Kingdom Of Dream_Part 10: Vulvoria, Tigerlily, dan Sejarah Dunia Kingdom Of Dream
Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 9: Pangeran Misterius dan Kamar Laven Lair.
Dan lagi-lagi aku minta maaf karena nge-post lanjutannya kelamaan. Haaa…. It’s just! my homework!! OMG!! (oops! sorry kok jadi curcol??). Well… semoga bisa tetep lanjut sampai tamat deh. Dan bisa menulis cerita yang sudah terbayangkan juga.
Sekali lagi maaf banget semuanya. Ini lanjutan dari kingdom of dream part sebelumnya. Jangan lupa comment yah.. ^_^
—
Kingdom Of Dream
Part 10 : Vulvoria, Tigerlily, dan sejarah dunia Kingdom Of Dream
Di sebuah kamar dengan nama Crimsone Red, seorang putra mahkota berbaju hitam duduk di sofa.
“Siyenna!..” panggilnya.
Pangeran itu bernama Sion Simbolo Vulvoria. Seorang pangeran dari kerajaan Vampire. Umurnya 2 tahun lebih tua dari putri-putri dan pangeran-pangeran lainnya. Dan sebentar lagi ia sudah bisa mengambil alih tahta kerajaan ayahnya.
Sesuai dengan ciri khas vampire, Baju, perabot, dan seluruh isi kamarnya bergaya ghotic. Bajunya hitam dari atas sampai ke bawah, hanya layer berumbainya yang berwarna putih, kontras dengan segala atribut pakaiannya. Warna dinding kamar didominasi oleh warna merah tua dengan gambar bunga mawar hitam. Lantainya dengan beludru, meja kayu berpahat rumit dan tirai sutra berwarna merah.
Sion kelihatan bingung. Orang yang ia panggil dari tadi tidak datang juga. Ia menengok ke sana ke mari, terlihat tidak tenang dan akhirnya memanggil orang itu kembali.
“Siyenna!..” seru Sion.
“Hmm?…” jawab seseorang dari luar kamar.
Sion tersenyum, kali ini ia mendapat sahutan. Ia pun menunggu selama 3 detik dan seorang gadis seumurannya muncul dari balik pintu kamar dengan tampang santai dan cara jalan yang sama sekali tidak tergesa-gesa. Percaya atau tidak gadis itu adalah Siyenna Sense Ventaurie, pelayan pribadi pangeran Sion yang mungkin lebih kelihatan sebagai teman atau partner. Namun Sion malah lebih suka menganggapnya sebagai sang penghibur.
Siyenna menatap Sion dengan pandangan bertanya. “Apa?” tanyanya tenang.
“Aku bosan..” Sion menjawabnya dengan keluhan.
“Terus?”
“Hmm…” Sion berpikir sejenak. “Hibur aku..” ucapnya di sebelah telinga Siyenna. Ia memainkan rambut panjang Siyenna yang diikat di atas kepala.
“Hh… lakukan saja sesuatu sendiri… jalan-jalan di luar kek..” Siyenna menolak permintaan Sion itu. Lagi pula ngehiburnya gimana coba?
“Ah… itu malah lebih membosankan..” keluh Sion lagi. “Ah, aku tau!” seru Sion tiba-tiba. Semangatnya terlihat jelas dari mata, ia memunculkan senyum liciknya.
“Tau apa?” tanya Siyenna agak cuek.
“Ha ha… aku tau apa yang ingin kulakukan sekarang..” ujar Sion bangga.
Siyenna diam dan menunduk malas. Ia sudah tau apa yang ada di pikiran Sion.
“Ramalkan sesuatu tentang Gabriel…” ucap Sion licik. “Apa yang ia lakukan tadi di pesta teh… dan… hm.. apa lagi ya?..” Sion mundur, kembali duduk di sofa merah tadi. Mimik mukanya menggambarkan kalau ia masih berpikir.
Siyenna mendesah pelan. Bagaimana pun juga Sion adalah tuannya. Dan sesuai dengan undang-undang kerajaan ia harus mematuhi apa kata Sion. Ia meraba meja kayu di depannya, mendekati 1 buah bet pesta teh di sana. Tangannya mulai menyentuh bet itu, ia memulai proses ramalannya. Tapi sebelum itu ia berkata.
“Hh… tidak kah kau merasa bersalah mengambil hak dan privasi adikmu?…”
“Kenapa harus merasa bersalah?…” tanya Sion balik. “Kita kan di sini juga untuk mengontrolnya… kalau tiba-tiba kekuatannya membesar dan tidak terkendali, kamu mau salah satu orang di sini terluka?…”
“Terserahlah…” Siyenna memejamkan matanya. Dan ketika matanya terbuka, pandangannya sudah kosong. Ia mengambil bet itu dan didekatkan ke mata.
“Oh ya!… apa yang ada dalam pikirannya sekarang?” cetus Sion tiba-tiba.
Siyenna memejamkan matanya sekali lagi, lalu ia membuka matanya kembali dan mejawab dengan tenang.
“Pikirannya masih sama… tentang kebebasan…” ia menggenggam bet itu lebih keras, hampir meremasnya.
“Dan di pesta teh… dia bertemu dengan… hh’..” Siyenna kelihatan terkejut untuk sesaat. Pandangannya tidak kosong lagi. Untuk beberapa detik ia sempat terdiam, namun tak lama setelah itu senyumnya mulai merekah. Ia sepertinya senang dengan apa yang baru saja ia lihat di benaknya tadi.
“Hi hi…” Siyenna tertawa kecil. Sion yang melihat itu langsung penasaran.
“Apa??… dia bertemu siapa??.. katakan!”
“Hm… seseorang…” jawab Siyenna dengan maksud menyembunyikan ramalannya.
“Seseorang?… siapa?!… kau pasti melihat orang itu!!”
“Aku memutuskan pandanganku sebelum melihat jelas orang itu” jawab Siyenna nge-les.
“Kalau begitu lakukan sekali lagi..”
“Tidak”
“Kenapa?”
“Aku bosan”
“Haah… Siyenna…”
—
Agni dan Oik berjalan di lorong istana diiringi Alvin yang berada di depan mereka. Sekali-kali Alvin menatap ke belakang, melihat kedua majikannya berjalan dengan tenang mengikutinya.
“Alvin..” panggil Agni.
“Iya, putri?” sahut Alvin.
“Kita… maksudku Aku dan kak Oik tidak akan tidur di kamar putri istana lagi kan?”
“Ya. kalian akan tidur di salah satu kamar asrama” jawab Alvin.
“Lalu.. kalau misalnya kita mau masuk…, boleh nggak?” tanya Agni.
“Kalau hanya berkunjung sih boleh. Tapi jangan terlalu lama. Kalau untuk tidur, sementara ini tidak dibolehkan..” jelas Alvin.
Mereka bertiga terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan belokan memasuki lorong lain.
“Baik putri. Aku hanya akan mengantarkan sampai sini. Kamar kalian bernama ‘Pia Aluna’, ada di sisi kiri lorong ini. Aku permisi dulu…”
Agni dan Oik mempersilahkan Alvin pergi. Alvin berlalu dan hilang dari pandangan, baru setelah itu Agni dan Oik melangkah ke dalam lorong dan mencari kamar yang akan mereka tempati.
Setelah beberapa detik, mereka pun sampai di depan kamar mereka. Di atas pintunya terdapat pahatan berbentuk bunga tali putri, dan diantara batang-batangnya yang memutar terlilit satu buah papan nama yang bertuliskan,
“Pia Aluna”
Agni dan Oik pun memegang gagang pintu dengan rasa berdebar-debar. Sejujurnya mereka baru pertama kali memasuki area bangunan istana yang di jadikan asrama itu. Dulu bangunannya masih terkunci dan tidak boleh dimasuki. Professor juga berkata kalau bangunan itu hanya digunakan untuk acara-acara tertentu. Dan acara pengajaran ini merupakan acara tertentu yang pertama kalinya.
Pintu kamar Pia aluna dibuat dari bahan kayu putih. Warnanya memang benar-benar putih. Ini kayu asli dari hutan timur Kingdom Animalia. Di tubuhnya terlihat mata-mata kayu yang berwarna coklat tua, namun teksturnya halus. Pintu ini pun jadi terlihat seperti batangan coklat putih dengan caramel-caramel yang manis. Gagang pintunya terbuat dari bahan licin berwarna emas. (kayak aluminium/emas buatan) Itu bukan emas sungguhan, namun dari jauh akan terlihat seperti emas.
Cklek…
Pintu di buka, cahaya dari dalam kamar keluar menyinari lorong tertutup yang agak gelap. Ketika Agni dan Oik masuk, langsung terdengar alunan piano dari sudut kanan kamar. Tepat di seberang mereka terlihat jendela kaca yang besar, yang merupakan sumber datangnya cahaya dari kamar itu tadi.
Kamar Pia Aluna bernuansa naturan dan cerah. Kamar ini luas dengan air mancur kecil berbataskan batu-batu kecil di tengah kamar. Lantainya beralaskan permadani dengan abstrak indah dan di sisi kiri kamar terlihat 3 buah tempat tidur yang di tata berurutan depan belakang. Ketiganya memiliki tiang-tiang hitam dengan tirai-tirai sutra berwarna orange yang tembus pandang tergantung di atas tempat tidur.
Dinding kamar itu berwarna coklat krem, ada lukisan-lukisan hewan di sana. DI sisi kanan kamar, karpetnya lebih halus dengan beberapa bagian yang terbuat dari beludru. Ada bantal-bantal kecil maupun besar di sana. Meja kecil beserta lemari besar juga. Di dindingnya tergantung tempat untuk memajang berbagai hiasan, buku, dan pernak-pernik lainnya. Sementara di bawahnya ada peti putih yang cukup besar untuk di masuki oleh tubuh Oik.
Oik terkagum-kagum dengan keadaan kamar itu. Luas, nyaman, alami. Agni juga sama-sama kagum, namun perhatiannya lebih condong ke piano di sudut kamar.
Piano itu masih mengalun pelan, namun tidak ada orang yang memainkannya.
Oik ikut memperhatikan piano itu, matanya was-was karena ia tidak terlalu suka hal-hal berbau mistik. “Jangan-jangan itu piano hantu…” ucap Oik dengan suara gemetar, sama seperti tangannya yang sudah buru-buru sembunyi di balik bahu Agni.
“Bukan..” terdengar suara asing dari sisi kiri kamar. Suaranya datang dari balik tirai tempat tidur yang tergantung rapih di tiang-tiang atasnya.
Oik mulai berprasangka buruk. “Jangan-jangan itu hantunya!”
“Hei! siapa yang kau bilang hantu!” seru orang yang tadi.
Agni dan Oik menengok ke sumber suara, dan betapa tidak percaya nya mereka ketika melihat sesosok putri yang bisa di bilang terkenal di jajaran dunia Kingdom Of Dream. Putri itu berambut hitam panjang, lurus dengan ujung yang agak tajam, berkulit agak hitam namun manis, memakai gaun orange dan pita besar di kepala. Ia tersenyum imut, matanya agak menyipit lalu menyapa Agni dan Oik.
“Hai!… salam kenal.. namaku -“
“Tunggu!..” Agni menyelak perkataan putri itu. “Biar kutebak. Kamu… Putri Tigerlily kan?”
Oik mengangguk, ikut menebak dengan tebakan yang sama seperti Agni.
Putri itu tersenyum dan menambahkan. “Ya. Tigerlily,… lebih tepatnya, Zevana chetta Tigerlily. Tapi gampangnya panggil saja Zeva atau Zeze..” katanya riang.
Zevana Chetta tigerlily adalah seorang putri asal negara harimau. Ia adalah peraih prestasi di Kingdom Of Dream. Dia ahli debat dan sampai sekarang hampir tiap lawan di arena debat dikalahkannya. Kini ia telah meraih sebanyak 50 medali dalam lomba debat. Ia merupakan orang yang lumayan cocok menjadi pemimpin dan dikenal selalu up to date.
Sifatnya humble dan ceria, tapi kalau lagi marah akan susah untuk dikendalikan. Ia akan selalu ingat muka orang yang telah membuat dia marah hingga ia memaafkan orang itu. Sampai sekarang orang yang pernah menang debat darinya hanya satu. Itu pun bukan dalam lomba, melainkan 2 orang gadis yang memperebutkan limas perak di puncak menara freedom mountain.
Zevana sudah pasti ingat muka orang itu. Putri keluarga Ventaurie yang kini menjadi pelayan pribadi pangeran Vampire. Siyenna Sense Ventaurie.
“Kalau begitu giliran kami memperkenalkan diri..” kata Oik. “Namaku’..”
“Tunggu!” Zevana menyelak. “Aku ingin tebak. Kalian pasti Oik Unico Counelli & Agni Dosecca Counelli”
“Benar!” seru Oik. “kok bisa tau nama kami?… kami kan bukan siapa-siapa, hanya putri kerajaan biasa”
“Bukan siapa-siapa gimana?.. kalian terkenal dengan keceriaannya. Dan professorku sering mendengar cerita dari professor degor. Tentang kalian yang suka kabur ke belantara kota, bahkan keluar dari batas kota..” sanggah Zevana.
“Hah?!… yaah… aku jadi takut. Nanti jangan-jangan para professor lainnya sudah mengecap kita sebagai nakal..” ujar Oik.
“Kalau mereka bilang itu hal nakal, aku tidak akan setuju. Para putri dan pangeran kan seharusnya juga boleh bebas, tidak dikurung terus di istana. Kita punya hak untuk mengenal keadaan kota. Kalian malah beruntung dapat kesempatan keluar dari istana, setidaknya 1 kali. Aku tidak bisa melakukan semua itu..” Ucap Zevena panjang lebar, mengutarakan segala keluh kesahnya.
“Iya! kita juga berpikiran seperti itu..” kata Agni setuju.
Mereka bertiga saling mengangguk. Rupanya jalan pikiran mereka tidak terlalu berbeda. Mungkin kapan-kapan mereka akan berencana untuk kabur keluar istana bareng-bareng.
“Eh iya!” seruan Oik membangunkan Agni dan Zevana dari pikiran mereka. “Aku masih bingung… kenapa piano di sudut kanan kamar masih mengalun?.. kan tidak ada yang memainkan…”
Agni mengangguki pertanyaan Oik. Lalu mereka berdua sama-sama menatap Zevana. Sebagai putri yang selalu up to date seharusnya ia tau tentang piano misterius itu.
“Ya. Aku tau… piano itu adalah keistimewaan dari kamar kita” kata Zevana memulai penjelasannya. “Nama piano itu adalah Pia. Dan itu menjelaskan kenapa nama kamar kita ‘Pia Aluna’ yang artinya Alunan Pia. Setahuku piano itu peninggalan sebuah perkumpulan besar di kerajaan melodi yang sekarang sudah tidak ada lagi. Nama perkumpulannya aku tidak terlalu ingat, yang pasti di belakangnya ada kata-kata ‘café’. Mereka memang memulai masa nya dari acara perkumpulan di café. Ada beberapa orang yang menganggap kalau orang yang sekarang memainkan piano itu adalah arwah dari pemimpin perkumpulan itu yang memegang alat musik piano, kalau tidak salah namanya Martiz. Tapi aku tidak tau apakah itu benar atau tidak…”
“Wah… kalau misalnya benar, berarti sekarang arwah Martiz ada di kamar ini dong?…” tanya Agni.
“Ya… mungkin aja..” balas Zevana. Ia berdiri mendekati piano itu. “Tapi aku penasaran… sampai sekarang belum ada orang yang berani memainkan piano itu, mereka takut kerasukan arwah Martiz. Padahal mungkin Martiz terus memainkannya karena tidak ada orang yang memainkan piano itu. Kan kalau pianonya dibiarkan sendiri nanti jadi kesepian… terus… karatan..”
“Hi hi…” Oik terkikik kecil mendengar ujaran Zevana yang asal keluar dari mulut. “Kalo Martiz nya denger gimana ya?” pikirnya.
—
Irsyad dan Obiet berjalan menelusuri lorong asrama pria. Mereka menengok ke kanan dan ke kiri, mencari kamar yang bernama Laven Lair, tempat ke-2 teman mereka tinggal.
“Jadi…” Irsyad membuka pembicaraan. Dari tadi mereka hanya serius mencari kamar lave lair, suasana harus dicairkan.
—
“Hya! hya! hya!… ayo! buka topengmu, putih!”
Debo dan Patton berseru, sibuk bergulat di lantai dengan sosok yang tidak jelas rupanya karena tertutup oleh kasur yang agak tinggi. Topi mereka sudah terlontar ke pojok kamar, baju mereka sudah acak-acakan dan rambut mereka sudah tidak beraturan.
“Eh… Patton?..” Obiet bertanya dengan heran. Irsyad bengong dengan mulut menganga setengah.
“Ah!.. Irsyad! Obiet!…” seru Patton balik. Ia berlari menghampiri kedua tamunya dan menyambut dengan pertanyaan membingungkan. “Kalian!… coba tebak dari mana asal pangeran yang sedang Debo jatuhkan itu, dan siapa namanya?..”
Obiet diam karena tidak mengerti pertanyaan Patton. Irsyad bergeming sebentar, ia melirik kaki sosok pangeran itu yang putih mulus. Sepatu bootsnya baru lepas tadi karena kehebohan serangan Debo. Sosok itu mengerang minta tolong.
“Eh… awan?” tebak Irsad yang buntu ide. Padahal apa nyambungnya coba sama sosok itu? “Ya… warna kakinya agak putih… terus.. kayaknya empuk… itu kan ciri fisik awan..” ujarnya dalam hati.
“Heheh.. awan?…” tanya Patton balik. “Tebakanmu agak aneh..” ujarnya.
Irsyad hanya menutup mulutnya, ia tersenyum kecut dan mengangguk penuh pengakuan. Memang aneh kok..
“Ah! tapi siapa peduli?… Aku sendiri tidak tau tebakanmu salah atau benar. Tau kenapa?… karena pangeran itu memang tidak mau memberitahu identitasnya. Aku tidak terima!… ah.. nggak adil!” seru Patton kekanak-anakan.
Debo bangun, melepaskan cengkramannya dari tangan sosok yang hampir sekarat itu. “Iya! Patton benar!”. Ia mengambil sepatu boots kepunyaan sosok itu dan mengangkatnya bagaikan pedang atau pistol yang diarahkan ke dada sang pangeran. “Ayo! katakan atau kau akan tau akibatnya!” seru Debo lantang.
“Iya!… iya.. iya.. maaf…” kata sosok pangeran yang masih tidak terlihat oleh Obiet dan Irsyad. Ia meminta maaf dengan nada memelas. Lalu badannya bergerak ke samping, mencoba bangun tapi yang ada pinggangnya malah terpentuk dasar kasur.
Dak!
“Aduduh… Aa… sakit..”
“Ha ha..” Irsyad terkikik sebentar dan berbisik ke Obiet yang masih memperhatikan. “Kayaknya pangeran itu baru encok deh…”
“’hhaha..” Obiet tertawa tertahan mendengar ujaran Irsyad. Ia menutup mulutnya sebentar dengan telapak tangan sementara dirinya masih senyum-senyum sedikit. Tapi ia mulai merasa kalau suara pangeran itu familiar di telinganya. “Siapa ya?..” Obiet berusaha mengingat-ngingat. Ia pun mendekati pangeran itu dan melihat dengan mata sendiri muka sang pangeran.
“Hah!!…” Obiet terkejut. Matanya terbelalak melihat sosok pangeran itu. Benar-benar tidak terduga, pangeran itu adalah,
“Cakka?!”
—
Sementara itu di perpustakaan istana
Crsh… crsh…
Zevana mengunyah biscuit coklatnya dengan nikmat. Mungkin baginya biscuit coklatnya pada saat itu adalah makanan terenak di dunia ini. Agni dan Oik sibuk dengan kerjaannya masing-masing yaitu mencari buku-buku pengetahuan dan Geografi. Agni mencari buku pengetahuan untuk mencari tau tentang negara-negara yang ada di Kingdom Of Dream. Mungkin dengan itu ia akan dapat setidaknya satu petunjuk tentang pangeran misteriusnya. Sementara Oik, ia ingin mengobservasi beberapa tempat menarik yang ada di Kingdom Of Dream. Mungkin jika suatu saat ia bisa berkelana bebas di dunianya ia akan tau tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi.
“Hm… Zeva mungkin mau ikut..” pikir Oik. Ia menengok ke Zevana yang dari tadi masih mengunyah biskuitnya tanpa rasa terganggu. “Zevana… bukan kah kita dilarang makan di perpustakaan?” tegurnya.
“Ya. mm… aku liat papannya.. crsh.. crsh.. tapi toh… nggak ada yang liat kan?” balas Zevana nakal.
“Ya… iya juga sih… kalo gitu… bagi dooong…” pinta Oik memelas. Sebenarnya ia juga lapar sih. Perutnya sudah bergetar dari tadi.
“Silahkan diambil sebanyak yang kau mau, putri…” sambut Zevana riang.
Oik tersenyum riang. Akhirnya… perut yang dari tadi lapar akan mendapat jatah makannya.
crsh crsh… Oik dan Zevana pun memakan biscuit-biskuit itu dengan gembira. Namun Agni masih serius pada buku yang ia baca. Ia menemukan beberapa informasi tentang negara-negara di Kingdom Of Dream. Ada negara Tikusika, yang merupakan negara Debo, Avesky negara asal Patton di mana semua jenis burung berkumpul jadi satu, dan masih banyak lagi. Tapi Ia bingung, arti kata ‘Animalia’ adalah seluruh hewan yang ada di dunia.
“Tapi kenapa hanya ada ras kelinci di kerajaan Animalia?” Tanya Agni setelah ia menceritakan beberapa informasi dari buku yang ia baca.
“Karena dulu.. jauh sebelum kita lahir, Kingdom Of Dream hanya terbagi menjadi 3 bagian” Zevana memulai ceritanya.
“Haah!… Benarkah??”
“Iya.” ucap Zevana sambil tersenyum, mengundang perhatian. Oik dan Agni memperhatikan dengan seksama dan ia pun mulai bercerita.
“Yaitu ‘Skyrea’, kerajaan langit, ‘Undertown’ kerajaan bawah tanah, dan kerajaan bumi yang disebut juga dengan ‘Animalia’. Tapi pada suatu saat, ketiga negara mengalami kekurangan persediaan untuk hidup. Skyrea kekurangan air, Animalia kekurangan panas, sementara Undertown kekurangan cahaya.
Skyrea dan Animalia mempunyai ide yang sama yaitu saling bertukar persediaan. Animalia memberikan airnya untuk Skyrea, Undertown memberikan panasnya untuk Animalia, dan Skyrea memberikan cahayanya untuk Undertown, tapi Undertown tidak menyetujui usulan itu. Ia tidak ingin membagi miliknya untuk siapapun. Akhirnya terjadilah pertempuran antara 3 negara.
Skyrea dan Animlia tentu bekerja sama untuk menaklukan Undertown. Namun walau Undertown hanya sendiri, ia mempunyai pasukan yang sangat besar sehingga perbandingan mereka hampir sama. Pada akhirnya yang menang adalah Skyrea dan Animalia. Tapi Undertown masih belum hancur, pemimpin dan beberapa pasukan dari Undertown masih bersembunyi di bawah bumi, dan legenda berkata bahwa mereka akan bangkit kembali dan menghancurkan Animalia serta Skyrea. Namun sampai sekarang masih belum diketahui kapan mereka akan bangkit.
Berkat perang itu tadi negara Animalia yang menjadi arena perang mengalami kerusakan yang lumayan parah. Dan saat Animalia memulai masa perbaikannya, masing-masing ras mulai berkumpul sendiri dan memisahkan diri dengan Animalia. Mereka membuat negara sendiri dan berusaha menghidupi rakyatnya sendiri. Dan pada akhirnya ras yang ada di kerajaan animalia pun hanya ras kelinci yaitu kalian” jelas Zevana panjang lebar.
“Aku mau Tanya” seru Agni sambil mengangkat tangannya.
“Apa?” sahut Zevana. Ia tidak keberatan untuk menjelaskan lebih rinci tentang pertempuran itu.
“Kenapa ras terakhir yang tersisa di kerajaan Animalia ras kelinci? Kenapa tidak harimau? atau yang lainnya” lanjut Agni.
“Karena… pada saat pertempuran itu, raja yang memimpin kerajaan Animalia ber-ras kelinci”
“Oh…” Agni manggut-manggut. Begitu juga dengan Oik yang ikut memperhatikan. Ternyata sejarah dunia mereka sangat menarik. Wawasan Zevana memang benar-benar luas.
Agni hendak bertanya lebih jauh lagi tentang kejadian itu, tapi tiba-tiba mereka bertiga dikagetkan oleh bunyi pintu perpustakaan yang terbuka dengan kencang. Sepertinya baru dibanting oleh seseorang. Tidak… ada 3 orang, dan mereka berjalan tergesa-gesa menghampiri 2 putri counelli. Hmm… Siapa ya mereka??
–
Tunggu kelanjutannya dan tetaplah bersabar. Orang sabar disayang tuhan. Ya allah… semoga bisa nulis lanjutannya secepatnya…
Bonus picture nya akan di post hari-hari mendatang. (komputer satunya, tempat aku nyimpen pic itu lagi kehilangan mouse) maklum dimakan mouse alias tikus. tikus memakan tikus. =P
—
Hooray! Komputernya sudah dalam keadaan baik lagi. Dan ini adalah bonus picturenya…
Thank you sekali lagi karena telah membaca ^_^ see you next part!!
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

hore ada lanjutannya
keren banget
lanjut yang cepet ya
hore!hore!hore!
akhirnya keluar juga…
ceritanya keren, bagus, cool!
bikin buku aja kak. ke PBC…whwhhwhehhe
Lanjutannya jangan lama-lama!
oke! makasih semuanya yang udah baca and comment. Aku jadi tambah semangat nulis nih.. ^_^
cepet donngggg tapi kira kira jadinya kapan nih gk sabaran aku abis nya seru sih
rencananya habis ulangan semester 2 selesai ^_^. Harus ngejar pelajaran juga nih.