Kingdom Of Dream_Part 6: Si pelayan kerajaan dan Pangeran Chobits
Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 5: Cafe Happy Chipmunks
Semoga pada suka. Soriii sebanyak-banyaknya karena ngepostnya lama banget. Ada halangan. You know lah!… sekolah..
Oh iya!… kali ini ada bonus gambarnya. Yaitu gambar baju/gaunnya putri Agni dan putri Oik.
Happy reading and I always hope you like it!
Don’t forget to comment… ^^
—
Kingdom Of Dream
part 6: Si pelayan kerajaan dan Pangeran Chobits
—
“Aku… aku tidak percaya… Aku… masuk ke Istana..”
Cakka terbengong-bengong akan nasibnya saat itu. Yang menurut Cakka sendiri, terlalu beruntung. Ia tidak habis pikir, kok bisa yah? Bocah yang bukan siapa-siapa seperti dirinya masuk ke Istana yang semegah itu? Istana tempat Agni dan Oik tinggal?. Bahkan ia sendiri belum percaya kalau dari tadi ia telah berteman dengan seorang putri raja. Padahal dulu Cakka tinggal di tempat biasa yang di bilang kumuh oleh teman-temannya. Hei!… tempat tinggal Cakka di bumi tidak kumuh kok. Hanya ekspetasi teman-temannya saja yang terlalu tinggi. But whatever it is… hal ini benar-benar Unbelievable.
“Cakka… mau cepat atau lambat… Cakka harus percaya, soalnya Cakka emang masuk ke istana..” kata Agni sambil merangkulnya, mengajaknya berputar di tengah kamar Agni dan Oik, melihat pemandangan kamar yang sungguh… sangat besar. Kamar mereka saja besarnya seperti sebesar 1 buah ruangan aula di sekolah Cakka, mungkin lebih. Jadi wajar saja kalau Cakka sampai menganga.
Saat Cakka sedang melihat-lihat langit-langit kamar yang berlukiskan awan-awan dengan peri-peri cupid, tiba-tiba saja Oik menepuk pundak Cakka.
“Cakka, sekarang kita mau mandi..” kata Oik sambil merangkul Agni. “Cakka mending mandi juga deh… bentar lagi kan para tamu dari kerajaan lain mau datang…” tambahnya.
“Obiet….” Agni memekik pelan. Ia tersenyum dengan mata yang menyipit, memandang ke Oik seperti berbicara sesuatu. Oik balas tersenyum, matanya juga menyipit dan tertawa pelan. Hmm… mungkin mereka punya bahasa sendiri. Tapi dari mata mereka, kelihatan mereka sedang berbicara tentang Obiet, teman lama mereka yang sudah lama tidak bertemu.
“Ya udah. Kita mau mandi… nanti Cakka tunggu aja di sini. Bakal ada Alvin, pelayan kerajaan kita yang setiaaaa banget!. Dia bakal nganterin kamu ke permandian laki-laki… bajunya udah ada di sana. Cakka mandi aja.. Oke!..”
Lalu setelah semua penjelasan itu, Oik dan Agni langsung cepat-cepat berlari ke permandian untuk para putri dan bersiap menyambut kedatangan teman-teman mereka yang datang dari kerajaan tetangga.
–
Seperti yang disuruh oleh Oik, Cakka menunggu. Dan setelah beberapa detik membisu, clingak-clinguk nggak jelas dan menghembuskan nafas, muncul lah seorang anak laki-laki yang kurang lebih sebaya dengan Agni dan Oik. Kulitnya putih, bermata sipit, tubuh tinggi, memakai kemeja tangan panjang berwarna putih, vest hitam kecoklatan, dan celana ¾ beserta boots warna coklat tua. Dari tampangnya, ia seperti artis-artis ngetop di korea. Dan yang tidak boleh sampai terlupakan, Ia memiliki telinga rubah, sama seperti Rahmi. Lalu anak itu berdehem, menyadarkan Cakka akan kehadirannya.
“Ehem…”
“Hah? Apa?…” Cakka terlonjak kaget dan langsung berdiri. Kursi yang ia duduki hampir saja terpelentang dan jatuh.
“Anda… Cakka?” tanya anak itu.
“Oh… iya” jawab Cakka agak kagok.
“Aku Alvin… pelayannya putri Oik. Kamu udah di kasih tau kan?… em… katanya putri Oik, kamu mau mandi…” jelas anak itu yang ternyata pelayan yang tadi Oik sebutkan, Alvin.
“Oh.. Eh, Iya…” Cakka mengangguk pelan dan sedikit tersenyum. Kalo dipikir-pikir gayanya Alvin lumayan mirip sama dia, terutama rambutnya.
Alvin pun balas tersenyum dengan kadar secukupnya. Kayaknya Alvin anaknya agak cuek. Nggak seramah si Deva, atau seseru si Ray. Gayanya bak anak cool yang eksistensinya tinggi, namun tau harga diri.
“Kalo gitu ikut aku…” lanjut Alvin.
Tanpa basa-basi, Cakka pun mengikuti Alvin yang berjalan menelusuri koridor dengan lantai keramik krem, dinding dinding bercat putih dengan lukisan-lukisan indah. Lalu berbelok ke koridor lainnya yang jalurnya tidak terlalu panjang, namun lebar. Dan tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan sebuah pintu besar dari batu alam, lantai koridor di sini juga berbahan batu alam yang agak lembab. Pintu itu di pahat dengan gambar daun-daun besar maupun kecil, huruf-huruf yang tidak diketahui oleh Cakka artinya, dan di tengah pintu ada pahatan berbentuk segitiga.
“Artinya apa?” tanya Cakka sambil menunjuk huruf-huruf asing di pintu dan juga lambang segitiga itu.
Alvin pun mejawab sebisanya. “Kalo tulisan kuno di atas, artinya permandian putra agung. Sementara lambang segitiga itu…” Alvin membentuk sebuah segitiga dan berkata. “Segitiga itu lambang laki-laki. Sementara segitiga terbalik..” kini Alvin membentuk segitiga terbalik dengan jari-jarinya. “…Lambang perempuan. Lambang-lambang itulah yang membedakan setiap (territory) untuk laki-laki dan perempuan di lingkungan istana”
“Oh…” Cakka manggut-manggut. Ia mengerti sekarang. Kenapa tadi saat memasuki ruangan dengan pintu berlambang segitiga terbalik di dalamnya hanya ada pelayan-pelayan wanita lalu ketika tau, Agni dan Oik langsung memarahinya. “Cakka nggak boleh masuk!.. itu lingkungan terlarang!…”
–
Cakka pun masuk ke ruangan di depannya, ditemani oleh Alvin. Ruangan itu adalah sebuah ruangan besar, di tengahnya ada sebuah kolam bear berisi air yang jernih, dan di sisi kolam itu terdapat pilar-pilar besar tiap jarak 3 meternya. “Kolam ini biasa di gunakan untuk berendam para putra mahkota dan kalangan lelaki berdarah biru” jelas Alvin.
“Ya sudah… aku harus kembali ke ballroom istana. Ada dekorasi yang harus diselesaikan. Cairan sparkly dust-nya ada di pojok ruangan, bersama bajunya. Kalo udah selesai berendam… langsung kembali ke kamar putri Agni dan putri Oik saja.. ” Dan Alvin pun meninggalkan Cakka di sana sendirian untuk mandi.
–
20 menit setelah itu…
Cakka sudah selesai mandi. Ia memasuki kamar Oik dan Agni dan mendapati Agni yang sedang duduk di kasurnya yang empuk dan bersepraikan sutra. Sementara Oik sedang duduk di meja rias, menatap kaca sambil sesekali memoles wajahnya dengan bedak berupa bubuk halus berwarna krem.
Kini mereka berdua sudah berubah. Sangat cantik… sunggu berbeda dari 2 anak cewek yang hobi lari dan kabur tadi. Sekarang Agni dan Oik sudah benar-benar seperti putri. Agni dan Oik memakai gaun berwarna pink soft dengan paduan warna coklat tua dan sepatu berwarna krem, membuat diri mereka jadi seperti putri yang lemah lembut.
Tapi Agni kelihatan sangat berbeda. Ya!… sangat berbeda. Cakka baru sadar, rambut Agni sekarang jadi panjang, kurang lebih sebahu.
“Eh!… Cakka udah datang!” seru Agni.
Oik langsung menoleh ke pintu, melihat Cakka yang berjarak hanya 2 meter dari pintu kamar. Cakka berdiri diam di sana, ia agak ragu melangkah lebih dalam. Takut saltum kali ya? Salah kostum…
“Cakka kereeeen!…”
Agni dan Oik langsung berlari menghampiri Cakka. Ingin melihat Cakka lebih dekat.
“Hooh… keren!… ternyata bajunya nyocok sama Cakka, kak!…” seru Agni dengan gembira.
“Iya! Ha ha!..” Oik dan Agni bertos-an. Kayaknya Cakka nggak salah kostum tuh.
“Eh… Agni kenapa rambutnya tiba-tiba panjang?” tanya Cakka yang heran.
“Hoh?… Oh itu!… 2 hari kemarin aku dihukum sama professor Degor, rambutnya jadi pendek untuk beberapa hari. Tapi sekarang sihirnya professor udah hilang… hi hi” jawab Agni riang. Senang rasanya rambutnya kembali seperti semula. Apalagi mau ketemu sama Obiet.
“Ya udah!.. kalo gitu kita langsung ke taman aja!… kalo kelamaan disini nanti professor Degor keburu datang!..” kata Oik.
Agni dan Oik langsung mengangguk bersamaan, lalu kompak menyeret Cakka ke luar kamar, berlari-lari di sepanjang koridor Istana yang bermandikan cahaya matahari dari balik jendela istana yang panjang dari pinggang kita sampai ke atas ruangan dan lebarnya 1 meter. Pilar-pilar dari marmer mempercantik koridor itu, begitu juga tirainya yang terbuat dari beludru berwarna merah dengan rumbai-rumbai berwarna emas. Cakka tersenyum gembira. Istana Kingdom Animalia memang sangat menakjubkan. Namun tunggu sampai ia melihat padang ilalangnya. Cakka pasti akan merasa ia berada di surga. Sudah lagi ia akan bertemu dengan seseorang teman baru juga di sana.
—
Srrrr… Srrr…
Ini dia surga istana Animalia. Padang ilalang yang melambai-lambai. Bagaikan memanggil jiwa raga kita untuk berputar-putar disana. Bermain-main dengan senangnya. Melupakan segala masalah, sakit dan pedih. Padang ini akan selalu terang, padang ini akan selalu indah, dan padang ini akan selalu membuatmu bahagia.
—
Padang ilalang melambai. Kini Cakka, Agni dan Oik sudah sampai di padang itu. Segera setelah mereka berpijak, diri mereka seperti dihipnotis. Terhipnotis akan anginnya yang bertiup semilir, langitnya yang biru cerah tanpa celah, awan putihnya yang berarak dengan damai, dan daun ilalang yang menyentuh jari mereka dengan lembut. Seperti surga untuk sesaat. Dan dari kejauhan terlihat, seorang anak lelaki yang telah menunggu mereka dari tadi. Bajunya yang berupa jaket bernuansa biru tua, kemejanya bertangan panjang berwarna putih bersih, lace putih berumbai, dan kepalanya tertutup oleh topi classic berwarna biru tua, senada dengan jaketnya. Celananya berwarna coklat tanah dan sepatunya adalah boots coklat bertali hitam. Anak itu berbalik, tersenyum, dan dalam sekejap alam seperti membalas senyumannya. Angin berhembus damai, waktu seperti terhenti, burung-burung berkicau riang dan berterbangan bebas di angkasa. Agni dan Oik langsung tersandar lemas di pundak Cakka. “Aah… manisnyaaa…” ujar mereka.
Lalu anak itu melambaikan tangan dan menyapa.
“Oik!… Agni!… Lama nggak ketemu!…”
“Obieeeet!… Kita kangeeen!…”
Agni dan Oik langsung berlari menghampiri Obiet, dan seperti biasanya langsung memeluk Obiet dengan erat.
“Obieeet!… akhirnya kita bisa kumpul lagi!” seru Agni riang. Oik mengiyakan dan tetap memeluk Obiet.
Cakka mendekati Obiet perlahan, namun hanya berani sampai di belakang Agni dan Oik. Ia tidak mau menghalangi kekangenan Agni dan Oik terhadap Obiet.
“Oh iya!…” Obiet menghentikan aksi Agni dan Oik terhadapnya. Obiet menyadari akan kehadiran Cakka. “Kamu siapa?” tanya Obiet ke Cakka. Ia tersenyum ramah dan mukanya memancarkan aura friendly.
“Eh… Cakka” jawab Cakka.
“Oh… kenalin, aku Obiet… nama Obiet diambil dari nama sebangsaku yaitu sebangsa Chobits. Ch-obit-s… jadi Obieet..”
Cakka hanya diam. Hmm… mungkin lebih tepatnya konsentrasinya telah mengarah ke hal lain. Ia menatap Obiet dengan antusias. Layaknya menatap sebuah harapan, ilham, dan juga bantuan dari sang maha kuasa.
Criiing… matanya seperti bersinar ketika melihat Obiet yang berfisik layaknya manusia biasa, tanpa telinga hewan, tanpa ekor. “Akhirnya aku punya teman senasib…” pikir Cakka.
Cakka yang dari tadi tidak mendengarkan kata-kata Obiet langsung saja mendekati dan menjabat tangan Obiet sambil berkata ke Obiet. “Aku Cakka! Manusia!… akhirnya aku ketemu manusia lain di sini…”
“Hah? Manusia?” Obiet tampak bingung. Tidak mengerti satupun apa yang dikatakan Cakka barusan.
“Iya!… kamu manusia kan?” tanya Cakka meyakinkan.
“Oh bukan…” jawab Obiet masih dengan ramahnya. Sayang Cakka sudah keburu kecewa. Ia tak peduli, Ia langsung lepas topi Obiet dan mengecek apakah Obiet benar-benar manusia biasa, dan ternyata…
“Aku… Cho… chobi…ts..” Obiet yang baru terpisah dari topinya tiba-tiba loyo, lemes, berputar-putar seperti sedang melakukan jurus mabuk Jackie chan dan lama-lama terkapar sendiri di antara rimbunan ilalang lembut.
“Hah?” Kini gantian Cakka yang bingung.
“Aduh!… aku lupa! Tanduk Chobitsnya Obiet kan sensitive. Kena panas dikit langsung ngantuk. Haa…” Oik menyesal telah lupa akan kebiasaan Obiet itu. Tanduk Chobits Obiet memang agak sensitive, nggak tahan panas. Kalo kena cahaya matahari berlebih, matanya bisa langsung merasa silau dan langsung ngantuk.
Agni langsung membantu Oik membangunkan Obiet. Sementara Cakka makin bingung. Ternyata Obiet bukan manusia?… “Oh iya!” baru setelah itu Cakka ingat kalau Agni dan Oik pernah bilang, Obiet itu pangeran dari negeri Chobits. Langsung mukul kepala sendiri deh dia.
Hfft… Cak.. Cak..
—
Sementara itu, di lantai 3 istana animalia, Alvin keluar dari ballroom, berjalan mendekati balkon. Ia menghampiri seorang anak perempuan dengan baju berwarna hijau laut dan rambut hitam terurai. Anak perempuan yang ia hampiri itu adalah pelayan dari kerajaan chobits, datang tidak lain untuk menemani Obiet mewakili kerajaannya.
“Nova ngeliatin apa?” tanya Alvin sambil bersandar di balkon sebelah Nova, pelayan Obiet itu.
“Mmmh… enggak… aku cuma penasaran sama kereta kuda itu…” jawab Nova sambil menunjuk sebuah kereta kuda yang ditumpangi oleh orang-orang berbaju pelayan dengan telinga tupai.
“Oh… itu kereta kudanya café happy Chipmunks. Café yang nanti akan melayani para putri dan pangeran di pesta. Memang kenapa?” tanya Alvin lagi.
“Mm… nggak. Nggak kenapa-napa kok..” Nova kembali diam memperhatikan kereta café Happy Chipmunks.
Alvin pun kembali ke ballroom. Nova masih tetap di situ, memperhatkan kereta café Happy Chipmunks yang kini sudah berhenti, dan beberapa orang keluar dari sana. Anak yang paling tinggi, yang tadi mengendalikan kereta itu turun dari kursi [pengemudi] dan membuka pintu keretanya.
Ia menurunkan beberapa barang dari gerobak di belakang kereta dengan dibantu oleh anak laki-laki berambut sebahu yang lebih pendek darinya. Lalu keluar 2 orang anak perempuan, yang satu berambut ikal sebahu, dan yang satu lagi berambut panjang bergelombang dan diikat di atas. Lalu yang terakhir ada anak laki-laki berambut hitam yang langsung menutup pintu kereta tengah.
Kemampuan Nova untuk melihat keadaan lebih dekat langsung di gunakan. Matanya langsung terfokus pada anak laki-laki yang turun paling terakhir itu. Saat sedang memperhatikan, tiba-tiba anak laki-laki itu menatap kearahnya. Nova langsung mengalihkan pandangan dari sana. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Melepaksan focus dengan kecepatan yang berlebih membuat kepalanya mulai pusing. Namun pusingnya kepala itu tidak terlalu dipikirkannya. Ada suatu rasa asing yang muncul di hatinya ketika melihat anak laki-laki itu. Dan rasa itulah yang kini langsung mengambil tempat di otaknya. Nova sendiri bingung rasa untuk apa? Yang pasti rasa itu kuat. Rasa untuk mendekati… dan ingin mengenali…
—
Itu dia part 6 nya. maaf jika ada salah-salah kata. Mohon di maklumi. Kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
Ini bonus picturenya…
Thanks for reading!…
Keep waiting for the next part! ^^
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

bagus amat ciiiiihhhhhhhhhhhh