap burung itu. Kemungkinan yang paling besar adalah ia jatuh karena tersandung batu-batu kerikil yang tidak disangka munculnya, di jalur yang ia lalui sekarang. Mungkin akan timbul lecet di beberapa bagian kaki, atau setidaknya di lututnya akan timbul beberapa jeplakan-jeplakan kerikil dan celana kerajaannya akan kotor. Wah.. nggak enak nanti sama Agni dan Oik. Makanya harus benar-benar hati-hati.

Dan ketika daratan sudah mulai halus, Cakka mengambil ancang-ancang melompat.

“Satu… Dua…”

“Cakka, jangan!!… Ada jebakan di situ!” tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Suara itu milik Rahmi. Rahmi berhasil menemukan Cakka. Ekspresinya sebal dicampur khawatir. Pasti Rahmi sebal karena Cakka tiba-tiba kabur darinya dan membuatnya khawatir setengah mati. Tapi sekarang perasaan Rahmi lebih condong ke khawatir. Cakka tidak tau sama sekali tentang hutan terlarang ini, namun Rahmi tau. Dan terlebih lagi, Rahmi tau kalau sekarang Cakka hampir melompat ke salah satu jebakan di hutan terlarang.

Tapi sayang Cakka sudah duluan melompat. Badannya melayang di udara dan tangannya mengayun kedepan. Sebentar lagi burung pelangi di depannya akan tertangkap.

“Hap!!”

Burung itu memiringkan diri ke samping, hanya berjarak 3 cm dari tempat Cakka mengarahkan tangkapannya. Dan sayang sekali kawan… Burung itu tidak berhasil tertangkap. Oh… Cakka terang kecewa. Aksi lompatannya yang dikira akan berakhri keren ternyata tidak membuahkan hasil. Kakinya mendarat dengan kasar di tanah, debu-debu di sekitarnya pun tersapu terbawa angin. Tapi Cakka terkejut ketika tubuhnya mulai tak seimbang. Tanah di sekitarnya seperti bergoyang, berputar-putar layaknya lempengan koin besar bila dijatuhkan tanpa sengaja. Dan makin lama ia merasa makin tertelan ke dalam tanah.

*Srak!…*

“HAAAaaaaaaaaaaa!!…”

Cakka merosot ke dalam tanah yang tiba-tiba runtuh. Ia tidak tau sedalam mana ia akan terjerumus. Yang ia tau cahaya matahari makin lama makin menghilang, yang ada hanya kegelapan. Terdengar suara Rahmi yang memanggilnya berulang kali dari permukaan. Dan keadaan semakin menakutkan ketika pergelangan kaki kanan Cakka tiba-tiba terjerat oleh rantai besi dan tertarik ke belakang. Permukaan makin jauh. Cakka tidak tau harus berbuat apa, matanya berkaca-kaca dan ia masih terus berteriak. Mungkin sampai suaranya habis, dan kesadarannya tertelan oleh kegelapan lorong hampa cahaya itu.

Bet pesta teh

Bet pesta teh

Berlanjut ke bag 2

Kingdom Of Dream_Part 7: Nova, Deva, dan Pengumuman tentang pesta teh

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_part 6: Si pelayan kerajaan dan Pangeran Chobits

Semoga semuanya suka. Tidak mengecewakan. Terimakasih buat temen-temen yang udah mau baca sampai sekarang. Semoga tambah bagus… Amiin.
Nanti di bawahnya juga ada bonus picture: design bajunya Nova yang aku buat.

So..
Selamat membaca!
Hope you like it, and
Don’t forget to comment.. ^^

Kingdom Of Dream
part 7: Nova, Deva, dan Pengumuman tentang pesta teh

Di dapur, Alvin bersama temannya sesama pelayan kerajaan, Gita, sedang mengobrol tentang kegiatan apa yang nanti akan dilakukan oleh para putri dan pengeran dari kerajaan-kerajaan itu.

Sampai sekarang mereka hanya diberi tahu kalau akan ada pesta dansa di istana, itu
alasan mengapa ballroom istana sedang di dekorasi sekarang, tapi para ketua
pelayan, terutama asisten professor Degor yang memerintahi seluruh pelayan di
istana, tidak mau membuka mulutnya untuk pertanyaan mereka. Dan kini Gita makin
sering berkhayal kalau dia akan ikut berdansa di pesta itu, berdansa dengan
seorang pangeran yang nanti akan menjadi pasangannya seumur hidup.

“Hiiih…” Alvin entah kenapa malah merasa jijik. Yah… rasanya nggak nyambung aja remaja seperti mereka sudah memikirkan hal yang seperti itu. “Lagi pula, memangnya pelayan dibolehkan ikut ke pesta?” kata Alvin.

“Yah.. siapa tau aja boleh. Masa sih, professor Degor sejahat itu?… Dia juga pernah muda kan?… Tapi, Kalau misalnya tidak dibolehkan.. Kita cari-cari kesempatan saja!” seru Gita semangat.

“Hih!.. enggak ah! Males aku. Nggak ada kerjaan banget. Lagi pula, aku sama sekali tidak berniat untuk ikut ke pesta dansa itu” tolak Alvin.

“Oh… bilang aja nggak bisa dansa” Gita balas meledek.

“Yee… bisa kok. Cuman aku males nyari-nyari pasangan dansanya, nggak kayak kamu… dasar kegatelan”

“Yee… ya udah terserah!… padahal Alvin kan punya modal muka… pasti gampang nyari pasangannya, tapi kalo nggak mau… ya udah!..”

“Ya udah!..”

Perkataan Alvin tadi mengakhiri percakapan mereka di dapur. Ketika Gita ingin kembali mengerjakan tugasnya tadi, yaitu memotong daging-daging ikan untuk pesta dansa nanti, tiba-tiba
terdengar suara ketukan dari pintu dapur yang berhubungan langsung ke taman
belakang.

*Tok tok tok*

“Sebentar…” Alvin segera membuka pintu itu. Dalam seketika cahaya cerah sang surya telah menyinari seluruh dapur termasuk Gita dan juga Alvin yang langsung tersenyum ketika melihat siapa yang datang.

“Ray!.. Deva!..”

“Hai, Vin!… Gimana kabarnya?.. istananya udah rapi belom?” sapa Deva dengan senyuman ramah.

“Istananya baik, Dev… aku juga udah rapi!… Eh!… maksud aku.. Aku nya baik – istananya rapi… He he..” Alvin nyengir kecil. Saking rindunya ia dengan teman lamanya ia sampai salah ngebedain antara istana dan dirinya sendiri. Lagian kan Alvin cakep kayak istana.. He he…

“Ya udah yuk, semuanya… masuk.. masuk..” ajak Alvin. Ia membantu Ray membawa barang-barang dari café dan langsung tos-an setelah barang-barang itu aman dan nyaman di meja dapur.

Rio tersenyum puas. Seperti yang ia harapkan, dapur istana memang sangat luas. Besarnya hampir setengah café Happy Chipmunks, kali ini ia senang dapat membuat bebagai macam minuman dan kue-kue pastry dengan leluasa. Dan bahkan, mungkin kemampuan memasaknya akan bertambah.

Gita juga gembira dapat bertemu lagi dengan Keke. Temannya untuk bercanda di dapur akan tambah banyak dengan kehadiran Keke di sana, juga dengan adanya anak perempuan manis yang belum ia kenali.

“Aku Acha… salam kenal!..” sapa anak perempuan yang datang bersama kawan-kawan dari café Happy Chipmunks. Acha anaknya baik, ramah, dan easy going, jadi tidak terlalu susah untuk berkawan dengan Gita yang pada dasarnya memang doyan bicara dan mengenali hal baru.

“Nah.. sekarang kalian ganti baju kalian aja dulu di ruang pelayan kerajaan. Yang laki-laki di kanan, yang perempuan di kiri. Biar aku yang beresin barang-barang di sini..” kata Alvin.

*Cklek..*

Pintu dapur satunya, yang berhubungan dengan ruangan dalam istana, terbuka. Nova masuk dari situ. Rencananya ia ingin membuat teh untuk pangeran Obiet. Tapi ketika melihat Deva ia langsung buru-buru sembunyi di ruang pelayan perempuan. Ia terus memperhatikan Deva dan yang lainnya dari balik pintu, sampai akhirnya para laki-laki telah masuk ke ruang pelayan laki-laki. Baru setelah itu ia dapat bernafas lega dan bersandar dengan
nyamannya di pintu. Nova masih bingung. Jantungnya lagi-lagi berdetak cepat. Ketika
ia membuka pintu, Alvin sudah ada di dinding sebelah pintu.

“Loh?… Nova?… kok di sini? Perasaan aku nggak ngeliat kamu masuk”

“Eh?…” Nova bingung sendiri menjawabnya, dan akhirnya ia hanya ketawa kecil.

“Eh,… kok Nova kayak lagi sembunyi sih?” tanya Alvin.

“Hah?… Ah, enggak kok” Nova buru-buru keluar dari ruangan pelayan perempuan.

Gita yang baru saja ingin keluar dari dapur, ikut Keke dan Acha untuk mengambil baju yang telah disiapkan sendiri oleh Acha langsung tersenyum ke Nova dan berusaha menyapa.

“Hai… Nova yah?… dari Negara Chobits kan?” sapa Gita.

Nova hanya tersenyum kecil dan mengangguk, lalu menunduk dan mulai membuat teh. Ia tidak berkata apapun. Lalu Gita kembali masuk ke dapur, menghampiri Alvin. Ia berbisik ke telinga Alvin.

“Nova itu pendiam ya, Vin?… atau jangan-jangan… dia takut sama aku. Perasaan dari pertama ketemu dia nggak pernah berani ngomong sama aku” bisik Gita.

Alvin tertawa kecil. “Yah… iya kali pendiam. Yang pasti, Putri Agni bilang, Nova itu agak tertutup sama orang-orang yang belum dekat sama dia. Agak susah beradaptasi mungkin… Yang jelas sih
nggak kayak kamu yang suka blak-blakan”

“Eh! Aku mah nggak blak-blakan…” balas Gita yang nggak terima di bilang suka blak-blakan. Dia tau kok, dirinya juga bisa jaga perkataan kalo dalam situasi tertentu.

“Ya tapi kan cerewet” kata Alvin lagi.

“Eh… udah! Berhenti ngomongin tentang aku. Emang aku sebegitu terkenalnya apa?” canda Gita.

“Idih… terkenal apanya?”

Gita hanya memukul bahu Alvin dan kembali berbisik. “Tapi kok, kalo sama kamu dia nggak tertutup?…”

“Ya… mungkin sudah disuruh begitu oleh pangeran Obiet?… Mana kutahu?… tanya saja sendiri..”

Gita pun mencibir. Lalu ia langsung pergi keluar, menyusul Keke dan Acha. Nova masih sibuk membuat teh, sementara Alvin berdiri sendiri di situ, lupa apa yang tadi ingin ia lakukan. Akhirnya ia minta izin ke Nova untuk pergi ke ballroom, meninggalkan Nova sendiri di sana. Ada beberapa hal yang mungkin harus di cek kembali. Nova mengizinkan Alvin pergi dan keadaan pun menjadi sepi.

Ketika Nova sudah selesai membuat teh, ia langsung berbalik, tidak mengetahui kalau sebenarnya Deva sedang berjalan mundur di belakangnya menghadap ke Ray yang sedang mengajaknya bicara. Mereka pun bertuburukan.

Cangkir teh yang dipegang Nova pun agak oleng ke kanan, sedikit air teh tumpah ke tangan Nova. Tangannya kelihatan agak merah, hampir melepuh.

“Maaf… maaf, aku nggak sengaja..” Deva ingin meminta maaf ke Nova. Tapi sebelum melihat muka Nova, Nova sudah duluan lari ke dalam istana.

“Itu siapa, Dev?” tanya Ray sambil merangkul Deva. Deva hanya diam, masih memperhatikan Nova yang sedetik setelah itu sudah berbelok ke lorong kerajaan lainnya. Pintu dapur yang terhubung
dengan bagian dalam istana masih terbuka lebar. Kelihatannya Nova terlalu keras
membuka pintu, hampir saja pintu itu terbanting.

“Nggak tau… tapi kayaknya aku pernah ngeliat gitu… dimana ya?…” Deva memegangi kepalanya, mungkin mencoba untuk mengingat-ngingat. “Hfft… tangannya tadi luka-lagi..” keluh Deva.

“Ya udah lah, lupain aja..” usul Ray.

“Hh… Iya…”

Rio yang baru keluar dari ruangan pelayan laki-laki langsung geleng-geleng kepala ketika melihat meja dapur yang masih penuh dengan barang-barang.

“Deva, Ray, ayo bantuin aku beresin barang-barang. Dasar Alvin… kayaknya dia lupa kalau tadi mau beresin barang-barang ini..”

Indah.. Terindah.. Kini ku bagagia
Melihat hamparan pemandangan surga..
Senang.. Ku riang.. Bercanda denganmu
Burung-burung yang terbang sampaikanlah pesanku..

~

Kupu kupu
Terbang kemari
Cobalah jalan yang baru,
Untukku dan kau sendiri
Lewatilah bunga-bunga
Dan hinggaplah di hidungku..

Oik dan Agni terus bernyanyi dan menari di tengah hamparan bunga-bunga, yang merupakan bagian kecil dari padang ilalang, tempat Oik, Agni, Obiet dan Cakka, bermain sekarang.

“Ayo kupu-kupu… hinggaplah di hidungku… atau tanganku…” pinta Oik. Namun para kupu-kupu tetap berterbangan dan hinggap di bunga-bunga.“Ah… aku kan juga cantik seperti bunga-bunga..”
katanya lagi.

“Mereka takut akan telinga kakak..” kata Agni yang masih terus berputar di antara bunga-bunga.

“Oh, .. mungkinkah?…” Oik menaruh ujung jari telunjuknya di dagu. “Oh!… jika benar begitu… Obiet! Pinjam topimu!..”

*Plung*

Topi Obiet di lepas oleh Oik dan Obiet bahkan belum sadar topinya sudah lepas dari kepala. Tanduk chobitsnya muncul tiba-tiba dan matanya jadi sayu.

“Haah… Oik… Tandukku jadi bikin ngantuk kalo nggak pakai topi… silaaaaau…”

Sementara Oik sibuk mencari posisi tepat untuk memasang topi itu di kepalanya. Setelah telinganya tertutup dan tertekuk ke bawah, Oik tersenyum, telinganya reflex berdiri dan melontarkan topi Obiet
ke atas pohon. Dan topi itu tersangkut di salah satu rantingnya!

“Hooh!… nyangkut!.. Obiet! Ambil!..”

Lah… si Oik.. Orang dirinya sendiri yang membuat topi Obiet nyangkut, kok malah Obiet yang suruh ngambil?

“Haduuuh.. Oik… Obiet ngantuk… Agniii…”

Sweng.. sweng…

Obiet terus memegangi kepalanya yang makin pusing. Agni mendekatinya dan,

*Bruk*

Obiet sukses jatuh menubruk Agni, dan mereka berdua jath terbaring di tanah.

“Haduh.. Obiet… berat…” Agni berusaha mendorong Obiet kesamping. Namun Obiet tetap terlelap. “Beraaat…” keluh Agni. Bajunya Agni benar-benar menyulitkan Agni untuk bergerak, apalagi Obiet kan lumayan berat. Akhirnya Oik menghampiri mereka dan mendorong tubuh Obiet ke
samping. Agni pun berhasil berdiri.

“Hyuh… Kak, kita angkat Obiet yah ke dalem..” ajak Agni sambil membopong Obiet.

“Ntar dulu… nanti topinya gimana?” tanya Oik.

“Eeeh… Cakka!..” Panggil Agni.

Cakka yang tadi hanya duduk diam sambil memperhatikan Agni, Oik, dan Obiet bermain dan sedikit merenungi nasibnya, langsung berdiri. Sebagai anak baru di daerah ini ia harus tanggap terhadap situasi apapun.

“Tolong ambilkan topi Obiet yang nyangkut di pohon yah…” kata Oik.

“Oh… Iyah!..” Cakka mengangguk dan berlari ke satu-satunya pohon yang ada di sana, pohon tempat topi Obiet tersangkut.

Cakka segera memanjat pohon besar itu, sementara Agni dan Oik menggotong Obiet ke dalam istana. Di atas pohon, Cakka mengambil topi Obiet dengan hati-hati.

“Em… Hap!.. Yes! Dapet!”

Cakka pun kembali ke tenggah batang pohon. Tapi ketika baru berniat untuk turun, ia melihat satu lubang besar yang berwarna hitam. Lubang itu sangat gelap. Saking gelapnya ia tidak dapat melihat
bagian dalam lubang itu. Cakka mencoba memasukan tangannya ke dalam lubang. Siapa
tahu ia akan menemukan sebuah harta karun di lubang itu. Makin dalam ia memasukan tangannya, tangannya makin terasa dingin.

GYUTT

“Aah!…” Cakka menjerit. Ada sesuatu di dalam lubang itu yang menarik dirinya terjerumus ke dalam lubang. Tangannya terasa sedang dicengkram, sangat keras. Ia berdoa dalam hati agar tidak terjadi
apapun terhadap dirinya. Cakka terus melawan cengkraman asing itu.

“Mm… Hah!”

Dan akhirnya ia berhasil lolos. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya berkeringat dingin. Dan ketika ia melihat tangannya, tangan itu jadi terlihat transparan. Cakka tidak percaya. Ia memejamkan
matanya, berharap semua kembali seperti biasa. Lalu ketika ia membuka mata.

“Fiuuh…. ternyata cuma halusinasi”

Ya.. Cakka memang menganggap itu hanya halusinasi, karena tangannya sudah kembali seperti semua saat ia membuka matanya. Tapi apa benar itu hanya sekedar halusinasi?

5 menit kemudian, di kamar Agni dan Oik.

“Obiet… bangung biet…” bisik Agni di telinga Obiet.

Tak lama kemudian kelopak mata Obiet bergerak-gerak kecil. Lalu mulai terbuka perlahan.

“Yes!.. Obiet bangun!” seru Agni riang.

Nova yang ada di samping Agni langsung mengambil teh yang tadi ia buat dari meja kecil di sebelah kasur yang Obiet tiduri. “Ini… Nova buatkan teh untuk tuan Obiet…” ucapnya.

“mm.. Terima kasih, Nova..” Obiet menerima teh dari Nova dan langsung meneguknya.

“Nova, terima kasih ya sudah mau bikin teh untuk membantu Agni sama Oik..” kata Agni pelan.

“mh.. Iya.. sama-sama putri” Nova berdiri dan menunduk ke Obiet, Agni, Oik sambil berkata “Saya pergi dulu tuan.. Putri Agni.. Putri Oik.. mm” Nova agak kebingungan memanggil Cakka dengan sebutan apa, maka ia hanya tersenyum kecil dan menunduk. “Permisi…”

Oik, Agni, Obiet dan Cakka balas tersenyum. Nova langsung menuju ke pintu kamar dan ingin membuka pintu itu, tapi ia dikejutkan oleh Alvin yang sudah duluan membuka pintu itu dengan terburu-buru.

“Loh?.. Nova?” Alvin bingung sendiri. Ia tidak tau tadi Nova baru mengantarkan secangkir teh ke kamar putri Oik dan Agni. Nova hanya tersenyum kecil dan menunduk, “Permisi..” Lalu ia melewati Alvin begitu saja.

Alvin masih memandangi Nova dengan heran nya, ia mulai garuk-garuk kepala tapi langsung membeku ketika melihat Obiet, dan kedua majikannya, serta Cakka memandangnya dengan penuh tanya.

“Ehem!..” Alvin menurunkan tangannya, dan ia kini sedang dalam posisi berdiri tegak dengan kedua tangan di samping badan nya. “Putri Agni, Putri Oik… Pangeran Obiet..” Alvin seraya menunduk sebentar lalu mendekati mereka bertiga. “Barusan ada kiriman dari pihak minister” Alvin menyerahkan 3 buah surat untuk Agni, Oik, dan Obiet.

Oik membuka suratnya dan membaca perlahan surat itu.

“Undangan… Ada pesta teh di kediaman cranofile, bukit ketiga dari selatan. Semua Putri dan Pangeran di wajibkan hadir di pesta itu… akan ada pengumuman penting tentang tujuan mengumpulkan putri dan pangeran di kerajaan Kingdom Animlia. pestanya 3 jam dari sekarang..”

“Pesta teh?… untuk apa?” tanya Agni. Ia memang agak malas kalau harus menghadiri pesta-pesta dengan tata karma seperti itu.

“Tidak tau…” jawab Alvin.

“Harus benar-benar hadir kah?” tanya Oik dengan nada mengeluh.

“Sepertinya iya, putri… tadi pengantar suratnya berkata, surat itu tidak boleh di bantah. Ya.. istilahnya, harus dipatuhi..” jawab Alvin lagi.

“Cakka gimana?…” tanya Agni ke Alvin. Ia tidak mau meninggalkan Cakka sendiri.

“Tidak ada surat… tidak boleh ikut..” jawab Alvin pasrah.

“Yaaah…” Agni dan Oik langsung murung. Cakka juga agak was-was, ia mulai ingat dengan copcastle yang dibicarakan Agni, Oik dan Rahmi tempo hari. Bagaimana kalau kali ini ia tertangkap.

“Terus Cakka mau dititipin ke siapa?” kata Oik.

“Ke… tempat yang paling aman aja.. Kita titipin Cakka ke Rahmi” usul Agni.

“Iyah! Boleh tuh!” kata Oik setuju.

“Eh, Agni sama Oik ngomongin apa sih?” tanya Obiet.

“Bukan urusan Obiet!” jawab mereka berdua kompak.

“Cakka, mau kan bareng Rahmi dulu sebentar?” tanya Agni dengan muka agak memelas.

“Eh… iya. Mau kok..”

“Yey!!..” Agni langsung memeluk Cakka. Oik ikutan meluk.

“Cakka nurut ya, Ag…”

“Ha ha! Iyah..”

He he, nurut… nggak papa. Berarti Cakka anak baik.

“Oke!… sekarang kita siap-siap ke rumah Obiet.. Cakka… ke Rahmi ya.. nanti di anterin sama… Oh, pak Chiko”

Pak Chiko itu orangnya baik, dan ia adalah pengendara kereta kuda yang paling nurut sama mereka. Semua rahasia pasti aman kalau diberi tahu ke Pak Chiko ini.

Well… akhirnya semua pun setuju. Agni dan Oik pun memanggil pak Chiko dan menyuruhnya mengantar Cakka ke tempat Rahmi, tentu saja tanpa di ketahui oleh para pengawal lainnya. Obiet pergi ke ruang utama, menunggu Agni dan Oik berganti pakaian. Dan setelah itu mereka pun
siap untuk pergi ke kediaman cranofile, bukit ketiga dari selatan, yang merupakan kediamannya Obiet. Alvin sebagai pelayan pribadi Agni dan Oik juga ikut, begitu juga Nova yang menjadi pelayan Obiet.

Rio dan kawan-kawan dari Café Happy Chipmunks juga ikut. Mereka kan orang-orang yang akan melayani para putri dan pangeran di sana. Sebenarnya berita ini juga cukup mendadak bagi mereka. Tapi hal itu tidak akan menurunkan semangat mereka untuk melakukan tugas mereka
dengan sepenuh hati.

Jadi, pengumuman apa yang sebenarnya akan disampaikan di pesta teh itu? Peristiwa apa yang akan terjadi di sana? Dan bagaimana nasib Cakka dengan Rahmi? Apa sebenarnya lubang yang ditemukan Cakka
itu?

Tunggu lanjutannya di Kingdom of Dream part 8.

Terima kasih^^

Ini bonus picture-nya : Design baju Nova buatan aku. (kalau mau lihat lebih dekat/besar, diketik aja)

Nova's dress

Nova's dress

How?? Gmn?? jelek gak? oke gak?

di komen yah teman-teman!! kritikan dan saran diterima^^

sekali lagi terima kasih telah membaca!

Saniyyah A.K

Kingdom Of Dream_Part 6: Si pelayan kerajaan dan Pangeran Chobits

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 5: Cafe Happy Chipmunks
Semoga pada suka. Soriii sebanyak-banyaknya karena ngepostnya lama banget. Ada halangan. You know lah!… sekolah..

Oh iya!… kali ini ada bonus gambarnya. Yaitu gambar baju/gaunnya putri Agni dan putri Oik.

Happy reading and I always hope you like it!
Don’t forget to comment… ^^

Kingdom Of Dream
part 6: Si pelayan kerajaan dan Pangeran Chobits

“Aku… aku tidak percaya… Aku… masuk ke Istana..”

Cakka terbengong-bengong akan nasibnya saat itu. Yang menurut Cakka sendiri, terlalu beruntung. Ia tidak habis pikir, kok bisa yah? Bocah yang bukan siapa-siapa seperti dirinya masuk ke Istana yang semegah itu? Istana tempat Agni dan Oik tinggal?. Bahkan ia sendiri belum percaya kalau dari tadi ia telah berteman dengan seorang putri raja. Padahal dulu Cakka tinggal di tempat biasa yang di bilang kumuh oleh teman-temannya. Hei!… tempat tinggal Cakka di bumi tidak kumuh kok. Hanya ekspetasi teman-temannya saja yang terlalu tinggi. But whatever it is… hal ini benar-benar Unbelievable.

“Cakka… mau cepat atau lambat… Cakka harus percaya, soalnya Cakka emang masuk ke istana..” kata Agni sambil merangkulnya, mengajaknya berputar di tengah kamar Agni dan Oik, melihat pemandangan kamar yang sungguh… sangat besar. Kamar mereka saja besarnya seperti sebesar 1 buah ruangan aula di sekolah Cakka, mungkin lebih. Jadi wajar saja kalau Cakka sampai menganga.

Saat Cakka sedang melihat-lihat langit-langit kamar yang berlukiskan awan-awan dengan peri-peri cupid, tiba-tiba saja Oik menepuk pundak Cakka.

“Cakka, sekarang kita mau mandi..” kata Oik sambil merangkul Agni. “Cakka mending mandi juga deh… bentar lagi kan para tamu dari kerajaan lain mau datang…” tambahnya.

“Obiet….” Agni memekik pelan. Ia tersenyum dengan mata yang menyipit, memandang ke Oik seperti berbicara sesuatu. Oik balas tersenyum, matanya juga menyipit dan tertawa pelan. Hmm… mungkin mereka punya bahasa sendiri. Tapi dari mata mereka, kelihatan mereka sedang berbicara tentang Obiet, teman lama mereka yang sudah lama tidak bertemu.

“Ya udah. Kita mau mandi… nanti Cakka tunggu aja di sini. Bakal ada Alvin, pelayan kerajaan kita yang setiaaaa banget!. Dia bakal nganterin kamu ke permandian laki-laki… bajunya udah ada di sana. Cakka mandi aja.. Oke!..”

Lalu setelah semua penjelasan itu, Oik dan Agni langsung cepat-cepat berlari ke permandian untuk para putri dan bersiap menyambut kedatangan teman-teman mereka yang datang dari kerajaan tetangga.

Seperti yang disuruh oleh Oik, Cakka menunggu. Dan setelah beberapa detik membisu, clingak-clinguk nggak jelas dan menghembuskan nafas, muncul lah seorang anak laki-laki yang kurang lebih sebaya dengan Agni dan Oik. Kulitnya putih, bermata sipit, tubuh tinggi, memakai kemeja tangan panjang berwarna putih, vest hitam kecoklatan, dan celana ¾ beserta boots warna coklat tua. Dari tampangnya, ia seperti artis-artis ngetop di korea. Dan yang tidak boleh sampai terlupakan, Ia memiliki telinga rubah, sama seperti Rahmi. Lalu anak itu berdehem, menyadarkan Cakka akan kehadirannya.

“Ehem…”

“Hah? Apa?…” Cakka terlonjak kaget dan langsung berdiri. Kursi yang ia duduki hampir saja terpelentang dan jatuh.

“Anda… Cakka?” tanya anak itu.

“Oh… iya” jawab Cakka agak kagok.

“Aku Alvin… pelayannya putri Oik. Kamu udah di kasih tau kan?… em… katanya putri Oik, kamu mau mandi…” jelas anak itu yang ternyata pelayan yang tadi Oik sebutkan, Alvin.

“Oh.. Eh, Iya…” Cakka mengangguk pelan dan sedikit tersenyum. Kalo dipikir-pikir gayanya Alvin lumayan mirip sama dia, terutama rambutnya.

Alvin pun balas tersenyum dengan kadar secukupnya. Kayaknya Alvin anaknya agak cuek. Nggak seramah si Deva, atau seseru si Ray. Gayanya bak anak cool yang eksistensinya tinggi, namun tau harga diri.

“Kalo gitu ikut aku…” lanjut Alvin.

Tanpa basa-basi, Cakka pun mengikuti Alvin yang berjalan menelusuri koridor dengan lantai keramik krem, dinding dinding bercat putih dengan lukisan-lukisan indah. Lalu berbelok ke koridor lainnya yang jalurnya tidak terlalu panjang, namun lebar. Dan tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan sebuah pintu besar dari batu alam, lantai koridor di sini juga berbahan batu alam yang agak lembab. Pintu itu di pahat dengan gambar daun-daun besar maupun kecil, huruf-huruf yang tidak diketahui oleh Cakka artinya, dan di tengah pintu ada pahatan berbentuk segitiga.

“Artinya apa?” tanya Cakka sambil menunjuk huruf-huruf asing di pintu dan juga lambang segitiga itu.

Alvin pun mejawab sebisanya. “Kalo tulisan kuno di atas, artinya permandian putra agung. Sementara lambang segitiga itu…” Alvin membentuk sebuah segitiga dan berkata. “Segitiga itu lambang laki-laki. Sementara segitiga terbalik..” kini Alvin membentuk segitiga terbalik dengan jari-jarinya. “…Lambang perempuan. Lambang-lambang itulah yang membedakan setiap (territory) untuk laki-laki dan perempuan di lingkungan istana”

“Oh…” Cakka manggut-manggut. Ia mengerti sekarang. Kenapa tadi saat memasuki ruangan dengan pintu berlambang segitiga terbalik di dalamnya hanya ada pelayan-pelayan wanita lalu ketika tau, Agni dan Oik langsung memarahinya. “Cakka nggak boleh masuk!.. itu lingkungan terlarang!…”

Cakka pun masuk ke ruangan di depannya, ditemani oleh Alvin. Ruangan itu adalah sebuah ruangan besar, di tengahnya ada sebuah kolam bear berisi air yang jernih, dan di sisi kolam itu terdapat pilar-pilar besar tiap jarak 3 meternya. “Kolam ini biasa di gunakan untuk berendam para putra mahkota dan kalangan lelaki berdarah biru” jelas Alvin.

“Ya sudah… aku harus kembali ke ballroom istana. Ada dekorasi yang harus diselesaikan. Cairan sparkly dust-nya ada di pojok ruangan, bersama bajunya. Kalo udah selesai berendam… langsung kembali ke kamar putri Agni dan putri Oik saja.. ” Dan Alvin pun meninggalkan Cakka di sana sendirian untuk mandi.

20 menit setelah itu…

Cakka sudah selesai mandi. Ia memasuki kamar Oik dan Agni dan mendapati Agni yang sedang duduk di kasurnya yang empuk dan bersepraikan sutra. Sementara Oik sedang duduk di meja rias, menatap kaca sambil sesekali memoles wajahnya dengan bedak berupa bubuk halus berwarna krem.

Kini mereka berdua sudah berubah. Sangat cantik… sunggu berbeda dari 2 anak cewek yang hobi lari dan kabur tadi. Sekarang Agni dan Oik sudah benar-benar seperti putri. Agni dan  Oik memakai gaun berwarna pink soft dengan paduan warna coklat tua dan sepatu berwarna krem, membuat diri mereka jadi seperti putri yang lemah lembut.

Tapi Agni kelihatan sangat berbeda. Ya!… sangat berbeda. Cakka baru sadar, rambut Agni sekarang jadi panjang, kurang lebih sebahu.

“Eh!… Cakka udah datang!” seru Agni.

Oik langsung menoleh ke pintu, melihat Cakka yang berjarak hanya 2 meter dari pintu kamar. Cakka berdiri diam di sana, ia agak ragu melangkah lebih dalam. Takut saltum kali ya? Salah kostum…

“Cakka kereeeen!…”

Agni dan Oik langsung berlari menghampiri Cakka. Ingin melihat Cakka lebih dekat.

“Hooh… keren!… ternyata bajunya nyocok sama Cakka, kak!…” seru Agni dengan gembira.

“Iya! Ha ha!..” Oik dan Agni bertos-an. Kayaknya Cakka nggak salah kostum tuh.

“Eh… Agni kenapa rambutnya tiba-tiba panjang?” tanya Cakka yang heran.

“Hoh?… Oh itu!… 2 hari kemarin aku dihukum sama professor Degor, rambutnya jadi pendek untuk beberapa hari. Tapi sekarang sihirnya professor udah hilang… hi hi” jawab Agni riang. Senang rasanya rambutnya kembali seperti semula. Apalagi mau ketemu sama Obiet.

“Ya udah!.. kalo gitu kita langsung ke taman aja!… kalo kelamaan disini nanti professor Degor keburu datang!..” kata Oik.

Agni dan Oik langsung mengangguk bersamaan, lalu kompak menyeret Cakka ke luar kamar, berlari-lari di sepanjang koridor Istana yang bermandikan cahaya matahari dari balik jendela istana yang panjang dari pinggang kita sampai ke atas ruangan dan lebarnya 1 meter. Pilar-pilar dari marmer mempercantik koridor itu, begitu juga tirainya yang terbuat dari beludru berwarna merah dengan rumbai-rumbai berwarna emas. Cakka tersenyum gembira. Istana Kingdom Animalia memang sangat menakjubkan. Namun tunggu sampai ia melihat padang ilalangnya. Cakka pasti akan merasa ia berada di surga. Sudah lagi ia akan bertemu dengan seseorang teman baru juga di sana.

Srrrr… Srrr…

Ini dia surga istana Animalia. Padang ilalang yang melambai-lambai. Bagaikan memanggil jiwa raga kita untuk berputar-putar disana. Bermain-main dengan senangnya. Melupakan segala masalah, sakit dan pedih. Padang ini akan selalu terang, padang ini akan selalu indah, dan padang ini akan selalu membuatmu bahagia.

Padang ilalang melambai. Kini Cakka, Agni dan Oik sudah sampai di padang itu. Segera setelah mereka berpijak, diri mereka seperti dihipnotis. Terhipnotis akan anginnya yang bertiup semilir, langitnya yang biru cerah tanpa celah, awan putihnya yang berarak dengan damai, dan daun ilalang yang menyentuh jari mereka dengan lembut. Seperti surga untuk sesaat. Dan dari kejauhan terlihat, seorang anak lelaki yang telah menunggu mereka dari tadi. Bajunya yang berupa jaket bernuansa biru tua, kemejanya bertangan panjang berwarna putih bersih, lace putih berumbai, dan kepalanya tertutup oleh topi classic berwarna biru tua, senada dengan jaketnya. Celananya berwarna coklat  tanah dan sepatunya adalah boots coklat bertali hitam. Anak itu berbalik, tersenyum, dan dalam sekejap alam seperti membalas senyumannya. Angin berhembus damai, waktu seperti terhenti, burung-burung berkicau riang dan berterbangan bebas di angkasa. Agni dan Oik langsung tersandar lemas di pundak Cakka. “Aah… manisnyaaa…” ujar mereka.

Lalu anak itu  melambaikan tangan dan menyapa.

“Oik!… Agni!… Lama nggak ketemu!…”

“Obieeeet!… Kita kangeeen!…”

Agni dan Oik langsung berlari menghampiri Obiet, dan seperti biasanya langsung memeluk Obiet dengan erat.

“Obieeet!… akhirnya kita bisa kumpul lagi!” seru Agni riang. Oik mengiyakan dan tetap memeluk Obiet.

Cakka mendekati Obiet perlahan, namun hanya berani sampai di belakang Agni dan Oik. Ia tidak mau menghalangi kekangenan Agni dan Oik terhadap Obiet.

“Oh iya!…” Obiet menghentikan aksi Agni dan Oik terhadapnya. Obiet menyadari akan kehadiran Cakka. “Kamu siapa?” tanya Obiet ke Cakka. Ia tersenyum ramah dan mukanya memancarkan aura friendly.

“Eh… Cakka” jawab Cakka.

“Oh… kenalin, aku Obiet… nama Obiet diambil dari nama sebangsaku yaitu sebangsa Chobits. Ch-obit-s… jadi Obieet..”

Cakka hanya diam. Hmm… mungkin lebih tepatnya konsentrasinya telah mengarah ke hal lain. Ia menatap Obiet dengan antusias. Layaknya menatap sebuah harapan, ilham, dan juga bantuan dari sang maha kuasa.

Criiing… matanya seperti bersinar ketika melihat Obiet yang berfisik layaknya manusia biasa, tanpa telinga hewan, tanpa ekor. “Akhirnya aku punya teman senasib…” pikir Cakka.

Cakka yang dari tadi tidak mendengarkan kata-kata Obiet langsung saja mendekati dan menjabat tangan Obiet sambil berkata ke Obiet. “Aku Cakka! Manusia!… akhirnya aku ketemu manusia lain di sini…”

“Hah? Manusia?” Obiet tampak bingung. Tidak mengerti satupun apa yang dikatakan Cakka barusan.

“Iya!… kamu manusia kan?” tanya Cakka meyakinkan.

“Oh bukan…” jawab Obiet masih dengan ramahnya. Sayang Cakka sudah keburu kecewa. Ia tak peduli, Ia langsung lepas topi Obiet dan mengecek apakah Obiet benar-benar manusia biasa, dan ternyata…

“Aku… Cho… chobi…ts..” Obiet yang baru terpisah dari topinya tiba-tiba loyo, lemes, berputar-putar seperti sedang melakukan jurus mabuk Jackie chan dan lama-lama terkapar sendiri di antara rimbunan ilalang lembut.

“Hah?” Kini gantian Cakka yang bingung.

“Aduh!… aku lupa! Tanduk Chobitsnya Obiet kan sensitive. Kena panas dikit langsung ngantuk. Haa…” Oik menyesal telah lupa akan kebiasaan Obiet itu. Tanduk Chobits Obiet memang agak sensitive, nggak tahan panas. Kalo kena cahaya matahari berlebih, matanya bisa langsung merasa silau dan langsung ngantuk.

Agni langsung membantu Oik membangunkan Obiet. Sementara Cakka makin bingung. Ternyata Obiet bukan manusia?… “Oh iya!” baru setelah itu Cakka ingat kalau Agni dan Oik pernah bilang, Obiet itu pangeran dari negeri Chobits. Langsung mukul kepala sendiri deh dia.

Hfft… Cak.. Cak..

Sementara itu, di lantai 3 istana animalia, Alvin keluar dari ballroom, berjalan mendekati balkon. Ia menghampiri seorang anak perempuan dengan baju berwarna hijau laut dan rambut hitam terurai. Anak perempuan yang ia hampiri itu adalah pelayan dari kerajaan chobits, datang tidak lain untuk menemani Obiet mewakili kerajaannya.

“Nova ngeliatin apa?” tanya Alvin sambil bersandar di balkon sebelah Nova, pelayan Obiet itu.

“Mmmh… enggak… aku cuma penasaran sama kereta kuda itu…” jawab Nova sambil menunjuk sebuah kereta kuda yang ditumpangi oleh orang-orang berbaju pelayan dengan telinga tupai.

“Oh… itu kereta kudanya café happy Chipmunks. Café yang nanti akan melayani para putri dan pangeran di pesta. Memang kenapa?” tanya Alvin lagi.

“Mm… nggak. Nggak kenapa-napa kok..” Nova kembali diam memperhatikan kereta café Happy Chipmunks.

Alvin pun kembali ke ballroom. Nova masih tetap di situ, memperhatkan kereta café Happy Chipmunks yang kini sudah berhenti, dan beberapa orang keluar dari sana. Anak yang paling tinggi, yang tadi mengendalikan kereta itu turun dari kursi [pengemudi] dan membuka pintu keretanya.

Ia menurunkan beberapa barang dari gerobak di belakang kereta dengan dibantu oleh anak laki-laki berambut sebahu yang lebih pendek darinya. Lalu keluar 2 orang anak perempuan, yang satu berambut ikal sebahu, dan yang satu lagi berambut panjang bergelombang dan diikat di atas. Lalu yang terakhir ada anak laki-laki berambut hitam yang langsung menutup pintu kereta tengah.

Kemampuan Nova untuk melihat keadaan lebih dekat langsung di gunakan. Matanya langsung terfokus pada anak laki-laki yang turun paling terakhir itu. Saat sedang memperhatikan, tiba-tiba anak laki-laki itu menatap kearahnya. Nova langsung mengalihkan pandangan dari sana. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Melepaksan focus dengan kecepatan yang berlebih membuat kepalanya mulai pusing. Namun pusingnya kepala itu tidak terlalu dipikirkannya. Ada suatu rasa asing yang muncul di hatinya ketika melihat anak laki-laki itu. Dan rasa itulah yang kini langsung mengambil tempat di otaknya. Nova sendiri bingung rasa untuk apa? Yang pasti rasa itu kuat. Rasa untuk mendekati… dan ingin mengenali…

Itu dia part 6 nya. maaf jika ada salah-salah kata. Mohon di maklumi. Kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Ini bonus picturenya…

Oik and Agni's dress at the garden

Thanks for reading!…
Keep waiting for the next part! ^^