Archive for the ‘ Story/Cerita ’ Category

Ada Cinta_1

Assalamualaikum Wr. Wb.

Untuk para pembaca, terima kasih telah mengunjungi blog ini dan menyempatkan waktunya untuk membaca di sini. Setelah lama tidak menge-post cerita tentang ic (idola cilik) di sini, atas peermintaan salah satu pembaca, saya memutuskan untuk mem-publish kembali cerita ada cinta (kurang lebih tahun 2009-2010) di sini dalam versi ‘telah direvisi’. Setelah mengetahui ternyata banyak sekali kesalahan (penulisan tanda baca, dsb) yang dibuat dulu, semoga versi kali ini dapat lebih memuaskan para pembaca dan memperjelas cerita dengan lebih baik.

Semoga cerita ini masih dapat diterima dan disukai para pencinta ic dan pembacanya.

Oke, Happy Reading!! and please comment..

ps: Kalau mau dilanjutin, komen ya^^

Ada cinta_1

Ada cinta. Semua manusia memiliki hati, dengan begitu mereka punya cinta. Saat cinta itu dibantah, penderitaan pasti menjadi akhir sebuah cerita. Namun hidup itu perjuangan, pengembaraan dalam menemukan cinta, sekaligus menjaga yang telah ada. Walau kadang, kau harus mengorbankan
salah satunya“.

Hujan turun sangat deras siang ini dan kelihatannya tidak akan berhenti dalam tempo waktu yang dekat. Siang hari yang harusnya panas karena terik matahari, kini menjada dingin, mendung, abu-abu. Di sebuah sekolah di kota Bandung, beberapa anak eskul basket mengeluh karena seharusnya mereka latihan untuk kejuaraan bulan depan. Begitu juga anak eskul saman yang berlatih di mushola. Ternyata atap mushola sudah bocor. Kelihatannya mushola tidak dapat dipakai untuk beberapa hari kedepan. Sejadah-sejadah yang ditaruh berjejeran di lantai mushola ikut basah dan harus di cuci.

Mereka yang punya jemputan segera memanggil supir mereka untuk menjemput di sekolah secepatnya. Namun bagi yang tidak, mereka terpaksa menunggu sampai hujan lumayan reda. Atau mereka dapat pulang duluan kalau mereka punya payung, itu pun harus beresiko baju mereka basah kuyup. Beberapa anak yang memilih untuk tinggal di sekolah contohnya dua anak perempuan ini..

Agni dan Rahmi, adalah dua anak perempuan yang bersahabat sejak awal masuk SMP. Kini mereka sudah kelas 2 SMP. Kedua baju olah raga yang mereka pakai basah. Agni karena kehujanan saat istirahat latihan basket. Rahmi karena ia berada tepat di bawah atap yang bocor dan otomatis kena airnya.

Sekarang mereka sedang berganti baju di toilet lantai 2. Mereka mengganti baju olah raga menjadi baju putih-biru SMP. Rahmi sedang merapihkan kerudungnya, Sementara Agni mengancingkan bajunya dan menyisir rambutnya.
“Agni kok selalu pake dobelan kaos sih? emang nggak panas apa?” tanya Rahmi berbasa basi. Agni menengok dan membalas.
“Rahmi juga selalu pake tangan panjang, kan panas. Emang kenapa nanya kayak gitu?” tanya Agni balik.
“Nggak kok. dipikir-pikir, sebenernya kulit agni nggak item yah? paha sama tangannya belang tuh..” goda Rahmi bercanda.
“Haha..” Agni tertawa sejenak. “Emang. Cuma gara-gara sering main bola aja jadi item kali yah”
Agni menghadap ke cermin kecil di dinding, pinggir-pinggirnya retak. Tanpa sengaja rahmi melihat sebuah kalung di leher agni dari pantulan kaca yang retak itu. Kalung dari benda seperti batu yang diikatkan di sebuah tali merah.
“Cie… kalung dari siapa tuh?” goda rahmi.
“Kalung?” Agni balas bertanya.
“Alah.. pura-pura nggak tau. itu yang kamu pake di leher” Rahmi mendekati Agni dan meraih kalung itu. “Kok kalung dari batu sih?” tanya Rahmi lagi. Agni lalu tersenyum penuh makna.
“Asal sih dari batu, tapi artinya banyak tau… Ada kenangan di sini” jelas Agni misterius. Rahmi sontak langsung penasaran.
“Kenangan apa? ceritain dong!…” pintanya memohon.
“Iya, tapi sambil jalan ke kelas yah. Kita habis ini mau kerja kelompok kan sama yang lain?” balas Agni.
“He-eh. mereka lagi di atas tuh. nggak tau ngapain di kelas 7… Yuk” Rahmi mengangguk setuju dan mereka pun mulai melangkah ke luar toilet menuju kelas mereka berdua. Selangkah dua langkah, dan Agni pun mulai bercerita.
“aku dapet kalung ini sebelum ketemu sama kamu. 4 tahun lalu…”

— flash back

4 tahun lalu di Cibodas, puncak. Di sebuah terowongan teduh dari batu yang bagian atasnya dibiarkan terbuka, dirambati oleh akar-akar dan batang tumbuhan yang menjalar dengan daun berbentuk hati.
Agni berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki di sana. Nama laki-laki itu Gabriel dan dipanggil dengan Iyel.
“Agni mau kan jadi pacar aku?” tanya Gabriel polos.
“Eh… gimana yah? jangan ah, iyel…” Agni menjawab pelan. Tak kalah polos dengan anak laki-laki di depannya.
“Kenapa jangan?…” Gabriel bertanya dengan lesu, murung dan muka yang ditekuk. Cahaya matahari menyinarinya dari celah-celah daun yang terbuka.
“Soalnya… Agni belum yakin. Lagian, Agni belum tanya ke mama boleh atau enggak pacaran?” Agni menjawab lagi. Dan dibalas dengan anggukan Gabriel yang tenang, berusaha mengerti.
“Ya udah deh… tapi kalo udah boleh, Agni mau kan jadi pacar Iyel?”
“Emm…” Agni menggigit bibirnya sambil berpikir sebentar, lalu ia mengangguk dengan polosnya.
“Yes!” Gabriel berseru dengan senang. Ia merangkul Agni. “Kalo gitu kita balik kerombongan yuk” ajaknya.
“He-eh!” Agni mengangguk dan Gabriel mulai menuntun Agni jalan di terowongan.

“Oh… jadi waktu itu kamu lagi jalan-jalan bareng sesekolah?” tanya Rahmi menebak.
“Iya. Iyel minta aku berhenti dulu. Waktu itu aku lagi bareng Obiet, kita saling lihat hasil foto masing-masing” jawab Agni mengingat-ngingat memorinya dulu.
“Terus… pas kapan dia ngasih kalungnya?” tanya Rahmi makin penasaran.
Agni tersenyum lagi dengan manis, “Pas…”


“Pluk..” Benda kecil seperti biji jatuh dari atas terowongan. Ketika membentur tanah benda itu terbelah menjadi dua. Gabriel mengambil salah satu pecahan biji itu lalu mengikatkannya pada sebuah tali merah dari gelang yang ia pakai. Dan sekarang, biji itu menjadi sebuah kalung. Gabriel mendekati Agni dan tanpa ragu memasangkan kalung itu di leher Agni.
Agni agak terkejut menerima itu, namun ia tetap membiarkan Gabriel memasangkannya. “Kalungnya bagus banget..” ucap Agni kagum. “Iyel dapet dari mana?”
“Iya dong. Tadi ada biji jatuh, kebelah dua, aku jadiin kalung aja. Itu separuh hati aku buat Agni” kata Gabriel gombal.
“Hi hi… separuh hati..? Bisa aja” Agni tertawa mendengar kata-kata Gabriel yang gombal itu. Gabriel ikut tersenyum dan menarik Agni tiba-tiba, memintanya untuk berhenti sebentar.
“Oh iya!” ucap Gabriel. “Gimana kalo kita bikin perjanjian?”
“Perjanjian?” alis Agni mengkerut tidak mengerti. “Perjanjian apa?” tanya Agni melanjutkan.
“Emm… Kalo kalung itu masih ada di leher Agni, berarti Agni masih mau jadi pacar Iyel. Kalo enggak, berarti Agni udah gak mau lagi jadi pacar Iyel” jelas Gabriel lugas.
“Boleh…” Agni menjawab diiringi dengan senyuman. Lalu Gabriel mengacungkan jari kelingkingnya, mengajak Agni membuat ‘pinky promise’ dan Agni membalasnya.
“Iyel, kenapa nggak diambil aja potongan biji satunya? Biar buat Iyel. Aku kan juga mau lihat ‘sisa potongan hati’ Iyel gimana” kata Agni iseng.
“Jangan. Biar jadi kenangan aja..”

“Habis itu kita jalan lagi, sampai akhirnya ketemu sama Obiet. Terus jalan bertiga deh ke padang rumput” ucap Agni mengakhiri ceritanya.
“Eh iya! berarti dulu kamu se-kelas dong sama Obiet?” tanya Rahmi kaget.
“Ya iyalah, Mi” Agni membalas santai.
“Yah… Kalo se-kelas sama Obiet sama Iyel, berarti aku sendiri yah yang beda sekolah di geng kita…  Aku anak baru dong?…”
“Ha ha!.. Bukan anak baru! anak tua! kan Rahmi yang paling tua diantara kita-kita” canda Agni renyah. Rahmi pun ikut tertawa menyadarinya, dan ia kembali bertanya lagi tak lama setelah itu.
“Eh tunggu!… Kalo nggak salah kamu juga se-sekolah kan sama Cakka itu?”
Agni mengangguk. “Iya. Dari dulu sikapnya masih nyebelin. Kerjanya ngerjain orang mulu!” kata agni sebal. “Dia juga pernah ngerjain aku waktu jalan-jalan itu.”

“Ayo Agni pakai sepatunya. Sebentar lagi kita mau pulang” Bu guru berseru pada Agni yang masih di tempat kumpul acara. Bus ada di lapangan parkir tak jauh dari sana. Hampir semua anak telah naik kembali ke dalam bus namun Agni masih sibuk mondar-mandir di tempat acara.
“Iya, Bu. Saya sih lagi mau make sepatu. Tapi sepatunya nggak ada, Bu” sahut Agni dengan murung. Ia terus menengok kesana kemari mencari sepatunya.
“Mungkin kamu lupa letaknya dimana?” tanya Bu Guru heran.
“Enggak kok, Bu. Saya tadi naruh sepatunya di sini” kata Agni keras. Nadanya agak ngotot pasalnya ia yakin – sangat yakin kalau ia menaruh sepatunya di sekitar situ.
“Ya sudah… Kamu cari sebentar disini. Ibu minta supir bus-nya biar nunggu sebentar, yah…” kata bu guru dengan lembut.
“He-eh” Agni mengangguk dan kembali mencari sepatunya yang hilang. Namun tiba-tiba, seorang anak laki-laki datang dan menubruknya.

*Bruk!

“Ah..” Agni terjatuh. Kakinya lecet dan matanya langsung berkaca-kaca, tapi ia tahan air matanya karena gengsi. Agni menatap wajah anak laki-laki yang menubruknya itu dan anak laki-laki itu malah tertawa.
“Cakka jahat!! Hiks…” akhirnya Agni menangis. Ia terus menatap anak laki-laki itu yang bernama Cakka. Sementara Cakka malah memeletkan lidahnya, cuek.
“Biarin! Wleee! Ha ha ha ha…” tawa Cakka bagaikan menggema di telinga Agni. Cakka memang sangat bandel dan suka jailin orang, terutama anak perempuan.
“Eh, katanya kamu sepatunya ilang yah?” tanya Cakka.
“Hiks… He-eh” Agni mengangguk sambil menangis. Kadang ia hapus air matanya kalau sudah terlalu banyak.
“Kan sepatunya aku yang sembunyiin loh!” seru Cakka pede. Yang jadi maling malah ngaku sendiri. Memang aneh, namanya juga anak-anak.
“Balikin!!…” seru Agni keras. Ia memukuli kaki cakka dengan tangan kecilnya.
“Nggak ah!…  Cari aja sendiri!” lalu Cakka hanya berlari ke bus yang sekolah mereka tumpangi. Cakka membiarkan Agni menangis di situ, sendiri.
“Hinks… haaaaa…. Cakka mana sepatunya!…” Agni terus menangis. Makin lama Agni ditinggal, makin besar tangisannya. Dan  akhirnya hati Cakka luluh juga. Ia kembali menghampiri Agni, tapi tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba datang seorang anak laki-laki sebayanya mendekati Agni. Obiet Namanya. Ia berjongkok di sebelah Agni dan bertanya dengan perhatian.
“Agni, kenapa nangis?” Tanya obiet.
“Hiks… sepatu aku ilang…” kata Agni sambil sedikit-sedikit menghapus air matanya.
“Ng… kalo gitu, Agni pake sandal aku aja” Obiet lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang ia pegang, sebuah sandal yang sepertinya baru dibeli sebagai kenang-kenangan dari taman itu.
“Tapi itu punya obiet…” kata Agni, ia ragu untuk mengambilnya.
“Enggak pa-pa. Obiet ikhlas! Kalau Agni mau, ini sandal buat agni aja…  Mau?” tawar Obiet sambil tersenyum.
“Eh…” Agni pun mengangguk. Ia akan menerima sandal itu untuk dipinjam, tapi tidak untuk dimiliki.
Obiet lalu menaruh sandalnya di tanah dan berdiri. Agni juga berdiri dan memakai sandal itu. Untungnya ukurannya pas.
“Makasih obiet!” Agni berseru ceria. Kini ia tidak menangis lagi.
Obiet ikut tersenyum senang. “Dengan senang hati!” balasnya riang.
Lalu Obiet dan Agni pun jalan bareng ke bus mereka. Dan tentunya, berpapasan dengan Cakka.
“Kenapa cakka?” tanya obiet ketika Cakka sudah berdiri di depan mereka, menghadangnya.
“Enggak jadi! Tadinya aku mau ngasih tau dimana tempat aku nyembunyi-in sepatu Agni. Tapi kan Agni udah ditolongin, jadi… Nggak jadi!” Cakka lalu berlari dengan kencang dan naik ke bus-nya. Sebelum masuk ia memeletkan lidahnya ke Agni dan Obiet.
Agni dan Obiet sendiri tidak tau maksud Cakka memeletkan lidahnya apa. Ya sudahlah…

“Terus… sampai sekarang sepatu  kamu masih ada di tempat itu?” tanya Rahmi sambil menahan tawa.
“Sayangnya… iya…”
“Ya ampun… kasian banget sih kamu, Ag. Terus, sendalnya Obiet masih ada di kamu?” tanyanya lagi masih sambil tertawa.
“Enggak lah. Orang malemnya mama nelfon terus marahin aku. Suruh balikin sandalnya malam itu juga lagi. Besoknya aku ke sekolah pake sepatu kets putih, ya jelas dihukum.”
“ha ha ha ha ha!” Rahmi tertawa makin keras mendengar Agni makin apes setelah itu. Mendengar tawanya yang sangat merendahkan dan bikin Agni malu, Agni pun langsung protes nggak terima.
“Ah, si Rahmi ketawain aku mulu nih… aturan aku nggak usah ceritain deh..” ucapnya sebal.
“Ya.. sori deh… kocak tau.” ucap Rahmi berusaha mengatur nafasnya karena tertawa tanpa henti. “Tapi, pas dulu mereka masih pada polos-polos banget deh” komen Rahmi pada akhirnya.
“Iya bener, Mi. Aku aja nggak nyangka waktu itu aku nangis. Padahal aku udah tomboy loh” balas Agni menambahkan.
“Dan Gabriel… belum kamu jawab juga pertanyaannya?” tanya rahmi mulai serius.
“Yep… kayaknya kita sepakat ‘act as friend’ dulu sampai sekarang” jawab Agni.
“Kenapa nggak kamu jawab aja, Ag? Kamu suka nggak sama Gabriel?…”
“Hah??” Agni langsung kaget mendengar pertanyaan Rahmi yang mendadak itu.
“Jawab aja jujur. Suka atau enggak?” Rahmi terus bertanya.
“Em…” Agni jadi bingung membalasnya. Tapi ia pun pilih untuk percaya pada sahabatnya, Rahmi. “..sebenernya sih… suka” lanjutnya.
“Terus…  kenapa belum diterima, Ag?” tanya Rahmi heran.
“Soalnya… yah.. masih banyak alasan untuk menolak. Dan.. masih ragu kali” jawab Agni sambil memalingkan muka dari pandangan Rahmi.
“Coba aku tebak. Salah satu alasannya… karena kamu belum nanya ke mama kamu?” tanya Rahmi bercanda. Ia tau kalau Agni lumayan bisa dibilang anak alim.
“Mungkin?…” Agni menjawab singkat.
“Lagian mama kamu itu kok nggak pulang-pulang sih. Kerja mulu. Kayak nggak pernah ‘care’ sama anaknya.” tanpa sadar Rahmi asal bicara. Dan ia langsung terdiam saat melihat ekspresi wajah Agni yang tiba-tiba memurung. “Um… sori, Ag… bukan maksud aku…”
“Nggak papa kok.” Agni tersenyum kecil. “Mama emang gitu orangnya. Mungkin dia Cuma ‘care’ sama kakak aku aja, yang udah jadi pemimpin perusahaan batik di Jogja” Agni kembali tersenyum ke Rahmi, walaupun itu senyum yang dipaksakan.

*Brak!
Pintu kelas terbuka tiba-tiba. 2 anak laki-laki masuk dan saling kejar-kejaran di antara meja, sampai-sampai naik ke atas meja. Mereka adalah Obiet dan Gabriel.
“Astagfirullah!” Rahmi  mendengar suara dobrakan pintu kelas sampai latah.
“Hai, Ag.. Hai, Mi!” sapa keduanya sambil turun dari meja dan mengakhiri kejar-kejaran mereka. Well, sebelumnya mereka juga sempat injek-injekan kaki.
“Hai..” Rahmi menatap mata keduanya dengan tatapan yang mencurigakan.
“Kenapa?… kok ngeliatinnya gitu?” tanya Obiet yang mulai takut tambah was-was.
“Cie… yang masih nunggu…” kata Rahmi tiba-tiba. Mata Rahmi melirik ke Gabriel.
Gabriel hanya nyengir biasa. Padahal ia tidak terlalu tau apa maksud Rahmi.
“Agni enak banget deh… pagi-paginya di kasih kalung sama Gabriel… siangnya dipinjemin sandal sama Obiet” ujar Rahmi melanjutkan.
Lalu, tiba-tiba Agni menyelak Rahmi “kenapa, Mi?… Cemburu?”
“Ha ha ha…” obiet dan Gabriel yang mulai mengerti arah pembicaraan ini pun ikut tertawa bersama Agni.
“Ih ngapain cemburu?… Hari gini cemburu, Basiiii”
“Ha ha ha h…”

Tes… tess… tes…
Rintik hujan mulai membasahi jalan-jalan setapak kota. Suara deru motor melintas melewati depan café. “Café Ordelia Ordesilk” tulisan itu tertera tepat di atas pintu masuk café. Angin dingin merambat masuk ke dalam café, melewati jendela, membawa butir-butir debu jalanan masuk.

Sreek…

Tirai coklat menutupi jendela. Api lilin-lilin di meja café bergerak-gerak seperti hidup.

Hati mereka saat itu sakit, seperti terbakar api. Raganya mulai hangus. Kesadaran mereka hilang. Mereka telah menangis, namun api itu tak padam juga. Disini tak pernah ada hujan. Disini…
jarang hujan

Seorang gadis duduk lesu di bangku café. Kakinya ia naikan ke atas bangku karena ia ingin meringkuk. Ia kedinginan. Nama gadis itu Oik.
Embun jatuh dari cangkir teh panas miliknya yang telah berembun, jatuh ke sebuah lembaran kertas dari buku berwarna putih. Di bagian atas lembaran buku itu tertulis, “Diary Oik”
Ia menarik nafas sebentar lalu melepaskannya. Asap keluar dari mulutnya. Ia pun mulai menulis.

Dinding café ini terbuat dari kaca. Yang ada di dalam dapat melihat apa yang ada di luar. Dan seharusnya begitu juga yang ada di luar. Dan aku benci pernyataan itu. “aku benci kaca itu!”

Oik menunduk dalam dingin. Bayang-bayang kelam masa lalu kembali memasuki pikirannya. Mukanya mulai pucat, beku.

Sirine polisi berbunyi nyaring memenuhi gang itu.
“Jangan coba lari! Kalian telah dikepung!” Tegas seorang polisi yang keluar dari mobil patroli.
Gerombolan preman yang ada di sana berdiri dengan tampang sangar. Tak ada rasa takut maupun terancam walau polisi sudah ikut menangani. Mereka berkumpul di satu tempat. Seperti menyembunyikan sesuatu.
Tak lama kemudian, sepasang suami istri keluar dari mobil patroli. Para preman itu menatap tajam kepada bapak yang keluar dari mobil itu. Istrinya yang takut hanya bisa mencengkram tangan suaminya. Ia gemetaran saking takutnya.
Polisi itu berseru kepada ketua dari gerombolan preman.
“Dimana anak bapak ini?” ucap polisi itu dengan tegas, sambil menunjuk bapak yang keluar tadi.
“Heh! Mana kita tahu! Kenapa nanyanya ke kita?!” balas sang ketua preman tak kalah keras.
Polisi itu mengabaikan perkataan sang ketua preman dan meneruskan, “Kami tahu kalian yang menyembunyikannya!”
“Kita nggak tahu! Kalo mau, cari aja n’diri! Paling anaknya udah kelindes mobil terus mati!”
“Nggak!!! Oik belum meninggal!” Ibu yang dari tadi diam langsung membantah para preman. Suaranya serak, hampir habis.
“Oik belum meninggal, Pak!! Aku tahu! Aku ini ibunya…” kata ibu itu lagi. Mulutnya ikut gemetar sampai kalimat yang ia ucapkan tidak jelas.
“Ini?” Tiba-tiba ketua preman itu menarik seorang gadis kecil dari dalam kerubunan anak buahnya.
“Ini anak kalian?!” Gadis itu berteriak minta tolong. Ia menangis sekeras-kerasnya.

Sebelum bapak itu sempat menjawab, terdengar suara tembakan pistol mengenai kaca mobil patroli. Salah seorang preman tanpa segan melakukannya. Dalam detik itu juga, terjadi perkelahian antara para preman dengan polisi.

Polisi di sana hanya dibekali dengan peralatan pistol dan badan kekar. Dan mereka kalah telak dengan para preman, yang tak hanya berjumlah banyak, dilengkapi pistol dan badan kekar, ditambah kemampuan bela diri yang tinggi. Para polisi itu bahkan tidak tahu, bagaimana bisa para preman itu melakukan bela diri yang sempurna. Apakah mereka belajar dari seseorang?

Di tengah perkelahian yang sengit, diam-diam sang ketua dari preman itu memojokan sang bapak. Ia berbisik, “Jika kau mengakui anak itu, kami tidak akan segan-segan membunuhmu,” ancam si preman.
Mendengar acaman sang ketua preman, nyali bapak itu langsung kendur. Dan dengan satu kalimat, bapak itu menyelesaikan perkelahian.

“Bukanhh!” seru bapak itu ngos-ngosan. “Anak itu bukan anak kami!”
Sang ibu kaget setengah mati mendengarnya. “Bilang apa kamu, Pak?! Coba ulang lagi! Anak itu jelas-jelas Oik!!” sang ibu menangis tersedu-sedu. Sementara sang bapak hanya tertawa aneh.
Sesungguhnya bapak itu hanya ingin menekankan pernyataan bahwa ‘anak itu bukan anaknya’. Tapi terlalu dibuat-buat. Jelas ia tidak rela melepas anaknya, darah dagingnya sendiri. Namun pada akhirnya itu semua berakhir pada sebuah kesimpulan. ‘Bapak itu lebih mementingkan dirinya sendiri dibanding anaknya.’


Beberapa menit kemudian, polisi telah hengkang dari jalan tadi. Suami istri tadi ikut pergi bersama polisi dan meninggalkan anak kecil itu sendiri, kebingungan.

“Bah!… Orang tua payah!… Diancam segitu aja udah menciut. Padahal aku cuma bercanda!! Ha ha ha!..” Ketua preman itu tertawa terpingkal-pingkal sampai terbatuk. Anak buahnya juga ikut tertawa sambil sesekali memegang perut mereka yang melilit karena terlalu keras tertawa.
“Mau diapain nih anaknya?..” seru ketua preman itu sambil menarik kerah baju Oik ke atas.

Anak buahnya hanya tertawa renyah. Toh pada akhirnya semua keputusan berada di tangan ketua. Sang ketua preman menggeret masuk Oik kedalam sebuah bangungan. Sebuah Café yang sedang tutup namun tetap terlihat antik.

Ternyata café itu adalah café miliknya. Benar-benar sulit dipercaya bahwa preman-preman itu adalah orang yang mengelola café.
“Bisa kerja apa kamu?” tanya si ketua preman.
Oik hanya diam. Saking lamanya membuat preman itu bertanya lagi.
“Heh! Tuli apa kamu?! Bisanya apa?!”
“Oik nggak mau kerja di sini!” akhirnya oik berbicara.
“Udahlah! Kamu nggak usah bantah!”
“…nyanyi,” jawab Oik lirih.
“naik ke panggung sono!” suruh si ketua preman.


Oik menghentikan memorinya yang terlalu pahit. Namun ia tidak dapat memungkiri bahwa kenangan-kenangan itu selalu menghantuinya sampai sekarang. Kenangan yang makin memahit dengan dirinya mengetahui bahwa tak hanya meninggalkan dirinya, orang tuanya juga masih diteror oleh preman sampai sekarang karena sang Ibu tidak mau merelakan Oik kepada preman-preman itu.

Entah apa yang terjadi pada mereka sekarang. Hal yang paling buruk pun dapat terjadi pada mereka. Walau dihatinya telah tertanam kebencian yang mendalam, namun dalam lubuk hatinya, masih ada keinginan untuk bertemu. Meskipun hanya sekali.

*Klining Klining…*
Tiba-tiba bel yang digantung di pintu masuk café berbunyi. Membuyarkan semua memori yang tadi Oik resapi. Café baru buka dan rombongan pelanggan berebutan masuk. Kini, mereka telah memenuhi area café.
“Hey! Jangan diam saja disana! Pelanggan sudah menunggu!” seru pemilik café. Ya, ketua dari gerombolan preman yang dulu.

Dan Oik, sampai sekarang masih bekerja di café itu. Walaupun bayaran yang diberikan oleh ketua preman itu tak sepadan dengan apa yang Oik kerjakan, namun Oik tetap bersyukur. Setidaknya cukup untuk membayar tempat tinggalnya. Suatu kos tak terlalu jauh dari café itu.

Café itu sudah ramai sebelum Oik muncul. Tapi akan lebih ramai lagi kalau Oik ada di sana, bernyanyi untuk para pelanggan.

Oik menutup bukunya dan memasukan buku itu ke tas kecil miliknya. Ia berdiri dengan lesu, mencoba untuk tersenyum kepada pelanggan yang ia lewati. Sayang senyuman itu sungguh berbeda dari hatinya. Ia naik ke panggung, menatap keluar café. Di saat itulah pemandangan masa lalu yang menyakitkan terulang kembali.

Dulu, dari dalam cafe, ia melihat orang tuanya sendiri berjalan meninggalkannya. Tanpa satu ucapan selamat tinggal. Tanpa tatapan kasih sayang. Mereka hanya melewati café itu begitu saja. Kadang ia berharap kalau ia tidak dapat melihat. Andai saja dinding café itu tidak tembus pandang, ia tidak harus melihat pemandangan itu. Yang ia harapkan hanya satu. Saat orang tuanya meninggalkan dirinya begitu saja, tanpa kata selamat tinggal, ia harap itu artinya mereka dapat bertemu lagi lalu hidup bahagia untuk selamanya.

“Nyanyi apa?” tanya Oik pada ketua preman.
“Ya terserah kamu, lah” Ketua preman itu menjawab tak peduli. “Yang kamu pikir sesuai sama hati kamu. Yang penting pelanggan terhibur!” lanjutnya.
Oik mengangguk datar. Musik mengalun dan ia pun mulai bernyanyi. Ia selingi beberapa bagian dengan nada-nada falset, kemampuan utamanya yang paling membuat pengunjung terkesan. Improve yang tak kalah bagus juga membuat para pengunjung terkesima.

- ADA CINTA –

ucapkanlah kasih satu kata yg ku nantikan
sebab ku tak mampu membaca matamu
mendengar bisikmu
nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu

mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan

mengapa sulit mengaku cinta
padahal ia terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada

Duar!

Tiba-tiba petir menggelegar. Membuat Oik lumayan terkejut. Tepat saat petir itu menggelegar, hujan turun semakin deras. Suara alunan lagu dari atas panggung hampir tak terdengar. Oik sempat lupa lirik sebentar. Namun ia segera melanjutkannya. Untungnya tidak ada pelanggan yang protes.

nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu…

“Dah, Agni, Iyel! Sampai ketemu besok yah!” seru Rahmi dari luar kelas.
Rahmi dan Obiet sudah harus pulang. Orang tua Rahmi baru saja menjemput Rahmi dan kebetulan rumah Obiet searah dengan Rahmi, jadi Obiet ikut Rahmi. Sementara Gabriel dan Agni tinggal berdua di sekolah.
Agni duduk santai di meja depan sambil memainkan hp nya. Ia mulai bosan karena lama menunggu hujan reda. Gabriel menenteng tas-nya dan duduk di sebelah Agni. Setelah beberapa menit kemudian baru Gabriel berdiri dan membuka pembicaraan.
“Eh, udah ngerjain pr MTK belum?” tanya Gabriel.
“Hah?.. oh, udah” jawab Agni singkat lalu kembali pada hp-nya.
“Emm… boleh liat nggak?” tanya Gabriel lagi.
“Ooo…. intinya mau nyontek?” Agni bertanya, menebak dengan yakin. Lalu terbalas oleh cengiran Gabriel yang malu.
“He he… iya. Boleh ya, Ag… kamu kan jago MTK. Baik… mau dong bantu Gabriel” rayunya dengan ‘puppy dog eye’
“Terserah deh.”

Agni berdiri dari meja, meraih tasnya sambil berhadapan dengan Gabriel. Tasnya ia buka dan ia mulai mencari buku MTK-nya. Jaman sekarang anak SMP bukunya sudah banyak sekali. Paling sedikit tiga, buku cetak, buku tulis, dan buku Lks. Ditambah lagi kalau gurunya ingin buku tulisnya ada 2. Alhasil butuh kerja keras untuk mencari buku MTK itu.

Saat Agni sedang kebingungan mencari, Gabriel memperhatikan kalung yang ada di leher Agni. Tidak biasanya kalung itu terlihat, biasanya selalu tertutup oleh baju Agni. Dan disaat itu pula, suatu perasaan merasuki pikiran Gabriel. Ia tak tau apa rasa itu. Yang pasti rasa itu lama-lama makin besar dan tak terkendali.
Agni tidak menyadari apa yang terjadi hingga Gabriel menyebut namanya.
“Ag…”

Agni tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menoleh ke Gabriel. Tiba-tiba ia merasa ada rasa takut di dalam hatinya. Gabriel melangkah lebih dekat ke Agni. Agni tidak tau apa yang ingin dilakukan Gabriel. Sempat ia memanggil nama “iel” sekali. Tapi tak ada reaksi apapun. Gabriel masih mencoba mendekatinya. “Apa iel mau meluk aku?” tanya Agni dalam hati. Ia ingin mendorong Gabriel, namun dirinya seperti kaku. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasa takutnya makin besar. Namun ia bimbang apa harus menangis atau tidak. Ia sadar, Gabriel tidak hanya ingin memeluknya. Lebih dari itu. Dan Agni membiarkan Gabriel melakukan itu. Agni membiarkan Gabriel menciumnya.

Agni shock. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tadinya Agni ingin mendorong Gabriel, tapi tepat saat itu juga Gabriel menciumnya. Dalam seketika, tangannya lemah. Seluruh tubuhnya lemas. Ia akhirnya menangis. air mata telah membanjiri pipi Agni. Lepas dari itu, Gabriel masih belum melepaskan dirinya. Hingga akhirnya sang petir mengambil alih…

Duar!

Jendela dan pintu terbanting karena angin yang terlalu besar. Hujan kini semakin deras. Sekolah itu masih sunyi. Tidak ada tanda-tanda orang lewat di lantai dasar maupun atas. Namun di lantai dua…

Brak!

Pintu kelas terbuka. Agni berlari sekencang-kencangnya. ia tidak memperdulikan apa yang ada di belakangnya. Bahkan ia melupakan tasnya. Gabriel berulang-ulang memanggil Agni tapi itu tak ada gunanya. Agni telah pergi. Gabriel memukul papan tulis dengan keras, “Shi*”. Ia menunduk, merasa menyesal atas apa yang baru saja ia lakukan. Kenapa dirinya bisa lancang seperti itu? Memalukan!

Nafas Gabriel sontak tak beraturan. Tiba-tiba dadanya sesak, pandangannya kabur. Gabriel merasakan sakit yang baru sekali ini ia rasakan, sampai akhirnya ia jatuh tergeletak di lantai.

Agni turun dari tangga dan berlari keluar dari sekolah. Derasnya hujan jatuh di kepalanya. Bajunya basah kuyup dan Agni tidak memperdulikan itu. Agni hanya berlari, menjauh, pergi dari seseorang yang dulu ia percayai namun sekarang membuatnya ragu dan kacau, sampai akhirnya Agni berhenti di sebuah gang kecil. Ia berteduh disana. Air matanya masih mengalir deras, tak kalah dengan hujan yang turun saat itu. Ia tak percaya apa yang baru saja terjadi. Agni ingin pulang, tapi tidak ke rumahnya. Di rumahnya ia hanya mendapatkan kesepian. Ia ingin pulang…

mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan

mengapa sulit mengaku cinta
padahal ia terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada

……………..

So how???

Comment! Comment!~~

Saniyyah Ardina K.

Satu Hati Cakka Notes : Cinta=Coklat (link)

Ceritanya sweet, Chemistrynya sweet, Coklat + eskrimnya sweet, Cagninya so sweet… Owh… Everything in the story is so sweet…

Check out this link. Satu hati Cakka notes : Cinta=Coklat

I like it soo much!!
Buat yang mau baca cerita yang full of sweetness thing. Terutama yang mau nginget-nginget tentang valentine. Ketik link itu yah…

Cerita di link itu dibuat oleh Nicky di CGL fansite. Happy Reading.. ^_^

Maiko & Samurai ~ sebuah cerpen

Oke! Hai semua! lama gak jumpa.
Aku ada cerpen nih.. dibikin kira-kira 3 hari kali ya??

Oh iya, ini adalah sebuah cerpen yang mengisahkan tentang 2 kebudayaan jepang yang bisa dibilang mendunia yaitu samurai dan geisha. yah.. semoga aja pada suka yah, pada baca dengan akhiran kata puas, dan bisa mengambil amanat dari cerita ini.

BTW, setelah cerpen ke-2 ini tertulis, aku kayaknya mulai sadar, kalau aku bikin cerpen pasti halamannya selalu banyak. Maiko dan samurai ini kalau di ms word 2007 bisa mencapai 14 halaman. itu pun dengan font size 11. Ha ha… Well, itu lah aku! And we have to love our self!

Keterangan
Cerita is all made by: Saniyyah Ardina Khoirunnisa
Tokoh utama: Chaka (???) > Cakka, Aguni (???) > Agni, Taka (??) > Elang

And happy reading~~

Maiko & Samurai

Hari menjelang malam di suatu kediaman seorang samurai. Burung-burung mulai berterbangan pulang ke sarang mereka. Lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan. Namun pemilik rumah itu, Kirikabu, samurai yang sudah memiliki keluarga, masih tetap berada di halaman rumah bersama anaknya. Dari siang ia terus mengajarkan anaknya menggunakan pedang. Anaknya baru saja berumur 13 tahun seminggu yang lalu, dan sudah melakukan upacara senpuku. Sebuah upacara yang dilakukan terhadap anak samurai yang sudah beranjak 13 tahun. Kini anaknya sudah dapat diajarkan menggunakan katana dengan benar. Dan mulai diajarkan untuk menjadi samurai dewasa.

“Hya! Ha! Ha! Hh… hosh hosh..”

“Ayo! Ayunkan yang benar! Katanya mau jadi samurai handal”

Kirikabu terus berseru menyemangati anaknya agar berusaha lebih keras. Namun itu semua sepertinya percuma sekarang. Anaknya, Chaka sudah kewalahan untuk melakukan semua keinginannya. Untuk mendengarnya saja mungkin
tidak bisa. Tubuhnya sudah penuh dengan keringat. Rambutnya lepek, dan ia mungkin akan jatuh sebentar lagi.

“Sudahlah, Ayah. Memangnya ayah tidak lihat muka Chaka sudah teler begitu. Sebentar lagi dia juga pingsan..” seru seorang laki-laki yang merupakan kakak dari Chaka, yaitu Taka.

Chaka menunduk sejenak, mengendalikan nafasnya yang kacau. Katana berbalut kain yang ia pegang pun ia tancapkan ke tanah sebagai tumpuan.

“Kak Taka benar, Yah… aku sudah capai.” keluh Chaka pada ayahnya, Kirikabu.

“Makanan sudah siap. Ayah dan Chaka mandi saja dulu. Aku akan ada di ruang tamu saat kalian sudah selesai” kata Taka mengakhiri pembicaraan. Ia berbalik dan masuk lagi ke dalam rumah.

Akhirnya Kiribabu memutuskan untuk mengakhiri latihan untuk hari ini. Ia juga sadar kalau hari sudah menjelang malam. Seharusnya keluarganya berada di dalam untuk berbincang bersama sambil menyantap makan malam. Membicarakan tentang hal-hal ringan yang terjadi dalam kehidupan ini. Hingga akhirnya semua akan kembali ke kamar masing-masing dan tertidur lelap.

Chaka berjalan gontai ke dapur rumah. kakinya bergesekan dengan lantai kayu dan menimbulkan suara berisik yang tak terlalu keras. Taka yang sedang mengambil minum di dapur pun menegur Chaka yang ia anggap mengganggu.

“Hei, kalau jalan kakinya jangan diseret. Tidak enak didengarnya..” tegur Taka. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat adiknya yang belum mandi.

Chaka masih saja menyeret kakinya dengan pandangan loyo ke depan. Ia seperti sedang sakit parah.

“Kau kurang tidur ya?… sakit?” tanya Taka heran.

Chaka masih tidak menanggapinya. Ia lalu menghempaskan dirinya ke kursi kayu di dekat meja dapur dan meletakan tangan beserta kepalanya di sana. Dan tentu saja masih dengan tampang loyo.

“Haah… kurasa ayah terlalu berat memberikan latihannya padaku. Aku kan baru senpuku seminggu kemarin. Masa latihannya sampai segitu?… terus saja dari pagi sampai malam” keluh Chaka frustasi.

“Namanya juga ayah. Kemauannya pasti harus tercapai. Lagi pula, ayah memang sudah menganggap kalau kau telah dewasa. Jadi wajar saja porsi latihannya sebanyak itu” kata Taka.

“Tapi ini berlebihan. Kakak saja tidak sampai segitunya kan?” keluh Chaka lagi.

“Kau kan tampan, Ka. Jadi ayah berpikir, akan sangat mengecewakan kalau anak samurai tampan sepertimu tidak bisa bertarung dengan baik” balas Taka mengutarakan pendapatnya.

“Tapi aku tidak tahan dengan semua tekanan ini. Hah… Lama-lama aku bosan harus jadi samurai” Chaka mengacak-acak rambutnya sendiri.

Taka lumayan kaget saat Chaka berkata kalau ia bosan jadi samurai lagi. Memang perkataannya seperti hanya bercanda dan mengeluarkan keluh kesahnya selama masa latihan tadi. Pokoknya sesuatu ucapan yang tidak benar-benar dikatakan dengan sungguh. Mungkin hanya kiasan, tapi tetap saja itu tidak menyenangkan untuk didengar. Kirikabu tentu akan sangat kecewa jika mendengar hal itu. Dan satu lagi, menurut Taka, seorang samurai harusnya juga bisa menjaga sikap bicaranya. Mungkin akan berbahaya jika kita tidak menjaga omongan kita dan berkata asal-asalan.
Itu bukan sifat samurai sejati.

“Kau tak seharusnya berkata seperti itu..” kata Taka menasehati.

“Tapi aku memang sudah bosan dengan semua latihan ini..” Chaka terus mengeluh tanpa menyadari kesalahannya.

“Hati-hati..” kata Taka kepada Chaka. Kata-kata itu begitu singkat sampai Chaka tidak mengerti artinya.

“Apa maksud kakak?” tanya Chaka.

Taka pun mendekati Chaka dan berkata. “Lidahmu bisa setajam katana di waktu-waktu tertentu. Kadang bisa menyayat hati seseorang tanpa menyentuhnya sedikit pun. Dan itu tidak baik”

“Hah?” Chaka masih tidak mengerti.

“Sudahlah.. makin lama aku menjelaskan kau malah makin tidak mengerti. Aku mau ke ruang makan. Cepat mandi! Kalau tidak makananmu aku habiskan”

Beberapa menit kemudian, Kirikabu, Taka dan juga Chaka sudah berada di ruang makan. Mereka siap menyantap makan malam yang telah tersaji di meja makan. Chaka masih tidak mengerti akan kata-kata Taka tadi di dapur. Ia
hanya melupakannya begitu saja.

Mereka semua pun mulai menyantap makan malamnya. Semua kelihatan lahap. Apalagi Chaka, itu merupakan hari paling melelahkan baginya. Sayang.. di tengah waktu makan-makan itu ada seorang tetangga yang mengetuk
pintu pagar rumah. Ia melaporkan kalau 2 orang teman Kirikabu yang sesama samurai, Naito dan Tsuyo, baru saja pergi ke salah satu rumah geisha di dekat sana. Naito dan Tsuyo memang tipe samurai yang gampang terhasut oleh nafsu. Padahal kemarin mereka sudah berjanji kepada Kirikabu, tidak akan mengunjungi rumah geisha lagi. Di sana banyak hal-hal yang dapat membuat seorang lelaki lupa waktu. Akhirnya Kirikabu sebagai sesama samurai yang masih waras, harus menjadi orang yang menjaga mereka kalau sampai mereka kelewatan.

“Baiklah… aku akan kesana setelah aku selesai makan” kata Kirikabu ke tetangganya itu.

“Kemana?” Chaka yang tidak sengaja mendengar langsung keluar dari rumah dan mendekati ayahnya. “Tadi ayah bicara tentang apa?” tanyanya.

Kirikabu langsung mempersilahkan tentangganya untuk pulang ke rumah. Baru setelah itu ia menjawab pertanyaan Chaka. “Bukan urusanmu!”

“Loh?… kenapa?” tanya Chaka penuh keingintahuan. Ia berjalan mengikuti ayahnya yang berniat masuk ke dalam rumah.

“Karena kamu masih kecil..” Taka tiba-tiba keluar merangkul adiknya dan menjawab sendiri pertanyaan Chaka.

“Tidak!. Aku sudah besar kok. Aku kan sudah senpuku. Ayah juga menganggap kalau aku sudah dewasa, kan?” Chaka tetap bersikeras untuk mengetahui masalah ayahnya.

Kirikabu pun berjongkok dan menatap Chaka, anak keduanya itu. “Dengar… kau memang sudah senpuku. Dan aku juga sudah menganggap kau sebagai laki-laki dewasa. Hanya saja kedewasaanmu belum cukup untuk hal
yang ayah bicarakan tadi”

“Kenapa?… memang ayah mau kemana?” tanya Cakka lagi.

“Hfft… ayah mau ke rumah geisha. Menjemput teman-teman ayah di sana” jawab Kirikabu yang sudah bosan dengan sikap keras kepala anaknya.

“Aku ikut!” seru Chaka.

“Tidak boleh!” bantah Kirikabu.

“Kenapa?” Chaka tidak terima.

“Karena kamu masih kecil..” Lagi-lagi Taka yang menjawab pertanyaan Chaka, dan dengan jawaban yang sama juga.

“Aku sudah besar!…” seru Chaka pada Taka.

“Huhh… dengar!” Kirikabu menghadapkan Chaka kepada dirinya. “Rumah geisha itu bukan sesuatu yang bagus untuk dikunjungi seorang samurai. Mau samurai itu sudah besar ataupun masih kecil. Lagi
pula kau juga tidak akan mengerti apa-apa disana”

“Memang di sana ada apa?” tanya Chaka.

“Di sana ada geisha. Perempuan pemikat nafsu yang bisa membuat laki-laki lupa diri”

“Jadi geisha itu buruk?”

“Tidak. Bukan berarti geisha itu buruk. Bahkan geisha mungkin bisa disebut dengan istilah wanita sempurna”

“Maksudnya?”

“Sudah kubilang kau tidak akan mengerti..” kata Kirikabu sedikit mengeluh saking bosannya melayani pertanyaan anaknya.

“Kalau bahasa kasarnya,”wanita malam”. Tapi geisha jauh lebih terhormat dari pada itu” jelas Taka.

Chaka masih diam sambil mencerna kata-kata Taka di otaknya. “Jadi geisha pelacur?”

“Bukan… kan sudah ku bilang, geisha jauh lebih terhormat” kata Taka lagi.

Kirikabu jadi makin bosan. Ia rasa menghabiskan waktunya di sini, melayani pertanyaan-pertanyaan anaknya juga bisa dikatakan kegiatan membuang waktu. Toh, awalnya padahal dia ingin menutup informasi tentang rumah geisha dan geisha itu. Jadi ia akhiri pembicaraan itu dan segera bersiap untuk pergi ke rumah geisha.

“Sudahlah!… nanti aku malah membuang waktu. Jangan-jangan Naito dan Tsuyo sudah mabuk di sana” Kirikabu berdiri, dan bergegas keluar rumah. “Taka! jaga Chaka. Jangan sampai ia berbuat yang tidak-tidak”

“Ah… aku mau ikut..” keluh Chaka.

“Tidak boleh..” Taka sudah duluan memegang erat tangan adiknya. Akhirnya Kirikabu pun meninggalkan rumah. Taka mengajak Chaka masuk ke dalam lagi. Kalau bisa ia ingin langsung tidur, hari ini juga cukup melelahkan baginya.

Ketika Taka ingin membuka pintu rumah, ternyata kayunya macet. Karena butuh kedua tangan untuk mendorong pintu itu maka Taka melepaskan pegangannya pada Chaka baru setelah itu ia mendorong pintu rumah. Tapi ketika berbalik, ternyata Chaka sudah tidak ada di sana.

“Loh?… Chaka?”

Taka berlari ke pintu gerbang, melihat ke luar halaman rumah. Ternyata benar apa yang ia pikirkan. Chaka sudah kabur dan berlari di jalanan, mengikuti ayahnya yang pergi ke rumah geisha.

“Hoi! Chaka!… kakak tidak akan mengejarmu! Udara terlalu dingin! kakak malas jika harus berlari-lari jam segini! tidak peduli yah kalau kau hilang! itu salahmu sendiri!!..”

Taka pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Ia tau Chaka pasti akan berhasil mengikuti ayahnya. Dan jika ia berhasil, Kirikabu pasti akan mengetahui itu dan membawa Chaka pulang dan mungkin akan sekalian menghukumnya.

“Terserahlah… itu maunya sendiri..” ujar Taka.

Chaka masih berlari diantara bayang-bayang malam. Ia berlari di balik semak-semak agar keberadaannya tidak terlalu terlihat. Dan saat ayahnya sudah dekat, ia akan mengendap-ngendap tanpa diketahui sama sekali.

Hari menjelang malam. Chaka yang masih mengikuti ayahnya kini sudah sampai di jalan-jalan daerah Gion. Daerah di mana rumah geisha itu terletak. Lampu-lampu tergantung di tiang-tiang rumah. Cahayanya terang benderang, merefleksikan gemerlapnya daerah itu pada malam hari. Kereta kuda ala jepang berlalu lalang di sana. Di pinggir-pinggir jalan, banyak terlihat laki-laki bertopi dengan baju rapih dan tuxedo mereka. Dan mereka berjalan menuju ke satu tempat yang sama. Tempat yang Kirikabu tuju. Sebuah rumah geisha.

Kirikabu masuk ke dalam rumah geisha, memasuki lorong-lorongnya dan mencari 2 orang temannya, Naito dan Tsuyo. Namun ia tidak menyadari, kalau sebenarnya Chaka telah mengikutinya dari tadi. Kini Chaka berada di taman luar, tepat di sebelah lorong di mana Kirikabu berjalan. Chaka mengandalkan cahaya lampu di dalam rumah geisha untuk melihat bayang-bayang ayahnya. Hingga akhirnya ayahnya berhenti dan masuk ke sebuah ruangan di rumah geisha itu. Ruang langganan Naito dan Tsuyo di rumah geisha itu.

Chaka masih mengikuti ayahnya. Dari luar ia dengar seruan gembira dari dalam ruangan. Ituadalah Tsuyo yang tidak menyangka kalau Kirikabu akan datang ke rumah geisha ini. Yang lebih parah lagi, Naito malah mengajak Kirikabu untuk menghabiskan waktu sebentar di sini. Tadinya Kirikabu menolak, tapi karena tidak tahan melihat ekspresi memohon Naito dan Tsuyo yang sudah mabuk, akhirnya ia rela tinggal di sana untuk sementara.

Chaka mengintip ke dalam ruangan melalui celah pintu kertas yang terbuka sedikit. Terlihat Tsuyo dan Naito yang sedang bersenda gurau dengan para wanita yang berdandan putih di area muka sampai dadanya, mereka adalah geisha. Mereka memakai kimono warna-warni, namun kebanyakan memakai lapisan dalam warna merah. Bibir mereka berwarna merah cerah. rambut mereka disanggul rapi dengan jepitanberbunga sakura di kepalanya. Mereka menghidangkan minuman-minuman serta kue-kue kecil yang unik. Menjelaskan nama-nama dari kue itu, dan setelah
beberapa menit. Seorang geisha maju ke satu sisi ruangan yang luas, ditemani dengan satu orang geisha lagi yang memegang shamisen, sebuah alat musik tradisional Jepang yang tehniknya sama seperti gitar, namun bersuara seperti
kecapi.

Geisha yang maju ke depan mengambil kipasnya, ia seperti bersiap-siap untuk sesuatu. Chaka melihatnya dengan seksama, namun ia tidak sadar, ada juga sepasang mata yang melihatnya melakukan itu. Orang itumendekatinya, dan…

“Hei..”

“Hah!…”

Chaka terkejut. Ia berseru namun dengan suara kecil, hampir saja ia berteriak minta maaf, sudah mengira kalau ia tertangkap basah menguntit ayahnya sampai ke Gion. Namun ia terpana saat melihat seseorang yang tadi menegurnya dari belakang. Seorang gadis seumurannya, dengan lipstik dan eyeshadow tipis, dan kimono putih yang menawan. Memperlihatkan kecantikan naturalnya yang manis.

“Kau siapa?” tanya gadis itu.

“Ee… Sya… hh..” Cakka masih takjub untuk sejenak. Lalu ia bangun, dari posisi kagetnya dan menjauh dari celah pintu. Gadis itu masih mengikuti dirinya yang berjalan ke tengah taman.

“Siapa?” tanya gadis itu lagi.

Chaka berbalik menatap gadis itu. Ia ingin menyuruh gadis itu pergi dari sana. Gadis itu sih hanya menatap Chaka biasa, tapi malah Chaka yang tidak sanggup menatapnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya lagi.

Chaka sebenarnya masih kaget. Tapi ia memberanikan diri untuk menatap gadis itu dan membalas pertanyaannya.

“Kau juga siapa?..” Chaka malah balas bertanya. *Loh… Chaka kok ngawur? cie.. salting*

“Hah?”

“Kau juga sedang apa di sini?”

Ya.. Chaka tidak tau harus menjawab apa, hingga akhirnya ia malah melemparkan kembali pertanyaan itu pada sumbernya.

Gadis itu tetap menatap Chaka, tapi dengan pandangan heran. “Ih.. aneh..”

Chaka langsung menatap gadis itu tidak percaya. Masa ada orang yang bilang dia aneh? Tapi gadis itu malah tertawa.

“Ha ha… becanda kok. Ngeliatnya jangan gitu dong… tak usah dimasukan ke hati..” kata gadis itu ramah.

Chakka langsung mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Tapi sejujurnya ia mengagumi senyuman dan cara gadis itu tertawa. Sungguh manis dan lucu.

“Aku Aguni. Aku di sini sebagai maiko, geisha pemula” jelas gadis yang bernama Aguni itu.

Chaka masih diam. Ia hanya berkata “Oh..” dan masih bingung untuk memulai pembicaraan. Ia jarang menghabiskan waktu dengan anak-anak lain seumurannya, terutama perempuan.

“Siapa namamu?” tanya Aguni. Chaka masih kaku, tapi ia harus menjawab kan?

“Chaka” jawab Chaka singkat.

Dari matanya terlihat kalau Aguni sepertinya memang berniat untuk mengenal Chaka. Chaka sebenarnya masih agak canggung, tapi tidak mungkin kan ia mendiamkan Aguni begitu saja.

“Jadi… apakah kau saudara dari Naito dan Tsuyo?” tanya Aguni membuka pembicaraan.

“Bukan!” bantah Chaka langsung. Ia segera membungkuk dan berjongkok di tepi kolam tengah. Kata-kata ayahnya cukup mendeskripsikan kalau Naito maupun Tsuyo bukanlah samurai yang baik. Ia tidak mau disamakan dengan mereka. “Kalau disebut saudara, berarti kan mirip” pikirnya.

“Keluargaku tidak seperti mereka” tambah Chaka agak dingin.

Aguni ikut berjongkok disampingnya, memainkan air kolam yang beriak tenang. Ikan-ikan ikut berenang mendekatinya, mengikuti gerakan tangannya yang begerak ke kanan dan ke kiri dengan gemulai. Chaka terkesan. Entah mengapa aura Aguni benar-benar besar, namun menenangkan dan menghangatkan.

“Ya… ku kira juga begitu. Kau pasti lebih baik dari pada mereka” kata Aguni menyanjung Chaka. “Jadi bagaimana bisa kau sampai di sini?” tanya Aguni lagi.

“Aku mengikuti ayahku” jawab Chaka masih dengan ekspresi dingin.

“Paman Kirikabu?…” tebak Aguni. “Dia memang samurai terhormat. Kelakuannya sopan, emosi terkendali dan tidak gampang terhasut oleh apapun” tambahnya.

“Ya… itu ayahku” Chaka mengangguk. Ia merasa senang ayahnya dipuji. Hatinya mulai dapat berbaur dengan keadaan ini. “Bagaimana kau bisa tau?”

“Yang di ruangan saat itu kan hanya mereka… lagi pula, paman Kirikabu jarang datang ke sini. Paling ia hanya datang jika Naito dan Tsuyo membuat masalah. Aku juga baru melihatmu di sini. Dan aku dapat merasakan aura samurainya di dirimu.”

Lagi-lagi Chaka merasa tersanjung. Mungkin Geisha memang perempuan sempurna. Namun di otaknya tetap saja masih ada pikiran kalau Geisha adalah wanita penghasut yang buruk.

“Boleh aku bertanya?” tanya Chaka iseng. Ia memberanikan diri menatap Aguni yang masih bermain dengan ikan-ikannya.

“Tentu saja boleh” Aguni menjawab dengan senang hati. Ia menatap Chaka sambil tersenyum. Chaka yang tidak tahan dengan senyumannya pun langsung mengalihkan pandangannya ke langit.

“Apa sebenarnya Geisha itu?” tanya Chaka. “Mengapa kau ingin menjadi salah satu dari mereka?”

Aguni tersenyum. Ia menikmati angin malam sejenak, menghirup wangi-wangi malam sebelum benar-benar membuka pikirannya.

“Geisha itu special. Tidak semua wanita bisa melakukan apa yang geisha bisa lakukan. Dan di samping semua itu… aku ingin menghibur orang” jelas Aguni dengan tenang.

Chaka masih belum puas dengan penjelasan Aguni, maka ia bertanya kembali.

“Memang apa yang bisa geisha lakukan?” tanyanya.

Aguni tersenyum manis. Ia berdiri dan meraih kipas kertasnya.

“Kami para maiko belum bisa disebut geisha. Jadi aku belum benar-benar bisa melakukan apa yang geisha biasa lakukan. Geisha seniorku berkata, inti dari seorang geisha adalah penampil sejati..” Aguni mulai memainkan kipasnya. Dengan sangat cekatan, ia tekuk lututnya ke depan, dan ia gantung kipasnya di jari tengah, telunjuk dan ibu jarinya. Lalu ia goyang kipas itu ke kiri dan ke kanan.

“Mereka selalu menghadirkan suatu seni di dalam gerakan dan tingkah laku mereka. Untuk itu kami harus giat berlatih” Masih dalam posisi sebelumnya, dengan cepat ia putar posisi kepasnya seberti piring yang terbelik, dan ia putar kipas itu dengan 1 jari telunjuk saja.

“Kita di ajari menari, bernyanyi, dan memainkan berbagai alat musik, contohnya shamisen” Ia berputar dengan tangan yang terus memutar kipas. Sampai akhirnya satu putaran terlewati.

“Kami juga harus terbiasa untuk berjalan menggunakan sandal tinggi. Dan geisha seniorku pernah berkata,..”

*SRAK!*

Kipas itu bergenti berputar, terlontar sekitar 30 cm dari tangan dan tertangkap dengan mulusnya di tangan Aguni. Aguni tersenyum simple, tetap manis, namun lebih Anggun.

“…Seorang geisha sejati, dapat menghentikan langkah seorang pria,.. hanya dengan 1 lirikan mata”

Aguni melirikan matanya ke Chaka. Sangat tajam, jauh ke dalam diri Chaka. Keadaan hening untuk sejenak. Sepertinya alam pun ikut terhipnotis. Lalu Aguni tersenyum riang, seketika itu pun Chaka terbangun dari rasa kagumnya akan tarian Aguni tadi.

“Kau belum melihat bagaimana geisha seniorku menari. Ia jauh lebih hebat…” ungkap Aguni dengan jujur.

Chaka agak melongo. Jauh lebih hebat?… baginya tarian tadi saja sudah sangat hebat.

“Kalau begitu… kata-kata ayahku lumayan benar dong?… Geisha itu wanita sempurna” ujar Chaka.

“Yah… kau beloh memanggil kami seperti itu… sebaliknya.. bagiku, seorang samurai adalah laki-laki sempurna” Agni balas berujar. Sepertinya pelajaran ‘Art of Conversation’ dari geisha sudah sangat ia kuasai ilmunya.

“Lalu bagaimana dengan samurai?… kau calon samurai kan?… apa yang kau pelajari? sulitkah itu?” tanya Aguni.

“Yah… lumayan…” Chaka semakin tenggelam dalam pembicaraan itu. Saat ini tanpa masuk ke rumah geisha pun rasanya ia sudah dapat merasakan pelayanan eksklusif geisha-geisha di Gion. Malah ia dapat menikmatinya dengan ditemani cahaya bulan purnama. Suara-suara binatang malam, dan gemericik air kolam yang beriak-riak kecil.

“Menjadi samurai artinya kita harus kuat. Harus berani berkorban… dan berani mati..” kata Chaka memulai ceritanya. Aguni memperhatikan dengan seksama, dan Chaka melanjutkan.

“Setelah seorang anak samurai laki-laki senpuku, kami mulai di latih menggunakan katana. Dan bukan hanya katana, kami juga belajar bagaimana caranya memanah dengan baik, menunggang kuda, memakai senjata tongkat dan beberapa tehnik pertahanan diri lainnya. Di dalam pengajaran itu juga tersisip beberapa aspek kehidupan, seperti kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dan
yang lainnya. Tapi aspek yang paling mendominasi adalah aspek spiritual. Ayahku percaya kalau katana adalah roh dari dirinya sendiri.” jelas Chaka panjang lebar.

“Wow…” Aguni menunjukan rasa kagumnya. Chaka tersenyum bangga, hatinya puas dapat membuat Aguni kagum juga. Tadi kan ia sudah dibuat kagum oleh cerita geisha Aguni.

“Samurai memang kuat..” ucap Aguni dengan nada kagum. Ia memejamkan mata untuk beberapa saat, lalu tertawa kecil karena sesuatu yang baru saja ia bayangkan tadi.

“Chaka…” panggil Aguni.

“Ya?” Chaka menjawab dengan mata yang masih memandang ke langit.

“Kalau diperhatikan… sebenarnya geisha dan samurai hampir sama ya?…” kata Aguni. Nada ia berbicara seperti meminta persetujuan Chaka.

Chaka tidak terlalu mengerti tentang hal itu. Memang apa samanya Geisha dan Samurai? Baginya samurai malah lebih kuat dari geisha. Jauh lebih kuat. Dan seiring dengan pikirannya itu, egonya mulai muncul.

“Ah tidak…” balas Chaka. “Samurai jelas-jelas berbeda dari geisha. Samurai jauh lebih kuat.” terangnya pasti.

“Itu masalah gender. Seorang pria terutama samurai pasti mempunyai fisik yang kuat. Tapi Geisa juga kuat kok. Bukan fisik… tapi mental dan hatinya.” Aguni mengubah posisi duduknya. Ia menekuk lututnya ke depan dan melipat kedua tangannya di atas lutut.

“Tapi mereka tetap saja berbeda” kata Chaka tegas.

“Memang ada yang berbeda. Tapi ada juga yang sama kan?” sanggah Aguni.

“Tidak. Geisha tidak mungkin bisa seperti samurai!..” kata Chaka tegas.

“Oh… lalu bagaimana dengan samurai? apa kau pikir kalian bisa jadi geisha?” balas Aguni ketus. Wajahnya berangsur murung. Ia mulai bosan pada sikap Chaka yang keras kepala. Dan akhirnya ia hanya membenamkan kepalanya pada kedua tangan yang berlipatan.

Chaka tidak mengatakan sepatah kata pun. Aguni yang merasa sebagai calon geisha jadi merasa bersalah. Seharusnya ia tidak boleh membuat lawan bicaranya kesal.

“Maaf kalau aku kelewatan. Aku hanya ingin berkata kalau sebenarnya ada beberapa aspek di ajaran samurai yang sama dengan aspek pelajaran geisha. Misalnya aspek tata-krama, kehormatan, kesetiaan, dan kemurnian. Itu saja…” jelas Aguni masih sedikit murung.

Chaka jadi bertampang dingin. Seperti sedang tidak bisa diajak bicara. Kalau bisa pun mungkin arah pembicaraannya akan menuju ke akhir yang buruk.

“Hhh… Pokoknya yang aku tau, Geisha dan samurai berbeda” ucap Chaka masih teguh pada pendapatnya.

“Kau keras kepala!…” keluh Aguni. Kali ini ia benar-benar meluapkan kekesalannya.

“Bukan. Aku hanya mengatakan kebenarannya!” balas Chaka. Emosinya telah terpancing jauh. Kini ia mulai membentak Aguni.

“Bohong! kau hanya tidak bisa menerima kalau ada beberapa persamaan antara Geisha dan Samurai. Kau selalu ingin menganggap kalau samurai lah yang terkuat!”

“Ya! memang benar! ada masalah dengan itu?”

“Ada! kenapa kau tidak suka jika ada kesamaan antara Geisha dan samurai?”

“Karena Geisha itu buruk!” bentak Chaka keras.

Aguni tersentak kaget, matanya mulai berkaca-kaca, dan air matanya hampir mengalir.

“Geisha Itu Pelacur!!”

*SRAKK!!*

Chaka merasakan sakit di lehernya. Kipas yang tadi Aguni pakai untuk menari telah melayang ke lehernya dan mendarat dengan kasar. Membekaskan 1 goresan kecil di leher samping bagian bawah. Ia menoleh ke
samping dan Aguni telah berdiri menghadap ke dirinya. Tangannya yang tadi di pakai untuk melempar kipas kertas ke leher Chaka masih terangkat ke depan. Matanya sembab, tubuhnya kaku, nafasnya terdengar berat, dan kini hatinya
sungguh-sungguh sakit.

Aguni menangis tertahan. Ia menggelengkan kepalanya dan berkata dengan segenap perasaannya.

“Geisha menjual kemampuan mereka!.. Bukan tubuh!!”

*GRAKK!*

Pintu ruangan terbuka. Terlihat suasana ruangan yang masih penuh dengan canda, tawa, hiburan, perbincangan yang ringan dan dapat membuat kita melupakan semua masalah. Sementara di luar, yang ada hanya suasana suram. Aguni masih menangis atas perkataan Chaka yang tajam. Walaupun mereka sama-sama terkejut, namun Aguni lah yang paling sakit. Saat itu, Cihara, geisha seniornya melihat dirinya berdiri di sana, menangis tersedu dengan tampak buruk
yang tidak seharusnya dilihat orang. Dan ia makin menangis saat Oruka, rival dari Cihara duduk di sana, ikut melihat dirinya dengan wajah melecehkan. Dengan ini maka bahan tertawaan Oruka tentang Cihara akan semakin bertambah.

“Kakak…” Aguni merintih pelan. Lalu ia segera berlari dan pergi dari tempat itu.

Chaka terdiam dalam bingung. Kini ia baru mengerti apa maksud ucapan Taka sore tadi. Lidahnya saat itu memang sudah setajam katana. Bahkan lebih tajam. Ya.. sangat tajam.

Di jalan, Kirikabu dan Chaka berjalan dengan mata yang agak kuyu. Naito dan Tsuyo sudah di pulangkan duluan. Berkat perkataan Chaka tadi Kirikabu sampai harus repot-repot meminta maaf pada Cihara. Katanya Aguni sangat sakit hati mendengar kata-kata Chaka.

Chaka menutup mulutnya. Luka di lehernya masih membekas, membuatnya ingat akan kejadian tadi. Ia takut lidahnya tiba-tiba jadi tajam lagi dan tanpa sengaja menyakiti hati seseorang yang tidak bersalah.

“Hei..” panggil Kirikabu.

Chaka masih tetap diam. Ia terus saja berjalan dengan pandangan kosong.

“Jadi apa yang kau dapat di rumah geisha tadi?” tanya Kirikabu.

Chaka langsung lesu. Tangannya meraba sisi samping lehernya bagian bawah. “Sakit…” jawabnya.

“Lalu?” tanya Kirikabu lagi.

“Lidahku sudah setajam katana…” jawab Chaka mengulang perkataan Taka.

Kirikabu mengangguk. Setidaknnya ada satu pelajaran yang Chaka dapat di sana.

Chaka dan Kirikabu akhirnya sampai di rumah. Taka sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah penuh semangat. Tentunya semangat untuk mendengar hukuman apa yang akan Kirikabu jatuhkan pada Chaka. Namun apa yang ditunggu Taka akhirnya tidak akan datang juga. Setelah Chaka dan Kirikabu masuk Kirikabu malah menyuruh Chaka untuk segera masuk kamar dan tidur. Karena esok ia akan latihan lagi.

“Tanpa hukuman??” tanya Taka pada ayahnya dengan penuh heran.

“Sudahlah… tanpa aku hukum juga ia sudah mendapat hukuman dari rasa bersalahnya. Oh ya… mungkin kau mau membantu mengobati luka di lehernya. Tadi ia sempat terkena sayatan kipas dari salah satu maiko di Gion”

Kata-kata tersembunyi ayahnya membuat Taka penasaran akan kejadian di rumah geisha tadi. Akhirnya ia pun mendatangi Chaka dan menanyakan kejadian apa saja yang terjadi di sana. Setelah dibujuk akhrinya Chaka mau
menceritakannya, tentu sambil diobati lehernya oleh Taka.

“Jadi… apa yang seharusnya aku lakukan?” tanya Chaka setelah ia selesai menceritakan keseluruhan cerita di Gion kepada Taka.

“Ya… seharusnya sih kau meminta maaf..” jawab Taka simple.

“Tapi bagaimana caranya?… mungkin dia tidak akan mau bertemu denganku lagi. Kalaupun mau… bagaimana bisa aku kembali ke rumah geisha itu?” tanya Chaka kebingungan. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Hm…” Taka ikut berpikir. Keduanya sama-sama mencari solusi agar bisa pergi ke rumah geisha. “Sepertinya kita harus pergi tanpa sepengetahuan ayah…”

“Kita?… maksudnya kakak juga mau ke Gion?” tanya Chaka tidak percaya.

“Hei!.. jangan salah sangka dulu. Aku ke Gion bukan ingin ke rumah geisha. Aku hanya ingin melihat-lihat keadaan di sana. Siapa tau aku bisa membeli sesuatu di salah satu toko di Gion. Aku butuh pedang kecil baru
untuk keperluan latihan”

“Oh… bagus, deh! berarti kalau aku ketahuan, kakak juga ikut dihukum!.. Ha ha ha!”

“Haa! dasar kamu! bisanya ngetawain orang..”

Akhirnya Chaka dan Taka sepakat kalau esoknya mereka akan pergi ke Gion sekitar jam 7 malam. Taka beralasan kalau salah satu temannya di daerah sekitar Gion memintanya untuk berkunjung sambil memperlihatkan beberapa tekhnik bermain pedang. Dan Chaka juga sekalian diajak agar bisa ikut belajar. Tanpa disangka-sangka, ternyata Kirikabu percaya begitu saja. Malam itu ia memang kelewat capek, siangnya ia tidak membimbing Chaka latihan, melainkan pergi ke suatu tempat untuk urusan pribadi. Jadi ia hanya membiarkan kedua anaknya pergi keluar. Lagi pula ada Taka. Ia sudah cukup umur untuk tau mana hal yang baik dan mana yang tidak baik. Maka sekitar jam 19.05, Chaka dan Taka mulai berangkat menuju Gion.

Setelah setengah jam berjalan, akhirnya mereka berdua sampai di pusat kota. Chaka langsung diantar Taka ke rumah geisha kemarin. Dan kebetulan, geisha Cihara masih berada di luar, ia baru melepas sandal tingginya dan hendak masuk ke dalam. Taka mencolek pundaknya dan ketika Cihara menoleh ia langsung membungkuk sedikit, memberikan salam hormat.

“Maaf… anda geisha Cihara kan?… senior dari maiko Aguni..” kata Taka hati-hati.

Cihara mengangguk pelan. Gerak-geriknya begitu Anggun. “Ya… benar..” lalu ia melirik ke Chaka yang berdiri sambil menunduk di sebelah Taka. “Kau pasti anak laki-laki yang kemarin yang membuat Aguni menangis” ujarnya. Cihara menaikan dagu Chaka, membuat Chaka memandang wajahnya.

“Ya..” Taka mengiyakan ujaran Cihara.

Cihara tersenyum dan berkata, “Ada yang bisa ku bantu?”

“Ada.. ng… Chaka… dia ingin bertemu dengan Aguni sebentar saja. Bolehkah itu?…” kata Taka mewakili Chaka.

“Tentu saja…” Cihara menarik siku Chaka lembut. “Mari ikut ke dalam. Tadi aku mengajaknya ikut ke sini… dan dia sudah masuk duluan. Akan ku antar kau ke taman tengah. Mungkin akan lebih baik jika kau berbicara berdua dengannya di sana..” jelas Cihara tenang.

Chaka menurut saja. Cihara kelihatannya baik. Geisha yang professional sekali. Setelah Chaka dan Cihara tidak kelihatan lagi, Taka pun jalan-jalan di sekitar rumah geisha. Sesuai dengan harapannya, ada beberapa toko yang menjual barang-barang menarik. Beberapa benda kuno, hiasan, pedang-pedang, dan masih banyak lagi. Karena makanan yang ia makan tadi tidak cukup banyak, akhirnya ia membeli beberapa jajanan kue untuk mengisi perutnya yang masih kosong.

Chaka berdiri penuh harap akan kedatangan Aguni di taman ini. Ia menunduk, wajahnya yang tampan terhalangi oleh poninya yang agak panjang. Ia menutup matanya dan mengerutkan dahinya, sibuk memikirkan rangkaian kata-kata maaf yang akan ia lontarkan nanti ke Aguni.

“ehem…”

Terdengar suara deheman dari arah belakang Chaka. Persis di depan mintu keluar menuju taman tempatnya berdiri. Suara itu adalah suara seorang gadis, dan gadis itu adalah Aguni.

Chaka berbalik, menatap Aguni agak gugup. Entah gugup karena terkejut, atau gugup karena ia belum pasti dengan kata-kata maafnya pada Aguni. Yang pasti setengah dari rasa gugup itu adalah hasil dari satu sisi hati Chaka yang agak pangling melihat dandanan Aguni saat itu. Sebenarnya tidak pas juga di bilang dandanan, karena Aguni memang tidak memakai dandanan apapun saat itu. Hanya tubunya yang di balut kimono dan rambutnya yang disanggul simple. Beberapa helai rambut tersisa dan dibiarkan tergerai sampai bahu. Wajah dan kulitnya asli, tanpa ada bahan apapun yang menutupi. Sementara Chaka malah menganggap dandanan Aguni kali ini lebih manis dari pada yang kemarin. Kini
Aguni terlihat lebih muda dan manis.

“Mau apa?…” tanya Aguni. Ia bingung, dari tadi Chaka malah diam dengan ekspresi yang sedikit canggung.

“Oh!… oh… itu..” dan setelah ditegur pun Chaka akhirnya sadar. Ia menatap wajah Aguni dengan yakin dan berkata. “Aku mau minta maaf…”

Mata Aguni berkedip tiba-tiba. Ia terus mendengarkan dengan seksama.

“Soal yang kemarin…. itu… aku tidak mengatakannya dengan sengaja. Aku sama sekali tidak bermaksud menjelekan dirimu ataupun geisha lainnya… maaf… aku kelewat emosi…” ucap Chaka dengan segenap hatinya.

Aguni masih terdiam.

Chaka masih berdiri, namun sekarang ia menundukan kepalanya. Dalam posisi itu ia juga mengaku, kalau dirinya sebagai calon samurai juga merasa bersalah karena telah melanggar salah satu aspek dari pelajaran samurai yaitu tata-krama.

Lalu Chaka berlutut di depan Aguni dan menunduk sambil memohon. “aku mohon maafkan aku… aku akan lakukan apa saja agar kau mau memaafkanku…” ucapnya dengan penuh perasaan.

Aguni gigit bibir. Ia tidak menyangka Chaka akan segininya. Ia mundur selangkah dan berjongkok di depan Chaka. Lalu sambil menyentuh pundak Chaka ia berkata.

“Tidak usah seperti itu…” Aguni meraih tangan Chaka dengan lembut dan mengajaknya berdiri kembali.

Chaka masih diam dengan muka penuh rasa menyesal. Ia masih terus meminta maaf pada Aguni. Tekadnya; sebelum Aguni memaafkannya ia tidak akan pulang ke rumah.

Sementara itu, Aguni menatap Chaka dengan pandangan keibuan. Ia tersenyum ramah dan berkata. “Sudah aku maafkan kok… semuanya telah aku lupakan..”

“Eh’… hah?” Chaka kaget. Ia tidak menyangka akan dimaafkan segampang itu.

“Ha ha!…” Aguni tertawa riang melihat tampang Chaka saat itu. Melongo seakan tidak tau apa-apa.

“Jadi… sudah di maafkan?…” tanya Chaka meyakinkan.

“Ya!… sudah..” jawab Agni masih dengan senyum riang. Matanya menyipit membuat dirinya kelihatan manis sekali.

“A.. aku kira permohonan maaf tadi belum cukup…” kata Chaka jujur.

“Ah… itu sih sudah lebih dari cukup… aku saja tidak menyangka kau yang kemarin bicaranya agak kasar itu bisa merangkai kalimat maaf seperti tadi… Lagi pula.. asalkan kata-kata itu diucapkan sepenuh hati, mau
sependek apapun kata-katanya pasti pesannya akan sampai ke hati kita..”

“Ja… jadi… sudah dimaafkan??…” Chaka masih saja tidak percaya.

Aguni tidak perlu lagi berkata apapun. Cukup dengan senyuman manis dan 1 kali anggukan, ia menyampaikan kata ‘Ya’.

“Hh’… Yes!!” Chaka kegirangan. Pasalnya kalau sampai ia tidak di maafkan oleh Aguni, mungkin ia tidak akan bisa tidur untuk malam ini dan untuk malam-malam selanjutnya. Akhirnya target kecil itu telah tercapai.

Chaka maju selangkah mendekati Aguni, perasaan senangnya membuatnya tidak sadar. Ia hampir membawa Aguni ke dalam pelukannya. Tapi dorongan kecil di dadanya dari Aguni membuat ia sadar dan mundur kembali.
Langsung salting deh…

Cakka tiba-tiba gugup lagi. Ketika ia mundur Aguni sudah menundukan kepalanya dan berdiri diam di tempat. Chaka bingung, kok belakangan ini ia selalu salah. Ia takut jangan-jangan gerakan mendadaknya itu membuat Aguni jadi kurang nyaman berada di dekatnya. Tanpa sadar ia pun juga ikut menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau bilang maaf lagi.. malu… Tapi apa yang mau di katakan lagi coba?

“Maaf…” kata Chaka akhirnya.

Aguni tersenyum simple dan mengangkat kepalanya. “Tak apa…” lalu Ia melangkah ke depan 1 kali, mendekati Chaka. “… Aku anggap itu sebagai tanda persahabatan..”

Chaka tersenyum. Ia tambah lega karena Aguni tidak hanya memaafkannya tapi juga memperbolehkannya menjadi sahabat.

“Tapi..” Aguni menambahkan kalimatnya. Chaka langsung bersiap untuk mendengar kelanjutan dari kata-kata Aguni itu. Biasanya syarat seorang gadis tidaklah mudah, apalagi yang hampir terpeluk.

“Maukah kau berkunjung lagi ke sini… saat kita sudah dewasa… dan aku sudah menjadi geisha… Aku janji, pasti aku yang akan pertama kali melayanimu…” kata Aguni senang. Ia tersenyum sambil menunggu jawaban dari Chaka.

‘Berkunjung lagi ke Gion?… Hm.. rasanya tidak akan semudah itu… Tapi setidaknya.. aku sudah bisa berteman dengan Aguni’ pikir Chaka.

Ia pun menggandeng tangan Aguni dengan lembut dan menggoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan. Lalu dengan mata yang saling menatap satu sama lain, Chaka berkata.

“Ya… semoga…”

^_^

~ fin ~

Amanatnya:
Lidah kamu kadang bisa setajam katana, jadi jangan ngomong asal-asalan.
Geisha itu bukan pelacur! Mereka menjual kemampuan, bukan tubuh. (jadi inget anak ic ngejual kemampuan bukan tampang mereka)
Jangan gampang terbawa emosi dan ego. Ayo.. siapa yang suka marah2 di sini? dijaga yah habis ini, dan.. kalau melakukan kesalahan, segera minta
maaf yah, dan, harus dari hati!

Well… thats for now. Thanks for reading. Semoga semua amanatnya bisa keambil dan menjadi inspirasi! ^_^

Wassalamualaikum wr. wb.

Saniyyah Ardina K.

Audisi Idola cilik 2_story. Jogja part 2

Aduh… maaf ya lama. Kerjaan sekolah makin banyak… semoga part yang ini memuaskan. Silahkan komen jika ingin dilanjutkan.Aku Saniyyah, silahkan membaca.

——-

Audisi Idola cilik 2 story. Jogja, part 2

Jogja Expo Center masih penuh dengan anak-anak kecil yang ingin mewujudkan mimpinya untuk menjadi idola. Penampilan mereka, terutama yang perempuan, tambah menarik ketika mama-mama mereka mendandani masing-masing putrinya agar terlihat cantik saat audisi nanti. Ibu-ibu yang anaknya laki-laki juga nggak mau kalah. Mereka ikut mendandani putranya agar kulitnya terlihat mulus, putih, keren, dan berwajah tampan. Kan ada yang bilang, kalau mau jadi artis, setidaknya harus punya modal tampang. Walau tidak dicantumkan di syarat audisi manapun sih.. Tapi tentu saja tampang di perlukan sebagai penambah. Ibaratnya Indomie, kan tidak enak kalau tidak ada bumbunya.

Sementara itu, di luar bangunan Jogja Expo Center, kedai-kedai dan tempat jajanan juga sudah mulai penuh. Jajanan yang ditawarkan saat itu  sangat laku, terutama Indomie. Kini waktu sudah mulai mendekati jam makan. Agar stamina fit, perut kita kan juga harus tetap diisi. Perasaan mereka yang perutnya telah diisi dengan makanan lezat berupa indomie instan sangat gembira dan kembali semangat. Begitu juga dengan seorang anak gadis berparas cantik, imut, dan berkulit putih, yang sedang berlari dengan riangnya menuju ke tempat jajanan yang menawarkan berbagai eskrim dan pop ice.

“Hm.. enak banget..” ujar anak gadis yang imut itu. Padahal ia sendiri juga belum merasakan ice cream yang terpajang di daftar menu tempat jajanan itu. Mukanya terlihat sangat exited. Ia sibuk melihat-lihat gambar ice cream dan minuman dingin yang tertera di daftar menu. Sampai akhirnya pemuda penjaga tempat jajanan itu menanyakan langsung pesanan anak gadis itu.

“ehem.. mau apa ya, Dek?” tanya pemuda itu.

“Oh.. itu, mas… aku… pesen 2 cappuccino yang ada es krimnya aja..” kata anak gadis itu hati-hati. Ia takut salah mengucapkannya.

“Yang mana?… yang nomor 3 di daftar menu ya?” tanya pemuda itu lagi.

“He-eh..” jawab anak itu mengiyakan. Kepalanya ia anggukan dua kali dan ia memberikan senyum manisnya ke pemuda penjaga yang telah melayaninya dengan baik tadi.

Tak lama kemudian, pesanan anak gadis itu pun sudah siap. Pemuda penjaga kedai es krim itu memberikan pesanan anak gadis di depannya dengan ramah.

“Ini, Dek. Pesanannya, 2 cappuccino dengan es krim..  silahkan di nikmati..” kata pemuda itu kembali.

“Iya, Mas… terimakasih…” anak gadis itu tersenyum lagi. Ia memberikan uang 20.000 untuk membayar cappuccino tersebut.

Saat pemuda penjaga kedai eskrim itu mengambil uang kembaliannya di laci kasir, ia sempat melirik ke leher si anak gadis. Terlihat sebuah kalung berwarna emas dengan bandul yang membentuk kata “Oik”.

“Adek namanya Oik yah?” tanya pemuda penjaga kedai itu.

“Loh?… kok mas bisa tau?” tanya anak gadis yang bernama Oik itu.

“Keliatan dari kalungnya, Dek..” jawab pemuda penjaga kedai sambil tersenyum dan memberikan kembaliannya ke Oik.

“Oh… iya juga ya, Mas… ya udah, kalo gitu Oik ke dalam ya. Nanti es krimnya meleleh lagi, Mas” canda Oik.

Pemuda penjaga itu pun mengangguk sambil tersenyum, sementara Oik juga balas tersenyum dan pergi meninggalkan kedai es krim.

..

“Haa.. senangnya. Akhirnya bisa beliin cappuccino buat Ma’e..” ujar Oik ringan. Ia berlari-lari kecil sambil tersenyum di halaman Jogja Expo center. Sebentar lagi ia akan sampai di tempat ma’e menunggunya. Ia ingin membuat kejutan untuk ma’e. Dan ia sangat berharap ma’e akan senang.

Tiba-tiba awan yang berada di atas kepala Oik berarak jauh. Udara jadi semakin panas. Oik mulai kecapaian. Tubuhnya tiba-tiba lemas. Tanpa ada seseorang yang melihat, “Bruk!” Oik jatuh pingsan. Cappuccino yang ia beli pun tumpah semua.

Suasana masih sepi. Tidak ada orang yang berlalu lalang. Sampai akhirnya, munculah seorang anak laki-laki dari kejauhan. Laki-laki itu adalah Obiet. Dan Obiet jelas kebingungan saat melihat gadis cilik di depannya tergeletak di jalanan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Aduh… Eh… Dek?… Eh, mm… Kak… Bangun dong… Eh, bangun…” Ia terus mengguncang tubuh Oik tapi tidak ada tanda-tanda Oik akan sadar.

“Aduh.. gimana nih?… Tolong!… tolong! ada yang pingsaaan….”

..

Ini adalah saat makan siang. Beberapa anak telah menjalani sesi audisi pertama. Kini tinggal siap-siap untuk sesi audisi menyanyi secara berkelompok. Suasana di dalam masih ramai dengan anak-anak yang sedang makan siang ditemani dengan walinya. Namun ada dua anak yang tidak makan siang. Pasalnya mereka sudah duluan kebingungan mencari tas mereka yang tertukar. Ya!.. itu adalah Cakka dan Agni.

Mereka sibuk mencari-cari sendiri, bolak-balik kesana-kemari, hingga akhirnya takdir menemukan mereka (jialah!..).

Bruk!

Cakka dan Agni bertubrukan tanpa sengaja karena pandangan mereka yang sama-sama melihat ke samping. Jadi mereka tidak sadar ada orang di depannya dan tubrukan. Dua-duanya terdorong ke belakang sampai-sampai jatuh ke lantai. Cakka lah yang pertama kali bangun. Dan dirinya langsung nge-judge kalau Agni lah yang meleng.

“Eh!… kalo jalan liat-liat dong!” kata Cakka.

“Enak aja! kamu emang liat-liat?.. kalo kamu liat-liat harusnya kamu juga minggir!” Agni nggak mau kalah sama cowok kayak artis di depannya. “Emang aku takut sama artis?” benaknya.

Cakka terdiam, Ia tidak tau harus membalas apa. Hingga akhirnya ia melihat tas hitam yang di pegang oleh Agni. “Loh! itu kan task u!”

“Hah?” Agni belum menyadari. Lalu ia melihat tas yang di pegang Cakka. “Itu juga tas aku!”

Dan mereka sama-sama melepas tas yang mereka pegang dan berlari meraih tas mereka sendiri. Lalu saling menatap muka, dan berseru.

“Kamu maling yah!?”

“Hih! enak aja!.. ngapain aku maling tas kayak gitu” kata Cakka. Rencananya ia ingin menyindir tas Agni.

“Tas kayak gimana? orang tas aku sama kayak tas kamu!” balas Agni. Wah! Agni pintar membalas ejekan yah..

Baru nyadar deh si Cakka. Kalo dia nyindir tas Agni kan, berarti dia nyindir tas nya sendiri. “Biarin!” balasnya.

Lalu mereka sama-sama melihat lawan adu mulutnya, dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Siapa sih kamu?” kata Cakka dengan nada agak kasar. Dia masih gengsi untuk bermaaf-maafan dan saling memaklumi dengan Agni.

“Kamu siapa?” Agni balas bertanya dengan nada yang sama.

“Aku cowok!.. kamu?”

“Ya aku cewek!..”

Lah? kok malah saling membeber-beberkan status?

“Dasar cewek!” seru Cakka.

“Apa cowok?!…”

Mereka terus bertengkar tanpa tau ada salah satu kru RCTI yang sedang bekerja di situ. namanya kak Melisa. Ia sedang menghitung jumlah anak-anak yang telah di audisi hari itu. Dan tentu saja suara-suara teriakan mereka ini sangat mengganggu.

“Eh denger ya!, cowok-cowok tuh nggak bakal lahir di dunia ini kalo nggak ada cewek!” seru Agni.

“Cewek juga nggak bakal ada di dunia ini kalau buyutnya cowok nggak mau menyerahkan satu tulang rusuknya ke cewek!” seru Cakka.

“Eh! buyutnya kamu, Adam alias kaum cowok tuh bakal frustasi kalo nggak ada cewek!” balas Agni.

“Tanpa cowok, cewek juga nggak bisa ngelahirin anak!” balas Cakka lagi.

“Aah!… dasar cowok!”

“Dasar cewek!”

“Cowok!”

“Cewek!”

“Cowok!”

“Cewek!”

“Huaaah!… udah berhenti berantemnya!. Semua orang juga tau mana yang cowok sama mana yang cewek di antara kalian”

Wah! akhirnya ada yang mau melerai, siapa lagi kalau bukan kak Melisa. Yah… mau gimana lagi. Kalau sudah seperti itu masalahnya, harus langsung di tangani dong. Kak melisa kan juga harus bekerja. Nanti kerjaannya nggak kelar-kelar dong?

“Udah sana makan!.. dasar anak kecil!…” ujar kak Melisa. Ha ha… emang susah ya, Kak.. kalau harus berada di dekat anak-anak. Pasti ada aja kehebohannya. Namanya juga Idola cilik.

“Nih!… 20.000!”

Wess! kak Melisa bahkan rela mentraktir Cakka dan Agni.

“Cari makan sono!… beli Indomie di tempat jajan sana!… masih banyak tuh!”

Yah.. karena sudah dimarahi seperti itu, Cakka dan Agni pun sepakat untuk mengaitkan kelingking mereka dan saling maaf-maafan tentang masalah tas yang tertukar. Tapi dalam hati mereka masih ada unek-unek untuk marahan lagi. Sudah deh… tenaganya disimpan dulu untuk sesi audisi selanjutnya. Akhirnya mereka pun pergi ke tempat jajan untuk beli Indomie bersama.

Kira-kira apa yah yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana situasi Oik dan Obiet? Akankah mereka berempat bertemu? Comment lagi untuk lanjutannya… Semoga makin bagus dan seruuu!

Tersenyumlah ~ Cerita Cagni

Ini ada sebuah cerpen buat cagni. Di baca yaa… Terutama yang cagnilovers. Dan aku mau umumkan.

Cagni Gak Bubar!

ha ha!
Oke… di baca aja yah… dan jangan lupa comment

~~

Tersenyumlah

~~

Pagi hari di kelas 10.IPA SMA Pelita Harapan, seorang cewek merenung sendiri di bangkunya. Ia menghabiskan waktu paginya di kelas, memandang halaman sekolah yang pagi itu ramai oleh beberapa anak yang bermain basket dan beberapa anak murid ataupun guru yang lewat. Di pinggir lapangan terlihat beberapa anak cheers sedang cari perhatian kepada anak-anak basket yang sedang bermain. Dan begitu juga dengan para anak basket yang bermain, beberapa dari mereka juga sibuk cari-cari pandang ke kumpulan anak cheers di pinggir lapangan.

Cewek yang sedang merenung di bangku kelasnya itu mendesah pelan. Namanya adalah Agni, dan ia sering menganggap hari-harinya itu sia-sia. Ia menderita penyakit sirosis, dan penyakit itu membuat masa hidupnya akan berakhir tidak lama lagi. “Kenapa hidup kita perlu diperjuangkan kalau kita sudah pasti nggak akan punya masa depan?” pernyataan itu yang selama ini membayang-bayang di pikiran Agni. Maka setiap hari-harinya selalu dijalani dengan muka lesu, tidak bergairah, dan kadang dirinya terlihat agak cuek. Karena tampang cueknya jarang anak yang mau dekat dengannya. Namun Agni sendiri tidak menyesal akan semua itu. Ia hanya perlu memikirkan pernyataan yang terus terbayang di pikirannya lagi, bahwa hidup yang ia jalani ini tidak ada artinya.

Namun itu semua berakhir ketika anak baru datang ke sekolahnya. Kebetulan anak baru itu mendapat tempat duduk di sampingnya. Dan anak baru itu entah kenapa sangat tertarik padanya dan selalu berusaha mendekatinya. Nama anak baru itu adalah Cakka. Agni sendiri tidak tau kenapa Cakka selau perhatian padanya, apa mungkin Cakka menyukai Agni?, rasanya tidak. Agni juga melihat Cakka hanya sebagai teman sekelas saja. Cakka lumayan ganteng sih, bahkan mungkin sangat ganteng. Sejak dia datang, kumpulan anak cheers yang sering cari perhatian kepada anak basket di lapangan itu mulai mencoba mendekati Cakka. Tapi kecakapan Cakka itu tidak ada pengaruhnya terhadap Agni, ia malah merasa tingkah Cakka itu sangat mengganggu.

Setelah lama berpikir, Agni menyimpulkan mungkin penyebab Cakka tertarik kepada Agni adalah penyakitnya. Agni memang selalu menutupi penyakitnya dari anak-anak sekolah. Tidak ada alasan pasti, Agni hanya ingin hidupnya berjalan seperti itu. Namun minggu kemarin, Agni dan Cakka tidak sengaja bertemu di rumah sakit. Cakka melihat Agni sedang membayar biaya pengobatan bulanan bersama mamanya, dan mamanya Agni secara panjang lebar menceritakan tentang penyakit Agni itu. Sementara Agni sendiri hanya bisa bersandar di dinding rumah sakit, memandang mamanya dengan raut muka sebal karena telah membongkar segala sesuatu tentang dirinya yang telah ia sembunyikan selama ini.

Pagi hari ini Agni melihat Zaga, teman sekelasnya yang merupakan cowok yang emosian ikut dalam pertandingan basket melawan kelas sebelah. Zaga sibuk bermain sendiri dan memperlihatkan kehebatan dirinya. Namun ketika Rangga, anak cowok kelas sebelah merebut bola basket dari tangannya Zaga langsung marah dan mendorong Rangga ke depan dengan segala kekuatan yang ia miliki. Zaga sudah berpikiran kalau Rangga sengaja merebut bola untuk menjatuhkan dirinya dan mengambil alih bola itu sendiri dan berusaha pamer keahlian. Padahal Rangga merebut bola itu karena mereka memang sedang bermain dan itu fair-fair aja kok. Sayang, Zaga orangnya tidak suka pikir panjang. Ketika ia mendorong Rangga, kakinya menendang kaki kanan Rangga, dan Rangga jatuh dengan hantaman keras di bahunya. Teman-teman sekelas Rangga tidak terima Rangga diperlakukan seperti itu, dan seperti yang sudah Agni reka-reka, mereka semua terpancing oleh emosi dan terjadilah kericuhan dilapangan itu.

“Huft… payah..” keluh Agni pelan. Sebenarnya Agni sangat jago bermain basket. Ia tau cara bermain basket dengan baik dan benar dan bisa melakukan hampir semua trik dengan sempurna. Dan tentu saja ia tidak terlalu suka Zaga yang cuma bisa pamer, padahal tak semua trik yang ia lakukan itu benar.

“Huft… ricuh lagi yah?”

Agni terlonjak kaget. Ada seseorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya dan membalas anggapannya itu. Ketika ia berbalik, raut mukanya langsung tambah bête. Lagi-lagi Cakka yang mengagetkannya. Cakka sedang duduk santai menghadap kepadanya dengan tangan kiri di atas meja dan tangan kanan di senderan bangkunya. Keadaan ini memang sering terjadi di 5 hari terakhir, dan ini merupakan ketujuh kalinya ia kaget gara-gara Cakka.

“Mau ngapain sih lo? Kurang kerjaan banget” kata Agni dengan nada malas.

“Yah… cuma mau say hai aja kok. Lagi lo diem mulu sih disini… nggak bosen apa? kata mama lo, lo jago main basket. Nggak mau ikut main sama anak-anak cowok di lapangan? Sekalian gantiin Zaga.. dia nggak bisa apa-apa tau, cuma bikin ricuh” balas Cakka.

“Nggak ah. Males” balas Agni cuek.

“Kenapa?” tanya Cakka lagi.

“Ya… males aja. Lo ngapain nanyain kayak gituan sih?… ngakk ada kerjaan banget”

“Ck.. Nanya aja sih… tapi lo males main bukan gara-gara penyakit lo kan?”

“Cak, lo diem aja ngapa?… gue males ngomongin hal itu…”

“Iya deh…”

Akhirnya Cakka berdiri dan berniat keluar kelas. “Gue ke lapangan ya. Mau ngelerai perkelahian” katanya.

“Alah! Sok jadi Hero, lo!” seru Arin ke Cakka yang sudah di pertengahan pintu.

“Emang gue Hero sih… jadi, mau gimana lagi?… He he..”

“Hih! Dasar narsis!” Arin melemparkan penghapusnya ke muka Cakka. Cakka segera menghindar dan lemparan itu meleset.

“Eits!.. Nggak kena! Ha ha!”

Selanjutnya Cakka kabur dari Agni dan lari ke lapangan. Agni yang sudah capek dengan tingkah Cakka tidak mau membuang tenaganya lagi hanya untuk mengejar anak yang menurutnya sangat mengganggu itu. Ia mengambil penghapusnya dan kembali duduk di bangku kelasnya.

Kriiiing….

Bel pulang sekolah berbunyi. Tidak seperti biasanya, anak-anak yang seharusnya berseru ketika mendengar bel pulang sekarang harus mengeluh karena cuaca yang sedang tidak ramah siang ini. Pagi-pagi sudah cerah, tapi mengapa tiba-tiba di siang hari harus hujan?. Kebanyakan anak tidak membawa payung, maka mereka yang tidak mau bajunya basah harus menunggu di sekolah. Para siswi yang kaya sibuk menelepon supir mereka untuk menjemput cepat-cepat, karena mood mereka sudah tidak enak lagi kalau dibawa ke mal untuk shoping. Beberapa anak yang membawa payung harus rela payungnya dipinjam oleh teman-temannya, dan beberapa dari mereka harus berdempet-dempetan, namun pada akhirnya baju mereka akan tetap basah. Beberapa anak tertutama anak-anak cowok malah nekat hujan-hujanan, mungkin mereka malah akan menganggap ini sebagai permainan.

Saat keluar kelas, Agni tidak langsung turun ke lantai bawah. Ia menyempatkan diri bersandar di balkon koridor lantai 3 dan memandang lapangan sekolah. Cakka yang baru saja keluar langsung menghampiri Agni dan bersandar di balkon sebelahnya.

“Nggak bawa payung ya?” tanya Cakka tanpa memandang Agni.

Agni melirik Cakka sebentar, lalu ia kembali memandang lapangan. “Bukan urusan lo” balas Agni singkat.

“Pulang naik apa?” tanya Cakka lagi.

“Paling jemputan”

“Oo… Nggak butuh payung?”

“hh..” Agni tidak menjawab pertanyaan Cakka. Ia melihat langit yang tadinya biru menjadi putih pucat. “..Gue bisa pulang sendiri kok”

Cakka mengangguk. “Oke..” Lalu ia pergi meninggalkan Agni tanpa memandangnya sama sekali.

Sudah hampir satu jam Agni menunggu jemputannya di lobi sekolah, namun jemputannya tak urung datang. Agni yang sudah bosan pun segera meraih hp nya dari kantong dan menghubungi supirnya.

“Halo… Pak, kapan nyampenya?…” tanya Agni.

“Eh… maaf, Non. Macet banget nih. Kayaknya saya nggak bisa jemput non, nanti kemaleman. Mungkin lebih baik non pulang sendiri… bensin mobilnya juga sebentar lagi mau abis nih…”

“Yah… kok mendadak gitu sih, Pak?” Agni nggak terima. Dia sudah mondar-mandir di lobi hampir satu jam dan ternyata ia harus pulang sendiri. Apalagi uang sakunya hari ini terbatas.

“Maaf, Non..”

Nit*

“Anjrit!!… pulsa gue abis!.. Ah Elaaah” Agni lagi-lagi mengeluh. Sepertinya ini bukan harinya. Namun ia tidak bisa mengeluh lagi, sudah tidak ada orang di sini. Lebih baik ia segera naik bis yang lewat, tidak usah memikirkan bis itu penuh atau tidak.

5 menit kemudian, Agni melihat ada bis yang lewat dari kejauhan. Ia segera berlari keluar dari lobi dan berseru ke kenek bis itu.

“Bang!… Akasia!…” seru Agni. Ia menyebutkan nama komplek perumahan tempat dia tinggal.

“Nggak bisa, Neng!… mau muter!…” seru kenek bis itu.

“Hah?” Agni tidak percaya. Another bad luck at today?

“Sori, Neng!…”

Dan bis beserta kenek dan pengemudinya itu hanya melewatinya begitu saja. Agni sangat hopeless sekarang. Bajunya kini basah kuyup dan ia sudah merasa kedinginan. Kondisi tubuhnya yang memang tidak sekuat anak lain membuat dirinya lebih cepat merasa dingin.

“Uhuk!!…” Ia terbatuk. Dan ketika ia melihat telapak tangannya yang digunakan untuk menutup mulutnya, telapak tangan itu penuh dengan darah. Agni segera menghapus darahnya dengan terpaan air hujan dari atas. Bibirnya juga ia basahi agar noda darahnya tersamar. Agni mengusap-usap lengannya. Udara semakin dingin, sementara ia tidak mempunyai apa-apa. Hanya sifat cueknya yang berusaha mengabaikan semua derita fisik yang diam-diam menyakitinya.

Namun tiba-tiba Agni tidak merasakan air hujan jatuh di kepalanya lagi. Tubuhnya mulai menghangat, ia berbalik dan Cakka sudah ada di depannya.

“Ngapain lo di sini?” tanya Agni.

Cakka tersenyum. “Cuma mau nawarin payung… atau lo nggak butuh payung, karena lo bisa…”

“Jangan!..” Agni mencegah Cakka yang sudah ingin menjauhkan payung itu dari sisi Agni. “Gue… gue butuh payung..” jawab Agni pelan.

Cakka mengangguk sambil tersenyum. Tak lama kemudian datang satu taksi dan Cakka menghentikan taksi itu tepat di samping Agni. Cakka menggeser Agni kesamping dengan pelan, lalu Ia membuka pintu tengah taksi itu. Agni mengerti akan maksud Cakka yang ingin mempersilahkan Agni masuk. Namun Agni ragu untuk naik.

“Gue nggak… Uang gue nggak cukup” kata Agni apa adanya.

“Lo masuk aja…” kata Cakka. “Gue yang bayar”

Akhirnya Agni pun masuk ke taksi. Setelah Cakka menutup pintu taksi tempat Agni masuk, ia masuk lewat pintu tengah di sisi lainnya, dan taksi pun mulai melaju di jalanan yang masih diguyur hujan itu.

“Rumah lo di mana?” tanya Cakka sambil memasukan payungnya ke dalam kantong plastik yang ia bawa.

“Komplek perumahan Akasia” jawab Agni.

Lalu Cakka berkata ke supir taksi yang duduk di depannya. “Ke Akasia, Pak”

“Siap, Bos” balas supir taksi yang masih muda itu.

Taksi pun melewati beberapa belokan. Di dalam taksi, keadaan masih sedikit sepi. Agni, Cakka, maupun supir taksi itu tidak ada yang berbicara, hingga akhirnya Cakka lah yang harus mencairkan suasana.

“Tadi lo bilang, lo bisa pulang sendiri… kenapa tadi lo masih di sekolah, Ag?” tanya Cakka.

“Jemputan gue stuck di jalan… mobilnya nggak bisa gerak” jawab Agni dengan nada datar. “Lo sendiri… kok nggak pulang dari tadi?… lo kan punya payung” tanya Agni.

“Em… tadi gue makan siang dulu di kantin. Terus ketemu elo lagi diguyur ujan… kasian aja.. ha ha”

“Eh iya, lo udah makan belum?” tanya Cakka lagi.

“Belom”

“Belom?… kalo gitu kita mampir ke resto aja dulu.. bentar lagi kita ngelewatin kok…” kata Cakka memberi usul.

“Nggak usah deh..”

“Jangan bilang ‘Nggak usah’… nanti lo sakit-lagi.. Lo kan nggak boleh makan terlambat.. udah mana tadi ujan-ujanan lagi”

“Peduli amat sih lo ama gue…”

“Emang gue nggak boleh peduli?”

“Iya..” jawab Agni ketus.

Cakka diam untuk sejenak, begitu juga dengan Agni.

“Eh…, Bos… jadi ke resto nggak?” tanya supir taksi itu. Restoran yang tadi Cakka usulkan memang sudah dekat. Namun sebelum Cakka menjawab Agni sudah duluan berkata.

“Nggak usah, Pak… jalan aja terus”

Dan akhirnya taksi itu tidak berhenti di resto yang Cakka usulkan. Setelah itu keadaan kembali sepi. Suara rintik hujan makin terdengar jelas. Embun-embun juga terlihat di kaca jendela taksi.

“Uhuk!..” Agni batuk lagi. Suara batuk itu sangat keras dan membangunkan Cakka dari lamunannya. Pak supir juga lumayan terkejut.

Cakka langsung menegakkan posisi duduknya. Ia memegang pundak Agni. “Lo nggak papa?”

Agni hanya menggeleng dan berkata dengan pelan. “Nggak papa..” Tapi lagi-lagi ia terbatuk.

“Uhuk!..”

Kini Cakka jadi khawatir. Ia memperkecil jarak duduknya kepada Agni dan memperhatikan muka Agni.

“Ag, muka lo pucet banget…”

Agni menggeleng pelan, ia memejamkan matanya dan membuka matanya kembali. Namun kali ini ada setetes air yang keluar dari matanya.

“Ag…”

Cakka tidak peduli Agni mau bilang apa, Ia langsung melihat apa yang disembunyikan oleh Agni di telapak tangannya itu.

“Masyaallah…”

Darah segar mengalir di tangan Agni, dan lama-lama jatuh mengenai rok dan baju sekolah Agni. Cakka segera mengambil tissue yang ia beli di kantin tadi.

“Uhuk!!” Agni batuk lagi. Kali ini lebih keras. Nafas Agni mulai terengah-engah. “Uhuk! Uhuk!!..”

“Ini, Ag… pake tissue nya..” Cakka berusaha mengelap darah yang keluar dengan tissue miliknya, namun tissue yang tipis dan rapuh itu tidak mampu lagi menampung darah Agni yang keluar.

“Uhuk!!… Hhh…” Agni berusaha menghentikan batuknya itu, namun ia tidak kuasa menahan tekanannya. Dadanya mulai sakit. “Uhhuk!!..”

Tissue sudah tidak mungkin lagi dipergunakan saat itu. Cakka akhirnya mengambil persediaan seragam putihnya. Lalu ia merangkul Agni dan mengelap darah Agni yang keluar dengan seragam putihnya itu.

“Nggak…” Agni menolak perbuatan Cakka itu. Ia tau itu adalah baju putih terakhir Cakka untuk minggu ini, dan Agni tau besok Cakka harus memakai baju itu karena harus mewakili sekolah mereka dalam rangka mewakili sekolah ke sekolah lain.

“Enggak apa-apa, Agni…”

Cakka terus berusaha mengelap darah di mulut Agni.

“Nggak usa.. hh… Uhukk!…” Agni batuk lagi. Baju Cakka kini sudah penuh dengan darah.

“Udah lo diem aja, kalau perlu nanti kita ke rumah sakit…” bisik Cakka di telinga Agni.

“Nggak usah… Uhhukk!..”

Agni terus batuk darah. Ketika seragam putih cadangan milik Cakka sudah tidak bisa digunakan lagi, Cakka malah makin erat merangkul Agni, lalu ia memeluk Agni sedikit agar darahnya tidak jatuh ke rok Agni tapi ke jaket yang ia pakai. Sampai akhirnya Agni berhenti batuk dan tersandar lemas di pundaknya.

Malam harinya Agni sudah berada di rumah sakit bersama Cakka. Ibunya sangat khawatir, sampai-sampai ia mengcancel semua jadwal kerjanya hari itu dan hari esoknya. Namun Agni bukanlah anak manja, malamnya Agni malah menyuruh Ibunya membalas jadwal kerja yang terabaikan itu hari esok. Dan Agni tertidur di kasur rumah sakit sementara Cakka menjaga disampingnya. Agni tidak tau apakah Cakka akan pulang ke rumah malam itu, manum yang ia tau pasti, ia telah menemukan sisi lain dari kepribadian Cakka yang dulu ia anggap narsis 100 %. Di samping kenarsisannya itu, Cakka ternyata… penyayang.

Cuit.. cuit cuit…

Siulan burung terdengar merdu. Sinar matahari masuk melalui jendela kamar rumah sakit tempat Agni tidur. Agni membuka matanya dan melihat Cakka sudah duduk di lantai sebelah kasur Agni, bersandar di dinding dan mendengarkan satu buah lagu di mp3 nya.

“Hhh..” Agni mencoba duduk perlahan dengan kekuatannya sendiri.

Cakka yang mendengar nafas serak Agni langsung melepas mp3 nya, berdiri dan membantu Agni duduk.

“Mau minum?” tanya Cakka.

“Enggak..”

“Bo’ong. Udahlah.. nggak usah gengsi.. lo lagi sakit..” kata Cakka.

“Enggak!” Agni terus bersikeras mengatakan kalau ia tidak butuh minum.

“Oh ya?..”

“Ya’…” Agni mikir-mikir sejenak. Kalo boleh jujur, sebenarnya ia memang haus. Tapi ia merasa nggak sreg aja kalo harus kelihatan lemah di depan Cakka.

“Nggak mau beneran?… Ya udah, aku gunain aja airnya buat nyiram tanaman..”

“Iya iya!.. gue mau minum… Sini!” Agni merebut gelas berisi air yang ada di tangan Cakka. Tadinya ia mau meminumnya sendiri, tapi ketika kekuatan ditangannya tiba-tiba hilang Cakka segera membantu Agni memegangi gelas itu. Hh.. sudahlah.. Agni memang sedang lemah saat itu.

Siangnya – sekitar jam 12.30, Agni sudah diperbolehkan pulang. Cakka pun mengantar Agni pulang ke rumah dengan menaiki taksi lagi. Di sepanjang perjalanan Cakka mengajak Agni mengobrol, tapi Agni tetap tidak mau membalas kesemangatan Cakka itu. Akhirnya di tengah perjalanan Cakka menyerah dan memilih untuk mendengarkan mp3 saja. Namun sebenarnya pikiran Agni  sedang penuh dengan pertanyaan tentang Cakka. Sepertinya Cakka sudah sangat terkenal di kalangan doctor, suster, maupun pegawai di rumah sakit. Itu. Bukan berarti Cakka artis, malah lebih cenderung ke seorang pasien. Cakka sepertinya pernah dirawat di rumah sakit itu, bahkan mungkin sering. Ada satu orang dokter yang malah berkata kepada Cakka, “Loh?.. Cakka kok di sini?… bukannya masih lemah?..”. Tapi ketika Agni menanyakan arti sapaan dokter itu, Cakka malah menjawab kalau ibunyalah yang baru saja dirawat di rumah sakit itu beberapa hari kemarin.

Sesampainya di rumah, Agni menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah. Cakka ke dapur, mengikuti pembantu di rumah Agni yang sering di panggil dengan sebutan mbok. Di dapur, mbok sedikit bercerita tentang Agni. Tentang Agni yang suka menyendiri di kamar, tentang bapaknya yang sudah bercerai dengan mamanya kira-kira 3 tahun lalu, dan juga tentang Agni yang menganggap hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Mbok bilang,”Mungkin benar kalau non Agni bilang hidupnya non Agni tinggal sedikit lagi… kemarin dokternya non Agni bilang, kalo Agni masih mau hidup lebih lama, Agni harus cari pendonor hati yang rela hatinya diberikan kepada Agni.. dan orang yang mau berbuat seperti itu sangat jarang.. bahkan hampir tidak ada. Makanya, belakangan ini non Agni makin bosan hidup..”

“Oh iya, lo belum makan ya?” tanya Cakka yang baru menghabiskan 1 buah coca-cola. Lalu ia membuang kaleng coca colanya ke tempat sampah sambil menunggu jawaban Agni.

Agni yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan game di hp nya menjawab dengan malas. “Nggak usahlah… lo makan aja sendiri. Ada sisa daging tuh di kulkas..”

“Kok malah gue sih yang disuruh makan?.. yang sakit kan elo, Ag..” balas Cakka.

“Iya gue sakit. Dan mau makan sebanyak apapun, gue juga bakal mati bentar lagi… buat apa gue perjuangin hidup gue? Bentar lagi gue juga hilang dari dunia ini…”

Cakka terdiam sebentar. Apalagi yang harus ia katakan agar Agni mau makan?, dan teruntas sesuatu di kepalanya.

“Eh, Ag… asal lo tau.. sebenernya masih banyak orang yang jiwanya terancam sama penyakit, bentar lagi mau mati, dan harapan mereka untuk hidup cuman sedikit… tapi mereka masih bersemangat untuk hidup kok..”

“Oh ya?…” Agni berdiri, menatap Cakka. “Kasih contoh satu orang…”

Cakka membisu, Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Agni. Yah, sebenarnya ia tau jawabannya, namun ia tidak berani mengatakannya. Dan akhirnya Cakka hanya menjawab.

“Orang itu ada di dekat lo… cuman lo nggak nyadar aja…”

Agni masih saja sinis terhadap Cakka. Ia memang tipe orang yang tidak terlalu suka jika ada seseorang terlalu ikut campur masalah pribadinya. Namun ia makin merasa sikap Cakka agak aneh belakangan hari ini. Cakka sedikit melankonis. Kata-kata yang keluar dari mulut Cakka entah mengapa membuat suasana agak dramatis. Atau mungkin hanya suasana sepi rumahnya yang menghadirkan suasana daramatis itu sendiri. “Lumayan lah… hidup jadi tenang lagi…” benak Agni.

Saat Agni sedang duduk santai di kamarnya tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamarnya. Agni pikir mungkin itu mbok. Tapi ternyata dugaannya melenceng sekali.

“Siapa?” tanya Agni agak keras.

“Cakka!..” jawab orang yang mengetuk pintu kamarnya itu. “Lo mau bubur nggak?.. gue beliin tuh!”

Yup, orang itu adalah Cakka. Betapa jengkelnya Agni saat itu. Ia merasa terganggu lagi.

“Lo belum pulang?” tanya Agni.

“Ya.. sebenernya sih gue mau pulang. Cuman gue nggak tega aja ninggalin elo sendiri… nanti lo nangis lagi..”

Dan Agni pun membatin, “Nangis?… gue nangis ditinggal elo??… Nggak deh!!”

Agni agak kecewa. Baru beberapa jam, masa Cakka udah narsis lagi? Namun pada akhirnya Agni bersedia keluar kamar dan menikmati bubur yang dibeli oleh Cakka di ruang tengah, sambil menonton tv juga. Walaupun Cakka duduk di sampingnya dengan mata yang menatap tv, namun earphone Cakka sudah terpasang di telinga. Jadi sebenarnya Cakka tidak menonton tv, melainkan mendengarkan mp3.

“Lo dengerin apa sih, Cak?” tanya Agni.

“Hah?…eh.. lagu kesukaan gue..” jawab Cakka yang masih menikmati lagu di mp3 nya.

“Lagunya apa?” tanya Agni lagi.

“Lagu dulu… tapi nggak jadul-jadul amat. Enak deh… penyanyinya cewek.. tere..” jawab Cakka berurutan.

“Oh…” Agni manggut-manggut. Padahal sebenarnya ia tidak terlalu kenal tentang penyanyi yang bernama tere.

“Judulnya apa?”

“..Tersenyumlah…”

“Em… gue boleh dengerin nggak?”

“Eh,  gimana kalo gue kasih lagunya aja… tapi nggak sekarang… kalo menurut gue sih lagu ini cocok banget buat elo yang kurang bersemangat dalam hidup…”

“Nggak usah ngomentarin tentang hidup gue deh..”

“Makanya, hidup itu jalani dengan senyum, Ag… dengan semangat!..” kata Cakka dengan semangat 45.

“Iya iya…”

Agni menaruh mangkuk buburnya ke dapur. Mbok yang melihat majikannya menghabiskan bubur yang sudah dibelikan juga lumayan senang. Dan mungkin mbok akan lebih sering membeli bubur di hari-hari kedepan.

“Oh iya, Cak. Berarti lo nggak jadi ngewakilin sekolah dong?” tanya Agni.

“Hoh?” Cakka melepas mp3 nya agar suara Agni bisa lebih jelas terdengar. “Oh… bilang aja lo mau minta maaf ke gue…” kata Cakka pede.

“Idih!… ge-er amat..”

“Ya… tapi bener kan”

“Iya… gue emang mau minta maaf… terus yang gantiin elo siapa?” tanya Agni lagi.

“Temen gue… Obiet..”

“Obiet?… gue baru tau lo deket sama dia..” kata Agni. Agni tau Obiet kok. Dia adalah anak pintar di kelasnya, bukan yang terpintar sih, tapi kalo dibilang terganteng dan tercharming bisa kok. Kalo diitung-itung sudah banyak cewek yang ngaku suka sama Obiet, bahkan nggak sedikit kakak kelas yang naruh hatinya untuk Obiet. Dan ternyata Cakka dekat sama Obiet itu.

“Iya dong!… orang cakep kan harus be’gaul sama orang cakep juga… he he”

“Hih! Lo kok bisa senarsis itu sih Cak… gue takut dah nanti Obiet ketularan narsis..”

Waktu terus berlanjut. Ternyata setelah beberapa lama menghabiskan waktu bersama Cakka, Agni jadi lumayan ceria. Yang pasti ia jadi lebih sering tertawa dan berbicara dari pada hari-hari sebelumnya. Sepertinya Cakka memberikan aura yang hangat di kehidupan Agni.

“Jadi anak-anak semuanya, hari ini kita akan melakukan praktek di ruang fisika. Semuanya membuat kelompok, anggotanya 3 orang, catet nama-nama anggotanya dan di serahkan ke pak Hamdi. Setelah itu ambil buku kalian dan langsung turun ke ruang fisika” jelas Bu Rohana, guru fisika yang mengejar di kelas Agni. Segera setelah beliau selesai memberikan instruksi, ia berjalan keluar kelas meninggalkan pak Hamdi, asistennya dalam mengajar pelajaran fisika.

Beberapa anak telah selesai membuat kelompok namun lebih banyak lagi yang belum. Mereka sibuk berdebat tentang anggota kelompok mereka. Ada beberapa anak sibuk berebut Hani, anak terpintar di kelas agar masuk ke kelompok mereka. Sementara Hani sendiri merasa terusik ditarik-tarik kesana kemari. Agni masih duduk cuek di bangkunya, tapi tiba-tiba Cakka datang dengan tamu istimewa.

“Ag!.. mau sekelompok sama kita nggak?” tanya Cakka sambil menyenggol tangan Agni.

Agni menengok dan mendapatkan Cakka sedang tersenyum di depannya. Sedangkan di samping Cakka ada sesosok Obiet yang tersenyum ramah, sepertinya ia tidak keberatan sama sekali jika Agni masuk ke dalam kelompoknya.

“Eh… ya udah deh..” jawab Agni. Ia tersenyum lega, jarang ada anak yang mau mengajak dia ikut ke kelompok, lagi pula Agni nggak rugi kok kalo bilang iya. Obiet pintar, ramah, dan baik. Sementara Cakka anaknya aktif, walau sedikit pecicilan, tapi siapa tau membawa keberuntungan.

Beberapa menit kemudian, Agni, Cakka, dan Obiet sampai di ruang fisika, tapi baru sampai mereka sudah disuruh jalan lagi ke ruang biologi. Ternyata Bu Rohana baru saja mengunjungi ruang biologi. Ia membawa alat yang akan digunakan dalam praktek kali ini dan tidak sengaja meninggalkannya di ruang biologi. Jadi mereka bertiga terpaksa naik tangga lagi ke ruang biologi.

“Asalamualaikum..” Cakka mengetuk pintu, membukanya sedikit dan memasukan kepalanya ke dalam ruang biologi. Matanya menelusuri ruang biologi dari sudut ke sudut yang lainnya, dan berakhir dengan laporan kepada kedua temannya yang masih di luar.

“Nggak ada orang” kata Cakka. Agni, Cakka, dan Obiet pun merasa leluasa masuk ke ruang biologi. Mereka mencari-cari alat yang diminta oleh bu Rohana tapi nggak ketemu. Sampai akhirnya terlintas di benak Cakka untuk mengeksplore bagian tersembunyi di ruang fisika itu.

Ruang fisika di sekolah mereka memang istimewa. Di bagian belakangnya ada ruangan sedang yang dikunci seperti gudang. Dan itu membuat Hampir semua anak di sekolah penasaran akan isi ruangan itu.

“Eh… kita coba buka yuk..” kata Cakka. Otak usilnya mulai jalan lagi. Agni sebenarnya berada di tengah kedua pilihan. Ia mau-mau aja kok ikut Cakka, tapi… malesnya itu loh. Habis, berarti kan mereka harus buang tenaga untuk mencari kunci ruangan itu. Dan nggak cuma buang-buang tenaga, mereka juga buang-buang waktu. Sudah lagi kalau ketahuan sama guru-guru, hukumannya nggak tanggung-tanggung.

“Emang waktunya nyukup, Cak?” tanya Agni.

Cakka ingin menjawab sih, tapi sebelum itu Obiet malah sudah menjawab duluan. “Kayaknya sih nyukup. Kemarin gue kesini, terus gue ngeliat guru-guru habis ngunci ruangan itu dan kuncinya disimpan di sekitar meja arsip-arsip gitu deh..”

“Wah.. kayaknya Obiet niat usil juga nih..” kata Agni.

“Yah… ngerecoh sekali-kali kan nggak ada salahnya. Lagian bosenin kali kalo jalan tapi luruuus aja” kata Obiet beralasan. Alasan Obiet masuk akal kok. Lagi pula Obiet nggak serajin dan sepintar Hana. Obiet masih punya jiwa pemberontaknya laki-laki. Anaknya suka tertarik sama hal baru dan yang berbau misterius. Bagusnya, karena sifatnya itu Ia bisa dekat dengan Agni lebih cepat.

Obiet mencari di dalam laci-laci dan lemari. Cakka mencari di kolong-kolong meja dan lantai, semantara Agni mencari di atas meja, di antara arsip-arsip dan peralatan biologi.

“Eh!… ini bukan?” Agni baru saja menemukan 1 buah kunci dengan ikatan tali merah. Ia segera menunjukan kunci itu pada Obiet. Obiet mengangguk dan berkata, “Iya!.. itu kuncinya!” lalu menyambar kunci itu dan memasukannya ke lobang kunci di pintu gudang. Cakka dan Agni ikut mendampingi di samping kanan dan kiri.

“Eh!..” Agni menarik tangan Obiet, mencegah Obiet membuka pintu gudang. “Pada yakin mau masuk?… kenapa kita nggak ke ruang fisika sekarang?” usul Agni.

“Kita kan nggak punya alat yang bu Rohana minta..” balas Cakka yang sepertinya masih ingin di ruang biologi.

“Nih..” Agni mengangkat tangan kanannya. Sudah ada satu buah stopwatch kesayangan bu Rohana. Benar… bu Ro hana memang minta diambilkan itu. Ia tidak dapat menggunakan stopwatch yang lain selain stopwatch itu. Setidaknya, tingkat kenyamanannya pasti berbeda. “…Tadi ketemu di samping kunci itu” tambah Agni.

“Ya… nggak papa. Nanggung lagi… kan kita udah nyari dari tadi…” kata Cakka yang tetap bersikeras membuka pintu gudang itu.

“Emang di dalemnya ada apasih?” Tanya Agni. “Paling kayak gudang biasa aja… bukan hal besar kan?..”

“Hm..” Cakka mencari alasan lagi. “Ah!” dan akhirnya ia menemukan alasan itu. Kali ini mungkin agak ngaco, nggak nyambuk atau sekedar keluar jalur, tapi lumayan berbobot.

Cakka mengatakan, “Orang bijak pernah bilang… little things makes life big” He he.. padahal Cakka sendiri tidak mengetahui apa kata-kata itu pernah dikatakan oleh orang bijak sekalipun. Tapi toh pada akhirnya Agni setuju untuk membuka pintu itu. Walau resiko banget kalau mereka ketahuan oleh guru-guru atau stafm bisa disangka macam-macam. Tapi, toh resiko kalau mereka bakal ketahuan juga sedikit. Jadi kenapa nggak?

Krieeeet…

Pintu dibuka perlahan oleh Obiet. Cakka, Agni, dan Obiet masuk pelan-pelan sambil sedikit berjinjit. Well… benar memang, nothings big di ruangan tertutup itu, hanya satu buah meja dengan satu buah alat atau konstruksi semacam rangkaian berantai yang hampir jadi di atasnya. Ada 3 buah bola yang warnanya berbeda tergeletak di samping rangkaian itu. Obiet mencoba mendekat, memperhatikan rangkaian itu lebih rinci.

“Oh.. aku ngerti maksud cara kerjanya…” kata Obiet segera setelah ia selesai meneliti rangkaian itu.

“Wow..” Agni dan Cakka mengakui, otak Obiet memang benar-benar encer. Mereka saja baru melihat sudah melongo, dan akan terus melongo walaupun sudah memperhatikan sedekat-dekatnya. Obiet yang baru memutari rangkaian itu 1 kali dengan pandangan kagum sudah mengerti cara kerjanya, padahal rangkaian belum jadi sepenuhnya, hanya hampir.

“Cak!..” Obiet mengambil bola warna merah dan melemparkannya pada Cakka. Hal yang sama ia lakukan kepada Agni yang mendapatkan bola berwarna hijau. Sementara dirinya sendiri mengambil bola berwarna biru.

“Nanti gue bakal ngitung angka dari 1 sampai sepuluh..” Obiet mulai menjelaskan. “Di hitungan kesatu gue masukin bola biru ke lobang pertama, Cakka masukin bolanya di lobang kedua dan Agni di lobang ketiga-hitungan 3..”

Lalu Obiet menaruh bagian rangkaian yang belum terpasang di samping rangkaian utama, tentu saja dengan memperkirakan jarak, kecepatan dan waktunya dulu.

“Siap?…” Obiet memberi aba-aba. Agni dan Cakka siap di tempat masing-masing.

“GO!… satu… dua…”

Bola-bola itu masuk di waktu yang tepat. Tiap bola menggelinding di jalurnya, dan setiap bola mempengaruhi arah bola berikutnya. Bola Obiet menggelinding dan mendorong sebuah papan di depannya, bola Cakka yang tadinya di balik papan terdorong oleh dorongan bola Obiet, bola Cakka pun berbelok kesamping lalu menggelinding lagi ke bawah sementara bola Obiet terus melaju ke depan. Begitu juga yang terjadi kepada bola Agni yang dipengaruhi oleh dorongan bola Cakka, dan seterusnya sampai ketiga bola bertemu di satu titik, rangkaian itu putus, dan Obiet pun mengambil ke tiga bola yang sudah sukses melalui jalurnya masing-masing.

Rangkaian itu hampir sempurna. Sayang.. di akhir, ada satu buah bagian kecil dari rangkaian yang tidak dapat terpasang di tempatnya. Harus pakai peralatan seperti paku untuk memasangkan rangkaian itu.

“Kereeeen…” Agni dan Cakka member applause bersamaan untuk Obiet.

“He he…” Obiet tersenyum bangga. Ia tak menyangka bisa memiliki otak seencer itu. “Hebat kan?… keren kan gua?… Iya dong… Obiet…” kata Obiet bangga. Sementara Agni yang berdiri di sampingnya mulai mengambil kesimpulan kalau Obiet sudah mulai ketularan sifat Cakka.

Lalu untuk merayakan keberhasilan itu, Obiet mencoba menunjukan kebolehanya dalam menjugling. Ia melempar ketiga bola layaknya pemain sirkus handal. Tadinya sih permainan masih stabil, tapi tiba-tiba terdengar suara grasak-grusuk di bawah meja. Dan…

BRAK!!

Seekor tikus mungil nan dekil lari keluar dari kolong meja, menerobos kedua kaki Obiet. Obiet yang terkejut langsung kehilangan keseimbangan dan tubuhnya yang ramping terjatuh dengan pinggang terpentuk sisi meja yang runcing.

Groak!..

“Aduh!…” Obiet merintih kesakitan. Tangannya terus memegangi pinggangnya yang mulai nyut-nyutan. “Ah… kayaknya tulang gue ada yang retak dah..” Obiet mulai was-was, jangan-jangan bunyi groak yang tadi terdengar merupakan suara tulang pinggangnya yang retak.

“Tapi kayaknya bukan, Biet..” kata Agni. Matanya melihat Obiet dengan pandangan prihatin, namun setelah itu ia melihat rangkaian di meja yang terlihat agak tergeser dari posisi sebelumnya.

“Kretek..”

Terdengar lagi suara suatu benda yang retak. Dan segera setelah itu satu buah potongan rangkaian yang mungkin menjadi salah satu pondasi untuk berdirinya keseluruhan rangkaian itu jatuh, terpisah dari kawanannya. Obiet berbalik, memandang ke rangkaian di atas meja, begitu juga dengan Cakka dan Agni. Dan beberapa detik kemudian, mereka terpaku, mematung melihat rangkaian yang baru saja mereka coba ¾ nya jatuh, roboh, extremely crashed di depan mata mereka sendiri.

“Eh…” Obiet membuka mulut mencoba menenangkan pikirannya yang sudah kalang kabut itu. “Oke… yang ngancurin tikus… bukan gue…”

..

“Biet!…” Hufft.. malangnya Obiet. Sudah sampai ngelas-ngelas segala, tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggilnya, suaranya datang dari koridor luar.

“Cakka!… Agni!…” Dan ternyata tak hanya Obiet yang apes, Agni dan Cakka juga. Sudah! Habislah mereka..

..

“Pokoknya sekarang kita keluar aja. Masalah rangkaian bisa kita beresin nanti…” kata Obiet yang langsung saja lari ngibrit keluar ruangan, diikuti oleh Agni. Sementara Cakka masih disana, berujar,

“Iya, Biet… gue tau! Lo kan pinter… lo pasti bisa benerin semua itu” barulah setelah itu Cakka berbalik, menyadari kalau ia sudah sendiri di ruangan itu. “Eh!.. tungguin gue!”

Cakka langsung keluar dari ruangan. Untung saja kunci ruangannya ada pada Cakka, jadi setelah keluar dari ruangan ia langsung menutup pintu, dan mengunci ruangan itu.

Obiet dan Agni sudah di samping pintu, menunggu Cakka.

“Cepetan, Cak!… kayaknya yang manggil Zaga! Dia kan tukang ngadu!” kata Obiet.

“Iya!… tukang pamer lagi!” tambah Agni yang kurang suka dengan Zaga, anak brandalan yang sok jago basket.

Setelah menaruh kunci itu di meja semula, Cakka langsung ambil jalan pintas. Ia melompati beberapa meja di depannya, dan dalam sekejap sudah berada di samping Agni dan Obiet. Mereka bertiga langsung mendorong pintu masuk ruang biologi yang nauzubillah ternyata macet. Kekecewaan mendalam telah hadir disini. “Sudah berapa tahun sih pintu biologi belum di pugar-pugar?” Tanya Cakka nggak percaya. “Makin hari makin macet aja..”

“Dobrak! Dobrak!..” Agni member usul yang langsung disetujui oleh kedua cowok di sampingnya yang sedang berada dalam situasi yang kepepet ini.

“Satu… Dua… Tiga!”

BRAK!

Pintu terdobrak, terbuka, dan terlihat patton, salah satu teman mereka sedang berjalan santai dengan ember aluminium isi ari penuh dan Patton berjalan tanpa pertahanan apapun.  Alhasil, Cakka, Agni dan Obiet yang mendobrak pintu tanpa itung-itung sama sekali langsung menubruk patton beserta ember aluminiumnya.

Byur!

Terdengar suara air yang tadinya penuh langsung tumpah ke lantai bawah. Kenapa? Karena sejujurnya mereka tadi bertabrakan di dekat balkon, dan ember penuh air itu terdorong ke arah balkon. Jadi airnya tumpah ke bawah, ke balkon lantai 2 yang kebetulan lebih lebar dari pada balkon lantai 3.

“Yah…” Patton mengeluh. Ia sudah capek-capek membawa barang berat itu dan ternyata harus tumpah di tengah jalan.

Agni, Cakka, dan Obiet yang juga bertubrukan karena kekuatan mereka sendiri malah jatuh dan duduk tersandar di balkon.

“Woi!.. SIapa tuh yang numpahin air se gallon?!” terdengar suara marah-marah dari lantai bawah.

Agni tersentak. “Eh… bukannya itu suaranya Zaga?” katanya.

Cakka membalas. “I.. Iya tau!.. jangan-jangan…”

Cakka, Agni dan Obiet langsung berdiri dengan semangat. Memandang ke balkon bawah, dan ternyata benar pikiran mereka. Di lantai bawah ada Zaga yang sudah basah kuyup terguyur tumpahan air dari ember aluminium Patton.

“Jha ha ha ha ha!…” mereka bertiga langsung tertawa terpingkal-pingkal. Sementara Zaga harus pasrah ditertawakan dalam keadaan yang memalukan itu.

“Sori, bro!.. tapi jujur, tampang lo ancur banget!” seru Cakka ke Zaga. Dan mereka terus saja tertawa senang sepanjang jalan menuju ke ruang fisika. Walau pada akhirnya mereka dihukum juga.

Mengepel semua air yang tumpah di balkon lantai dua. Ya, itulah hukuman bagi mereka bertiga. Untungnya bagian yang harus mereka pel adalah bagian yang jarang dilalui orang. Selain tidak perlu lama-lama mengepel, mereka juga bisa sekalian ngobrol bertiga tanpa ada orang yang mengganggu. Dan pada sorenya, sepulang sekolah mereka juga disuruh membuat ulang rangkaian yang telah terhancurkan tanpa sengaja oleh mereka.

“Eh…” Cakka bertanya pada Agni dan Obiet yang sama-sama lagi mengepel. “Kalian pada nyesel nggak, nyoba-nyoba masuk ke ruang misterius di ruang biologi itu?”

Obiet berhenti mengepel dan bersandar pada balkon. “… Enggak… malah gue seneng… setidaknya dalam hidup ini, gue pernah ngelakuin hal yang nekat. Lagian seru tau… pengalaman nggak kelupakan tuh!”

Lalu Cakka menatap pada Agni, seakan bertanya padanya sekali lagi.

“Iya deh, gue setuju… pengalaman nggak kelupakan. Walau agak ngelawan… tapi setidaknya gue jadi nggak perlu ngikut ulangan di kelas…” jawab Agni. Sepertinya kejadian barusan menjadikannya lebih happy.

“Eh, Ag.. lo udah ngerti belom bahan yang diajuin dalam ulangan?… kalo belum gue mau ajarin tuh!” Obiet menawarkan jasanya.

“Boleh..” balas Agni.

“Wah… hati-hati nih. Jangan-jangan Obiet mulai ngincer Agni…” goda Cakka pada kedua temannya yang senasib kena hukuman.

“Yee… ngaco lu, Cak!” seruAgni pada Cakka. Sementara Obiet malah membalas “Ngapa, Cak?… cemburu?”

“Liiih… nggak juga kali… eh, iya.. bosen nih ngepel mulu. Main-main dikit yuk!” usul Cakka.

“Main-main gimana?” tanya Agni yang tidak mengerti maksud Cakka.

“Gini nih caranya!…” Cakka langsung menjatuhkan sikat yang ia gunakan tadi, lalu menendangnya pada Obiet. Obiet pun mulai mengerti dan ia menendang sikat itu ke Agni. Agni menendang ke Cakka dan permainan oper-operan sikat itupun berlanjut.

Beberapa hari berlalu. Sekarang lebih sering berkawan dengan Cakka dan Obiet dari paa menyendiri. Ia ubah pikirannya sekarang. Ternyata berteman dengan Cakka lumayan menyenangkan. Cakka anaknya lucu, narsis sih, tapi malah sifatnya itu yang bikin dia enak diajak berteman. Kalo memang harus serius dia juga bisa serius. Kalo ceria ya ceria. Penuh semangat dan inisiarif. Dan bisa dibilang, beberapa hari ini… Agni mulai menyukai Cakka. Masih sebagai teman sih… tapi sekarang Cakka sudah termasuk sangat berarti buat Agni. Obiet juga, anaknya baik, ramah, paling enak jadi tempat curhat. Yang pasti.. hidup Agni jadi lebih menyenangkan.

Ckrek..

Malam itu di padang ialalang, Agni duduk di batu besar di bawah langit malam yang gelap namun diterangi bintang-bintang paling indah dan cemerlang. Ditemani oleh kunang-kunang yang ceria, dan juga Cakka yang sibuk memotret momen malam hari itu.

“Agni… ngadep sini dong… mau difoto nih..” kata Cakka yang sedang mereka-reka jarak foto yang bagus untuk memotret Agni.

“Males ah, Cak… tadi akn gue udah banyak difoto.. foto diri lo sendiri aja..” balas Agni yang urung menatap camera. Ia sudah capek di suruh berputar-putar dan membuat gelembung-gelembung busa tadi siang. Bisa dibilang Agni baru saja menjadi model dadakan untuk pemotretan Cakka. Entah untuk proyek apa, tapi kata Cakka penting.

Cakka yang tadi pagi tiba-tiba mampir ke rumah Agni dan mengajak Agni ke padang ilalang bahkan sempat mengatakan kalau pemotretan hari itu khusus untuk Agni. Katanya agar Agni sadar kalau dirinya itu cantik dan memiliki senyum termanis di antara senyum lainnya yang pernah Cakka lihat, bahkan melebihi senyum monalisa. “Jadi intinya, Ag.. lo tuh patut sering-sering senyum di masa hidup lo. Kalo cowok ngeliat, pasti mereka langsung meleleh di depan lo…” kata Cakka yakin. Dan Agni hanya mengomentari kalau Cakka terlalu gombal.

Melihat malam yang semakin larut, Cakka menghentikan sesi pemotretannya untuk sementara dan duduk di samping Agni. Ia pikir inilah saatnya mengutarakan maksud sesungguhnya mengajak Agni kesini.

“Ag..” panggil Cakka pelan.

“Hm?..” Agni langsung menanggapi, namun pandangannya tetap pada langit biru tua.

Cakka mengambil nafas sejenak, baru setelah itu ia melanjutkan pembicaraan.

“Menurut lo… hidup lo itu gimana?” Tanya Cakka.

“Kenapa lo harus nanya hal itu?” Agni balas bertanya, namun saat ini Cakka sedang dalam mood serius.

“Jawab aja” balas Cakka agak tegas. Dan mau tidak mau, Agni harus menjawab.

“Ya… dulunya sih nggak banget… tapi sekarang udah lebih baik kok… gue udah punya temen buat bersandar kalo lagi sedih maupun seneng. Sayangnya bentar lagi harus berakhir… kalo diibaratkan senyum… mungkin Cuma ¾ nya.. hh… coba gue bisa hidup lebih lama ya?… nggak sakit lagi… yah… intinya hidup gue sekarang… hampir sempurna kali ya?” jawab Agni sebisanya. Memang Cuma itu kata-kata yang terlintas di pikirannya saat itu. Karena Cakka masih diam, Agni hanya menambahkan kata “Itu aja..” untuk menunjukan kalau jawabannya sudah selesai.

Dan Cakka kembali bertanya. “Berarti… kalo misalnya ada orang yang mau ngedonorin hatinya ke elo… hidup lo bakal sempurna dong?..”

“Yah… nggak gitu juga…” jawab Agni. “Hidup ini kan nggak ada yang sempurna… tapi paling nggak, hidup gue bakal lebih berarti dan patut untuk di perjuangkan aja..”

“Em… jadi.. kalo ada yang ngedonor hati buat lo… lo janji bakal memperjuangkan hidup lo?”

“Ya… iya… Ck, Emang kenapa sih lo mau nanyain kae’ begituan ke gue?” Tanya Agni yang merasa nggak nyaman di tanyai hal yang mencangkup hidup dan mati itu.

“Nggak kok… nanya doang..”

Cakka berdiri kembali, melanjutkan pekerjaannya tadi, memotret pemandangan malam di padang ilalang yang dihiasi oleh kunang-kunang.

“Eh..” kata Cakka. Agni seperti biasa mendengungkan nada Tanya.

“Kalo tiba-tiba gue pergi dari hidup lo.. lo bakal gimana ya, Ag?” ujar Cakka dengan sedikit nada canda.

“hih… yaa itu sih terserah lo… gue ngebolehin aja kok..” balas Agni dengan canda juga.

“Emang gue bukan kayak pangeran yang berarti buat lo ya, Ag… kayaknya lo juga mulai suka sama gue tuh”

“Idih! Pede amat lo!… lo kan istilahnya kayak monyet nangkring, yang kerjanya gelayutan di hidup gue… enak aja-dari monyet langsung minta jadi pangeran…” balas Agni dengan bantahan serta merta.

“He he… ya… siapa tau aja..” Cakka tersenyum penuh makna. “Berarti lo nggak ada masalah dong, kalo gue tiba-tiba ngilang..” kata Cakka lagi.

“Ya jangan gitu juga kali, Cak… sejujurnya.. lo asik kok..” kata Agni dengan sejujur-jujurnya.

Cakka tidak mengomentari apapun. Tapi setelah itu ia langsung membuka topic baru. “Hm… Ag,… gimana kalo gue bilang… kemungkinan sebentar lagi bakal ada orang yang mau mendonorkan hatinya sama elo…”

“Gue.. bakal seneng?… tapi… emang mungkin?.. mustahil ah..” balas Agni.

“Yee.. mungkin aja lagi..”

“Gue nggak percaya…”

“Gini deh…” Cakka membuat raut muka berpikir. “Gimana kalo kita bikin kesepakatan?… kalo misalnya bener ada orang yang bentar lagi mau donorin hatinya sama lo, lo harus lebih berusaha dalam hidup dan nggak bakal nyia-nyiain hidup lo itu… lo bakal memperjuangkan hidup lo, nggak males-malesan lagi dan harus selalu tersenyum…” ucap Cakka panjang lebar.

“ha ha… kata-kata lo tadi kayak emak-emak, Cak… tapi… gue setuju kok..” Agni mendekati Cakka dan tiba-tiba Cakka berbalik, mengacungkan jari kelingkingnya pada Agni.

“Deal” Agni membalas acungan kelingking Cakka, lalu merangkulnya layaknya seorang sahabat. “Eh… udah belom motretnya?… bentar lagi mama gue pasti nelfon nih… pulang yuk… nanti mama gue nyangka lo nyulik gue lagi..”

“Iya… ni udah sisa foto terakhir… mm.. kita foto bareng yuk!” usul Cakka. Agni tidak keberatan dan mereka pun berfoto bersama.

Cakka mengambil satu buah bunga tanpopo disana dan memberinya pada Agni.

“Nanti di hitungan ketiga lo ngadep ke camera sambil senyum sama niup bunga itu yah..” suruh Cakka iseng.

“Ih! Maunya… nggak ah! Lo tiup aja sendiri..” Hmm.. Agni menolak. Sepertinya di foto terakhir ini Cakka harus rela ide isengnya ia lakukan sendiri.

“Iya iya… Siap?.. satu.. dua.. cheese..”

Ckrek..

Beberapa hari berlalu, dan hari-hari itu terasa biasa seperti hari-hari sebelumnya, namun sebelum berita gembira tersampaikan dari mulut mama Agni. Beliau bilang ada seseorang teman yang bersedia mendonorkan hatinya. Mama Agni tidak sempat memberitahu siapa yang jadi pendonor hati untuk Agni, namun Agni tidak terlalu peduli dengan hal itu, kegembiraan telah merasuki dirinya, sebentar lagi ia akan mendapat masa depan sepenuhnya. Seperti yang ia janjikan kepada Cakka, ia harus berjuang akan hidup itu, dan tidak akan menyianyiakannya, dan tentu saja tidak lupa tentang bahasan senyuman manis itu. “Oke, Cak… aku bakal tersenyum..” ujar Agni dalam hati. Obiet yang mendengar beritanya langsung dari Agni juga ikut senang, namun sayang… Cakka tidak sempat mendengar berita itu secara langsung dari Agni. Hari itu Cakka Absen, tidak ada keterangan. Agni juga berharap esok Cakka akan masuk sekolah, kalau tidak, mungkin Cakka dapat datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan Agni disaat pendonoran hati itu belum dimulai. Namun tidak… Seperti apa yang di ucapkan Cakka malam kemarin di padang ilalang… Cakka seperti menghilang tanpa jejak.

3 hari berlalu, Cakka masih belum menunjukan dirinya. Padahal kemarin Agni sudah senang-senang karena Ia telah berhasil melalui masa pendonoran hati itu. Kini ia mulai lesu kembali. Lesu karena ia rindu Cakka. Benar-benar tidak disangka, dulu Agni selalu kesal kalau harus bertemu dengan Cakka, tapi kenapa sekarang malah sebaliknya? Agni beruntung masih punya Obiet yang setia menemani di rumah sakit, menggantikan posisi Cakka. Tapi sungguh, posisi Cakka di hati Agni sepertinya sudah tak dapat tergantikan lagi sekarang.

Siang itu hujan deras. Agni duduk di kasur rumah sakitnya, memandang ke luar jendela. Ia sudah memakai pakaian lengkap, lengkap dengan jaket coklatnya juga. Obiet duduk di bangku sampingnya memainkan beberapa nada di gitar. Agni masih murung sejak semalam, ia terus memandangi rintik-rintik hujan yang jatuh membasahi bumi. Ia ingat saat pertama kali ia kehujanan, saat pertama kali ia pulang bareng Cakka, dan ia ingat embun-embun yang ada di jendela taksi saat itu. Agni ingin itu terulang. Namun ia juga bertanya-tanya, mengapa ada suatu perasaan yang berkata kalau saat itu tidak dapat terulang lagi, bahkan mulai menghilang.

Obiet memainkan gitarnya, mencoba menghibur Agni. Ia menyanyikan salah satu lagu yang berhubungan dengan hujan, dan lumayan berhubungan juga dengan saat-saat yang sedang Agni bayangkan sekarang.

Rinai hujan basahi aku…
Temani sepi yang mengendam…
Kala aku mengingatmu…
Dan semua saat manis itu…

Aku… selalu bahagia… saat hujan turun…
Karna aku dapat mengenalmu untuk ku sendiri…

(Utopia – hujan)

“Biet…” Agni memanggil Obiet lirih.

“Hm?” Obiet menghentikan permainan gitarnya, mempersilahkan Agni melanjutkan kata-katanya.

“Kenapa ya?… sekarang gue mulai berpikir.. kalo gue tuh nggak bakal ketemu lagi sama Cakka..”

Obiet terdiam. Ia ikut memandang rintik-rintik hujan. Menghela nafas lalu menatap Agni lagi dan merangkulnya. “..Kalo gitu jangan mikir…” kata Obiet dengan nada lembut. “Eh… coba bayangin… mungkin, Cakka nggak sempet ke rumah sakit ini jenguk lo.. dari kemarin… gara-gara dia lagi di rumah lo. Mempersiapkan pesta penyambutan…” tambah Obiet. “Makanya… lo jangan murung gitu dong.. , Ya?”

Agni mengangguk pelan dan bersandar di bahu Obiet. Setidaknya sekarang ia dapat merasakan kehangatan seorang teman.

Obiet benar. Ketika Agni, Obiet dan mamanya Agni masuk ke rumah mereka disambut dengan ceria oleh beberapa kerabat dekat keluarga Agni. Mbok juga ikut merayakan. Pesta itu pun dimeriahkan dengan nyanyian dari Obiet, ditambah dengan masakan enak bikinan mbok dan beberapa makanan yang dipesan dari KFC seperti eskrim untuk penutup. Sekitar jam 8 semua kerabat yang datang sudah harus pulang. Lagi pula Agni kan juga harus istirahat. Pesta itu berlangsung meriah, namun ada sesuatu yang kurang. Ternyata Obiet juga salah. Cakka tidak ada di sana. Pokoknya sejak mama Agni memberitahukan Agni kalau ada orang yang ingin mendonorkan hatinya pada Agni Cakka seperti menghilang begitu saja. Tidak member kabar, tidak menelepon sama sekali. Menghilang… sudah, itu saja. Namun Ada sesuatu yang mengganjal di hati Agni. Dari pertama mamanya menelepon tentang pendonor hati itu, mamanya tidak pernah mau memberitahukan siapa yang pendonor hati itu.

-

Malam itu, bintang-bintang bersinar terang. Agni duduk di teras depan. Ingat saat-saat Ia bersama Cakka di padang ilalang tempo hari. Agni penasaran dengan hasil foto Cakka. Tiba-tiba terlintas satu pikiran konyol di otak Agni. Mungkin Cakka pergi begitu saja untuk meraih mimpinya sebagai seorang fotografer, seperti (yang di film sang pemimpi). Ia lalu mengambil sebuah beasiswa untuk pergi keluar negri, bagaimanapun juga Cakka kan termasuk orang yang nekat. “Ha ha..” Agni tertawa kecil. Yang pasti kalau peristiwa ini seperti peristiwa di film sang pemimpi maka Cakka akan kembali lagi.

“Agni!..” tiba-tiba mama Agni memanggil dari ruang tengah. Mamanya sedang sibuk mengerjakan beberapa tugas yang tertinggal. Karena saking senangnya mama Agni saat mendengar ada yang menawarkan hati untuk Agni, mama Agni sampai lupa kerjaan.

“Iya, ma?..” Agni segera menyahut.

“Tolong ambilin map biru di lemari besar mama dong, Sayang..” lanjut mamanya.

“Iya!..” Agni segera mengerjakan tugasnya. Ia masuk ke rumah, melewati Obiet yang sedang duduk di sofa ruang tamu, memainkan rubik yang tadi ia bawa. Lalu ia masuk ke kamar mamanya yang berada di dekat ruang tamu.

Agni mencari-cari map biru yang mama minta. Kamar mamanya saat itu agak berantakan. Mbok belum sempat merapihkan kamar mamanya. Setelah menggeser-geser beberapa buku tebal yang ada di sebelah deretan map, akhirnya Agni menemukan map yang mama maksud. Ia berdiri tegak, membuka-buka sedikit map biru itu lalu mundur kebelakang. Tadinya ia ingin langsung keluar, tapi tidak sengaja bahunya mementuk satu rak di dekat pintu. Kumpulan kertas yang sudah disteples jatuh. Agni segera mengambilnya dan hendak mengembalikan kumpulan kertas itu ke tempat semula, namun ia terhenti saat melihat potongan kalimat di salah satu lembaran kertas itu.

“Surat penandatanganan pendonoran hati”

Sudah pasti Agni tertarik untuk mengetahui orang yang mendonorkan hatinya untuk Agni. Ia membalik lembar itu, melihat lembar terakhirnya, dan ia tersentak melihat nama pendonor itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Nafasnya tersendak dan tangannya bergetar.

Brak!

Agni keluar dengan segenap kebimbangannya. Tanpa sadar pintu kamar mamanya terbanting. Obiet yang terkejut langsung berdiri, menatap Agni bingung. Agni terdiam, di tangannya ada kertas yang ia pegang itu. Dan dengan mata basah karena air mata, nafas yang tidak teratur, Agni berkata.

“Biet…, Cakka… meninggaaal… ”

Obiet diam sejenak, Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak mungkin…ha ha..” Obiet tertawa kecil, ingin menganggap kalau kenyataan itu salah. Salah besar..

“hhh..” Agni memegangi dadanya yang sesak.

“Eh… ada apa ini?” tanpa Agni maupun Obiet sadari mama Agni sudah berada disitu. Dan ia langsung menunduk ketika melihat apa yang ada di tangan Agni.

Agni menghampiri mamanya. Ia coba untuk mengatur nafasnya yang sudah tak karuan itu, juga suaranya yang mungkin hampir habis karena tertelan oleh isakannya yang tak henti-henti terdengar.

“Ma.. Siapa ma?… siapa pendonor hati itu?…” tanya Agni lirih. Didekatkannya kertas yang ia pegang ke depan muka mamanya.

Mamanya yang juga mulai berkaca-kaca tidak bisa menjawab sejujur-jujurnya. “..Yang donor hati itu… temen kamu, Sayang…”

“Ya tapi temennya itu siapa, Ma?…” Agni mengguncang bahu mamanya. Ia sudah tidak sabar lagi dengan mamanya yang tak pernah menjawab dengan lurus.

“huft…” Berat. Kata-kata itu sangat berat untuk diucapkan oleh mama Agni. Karena mama Agni tau tekanan yang akan Agni terima juga tidak akan ringan. “Dia Cakka… Cakka, Sayang..”

Agni mundur, melepaskan tangannya dari bahu mamanya. Ia terus menggelengkan kepalanya. Bahkan mungkin ia mulai lupa untuk bernafas.

“Nggak… Nggak mungkin…” Agni jatuh, terduduk lemas di lantai. Obiet yang jelas-jelas mendengar jawaban dari mama Agni itu langsung merangkul Agni, berusaha menghiburnya. Mama Agni merasa bersalah telah menjawab semua itu. Namun bagaimana lagi? Cepat atau lambat hal itu memang harus terungkap.

Kini tangisan Agni tak bisa dibendung lagi. Ia menangis sekeras-kerasnya. Ia bingung… Mengapa orang yang sudah membuat hidupnya lebih berarti, tiba-tiba malah membuat hari yang hampir sepurna itu menjadi hari tersedih dalam hidupnya?

“hhh… Cakka bodoh!… Kenapa dia nggak pernah ngomong ke aku dulu sebelum mutusin hal itu… Mau dia tuh apa sih, Biet?” Agni terus memegangi dadanya. Tangan kirinya mencengkram baju Obiet yang mencoba menenangkannya. Cengkramannya sangat erat, tapi Obiet tidak peduli. Sekeras apapun itu rasanya tidak akan sesakit perasaan Agni saat itu.

“Aku nggak pernah mau akhirnya jadi kayak gini… Aku nggak berhak dapetin hati ini… Aku nggak berhak dapetin semua ini… Kenapa harus Cakka?… Dia harusnya hidup.. Aku yang harusnya mati… Aku nggak mau kayak gini… hhh… Balikin Cakka… biar aku yang matii…”

Agni terus memengangi dadanya. Ingin rasanya merobek dada itu, mengeluarkan hatinya, mengembalkan hatinya untuk Cakka lagi. Ia tidak pernah mau akhir yang seperti ini. Jadi selama 3 hari ia menunggu kedatangan Cakka, hati Cakka berada di dalam tubuhnya?. Agni sendiri bingung apa yang sedang ia rasakan sekarang. Menyesal? Sedih? Senang? Aneh? Hidup?… bahkan sekarang ia berharap untuk mati. Semua kebagahiaan bagaikan hilang begitu saja. Malam itu sungguh menyedihkan. Ingin rasanya memulai waktu. “Biar Cakka yang hidup sementara aku yang mati” kata-kata itu terus terucap dari mulut Agni.

“Udah, Ag… Udah… semua udah terjadi..”

“Nggak…hh.. nggak mau… kenapa harus hatinya Cakka?… Jangan hatinya Cakka… Aku nggak mau… hh.. Aku nggak mau hatinya Cakka… Aku nggak mau kehilangan Cakka…”

Obiet memeluk Agni lembut. Air mata Agni tak bisa di bendung lagi. Ia menangis semalaman. Agni sudah kehilangan salah satu orang yang berarti baginya. Bahkan mungkin paling berarti.

Esoknya mama Agni memberikan sebuah kotak kado bergambar kunang-kunang di waktu malam. Mama Agni bilang itu kado dari Cakka. Sebelum Cakka pergi ia telah menitipkan kado itu kepada mama Agni. Mama Agni tidak pernah membuka kado itu sejak Cakka menitipkannya. Dan sebelum Agni membuka kado itu di kamarnya sendiri, mamanya juga menyampaikan beberapa alasan mengapa Cakka rela membiarkan hatinya di donorkan untuk Agni. Ternyata Cakka yang selama ini suka seru-seruan dan agak nekat itu menderita penyakit pada jantungnya. Sebentar lagi ia juga akan meninggal seperti Agni. Bahkan mungkin waktu hidupnya saat itu lebih singkat dari pada Agni. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan dirinya bisa senekat itu, senarsis itu, dan mungkin itu juga arti dari beberapa kata yang Cakka ucapkan di padang ilalang di tengah kerubunan kunang-kunang.

Agni membuka kotak yang di berikan Cakka itu. Isinya adalah beberapa foto yang kemarin di ambil di padang ilalang. Beserta cameranya juga. Ada sepucuk surat di situ, dan juga sebuah CD bertuliskan “lagu yang kemarin lo minta, Tere tersenyumlah. Beserta lagu-lagu favorit Cakka lainnya (cia’ellah)”. Agni tersenyum membaca judul CD itu, tulisannya benar-benar ngasal, sebenarnya tidak terlalu cocok untuk dijadikan judul CD, tapi itulah Cakka. Dan ia suka Cakka yang seperti itu. Agni melihat hasil foto-fotonya yang diambil oleh Cakka. Ada banyak, sekitar 30-an. Dan Agni baru sadar ternyata ia lumayan manis. Apalagi Cakka juga menuliskan kata-kata Agni manis di balik salah satu lembaran foto. Ada salah satu foto juga yang bercantumkan label terfavorit di balik lembarannnya. Cakka yang menempelkan label itu. Itu adalah foto saat Cakka dan Agni berfoto bersama, lalu Cakka dengan sengaja menerbangkan helai-helai bunga tanpopo. Benar-benar saat yang tak terlupakan. Dan seperti yang Cakka inginkan dipadang ilalang, foto-foto itu benar-benar akan menjadi kenangan mereka bersama. Lalu terlintas di kepala Agni suatu Ide. Ia segera menelepon Obiet, meminta Obiet untuk mengantarkan dirinya ke suatu tempat. Obiet mengatakan kalau ia bersedia, maka Agni langsung bersiap-siap untuk pergi, namun ketika ia sudah siap di ruang tamu Obiet belum sampai. Dan disaat itu ia baru ingat akan surat dari Cakka, ia belum membaca surat itu. Lalu ia kembali ke kamar, membuka kado dari Cakka dan membaca suratnya.

Hai! Gimana kabarnya nih?

Kalo berdasarkan prediksi gue kemarin, harusnya lo udah sehat walafiat kan?
Gue nggak tau gimana reaksi lo pas baca surat ini. Apa heran kah? Ngerasa ini semua mimpi? Seneng?? Atau jangan-jangan sambil nangis?

Yah… kalo bisa jangan nangis dong… masa Agni ku yang manis nangis? Udah lagi lo kan termasuk tomboy, Ag.

Heh! Asal lo tau, Ag.. gue ngerasa beruntung bisa hidup di dekat lo di saat-saat terakhir hidup gue. Setidaknya gue udah bisa beramal dengan membuat hidup lo lebih berwarna. Haha!
Pede banget ya, gue? Padahal lo sendiri pernah bilang gue kayak monyet nangkring yang suka gelayutan di hidup lo. Tapi, gue termasuk monyet nangkring yang ganteng kan?

Yah… pokoknya, gue Cuma berharap, lo bakal nepatin janji lo untuk hidup lebih ceria dan bersemangat. Apalagi sekarang lo udah punya hati gue yang berharga.
Harusnya sih, lo ketularan narsis kayak gue. He he…

Ag, terus jalani hidup lo dengan semangat yah.
Gue tau, ada banyak orang yang masih cinta dan sayang sama lo sepenuh hati. Termasuk gue.
Lo bisa ngerasain rasa sayang itu di hati lo sekarang. Karena sesungguhnya…

Hatiku Adalah Hatimu… (ciaellah)

Terus tersenyum ya, Agni. Senyum lo manis loh..

^ _ ^    With love.

Cakka Nuraga.

Agni tersenyum memandangi surat dari Cakka yang baru saja ia baca. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi kertas surat itu. Lalu ia menghapus air matanya, menaruh kertas Cakka di kotak kayu, tempat semua harta karunnya tersimpan, termasuk foto-foto kenangan mereka di padang ilalang yang sempat di abadikan oleh Cakka. Lalu ia tutup kotak kayu itu, dan ia taruh di lemari bukunya.

“Agni!…” terdengar panggilan dari luar rumah. Agni langsung mendekati jendela dan melihat sosok yang barusan memanggilnya.

“Obiet?”

“Ag! Udah siap belum? Kita jadi ke padang ilalang kan?” Tanya sosok yang tadi memanggilnya, yaitu Obiet.

“Iya! Bentar!”

Agni pun  mengambil tas selempangannya, ia memasukan mp3nya ke dalam kantong jaket, dan segera turun ke lantai satu. Setelah berpamitan kepada mamanya, ia menutup pintu rumah dan menghampiri Obiet yang sudah menunggu di mobil.

Setelah Agni naik ke mobil, Obiet memperhatikannya dari kursi pengemudi.

“Ngapa?” Tanya Agni curiga terhadap pandangan Obiet yang tak biasa.

“Oh.. enggak…” Obiet kembali memandang kedepan. “..Lo habis nangis ya, Ag?”

Agni langsung gigit bibit. “Perasaan tadi pas gue ngaca, mata gue udah nggak sembab lagi..” benaknya.

“Eh… lupain aja”

“Yah… gue Cuma mau bilang, itu wajar kalo lo nangis… tapi jangan terus-terusan. Kasian Cakka, nanti dia ikut nangis juga lagi..” ujar Obiet. “Jadi? Ada yang ketinggalan nggak?” Tanya Obiet lagi.

“Enggak kok. Udah! Cepet jalan!”

“Oke, Sis..”

Obiet pun menyalakan mesin mobilnya dan tak lama setelah itu, mobilnya mulai melaju di jalan-jalan perumahan akasia.

Agni mengeluarkan mp3 nya. Ia mencari-cari lagu yang kemarin di beri oleh Cakka bersamaan dengan foto-foto dan surat untuknya. Setelah ketemu, ia memasang earphone yang telah tersambung dengan mp3 ke telinganya. Lalu ia menekan tombol play dan lagu itu dimulai. Agni menyukai alumna music itu. Sangat indah… sangat damai.. dan entah mengapa, lirik-liriknya seperti pesan yang ingin Cakka sampaikan padanya. Dan Agni tersenyum manis, semanis madu yang ada di bunga-bunga pohon pinggir jalan, yang daunnya juga ikut menyejukan pagi.

..

- – Tere/Tersenyumlah – -

Mengapa kau bersedih saat cinta pergi
Biarlah saja bila semua harus terjadi
Hidup bukan sampai disini waktu terus berjalan
Yakinlah ada bahagia yang akan kau rasa dalam hidupmu

Dan tersenyumlah sayang
Lepas semua pedih di hati
Karna cinta masih ada…
Dan s’lalu ada
Percayalah…

Kadang cinta tak berhati
Sering menyakiti
Tapi cinta yang sejati
Meski t’lah pergi
Kan datang lagi

Dan tersenyumlah sayang
Lepas semua pedih di hati
Karna cinta masih ada…
Dan s’lalu ada
Percayalah…

Jangan kau tutup hatimu
Raihlah bahagia hidupmu
karna cinta pasti ada dan s’lalu ada
Oh…percayalah

Percayalah…

Saniyyah A.K

Aishiteru ~ satu cerpen

Hallo semua!…

Aku mau bagi-bagi naskah drama nih… Sebenarnya ini naskah drama udah kebikin dari dulu. Pas aku kerja kelompok B. Indo dan disuruh menampilkan satu contoh Drama 1 section.  Tapi akhirnya aku nggak pake naskah yang ini…

Nah… setelah dipikir-pikir, naskah ini… gak buruk-buruk amat kok. Terus, kepikiran deh nge-bikin naskah itu jadi cerpen. Silahkan di baca…

Aishiteru
I love you

Di satu siang yang panas, ada 3 orang siswa SMP Citra Mulia yang masih berada di dalam kelas mereka, yaitu kelas 8-1. Mereka sedang sibuk melakukan hal masing-masing, dan ekspresi mereka sepertinya tidak terlalu berbeda dengan suasana siang pada saat itu. Sama-sama kering, sama-sama kusut, tidak bergairah sama sekali.

Arin, satu-satunya cewek yang ada di kelas itu sedang menulis sesuatu di papan tulis. Ada juga Vio yang duduk terkulai dengan lemasnya di kursi depan dengan tampang murung. Dan Candra yang hanya duduk diam di atas meja pojok sebelah pintu kelas, memperhatikan ekspresi loyo kedua temannya itu. Sepertinya mereka berdua sedang marahan.

Tiba-tiba masuklah seorang cowok dengan membawa satu buku tulis kecil. Cowok itu teman mereka bertiga, nama cowok itu Fardo. Fardo Masuk dengan semangat dan menyapa 3 temannya.

“Hai!… gue ketinggalan apa nih?” sapa Fardo.

Ketiga temannya hanya diam. Fardo menjadi bingung, ada apa dengan ketiga temannya ini?. Ia pun menatap Arin, Vio, dan Candra bergantian.

“Kok auranya gini sih?” tanya Fardo.

“Mereka lagi marahan” jawab Candra singkat sambil melirik Arin dan Vio.

“Gara-gara dia tuh” kata Vio sambil melirik Arin.

“Kenapa gue? bukannya elo yang emosian” balas Arin ke Vio tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis.

“Gimana sih ceritanya?” tanya Fardo. Ia menunggu salah satu dari 3 temannya agar menjawab pertanyaannya barusan. Lagi-lagi, Candra lah yang menjawab pertanyaannya itu, dan Fardo pun duduk di sebelah Candra agar ia bisa mendengar dengan leluasa.

“Jadi gini… Vio tuh lagi marahan sama ceweknya, Ify” kata Candra. “Gara-garanya, kemarin Ify dateng nyamperin Vio.. Ify mau ngajak Vio jalan, tapinya…”

“Vio emosian, dia nganggep Ify ganggu kesibukan dia. Vio kan lagi sibuk-sibuknya remed minggu ini” kata Arin menyelak penjelasan Candra.

Fardo mengangguk, ia mulai mengerti permasalahannya. “Terus?”

“Terus, gara-gara Vio marah, Ify juga marah. Ify bilang,.. ‘Dan sekarang kamu lebih suka deket sama cewek itu?’..” Candra melanjutkan penjelasannya sambil menirukan suara Vio dan Ify. “..Vio jawab,.. ‘cewek apa?’.. Ify bilang lagi, ‘Arin’..”

“Tapi kan gue nggak deket-deketin Vio. Ngapain juga.. nggak ada kerjaan banget. Kita kan sekelompok, gimana nggak deket?” selak Arin.

“Terus?” Fardo menunggu kelanjutan cerita Candra lagi.

“Di saat seperti itu, si Arin tiba-tiba dateng”  kata Candra.

“Aturan lo nggak usah masuk, Rin” Vio menyelak cerita Candra dengan nada kesal.

“Gue kan nggak tau ada Ify di dalem..” kata Arin, mencoba membela dirinya sendiri.

“Ketuk dulu kek” balas Vio.

“Kalaupun gue ngetuk, terus elo bukain, tapi kalo Ify tiba-tiba nanya ‘itu siapa?’ lo mau jawab apa?… Hantu?” balas Arin.

“Bukan! Topeng monyet keliling!” balas Vio asal.

“Ya, elu monyetnya” balas Arin lagi.

“Ha ha.. pantes pantes!” seru Fardo. Ia kembali menatap Candra.

“Terus?”

“Lu, dari tadi ngomong tras trus tras trus mulu! Cape gue dengernya…” kata Candra sambil menoyor kepala Fardo.

“Aduh!” Fardo mengelak, ia hendak membalas perbuatan Candra, tapi tidak jadi. Candra sudah duluan melanjutkan ceritanya.

“… Pokoknya, habis itu Arin masuk.. Ify keluar dengan tampang marah, dan.. marahan dah tu berdua”

“Oh… gitu doang?” kata Fardo.

“Gitu doang?!.. lo nggak tau sih gimana rasanya ditinggalin cewek..” kata Vio dengan emosi.

“Ya masalahnya gue belum punya cewek” balas Fardo enteng. “Dan gue emang males punya cewek. Nggak bebas..”

“Masalahnya bukan gitu bro…” kata Candra ikutan. “Masalahnya nggak ada cewek yang mau ama lu. Udah item… idup lagi!” lanjut Candra, ia bermaksud mengejek Fardo, tapi niatnya bercanda sih..

“Wah.. songong lu..” kata Fardo yang langsung menggeplak kepala Candra pakai buku yang ia bawa.

Tiba-tiba Arin berhenti menulis di papan tulis. Ia berbalik dan menatap ketiga temannya itu. “Eh..” kata Arin. “Gue punya ide supaya Vio bisa baikan sama Ify…”

Candra, Fardo, maupun Vio pun langsung tertarik pada topik yang baru saja Arin tawarkan.

“Apa?” tanya mereka antusias.

“Baikan dulu…” kata Arin. Ia mendekati Vio, mengajaknya bersalaman dan berbaikan.

“Bakal berhasil nggak?” tanya Vio.

“Makanya kita coba dulu”

Setelah beberapa detik, akhirnya Vio menjabat tangan Arin dan berbaikan dengannya. “Kalian juga bantu ya” kata Vio sambil menatap Fardo dan Candra.

Fardo dan Candra malah saling tatap-tatapan muka. Mereka memperlihatkan senyum licik mereka dan menjawab ajakan Vio.

“Tergantung… Goceng dulu!”

“Mata duitan, lo!” kata Vio dan Arin.

“Wajar dong.. dari pada mata jereng!..” balas Fardo dan Candra dengan kompak.

Vio dan Arin nggak bisa apa-apa selain geleng-geleng kepala. Sementara Fardo dan Candra malah tos-an.

..

Setelah di iming-iming beberapa kali, akhirnya Candra dan Fardo bersedia untuk membantu. Beberapa hari ke depan, akan diadakan pensi di sekolah, dan sepertinya rencana Arin berhubungan dengan pensi ini.

Beredarlah gosip-gosip baru. Semua itu dikarenakan kehadiran Vio di ruang musik yang katanya angker. Memang jarang ada siswa yang mau masuk ke ruang musik tua sekolah itu. Karena jarang dipakai jadi berdebu. Apa lagi Vio bukan tipe orang yang doyan musik. Parahnya, sampai ada yang bilang, “Vio udah kerasukan sama hantu di ruang musik itu, dan bentar lagi dia bakal jadi tumbal, dan bunuh diri”. Yup! itu tak mungkin terjadi.

Singkatnya, sekarang hari pensi pun dimulai. Dan pada malam penutupan, tiba-tiba Vio muncul dari keramaian dan naik ke panggung. Vio naik ke panggung dengan membawa sebuah gitar. Anak-anak sekolah yang menyaksikan itu langsung bersorak. sebab tidak ada yang tau Vio bisa main gitar. Dan itu adalah jawaban atas kehadiran Vio di ruang musik. Ia belajar memainkan gitar. Tapi dengan siapa??…

Tiba-tiba terdengar teriakan dari bawah panggung. Asalnya dari cowok berkulit hitam.. tapi nggak manis. Well… siapa lagi kalau bukan Fardo?

“Woi!.. Gue yang ngajarin tuh!!” seru Fardo dengan lantangnya.

Candra yang ada disamping Fardo langsung memukul leher Fardo. “Bo’ong banget lo!.. orang gue juga yang ngajarin..”

Habis itu si Fardo cuma bisa cengengesan plus nyengir kuda. “He he..”

Lalu datanglah Arin dari kejauhan. “Eh lo pada liat Ify nggak?” tanya Arin.

Fardo dan Candra menoleh ke Arin, “Hah? enggak tuh” jawab mereka.

“Bukannya masalah Ify diserahin ke lo?” tanya Candra.

“Iya. Tapi tadi gue udah telepon.. katanya dia mau dateng… kok dari tadi nggak kelihatan yah?” jawab Arin.

“Ditelepon aja lagi” kata Fardo memberi usul.

Candra setuju, dan begitu juga dengan Arin. Lalu Arin segera menelepon Ify.

..

“Halo?..” kata orang di balik telepon.

“Ify yah?” tanya Arin. “Fy, kok lo nggak dateng?”

“Nggak ah, Rin.. Males nih…” balas Ify.

“Kenapa males?” tanya Arin lagi. “Ini tuh penting banget, Fy”

“Ya udah sih.. biarin aja. Nggak usah ikut campur lah..”

..

Saat Arin sedang menelepon Ify, Fardo menyenggol siku Arin. “Oi, Vio udah mulai nyanyi tuh..”

“Ssst! Bentar… gue lagi ngomong sama Ify” kata Arin.

..

“Fy..”

“Rin, aku nggak mau dateng…”

“Jangan bilang ‘nggak’ dulu…” kata Arin. Ia mengambil jeda beberapa detik dan kembali berbicara dengan Ify. “Fy.. Sekarang lo denger ini..” Arin maju mendekati Vio yang sedang menyanyi dan mendekatkan Handphone-nya ke speaker di panggung.

“Itu…” Ify diam untuk beberapa saat.

“Lo tau itu siapa?” tanya Arin, ia kembali berbicara pada Ify.

Ify menjawab perlahan. “Vi… Vio?”

“Tuh kan! Gue tau lo masih ada koneksi sama Vio!.. sekarang cepet lo dateng ke sini!.. dia nyanyi buat lo, Fy!” kata Arin. “Sia-sia Vio nyanyi kalo lo nggak dateng! Cepet, Fy!”

..

Setelah beberapa saat, Arin akhirnya selesai menelepon Ify. Fardo dan Candra langsung bertanya.

“Gimana?” tanya mereka.

“Ify mau dateng. Rumahnya nggak jauh-jauh amat kan dari sini?” kata Arin.

“Iya, emang nggak jauh” kata Candra. “Hampir tetanggaan malah..”

..

Sudah hampir 10 menit berlalu. Pensi di sekolah makin ramai. Mungkin karena acara penutupannya akan di akhiri dengan peluncuran kembang api. Namun keadaan yang ramai akan mempersulit Arin, Fardo dan Candra menemukan Ify. Ya.. sampai sekarang Ify masih belum kelihatan. Untungnya Vio masih bernyanyi di panggung. Tapi durasi waktu untuk Vio bernyanyi akan habis tidak lama lagi. Candra, Fardo dan Arin terus mencari Ify. Hingga akhirnya Candra berseru.

“Itu Ify!” seru Candra sambil menunjuk seseorang di kejauhan. Arin dan Fardo segera mencari orang yang ditunjuk oleh Candra. Ternyata benar! Orang itu memang Ify.

Ify sadar dirinya telah ditemukan, dan ia malah berlari menjauh.

“Loh… kok lari?” tanya Candra keheranan.

“Kejar, Do!” Arin mendorong Fardo agar mengejar Ify.

“Aaah… Enggak ah!” Fardo menolak. “Kan ladies first!” katanya lagi. Fardo malah balas mendorong Arin.

“Loh?… be gentle dong!.. lo yang kejar!” Arin kembali mendorong Fardo.

“ah! pada repot banget lo berdua!” Candra yang nggak tahan melihat kedua temannya itu dorong-dorongan kayak anak kecil langsung maju mendekati Vio dan menyuruh Vio memanggil Ify.

“Ify..” panggil Vio dengan miq.

Ify menoleh. Dalam seketika semua mata penonton yang ada disana langsung tertuju kepada Ify. Mau bagaimana lagi? Ternyata Fardo dengan sengaja telah mengarahkan cahaya lampu sorot kepada Ify dan Vio.

“Jangan lari, Fy…” kata Vio lagi. “.. Asal lo tau gue ngerasa kesepian nggak ada lo…”

Di belakang panggung Fardo berbisik kepada Arin. “Ciaellah… kata-katanya…”

Arin Cuma ketawa kecil, tapi sebenarnya ia pingin ngakak.

“Maafin gue fy… gue emang orang yang paling nggak sempurna di dunia ini… karena gue udah nyakitin hati elo… gue nggak bisa nge-jaga hati lo, Fy…” Vio menatap jauh kedalam mata Ify. Begitu juga dengan Ify.

“Kita baikan ya, Fy… please…” Vio memohon sebesar-besarnya. Kali ini benar-benar dari hati. Dan Vio juga berharap kata-katanya dapat menyentuh Ify hingga ke hati, dan membuat Ify yakin kalau ia sangat ingin berbaikan dengan Ify.

“Ify…” Vio memanggil Ify lagi. Ia mengambil nafas panjang. Sepertinya Vio ingin mengatakan sesuatu. Dan sesuatu itu harus berarti. Walaupun hanya sedikit.

Ify menunggu Vio mengatakan kata-kata berarti itu. Dan akhirnya…

“Ify…. Aishiteru..”

Aishiteru.. kata yang sangat singkat, namun itu tetap berarti. Artinya ‘Aku cinta kamu’.

“Iya…” Ify mengangguk. Tiba-tiba Candra datang dari kejauhan dan memberikan Ify satu miq terakhir di backstage.

Lalu Ify membalas kata-kata Vio.

“watashi mo Vio wo suki…” ( aku juga suka vio )

..

Whuuu… Fuu Fuu… Fardo langsung berseru dan bersiul agar suasana kembali hangat. Semua anak pun ikut bersorak dan bertepuk tangan. Dan goda-godain Vio-Ify juga tentunya. “Cieeeee” Koor semua anak. Candra tersenyum, Fardo dan Arin juga tos-an di belakang panggung. Kerja mereka ternyata nggak jelek-jelek amat. Namun sudah pasti Vio dan Ify lah yang paling bahagia di malam ini. Acara puncak yang di isi dengan peluncuran kembang api pun dipenuhi dengan rasa cinta dan gembira.

Dan kenangan berarti di malam itu takkan terlupakan di hati-hati yang menyaksikannya. Kenangan itu akan tetap ada, tersimpan di hati, dan akan ditemani oleh rasa cinta di dalamnya.

– Fin

Gimana ceritanya?
dikomen yah… ^_^

Saniyyah A.K

King Jelly fruity ~ prince time

Ini lanjutan dari Black Berry forest ~ icy time
Soriii… lama banget yah nggak dilanjutin… Habis nggak ada waktu… sekolah makin banyak tugas… -,-

Ya udah! Mending langsung di baca yaa…

Hari pun menjelang sore. Cuaca yang pagi hari panas dilanjutkan dengan sore yang mendung. Kini sang raja surya sudah benar-benar tidak kelihatan. Awan-awan putih menghalangi sinarnya untuk masuk dengan leluasa. Lalu bagaimana dengan suasana di RCTI?

Suasana di RCTI masih sama seperti yang tadi. Tetap mendung, lembab, basah, kadang terlihat sisa-sisa air hujan yang jatuh dari tangkai pohon karena tergerak oleh Angin. Jalanan masih sedikit becek, orang-orang memilih untuk tetap berada di dalam gedung, kalaupun ingin keluar pasti tidak akan terlalu jauh.

Agni masih berjalan sendirian. Ia menuju ke kolam ikan yang lebih besar dari kolam ikan tempat ia dan Cakka tadi bertemu, sekaligus mencari Obiet. “Siapa tau dia dekat situ…” pikir Agni. Eh, ternyata Obiet panjang umur. Baru 3 detik dibayangkan, Obiet sudah terlihat duduk dengan santainya di sebuah bongkahan batu besar. Kenapa hari ini banyak cowok yang duduk di batu yah?… Well, yang pasti Agni sedikit lega. Soalnya dari tadi jalan sendiri, lama-lama cukup scary…

Sama seperti Cakka, Obiet juga sedang bermain hp. Tapi kira-kira Obiet bakal dingin juga nggak yah?. Agni pun mendekati Obiet. Belum sempat Agni menyapanya, Obiet sudah ‘say hi’ duluan.

“Agni…”

“Obiet…”

“Duduk, Ag. Pegel nanti…” kata Obiet menggeser posisi duduknya dan menyisakan satu tempat untuk Agni duduk.

“Ah… nggak usah, Biet. Nggak lama-lama ini…”

Obiet tersenyum jail. “Terus, Agni ke sini mau ngapain?… kangen aku yah?”

“jiah, si Obiet kepedean…”

“he he…”

“Tapi ia sih…” Agni senderan di batu yang Obiet duduki.  “Pingin nyari Obiet…”

“Jadi aku bener?… Agni kangen sama aku?”

“Ya enggak!…” Agni memukul pundang Obiet. “Obiet makin lama kok makin narsis aja sih?”

Sementara Obiet hanya tertawa mendengar komentar Agni itu.

“Oh iya… boleh pinjem hp kamu nggak, Biet?… Aku mau telepon Ibu” tanya Agni.

“Oh… boleh dong…” Obiet mengambil hp nya dan menyerahkannya ke Agni. “Nih…”

Alhamdulillah… Akhirnya ada yang mau minjemin hp-nya ke Agni. Agni langsung lega. Ia menerima hp Obiet dan mengetik nomor telepon rumahnya. Tapi baru mau di tekan tombol hijaunya, hp Obiet sudah duluan bunyi. Agni langsung tertunduk kecewa. Ternyata ada dbieters yang nelepon Obiet. Agni jadi ingat saat-saat ia CC-an bersama kakak-kakak Agniaza. Kalo di tolak kan nggak enak.

“Nih, Biet..” akhirnya Agni kembalikan hp Obiet.

“Loh… kok di balikin?” tanya Obiet.

“kakak dbieters nelepon…”

“Aduh… maaf, Ag…” Obiet mengambil hp-nya dan melihat siapa yang meneleponnya. “Kalo gitu… aku bilang ke kakak dbieters biar neleponnya cepet yah?…”

“Yah… jangan gitu juga.. nanti malah Obiet yang repot. Kalo teleponnya penting gimana?… Mending Aku ke Ruang koreo aja deh..”

“Tapi kan kesana jauh.. Agni nelepon mamanya Agni juga karena penting kan? Nanti kalo mamanya Agni khawatir gimana?”

“Nggak papa kok..”

“Nanti Agni dimarahin?…”

“ha ha.. nggak papa, Biet” Agni tidak menyangka Obiet sampai kepikiran kalau dia akan dimarahi ibunya.

“Bener?…”

“Beneran… udah ya, aku ke ruang koreo”

“Iya…” Obiet mengangguk pelan. Dari mukanya terlihat ia merasa sangat bersalah. Seperti anak kecil yang berkata, ‘Aku nggak berguna…’

Agni tersenyum dan berkata, “Jangan murung dong, nanti dbieters nya sedih…” Lalu Agni mundur 3 langkah dan berbalik.

“Sori, Ag…”

“Nggak pa-pa, biet” balas Agni sambil memberikan senyumannya pada Obiet.

Mendengar nada ringtone hp nya yang hampir selesai, Obiet langsung mengangkat teleponnya.

Hfft… ternyata Obiet juga nggak bisa minjemin hpnya. Agni mau pinjem siapa lagi?… tapi setelah dilihat-lihat di jam tangan Agni, batas waktu untuk nelepon mamanya juga hampir habis. “hfft… ancur nih..” keluh Agni. Sebentar lagi ia akan sampai di kolam ikan yang ia tuju. Lokasinya tidak terlalu jauh dengan pintu masuk ke gedung RCTI. Yah… setidaknya ia bisa refreshing sebentar.

Udara makin dingin, tanda-tanda akan terjadi hujan makin terlihat, namun Agni masih tetap diluar, berdiri di tepian kolam ikan dengan pandangan kosong ke bawah. Ketika ia melihat kerikil kecil, ia tendang kerikil itu ke dalam kolam. Airnya pun beriak dan bergelombang.

Ternyata ada seseorang yang melihat Agni berdiri tanpa gairah di tepi kolam. Ia tersenyum dan menghampiri Agni. Dan dengan aura orang itu, udara seketika menghangat.

Hmm… siapa yah orang yang menghampiri Agni itu??
Tetep baca yaa…

Maaf sekali lagi… aku nggak punya gambar tangan untuk part yang ini… But there is something for you of course…

rainbow doll

"rainbow doll"

Thank you… ^_^

Audisi Idola cilik 2_story

Hallo…

Aku mau nge-post cerita lagi nih. Ini cerita fiksi tentang Audisi idola cilik 2. Dan jangan dipercaya, sekali lagi ini hanya fksi dan cerita. Nggak beneran. ceritanya pendek aja sih.. nggak panjang-panjang amat. Tapi itu kalo kalian nggak terlalu menarik untuk membaca. Kalo kalian mau cerita ini diterusin.. komen aja. Sementara ini baru 1 part yang aku bikin…

Di baca yah.. ^.^

Audisi : jogja

—————————

Sekitar jam 9-nan Jogja Expo Center telah penuh dengan anak-anak bersama orang tua dan wali mereka. Anak-anak itu akan mengikuti audisi Idola Cilik 2. Untuk mengikuti audisi, para peserta di haruskan mengisi formulir dan membuat cerita unik tentang diri mereka.

Di sudut ruangan ada meja dengan setumpuk kertas formulir dan berdiri seorang kakak cewek di sampingnya. Tampaknya kakak itu adalah salah satu panitia penyelenggara audisi. Sementara di sebrang ruangan terlihat 1 anak cowok yang kelihatannya kalem, baik, manis, dan innocence.

Tidak jauh dari anak cowok itu terlihat seorang cewek membawa gitar, memakai T-shirt kuning polos berkerah, celana panjang bahan jeans dengan rambut di ikat di bawah sedang duduk di kursi yang telah di sediakan. Barusan cewek itu menaruh tasnya yang berwarna hitam polos di tumpukan tas-tas lain.

Lalu lewat di depannya anak cowok dengan tampang cool. Memakai baju lengan panjang berwarna merah, dan celana pensil bermotif kotak-kotak, hitam putih. Cowok itu membawa tas hitam polos, sama persis dengan tas anak cewek tadi. Di tangan kirinya ada tas untuk gitar juga berwarna hitam. Anak cowok itu langsung melempar tas nya ke tempat tas-tas lain, ia tidak takut tas nya tertukar. Sedangkan gitarnya, selalu ia bawa kemana-mana nggak pernah mau di lepas. Tanpa pikir panjang anak cowok itu duduk di sebelah anak cewek tadi, ia masih memeluk gitarnya. Anak cewek di sekitarnya pada merhatiin dia seperti artis, kecuali anak cewek yang di sebelahnya itu. Anak cewek itu hanya membatin “artis..artis” lalu ia mengeluarkan hp nya dari kantong dan memainkan salah satu game di hp-nya.

tiba-tiba terdengar suara seorang dari speaker.

“pagi semuanya, anak-anak yang berbakat. bagi kalian yang ingin mengambil formulir idola cilik 2 ke sudut ruangan ya.. ini sudah di sediakan..” belum selesai kakak itu berbicara, semua anak di ruangan itu langsung berebutan mengambil formulir.

Anak cewek yang tadi lagi main hp langsung memasukan hp nya ke kantong celana dan ikutan berebut, begitu juga dengan anak  cowok dengan gitarnya. Bahkan di saat desak-desakan gitarnya masih terus ia bawa, begitu juga anak innocence di sebrang meja juga ikut berebutan. Kakak yang di samping meja berusaha meloloskan diri dari kerumunan anak-anak yang sedang berebut.

“eh… adek-adek semua jangan berebutan, kita masih punya kok formulirnya nanti di bagikan lagi pas siang, setelah audisi pertama selesai” wah bukannya membuat anak-anak tenang malah membuat anak-anak tambah berebut.

Akhirnya setelah beberapa menit, aksi berebut anak-anak selesai juga. Anak cowok yang selalu membawa gitarnya itu segera mengambil tasnya tanpa dilihat lebih dahulu. Ia tidak sadar tas yang diambilnya adalah tas milik cewek yang sedang main hp tadi.

Formulir sudah habis, tapi ada satu anak yang masih berdiri di situ memandang meja yang sudah kosong. Ia adalah anak cewek yang tadi sedang main hp

“yah… abis, gimana nih?” lalu datang seorang cowok dan cowok itu bertanya dengan perhatian

“kenapa? kok sedih?”

“kehabisan formulir. padahal pingin banget ikut audisi, aku pingin jadi terkenal seperti anak-anak idola cilik 1” anak cewek itu menjawab dengan murung.

“bentar yah” lalu anak cowok itu mengambil sesuatu dari tas nya dan memberikannya kepada anak cewek itu. “nih”

“tapi kan formulir ini punya kamu, nanti jadi nggak bisa audisi”

“nggak usah khawatir, aku ada satu lagi punya temenku tapi dia nggak jadi ikut audisi, jadi dia kasih ke aku. nah sekarang yang ini buat kamu” kata anak cowok itu memberikan formulirnya.

“beneran nih?”

“iya bener. terus emm.. ini buat kamu aja, katanya kan kamu suka banget idola cilik. aku nggak terlalu sering gunain, terlalu banyak pr” kata cowok itu memberi sebuah CD idola cilik satu.

“ bener nih? makasih banget, kamu adalah anak terbaik yang pernah aku kenal” lalu anak cewek itu memeluknya. Tapi hanya sesaat dan Cuma reflex.“oh ya nama kamu siapa? kalo nama aku agni, kita temenan yuk” ajak anak cewek itu, alias agni.

“aku obiet, salam kenal”

“baik obiet, aku doain kamu bisa lulus tahap audisi” kata agni sambil ngerangkul obiet. obiet pun tersenyum manis.

“eh iya, kita harus cepet-cepet ngambil nomer” obiet mengingatkan.

“emm… kamu duluan aja ya, biet, aku harus ngambil tas aku”

“oke semoga kita ketemu lagi ya..”

“iya, dah obiet” agni dan obiet berpisah.

Di sisi lain, anak cowok yang selalu membawa gitarnya itu sedang duduk-duduk di teras luar tempat audisi. Tasnya di taruh disebelahnya.

“Hmm… Lama-lama Cakka jadi ngerasa laper nih” katanya pada dirinya sendiri. “Oh iya! Tadi kan aku bawa bekel kesini… dimakan ah..”

Anak cowok yang bernama Cakka itu pun meraih tasnya dan membuka bagian tengah tasnya. Tapi tiba-tiba ia terkejut.

“Loh… kok dalemnya ini?… aku kan nggak bawa barang-barang ini… jangan-jangan… tas-ku ketuker lagi?…”

Gimana? Mau lanjut nggak?
Dikomen okay…

“Saniyyah A.K (Sa)

Black Berry Forest ~ icy time ~

Lanjutan potongan cerita dari “Caramel chocho milk” as usual there is a picture for you.
Please Enjoy it!^^

……..

2nd day

Black Berry Forest ~ icy time ~

Sekarang siang telah berubah menjadi sore. Setelah anak-anak Icil divo, Agni, Oik dan juga Rahmi selesai latihan, mereka di bolehkan beristirahat, atau istilahnya jam bebas. Kali ini Oik dan Rahmi yang belum terlalu afal koreo untuk penampilan mereka esok hari memilih untuk tetap di ruang koreo. Anak-anak Icil divo bubaran, maksudnya memilih jalan-jalan untuk mengisi jam bebas itu sendiri.

Agni sendiri memilih untuk jalan-jalan di sekitar halaman atau taman depan. Udara disana sedang sejuk. Mungkin dikarenakan hujan yang baru mengguyur area RCTI siang tadi. Ada kemungkinan hujan akan turun lagi tidak lama setelah itu, namun Agni tidak peduli. Toh, belum hujan, mending waktunya di manfaatkan.

Lalu Agni jalan-jalan ke arah kolam ikan. Di sana ada kumpulan batu-batu besar yang halus. Dulu anak-anak lainnya suka duduk-duduk di situ sebagai tempat istirahat, refreshing, ataupun tempat menghafal lagu. Dan biasanya kolam ikan itu sepi, apalagi areanya terpencil.

Tak lama kemudian, Agni sampai di kolam ikan. Ternyata ia tidak sendiri. Ada Cakka juga disana. Dan Cakka sudah sibuk dengan hp blackberry-nya. Seketika, Agni merasakan suasana yang berbeda. Dulu biasanya Kalo ketemu Cakka sapa – sapa aja.  Sekarang ia jadi agak segan ke Cakka. Takut dianggap pengganggu atau lain-lainnya.

“Sapa nggak yah?…” benak Agni. “Nggak usah kali yah… kan di tempat lain juga masih ada kolam ikannya… lewat aja deh..”. Agni pun melangkah dengan niat menyembunyikan dirinya dari Cakka dan pergi ke kolam ikan lainnya. Tapi apa mau dikata pemirsa?, Ia tak sengaja menginjak ranting kecil yang bunyinya
*Kretek*
Sudah pasti Cakka mendengar bunyi ranting yang terinjak itu. Cakka menoleh dan mendapati Agni yang sedang berdiri mematung seperti maling yang tertangkap basah. Agni berusaha tersenyum, harusnya melakukan itu akan menghilangkan kekagokan dirinya. Namun setelah disenyumi, ekspresi Cakka tetap datar. Ia hanya menatap Agni dengan mata sedingin es di kutub dan mengalihkan pandangannya ke hp BB-nya lagi.

Agni sedikit lega, tapi kecewa juga sih. Ternyata Cakka emang bener ‘agak’ berubah. Nggak cuma tinggi, besar, otot dan paras muka kecilnya aja yang berubah, Sifatnya juga agak dingin. Individualnya keliatan banget. Kayaknya cuma hp BB-nya yang kini partner sejati dan selalu di prioritaskan olehnya. “Si Cakka… setia banget sama hp-nya..” ujar Agni di pikirannya. Kalo geng-geng ayu dan popular di sekolahnya Agni sih, pasti mereka nanggapin Cakka dengan kata-kata, “Ih!.. Sok artis banget sih, si Cakka”. Oalah… Cakka kan memang sudah jadi artis, wajar dong megang BB dan berlaga eksis. Tapi… apa nggak berlebihan, Cak?

Agni pun melangkah dengan penuh keberanian mendekati Cakka. Masa dari pertama ketemu belum saling sapa. Harus diakrabkan lagi dong, biar hubungan antar anak-anak idola cilik tidak putus. Seperti kata bunda Romi. Pokoknya persahabatan itu adalah segalanya. Kita bisa saling bantu kalo ada masalah. Kan enak punya banyak sahabat. Apalagi kalo salah satu sahabat kita, Cakka. Kan bisa numpang eksis… [...Gubrack!...]

“Hai, Cak” sapa Agni. Ia berdiri di belakang Cakka dan mencoba duduk di sebelahnya. “Aku boleh duduk di sini?” tanya Agni setelah itu.

Cakka menoleh ke Agni tanpa sepatah kata pun di ucapkan. Lalu ia mengangguk diiringi senyuman yang seperti dilakukan setengah hati, dan Ia kembali serius dengan hp-nya lagi.

“Lagi OL ya Cak?” tanya Agni. Rencananya sih mau basa-basi.

“Iya” jawab Cakka singkat. Hfft… Agni agak kecewa sih, tapi setidaknya Cakka udah ngejawab.

“Ganggu gak?” tanya Agni lagi.

“Nggak…” lagi-lagi Cakka menjawabnya dengan singkat.

“Beneran?…” Agni mulai berusaha mencairkan suasana agar lebih ceria. Hawa disini kayaknya sudah terlalu dingin. Bahkan Cakka sikapnya ikut ke bawa dingin.

“Nggak…” kata Cakka tiba-tiba. Agni tersentak. Kok Cakka bisa berkata seperti itu.

“Eh, Ag, kalo aku jawab aku keganggu sama kamu, kamu pasti langsung ngabrur ke Oik sama Rahmi, terus ngadu kali… aku males aja dibikin repot cuma gara-gara orang bilang aku nyakitin atau bikin nangis seorang cewek..”

Aduh Cakka… nyadar nggak sih, sebenernya dengan menjelaskan sebeber-bebernya pikiran kamu itu udah duluan bikin hati cewek di samping kamu menangis karena tersakiti.

“Kalo aku mah nggak bakal nangis, Cak…” balas Agni. Ia berusaha tegar. Namun pada akhirnya pembicaraan itu tetap berakhir sunyi. Cakka lagi-lagi diam.

Dalam sekejap Agni merasa aura disini makin dingin. Bukan sejuk lagi… malah membeku. Dan itu sakit.

“hhhh….” Agni menghelakan nafas panjang. Asap putih terlihat keluar dari mulutnya. Kini ia menyesali dirinya sendiri. Pantas saja dari tadi dirinya serasa mulai membeku. ternyata dari tadi dia nggak pake jaket, lupa dibawa, jaket itu masih ada pada Oik dan Rahmi. Lupa itu memang kecerobohan yang sangat fatal.

“Belakangan ini sibuk apa, Cak?” tanya Agni, ia coba membuka topic baru.

“Biasa… manggung”

“Oh…”

“Lo?…” Wah Cakka udah ngajak Agni pake lo-gue. Ya udah, ikutin maunya aja dulu.

“Gue… Biasa… sekolah..” balas Agni.

Terus… Cakka dan Agni diem-dieman lagi. Nggak asik banget sih…

“Lah, trus…. lo mau ngomong apa lagi, Ag?” tanya Agni dalam hati. “Ngomongin nilai?… Nggak banget… baru ketemuan kok langsung ngobrol tentang salah satu jenis pressure bagi sebagian pelajar di dunia?”

Setelah diam-diaman beberapa saat, Agni baru ingat, kalau ia harus menelepon ibunya jam segini. Itu adalah janji Agni kepada ibunya sebelum ia meninggalkan rumah. Janji antara sesama perempuan, janji ibu dan anak. Sebabnya?… masa nggak tau? Agni kan sekarang sudah besar,  sudah mulai tumbuh menjadi remaja. Fisik maupun mental. Tambah Cantik lagi. Terlebih lagi, sudah bisa ditaksir orang. (Whayolo!) Seorang ibu pasti takut kan, kalau anaknya kenapa-napa, diculik orang, apalagi Agni datang ke RCTI sendiri, paling sama Oik.

Lalu Agni segera meraih kantong celananya dan ia cari hp yang biasanya ia taruh disitu. Tapi setelah dicari dan tangannya dimasukan ke kantong celananya sedalam-dalamnya, ternyata hasilnya nihil. Hp-nya  nggak ada di situ. Dan Agni pun langsung ingat, kalau hp-nya ia taruh di jaket saat latihan. “Aduh Agni!… kok belakangan ini lo sering banget lupa?…” Agni pun langsung murung. Bisa-bisa ibunya marahin dia segera setelah ia pulang dari RCTI. Dan pada akhirnya ia tidak bisa memikirkan jalan keluar lain, selain meminjam hp Cakka.

“Cak… boleh pinjem hp kamu nggak?” tanya Agni dengan ragu-ragu.

“mm?…”

“Buat… nelepon ibu aku… aku udah janji mau telepon jam segini…”

Cakka diam.

“Boleh nggak, Ca..”

“Udah jelas orang lagi make… minta di pinjemin, modal dong…” bentak Cakka tiba-tiba.

Agni yang tadinya sudah mendekatkan tangannya ke tangan Cakka langsung menarik tangannya kembali. Ia langsung berdiri, mungkin karena kaget dan ketakutan.

“jadi…”

“Ya, nggak boleh” Cakka menyelak pertanyaan Agni, sementara Agni hanya bisa gigit bibir.

Hhh… pertemuan ini ternyata diakhiri dengan Agni yang takut dan semakin segan kepada Cakka. Niat dan hasilnya bertolak belakang sekali. Lalu ia pun turun dari batu besar yang Cakka duduki.

“Ya udahlah… aku pinjem Obiet aja…”

Jiah, si Agni. Ternyata Obiet dijadikan pelarian. Habis… teman sesama IC 2 yang paling dekat dengannya sekarang kan cuma Obiet. Obiet kadang menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke rumah Agni. Agni juga pernah main ke rumah Obiet. Jadi… begitulah…

Sore ini pada akhirnya akan tetap menjadi mendung. Sebentar lagi hujan turun… lalu siapa yang akan menghangatkan suasana?

~ fin ~

Akan dilanjutkan lagi… tunggu lanjutannya!^^

Seperti yang telah di janjikan,
Ini bonus picture-nya…

Black berry forest_white ver.

"Black berry forest_white ver."

Black berry forest_black ver.

"Black berry forest_black ver."

Makasih udah baca ~._.~
sama-sama untuk gambarnya…
Don’t forget to comment^^

Saniyyah Ardina K.

Caramel Chocho Milk ~ cream time ~

Hai!! Aku mau bikin cerita nih… Baca yaa
Dan seperti biasa ada bonus gambarnya^^

Ini addalah cerita fiksi, jadi nggak semuanya bener.

Ceritanya bermulai ketika kak oki mengumukan bahwa bintang tamu yang akan tampil di rapop IC 3 adalah Icil divo dan Oik, Agni, juga Rahmi. Maka semuanya datang dan bertemu kembali di RCTI untuk latihan. Ada yang kangen-kangenan, ada yang ngobrol bareng karena udah lama ketemu. Tapi mereka semua pasti sudah tumbuh besar kan? Pasti ada yang berbeda tentang mereka, entah sifatnya, penampilan, dll. Jadi bagaimana mereka melalui saat-saat reuni ini?… kira-kira masih pada akrab nggak yah??

1st Day….

Caramel Chocho Milk ~ cream time ~

….

Olah raga di taman sudah selesai. Sekarang anak-anak Icil divo, Rahmi, Agni, dan Oik dibolehkan beristirahat. Rahmi dari tadi udah kebelet, jadi setelah olahraga selesai ia langsung kabur ke belakang, sementara Agni dan Oik ditinggal begitu saja. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk jajan eskrim di abang-abang yang suka lewat depan taman. Mereka sudah langganan loh.

“Aump… mm” Oik melahap eskrim ‘Caramel Chocó Milk’ yang ia beli. “aust aust mmang palin nnak makan eklim… mm” Saking lahapnya ia makan eskrim, mulutnya sampai belepotan.

“Iya..” balas Agni. “tapi nggak usah segitunya kali, Ik… kamu makannya belepotan banget… kan udah gede… nggak malu apa diliat orang?”  kata Agni yang juga memakan eskrim yang sama dengan Oik, tapi tidak sampai belepotan.

“Biarin aja… nggak ada orang ini… kan yang ada cuma kamu…” kata Oik. Ia melihat-lihat kesekitar, dan memang sedang sepi saat itu. Tidak ada orang selain mereka. “Lagian…” Oik menambahkan. “Aku kan imut…”

“terus?” tanya Agni.

“ walau lagi belepotan eskrim, orang juga bakal tetep nganggep aku imut kok..”

“Yah… narsis dia…”

“He he.. biarin…”

Oik dan Agni terus berjalan menuju halaman belakang. Disana ada banyak pohon rindang, dan pastinya akan jadi tempat yang nikmat untuk berteduh.

Mereka pun sampai di halaman belakang, dan ternyata tempat itu sudah diambil alih oleh para Icil divo. Kiki sedang duduk di bawah pohon sambil menghafal lirik yang akan ia nyanyikan di panggung nanti. Gabriel dan Debo sedang memperhatikan Irsyad yang sedang mencontohkan kepada mereka bagaimana melakukan kopral yang baik. Obiet dan Patton melatih koreo mereka bersama. Sementara Cakka menyendiri di tempat duduk taman sambil mendengarkan mp3 nya, menggoyang-goyangkan kepalanya seperti mengikuti tempo lagu, dan juga OL di hp Blackbery-nya.

“Kayaknya udah diambil penuh tuh…” kata Agni.

“He-eh… ke dalem aja yuk..”

Baru saja mereka berbalik, Gabriel dan Obiet langsung memanggil mereka bersamaan. “Oik.. Agni…”

Agni dan Oik pun menengok. “Apa?” Tanya Agni.

“Mau ngaso di sini yah?” tanya Debo yang langsung nyambung. Gabriel langsung memukul pundak Debo. “Ngaso… ngaso… bahasa apa itu?… kalo ngomong ke cewek yang bener..”

“Agni sama Oik mau istirahat di sini juga yah?” tanya Gabriel.

“Enggak kok…” jawab Oik.

“Iya… kak Gabriel sama yang lain kan lagi latihan… kita mau ke dalem aja..” tambah Agni.

“Oh… soal kita latihan mah nggak usah dipikirin… ikut duduk-duduk disini aja..” kata Debo.

“Kalo mau join, join aja. Malahan kita bisa latihan bareng… iya kan..” tambah Obiet.

Agni dan Oik saling pandang. Dan akhirnya mereka menggangguk bersamaan. “Oke… kita join”

Lalu Agni dan Oik berbaur bersama para Icil divo.

Ketika Agni baru menginjak rerumputan, Gabriel langsung mendekatinya. Agni tidak bisa melakukan apa-apa selain tersenyum, dan Gabriel membalas senyumannya.

“Kenapa kak?…” tanya Agni.

“Enggak…” Gabriel tiba-tiba menyentuh rambut Agni. “Ada sesuatu di rambut kamu…”

Aduh, iyel.. iyel… sesuatu apa “sesuatu”?… jangan-jangan Gabriel sengaja lagi bikin alasan biar bisa nyentuh rambut Agni. Bahkan mungkin sampai nyentuh hati Agni.

“Oh…” Agni langsung melepaskan tangan Gabriel dari rambutnya. Gabriel langsung murung deh.

“Katanya Agni udah nggak nge-fans lagi yah sama aku?…” tanya Gabriel dengan murung.

“Oh, masih kok… cuman nggak terlalu…” jawab Agni, berusaha menaikan derajat keceriaan idolanya itu.

“Kenapa, Ag?…”

“Yah… gitu aja” jawab Agni sangat singkat. Ia memang tidak tau lagi harus jawab apa.

“Terus kalungnya?… di buang?” tanya Gabriel.

“Oh! Enggak lah kak…” seketika muka Gabriel mulai berseri kembali. “Tapi ngilang kak…”

“Yah…” Gabriel menunduk lagi.

“Maaf ya kak… waktu itu nggak sengaja…”

“He he… nggak pa-pa kok”

Lalu Gabriel merangkul Agni tanpa membebaninya sedikit pun, dan Agni ia antar ke tempat Debo, dan Irsyad tadi berlatih kopral. Sepertinya bersikap gentleman sudah menjadi kebiasaan Gabriel. Obiet dan Patton juga ikut berkumpul bersama mereka.  Oik juga sudah duduk di sana.

“Karena Agni udah nggak terlau nge-fans sama aku lagi…  aku bakal bikin Agni nge-fans lagi sama aku”

“Hah?…”

“Iyah… beneran..”

“Ngarep nih?… emang kakak yakin bisa?…”

“Bisa dong… Lagian… nggak ada salahnya kan, berharap… apalagi yang diharapkan cewek semanis Agni” Owh… rayuannya Gabriel… mencuri hati.

Lalu setelah mereka sampai, Gabriel langsung melepas jaketnya dan menggelar jaket itu untuk alas Agni duduk.

“Nggak usah, kak…” Agni langsung menolaknya. “Itu kan jaket kakak… nanti mau di pakai lagi”

“Nggak pa-pa kok…” kata Gabriel dengan tulus.

“Nggak usah, kak… lagian aku pake jins ini…”

“Mau jins atau bukan sih sama aja… yang penting baju Agni nggak kotor..”

“Kalo gitu… buat Oik aja kak.. kan oik pake rok tuh… kainnya juga bagus..”

Oik pun langsung kesenengan. Dia udah senyum-senyum duluan. Ia baru berpikir bajunya kan susah di cuci, nanti kasihan ma’e kalo kotor. Bisa-bisa nyuci dua kali. Setelah dibujuk oleh Agni, akhirnya Gabriel menarik jaketnya kembali. Tapi belum sempat ia taruh jaket itu, Obiet sudah langsung mencegah.

“Jangan!… nggak usah”

Oik pun langsung kecewa. Padahal ia sudah sesenang itu, tapi kenapa, Biet?… kenapa nggak boleh??…

“Oik… mending pake jaket Obiet aja…”

Uhuhuhu… baik banget sih kamu, Biet. Oik nya langsung tersenyum lagi. Imuut sekali. Tapi… melihat Obiet seperti itu, kok lama-lama Oik jadi nggak tega yah?…

“Obiet… nggak usah deh…” kata Oik.

“Loh?… kenapa?…” tanya Obiet.

“Tiba-tiba nggak mau aja…” jawab Oik.

“Iya… aku juga nggak usah, kak..” kata Agni.

Hfft… akhirnya aksi gentlemen para divo tidak jadi dilakukan deh.

Lalu, setelah mengobrol beberapa lama, Irsyad pun bertanya kepada Agni  dan Oik.

“Eh… kalian beli eskrim nya dimana sih?… lama-lama jadi tergiur aku..”

“Ini?… belinya di abang-abang yang biasanya lewat itu. Beli yang Caramel chocho milk  deh.. enak loh” kata Oik.

“Aku mau beli ah… laper juga nih…” kata Debo.

Tiba-tiba, datang Kiki yang tertarik akan obrolan mereka. “Kalian… dari tadi ngobrolin apa sih?… kok kayaknya enak banget?”

“Itu loh, Ki… eskrim nya abang-abang yang suka lewat depan sini itu…” jawab Gabriel.

“Iyah” patton pun menambahkan. “Ada eskrim Caramel chocho milk… eskrim yang itu enak loh”

“Wah… kebetulan aku lagi laper nih… Abang-abang nya masih di situ kan?… mau beli nih” kata kiki.

“Mau?… kalo gitu aku juga ikut beli” kata Irsyad. “Ada yang mau nitip nggak?”

“Aku mau!” seru patton.

“Aku juga” kata Obiet.

“Aku iya dah” Gabriel juga ikut memesan.

“Debo mau!” seru debo juga.

“Jiah… kalo gitu, dari tadi bilang aja semuanya mesen…” kata Irsyad.

“Loh?… Cakka enggak?” tanya Agni. Oik mengangguk, ia juga ikut menanyakan.

“Cakka lagi dengerin mp3 nya… nggak boleh diganggu” kata Patton datar.

“Oke deh. Segitu aja yah?… yuk, Ki… capcus!…” Irsyad dan Kiki pun beranjak dari tempat. Kini tinggal tersisa Obiet, Patton, Debo, Gabriel, Agni, dan juga Oik. Agni bingung… kok rasanya Cakka udah berubah sekarang. Cakka jadi lebih tertutup. Agni jadi segan kalo deket-deket lagi. Sekarang diantara anak-anak Bo3 yang dekat dengannya jadi cuma Obiet dan Irsyad. Cakka jadi nggak deket lagi. Sebenarnya Agni ingin bertanya ada apa dengan Cakka?… tapi, mungkin sebaiknya di tanyakan lain kali saja.

“Eskrim dingin!.. Eskrim dingin!..” seru Irsyad dan Kiki. Mereka baru saja kembali, dengan membawa eskrim-eskrim milik anak-anak Icil divo, kecuali Cakka. Bawanya repooot banget. Satu tangan satu eskrim, ditangan kanan irsyad malah ada 2 eskrim. “Irsyad kan anak padang… experience nya lebih banyak dong” kata Kiki yang cari alasan biar bebannya dikurangi.

“Ini buat Obiet… buat Patton… buat Debo… buat Aku…” kata Irsyad sambil menyerahkan eskrim jatah masing-masing.

“Nih, yel…” kiki memberikan jatah eskrim Gabriel.

Sedangkan Agni memperhatikan Cakka. Kenapa Cakka nggak gabung aja ke sini?

Gabriel melihat Agni memperhatikan Cakka yang saat itu dingin sekali, namun Gabriel diam saja dan berpura-pura tidak melihat.

“Oh iya!… aku sama Agni nonton loh pas Icil divo tampil pertama kali di Idola cilik 3. Waktu itu nyanyi meraih mimpi sama luluh, kan?” kata Oik dengan semangat.

“Iya tuh… pas nyanyi luluh, dari awal kalian nyanyi sampai akhir, kayaknya penonton yang ada di studio nggak berhenti teriak” tambah Agni.

“He he… iya dong… Icil divo getooo” Mulai keluar deh narsisme mereka ber-6. Habis itu, langsung pada tos san.

“Kayaknya penontonnya bener-bener luluh” kata Oik.

“Iya” Agni menyetujuinya.

“Kalo kalian luluh nggak?” tanya Obiet.

“Ya… gitu deh..” kata Oik dan Agni.

“Wess… gitu deh berarti pada luluh!… Asyik!… berarti kita ada kemajuan!” seru Patton.

“Kalian pada nyanyi lagi dong…” kata Oik.

“Iya… suaranya bagus banget!.. Pingin denger lagi nih…” kata Agni.

Karena telah di sanjung oleh 2 cewek cantik, Obiet, Gabriel, Debo, Patton, Irsyad dan Kiki langsung semangat. “Ayuk!… iya boleh tuh!… nyanyi yuk, nyanyi..”

“Yess!” Agni dan Oik tos-an. Mereka mengambil eskrim Obiet, dan Irsyad. Gabriel sebagai seorang yang gentleman tidak mau merepotkan seorang wanita. Debo tidak ingin sesuatu terjadi kepada eskrimnya itu, maka ia akan memegangi eskrimnya sendiri. Sebagai anak yang paling tua di antara yang lainnya, Kiki juga ingin  bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Sementara Patton, berdasarkan keinginannnya sendiri, ia akan menganggap eskrim itu orang yang membuatnya luluh, dan kepergian sang eskrim adalah karena dirinya memakan eskrim itu sendiri. Coba bayangin… kan kalo makan eskrim serasa *jess* luluh kan?… iyoto.. iyoto.. iyoto…

Gabriel, Obiet, Debo, Kiki, Patton, dan Irsyad pun berdiri. Mereka bersiap-siap untuk mengeluarkan suara emas mereka, demi menghibur hati 2 orang dara yang manis dan imut itu.

…..

Segenap hatiku luluh lantak

Mengiringi dukaku

Yang kehilangan dirimu

Ho uoo..

Sungguh ku tak mampu

Tuk meredam

Kepedihan hatiku

Untuk merelakan kepergianmu…

..

“haa… hatiku bener-bener luluh…” kata Oik hampir tak memakai suara. Lagu luluh itu dibawakan sangat sempurna… menyentuh hati. Agni speechless dan kagum, Ia hanya mengangguk-ngangguk setuju akan pernyataan Oik. Dan lagu pun mencapai saat klimaksnya.

..

Seegenap… hatiku luluh lantak…

Mengiringi.. dukaku… yang kehilangan dirimu…

Sungguh.. ku tak mampu.. tuk meredaam..

..

Owh… Agni dan Oik sangat tersentuh. Mereka saling mengenggam erat tangan satu sama lain. Dan tanpa sadar ada sesuatu yang dingin jatuh ke baju mereka.

“Loh, ik?… kok dingin yah?” tanya Agni yang selalu tanggap dengan situasi sekitar.

“Iya…” Oik melihat baju mereka yang terasa dingin itu.

“Yah!!… Eskrimnya luber! Melting!.. yah… apapun itu lah!” kata Oik mulai panik.

“Meleleh!” kata Agni.

“Iya itu!…”

Waduh… ternyata para Icil divo dahsyat banget. Nggak cuma hati penontonnya meleleh dan diluluhkan. Bahkan eskrimnya pun ikut meleleh.

“Ayo ke toilet!” Agni dan Oik langsung lari dari tempat.

..

“Merelakan kepergianmu… Yah! Oik! Agni! Tunggu!… Eskrimku…” Obiet bingung, ia juga ikut panik. Kok eskrim nya malah dibawa lari sama Agni dan Oik.

“Yah… Oik! Agni! Tunggu aku!… balikin eskrimnya duluuuu!…”

..

Te rereret!

~fin~

Lanjutannya bakal di post.. tunggu yah^^

Dan ini bonus pitcure (aku gambar sendiri) untuk yang udah baca.. terimakasih yaa^^ (mudah-mudahan bagus… gambarnya juga boleh di comment)

Caramel chocho milk_white ver.

Caramel chocho milk ~ white ver.

Caramel chocho milk_black ver.

Caramel chocho milk ~ black ver.

Makasih udah baca^-^

Please Comment!…

Saniyyah Ardina K.