Kingdom Of Dream_Part 13: Kelas Germstone dan Para Pelayan Pribadi
Kelanjutan dari Kingdom Of Dream Part 12: Pagi Pertama
Sudah sebegitu lama aku nggak ngelanjutin cerita ini. Dikarenakan jadwal sekolah yang makin padat. Minggu-minggu ulangan mulai berdatangan nih. Maaf banget buat yang nunggu. Dan kayaknya habis part ini aku belum akan melanjutkan ceritanya sampai semester depan.
Sebagai penutup, semoga Part yang nggak begitu banyak ini memuaskan. Selamat membaca!
—
Kingdom Of Dream
Part 13: Kelas Germstone dan Para Pelayan Pribadi
—
Teng… teng… teng…
jam besar di menara kerajaan berbunyi nyaring. Suaranya menggema ke seluruh pelosok kerajaan. Kini seluruh pangeran dan putri Kingdom Of Dream sudah ada di kelas masing-masing. Semuanya di bagi menjadi 3 kelas. Kelas Princia, Kelas Regina, dan Kelas Germstone. 1 kelas di isi oleh 20 orang. Kelas Princia hanya di anggotai oleh para pangeran. Kelas Regina hanya di anggotai oleh para putri, dan Kelas Germstone di masuki oleh dua-duannya.
Agni, Oik, Cakka, Patton, Debo, Obiet, Irysad, dan Zevana masuk ke kelas Germstone. Mereka tentu sangat senang memasuki kelas yang sama. Seperti kata Patton, Anggota kelas Germstone sepertinya memang menarik. Dari bajunya saja sudah terlihat berbagai macam warna dan model yang berbeda. Ada Pangeran Ozy, Putri kupu-kupu Ify bersama temannya, Putri Dea, 3 putri awan, 3 Raika bersaudara, dan seorang pangeran dengan baju serba hitam dan kulit coklat pucat.
“Wah… kalo dihitung-hitung, sudah ada 18 orang yah. Tinggal kurang 2 lagi.” ujar Irsyad.
“he-eh.” Yang lain mengangguk. Kelas sudah penuh. Bangku yang tersisa hanya 1 di pojok depan dan 1 lagi di pojok belakang. Ify duduk bersampingan dengan Dea. Mereka sama-sama memilih tempat duduk depan, tempat dimana mereka dapat melihat guru paling jelas. Ozy duduk di sampingnya. 3 putri awan duduk di barisan tengah, berjejer ke belakang. Mungkin mereka ingin mendapat perhatian dari segala arah. Apalagi di atas mereka terpasang lampu yang paling besar di kelas itu. Cahayanya pun memantul ke baju mereka dan memantul lagi ke semua mata yang memandang. Barisan paling kiri diisi oleh para pangeran. 3 Raika bersaudara ada di sana, dan dibelakangnya duduk pangeran dengan baju hitam dan kulit coklat hitam, taring tajam, dengan tingkah seasalnya dan semaunya. ya.. kesimpulannya ia Sion.
“EHHEM!.” suara deheman keras terdengar dari pintu kelas yang ada di belakang ruangan. Seluruh perhatian pun tertuju pada seorang professor yang berdehem itu.
“Cukup istirahatnya. Sekarang sudah waktunya pelajaran.” ucap professor itu. “Sekarang kalian duduk di tempat masing-masing dan buka buku tulis yang sudah di siapkan di laci meja kalian.” lanjutnya sambil melangkah ke area guru di depan kelas yang 1 tingkat lebih tinggi dari pada area murid.
Professor itu berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu, ia memakai terusan rok yang panjangnya sampai selantai dan berwarna ungu. Sepatunya boots coklat dengan tali yang warnanya lebih muda satu tingkat dengan warna sepatunya. Lalu hampir semua itu ditutupi oleh jubah berwarna ungu dan berlambang bulan emas.
“Seenaknya menyuruh. Memang kau siapa?”seru Lintar ketus.
Professor itu menghentikan langkahnya ketika ia mendengar kata-kata lintar dengan nada penuh ketidakhormatan. Ia menatap Lintar tajam. “Seenaknya bicara. Apa kau kira kau yang berkuasa di sini?” ucapnya tajam.
Professor itu kembali melangkah ke tempatnya. Mulutnya melanjutkan perkataannya tadi. “hati-hati nak, 1 kali lagi berbicara acuh namamu akan tertulis secara permanen dalam daftarku”
BUK. 3 buah buku diletakan dimeja guru yang terbuat dari kayu. “Hmm… Tapi benar.” Lanjut professor itu. Ia mengusap debu-debu yang ada di meja dan merapihkan beberapa peralatan yang ada di meja itu. “Aku adalah professor yang akan mengajar kalian mulai sekarang… Dan Sebagai murid, kalian harus tau siapa namaku.” ucapnya penuh wibawa.
“Namaku Dave, Panggil saja Professor Dave atau Prof Dave, itu terserah kalian.” jelas Professor Dave. Semua anak mengangguk kecil. Professor Dave tersenyum puas dan melanjutkan kata-katanya.“Baik. Hari ini kita akan memulai pelajaran dengan Pre-Test!..”
“Yaaaaah….” mendengar kalimat terakhir Professor Dave anak-anak murid langsung ber-koor kecewa.
“Hei jangan mengeluh padaku. Ini kurikulum. coba saja cek guru lain, mereka pasti akan memulai pelajarannya dengan pre-test juga” jelas Professor Dave.
“Aah..” Sivia mengeluh kecewa. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan 1 buku tulis dengan tampang tidak niat sama sekali.
Tidak lama setelah itu…
Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Professor Dave menghelakan nafasnya panjang. “Huuh… baru hari pertama sudah ada saja murid yang terlambat..” keluhnya.
Professor Dave duduk di kursinya, bersender dan mengarahkan tangannya ke pintu kelas yang ada jauh di belakang kelas.
“BRAK!”
Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar seperti ditiup angin. Suaranya menggema di dalam ruangan.
“Itu adalah bunyi pintu yang terbuka untuk anak yang terlambat… Dan kau! anak yang berdiri di depan pintu..” ucap Professor Dave tegas. “Kau terlambat!” lanjutnya dengan nada menghukum. Tangan kanannya menunjuk pada seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu kelas, yang menatapnya dingin.
Anak itu masuk. Tak peduli tentang pandangan professor Dave padanya. Professor Dave juga terlihat masih tenang. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati anak laki-laki yang terlambat itu. Ia menatap anak laki-laki itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lalu Professor Dave bertanya.
“Dari negari mana?” tanya Professor Dave sambil menatap muka anak itu.
“Daerah lembah hitam” jawab anak itu singkat.
“Oh.. Vampire..” Professor Dave berujar sesaat. Ia hafal kalau negeri yang terletak di daerah lembah hitam adalah negeri Vampire. “Siapa namamu?” tanya professor Dave lagi.
“Gabriel stevent Vulvoria”
“Oke. Stevent.. aku memberikan kau satu poin karena terlambat.” Professor Dave memberikan 1 buah kertas kecil berwarna merah dengan logo harpa.
Gabriel mengambil kertas itu. Professor Dave mempersilahkannya duduk. Namun ia enggan untuk segera duduk.
“Ehm…” ucapnya dengan jelas.
Professor Dave berbalik menatapnya.
“Aku tidak terbiasa dengan Stevent. Bisa panggil dengan Gabriel saja?” jelasnya singkat.
Professor Dave mengangguk mengerti dan menyuruh Gabriel duduk dengan lambaian tangan. Gabriel pun melangkah ke bangku kelas pojok belakang. Tepat di dekat kakaknya, Sion.
Sion melirik padanya dengan pandangan menertawakan. “Baru hari pertama… masa udah telat?” ejeknya pelan.
“Bukannya kau lebih tau sebabnya?” balas Gabriel agak kesal.
Ya, Sebenarnya yang menyebabkan Gabriel terlambat memang Sion sendiri. Sion menguncinya di toilet saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kelas.
Sementara di sisi lain. Oik yang sedari tadi melamun langsung terbangun oleh tepukan Agni di pundaknya.
“Apa sih?” tanya Oik agak sewot karena terganggu. Oik memang suka marah kalo tiba-tiba dibangunkan dari lamunannya.
Agni mendekatkan mulutnya ke telinga Oik dan berbisik.
“Pangeran yang itu…” katanya sambil menunjuk Gabriel. “Pangeran yang aku temuin di taman kediamannya Obiet..” ucapnya exited.
“Hah…” ucap Oik terkejut. Matanya yang tadi setengah terpejam jadi bangun kembali. Ia ikut menatap Gabriel meneliti. Ia lalu ngangguk-ngangguk. “Dari tampangnya keren yaa.. tadi perilakunya pas ngomong sama prof. Dave juga keren..” ujarnya sambil tersenyum.
“Alah… kayak kamu ngeliat dari tadi aja.. Bukannya kamu ngelamun, Ik?” balas Agni menyenggol pundak Oik lagi.
“Yee… walau gitu kan suaranya masih kedengeran dikit.” kata Oik membela diri.
“Eh, pada ngomongin apa sih?” tanya Zevana.
“Ceritanya panjang, Zev. Panjaaang banget” jawab Agni.
“Iya. Yang udah tau tuh cuman Patton, Irsyad, sama Obiet” tambah Oik.
Patton yang mendengar namanya di sebut pun langsung ikutan ngombrol. “Cerita apa emangnya?” tanyanya.
“Itu loh, Ton. Yang pangeran di taman kediaman Obiet itu.” jawab Oik.
“Oh… udah tau pangerannya? mana-mana?” tanyanya lagi.
“Yang tadi terlambat” jawab Oik. Agni juga mengangguk sambil tersenyum dan menunjukan jari telunjuknya ke Gabriel yang berada di pojok kelas. “Keren yaa” tambah Oik iseng.
“Ah… terlambat di bilang keren. Nggak masuk akal..” ujar Irsyad yang nyambung tiba-tiba. “Kerenan aku..” katanya pede.
“Ya ampun syad.. syad…, Jauh!” balas Oik segera.
“Aha ha! Iya!..” Zevana yang dari tadi hanya mendengarkan ikut tertawa. “Hmm… kok selera kalian pada yang item-item sih?. Aku sih beda. Kalo menurut aku mending Cakka tuh.. Putih..” tambah Zevana.
Cakka yang ikut mendengarkan hanya senyum-senyum aja.
“Loh?… jadi Zevana kalo nanti milih pangeran maunya sama Cakka?” tanya Debo sekaligus menggoda Zevana.
“Ih nggak tuh.” jawab Zevana dengan dagu dicondongkan ke atas. “Kayak kata Oik tadi.. Jauh…” tambahnya. “Cakka tuh bukan tipe aku. Aku maunya yang bukan sesama ras kucing. Mau-nya yang jauh. Ikan misalnya.. jadi bisa mengenal belahan dunia lain yang beda banget dari semua yang pernah aku rasakan” balas Zevana mantap tanpa ragu sedikitpun.
“Ooo,.. ikan mas dong!” celoteh Debo.
“Wah… kalo nanti Zevana melanjutkan tahta kerajaan bareng raja ikan, repot dong. Nanti kalo laper, rajanya dimakan sama Zevana!.. Ha ha ha ha..” Patton yang jail mengomentari cerita Zevana dari sudut pandang yang berbeda. Ketawanya jahiiil banget. Bikin Zevana pingin menjitak si Patton yang tengil itu. Yang lain yang juga ikut menyaksikan jadi tertawa lepas deh.
Obiet yang dari tadi kaleem mulu. Menopang dagunya di telapak tangan ikut tertawa geli. Setelah beberapa saat, Obiet pun memulai topic baru di pembicaraan itu.
“Eh… Kan Agni udah tau itu pangerannya tuh. Terus kalo udah tau, nanti mau ngapain lagi?” tanya Obiet memecahkan suasana yang tadi.
Agni pun terdiam, langsung terpikir olehnya. Kalo udah tau nama dan negara asal, nanti mau ngapain lagi?.
“Yah… kenalan lah. Iya kan Ag? tanya Cakka. Ia mulai pede sekarang ikut dalam pembicaraan mereka. Walau tidak tau dari awal, yang penting join aja.
“He-eh”Agni mengangguk akan tebakan Cakka. Ia juga merencanakan untuk kenalan.
“Tapi kayaknya, pangeran itu susah didekatin deh.” ujar Debo. “Lagian kan mereka makan darah. Vampire gitu..” tambahnya.
“Tapi aku yakin Vampire bangsawan macam mereka nggak bakal minum darah kita. Kan mereka sudah dilatih untuk memakan darah yang disediakan saja. Dan biasanya cuman dari binatang atau pelayan mereka yang memang sudah terikat janji. Itu pun di batasi. Lagi pula, kalau mereka bisa makan darah kita, mana mungkin diikut sertakan dalam acara seperti ini?” ucap Zevana mengeluarkan pendapatnya.
“Tapi aku setuju kok kalo kita akan coba ngedeketin dia. Kayaknya seru deh. Ayuk deh… kita deketin aja.. oh iya, yang duduk di belakangnya itu kakaknya kan? kalau perlu kita deketin kakanya juga.. gimana?” ucap Oik bersemangat.
“Aku sih setuju-setuju aja.” ucap Cakka. Obiet mengangguk dengan tenang dan mengatakan kalau ia setuju. Debo , Patton dan Zevana setuju karena niatnya untuk mencari teman lebih banyak. Agni sudah pasti setuju. Lalu Irsyad, walau masih ngotot kalo dia lebih keren dari Gabriel tapi ia akhirnya juga setuju.
“Ya udah. Gimana kalo nanti siang di jam istirahat kita nyamperin dia dan kakaknya? Setuju? tanya Patton pada semuanya.
“Setuju!!”
—
Sementara itu di taman Palladius…
Suasananya terlihat sangat sumpek. Banyak sekali pelayan-pelayan pribadi yang ada di sana. Apalagi terik matahari yang sangat menyengat. Membuat suasana semakin panas. Untung sudah di sediakan dengan berderet, 5 meja beserta tempat duduknya di tengah-tengah taman. Satu buah meja mempunyai dua kursi yang masing-masing kursinya dapat diduduki oleh 6 orang. Para pelayan yang malas berdiri pun dapat mengistirahatkan kaki di sana. Sayangnya tidak di sediakan minum sama sekali. Jadi keadaan tidak jauh lebih baik.
Alvin, Nova, Siyenna, dan satu orang pelayan pribadi yang baru menjadi teman mereka tadi: Oliv, duduk di salah satu kursi yang disediakan. Mereka duduk berhadap-hadapan. Alvin duduk sederetan dengan Siyenna, sementara Nova dan Oliv duduk di depan mereka. Namun tidak hanya mereka yang duduk di meja itu. Di meja itu duduk satu orang pelayan pribadi lagi yang terlihat sangat kaku hingga akhirnya mereka berempat memilih untuk mendiamkannya saja. Tadi sudah disapa oleh Oliv, tapi pelayan itu tetap diam memandang kosong kedepan.
“Eh..” bisik Siyenna pada Nova, Alvin, dan Oliv yang duduk di dekatnya. Nova menatap Siyenna siap untuk menyimak kata-kata Selanjutnya. Oliv yang duduk di sebelahnya langsung memperhatikan Siyenna sementara Alvin yang duduk di sebelah Siyenna hanya mengangguk agak cuek. Di kepalanya masih penuh dengan komentar “Panas, Panas, Panas..”
Siyenna pun melanjutkan. “.. Kok pelayan yang duduk di meja kita kayaknya ngeri banget deh…” bisik Siyenna mengeluh.
“Yeu…” Oliv langsung menunduk. Di kira Siyenna mau mengatakan sesuatu yang penting. Macam rahasia yang menarik. Ternyata cuman mau ngeluh dan curcol.
“Udah mana panas lagi… nggak dikasih minum pula..” keluh Siyenna terus menerus. “Bisa dehidrasi kita…”
Alvin pun menambahkan. “Setuju. Kenapa dikumpulinnya nggak di dalem aja sih?…” keluh Alvin sambil menatap ketiga temannya.
Oliv menggeleng-gelengkan kepalanya. “Udahlah… kita memang seharusnya menerima. Wajar kali… kita kan pelayan.. bukan putri atau pangeran..” katanya menengahi. Nova mengangguk-ngangguk setuju.
“Tapi kan harusnya kita di hormati juga. Kan kalo nggak ada kita: pelayan pribadi, para putri dan pangeran itu bisa kewalahan mengatur pekerjaannya.” balas Siyenna lagi. “Iya kan, Nov?” lanjut Siyenna meminta persetujuan dari Nova.
Nova yang kebingungan cuman bisa ngangguk-ngangguk lagi. Lalu Alvin tertawa kecil. “Tadi pas Oliv ngomong, Nova ngangguk. Pas Siyenna ngomong Nova juga ngangguk. Gimana sih Nova?…” candanya dengan tampang ceria.
Nova pun cuman cengengesan kecil.
“Ini aneh.” ujar Siyenna tiba-tiba.
“Apanya yang aneh?” tanya Oliv.
“Keputusan ini. Mengunci Para Pelayan Pribadi di satu tempat. Walaupun perkataannya ingin mengumpulkan tapi tetap saja sebenarnya kita dikunci di taman ini. Kalau niatnya ingin mengumpulkan para pelayan pasti tujuan pihak minister adalah mengumumkan sesuatu untuk para pelayan pribadi. Tapi dari tadi tidak ada yang keluar masuk taman. Yang ada di sini hanya pelayan pribadi saja.”
“Seperti di batasi ya?” tanya Nova.
“Hm. Tepat” jawab Siyenna menganggukan kepalanya.
“Oh. Iya, kalau tidak salah taman Palladius memang bisa di bilang taman yang paling tertutup di banding taman-taman lainnya di istana ini. Taman ini hanya bisa di jangkau melalui pintu gerbang taman dan satu pintu istana yaitu pintu istana timur yang ada di salah satu sisi taman ini.” ucap Alvin penuh misteri.
“Loh, bukannya hal-hal itu juga berlaku di taman barat. Taman barat kan hanya punya satu pintu gerbang, lalu terhubungnya dengan pintu istana barat kan?” sanggah Oliv.
“Oh.. Iya. Berarti aku salah..” ucap Alvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi seingatnya ada satu hal yang membuat taman ini sangat berbeda dengan taman-taman yang lainnya.
—
Sementara itu di suatu tempat yang gelap dan tersembunyi seperti gua. 3 minister utama, yaitu minister Syltha, Winda dan Vrone berkumpul dengan jubah yang menutupi kepala mereka. Vrone menatap pantulan cahaya air kolam yang berada di gua. Winda bersandar pada dinding gua seakan melafalkan sesuatu. Mereka kelihatan panik, kecuali minister Syltha yang hanya menatap tingkah keduanya bagaikan tak peduli.
“Bagaimana?.. apa dia sudah terlihat?” tanya Winda dengan tampang khawatir.
“Belum. Tak ada satupun tanda-tanda keberadaannya. Apa seluruh pelayan pribadi sudah berkumpul di sana?” Vrone balik bertanya untuk memastikan keadaan.
“Sudah.” jawab Winda
“Tanpa terkecuali?” Vrone meyakinkan.
“Ya. Tanpa terkecuali” jawab Winda kembali.
“Mungkin dia sudah keluar dari gerbang taman itu.” ujar Syltha dengan santainya.
“Tidak mungkin. Semua yang mencoba keluar dari gerbang akan langsung terlihat di pantulan kolam ini.” balas Winda.
“Mungkin saja. Siapa tau mereka mendapat ilmu baru dari seseorang. Seseorang yang bisa menutup sosoknya dari pandangan siapapun dan apapun. Dan setelah kuingat lagi… Reva masih belum terlihat sejak 4 bulan terakhir bukan?” Syltha membalas dan meniup asap putih dari pipa barunya.
Winda tersentak. Raut wajahnya tiba-tiba marah ketika ia mendengar balasan Syltha. “Reva tidak mungkin berkhianat. Dan dia tidak akan memberikan ilmu nya itu ke sembarang orang, terlebih lagi musuh kita” serunya tegas.
“Semua hal berubah. Mungkin Reva sudah berubah.” balas Syltha tanpa henti.
“Sudah! Diam kalian berdua!…” seru Vrone menengahi keadaan. “Winda, Syltha benar. ada banyak kemungkinan kalau kemampuan mereka dapat bertambah.”
“Vrone..” Winda tidak menyangka Vrone akan membela Syltha. Raut mukanya seketika murung. Syltha tersenyum licik.
“Sudahlah… Kita harus membuat seseorang menciptakan sebuah jebakan di gerbang itu…” tambah Vrone. “Apa ada seseorang diantara para pelayan pribadi yang bisa melakukan sihir berantai?”
“Ya.” jawab Syltha segera. “Ada dua orang.”
“Vrone! Jangan bilang kau ingin melakukan sihir boneka… Aku tidak berniat sedikitpun untuk melakukannya” seru Winda.
“Tidak usah repot. Aku yang akan melakukannya. Aku tidak mempermasalahkannya sedikitpun” Syltha menawarkan jasanya dengan senang hati. Senyumannya makin terlihat.
“Syltha!” Winda mencoba menghentikan, tapi Vrone sudah terlebih dulu menyelaknya.
“Pilih yang paling cocok untuk di korbankan” ucap Vrone jelas.
“Ya.. aku tau.” jawab Syltha.
Dalam waktu yang singkat Syltha sudah beranjak dari tempatnya. Segera melakukan tugasnya tanpa rasa ragu sedikitpun.
“Vrone…, mereka bisa terluka..” ucap Winda mengingatkan.
“Aku tau.. hanya demi putra putri mahkota kita. Tidak ada pilihan lain..”
—
Di taman Palladius di meja Alvin, Siyenna, Nova dan juga Oliv. Mereka masih sibuk memikirkan sebab-sebab mengapa mereka harus berada di sini. Menikmati panasnya siang yang membara. Alvin terus memutar kepalanya. Apa yang menyebabkan taman ini berbeda dengan yang lainnya?
“Ah! Iya aku ingat!!” seru Alvin tiba-tiba. Meja di depannya ia gebrak dengan kencang. Yang lainnya langsung terkejut sampai-sampai Oliv ngelatah
“Panas!!”
“Apaan sih?” tanya Siyenna penasaran.
“Aku ingat apa yang membedakan taman ini dengan taman lainnya..” lanjut Alvin dengan yakin. Oliv di tempatnya masih mengatur nafas sambil mengusap-ngusap dadanya karena terkejut. Nova langsung memperhatikan.
“Apa?” tanya Nova.
“Matahari. Hanya taman ini yang terkena sinar Matahari sepenuhnya di waktu siang. Makanya hawanya panas banget.” jawab Alvin.
“Lalu apa hubungannya dengan kita berkumpul di sini?” tanya Oliv.
“Coba lihat sekitar. Kata orang di negeriku. Untuk mengetahui sesuatu lebih dalam kadang kau harus melihat ke sekitar.” saran Siyenna. Ia langsung menajamkan matanya, mencoba melihat sekitar lekat-lekat.
“Aku tidak lihat apa-apa” ucap Oliv segera. Alvin masih sibuk melihat ke sekitar. Siyenna mencoba melihat ke atas di sekitar matahari. Dan berbeda dengan yang lainnya, Nova melihat ke bawah kakinya. yang ia selonjorkan ke samping. Sinar matahari yang panas membuatnya ingin segera memasukan kakinya ke balik meja lagi.
Karena bingung harus lihat apa, Nova pun berujar dengan asal sambil menatap kakinya yang selonjoran di bawah terik matahari.”Aku tidak bisa melihat bayanganku..”
“Bayangan!..” seru Siyenna.
“Bayangan? apa yang istimewa tentang bayangan?” tanya Oliv tidak mengerti.
“Tidak tau…” jawab Siyenna. “Tapi sepertinya ada sesuatu dibalik kata bayangan itu. Mendengarnya serasa tidak nyaman..”
Mereka berempat pun terdiam. Mencoba memikirkan sesuatu yang lain. Hingga akhirnya Oliv menyarankan Siyenna untuk mencoba menyapa pelayan pribadi yang dari tadi mereka diamkan. Dengan rasa sedikit ragu Siyenna pun mengiyakan saran Oliv.
“Udara di sini semakin panas ya…” ucap Siyenna mengawali topiknya. “Kalo.. menurutmu.. bagaimana?”
Alvin, Nova, dan Oliv langsung menatap pelayan pribadi itu seperti tidak ingin berkedip sedikitpun. Mereka penasaran respon apa yang akan diberikan? apa akan didiamkan seperti yang Oliv tadi?
“Hmm..” Akhirnya pelayan itu mau mengeluarkan suara. Hanya gumaman kecil sih.. Namun tetap saja mata Alvin, Nova, dan Oliv masih memperhatikan pelayan itu, bahkan mata mereka makin terbuka. Apalagi Siyenna yang duduk paling dekat. Makin penasaran dia dengan respon pelayan di sebelahnya.
“Aku harus ke gerbang taman Palladius.” tiba-tiba pelayan itu menjawab dengan random. Ia berdiri dari tempat duduk masih dengan pandangan kosong. Hendak melangkah ke gerbang taman.
“Hah??” Siyenna keheranan, begitu juga dengan yang lainnya.
“Apa tadi dia salah dengar ?” tanya Alvin di dalam hati.
“Mau apa?” tanya Siyenna pada pelayan itu.
Pelayan itu berhenti sejenak. Ia menjawab dengan nada datar. “Merangkai jaring laba-laba di sekitar gerbang.”
“Agar apa?” Siyenna yang semakin tidak mengerti bertanya kembali.
“Agar gelap yang ingin melewati gerbang taman tidak dapat lewat gampangnya.” jawabnya datar lagi.
“Hah??” Kini Siyenna dan Oliv sama-sama keheranan.
Nova masih terdiam mencoba mencerna maksud dari pelayan itu. “Kenapa tidak boleh masuk dengan gampangnya ke taman ini? Kenapa jaring laba-laba? Dan maksudnya dengan ‘gelap’ apa?” tanyanya dalam hati.
Di saat semuanya masih diam keheranan, pelayan itu melangkah keluar dari area tempat duduk dan pergi ke gerbang taman yang berada cukup jauh dan tertutup dari tempat mereka berkumpul.
“Hei!” seru Siyenna sebelum pelayan itu pergi semakin jauh. “Kalau kita mau keluar bagaimana?” tanya Siyenna melanjutkan.
Pelayan itu berhenti melangkah. Ia menjawab, “Para pelayan akan keluar melalui pintu timur istana, jadi tidak ada yang akan keluar melewati pintu gerbang taman.” ucap pelayan itu dengan datar.
“Kalau kita maunya keluar lewat pintu gerbang taman bagaimana?” tanya Siyenna lagi yang masih belum puas dengan jawaban Pelayan itu. Tapi pelayan itu hanya berlalu dan semakin menjauhi pandangan. Siyenna pun balik menatap meja dengan kepala tertunduk.
“AH… tidak jelas. Dan.. dari mana dia tau kalau kita akan keluar lewat pintu timur?” curcol Siyenna yang semakin malas.
Alvin mengangkat bahunya. Oliv menampakan ekspresi tidak tahu. Dan Nova berkomentar. “Kok.. kayaknya pelayan itu kayak kerasukan sih?”
“Iya yah. Aneh… aku ngerasa ada sesuatu yang akan terjadi nanti..” balas Siyenna ikut mengomentari.
Keadaan di taman Palladius pun berlangsung seperti tadi lagi. Panas menyengat, sebagian besar dari pelayan mengusap keringat mereka. Siang ini semakin tidak dimengerti. Dan tanpa orang-orang ketahui, di luar taman Paladius, ada 2 orang anak yang sedang berjalan dengan semangat dan penuh dengan keyakinan. Dengan rencana untuk memasuki gerbang taman Paladius.
—
Siapa mereka?
Apa yang akan terjadi nanti?
Do you feel the mystery today? Bisa jawab pertanyaan-pertanyaan mereka nggak?
Oh iya… part ini cukup, kedikitan, atau kepanjangan?
Feel free to comment ^_^ aku mengharapkan masukan semua…
Bonus Gambar akan masuk di Post berikutnya. (USBnya lagi sama Biila sih… ^,^)
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Lanjut lagi dong ceritanya
Iyah.. ^^ nanti insyaallah aku lanjutin. Tapi nanti.
Sekarang lagi fokus ke UN nih. Besok UN!! Ah… T.T semoga bisa..
jadi, sabar yaa.
4 hari lagi kok.