Kingdom Of Dream_Part 8: Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi (bag 2)

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_part 8: Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi (bag 1)

Nah ini bag 2 nya. Singkat aja yaa..
Mending langsung baca.
Bonus gambar : Baju Oik, Agni, Acha dan Keke

Selamat membaca. Please comment…

Kingdom Of Dream
Part 8(2): Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi

Hari semakin siang. Udara semakin panas di kota Kingdom Animalia. Debu-debu berterbangan dengan pelan, tertiup angin kering. Kalau dilihat, jadi seperti kawasan-kawasan Westward, kawasan Amerika yang datarannya kering, seperti Grand Canyon dan sebagainya. Debu-debu jadi seperti kabut. Bedanya, kalau kabut hanya menyamarkan pandangan,
namun debu-debu ini, dapat menyakitkan mata kalau terselip di sisi-sisi mata kita.

Untungnya hal-hal di atas tidak terjadi di kediaman Cranofile-bukit ketiga dari selatan. Malah keadaan sangat bertolak belakang. Di sana udaranya sejuk, cerah, dan tidak banyak debu. Yang ada hanyalah oksigen yang sejuk dan segala partikel-partikel baiknya yang ada di udara. Kediaman Cranofile, tempat tinggal Obiet di Kingdom Animalia untuk sementara ini sangatlah subur. Banyak pohon di mana-mana. Kebanyakan halamannya di dasari oleh rerumputan hijau yang rapih.

Agni dan Oik sangat senang dapat berkunjung ke Kediaman Cranofile ini. Banyak tanaman hias, kupu-kupu yang hinggap, dan tentu saja, rumput-rumput yang hijau nan subur. Bagaimanapun juga naluri kedua putri ini sebagiannya naluri kelinci. Rerumputan subur di mata mereka tentu saja member kesan menggiurkan. Ketika kereta kuda yang mereka tumpangi telah berhenti. Oik yang berada di sebelah pintu langsung membuka pintu kereta kuda dan menyeruak keluar. Merasakan angin sepoi-sepoi melambaikan rambut, baju, serta telinganya. Malah Alvin, sang pelayan yang baru saja ingin membuka pintu kereta kuda yang kena batunya. Ia mengusap-ngusap kepalanya yang barusan terpentuk ganggang pintu.

Agni keluar dengan tampak tenang. Kalau bahasa daerahnya, kalem. Tapi mukanya berseri-seri, ia tersenyum manis dari hati, dan dengan otomatis pipinya mengembang, tambah tembem, dan membuat matanya jadi sedikit menyipit.

“Ah…. indahnya… Aku mau main seharian di sini…” kata Oik mengungkapkan perasaan yang ada di hatinya.

Agni ikut antusias seperti Oik. Mereka berdua berputar beberapa kali, tidak peduli walau beberapa penjaga gerbang yang ada disana memperhatikan mereka. Kalau saat itu Oik ingin berbicara, ia pasti akan berkata, “Ah, biarkan saja mereka melihat kita. Mungkin karena kita terlihat manis di pemandangan seperti ini..”

Agni berbalik, menatap Obiet yang baru saja turun dari kereta kuda. Obiet tersenyum manis seperti biasa. Ia tau Agni akan mengatakan sesuatu, maka ia balas memandang Agni seperti bertanya, “Ada apa?”

Lalu dengan lembutnya, Agni meraih tangan Obiet dan menariknya agar sedikit menunduk. Dan setelah itu, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Obiet. Ia berbisik, “Obiet…” selang beberapa detik sebelum Agni melanjutkan kata-katanya, sejenak Agni melihat ke sekitar, lalu berbisik lagi ke telinga Obiet. “… Aku mau lepas sepatu…”

“Hah?.. Eh-hahaha!..” Obiet ternganga sebentar dan langsung tertawa. Ia selalu menganggap Agni ini putri yang unik, dan selalu begitu. Tidak semua putri doyan nyeker kan?

Agni yang sebel ditertawakan pun langsung memukul lengan atas Obiet. Mukanya tertekuk, dahi mengkerut, dan mulutnya mulai cemberut. “Tuh kan… Obiet mah malah ngetawain..”

“Iya iya… maaf…” Obiet meminta maaf kepada Agni, walau sebenarnya ia masih ingin tertawa. Tangan kanannya mengusap-usap lengan kiri yang tadi dipukul Agni, masih sakit.

“Boleh nggak?” tanya Agni memastikan.

Obiet mengangguk dan berkata, “Boleh… tapi nggak sekarang..”. Yah.. memang Agni sudah berencana untuk melakukannya nanti. Mungkin setelah pesta teh usai, atau di tempat tersembunyi di salah satu taman kediaman Obiet. Tidak mungkin ia melepaskan rasa rindunya kepada alam saat itu juga. Alvin sempat berkata kalau Professor Degor sudah menunggu di pesta teh. Ia datang bersama minister.

Obiet melirik Oik dan berfikir, kalau Agni mau, sudah pasti Oik juga mau. Mau nyeker maksudnya..

Rio dan anak-anak lain dari Cafe Happy Chipmuks juga sudah turun. Namun mereka sibuk mengatur siapa yang akan membawa barang ini dan barang itu. Rio lah yang mengkoordinasinya. Yang lainnyaselalu setuju-setuju aja. Lagi pula, Rio kan ketua mereka, dan mereka juga sudah mengakui kalau Rio adalah orang yang paling bijaksana di antara mereka semua. Beberapa penjaga gerbang ikut membantu Cafe Happy Chipmunks. Sepertinya keberadaan para pelayan cafe ini cukup di perhatikan dalam acara yang terhormat di kalangan kerajaan dunia Kindom Of Dream.

Agni, Oik, dan rombongan dari kereta kuda Kingdom Animalia telah sampai di gerbang taman istana utama. Nova terus setia berdiri di samping tuannya, Obiet. Alvin berjalan di barisan paling belakang. Rio dan kawan-kawan Cafe Happy Chipmunks tidak akan masuk ke tempat pesta teh melalui gerbang itu. Mereka akan masuk lewat jalan lain yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara pesta teh.

Sebelum benar-benar masuk, Agni memeluk kakaknya dulu. Adik kakak ini sama-sama murung. “Kak Oik nggak papa… ditinggal di sini?..” tanya Agni pada Oik yang bet-nya masih tertingal dan belum disampaikan Pak Chiko.

Oik pun mengelus kepala adiknya dengan lembut, lalu membalas pertanyaan adiknya. “Nggak papa kok.. Bentar lagi aku juga bakal nyusul.. Pak Chiko kan bisa diandalkan. Lagian… kan aku sama Obiet…” Oik mengucapkan kata ‘Obiet’ sambil melirik Obiet yang berdiri di sampingnya. Obiet mengangguk dan tersenyum ramah. Akhirnya Agni beserta Oik bisa tersenyum riang lagi.

Maka Agni dan Alvin pun masuk ke tempat pesta teh berlangsung. Obiet menyuruh Nova untuk ikut masuk ke tempat pesta teh. Tapi Nova berkata dengan sejujur-jujurnya, kalau ia tidak terlalu nyaman berada di dalam kerumunan orang, Nova lebih memilih untuk masuk ke rumah kediaman cranofile dan menghabiskan waktunya di ruang pustaka. Obiet tidak merasa adanya masalah dengan permintaan Nova, maka ia membolehkannya.

Kini tersisa Oik dan Obiet di depan gerbang taman. Karena sama-sama bingung mereka pun berjongkok di samping gerbang sambil menunggu Pak Chiko. Dan diam-diam Oik menyandarkan kepalanya di bahu Obiet.

So sweet…

Agni berjalan ke tengah taman di temani Alvin. Di sana ada sebuah kolam kecil dari marmer. Di tengah kolam itu terdapat air mancur besar dengan batu-batu alam sebagai dasar kolam dan bunga-bunga teratai di permukaannya. Terlihat ikan-ikan kecil bercorak emas berenang dengan riangnya di kolam itu. Agni iseng mencelupkan tangannya ke dalam air kolam. Ikan-ikannya sempat terkejut, namun tak lama kemudian mereka mulai mendekati jari-jari Agni. Ada satu ekor ikan yang malah mengecup jari kelingking Agni. Mungkin dikiranya makanan. Ikan itu langsung terkejut ketika mengetahui kalau jari kecil itu bukan makanan. Agni tertawa riang dan terus bermain dengan ikan-ikan itu. Alvin ikut tersenyum melihatnya, ia berhasil menjaga suasana hati majikannya agar tetap ceria.

“Agni!..”

Terdengar suara seorang teman laki-laki memanggil Agni. Agni langsung menengok ke asal suara tersebut datang. Dan ternyata itu adalah Debo, temannya dari Kerajaan tikus. Debo juga seorang putra mahkota, sama seperti Obiet. Dia adalah teman laki-laki kedua yang paling dekat dengan Agni dan Oik. Seperti nama negaranya, negara tikus, ia juga bertelinga tikus dan memiliki ekor tikus yang lumayan panjang. Namun ekor dan telinga tikusnya sangat bersih dan terawat. Namanya juga putra mahkota.

Debo berjalan mendekati Agni. Alvin segera menjauh ketika tau majikannya akan melakukan sedikit perbincangan dengan keluarga kerajaan dari negara tetangga.

“Agni, gimana kabarnya?” Debo menyapa Agni sambil melakukan salam sahabat.

Agni membalas salam dari Debo dan menjawab, “Baik!.. Debo gimana?”

“Debo juga seneng!.. bisa ketemu lagi sama Agni dan juga O’…” Debo berhenti berbicara sebentar. Ia melihat ke sekitar, mencari-cari kakaknya Agni, si putri Oik. “Oik di mana, Ag?” tanyanya ketika ia tidak juga menemukan Oik.

Agni pun menjawab seadanya. Ia menjelaskan dari awal sampai akhir, tentang penyebab Oik tidak bisa masuk ke pesta teh itu. “Dan sekarang, Oik masih di depan gerbang taman sama Obiet” kata Agni, mengakhiri penjelasannya.

Sementara itu, di bawah pohon oak, Deva, Ray, dan Rio, sedang bersiap-siap untuk pesta teh. Mereka menata piring-piring kecil dengan kue-kue ringan di meja besar di depan mereka, merapihkan kain putih yang menutup meja itu, dan juga menata bunga-bunga sebagai penghiasnya. Mereka melakukan semuanya dengan sepenuh hati. Acha dan Keke tidak terlihat di sana. Mereka dapat bagian menaruh piring beserta kue-kuenya di meja kecil lainnya.

Beberapa meter di depan meja Deva, Ray, dan Rio, terdapat sebuah pondok kecil dengan gaya arsitektur classic. Penyangga pondok itu berupa pilar putih yang berukiran seorang perempuan duduk di atas bulan sabit, melambangkan dewi bulan. Di pondok itu terlihat beberapa dewan kerajaan berseta minister yang sudah datang duluan, membicarakan tentang runtutan acara yang sebentar lagi akan di mulai. Professor Degor ada di antara para minister, ikut berbincang bincang sambil membawa selembar kertas yang tergulung dan diikat dengan tali emas. Sepertinya kertas itu sangat penting. Lambang minister agung tertera di kertas itu.

“Rio..” Deva menepuk pundak Rio dari belakang. Rio menoleh dan membuat mimik muka bertanya. “..Bunga untuk mengisi pot terakhir kurang. Apa aku harus petik beberapa bunga lagi untuk pot itu?… kalau harus.. boleh tidak?” lajut Deva meminta izin.

“Sepertinya boleh… tapi petiknya dari tanaman bunga yang sudah di sediakan di tempat tadi ya” jawab Rio. Ia menyuruh Deva memetik bunganya di taman belakang, taman kecil sebelum mereka sampai di taman utama.

Nova duduk manis di atas kursi ruangan pustaka. Ia hanya sendiri di sana. Semua pelayan di Kediaman Cranofile sedang sibuk membatu persiapan pesta teh. Ia suka hawa tenang dan damainya ruangan pustaka. Kita berasa bisa melakukan apapun tanpa takut ditertawakan orang. Ketika teh yang telah tersuguh sudah habis, Nova berdiri dan akan membuat teh itu sendiri. Ia keluar dari ruangan pustaka dan menuju ke dapur rumah cranofile yang dekat dengan taman belakang.

*tink tink tink..*

Suara sendok kecil saling beradu dengan tubuh cangkir teh, terdengar bening. Nova mengaduknya sekali lagi dan ia tersenyum. Teh-nya sudah jadi. Nova selalu senang kalau ia berhasil membuat teh dengan baik, dan membuat orang yang meminumnya menjadi senang. Itu merupakan kepuasan sendiri bagi dirinya. Tapi kali ini, sepertinya ia tidak cukup puas hanya dengan secangkir teh saja. Nova keluar dapur, memasuki area taman belakang dan berniat untuk memetik setangkai bunga mawar putih di sana. Pasti akan lebih menyenangkan jika ia bisa membaca buku, menikmati teh, dan melihat keindahan bunga mawar sekaligus.

Deva berjalan dengan santainya sambil bersiul-siul ria. Ia hampir sampai di taman belakang. Di sisi lainnya Nova masih bingung memilih bunga mawar untuk di petik. Deva mengintip taman belakang dari kayu pembatas yang bersilangan. Ada seorang gadis hitam manis yang sedang melihat bunga-bunga mawar di sana. Ya, itu Nova. Di dasarkan oleh ingatannya yang samar-samar dan peristiwa tubrukan di istana Kingdom Animalia tempo hari, Deva jadi penasaran. Ia tau gadis di depannya ini akan langsung kabur dari tempat ini jika ia langsung menyapanya. Maka Deva memilih untuk memperhatikannya dari jauh dulu.

Saat Deva membuka pintu taman belakang yang berhubungan dengan taman utama, Nova masih sibuk mencari bunga mawar putih yang tepat. Suara gerbang taman yang bergesekan tidak membuyarkan konsentrasi Nova walau gesekan itu menghasilkan bunyi yang membuat ngilu. Deva saja sampai meringis.

Deva mulai melangkah dengan pelan mendekati Nova. Perasaanya campur aduk. Antara penasaran, senang, khawatir, dan ragu; jangan-jangan Nova malah takut bertemu dengannya. Lalu ia mulai mengumpulkan keberaniannya untuk memberanikan diri menyapa Nova.

Deva sudah berdiri di belakang Nova, tapi Nova bahkan masih sibuk mencari bunga mawar putih. Deva berujar, mungkin Nova suka akan mawar. Ia kelihatan antusias saat mencari bunga mawar itu.

“Eh..”

Belum sempat Deva menyentuhnya dan menyapa, Nova sudah duluan berbalik, tentu saja dengan ekspresi yang kaget. Malah seperti baru disambar petir. Nova langsung gelagapan, tanpa disadari kakinya melangkah mundur sendiri. Matanya fokus menatap muka Deva. Deva sih menangkap kalau Nova seperti berkata, “Siapa kamu… jauhi aku..” Jadinya Deva salting sendiri. Deva yang melihat gerak gerik Nova yang ketakutan setengah mati pun tidak berani melangkah lebih dekat. Ia tetap berdiri di situ, tapi tetap berusaha tersenyum.

“Eh.. kamu..”

*PRANG!*

Mereka berdua di kagetkan oleh suara benda pecah. Nova semakin panik, ia melihat ke segala arah, mungkin ingin mencari asal suara itu. Padahal sebenarnya, suara itu adalah pot bunga mawar yang tak sengaja tersenggol oleh tangannya dan jatuh ke tanah. Ia berdiri tepat di depan pot yang pecah itu. Dan hampir saja menginjak pecahan pot tersebut.

“Eh, awas!..” Deva yang duluan mengetahui, kalau di belakang Nova ada pecahan pot, langsung meraih tangan Nova dan menarik Nova ke sisinya.

Nova masih tidak seimbang, tapi Deva ada di sampingnya dan siap menjaga Nova agar tidak jatuh. Nova berusaha untuk berpijak pada tanah, menyeimbangkan dirinya, dan menstabilkan detak jantungnya yang sudah sangat cepat saat itu. Tangannya terus gemetar, ia tak ingin Deva menyadari hal itu, maka Nova langsung melepas pegangan tangan Deva
pada dirinya.

Mereka berdua masih terdiam dan bingung harus berkata apa. Harusnya sih Nova bilang ‘makasih’, tapi mulutnya masih tidak bisa diajak bicara, masih shock. Deva juga, tadinya ia ingin minta maaf, walau kurang yakin, kenapa ia harus minta maaf? bukannya dia yang menyelamatkan Nova dari pecahan barusan?, Hm… Atau Deva ingin meminta maaf karena.. agak lancang langsung menarik tangan Nova tanpa minta izin terlebih dahulu. Siapa tau Nova jadi tambah takut karenanya.

Nova murung, ia telah memecahkan pot bunga mawar dan lumayan mengotori taman belakang Kediaman Cranofile ini. Walau itu semua terjadi tanpa sengaja, dan hanya sebagian kecil yang rusak, tapi Nova merasa telah melakukan kesalahan yang benaaaar-benar besar. Deva yang menangkap pandangan murung itu ikut merasa bersalah. Bagaimanapun juga, ia ambil bagian dalam peristiwa yang tidak sengaja itu. Kalau ia tidak mengagetkan Nova, mungkin itu semua tidak akan terjadi.

Nova duduk di tanah, dengan bertumpu pada kedua lututnya. Ia mengumpulkan pecahan-pecahan pot itu, masih dengan ekspresi murung. Melihat itu, Deva langsung berinisiatif membantu Nova mengumpulkan pecahannya. Bagi Deva, membantu seseorang, terutama perempuan adalah harus. Itu syarat untuk jadi lelaki sejati. Pasalnya, ia pernah membicarakan hal ini bersama Rio dan Ray.

Lalu setelah semua pecahan-pecahan pot itu terkumpul, Deva mengambil sapu tangannya dan membungkus pecahan pot itu dengan rapih.

Deva berdiri dan menggesekan tangannya pada celananya setelah meletakan bungkusan pecahan pot di tempat asalnya. Lalu setelah tangannya bersih, barulah ia membantu Nova untuk berdiri. Nova masih kagok, ia masih terus menunduk. Akhirnya Deva bertanya duluan.

“Eh… kamu.. putri yah?”

“Hah?… eng.. enggak..nggak..” Mendengar tebakan Deva, Nova langsung mengelak. Ia sama sekali bukan putri ataupun bagian dari kalangan bangsawan.

“Oh…” dan Deva kembali diam. Sebenarnya… mereka berdua yang kembali diam. Sampai akhirnya Deva lagi yang mulai berbicara.

“Em… namanya siapa?..” tanya Deva hati-hati.

Seperti biasa, Nova hanya menjawab singkat. “Nova..”

Deva mengangguk dan terus berusaha ramah. “Aku Deva.. aku dari Cafe Happy Chipmunks. Nanti, aku yang bakal jadi pelayan di pesta teh..”

Nova masih terus diam. Deva mencoba mencairkan suasana lagi. “Kalo kamu… em.. Aku lihat Nova dekat dengan pangeran Obiet yah?.. Nova siapanya pangeran?..”

“Eh… aku pelayannya..” jawab Nova singkat.

Dan akhirnya mereka berdua kembali diam. Walau tidak berhasil membuat Nova tertawa, setidaknya Deva sudah lebih tau tentang Nova ini.

Deva yang masih belum berhasil mencairkan suasana, masih terus berusaha agar perempuan di dekatnya ini bisa tertawa. Otaknya berpikir keras, matanya sampai berputar, mencari kata-kata yang tepat. Sampai akhirnya ia menemukan satu ide. Ia merasa lampu di atas kepalanya sudah menyala terang kembali.

Di tengah keheningan taman itu, Deva memperhatikan Nova dari bawah sampai atas. Lalu ia membuat mimik muka seperti sedang berpikir sejenak.

“Ih.. Nova cantik deh..” ujar Deva iseng.

Nova langsung mengangkat kepalanya, menatap Deva. Agak heran, tapi… agak malu juga. Entah mengapa kata-kata itu sampai di hati Nova. Nova mulai menganggap, kayaknya Deva itu ramah sekali, dan… Sepertinya muka Nova mulai memerah…

“Ih.. Nova mukanya merah..” kata Deva semakin iseng.

Nova tambah malu, cuman kali ini tidak nunduk, malah bilang, “Enggak kok enggak…”. Ia mulai berani bercanda dan membalas kata-kata Deva. Ia mengusap-ngusap wajahnya, mengira kalau wajahnya diusap merahnya bisa hilang. Lalu menunduk lagi.

Deva tertawa kecil, “Iya deh.. iya…” kata Deva, agar bercandaannya tidak kelewatan.

Dan setelah agak diam,

“Hi hi..” Deva tertawa kecil.

“Kenapa?” Nova bingung. ‘Jangan-jangan ada sesuatu yang salah dengan ku’ batinnya. Nova memperhatikan bajunya sambil mencoba membenarkannya, lalu memegang mukanya, siapa tau merah lagi.

Deva tertawa kecil di dalam hati. Ia tidak menyangka kata-katanya itu bisa membuat Nova sampai segitunya. “Enggak kok.. cuman.. lucu aja, nama kita akhirnya sama-sama ‘va’” kata Deva agak menunduk dan tersenyum.

“Eh, iya juga ya.. ha ha..” Nova ikut tertawa. Deva tersenyum melihat Nova tertawa, senyum Nova sangat manis..

“Eh, kalau gitu aku ke ruang pustaka dulu yah..” kata Nova yang hendak pergi dari situ.

“Iya..” kata Deva sambil mengangguk dan tersenyum.

Akhirnya Nova kembali ke dalam rumah dengan membawa pecahan pot yang terbungkus sapu tangan Deva. Deva terus memandang Nova dari kejauhan, sampai Nova berbelok ke lorong lain. Tanpa disadari Deva sedikit melamun. Sepertinya belakangan ini ia akan sering kepikiran tentang Nova.

“Deva!…” tiba-tiba saja seseorang memanggil Deva dari kejauhan. Suaranya berasal dari area pepohonan anggrek. Orang itu adalah Agni. Ia kesulitan mengendalikan rok gaunnya yang lumayan besar. “Deva!” Agni berhenti dengan tangannya berpegangan pada pundak Deva.

“Deva, ternyata kamu di sini… Rio mencarimu kemana-mana…” Agni menstabilkan nafasnya sebentar. Tapi ketika ia mau berbicara lagi pada Deva, ia baru sadar sepertinya Deva sedang memperhatikan hal lain. Dari tadi, Deva terus saja memandang ke depan. Padahal sudah tidak ada lagi orang di situ.

“Deva ngeliatin apa?…” tanya Agni polos.

“Hm?.. hooh.. Agni?…” Loh! Deva malah kaget melihat Agni di sampingnya. Sepertinya memang sudah dari tadi Deva melamun.

“Aah… Deva ngelamun yah? Ngelamunin apa?..” tanya Agni.

“Em… itu… tadi aku ngeliat bunga… cantiiiik banget” jawab Deva.

“Bunga?.. warnanya apa??”

“Warnanya… hitam manis.. dibalut oleh kain sutra berwarna hijau muda… mahkotanya hitam berkilau, di padu dengan warna hijau muda, kuning cerah, dan biru muda..”

“Hah??” Agni menyerah. Ia tidak tau sama sekali arti pendeskripsian Deva itu. Perasaan ia tidak pernah melihat bunga seperti itu, ia terus berpikir.

Karena terlalu lama, Deva langsung menepuk pundak Agni, mencoba mengagetkannya.

“Ngerti nggak?..”

“Hah?.. eh.. enggak..”

“Bunganya itu.. bunga langka..” tambah Deva. “Manis…”

Huh Deva… Agni malah tambah bingung deh…

Akhirnya saat-saat pesta teh pun dimulai. Para putri dan pangeran pun berkumpul dan bercanda bersama. Saling kangen-kangenan, dan suasana semakin ceria dengan hadirnya anak-anak dari Cafe Happy Chipmunks.

Sekarang, tempat pesta teh diadakan, sudah ramai. Ada Rio dan Ray yang sedang sibuk membuat teh dan kue pastry. Ada Deva yang baru muncul dari taman belakang dan langsung menjalankan tugasnya sebagai pelayan. Dan Agni yang langsung berlari-lari kecil, pergi ke tempat Alvin berada. Lalu langsung menyeret Alvin untuk ikut mencicipi makanan-makanan dan teh andalan dari Cafe Happy Chipmunks. Ada juga Obiet dan Oik yang akhirnya dapat masuk ke dalam area pesta teh itu dan saling sapa ke Patton; si pangeran burung hantu, Debo, si pangeran tikus, Irsyad; sang pangeran elang, dan Ourel; peri kecil dari hutan yang merupakan anak dari salah satu minister.

Sementara itu, di stand Cafe Happy Chipmunks, Acha dan Ray masih belum bisa akur. Mereka ejek-ejekan sampai akhirnya Ozy, seorang pangeran kera, membela Acha dan melerai mereka. Rio geleng-geleng kepala melihat tingkah 2 orang teman kerjanya itu. “Dasar…” katanya sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi.

Agni sedang mencicipi pastry-pastry buatan cafe Happy Chipmunnks, “Hm… enak…” katanya. Ia terus makan sementara Alvin berdiri dibelakangnya sambil melihat-lihat sekitar.
Tiba-tiba saja, Agni menyenggol bahunya. Dan saat Alvin menengok, Agni sudah siap dengan sendok berisi pastry paling enak buatan Rio di tangan kanannya dan menyuruh Alvin untuk mencicipinya.

“Alvin coba deh..” kata Agni riang sambil berniat menyuapi Alvin.

Alvin ragu-ragu untuk mencicipi kue itu. Ia melihat ke sekeliling. Kalau saja Professor Degor melihat semua ini, pasti ia akan kena marah besar. Agni yang tidak mendapat respon dari Alvin langsung menegurnya lagi. “Alvin!.. aa..” Agni menyuruh Alvin membuka mulutnya. Alvin terus menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak tawaran dari Agni. Sampai-sampai ia mundur satu langkah sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya di depan dada seperti bilang, “enggak”.

Agni terus bersikeras. Ia ingin Alvin ikut menikmati pastry yang enak itu bersama. Alvin kan dari tadi sudah mengantarnya ke mana-mana dan membuat ia senang, masa ia tidak melakukan
apapun buat Alvin.

“Ayo.. sesendok aja deh..” kata Agni lagi.

Tapi Alvin terus menolak dengan lembut. “Tapi aku hanyalah pelayan, putri..” kata Alvin akhirnya.

“Gak papa. Kan, gak ada larangan kalo pelayan tidak boleh mencicipi pastry yang sudah disediakan” jawab Agni
polos.

Alvin tersenyum dan ingin tertawa mendengar jawaban Agni tadi. Ternyata majikannya ini memang benar-benar polos. Padahal kan, maksudnya, ‘Aku kan pelayan, gak seharusnya disuapin sama putrinya’

Alvin tidak kunjung menjawab pertanyaan Agni. Akhirnya Agni pun menjadi murung. Ia merasa tidak bisa memberikan apapun pada Alvin dan membalas kebaikannya. Alvin yang melihat majikannya murung jelas-jelas langsung ikut sedih. Ia pun menepuk siku Agni pelan sampai Agni melihatnya. Alvin berusaha tersenyum semanis-manisnya untuk menghibur majikannya itu, lalu membuka mulutnya seperti mau disuapin.

“Aaa..” ujar Alvin. Walaupun ia merasa tak pantas menerima perlakuan Agni, tapi lebih tidak pantas lagi jika ia membiarkan majikan manisnnya ini bermuram hati. Lagi pula, Alvin tau benar apa yang harus dilakukannya pada Agni di saat murung-murungnya seperti ini. Seperti yang Alvin tau, Agni anaknya suka hal yang manis-manis dan cute-cute, jadi.. ya… seperti itulah.

Sesuai pikiran Alvin, muka Agni langsung berubah ceria. Ia tersenyum senang dan semangat menyuapi Alvin.

Alvin melahap 1 sendok pemberian Agni sambil menjadikan tangan kanannya sebagai tadahan agar tidak pastry-nya tidak jatuh, lalu memakannya dengan senang. Agni sangat gembira dan berniat memberi Alvin satu sendok lagi, tapi Alvin bilang hanya ingin satu. Agni pun mengangguk dan menerima apa keputusan Alvin. Saat Agni bertanya enak atau enggak, tentu saja Alvin mengangguk. Pastry itu memang sangat lezat!

Siapa dulu yang bikiiin… Rio gitu..! hehe..

Agni merasa puas dan tersenyum senang. Ia melahap lagi pastry-nya. Sementara Alvin menunduk, melahap pastry sambil memandang sekitar, masih dengan perasaan was-was. Dimanakah Profesor Degor??

“Alvin, Agni!.. Siniii!…” tak lama setelah itu, Oik memanggil Alvin dan Agni dari kejauhan. Agni menoleh dan langsung menggenggam tangan Alvin, lalu mengajaknya ke tempat Obiet, Oik dan teman-teman lain berada. Alvin mengangguk dan mengikuti Agni. Setelah sampai, Agni menyapa semua teman-temannya termasuk Obiet dan Oik. Sementara Alvin hanya menunduk untuk memberikan tanda penghormatannya kepada para pangeran dan putri-putri.

Suasana di pesta semakin meriah. Seluruh putri dan pangeran yang diundang telah datang ke pesta. Seluruh pihak minister pun telah duduk di bangku yang telah disediakan. Lalu akhirnya, ketua minister mengangkat sendok dan gelasnya, lalu mendentingkan gelas dengan sendok tersebut. Sampai terdengar bunyi ‘ting ting ting ting’ yang lumayan keras.

Seketika, perhatian para undangan beralih ke minister-minister yang duduk di meja khusus yang berada di depan. Ketua minister yang berada di kursi paling tengah pun berdiri. Beliau berkata.

“Selamat datang para putri dan pangeran yang terhormat, di pesta teh yang cerah ini.

Kami para minister sangat berterimakasih pada kalian yang bersedia datang ke pesta teh yang bisa dibilang mendadak ini. Terimakasih juga kepada para pelayan dari Cafe Happy Chipmunks yang telah menyuguhi makanan dan minuman yang sangat lezat, juga kepada para pendamping putri dan pangeran yang telah setia menemani pangeran dan putrinya.

Pengumuman kami tidak panjang lebar. Di sini, kami hanya ingin mengumumkan kepada kalian tentang tujuan kami mengumpulkan kalian semua di Kingdom Animalia ini. Kami meminta kalian untuk berkumpul disini tidak hanya untuk melepas kerinduan dan berkumpul kembali setelah sekian lama, tapi karena ada acara penting.

Setelah acara pesta teh ini, kalian tidak akan pulang begitu saja. Esok, kalian akan tinggal di Kerajaan Animalia sebab, kami para minister telah bermufakat untuk mengadakan pengajaran khusus untuk kalian, dengan alasan yang kami tidak bisa beritahukan saat ini. Pengajaran akan dilakukan dalam jangka waktu yang agak lama, dan kalian akan tinggal di Istana Kingdom Animalia dengan sistem seperti asrama.”

Ketika ketua minister berhenti berbicara sebentar, terdengar riuh di sana-sini. Banyak yang bertanya-tanya tentang maksud para minister mengadakan pengajaran itu. Wakil ketua minister mengambil alih keadaan, ia mengangkat gelas dan sendoknya dan mendentingkannya lagi. Seketika, ke riuhan pun berhenti. Dan ketua minister kembali melanjutkan pidatonya.

“Kalian juga tidak perlu khawatir tentang barang-barang yang harus kalian bawa, karena barang-barang yang diperlukan telah tersedia di istana kingdom animalia dan barang-barang kalian akan segera dipindahkan ke asrama tempat kalian tinggal nanti. Untuk saat ini kalian tinggal bersiap-siap. Sekitar 1 jam lagi, kereta kencana akan menjemput kalian dan mengantar kalian ke istana kingdom animalia. Sekian dari kami. Untuk lebih lanjutnya, akan diumumkan di hari pertama pengajaran di mulai, di aula Istana Kingdom Animalia.

Terimakasih.”

Wakil ketua minister berdiri lagi setelah ketua minister duduk. lalu ia berkata, “Untuk para putri dan pangeran, di persilahkan untuk menikmati kembali hidangan yang telah tersedia”

Akhirnya, seperti yang dikatakan wakil minister, para putri dan pangeran pun menikmati kembali hidangannya.

Satu jam berlalu. Beberapa putri dan pangeran telah pergi dengan kereta kencana mereka menuju ke Istana Kingdom Animalia. Namun, Agni, Oik, dan juga Obiet belum pergi. Obiet harus melunasi janjinya kepada Agni dan Oik untuk memperbolehkan mereka bertelanjang kaki di hamparan rumput hijau Kediaman Cranofile.

Agni melepas sepatunya di salah satu taman yang agak jauh dari keramaian orang, seperti taman pepohonan oak, disini udaranya lebih sejuk dan areanya agak tertutup. Jarang sekali dilewati orang. Agni duduk di bawah pohon yang teduh. Ia berputar-putar di sana. Namun di tengah kesunyian damai dan keteduhan itu, sebenarnya ia tidak sendiri.

Agni tadinya belum sadar akan hadirnya seorang anak laki-laki misterius di pojok taman, tapi ketika ia berhenti berputar. Matanya memandang lurus ke depan. Dan baru ia sadar, sekarang ia sedang beradu pandang dengan anak laki-laki misterius itu. Kulitnya hitam pucat, bibirnya tipis, baju yang dikenakannya hitam, dan di dadanya terpasang bet pesta teh tadi, itu menunjukan kalau anak itu adalah seorang pangeran yang akan menerima pengajaran khusus juga nanti di Istana Kingdom Animalia.

Biasanya Agni langsung takut jika melihat seseorang seperti anak laki-laki itu, tapi kali ini tidak. Ia malah ingin tau lebih banyak tentangnya. Dan salah satu hal yang membuat Agni tidak bisa mengalihkan pandangannya dari anak itu adalah, pandangannya yang tajam. Bahkan saat itu juga Agni merasa perasaan baru yang beda dari biasanya. Ia takut… tapi ia penasaran. Ia tidak ingin menjauh dari anak itu. Ada sesuatu dari diri anak itu yang membuatnya ingin terus mendekat, tapi Agni tidak tau apa rasa itu.

Apa yah?..

Apakah perasaan Agni itu? Siapakah anak misterius itu? Bagaimana nasib Cakka selanjutnya? Bagaimana kelanjutan kisah Kingdom Of Dream di asrama??

Tunggu terus lanjutannya di Kingdom Of Dream part 9.
terima kasih..

Ini bonus gambarnya:

Baju Agni dan Oik pesta teh

Baju Agni (hijau-biru) dan Oik (merah-pink) di pesta teh

Baju Keke dan Acha di pesta teh

Baju Keke (kiri) dan Acha (kanan) di pesta teh

Terimakasih telah membaca! ^^
Ayo!… yang mau comment…
kritik dan sarannya juga selalu diterima^^

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

    • DaindehhDinda
    • April 28th, 2010

    Keren! Tapi lanjutannya kapan? kok lama banget?

    • Saniyyah
    • May 3rd, 2010

    he he… iya maaf. Habis lagi banyak tugas.
    Ada kok lanjutannya, cuman belum di post. Insyaallah pasti akan di post. Aku akan berusaha!!…
    Tunggu aja ya… pasti aku post. Do’ain juga biar bisa cepet post dan lanjutannya juga memuaskan (amin) ^-^

    • cyka
    • September 4th, 2010

    keren abizz……………..!!!!! kapan lanjutanya??????

  1. No trackbacks yet.