Kingdom Of Dream_Part 11: Makan Malam Pertama, Utusan Catiophia dan Happy Chipmunks di Dapur

Kelanjutan dari Cerita Kingdom Of Dream_Part 10: Vulvoria, Tigerlily, dan Sejarah Dunia Kingdom Of Dream.

Part yang ini cukup panjang. Oke, menurutku sangat panjang. Semoga semuanya jadi puas karena part ini panjang. Aku kan ngepost part yang ini lama banget. Sori ya bikin nunggu.. Well, baca aja deh ya. Dan menurutku, malam ini adalah malam misteri. Jadi bersantailah di tempat duduk anda dan nikmati bacaan dariku ini dengan senang hati.

Selamat Membaca.. jangan lupa dicomment yah..^_^

Kingdom Of Dream

Part 11: Makan malam pertama, Utusan Catiophia dan Happy Chipmunk di dapur

BRAK!!

Pintu perpustakaan istana dibuka dengan keras. 3 orang pria masuk dengan buru-buru ke dalam seluk beluk rak perpus. Bunyi bantingan pintunya merambat sampai ke ujung-ujung ruangan. Oik yang baru saja melahap kue kering Zevana sampai keselek. Mukanya langsung merah dan tubuhnya melompat-lompat panik mencari pertolongan. Agni langsung menolong kakaknya dari situasi kritis itu. Ia memukul-mukul punggung kakaknya namun sayang kekuatannya terlalu besar. Oik malah jadi batuk-batuk. Sementara Zeva sibuk menadahkan kue-kue keringnya yang jatuh gara-gara piringnya oleng ke samping.

“Untung rok aku lebar” ucapnya dalam hati.

“Agni! Oik!” Seru salah satu pria yang tadi pasuk ke perpus.

Oik dan Agni langsung menengok. Kini keseleknya juga ikutan hilang. “..Obiet, Irsyad?… eh… hai!” Oik langsung menyapa 2 orang yang masuk ke perpus tadi walau ia sempat nge-blank selama dua detik saking kagetnya. 2 orang tersebut adalah Obiet dan Irsyad.

Agni langsung nanya to the point. “Kenapa kesini?” tanyanya. Ia bertanya seperti itu karena ia ingat kalau tadi Obiet sempat berkata kalau mereka akan ketemu lagi paling lambat saat makan malam.

“Ada hal penting yang harus aku tanyakan” kata Obiet tegas. Raut mukanya serius, membuat Agni dan Oik langsung khawatir. Apa mereka melakukan kesalahan? sepertinya tidak. Irsyad sih dari tadi ikut-ikut aja sama Obiet. Sementara Zevana, bengong sendiri di depan meja rak.

“Hal apa?” tanya Agni lagi.

“Ini!” Obiet langsung mengarahkan tangannya ke kanan. Ia meraih sesuatu yang sembunyi di balik rak perpus. Dan tangannya pun terlihat kembali, sedang menarik satu-ekor kucing.

Jrebb..

Akhirnya bentuk keseluruhan benda yang ditarik Obiet pun terlihat. Siapa lagi kalau bukan…

“Cakka?!… kok bisa?” seru Oik dan Agni bersamaan.

“Itu dia yang ingin aku tanyakan” kata Obiet. “Tadi kan Cakka tidak dapat undangan ke pesta teh yang seharusnya dikirimkan ke semua putri dan pangeran yang ada di sini. Tapi kok ia bisa masuk ke dalam istana, lalu ke dalam asrama, lalu masuk sebagai pangeran lagi” lanjutnya panjang lebar.

“Dia jadi teman sekamar Patton dan Debo” tambah Irsyad sambil menunjuk ke Cakka.

Cakka cuma bisa cengar-cengir. Mau ngomong apa coba? kalau salah sedikit kan bisa bahaya. Ancaman copcastle dari Rahmi langsung terngiang-ngiang di kepalanya. Saat ini ia sedang mempertaruhkan masa hidup matinya. Dan malaikat yang bisa menolongnya hanya 2 putri animalia di depannya itu.

“Jadi… siapa sebenarnya Cakka ini?” tanya Obiet.

“Ya…” Oik kebingungan. Ia tidak bisa menjawab.

“Cakka memang pangeran” kata Agni dengan yakinnya. “Ia datang dari negara Catiophia”

“Hah?” Oik menatap Agni tajam. “Dari mana kamu yakin dia dari Catiophia. Emang Negara itu ada?” tanyanya sambil berbisik pada Agni.

“Tenang aja. Negara itu ada kok. Tadi aku baca di buku pengetahuan Kingdom Of Dream. Negara itu ber-ras kucing” bisik Agni pada kakaknya.

“Hei ada apa sih ini?” tanya Zevana yang masih belum nyambung.

“Oh iya! Zeva, kenalin… ini Cakka temen kita. Dari Negara Catiophia” kata Agni riang. Ia menyuruh Cakka untuk say hi ke Zevana.

Tapi Zevana malah kelihatan tambah bingung. “Catiophia?” tanyanya. “Bukannya Negara itu sudah punah ya?”

Dan Agni pun kena batunya. Ia baru sadar, buku yang ia baca tadi kan edisi dulu. “Oops…”

Akhirnya permasalahan pun berakhir dengan Cakka yang mengaku kalau dia adalah utusan terakhir dari Negara catiophia itu dan ia membuat pernyataan kalau Catiophia itu belum punah, cuma hampir punah. Walaupun mengada-ngada untungnya semua percaya dengan perkataannya. Dan karena waktu sudah hampir malam, mereka pun kembali ke kamar masing-masing dan bersiap-siap untuk makan malam yang akan di adakan di ruang tengah istana.

Di tengah jalan Agni, Oik dan Zevana bertemu dengan Alvin. Oik meminta Alvin untuk mengantarkan beberapa baju pangeran untuk Cakka. Alvin mengangguk dan segera melakukan tugasnya.

Sementara itu di dapur, kawan-kawan Happy Chipmunks sedang bercengkerama sambil mengecek stok-stok makan malam. Kini waktu memasuki saat-saat terakhir sebelum makan malam pertama dimulai.

“Deva, tadi pas pesta teh mau dimulai kamu kemana aja?” tanya Ray sambil mengelap piring-piring kecil yang akan di taruh di meja makan nanti. Rio masih berada di ruang makan. Mengatur letak-letak makanan di meja makan. Sementara Keke dan Acha berada di ruang ganti, merias diri mereka.

“Nggak kemana-mana kok. Orang aku ngambil bunga di taman belakang kediaman Cranofile” jawab Deva.

“Ah bohong. kalo ngambil bunga paling 1-2 menit doang. Kok yang tadi sampai 10 menitan?” tanya Ray tidak percaya.

“Ya… nggak tau..” jawab Deva lagi.

“Udah… jujur aja. Pasti ketemu seseorang ya?… pasti… ketemu cewek yah?” goda Ray.

“Loh?…” Deva serasa ke tangkap basah. ‘Kok Ray tau?’ tanyanya dalam hati.

“Kaget ya aku tau?…” tanya Ray pede.

“Iya. kok tau sih?” tanya Deva penasaran.

“Ya iyalah… orang aku yang nyuruh Agni nyari kamu. Agni kan cewek” ucap Ray dengan tampang polosnya.

“Jiah… bukan itu, Ray..” kata Deva sambil memukul paha Ray.

“Aw!..” Ray balas memukul pelan dan mengusap-ngusap pahanya. “… emang apa?” tanya Ray ingin tahu.

“Aku ketemu cewek yang aku tabrak di dapur tadi pagi..” kata Deva excited. “Namanya Nova”

“Oh… trus?” Ray bertanya lagi.

“Ya terus seneng lah!..” jawab Deva. “walau… gara-gara harus ngebungkus pecahan pot di taman itu, sapu tanganku jadi hilang sih..”

“Hah?.. hilang di mana?”

“Ish! si Ray ini nggak ngerti perumpamaan yah?… maksudku saputangannya malah jadi bahan membungkus pecahan pot itu..” ucap Deva agak kesal dengan sifat Ray yang kadang susah ngerti. “Tapi, nggak papa sih. Setidaknya sapu tangannya ada di tangan Nova. Hi hi… jadi pingin ketemu lagi” Deva menghelakan nafas panjang dan kembali mengelap piring-piring istana.

“Hm… kenapa nggak diambil lagi aja, Dev?” tanya Ray polos.

“Ih! ni anak. Ya nggak lah.. kan kesannya jadi… eh… iya juga ya?” tiba-tiba terlintas ide yang cukup cemerlang di kepala Deva. “Iya!… kenapa aku nggak kepikiran dari tadi?… ya ampun Ray, ternyata kamu pinter juga ya?” seru Deva sambil menepuk pundak Ray.

“Pinter? Pinter apanya?… emang aku bilang apa sampai-sampai aku bisa jadi pinter?”

“Ah!.. masa kamu nggak ngerti juga sih?…” Deva menempeleng kepala Ray karena tingkah Ray yang tiba-tiba polos banget. “Aku bakal ketemu Nova lagi dengan alasan pingin minta balik sapu tangan itu. Gimana?.. bagus nggak idenya?” kata Deva dengan semangat.

“Oh.. iya iya! Semua Ide Deva mah selalu bagus..” ucap Ray sambil mengacungkan jempolnya.

“He he..” Deva tersenyum bangga. Ia tersanjung telah dipuji oleh Ray.

“Tapi aku nggak ikut ya.” kata Ray datar.

“Yah!… ikut dong, Ray. Kita kan sohiban… bantuin aku dong…” mohon Deva sepenuh hati.

“Aah.. nggak ah… banyak kerjaan.” tolak Ray.

“Ya kan tinggal bilang ke Rio baik-baik. Lagian ada Gita kok. Terus ada Acha pula. Ayolah Ray… besok doang kok” pinta Deva sambil memelas.

“Hh… Iya deh. tapi ada gantinya ya. Besok kamu harus bikinin aku air panas buat mandi sore. He he..” seru Ray semangat. Senyum usilnya muncul seketika.

“Ah… si Ray mah… gituu..”

Raja siang kini telah kembali pada tempat peristirahatannya. Dewi bulan menggantikan tempatnya di alam semesta ini. Saat itu bintang-bintang masih terlihat samar dan kecil. Para pangeran dan putri di kerajaan animalia dapat melihat pemandangan langit malam itu di ruangan besar istana animalia yang kini digunakan untuk ruang makan. Beberapa pangeran dan putri kingdom of dream sudah ada di ruang makan itu. Begitu juga dengan Agni, Oik, dan teman-teman mereka. Patton, Irsyad, Obiet, Debo, Agni, Oik, Zevana, dan tentu juga Cakka duduk berdekatan di barisan tengah meja makan panjang ke-2. Zevana, Cakka, Agni dan Oik duduk bersebelahan di sebelah kanan meja. Sementara Obiet, Irsyad, Patton, dan Debo duduk di depan mereka.

Ruangan sudah mulai penuh. Para putri dan pangeran bergiliran masuk ke ruang makan itu. Deva berdiri di sebelah pintu masuk ke ruang makan. Ia menyambut para putri dan pangeran yang masuk dengan senyum yang ramah. Waktu makan malam belum benar-benar dimulai. Tapi memakan kue-kue kecil yang sudah disediakan di 4 meja makan sudah diperbolehkan.

Agni memperhatikan para pangeran dan putri yang dari tadi masuk ke ruang makan. Baju-baju mereka unik. Sangat bagus dan kelihatan royal. Zevana seperti biasa sedang menikmati santapan manis di depannya. Kue-kue masakan Rio memang pantas untuk diacungkan jempol. Debo dan Patton, terutama Debo lagi-lagi terkesima melihat salah satu ruangan di istana animalia. Obiet kembali mencoba mengutak-atik limas perunggunya sementara Irsyad yang duduk di sebelahnya terus menatap ke jam dinding besar di dinding kanan ruangan. Lalu Cakka memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Oik yang mulai bosan, hanya menopang dagunya di tangan dan menghembuskan nafas dengan pelan.

“Woaa… ruang makan kalian besar sekali, Oik. Jadi setiap jam makan kalian akan makan di sini?” tanya Debo penasaran.

“Hmm?…” Oik sadar. Ia menegakan punggungnya dan menjawab. “Enggak. Aku dan Agni belum pernah makan di sini. Yah… habis, ruangan ini sebenarnya kan bukan ruang makan”

“Hah?” Debo terkejut.

“Iya.” Oik mengangguk. “Tadinya ruangan ini hanya ruangan besar yang kosong. Alvin lah yang mendekorasi ruangan ini sampai terlihat seperti ruang makan. Dia mengatur semua dekorasi dan tata letak ruangannya. Hebat yaa..” ujar Oik.

“Oh.. iya..” Debo manggut-manggut. Ia melihat ke sekeliling lagi. Dekorasinya memang bagus sekali.

“Eh.. nanti yang bakal ngajarin kita di pengajaran ini… siapa saja sih?” tanya Patton.

“Hm… yang aku tau, professor nya Oik dan Agni termasuk salah satunya” jawab Zevana.

“Professor ku juga ikut mengajar” balas Obiet dengan semangat. Limas perunggunya sudah ia taruh di kantong bajunya.

“Bagaimana sifat professormu? Serem nggak?…” tanya Patton lagi.

“Ah… nggak serem sama sekali. Dia kan perempuan, cantik lagi. Orangnya ramah, terbuka, dan jarang marah..” jelas Obiet.

“Enak banget…” seru Oik dan Agni bersamaan. Mereka langsung ingat raut-raut muka professor Degor kalau sedang mengajar. Dan hukumannya…

“Terus, kalo misalnya lagi istirahat. Kamu dibolehin keluar istana nggak?” tanya Zevana antusias. Ia mau coba membandingkan professornya dengan professor lain di kingdom of dream.

“Yah… pada dasarnya sih nggak boleh. Tapi, kalo ada pelajaran yang lebih baik dilakukan di luar istana, kita akan belajar di luar istana” jelas Obiet lagi.

Mendengar itu Zevana langsung loyo. “Hh… aku merasa tertindas…” ujarnya tanpa gairah.

“Memang kenapa, Patton?..” tanya Irsyad yang mulai ikut kedalam pembicaraan.

“Ya… aku penasaran aja. Terus, sekalian jaga-jaga. Kalo tau-tau ada guru-guru yang nyeremin, aku bisa jauh-jauh dari guru itu” jawab Patton sambil tersenyum jail.

“Ah… kalo aku, lebih tertarik untuk tau tentang putri-putri dan pangeran yang ada di sini” ucap Agni mengubah arah pembicaraan.

“Iya. Kadang kita malah harus lebih hati-hati sama teman-teman yang lain. Apalagi mereka yang tidak terlalu dekat. Mungkin mereka bisa langsung berbuat jahat ke kita kalau mereka tidak suka” tambah Cakka. Akhirnya ia mencoba berbaur dengan sesama. Kan biar nggak mencurigakan. Dan usulannya barusan juga keluar berdasarkan kehidupannya di bumi.

“Wah… Cakka pinter juga ya” ujar Zevana.

“He he..” tanpa sadar Cakka pun cengengesan ke Zevana.

“Hm… kalau mau tau tentang putri dan pangeran di ruangan ini. Tanyakan saja padaku. Aku kenal 50% dari mereka, walau tidak kenal dekat” usul Patton mempromosikan dirinya.

“Hm… kalo gitu, aku mau tanya… pangeran yang itu!” seru Irsyad. Ia menunjuk ke pangeran yang duduk di bangku kanan meja ketiga barisan tengah.

Berdasarkan pikiran Cakka, pangeran yang ditunjuk oleh Irsyad memakai baju seperti baju alladin di salah satu film disney. Ia memiliki ekor yang panjang dan rambut hitamnya dipotong agak acak.

“Oh… itu Ozy, pangeran monyet. Orangnya ramah, baik, tapi lumayan usil sih kadang. Tapi… dia juga cinta damai. Jadi dia paling nggak suka kalo ada orang yang berantem” jelas Patton.

Semuanya ngangguk-ngangguk mengerti. Lalu giliran Debo bertanya.

“Kalo putri yang iris matanya berwarna ungu dan putri yang di sebelahnya itu siapa?”

“Kalo yang iris matanya ungu itu Dea, putri beruang. Lihat kan telinga bulatnya yang berwarna putih?. Nah.., yang disebelahnya itu Ify, dia putri kupu-kupu. Kalau dilihat sekarang, dia tidak punya sayap kupu-kupu, tapi sebenarnya ia mengubah sayap kupu-kupunya menjadi tato di punggung. Kalau ia perlu untuk terbang, ia bisa mengubah tato itu menjadi sayap kupu-kupu kapan saja ia mau” jelas Patton tanpa kesulitan.

“Hei,.. kalau 3 orang pangeran yang mengganggu seseorang di situ siapa?” tanya Zevana dengan pandangan sinis pada 3 orang pangeran yang ia sebut tadi sambil menunjuk dengan dagunya.

Patton menjawab dengan raut muka yang juga tidak senang. “Raika 3 bersaudara. Mereka yang harusnya kita waspadai. Aku dengar mereka sering menindas para putri dan pangeran yang mereka rasa lebih bawah derajatnya dari mereka”

“Tidak adil!.. Mereka kira mereka siapa?!.. semua derajat putri dan pangeran di sini kan sama!..” ujar Zevana kesal. Ia paling tidak suka hal-hal yang bersangkutan dengan pelanggaran hak mahluk hidup.

“Yah… kita berdoa saja supaya mereka cepat dapat balasannya” balas Patton setuju.

Agni, Oik, Cakka, Obiet, dan yang lainnya ikut melihat apa yang dilakukan Reika 3 bersaudara itu. Dan mereka turut prihatin juga dengan pangeran landak yang ditindas oleh 3 bersaudara itu.

“ugh, cukup. Aku akan memberikan mereka balasan” geram Zevana kesal. Ia hampir saja bangun dari kursi tapi di tahan oleh Patton yang duduk di depannya.

“Tidak usah. Ini kan baru hari malam pertama. Jangan cari masalah dulu. Lagi pula 3 bersaudara itu tidak akan dengan gampangnya melupakan seseorang yang melawan mereka” kata Patton.

“Oh ya?… sama halnya denganku. Aku juga tidak akan melupakan orang yang membuatku kesal” balas Zevana dingin. Rebel side dari dirinya mulai keluar sementara pandangan sinisnya masih terus tampak.

“Siapa nama masing-masing bersaudara itu. Tidak mungkin kan mereka hanya bisa dipanggil dengan sebutan 3 bersaudara Reika saja..” ucap Cakka ingin tahu.

Patton pun menjelaskan. “Yang sedang duduk di meja itu Lintar Reika, yang berdiri di tengah Rizki Reika, dan yang sedang memegang bola bening milik si pangeran landak yang ditindas namanya Riko Reika”

dari kejauhan..

Si pangeran landak memohon agar bola beningnya di kembalikan. Tanpa sengaja tangan Riko terkena air panas dan bola bening itu pun terlontar ke tempat Agni duduk.

“Hap!” Agni menangkap bola itu. Si pangeran landak terlihat lega. 3 Reika bersaudara menatap Agni dengan pandangan dingin namun tak lama setelah itu mereka hanya berlalu ke tempat lain.

“..’Aku harus memperingati pihak dapur. Bisa-bisanya mereka menaruh air panas sial itu di sini’.. itu kata Riko” ucap Irsyad memberi informasi cuma-cuma.

Yang lainnya tampak tidak mengerti. Irsyad pun langsung menepuk dahinya pelan. “Oh iyya!.. sudahkan kalian aku beri tahu?.. aku bisa membaca pikiran orang lain” ucap Irsyad riang. Yang lain, masih bengong saking nggak nyangkanya.“Mm… kurasa belum. Yah… sekarang kalian tahu..” Irsyad hanya mengangkat bahu sekali dan memakan kue coklat di depannya seperti tak terjadi apapun.

“Ja… jadi.. jadi..” Zevana masih tidak percaya, Oik dan Agni juga masih speechless.

“Wah… aku harus waspada nih sama Irsyad” ujar Obiet iseng.

“Hei!…” seru pangeran landak dari tempatnya duduk. “Kalau tidak keberatan. Boleh tidak kau menyerahkan bola bening itu padaku sekarang?”

“Oh iya! Aku baru ingat” seru Agni. “Ini!” Agni hampir melemparkan bola bening itu pada pemiliknya. Tapi si pangeran mencegah.

“Tu.. tunggu!… jangan dilempar. Bola itu sangat berharga, aku tidak mau kalau bola itu jatuh dan pecah” serunya.

‘Hm… kalo gitu aku harus menyerahkan padanya secara langsung’ pikir Agni. Agni pun berdiri dan melangkah ke tempat pangeran itu duduk. Tapi di tengah jalan rok nya tersangkut pada salah satu kaki kursi. Ia langsung menarik bajunya agar terlepas dari kaki kursi itu.

“Hm… eh!” rok Agni terlepas. Ia berjalan kembali. Tapi tanpa ia sadari ada 3 orang putri yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia pun menabrak putri-putri itu.

Bruk!

“Hei!!.. kalau jalan liat-liat!!” salah satu putri yang tertabrak olehnya membentak kesal dan mendorong Agni ke samping. Untungnya Agni bisa berpegangan pada kursi kosong di sebelahnya, tapi bola bening milik pangeran tadi jadi terlepas dari genggamannya.

“Hah? Bolanya!..”

“Hap”

Agni terkejut. Ia kira bola itu akan jatuh membentur lantai dengan keras dan pecah berkeping-keping. Tapi ada seseorang yang menangkap bola itu saat jaraknya tinggal 10 cm dari lantai.

“Ini..”

Agni menengadahkan kepalanya, menatap seseorang yang tadi menangkap bola bening itu. Seorang gadis, dengan baju terusan merah tua, rambut hitam panjang yang terikat di atas kepala, dan sorot mata yang begitu tenang. Siyenna.

“Eh..” Agni masih tidak tau harus berkata apa. Ia mengambil bola bening itu kembali dan berdiri dengan tegap.

“Hati-hati jika berada di dekat 3 putri awan. Mereka tidak terlalu ramah pada orang asing” ucap Siyenna tenang. Ia tersenyum ramah dan berlalu melewati Agni. Padahal Agni baru mau berkata ‘terimakasih’.

Agni langsung saja cepat-cepat berjalan ke pangeran pemilik bola bening. Mengurangi kesempatan kalau bolanya akan jatuh kembali.

Sementara itu Siyenna dan Sion memperhatikan dari jauh.

“Tidak biasanya Siyenna lembut..” ujar Sion dengan lirikan iseng.

*Gemplannng!..*

“Jadi kau bilang aku kasar?” balas Siyenna sambil memberikan pukulan nampan untuk Sion.

“Ah!!.. Sakit, Siyenna!” seru Sion.

“Salah sendiri..” balas Siyenna lagi.

“Hei, memang memukul tuanmu tidak kasar?” tanya Sion.

“Aku kan hanya kasar kalau orangnya menyebalkan” Siyenna mengelak lagi.

“Siy, aku ini tuanmu”

“Hm.. aku tidak pernah mengakui telah dimiliki oleh siapapun. Tidak ada yang berkuasa penuh atas diriku selain aku”

“Yah… sudahlah. Setidaknya hari-hari tidak akan membosankan dengan adanya kau di sini”

“Aku mau ke balkon”

“Hm?” Sion bertanya meyakinkan. Ia rasa pendengarannya mungkin sedang salah.

“Ada janji dengan pelayan pribadi putri animalia” kata Siyenna sambil mulai beranjak dari sisi Sion.

“Hei!… pelayannya cowok kan?… kalian mau ngapain?” tanya Sion serius.

“Pfh.. tidak usah seserius itu. Posisimu di hatiku belum terganti kok” goda Siyenna dari jauh.

Sion langsung cemberut. Walau bagi dirinya itu melegakan juga. “Tapi tunggu…” Sion terdiam untuk sesaat. “’Belum’ katanya?..”

“Patton,..” panggil Agni setelah ia duduk nyaman di kursinya. “Kalau 3 putri yang sedang berjalan itu siapa? Tau tidak?”

Patton melihat ke sekitar dan ia pun menemukan 3 putri yang Agni maksud.

“Oh.. itu… mereka Sivia, Shilla, dan Angel. Mereka putri awan” kata Patton sambil tersenyum.

“Kelihatannya tidak ramah..” ucap Agni dengan nada mengeluh. Dagunya pun ikut ditopang pada telapak tangannya.

“Ha ha… memang tidak” balas Patton layaknya memaklumi tindakan Agni.

“Maksudnya putri awan apa?” tanya Oik.

“3 putri itu berasal dari kerajaan langit. Dekat dengan kerajaanku” ucap Patton.

“Kerajaan langit?” Oik masih belum sepenuhnya mengerti.

“Kerajaan langit.. kalian tau kan? Tanya Zevana, ia pasti tau” kata Patton sambil menunjuk ke Zevana. Zevana langsung mengangguk sambil tersenyum ke Patton lalu ke Oik.

“Oh!..” dan Oik pun ingat saat-saat di perpustakaan tadi sore. “Maksudnya Skyrea ya?”

“Ya. Mereka memang jarang datang ke acara pertemuan seperti ini. Dan seperti awan kumulus, mereka kadang bisa menyengat perasaan orang seperti petir-petir di awan kumulus itu”

“Tubuh mereka juga agak gemuk, kayak awan kumulus.. empuk.. he he..” canda irsyad.

“Ya… tampang fisik itu juga bisa masuk ke dalam perumpamaan” balas Patton sambil tersenyum jail.

Teng… teng… teng…

Jam menunjukan pukul 6 sore. 15 menit lagi waktu makan malam akan dimulai. Semua putri dan pangeran terdiam saat menyaksikan para minister dan para professor memasuki ruangan dan duduk di Meja besar yang letaknya di sisi utara ruangan. Pijakan di daerah sana lebih tinggi dari lantai ruangan, jadi semua putri dan pangeran dapat melihat para minister dan professor dengan jelas.

“Eh, itu kan orang yang menangkapku di hutan terlarang tadi..” bisik Cakka ke Agni.

Agni memperhatikan sosok yang disebut Cakka dari belakang. Tubuhnya tinggi besar, memakai jubah hitam dan kulitnya bersisik dibeberapa bagian.

“Patton, itu siapa?” tanya Agni sambil menunjuk ke sosok yang disebut oleh Cakka tadi.

“Itu…kalau tidak salah dia minister Syltha. Dia jarang terlihat. Lebih sering bekerja di tempat persembunyiannya” jelas Patton.

*Ting ting ting…*

“Perhatian semuanya. Waktu makan malam akan dimulai sebentar lagi. Sebelum kalian semua dibolehkan memakan santapan. Kami mohon untuk mendengarkan sedikit pengumuman dari kepala minister” ucap seorang professor wanita yang sudah lumayan tua. Mempersilahkan sang ketua minister berdiri di podium utama.

Semua orang yang ada di ruangan itu diam memperhatkan sang ketua Minister. Membuktikan charisma nya yang begitu besar. Ia adalah seorang laki-laki berumur kira-kira 24 tahun dengan tattoo segitiga di dahinya, tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan rambut hitamnya panjang terurai sampai punggung.

“Para putri dan putra mahkota semuanya. Aku Alltar Monarchi, ketua minister di sini” ucapnya.

“Wah.. muda ya..” ujar Obiet.

“Zaman seperti ini orang muda memang memimpin, Biet..” balas Irsyad iseng.

“Sekarang aku akan menjelaskan sedikit tentang sistem pengajaran di sini. Kami para minister memutuskan untuk membagi jenis pelajaran yang ada menjadi 2, yaitu pengetahuan umum dan keahlian khusus. Seperti yang kalian tau, kelas pengetahuan umum akan mencangkup imlu geografi, alam, sosial, bahasa, sejarah, dan pengetahuan dasar lain yang setiap anak wajib ketahui. Sedangkan kelas keahlian khusus akan mengajarkan pelajaran tambahan lain diluar mata pelajaran kelas pengetahuan umum. bagi para pangeran kelas ini akan mengambil tempat belajar lebih banyak di luar bangunan istana. Seperti berkuda, memanah, bertarung, dan sebagainya untuk para pangeran. Sementara para putri akan diajarkan memasak, pengobatan, menyulam, dan kegiatan lain yang dapat meningkatkan keterampilan kalian.”

“Eh..” Agni bergumam sebentar. Tangannya mengepal seperti menahan sesuatu di dirinya.

“Kenapa, Ag?” tanya Debo.

“Eh, boleh nanya nggak sih?” Agni balas bertanya.

“Kalo lagi pengumuman gini mending diem aja..” usul Patton. “Mau nanya apa?” ucap Patton lagi dengan suara dikecilkan.

“Aku males kalo harus nyulam sama masak doang… boleh gak sih tuker pelajaran. Jadi aku ikut pelajarannya pangeran-pangeran.”

*Sank!*

“Hah!” Agni dan Patton terkejut bukan main. ada garpu tajam kecil yang tiba-tiba saja menancap di depan mereka.

“Kalian berdua!.. diam kalau minister sedang berbicara!” seru salah satu minister yang tadi melempar garpu itu.

Agni dan Patton langsung diam. Mereka tidak berani berbicara lagi.

“..Dan bertukar pelajaran antara putri dan pangeran…” sang ketua minister memulai dengan permasalahan yang diucapkan oleh Agni. “…tidak dibolehkan.”

“Ugh!..” Agni langsung loyo. Dengan refleksnya kepalanya langsung jatuh ke meja.

Sang ketua minister pun melanjutkan. “Selain itu, ada juga kelas tambahan khusus yang diikuti oleh pangeran maupun putri yaitu kelas ramuan dan kelas pengasahan bakat. Di kelas ramuan kalian akan belajar tentang berbagai jenis ramuan dan cara membuatnya, sedangkan di kelas pengasahan bakat, kalian dibimbing untuk mengasah bakat terpendam yang ada, yang masing-masing ras-nya juga berbeda”

Sang ketua minister terus menjelaskan sistem-sistem pengajaran yang akan dilaksanakan nanti. Semua putri dan pangeran di sana kelihatan serius memperhatikan. Namun berbeda dengan yang lainnya, bukannya menaruh seluruh perhatian pada kata-kata ketua minister, Irsyad malah asyik membaca pikiran teman-temannya. Itu juga disebabkan oleh ucapan ketua minister yang mengatakan sesuatu tentang bakat terpendam. Ia kan sudah lumayan mengetahui tentang bakat terpendamnya. Terlintas di pikiran Irsyad untuk membaca apa yang ada di pikiran 3 putri awan yang duduk di meja panjang ke-4. Irsyad pun mengambil segelas air dan meminumnya perlahan. Padahal ia hanya ingin agar tindakannya itu tidak terlihat.

‘waah… kira-kira kelas merias ada nggak ya?..’

“Hmpphf!..” Irsyad langsung keselek mendengar itu. Maklum, dia kan bukan cewek. Bagaimana kalau nanti memang ada kelas merias?. Air yang ia minum muncrat setengahnya. Untung tidak terlalu banyak dan para minister tidak menyadari itu. Walau ada sih korbannya. Oik yang duduk di depannya langsung cemberut berat karena bajunya jadi basah.

“Maaf..” Irsyad langsung saja menaruh gelas itu dan menepukan ke-2 telapak tangannya di depan mukanya.

“…Dan yang terpenting adalah, kalian tidak boleh melanggar aturan yang telah kami buat pada hari kemarin di rapat minister” ucap ketua minister.

“Aturan?… aku harap aturannya tidak banyak” kata Patton dalam hati.

“Nah… hal terakhir yang akan aku sampaikan adalah… tentang orang-orang yang akan menjadi pengajar kalian di pengajaran khusus ini” ketua minister terus menjelaskan. “Professor pertama adalah Professor Degor” katanya sambil menatap Professor Degor dengan penuh hormat.

Professor Degor pun berdiri dan pada saat itu juga Oik dan Agni langsung merasa lebih semangat. Professor Degor kelihatan berwibawa di sana.

“Professor Degor akan mengajarkan kalian di kelas geografi” ketua minister melanjutkan. “Yang kedua adalah Professor Winda. Dia akan mengajar di kelas pengasahan bakat”

Dan seorang wanita berparas cantik dan anggun pun berdiri dari kursi meja makan professor serta minister.

“Nah, itu dia professor ku” bisik Obiet ke teman-temannya.

Professor Winda memang kelihatan sangat ramah. Pasti dia bukan seseorang yang akan dipanggil guru killer di pengajaran itu. Tampangnya berbalik  dengan seorang minister disebelahnya. Manusia setengah ular yang tadi siang menangkap Cakka.

“Nah, ini adalah Minister Syltha yang juga menjabat sebagai Professor. Dia akan mengajarkan para pangeran di kelas bertarung” jelas ketua Minister.

“Ah.. bagaimana bisa?… minister brutal itu?.. menjadi pengajar?… dapat bagian mengajar pangeran pula..” keluh Cakka.

“Tenang saja, walau tampangnya seram begitu… aku dengar ia tidak terlalu keras dalam mengajar kok” bisik Patton.

Sang ketua minister terus mengenalkan para pengajar-pengajar di sana. kira-kira ada 6 pengajar lain yang dikenalkan pada para putri dan pangeran kingdom of dream. Setelah itu pengumuman di akhiri dan semua diperbolehkan untuk menyantap makan malamnya. Tapi sebelum itu, salah satu minister yang tadi melemparkan garpunya ke depan Patton dan Agni meminta semua pangeran dan putri menyerahkan bet pesta teh mereka kepada petugas istana yang sudah dikerahkan oleh minister itu. Semua tidak keberatan, lagi pula 1 jam sebelumnya para putri dan pangeran juga telah diberitahu untuk membawa bet pesta teh mereka. Tapi masalahnya, Cakka tidak memiliki bet pesta teh apapun. Dan ia pun harus terpaksa dibawa ke ruang peristirahatan minister di sebelah ruang makan.

“Siapa kau! Katakan dengan jujur! aku tau kau utusan dari kegelapan!” bentak minister yang menangkap Cakka.

“Bukan!..” bantah Cakka.

“Jangan bohong!”

“Aku tidak tau apa itu kegelapan!… sama sekali tidak tau!”

“Bohong!” Minister itu membentak tanpa ampun. Ia mengangkat tangannya keatas dan mengayunkan tangannya ke leher Cakka.

“Heina!.. biarkanlah dia menjelaskan semuanya dulu..” Professor Winda mencegah Minister itu memukul leher Cakka.

Minister Heina yang masih marah terus mencengkram tubuh Cakka. Muka Cakka mengkerut, cengkraman itu sangat kuat. Namun 3 detik kemudian keuatan cengkraman Heina berangsur hilang. Ia mundur dan Cakka bisa melihat kakinya yang berbulu seperti elang. Cakka pun mengerti kenapa cengkraman minister Heina sangat kuat. Ia adalah manusia setengah elang.

“Nak,..” Minister Syltha menatap Cakka dingin. asap putih dari pipa coklatnya (kayak rokok) mengepul pelan dari mulutnya. “Dari mana kau berasal?”

“Aku… dari…” Cakka bingung harus menjawab apa. kalau ia jawab Catiophia, mungkin para minister dan professor disana akan menyangka ia berbohong. Karena Catiophia saja sudah punah. Professor Winda menatapnya penuh iba. Jika Cakka tidak bisa menjawab apapun, maka ia tidak dapat menolongnya sekali lagi. “Catiophia…”

“Catiophia?!.. yang benar saja!.. negara itu sudah punah sejak dulu!” bentak minister Heina.

“Tidak.” minister Syltha masih berdiri dengan tenang. “anak ini mungkin utusan terakhir Catiophia. benar bukan?” tanyanya pada Cakka.

“Eh.. iya” Cakka mengangguk cepat. Ia tidak tau apa yang ia lakukan benar atau salah. Yang pasti tubuhnya gemetaran saat itu.

“Jika ia utusan terakhir..” ucap Syltha. “Maka kau tau apa artinya..” Syltha melirik tajam pada Winda dan Heina. Seperti mengirimkan suatu pesan lewat mata. Heina tidak bereaksi, tapi Winda.. akhirnya ia tau maksud Syltha.

“Hh’!.. jangan bilang… ramalan itu..”

“Ya.” Alltar muncul dari balik pintu. “Jika dia memang utusan terakhir Catiophia… maka kemungkinan besar keberuntungan berada di pihak kita..” Ia berjalan mendekati Cakka, lalu menepuk-nepuk rambutnya. “Cakka, kan?”

“Ya” jawab Cakka gugup.

“Kembalilah ke teman-temanmu. Makanlah sebanyak-banyaknya. Besok kemungkinan akan sangat melelahkan.”

Cakka pun kembali ke tempatnya makan tadi. Dan pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang semua itu. “Ramalan?… apa maksudnya?”

3 jam kemudian..

Agni, Oik dan Zevana masuk ke dalam kamar mereka. Lalu hal yang pertama Agni lakukan adalah menghempaskan tubuh di kasurnya. Oik mengaca di pantulan air kolam. Ia rasa ia tidak akan perlu meja berkaca lagi. Sementara Zevana, ia mengeluh habis-habisan.

“Tidak bisa dipercaya!.. apa ini?!” keluh Zevana sambil memegang sebuah surat kecil di meja kecil kamar.

“..’Para putri dan pangeran di istana hanya dibolehkan makan di waktu-waktu makan yang telah ditentukan. Dan hanya boleh di ruang makan. Para putri dan pangeran hanya dibolehkan memakan makanan buatan istana animalia. Itu artinya tidak ada cemilan pada waktu-waktu diluar jam makan. Ini semua untuk menjamin keselamatan semua putri dan pangeran kingdom of dream. Mohon dimengerti. Rio, kepala pelayan dapur’?!… Nggak adil!!” keluh Zevana lagi. Ia meremas-remas kertas surat dari Rio setelah selesai membacanya. Lalu membuang kertas itu ke lantai.

Bek Bek Bek! Zevana menginjak-nginjak kertas itu dengan penuh perasaan kesal.

*Ting ting*

Terdengar suara bel kamar dibunyikan. Oik membuka pintu kamar dan menemukan satu buah surat di depan kamar.

“Ini untuk Zevana!” seru Oik sambil membolak-balik sampul suratnya, mencari-cari nama pengirimnya. “Eh… pengirimnya nggak dicantumin” lanjutnya sambil menggaruk-garuk kepala.

“Berikan padaku!” seru Zevana dengan mood yang masih tidak stabil.

Oik memberikan surat itu pada Zevana dan membiarkan Zevana membuka suratnya sendiri.

“Dari Rio lagi?!” kata Zevana hampir meledak. “..’sekali lagi maaf jika hal ini membuat putri kesal. Tapi ini memang sudah jadi aturan pengajarannya. Lagi pula, professor anda juga berkata. Hal ini dapat digunakan untuk kesempatan diet putri.’..” ucap Zevana membacakan isi surat Rio. “Apa?!!.. Diet?!.. Diet katanya?!… coba lihat diriku!.. apa aku gendut?!..” seru Zevana tidak terima.

Oik dan Agni diam menatap Zevana dengan pandangan takut.

“Ah! sudahlah! liat saja! aku pasti bisa melanggar aturan ini. Aku masih punya persediaan makanan yang banyak di tas ku. Aku akan melaporkan hal ini pada professor. Pasti ada yang tidak beres dengan pelayanan konsumsi di sini” Zevana berbicara pada dirinya sendiri. Ia mengambil alat komunikasi di tasnya dan menghubungi sang professor.

Oik menghampiri Agni, ikut duduk di kasur Agni. “Hei, menurutmu mungkin nggak Rio berbuat seperti itu?” tanya Oik.

“Enggak” jawab Agni pasti. “Itu pasti karena aturannya yang memang ketat. Lihat… aku juga dapat surat pemberitahuan” kata Agni memperlihatkan surat yang ia dapat.

..

Berikut uraian peraturan selama pengajaran:

- Bangun dan tidur harus tepat pada waktunya.

- Selama pelajaran dilarang keluar dari tempat belajar

- Tidak boleh makan sembarangan. Hanya dibolehkan memakan makanan dari dapur istana

- Makan hanya pada jam tertentu

- Dilarang keluar pada waktu malam hari

- Dilarang memasuki perpustakaan barat istana

…<dst.>

..

“Ah.. membosankan..” keluh Agni.

Oik mengangguk setuju. Ia bangun dari kasur Agni dan mencoba berbaring di kasurnya sendiri. *Sekk..sek..* “Hei, apa ini?” Oik merasakan sesuatu mengganggu bagian punggungnya. Ia bangun dan menemukan sebuah surat di atas kasurnya. Oik pun membuka surat itu dan membaca isinya keras-keras.

“Jadwal pelajaran untuk besok ada di peti besar di kamar kalian. Disertai juga dengan buku-buku dan peralatan yang mungkin akan dibutuhkan besok. Semoga tidak akan ada keluhan dihati putri/pangeran. Terimakasih. Kepala pengajar..”

“Oh.. jadi tinggal ngambil di peti?” tanya Agni.

“Ya” Oik menjawab dengan singkat.

“Ya sudah. Aku mau tidur saja. Sudah ngantuk… Hoaaam..”

“Ya.. aku juga. Zeva, tidak tidur?” kata Oik memanggil Zevana yang masih serius di alat komunikasinya.

“Aku tidur belakangan. kalian duluan saja..” kata Zevana.

“Oke.” Oik mengangguk dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. “Hoaam.. semoga besok bisa lebih menyenangkan”

Di balkon..

“Oh ya, sebelum kau pergi… Deva bilang tadi kau membantu putri Agni..” kata Alvin. Menunggu penjelasan sebenarnya dari mulut Siyenna.

“Oh… iya. Tapi hanya sedikit kok” balas Siyenna.

“Boleh aku tau alasannya kenapa?” tanya Alvin.

Siyenna mengangguk pelan. “..20 % karena aku memang tidak suka putri-putri awan itu.. dan 80%… karena aku menganggap putri Agni-mu itu spesial..”

“Spesial?” tanya Alvin lagi. Ia belum mengerti.

“Hm… bagaimana menjelaskannya ya?” ujar Siyenna bingung. “… mm.. Agni terlibat di salah satu peristiwa penting bagi salah satu pangeranku”

“Ah?”

“Ah.. sudahlah. Lupakan… kau memang tidak seharusnya tau kok. Sudah dulu ya.. daah…”

Malam sudah semakin larut. Lampu-lampu istana sudah hampir dimatikan seluruhnya. Siyenna dan Sion masih berjalan di salah satu lorong istana. Sinar bulan dan bintang di langit malam terpancar jelas dari balik kaca jendela. Mereka menikmati itu sepenuhnya.

Mereka menuju ke kamar Sion. Ia memang mempunyai aturan sendiri untuk pelayan pribadinya. Ia sudah menyiapkan kamar tersembunyi di dalam dinding kamarnya. Dan di setiap malam, Siyenna tidak akan tidur di tempat para pelayan pribadi tidur, melainkan di kamar yang sudah disiapkan Sion itu. Membuat tempat tersembunyi, itu adalah keahlian Sion. Dan keahliannya itu sudah sangat sering membantunya dalam hidup ini.

“Ugh… makan malam tadi mengecewakan..” keluh Sion. “Tadinya aku sudah semangat dengan menu makan malamnya. Daging segar!.. tapi aku lupa.. maksud daging segar di sini kan daging yang sudah bersih, bukan daging yang masih penuh darah” lanjut Sion mengutarakan ketidakpuasannya. “Aku masih lapar…”

Siyenna juga masih diam. Dari pertama mereka memasuki lorong, ia belum mengeluarkan sepatah kata pun.

“Jadi… apa yang kau bicarakan dengan si pelayan pribadi di balkon?” tanya Sion memulai pembicaraan.

“Hm?… Oh.. Alvin?” tanya Siyenna balik.

“Ya” jawab Sion.

Siyenna menunduk sedikit. Seperti ada sesuatu perasaan yang mengganggunya barusan. “Bukan hal penting bagimu kok. Dia hanya penasaran dengan motif tattoo di pergelangan tanganku. Sepertinya ia sadar akan tattoo itu saat aku sedang mencuci tangan di dapur”

“Memang ada apa dengan tattoo itu?” tanya Sion berbasa-basi.

“Katanya… orang tuanya dibunuh oleh seseorang dengan tattoo yang sama denganku..” Siyenna menyembunyikan raut wajahnya. Perasaannya bimbang.

“Tattoo itu,… turun temurun dari keluarga kan?” tanya Sion lagi.

“Ya..”

“Jadi maksudnya… salah satu dari keluargamu pernah membunuh orang tua pelayan itu?”

“Tidak tau…” Siyenna menghela nafas pelan. “Lagi pula… aku belum benar-benar melihat seperti apa orang tua ataupun kakek nenekku. Mereka hanya bilang aku keluarga ventaurie… ditakdirkan untuk menjaga nama kerajaan vampire. Apa-apaan itu?… aku tidak pernah sepenuhnya setuju..”

“Hei,… maaf… kalau aku memang menyebalkan…” ucap Sion jujur dari hati.

“Hm?…” Siyenna agak tidak percaya. Tidak biasanya tuannya berkata gentle seperti itu.

“Em.. malam ini.. kau boleh melakukan apapun yang kau mau” ucap Sion sungguh-sungguh. Walau agak berat mengatakannya. Karena sifat Sion sebenarnya memang tidak seperti ini. Tapi ia memang sedikit tersentuh oleh perkataan Siyenna. Entah kenapa, ada satu bagian dari hati Sion yang merasa bersalah.

“Ha?… ha ha!.. jangan terharu seperti itu.” Ucap Siyenna sambil tertawa kecil. Ia menepuk-nepuk pundak Sion yang raut mukanya tidak seenergik biasannya. “Sebenarnya aku juga kadang bosan kalau kau tidak menyebalkan. Dan karena makan malam hari ini tidak memuaskan… malam ini aku akan membiarkanmu meminum darahku”

“Hah?! Benarkah?!..” tanya Sion tidak percaya. Mungkin malam itu akan jadi malam yang paling nikmat dalam hidupnya.

“Ya..”

“Yes!..”

Sion dan Siyenna pun melanjutkan langkah mereka dengan senyum riang. Vampire memang seperti itu. Masa paling aktifnya pada malam hari. Tapi meminum darah sesama Vampire sebenarnya tidak akan benar-benar memuaskan kehausan mereka. Lalu kenapa Sion mau meminum darah Siyenna? Itu karena, walau Siyenna berasal dari negara vampire, ia bukan seorang vampire.

“Oh iya, satu hal sebelum kau meminum darahku..” ucap Siyenna pada Sion. “Jangan minum banyak-banyak. Sisakan untuk adikmu… pasti ia juga lapar”

Krik krik…

“Degor, sudah ku kira hal ini akan terjadi. Di malam pertama, sudah ada putri dan pangeran yang mengeluh tentang aturan di malam hari” ucap professor Dema khawatir.

“Lalu.. siapa saja mereka?”

“Para binatang malam tentunya. Beberapa binatang yang lebih aktif di malam hari, dan termasuk didalamnya putri didik ku Tigerlily”

Professor Degor hanya diam membisu. Memandang langit malam bintangnya mulai hilang.

“Jadi… apa yang harus kita lakukan?”

“Tak ada satupun” professor Degor menjawab. “Jika kita ingin para putri dan putra makhota itu tetap aman, mereka harus mematuhi aturannya. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Selama kegelapan masih ada di tempat ini, kita tidak boleh membiarkan satupun dari putri dan putra mahkota keluar dari batas perisai istana. Atau mereka akan ditelan oleh kegelapan”

And the 11th part stop here… To be continued to the next part.

Thank you for reading. Terimakasih telah membaca. Terus tunggu lanjutannya. Aku harap semuanya puas membaca ini. Terus sabar menunggu part selanjutnya yah.

Bonus picture is now here.

ify's tattoo

ify's tattoo

Click to make it larger

Terimakasih… ^_^

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

  1. seperti biasa
    keren
    bagus tatonya
    lanjut ya

    • Saniyyah
    • July 3rd, 2010

    Iya. Makasih.. ^_^

    • DINDApotter
    • July 4th, 2010

    lanjut ga? *ngancem ini looo…
    keren! Keren! keren!

    • Saniyyah
    • July 6th, 2010

    Iyah lanjut kok. Cuman… kayaknya kali ini bakal lama deh. Mungkin benar-benar lama. Maaf yah… Kayaknya sementara ini (masa libur) aku bakal break nulis dulu.
    Tetep lanjut kok!
    ^_^

  1. No trackbacks yet.