Kingdom Of Dream_Part 7: Nova, Deva, dan Pengumuman tentang pesta teh
Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_part 6: Si pelayan kerajaan dan Pangeran Chobits
Semoga semuanya suka. Tidak mengecewakan. Terimakasih buat temen-temen yang udah mau baca sampai sekarang. Semoga tambah bagus… Amiin.
Nanti di bawahnya juga ada bonus picture: design bajunya Nova yang aku buat.
So..
Selamat membaca!
Hope you like it, and
Don’t forget to comment.. ^^
—
Kingdom Of Dream
part 7: Nova, Deva, dan Pengumuman tentang pesta teh
—
Di dapur, Alvin bersama temannya sesama pelayan kerajaan, Gita, sedang mengobrol tentang kegiatan apa yang nanti akan dilakukan oleh para putri dan pengeran dari kerajaan-kerajaan itu.
Sampai sekarang mereka hanya diberi tahu kalau akan ada pesta dansa di istana, itu
alasan mengapa ballroom istana sedang di dekorasi sekarang, tapi para ketua
pelayan, terutama asisten professor Degor yang memerintahi seluruh pelayan di
istana, tidak mau membuka mulutnya untuk pertanyaan mereka. Dan kini Gita makin
sering berkhayal kalau dia akan ikut berdansa di pesta itu, berdansa dengan
seorang pangeran yang nanti akan menjadi pasangannya seumur hidup.
“Hiiih…” Alvin entah kenapa malah merasa jijik. Yah… rasanya nggak nyambung aja remaja seperti mereka sudah memikirkan hal yang seperti itu. “Lagi pula, memangnya pelayan dibolehkan ikut ke pesta?” kata Alvin.
“Yah.. siapa tau aja boleh. Masa sih, professor Degor sejahat itu?… Dia juga pernah muda kan?… Tapi, Kalau misalnya tidak dibolehkan.. Kita cari-cari kesempatan saja!” seru Gita semangat.
“Hih!.. enggak ah! Males aku. Nggak ada kerjaan banget. Lagi pula, aku sama sekali tidak berniat untuk ikut ke pesta dansa itu” tolak Alvin.
“Oh… bilang aja nggak bisa dansa” Gita balas meledek.
“Yee… bisa kok. Cuman aku males nyari-nyari pasangan dansanya, nggak kayak kamu… dasar kegatelan”
“Yee… ya udah terserah!… padahal Alvin kan punya modal muka… pasti gampang nyari pasangannya, tapi kalo nggak mau… ya udah!..”
“Ya udah!..”
Perkataan Alvin tadi mengakhiri percakapan mereka di dapur. Ketika Gita ingin kembali mengerjakan tugasnya tadi, yaitu memotong daging-daging ikan untuk pesta dansa nanti, tiba-tiba
terdengar suara ketukan dari pintu dapur yang berhubungan langsung ke taman
belakang.
*Tok tok tok*
“Sebentar…” Alvin segera membuka pintu itu. Dalam seketika cahaya cerah sang surya telah menyinari seluruh dapur termasuk Gita dan juga Alvin yang langsung tersenyum ketika melihat siapa yang datang.
“Ray!.. Deva!..”
“Hai, Vin!… Gimana kabarnya?.. istananya udah rapi belom?” sapa Deva dengan senyuman ramah.
“Istananya baik, Dev… aku juga udah rapi!… Eh!… maksud aku.. Aku nya baik – istananya rapi… He he..” Alvin nyengir kecil. Saking rindunya ia dengan teman lamanya ia sampai salah ngebedain antara istana dan dirinya sendiri. Lagian kan Alvin cakep kayak istana.. He he…
“Ya udah yuk, semuanya… masuk.. masuk..” ajak Alvin. Ia membantu Ray membawa barang-barang dari café dan langsung tos-an setelah barang-barang itu aman dan nyaman di meja dapur.
Rio tersenyum puas. Seperti yang ia harapkan, dapur istana memang sangat luas. Besarnya hampir setengah café Happy Chipmunks, kali ini ia senang dapat membuat bebagai macam minuman dan kue-kue pastry dengan leluasa. Dan bahkan, mungkin kemampuan memasaknya akan bertambah.
Gita juga gembira dapat bertemu lagi dengan Keke. Temannya untuk bercanda di dapur akan tambah banyak dengan kehadiran Keke di sana, juga dengan adanya anak perempuan manis yang belum ia kenali.
“Aku Acha… salam kenal!..” sapa anak perempuan yang datang bersama kawan-kawan dari café Happy Chipmunks. Acha anaknya baik, ramah, dan easy going, jadi tidak terlalu susah untuk berkawan dengan Gita yang pada dasarnya memang doyan bicara dan mengenali hal baru.
“Nah.. sekarang kalian ganti baju kalian aja dulu di ruang pelayan kerajaan. Yang laki-laki di kanan, yang perempuan di kiri. Biar aku yang beresin barang-barang di sini..” kata Alvin.
*Cklek..*
Pintu dapur satunya, yang berhubungan dengan ruangan dalam istana, terbuka. Nova masuk dari situ. Rencananya ia ingin membuat teh untuk pangeran Obiet. Tapi ketika melihat Deva ia langsung buru-buru sembunyi di ruang pelayan perempuan. Ia terus memperhatikan Deva dan yang lainnya dari balik pintu, sampai akhirnya para laki-laki telah masuk ke ruang pelayan laki-laki. Baru setelah itu ia dapat bernafas lega dan bersandar dengan
nyamannya di pintu. Nova masih bingung. Jantungnya lagi-lagi berdetak cepat. Ketika
ia membuka pintu, Alvin sudah ada di dinding sebelah pintu.
“Loh?… Nova?… kok di sini? Perasaan aku nggak ngeliat kamu masuk”
“Eh?…” Nova bingung sendiri menjawabnya, dan akhirnya ia hanya ketawa kecil.
“Eh,… kok Nova kayak lagi sembunyi sih?” tanya Alvin.
“Hah?… Ah, enggak kok” Nova buru-buru keluar dari ruangan pelayan perempuan.
Gita yang baru saja ingin keluar dari dapur, ikut Keke dan Acha untuk mengambil baju yang telah disiapkan sendiri oleh Acha langsung tersenyum ke Nova dan berusaha menyapa.
“Hai… Nova yah?… dari Negara Chobits kan?” sapa Gita.
Nova hanya tersenyum kecil dan mengangguk, lalu menunduk dan mulai membuat teh. Ia tidak berkata apapun. Lalu Gita kembali masuk ke dapur, menghampiri Alvin. Ia berbisik ke telinga Alvin.
“Nova itu pendiam ya, Vin?… atau jangan-jangan… dia takut sama aku. Perasaan dari pertama ketemu dia nggak pernah berani ngomong sama aku” bisik Gita.
Alvin tertawa kecil. “Yah… iya kali pendiam. Yang pasti, Putri Agni bilang, Nova itu agak tertutup sama orang-orang yang belum dekat sama dia. Agak susah beradaptasi mungkin… Yang jelas sih
nggak kayak kamu yang suka blak-blakan”
“Eh! Aku mah nggak blak-blakan…” balas Gita yang nggak terima di bilang suka blak-blakan. Dia tau kok, dirinya juga bisa jaga perkataan kalo dalam situasi tertentu.
“Ya tapi kan cerewet” kata Alvin lagi.
“Eh… udah! Berhenti ngomongin tentang aku. Emang aku sebegitu terkenalnya apa?” canda Gita.
“Idih… terkenal apanya?”
Gita hanya memukul bahu Alvin dan kembali berbisik. “Tapi kok, kalo sama kamu dia nggak tertutup?…”
“Ya… mungkin sudah disuruh begitu oleh pangeran Obiet?… Mana kutahu?… tanya saja sendiri..”
Gita pun mencibir. Lalu ia langsung pergi keluar, menyusul Keke dan Acha. Nova masih sibuk membuat teh, sementara Alvin berdiri sendiri di situ, lupa apa yang tadi ingin ia lakukan. Akhirnya ia minta izin ke Nova untuk pergi ke ballroom, meninggalkan Nova sendiri di sana. Ada beberapa hal yang mungkin harus di cek kembali. Nova mengizinkan Alvin pergi dan keadaan pun menjadi sepi.
Ketika Nova sudah selesai membuat teh, ia langsung berbalik, tidak mengetahui kalau sebenarnya Deva sedang berjalan mundur di belakangnya menghadap ke Ray yang sedang mengajaknya bicara. Mereka pun bertuburukan.
Cangkir teh yang dipegang Nova pun agak oleng ke kanan, sedikit air teh tumpah ke tangan Nova. Tangannya kelihatan agak merah, hampir melepuh.
“Maaf… maaf, aku nggak sengaja..” Deva ingin meminta maaf ke Nova. Tapi sebelum melihat muka Nova, Nova sudah duluan lari ke dalam istana.
“Itu siapa, Dev?” tanya Ray sambil merangkul Deva. Deva hanya diam, masih memperhatikan Nova yang sedetik setelah itu sudah berbelok ke lorong kerajaan lainnya. Pintu dapur yang terhubung
dengan bagian dalam istana masih terbuka lebar. Kelihatannya Nova terlalu keras
membuka pintu, hampir saja pintu itu terbanting.
“Nggak tau… tapi kayaknya aku pernah ngeliat gitu… dimana ya?…” Deva memegangi kepalanya, mungkin mencoba untuk mengingat-ngingat. “Hfft… tangannya tadi luka-lagi..” keluh Deva.
“Ya udah lah, lupain aja..” usul Ray.
“Hh… Iya…”
Rio yang baru keluar dari ruangan pelayan laki-laki langsung geleng-geleng kepala ketika melihat meja dapur yang masih penuh dengan barang-barang.
“Deva, Ray, ayo bantuin aku beresin barang-barang. Dasar Alvin… kayaknya dia lupa kalau tadi mau beresin barang-barang ini..”
—
Indah.. Terindah.. Kini ku bagagia
Melihat hamparan pemandangan surga..
Senang.. Ku riang.. Bercanda denganmu
Burung-burung yang terbang sampaikanlah pesanku..
~
Kupu kupu
Terbang kemari
Cobalah jalan yang baru,
Untukku dan kau sendiri
Lewatilah bunga-bunga
Dan hinggaplah di hidungku..
–
Oik dan Agni terus bernyanyi dan menari di tengah hamparan bunga-bunga, yang merupakan bagian kecil dari padang ilalang, tempat Oik, Agni, Obiet dan Cakka, bermain sekarang.
“Ayo kupu-kupu… hinggaplah di hidungku… atau tanganku…” pinta Oik. Namun para kupu-kupu tetap berterbangan dan hinggap di bunga-bunga.“Ah… aku kan juga cantik seperti bunga-bunga..”
katanya lagi.
“Mereka takut akan telinga kakak..” kata Agni yang masih terus berputar di antara bunga-bunga.
“Oh, .. mungkinkah?…” Oik menaruh ujung jari telunjuknya di dagu. “Oh!… jika benar begitu… Obiet! Pinjam topimu!..”
*Plung*
Topi Obiet di lepas oleh Oik dan Obiet bahkan belum sadar topinya sudah lepas dari kepala. Tanduk chobitsnya muncul tiba-tiba dan matanya jadi sayu.
“Haah… Oik… Tandukku jadi bikin ngantuk kalo nggak pakai topi… silaaaaau…”
Sementara Oik sibuk mencari posisi tepat untuk memasang topi itu di kepalanya. Setelah telinganya tertutup dan tertekuk ke bawah, Oik tersenyum, telinganya reflex berdiri dan melontarkan topi Obiet
ke atas pohon. Dan topi itu tersangkut di salah satu rantingnya!
“Hooh!… nyangkut!.. Obiet! Ambil!..”
Lah… si Oik.. Orang dirinya sendiri yang membuat topi Obiet nyangkut, kok malah Obiet yang suruh ngambil?
“Haduuuh.. Oik… Obiet ngantuk… Agniii…”
Sweng.. sweng…
Obiet terus memegangi kepalanya yang makin pusing. Agni mendekatinya dan,
*Bruk*
Obiet sukses jatuh menubruk Agni, dan mereka berdua jath terbaring di tanah.
“Haduh.. Obiet… berat…” Agni berusaha mendorong Obiet kesamping. Namun Obiet tetap terlelap. “Beraaat…” keluh Agni. Bajunya Agni benar-benar menyulitkan Agni untuk bergerak, apalagi Obiet kan lumayan berat. Akhirnya Oik menghampiri mereka dan mendorong tubuh Obiet ke
samping. Agni pun berhasil berdiri.
“Hyuh… Kak, kita angkat Obiet yah ke dalem..” ajak Agni sambil membopong Obiet.
“Ntar dulu… nanti topinya gimana?” tanya Oik.
“Eeeh… Cakka!..” Panggil Agni.
Cakka yang tadi hanya duduk diam sambil memperhatikan Agni, Oik, dan Obiet bermain dan sedikit merenungi nasibnya, langsung berdiri. Sebagai anak baru di daerah ini ia harus tanggap terhadap situasi apapun.
“Tolong ambilkan topi Obiet yang nyangkut di pohon yah…” kata Oik.
“Oh… Iyah!..” Cakka mengangguk dan berlari ke satu-satunya pohon yang ada di sana, pohon tempat topi Obiet tersangkut.
Cakka segera memanjat pohon besar itu, sementara Agni dan Oik menggotong Obiet ke dalam istana. Di atas pohon, Cakka mengambil topi Obiet dengan hati-hati.
“Em… Hap!.. Yes! Dapet!”
Cakka pun kembali ke tenggah batang pohon. Tapi ketika baru berniat untuk turun, ia melihat satu lubang besar yang berwarna hitam. Lubang itu sangat gelap. Saking gelapnya ia tidak dapat melihat
bagian dalam lubang itu. Cakka mencoba memasukan tangannya ke dalam lubang. Siapa
tahu ia akan menemukan sebuah harta karun di lubang itu. Makin dalam ia memasukan tangannya, tangannya makin terasa dingin.
…
GYUTT
“Aah!…” Cakka menjerit. Ada sesuatu di dalam lubang itu yang menarik dirinya terjerumus ke dalam lubang. Tangannya terasa sedang dicengkram, sangat keras. Ia berdoa dalam hati agar tidak terjadi
apapun terhadap dirinya. Cakka terus melawan cengkraman asing itu.
“Mm… Hah!”
Dan akhirnya ia berhasil lolos. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya berkeringat dingin. Dan ketika ia melihat tangannya, tangan itu jadi terlihat transparan. Cakka tidak percaya. Ia memejamkan
matanya, berharap semua kembali seperti biasa. Lalu ketika ia membuka mata.
“Fiuuh…. ternyata cuma halusinasi”
Ya.. Cakka memang menganggap itu hanya halusinasi, karena tangannya sudah kembali seperti semua saat ia membuka matanya. Tapi apa benar itu hanya sekedar halusinasi?
—
5 menit kemudian, di kamar Agni dan Oik.
“Obiet… bangung biet…” bisik Agni di telinga Obiet.
Tak lama kemudian kelopak mata Obiet bergerak-gerak kecil. Lalu mulai terbuka perlahan.
“Yes!.. Obiet bangun!” seru Agni riang.
Nova yang ada di samping Agni langsung mengambil teh yang tadi ia buat dari meja kecil di sebelah kasur yang Obiet tiduri. “Ini… Nova buatkan teh untuk tuan Obiet…” ucapnya.
“mm.. Terima kasih, Nova..” Obiet menerima teh dari Nova dan langsung meneguknya.
“Nova, terima kasih ya sudah mau bikin teh untuk membantu Agni sama Oik..” kata Agni pelan.
“mh.. Iya.. sama-sama putri” Nova berdiri dan menunduk ke Obiet, Agni, Oik sambil berkata “Saya pergi dulu tuan.. Putri Agni.. Putri Oik.. mm” Nova agak kebingungan memanggil Cakka dengan sebutan apa, maka ia hanya tersenyum kecil dan menunduk. “Permisi…”
Oik, Agni, Obiet dan Cakka balas tersenyum. Nova langsung menuju ke pintu kamar dan ingin membuka pintu itu, tapi ia dikejutkan oleh Alvin yang sudah duluan membuka pintu itu dengan terburu-buru.
“Loh?.. Nova?” Alvin bingung sendiri. Ia tidak tau tadi Nova baru mengantarkan secangkir teh ke kamar putri Oik dan Agni. Nova hanya tersenyum kecil dan menunduk, “Permisi..” Lalu ia melewati Alvin begitu saja.
Alvin masih memandangi Nova dengan heran nya, ia mulai garuk-garuk kepala tapi langsung membeku ketika melihat Obiet, dan kedua majikannya, serta Cakka memandangnya dengan penuh tanya.
“Ehem!..” Alvin menurunkan tangannya, dan ia kini sedang dalam posisi berdiri tegak dengan kedua tangan di samping badan nya. “Putri Agni, Putri Oik… Pangeran Obiet..” Alvin seraya menunduk sebentar lalu mendekati mereka bertiga. “Barusan ada kiriman dari pihak minister” Alvin menyerahkan 3 buah surat untuk Agni, Oik, dan Obiet.
Oik membuka suratnya dan membaca perlahan surat itu.
“Undangan… Ada pesta teh di kediaman cranofile, bukit ketiga dari selatan. Semua Putri dan Pangeran di wajibkan hadir di pesta itu… akan ada pengumuman penting tentang tujuan mengumpulkan putri dan pangeran di kerajaan Kingdom Animlia. pestanya 3 jam dari sekarang..”
“Pesta teh?… untuk apa?” tanya Agni. Ia memang agak malas kalau harus menghadiri pesta-pesta dengan tata karma seperti itu.
“Tidak tau…” jawab Alvin.
“Harus benar-benar hadir kah?” tanya Oik dengan nada mengeluh.
“Sepertinya iya, putri… tadi pengantar suratnya berkata, surat itu tidak boleh di bantah. Ya.. istilahnya, harus dipatuhi..” jawab Alvin lagi.
“Cakka gimana?…” tanya Agni ke Alvin. Ia tidak mau meninggalkan Cakka sendiri.
“Tidak ada surat… tidak boleh ikut..” jawab Alvin pasrah.
“Yaaah…” Agni dan Oik langsung murung. Cakka juga agak was-was, ia mulai ingat dengan copcastle yang dibicarakan Agni, Oik dan Rahmi tempo hari. Bagaimana kalau kali ini ia tertangkap.
“Terus Cakka mau dititipin ke siapa?” kata Oik.
“Ke… tempat yang paling aman aja.. Kita titipin Cakka ke Rahmi” usul Agni.
“Iyah! Boleh tuh!” kata Oik setuju.
“Eh, Agni sama Oik ngomongin apa sih?” tanya Obiet.
“Bukan urusan Obiet!” jawab mereka berdua kompak.
“Cakka, mau kan bareng Rahmi dulu sebentar?” tanya Agni dengan muka agak memelas.
“Eh… iya. Mau kok..”
“Yey!!..” Agni langsung memeluk Cakka. Oik ikutan meluk.
“Cakka nurut ya, Ag…”
“Ha ha! Iyah..”
He he, nurut… nggak papa. Berarti Cakka anak baik.
“Oke!… sekarang kita siap-siap ke rumah Obiet.. Cakka… ke Rahmi ya.. nanti di anterin sama… Oh, pak Chiko”
Pak Chiko itu orangnya baik, dan ia adalah pengendara kereta kuda yang paling nurut sama mereka. Semua rahasia pasti aman kalau diberi tahu ke Pak Chiko ini.
Well… akhirnya semua pun setuju. Agni dan Oik pun memanggil pak Chiko dan menyuruhnya mengantar Cakka ke tempat Rahmi, tentu saja tanpa di ketahui oleh para pengawal lainnya. Obiet pergi ke ruang utama, menunggu Agni dan Oik berganti pakaian. Dan setelah itu mereka pun
siap untuk pergi ke kediaman cranofile, bukit ketiga dari selatan, yang merupakan kediamannya Obiet. Alvin sebagai pelayan pribadi Agni dan Oik juga ikut, begitu juga Nova yang menjadi pelayan Obiet.
Rio dan kawan-kawan dari Café Happy Chipmunks juga ikut. Mereka kan orang-orang yang akan melayani para putri dan pangeran di sana. Sebenarnya berita ini juga cukup mendadak bagi mereka. Tapi hal itu tidak akan menurunkan semangat mereka untuk melakukan tugas mereka
dengan sepenuh hati.
–
Jadi, pengumuman apa yang sebenarnya akan disampaikan di pesta teh itu? Peristiwa apa yang akan terjadi di sana? Dan bagaimana nasib Cakka dengan Rahmi? Apa sebenarnya lubang yang ditemukan Cakka
itu?
Tunggu lanjutannya di Kingdom of Dream part 8.
Terima kasih^^
Ini bonus picture-nya : Design baju Nova buatan aku. (kalau mau lihat lebih dekat/besar, diketik aja)
–
How?? Gmn?? jelek gak? oke gak?
di komen yah teman-teman!! kritikan dan saran diterima^^
sekali lagi terima kasih telah membaca!
Saniyyah A.K
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
