Maiko & Samurai ~ sebuah cerpen

Oke! Hai semua! lama gak jumpa.
Aku ada cerpen nih.. dibikin kira-kira 3 hari kali ya??

Oh iya, ini adalah sebuah cerpen yang mengisahkan tentang 2 kebudayaan jepang yang bisa dibilang mendunia yaitu samurai dan geisha. yah.. semoga aja pada suka yah, pada baca dengan akhiran kata puas, dan bisa mengambil amanat dari cerita ini.

BTW, setelah cerpen ke-2 ini tertulis, aku kayaknya mulai sadar, kalau aku bikin cerpen pasti halamannya selalu banyak. Maiko dan samurai ini kalau di ms word 2007 bisa mencapai 14 halaman. itu pun dengan font size 11. Ha ha… Well, itu lah aku! And we have to love our self!

Keterangan
Cerita is all made by: Saniyyah Ardina Khoirunnisa
Tokoh utama: Chaka (???) > Cakka, Aguni (???) > Agni, Taka (??) > Elang

And happy reading~~

Maiko & Samurai

Hari menjelang malam di suatu kediaman seorang samurai. Burung-burung mulai berterbangan pulang ke sarang mereka. Lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan. Namun pemilik rumah itu, Kirikabu, samurai yang sudah memiliki keluarga, masih tetap berada di halaman rumah bersama anaknya. Dari siang ia terus mengajarkan anaknya menggunakan pedang. Anaknya baru saja berumur 13 tahun seminggu yang lalu, dan sudah melakukan upacara senpuku. Sebuah upacara yang dilakukan terhadap anak samurai yang sudah beranjak 13 tahun. Kini anaknya sudah dapat diajarkan menggunakan katana dengan benar. Dan mulai diajarkan untuk menjadi samurai dewasa.

“Hya! Ha! Ha! Hh… hosh hosh..”

“Ayo! Ayunkan yang benar! Katanya mau jadi samurai handal”

Kirikabu terus berseru menyemangati anaknya agar berusaha lebih keras. Namun itu semua sepertinya percuma sekarang. Anaknya, Chaka sudah kewalahan untuk melakukan semua keinginannya. Untuk mendengarnya saja mungkin
tidak bisa. Tubuhnya sudah penuh dengan keringat. Rambutnya lepek, dan ia mungkin akan jatuh sebentar lagi.

“Sudahlah, Ayah. Memangnya ayah tidak lihat muka Chaka sudah teler begitu. Sebentar lagi dia juga pingsan..” seru seorang laki-laki yang merupakan kakak dari Chaka, yaitu Taka.

Chaka menunduk sejenak, mengendalikan nafasnya yang kacau. Katana berbalut kain yang ia pegang pun ia tancapkan ke tanah sebagai tumpuan.

“Kak Taka benar, Yah… aku sudah capai.” keluh Chaka pada ayahnya, Kirikabu.

“Makanan sudah siap. Ayah dan Chaka mandi saja dulu. Aku akan ada di ruang tamu saat kalian sudah selesai” kata Taka mengakhiri pembicaraan. Ia berbalik dan masuk lagi ke dalam rumah.

Akhirnya Kiribabu memutuskan untuk mengakhiri latihan untuk hari ini. Ia juga sadar kalau hari sudah menjelang malam. Seharusnya keluarganya berada di dalam untuk berbincang bersama sambil menyantap makan malam. Membicarakan tentang hal-hal ringan yang terjadi dalam kehidupan ini. Hingga akhirnya semua akan kembali ke kamar masing-masing dan tertidur lelap.

Chaka berjalan gontai ke dapur rumah. kakinya bergesekan dengan lantai kayu dan menimbulkan suara berisik yang tak terlalu keras. Taka yang sedang mengambil minum di dapur pun menegur Chaka yang ia anggap mengganggu.

“Hei, kalau jalan kakinya jangan diseret. Tidak enak didengarnya..” tegur Taka. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat adiknya yang belum mandi.

Chaka masih saja menyeret kakinya dengan pandangan loyo ke depan. Ia seperti sedang sakit parah.

“Kau kurang tidur ya?… sakit?” tanya Taka heran.

Chaka masih tidak menanggapinya. Ia lalu menghempaskan dirinya ke kursi kayu di dekat meja dapur dan meletakan tangan beserta kepalanya di sana. Dan tentu saja masih dengan tampang loyo.

“Haah… kurasa ayah terlalu berat memberikan latihannya padaku. Aku kan baru senpuku seminggu kemarin. Masa latihannya sampai segitu?… terus saja dari pagi sampai malam” keluh Chaka frustasi.

“Namanya juga ayah. Kemauannya pasti harus tercapai. Lagi pula, ayah memang sudah menganggap kalau kau telah dewasa. Jadi wajar saja porsi latihannya sebanyak itu” kata Taka.

“Tapi ini berlebihan. Kakak saja tidak sampai segitunya kan?” keluh Chaka lagi.

“Kau kan tampan, Ka. Jadi ayah berpikir, akan sangat mengecewakan kalau anak samurai tampan sepertimu tidak bisa bertarung dengan baik” balas Taka mengutarakan pendapatnya.

“Tapi aku tidak tahan dengan semua tekanan ini. Hah… Lama-lama aku bosan harus jadi samurai” Chaka mengacak-acak rambutnya sendiri.

Taka lumayan kaget saat Chaka berkata kalau ia bosan jadi samurai lagi. Memang perkataannya seperti hanya bercanda dan mengeluarkan keluh kesahnya selama masa latihan tadi. Pokoknya sesuatu ucapan yang tidak benar-benar dikatakan dengan sungguh. Mungkin hanya kiasan, tapi tetap saja itu tidak menyenangkan untuk didengar. Kirikabu tentu akan sangat kecewa jika mendengar hal itu. Dan satu lagi, menurut Taka, seorang samurai harusnya juga bisa menjaga sikap bicaranya. Mungkin akan berbahaya jika kita tidak menjaga omongan kita dan berkata asal-asalan.
Itu bukan sifat samurai sejati.

“Kau tak seharusnya berkata seperti itu..” kata Taka menasehati.

“Tapi aku memang sudah bosan dengan semua latihan ini..” Chaka terus mengeluh tanpa menyadari kesalahannya.

“Hati-hati..” kata Taka kepada Chaka. Kata-kata itu begitu singkat sampai Chaka tidak mengerti artinya.

“Apa maksud kakak?” tanya Chaka.

Taka pun mendekati Chaka dan berkata. “Lidahmu bisa setajam katana di waktu-waktu tertentu. Kadang bisa menyayat hati seseorang tanpa menyentuhnya sedikit pun. Dan itu tidak baik”

“Hah?” Chaka masih tidak mengerti.

“Sudahlah.. makin lama aku menjelaskan kau malah makin tidak mengerti. Aku mau ke ruang makan. Cepat mandi! Kalau tidak makananmu aku habiskan”

Beberapa menit kemudian, Kirikabu, Taka dan juga Chaka sudah berada di ruang makan. Mereka siap menyantap makan malam yang telah tersaji di meja makan. Chaka masih tidak mengerti akan kata-kata Taka tadi di dapur. Ia
hanya melupakannya begitu saja.

Mereka semua pun mulai menyantap makan malamnya. Semua kelihatan lahap. Apalagi Chaka, itu merupakan hari paling melelahkan baginya. Sayang.. di tengah waktu makan-makan itu ada seorang tetangga yang mengetuk
pintu pagar rumah. Ia melaporkan kalau 2 orang teman Kirikabu yang sesama samurai, Naito dan Tsuyo, baru saja pergi ke salah satu rumah geisha di dekat sana. Naito dan Tsuyo memang tipe samurai yang gampang terhasut oleh nafsu. Padahal kemarin mereka sudah berjanji kepada Kirikabu, tidak akan mengunjungi rumah geisha lagi. Di sana banyak hal-hal yang dapat membuat seorang lelaki lupa waktu. Akhirnya Kirikabu sebagai sesama samurai yang masih waras, harus menjadi orang yang menjaga mereka kalau sampai mereka kelewatan.

“Baiklah… aku akan kesana setelah aku selesai makan” kata Kirikabu ke tetangganya itu.

“Kemana?” Chaka yang tidak sengaja mendengar langsung keluar dari rumah dan mendekati ayahnya. “Tadi ayah bicara tentang apa?” tanyanya.

Kirikabu langsung mempersilahkan tentangganya untuk pulang ke rumah. Baru setelah itu ia menjawab pertanyaan Chaka. “Bukan urusanmu!”

“Loh?… kenapa?” tanya Chaka penuh keingintahuan. Ia berjalan mengikuti ayahnya yang berniat masuk ke dalam rumah.

“Karena kamu masih kecil..” Taka tiba-tiba keluar merangkul adiknya dan menjawab sendiri pertanyaan Chaka.

“Tidak!. Aku sudah besar kok. Aku kan sudah senpuku. Ayah juga menganggap kalau aku sudah dewasa, kan?” Chaka tetap bersikeras untuk mengetahui masalah ayahnya.

Kirikabu pun berjongkok dan menatap Chaka, anak keduanya itu. “Dengar… kau memang sudah senpuku. Dan aku juga sudah menganggap kau sebagai laki-laki dewasa. Hanya saja kedewasaanmu belum cukup untuk hal
yang ayah bicarakan tadi”

“Kenapa?… memang ayah mau kemana?” tanya Cakka lagi.

“Hfft… ayah mau ke rumah geisha. Menjemput teman-teman ayah di sana” jawab Kirikabu yang sudah bosan dengan sikap keras kepala anaknya.

“Aku ikut!” seru Chaka.

“Tidak boleh!” bantah Kirikabu.

“Kenapa?” Chaka tidak terima.

“Karena kamu masih kecil..” Lagi-lagi Taka yang menjawab pertanyaan Chaka, dan dengan jawaban yang sama juga.

“Aku sudah besar!…” seru Chaka pada Taka.

“Huhh… dengar!” Kirikabu menghadapkan Chaka kepada dirinya. “Rumah geisha itu bukan sesuatu yang bagus untuk dikunjungi seorang samurai. Mau samurai itu sudah besar ataupun masih kecil. Lagi
pula kau juga tidak akan mengerti apa-apa disana”

“Memang di sana ada apa?” tanya Chaka.

“Di sana ada geisha. Perempuan pemikat nafsu yang bisa membuat laki-laki lupa diri”

“Jadi geisha itu buruk?”

“Tidak. Bukan berarti geisha itu buruk. Bahkan geisha mungkin bisa disebut dengan istilah wanita sempurna”

“Maksudnya?”

“Sudah kubilang kau tidak akan mengerti..” kata Kirikabu sedikit mengeluh saking bosannya melayani pertanyaan anaknya.

“Kalau bahasa kasarnya,”wanita malam”. Tapi geisha jauh lebih terhormat dari pada itu” jelas Taka.

Chaka masih diam sambil mencerna kata-kata Taka di otaknya. “Jadi geisha pelacur?”

“Bukan… kan sudah ku bilang, geisha jauh lebih terhormat” kata Taka lagi.

Kirikabu jadi makin bosan. Ia rasa menghabiskan waktunya di sini, melayani pertanyaan-pertanyaan anaknya juga bisa dikatakan kegiatan membuang waktu. Toh, awalnya padahal dia ingin menutup informasi tentang rumah geisha dan geisha itu. Jadi ia akhiri pembicaraan itu dan segera bersiap untuk pergi ke rumah geisha.

“Sudahlah!… nanti aku malah membuang waktu. Jangan-jangan Naito dan Tsuyo sudah mabuk di sana” Kirikabu berdiri, dan bergegas keluar rumah. “Taka! jaga Chaka. Jangan sampai ia berbuat yang tidak-tidak”

“Ah… aku mau ikut..” keluh Chaka.

“Tidak boleh..” Taka sudah duluan memegang erat tangan adiknya. Akhirnya Kirikabu pun meninggalkan rumah. Taka mengajak Chaka masuk ke dalam lagi. Kalau bisa ia ingin langsung tidur, hari ini juga cukup melelahkan baginya.

Ketika Taka ingin membuka pintu rumah, ternyata kayunya macet. Karena butuh kedua tangan untuk mendorong pintu itu maka Taka melepaskan pegangannya pada Chaka baru setelah itu ia mendorong pintu rumah. Tapi ketika berbalik, ternyata Chaka sudah tidak ada di sana.

“Loh?… Chaka?”

Taka berlari ke pintu gerbang, melihat ke luar halaman rumah. Ternyata benar apa yang ia pikirkan. Chaka sudah kabur dan berlari di jalanan, mengikuti ayahnya yang pergi ke rumah geisha.

“Hoi! Chaka!… kakak tidak akan mengejarmu! Udara terlalu dingin! kakak malas jika harus berlari-lari jam segini! tidak peduli yah kalau kau hilang! itu salahmu sendiri!!..”

Taka pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Ia tau Chaka pasti akan berhasil mengikuti ayahnya. Dan jika ia berhasil, Kirikabu pasti akan mengetahui itu dan membawa Chaka pulang dan mungkin akan sekalian menghukumnya.

“Terserahlah… itu maunya sendiri..” ujar Taka.

Chaka masih berlari diantara bayang-bayang malam. Ia berlari di balik semak-semak agar keberadaannya tidak terlalu terlihat. Dan saat ayahnya sudah dekat, ia akan mengendap-ngendap tanpa diketahui sama sekali.

Hari menjelang malam. Chaka yang masih mengikuti ayahnya kini sudah sampai di jalan-jalan daerah Gion. Daerah di mana rumah geisha itu terletak. Lampu-lampu tergantung di tiang-tiang rumah. Cahayanya terang benderang, merefleksikan gemerlapnya daerah itu pada malam hari. Kereta kuda ala jepang berlalu lalang di sana. Di pinggir-pinggir jalan, banyak terlihat laki-laki bertopi dengan baju rapih dan tuxedo mereka. Dan mereka berjalan menuju ke satu tempat yang sama. Tempat yang Kirikabu tuju. Sebuah rumah geisha.

Kirikabu masuk ke dalam rumah geisha, memasuki lorong-lorongnya dan mencari 2 orang temannya, Naito dan Tsuyo. Namun ia tidak menyadari, kalau sebenarnya Chaka telah mengikutinya dari tadi. Kini Chaka berada di taman luar, tepat di sebelah lorong di mana Kirikabu berjalan. Chaka mengandalkan cahaya lampu di dalam rumah geisha untuk melihat bayang-bayang ayahnya. Hingga akhirnya ayahnya berhenti dan masuk ke sebuah ruangan di rumah geisha itu. Ruang langganan Naito dan Tsuyo di rumah geisha itu.

Chaka masih mengikuti ayahnya. Dari luar ia dengar seruan gembira dari dalam ruangan. Ituadalah Tsuyo yang tidak menyangka kalau Kirikabu akan datang ke rumah geisha ini. Yang lebih parah lagi, Naito malah mengajak Kirikabu untuk menghabiskan waktu sebentar di sini. Tadinya Kirikabu menolak, tapi karena tidak tahan melihat ekspresi memohon Naito dan Tsuyo yang sudah mabuk, akhirnya ia rela tinggal di sana untuk sementara.

Chaka mengintip ke dalam ruangan melalui celah pintu kertas yang terbuka sedikit. Terlihat Tsuyo dan Naito yang sedang bersenda gurau dengan para wanita yang berdandan putih di area muka sampai dadanya, mereka adalah geisha. Mereka memakai kimono warna-warni, namun kebanyakan memakai lapisan dalam warna merah. Bibir mereka berwarna merah cerah. rambut mereka disanggul rapi dengan jepitanberbunga sakura di kepalanya. Mereka menghidangkan minuman-minuman serta kue-kue kecil yang unik. Menjelaskan nama-nama dari kue itu, dan setelah
beberapa menit. Seorang geisha maju ke satu sisi ruangan yang luas, ditemani dengan satu orang geisha lagi yang memegang shamisen, sebuah alat musik tradisional Jepang yang tehniknya sama seperti gitar, namun bersuara seperti
kecapi.

Geisha yang maju ke depan mengambil kipasnya, ia seperti bersiap-siap untuk sesuatu. Chaka melihatnya dengan seksama, namun ia tidak sadar, ada juga sepasang mata yang melihatnya melakukan itu. Orang itumendekatinya, dan…

“Hei..”

“Hah!…”

Chaka terkejut. Ia berseru namun dengan suara kecil, hampir saja ia berteriak minta maaf, sudah mengira kalau ia tertangkap basah menguntit ayahnya sampai ke Gion. Namun ia terpana saat melihat seseorang yang tadi menegurnya dari belakang. Seorang gadis seumurannya, dengan lipstik dan eyeshadow tipis, dan kimono putih yang menawan. Memperlihatkan kecantikan naturalnya yang manis.

“Kau siapa?” tanya gadis itu.

“Ee… Sya… hh..” Cakka masih takjub untuk sejenak. Lalu ia bangun, dari posisi kagetnya dan menjauh dari celah pintu. Gadis itu masih mengikuti dirinya yang berjalan ke tengah taman.

“Siapa?” tanya gadis itu lagi.

Chaka berbalik menatap gadis itu. Ia ingin menyuruh gadis itu pergi dari sana. Gadis itu sih hanya menatap Chaka biasa, tapi malah Chaka yang tidak sanggup menatapnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya lagi.

Chaka sebenarnya masih kaget. Tapi ia memberanikan diri untuk menatap gadis itu dan membalas pertanyaannya.

“Kau juga siapa?..” Chaka malah balas bertanya. *Loh… Chaka kok ngawur? cie.. salting*

“Hah?”

“Kau juga sedang apa di sini?”

Ya.. Chaka tidak tau harus menjawab apa, hingga akhirnya ia malah melemparkan kembali pertanyaan itu pada sumbernya.

Gadis itu tetap menatap Chaka, tapi dengan pandangan heran. “Ih.. aneh..”

Chaka langsung menatap gadis itu tidak percaya. Masa ada orang yang bilang dia aneh? Tapi gadis itu malah tertawa.

“Ha ha… becanda kok. Ngeliatnya jangan gitu dong… tak usah dimasukan ke hati..” kata gadis itu ramah.

Chakka langsung mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Tapi sejujurnya ia mengagumi senyuman dan cara gadis itu tertawa. Sungguh manis dan lucu.

“Aku Aguni. Aku di sini sebagai maiko, geisha pemula” jelas gadis yang bernama Aguni itu.

Chaka masih diam. Ia hanya berkata “Oh..” dan masih bingung untuk memulai pembicaraan. Ia jarang menghabiskan waktu dengan anak-anak lain seumurannya, terutama perempuan.

“Siapa namamu?” tanya Aguni. Chaka masih kaku, tapi ia harus menjawab kan?

“Chaka” jawab Chaka singkat.

Dari matanya terlihat kalau Aguni sepertinya memang berniat untuk mengenal Chaka. Chaka sebenarnya masih agak canggung, tapi tidak mungkin kan ia mendiamkan Aguni begitu saja.

“Jadi… apakah kau saudara dari Naito dan Tsuyo?” tanya Aguni membuka pembicaraan.

“Bukan!” bantah Chaka langsung. Ia segera membungkuk dan berjongkok di tepi kolam tengah. Kata-kata ayahnya cukup mendeskripsikan kalau Naito maupun Tsuyo bukanlah samurai yang baik. Ia tidak mau disamakan dengan mereka. “Kalau disebut saudara, berarti kan mirip” pikirnya.

“Keluargaku tidak seperti mereka” tambah Chaka agak dingin.

Aguni ikut berjongkok disampingnya, memainkan air kolam yang beriak tenang. Ikan-ikan ikut berenang mendekatinya, mengikuti gerakan tangannya yang begerak ke kanan dan ke kiri dengan gemulai. Chaka terkesan. Entah mengapa aura Aguni benar-benar besar, namun menenangkan dan menghangatkan.

“Ya… ku kira juga begitu. Kau pasti lebih baik dari pada mereka” kata Aguni menyanjung Chaka. “Jadi bagaimana bisa kau sampai di sini?” tanya Aguni lagi.

“Aku mengikuti ayahku” jawab Chaka masih dengan ekspresi dingin.

“Paman Kirikabu?…” tebak Aguni. “Dia memang samurai terhormat. Kelakuannya sopan, emosi terkendali dan tidak gampang terhasut oleh apapun” tambahnya.

“Ya… itu ayahku” Chaka mengangguk. Ia merasa senang ayahnya dipuji. Hatinya mulai dapat berbaur dengan keadaan ini. “Bagaimana kau bisa tau?”

“Yang di ruangan saat itu kan hanya mereka… lagi pula, paman Kirikabu jarang datang ke sini. Paling ia hanya datang jika Naito dan Tsuyo membuat masalah. Aku juga baru melihatmu di sini. Dan aku dapat merasakan aura samurainya di dirimu.”

Lagi-lagi Chaka merasa tersanjung. Mungkin Geisha memang perempuan sempurna. Namun di otaknya tetap saja masih ada pikiran kalau Geisha adalah wanita penghasut yang buruk.

“Boleh aku bertanya?” tanya Chaka iseng. Ia memberanikan diri menatap Aguni yang masih bermain dengan ikan-ikannya.

“Tentu saja boleh” Aguni menjawab dengan senang hati. Ia menatap Chaka sambil tersenyum. Chaka yang tidak tahan dengan senyumannya pun langsung mengalihkan pandangannya ke langit.

“Apa sebenarnya Geisha itu?” tanya Chaka. “Mengapa kau ingin menjadi salah satu dari mereka?”

Aguni tersenyum. Ia menikmati angin malam sejenak, menghirup wangi-wangi malam sebelum benar-benar membuka pikirannya.

“Geisha itu special. Tidak semua wanita bisa melakukan apa yang geisha bisa lakukan. Dan di samping semua itu… aku ingin menghibur orang” jelas Aguni dengan tenang.

Chaka masih belum puas dengan penjelasan Aguni, maka ia bertanya kembali.

“Memang apa yang bisa geisha lakukan?” tanyanya.

Aguni tersenyum manis. Ia berdiri dan meraih kipas kertasnya.

“Kami para maiko belum bisa disebut geisha. Jadi aku belum benar-benar bisa melakukan apa yang geisha biasa lakukan. Geisha seniorku berkata, inti dari seorang geisha adalah penampil sejati..” Aguni mulai memainkan kipasnya. Dengan sangat cekatan, ia tekuk lututnya ke depan, dan ia gantung kipasnya di jari tengah, telunjuk dan ibu jarinya. Lalu ia goyang kipas itu ke kiri dan ke kanan.

“Mereka selalu menghadirkan suatu seni di dalam gerakan dan tingkah laku mereka. Untuk itu kami harus giat berlatih” Masih dalam posisi sebelumnya, dengan cepat ia putar posisi kepasnya seberti piring yang terbelik, dan ia putar kipas itu dengan 1 jari telunjuk saja.

“Kita di ajari menari, bernyanyi, dan memainkan berbagai alat musik, contohnya shamisen” Ia berputar dengan tangan yang terus memutar kipas. Sampai akhirnya satu putaran terlewati.

“Kami juga harus terbiasa untuk berjalan menggunakan sandal tinggi. Dan geisha seniorku pernah berkata,..”

*SRAK!*

Kipas itu bergenti berputar, terlontar sekitar 30 cm dari tangan dan tertangkap dengan mulusnya di tangan Aguni. Aguni tersenyum simple, tetap manis, namun lebih Anggun.

“…Seorang geisha sejati, dapat menghentikan langkah seorang pria,.. hanya dengan 1 lirikan mata”

Aguni melirikan matanya ke Chaka. Sangat tajam, jauh ke dalam diri Chaka. Keadaan hening untuk sejenak. Sepertinya alam pun ikut terhipnotis. Lalu Aguni tersenyum riang, seketika itu pun Chaka terbangun dari rasa kagumnya akan tarian Aguni tadi.

“Kau belum melihat bagaimana geisha seniorku menari. Ia jauh lebih hebat…” ungkap Aguni dengan jujur.

Chaka agak melongo. Jauh lebih hebat?… baginya tarian tadi saja sudah sangat hebat.

“Kalau begitu… kata-kata ayahku lumayan benar dong?… Geisha itu wanita sempurna” ujar Chaka.

“Yah… kau beloh memanggil kami seperti itu… sebaliknya.. bagiku, seorang samurai adalah laki-laki sempurna” Agni balas berujar. Sepertinya pelajaran ‘Art of Conversation’ dari geisha sudah sangat ia kuasai ilmunya.

“Lalu bagaimana dengan samurai?… kau calon samurai kan?… apa yang kau pelajari? sulitkah itu?” tanya Aguni.

“Yah… lumayan…” Chaka semakin tenggelam dalam pembicaraan itu. Saat ini tanpa masuk ke rumah geisha pun rasanya ia sudah dapat merasakan pelayanan eksklusif geisha-geisha di Gion. Malah ia dapat menikmatinya dengan ditemani cahaya bulan purnama. Suara-suara binatang malam, dan gemericik air kolam yang beriak-riak kecil.

“Menjadi samurai artinya kita harus kuat. Harus berani berkorban… dan berani mati..” kata Chaka memulai ceritanya. Aguni memperhatikan dengan seksama, dan Chaka melanjutkan.

“Setelah seorang anak samurai laki-laki senpuku, kami mulai di latih menggunakan katana. Dan bukan hanya katana, kami juga belajar bagaimana caranya memanah dengan baik, menunggang kuda, memakai senjata tongkat dan beberapa tehnik pertahanan diri lainnya. Di dalam pengajaran itu juga tersisip beberapa aspek kehidupan, seperti kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dan
yang lainnya. Tapi aspek yang paling mendominasi adalah aspek spiritual. Ayahku percaya kalau katana adalah roh dari dirinya sendiri.” jelas Chaka panjang lebar.

“Wow…” Aguni menunjukan rasa kagumnya. Chaka tersenyum bangga, hatinya puas dapat membuat Aguni kagum juga. Tadi kan ia sudah dibuat kagum oleh cerita geisha Aguni.

“Samurai memang kuat..” ucap Aguni dengan nada kagum. Ia memejamkan mata untuk beberapa saat, lalu tertawa kecil karena sesuatu yang baru saja ia bayangkan tadi.

“Chaka…” panggil Aguni.

“Ya?” Chaka menjawab dengan mata yang masih memandang ke langit.

“Kalau diperhatikan… sebenarnya geisha dan samurai hampir sama ya?…” kata Aguni. Nada ia berbicara seperti meminta persetujuan Chaka.

Chaka tidak terlalu mengerti tentang hal itu. Memang apa samanya Geisha dan Samurai? Baginya samurai malah lebih kuat dari geisha. Jauh lebih kuat. Dan seiring dengan pikirannya itu, egonya mulai muncul.

“Ah tidak…” balas Chaka. “Samurai jelas-jelas berbeda dari geisha. Samurai jauh lebih kuat.” terangnya pasti.

“Itu masalah gender. Seorang pria terutama samurai pasti mempunyai fisik yang kuat. Tapi Geisa juga kuat kok. Bukan fisik… tapi mental dan hatinya.” Aguni mengubah posisi duduknya. Ia menekuk lututnya ke depan dan melipat kedua tangannya di atas lutut.

“Tapi mereka tetap saja berbeda” kata Chaka tegas.

“Memang ada yang berbeda. Tapi ada juga yang sama kan?” sanggah Aguni.

“Tidak. Geisha tidak mungkin bisa seperti samurai!..” kata Chaka tegas.

“Oh… lalu bagaimana dengan samurai? apa kau pikir kalian bisa jadi geisha?” balas Aguni ketus. Wajahnya berangsur murung. Ia mulai bosan pada sikap Chaka yang keras kepala. Dan akhirnya ia hanya membenamkan kepalanya pada kedua tangan yang berlipatan.

Chaka tidak mengatakan sepatah kata pun. Aguni yang merasa sebagai calon geisha jadi merasa bersalah. Seharusnya ia tidak boleh membuat lawan bicaranya kesal.

“Maaf kalau aku kelewatan. Aku hanya ingin berkata kalau sebenarnya ada beberapa aspek di ajaran samurai yang sama dengan aspek pelajaran geisha. Misalnya aspek tata-krama, kehormatan, kesetiaan, dan kemurnian. Itu saja…” jelas Aguni masih sedikit murung.

Chaka jadi bertampang dingin. Seperti sedang tidak bisa diajak bicara. Kalau bisa pun mungkin arah pembicaraannya akan menuju ke akhir yang buruk.

“Hhh… Pokoknya yang aku tau, Geisha dan samurai berbeda” ucap Chaka masih teguh pada pendapatnya.

“Kau keras kepala!…” keluh Aguni. Kali ini ia benar-benar meluapkan kekesalannya.

“Bukan. Aku hanya mengatakan kebenarannya!” balas Chaka. Emosinya telah terpancing jauh. Kini ia mulai membentak Aguni.

“Bohong! kau hanya tidak bisa menerima kalau ada beberapa persamaan antara Geisha dan Samurai. Kau selalu ingin menganggap kalau samurai lah yang terkuat!”

“Ya! memang benar! ada masalah dengan itu?”

“Ada! kenapa kau tidak suka jika ada kesamaan antara Geisha dan samurai?”

“Karena Geisha itu buruk!” bentak Chaka keras.

Aguni tersentak kaget, matanya mulai berkaca-kaca, dan air matanya hampir mengalir.

“Geisha Itu Pelacur!!”

*SRAKK!!*

Chaka merasakan sakit di lehernya. Kipas yang tadi Aguni pakai untuk menari telah melayang ke lehernya dan mendarat dengan kasar. Membekaskan 1 goresan kecil di leher samping bagian bawah. Ia menoleh ke
samping dan Aguni telah berdiri menghadap ke dirinya. Tangannya yang tadi di pakai untuk melempar kipas kertas ke leher Chaka masih terangkat ke depan. Matanya sembab, tubuhnya kaku, nafasnya terdengar berat, dan kini hatinya
sungguh-sungguh sakit.

Aguni menangis tertahan. Ia menggelengkan kepalanya dan berkata dengan segenap perasaannya.

“Geisha menjual kemampuan mereka!.. Bukan tubuh!!”

*GRAKK!*

Pintu ruangan terbuka. Terlihat suasana ruangan yang masih penuh dengan canda, tawa, hiburan, perbincangan yang ringan dan dapat membuat kita melupakan semua masalah. Sementara di luar, yang ada hanya suasana suram. Aguni masih menangis atas perkataan Chaka yang tajam. Walaupun mereka sama-sama terkejut, namun Aguni lah yang paling sakit. Saat itu, Cihara, geisha seniornya melihat dirinya berdiri di sana, menangis tersedu dengan tampak buruk
yang tidak seharusnya dilihat orang. Dan ia makin menangis saat Oruka, rival dari Cihara duduk di sana, ikut melihat dirinya dengan wajah melecehkan. Dengan ini maka bahan tertawaan Oruka tentang Cihara akan semakin bertambah.

“Kakak…” Aguni merintih pelan. Lalu ia segera berlari dan pergi dari tempat itu.

Chaka terdiam dalam bingung. Kini ia baru mengerti apa maksud ucapan Taka sore tadi. Lidahnya saat itu memang sudah setajam katana. Bahkan lebih tajam. Ya.. sangat tajam.

Di jalan, Kirikabu dan Chaka berjalan dengan mata yang agak kuyu. Naito dan Tsuyo sudah di pulangkan duluan. Berkat perkataan Chaka tadi Kirikabu sampai harus repot-repot meminta maaf pada Cihara. Katanya Aguni sangat sakit hati mendengar kata-kata Chaka.

Chaka menutup mulutnya. Luka di lehernya masih membekas, membuatnya ingat akan kejadian tadi. Ia takut lidahnya tiba-tiba jadi tajam lagi dan tanpa sengaja menyakiti hati seseorang yang tidak bersalah.

“Hei..” panggil Kirikabu.

Chaka masih tetap diam. Ia terus saja berjalan dengan pandangan kosong.

“Jadi apa yang kau dapat di rumah geisha tadi?” tanya Kirikabu.

Chaka langsung lesu. Tangannya meraba sisi samping lehernya bagian bawah. “Sakit…” jawabnya.

“Lalu?” tanya Kirikabu lagi.

“Lidahku sudah setajam katana…” jawab Chaka mengulang perkataan Taka.

Kirikabu mengangguk. Setidaknnya ada satu pelajaran yang Chaka dapat di sana.

Chaka dan Kirikabu akhirnya sampai di rumah. Taka sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah penuh semangat. Tentunya semangat untuk mendengar hukuman apa yang akan Kirikabu jatuhkan pada Chaka. Namun apa yang ditunggu Taka akhirnya tidak akan datang juga. Setelah Chaka dan Kirikabu masuk Kirikabu malah menyuruh Chaka untuk segera masuk kamar dan tidur. Karena esok ia akan latihan lagi.

“Tanpa hukuman??” tanya Taka pada ayahnya dengan penuh heran.

“Sudahlah… tanpa aku hukum juga ia sudah mendapat hukuman dari rasa bersalahnya. Oh ya… mungkin kau mau membantu mengobati luka di lehernya. Tadi ia sempat terkena sayatan kipas dari salah satu maiko di Gion”

Kata-kata tersembunyi ayahnya membuat Taka penasaran akan kejadian di rumah geisha tadi. Akhirnya ia pun mendatangi Chaka dan menanyakan kejadian apa saja yang terjadi di sana. Setelah dibujuk akhrinya Chaka mau
menceritakannya, tentu sambil diobati lehernya oleh Taka.

“Jadi… apa yang seharusnya aku lakukan?” tanya Chaka setelah ia selesai menceritakan keseluruhan cerita di Gion kepada Taka.

“Ya… seharusnya sih kau meminta maaf..” jawab Taka simple.

“Tapi bagaimana caranya?… mungkin dia tidak akan mau bertemu denganku lagi. Kalaupun mau… bagaimana bisa aku kembali ke rumah geisha itu?” tanya Chaka kebingungan. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Hm…” Taka ikut berpikir. Keduanya sama-sama mencari solusi agar bisa pergi ke rumah geisha. “Sepertinya kita harus pergi tanpa sepengetahuan ayah…”

“Kita?… maksudnya kakak juga mau ke Gion?” tanya Chaka tidak percaya.

“Hei!.. jangan salah sangka dulu. Aku ke Gion bukan ingin ke rumah geisha. Aku hanya ingin melihat-lihat keadaan di sana. Siapa tau aku bisa membeli sesuatu di salah satu toko di Gion. Aku butuh pedang kecil baru
untuk keperluan latihan”

“Oh… bagus, deh! berarti kalau aku ketahuan, kakak juga ikut dihukum!.. Ha ha ha!”

“Haa! dasar kamu! bisanya ngetawain orang..”

Akhirnya Chaka dan Taka sepakat kalau esoknya mereka akan pergi ke Gion sekitar jam 7 malam. Taka beralasan kalau salah satu temannya di daerah sekitar Gion memintanya untuk berkunjung sambil memperlihatkan beberapa tekhnik bermain pedang. Dan Chaka juga sekalian diajak agar bisa ikut belajar. Tanpa disangka-sangka, ternyata Kirikabu percaya begitu saja. Malam itu ia memang kelewat capek, siangnya ia tidak membimbing Chaka latihan, melainkan pergi ke suatu tempat untuk urusan pribadi. Jadi ia hanya membiarkan kedua anaknya pergi keluar. Lagi pula ada Taka. Ia sudah cukup umur untuk tau mana hal yang baik dan mana yang tidak baik. Maka sekitar jam 19.05, Chaka dan Taka mulai berangkat menuju Gion.

Setelah setengah jam berjalan, akhirnya mereka berdua sampai di pusat kota. Chaka langsung diantar Taka ke rumah geisha kemarin. Dan kebetulan, geisha Cihara masih berada di luar, ia baru melepas sandal tingginya dan hendak masuk ke dalam. Taka mencolek pundaknya dan ketika Cihara menoleh ia langsung membungkuk sedikit, memberikan salam hormat.

“Maaf… anda geisha Cihara kan?… senior dari maiko Aguni..” kata Taka hati-hati.

Cihara mengangguk pelan. Gerak-geriknya begitu Anggun. “Ya… benar..” lalu ia melirik ke Chaka yang berdiri sambil menunduk di sebelah Taka. “Kau pasti anak laki-laki yang kemarin yang membuat Aguni menangis” ujarnya. Cihara menaikan dagu Chaka, membuat Chaka memandang wajahnya.

“Ya..” Taka mengiyakan ujaran Cihara.

Cihara tersenyum dan berkata, “Ada yang bisa ku bantu?”

“Ada.. ng… Chaka… dia ingin bertemu dengan Aguni sebentar saja. Bolehkah itu?…” kata Taka mewakili Chaka.

“Tentu saja…” Cihara menarik siku Chaka lembut. “Mari ikut ke dalam. Tadi aku mengajaknya ikut ke sini… dan dia sudah masuk duluan. Akan ku antar kau ke taman tengah. Mungkin akan lebih baik jika kau berbicara berdua dengannya di sana..” jelas Cihara tenang.

Chaka menurut saja. Cihara kelihatannya baik. Geisha yang professional sekali. Setelah Chaka dan Cihara tidak kelihatan lagi, Taka pun jalan-jalan di sekitar rumah geisha. Sesuai dengan harapannya, ada beberapa toko yang menjual barang-barang menarik. Beberapa benda kuno, hiasan, pedang-pedang, dan masih banyak lagi. Karena makanan yang ia makan tadi tidak cukup banyak, akhirnya ia membeli beberapa jajanan kue untuk mengisi perutnya yang masih kosong.

Chaka berdiri penuh harap akan kedatangan Aguni di taman ini. Ia menunduk, wajahnya yang tampan terhalangi oleh poninya yang agak panjang. Ia menutup matanya dan mengerutkan dahinya, sibuk memikirkan rangkaian kata-kata maaf yang akan ia lontarkan nanti ke Aguni.

“ehem…”

Terdengar suara deheman dari arah belakang Chaka. Persis di depan mintu keluar menuju taman tempatnya berdiri. Suara itu adalah suara seorang gadis, dan gadis itu adalah Aguni.

Chaka berbalik, menatap Aguni agak gugup. Entah gugup karena terkejut, atau gugup karena ia belum pasti dengan kata-kata maafnya pada Aguni. Yang pasti setengah dari rasa gugup itu adalah hasil dari satu sisi hati Chaka yang agak pangling melihat dandanan Aguni saat itu. Sebenarnya tidak pas juga di bilang dandanan, karena Aguni memang tidak memakai dandanan apapun saat itu. Hanya tubunya yang di balut kimono dan rambutnya yang disanggul simple. Beberapa helai rambut tersisa dan dibiarkan tergerai sampai bahu. Wajah dan kulitnya asli, tanpa ada bahan apapun yang menutupi. Sementara Chaka malah menganggap dandanan Aguni kali ini lebih manis dari pada yang kemarin. Kini
Aguni terlihat lebih muda dan manis.

“Mau apa?…” tanya Aguni. Ia bingung, dari tadi Chaka malah diam dengan ekspresi yang sedikit canggung.

“Oh!… oh… itu..” dan setelah ditegur pun Chaka akhirnya sadar. Ia menatap wajah Aguni dengan yakin dan berkata. “Aku mau minta maaf…”

Mata Aguni berkedip tiba-tiba. Ia terus mendengarkan dengan seksama.

“Soal yang kemarin…. itu… aku tidak mengatakannya dengan sengaja. Aku sama sekali tidak bermaksud menjelekan dirimu ataupun geisha lainnya… maaf… aku kelewat emosi…” ucap Chaka dengan segenap hatinya.

Aguni masih terdiam.

Chaka masih berdiri, namun sekarang ia menundukan kepalanya. Dalam posisi itu ia juga mengaku, kalau dirinya sebagai calon samurai juga merasa bersalah karena telah melanggar salah satu aspek dari pelajaran samurai yaitu tata-krama.

Lalu Chaka berlutut di depan Aguni dan menunduk sambil memohon. “aku mohon maafkan aku… aku akan lakukan apa saja agar kau mau memaafkanku…” ucapnya dengan penuh perasaan.

Aguni gigit bibir. Ia tidak menyangka Chaka akan segininya. Ia mundur selangkah dan berjongkok di depan Chaka. Lalu sambil menyentuh pundak Chaka ia berkata.

“Tidak usah seperti itu…” Aguni meraih tangan Chaka dengan lembut dan mengajaknya berdiri kembali.

Chaka masih diam dengan muka penuh rasa menyesal. Ia masih terus meminta maaf pada Aguni. Tekadnya; sebelum Aguni memaafkannya ia tidak akan pulang ke rumah.

Sementara itu, Aguni menatap Chaka dengan pandangan keibuan. Ia tersenyum ramah dan berkata. “Sudah aku maafkan kok… semuanya telah aku lupakan..”

“Eh’… hah?” Chaka kaget. Ia tidak menyangka akan dimaafkan segampang itu.

“Ha ha!…” Aguni tertawa riang melihat tampang Chaka saat itu. Melongo seakan tidak tau apa-apa.

“Jadi… sudah di maafkan?…” tanya Chaka meyakinkan.

“Ya!… sudah..” jawab Agni masih dengan senyum riang. Matanya menyipit membuat dirinya kelihatan manis sekali.

“A.. aku kira permohonan maaf tadi belum cukup…” kata Chaka jujur.

“Ah… itu sih sudah lebih dari cukup… aku saja tidak menyangka kau yang kemarin bicaranya agak kasar itu bisa merangkai kalimat maaf seperti tadi… Lagi pula.. asalkan kata-kata itu diucapkan sepenuh hati, mau
sependek apapun kata-katanya pasti pesannya akan sampai ke hati kita..”

“Ja… jadi… sudah dimaafkan??…” Chaka masih saja tidak percaya.

Aguni tidak perlu lagi berkata apapun. Cukup dengan senyuman manis dan 1 kali anggukan, ia menyampaikan kata ‘Ya’.

“Hh’… Yes!!” Chaka kegirangan. Pasalnya kalau sampai ia tidak di maafkan oleh Aguni, mungkin ia tidak akan bisa tidur untuk malam ini dan untuk malam-malam selanjutnya. Akhirnya target kecil itu telah tercapai.

Chaka maju selangkah mendekati Aguni, perasaan senangnya membuatnya tidak sadar. Ia hampir membawa Aguni ke dalam pelukannya. Tapi dorongan kecil di dadanya dari Aguni membuat ia sadar dan mundur kembali.
Langsung salting deh…

Cakka tiba-tiba gugup lagi. Ketika ia mundur Aguni sudah menundukan kepalanya dan berdiri diam di tempat. Chaka bingung, kok belakangan ini ia selalu salah. Ia takut jangan-jangan gerakan mendadaknya itu membuat Aguni jadi kurang nyaman berada di dekatnya. Tanpa sadar ia pun juga ikut menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau bilang maaf lagi.. malu… Tapi apa yang mau di katakan lagi coba?

“Maaf…” kata Chaka akhirnya.

Aguni tersenyum simple dan mengangkat kepalanya. “Tak apa…” lalu Ia melangkah ke depan 1 kali, mendekati Chaka. “… Aku anggap itu sebagai tanda persahabatan..”

Chaka tersenyum. Ia tambah lega karena Aguni tidak hanya memaafkannya tapi juga memperbolehkannya menjadi sahabat.

“Tapi..” Aguni menambahkan kalimatnya. Chaka langsung bersiap untuk mendengar kelanjutan dari kata-kata Aguni itu. Biasanya syarat seorang gadis tidaklah mudah, apalagi yang hampir terpeluk.

“Maukah kau berkunjung lagi ke sini… saat kita sudah dewasa… dan aku sudah menjadi geisha… Aku janji, pasti aku yang akan pertama kali melayanimu…” kata Aguni senang. Ia tersenyum sambil menunggu jawaban dari Chaka.

‘Berkunjung lagi ke Gion?… Hm.. rasanya tidak akan semudah itu… Tapi setidaknya.. aku sudah bisa berteman dengan Aguni’ pikir Chaka.

Ia pun menggandeng tangan Aguni dengan lembut dan menggoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan. Lalu dengan mata yang saling menatap satu sama lain, Chaka berkata.

“Ya… semoga…”

^_^

~ fin ~

Amanatnya:
Lidah kamu kadang bisa setajam katana, jadi jangan ngomong asal-asalan.
Geisha itu bukan pelacur! Mereka menjual kemampuan, bukan tubuh. (jadi inget anak ic ngejual kemampuan bukan tampang mereka)
Jangan gampang terbawa emosi dan ego. Ayo.. siapa yang suka marah2 di sini? dijaga yah habis ini, dan.. kalau melakukan kesalahan, segera minta
maaf yah, dan, harus dari hati!

Well… thats for now. Thanks for reading. Semoga semua amanatnya bisa keambil dan menjadi inspirasi! ^_^

Wassalamualaikum wr. wb.

Saniyyah Ardina K.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

    • DINDApotter_Daindehh
    • May 15th, 2010

    aku udah baca di ICL! ceritanya keren! bener-bener ada maknanya! terus… keren dahh! bikin cerpen lagi! ditunggu bangets!

    • Saniyyah
    • May 16th, 2010

    Makasih! ^-^
    Tunggu aja yah… cerpen baru is coming soon..

  1. No trackbacks yet.