Mimpi Idola…
Ya… seperti yang telah di tulis di atas. “Mimpi Idola”, dlm kesempatan ini gue (pake gue aja dulu yah. Nanti agak kebawahan baru pakai aku kamu) ingin bercerita tentang Mimpi…
Bukan… Bukan mimpi seorang idola, bukan mimpi seorang gue, Tapi mimpi gue tentang idola gue. He he sebenernya sih gak ada idola gue yang paling gue idola in di situ. Tapi setidaknya ada beberapa orang yang termasuk dalam komunitas idola gue. Yaitu, “Idola Cilik!!… Idola Semua Idola!!…”
And Oh!.. untuk sekedar pemberitahuan, Mimpi gue ini kadang over-overan. Gak masuk akal banget deh hal-hal yang ada di dalamnya. Yah.. Namanya juga mimpi.. Mohon di maklumi..
–
Jadi pada awalnya, aku lagi di kamar eyang. Bareng keluarga, jadi kayaknya lagi pada siap-siap mau ada acara gitu. Di sana ada tante, bunda, beberapa kerabat yang juga bantu, serta ada saudara terdekat gue; Nabiilah. Juga ada adek Afifah di sana. Dan berdasarkan baju yang tante, bunda, dan kerabat-kerabatku pake, kayaknya lagi mau ada nikahan deh. Mereka pake baju kebaya dengan atasan bernuansa hijau lumut, beberapa orang terlihat sudah di sanggul, lalu bawahannya pakai kain batik. Khas kebaya banget deh!
Sementara aku, Billa, dan juga adek Afifah, masih pakai baju biasa alias belum mandi. Kayaknya habis ini giliran kita untuk mandi. Tentunya bergiliran dong. Kita akan bergiliran mandi setelah seseorang yang sedang mandi di kamar eyang ini selesai mandi. Aku sama sekali nggak tau siapa yang sedang mandi saat itu. Aku cuma ngeliatiiin aja pintunya yang bernuansa indigo gelap. Biila dan adek Afifah lagi ngomongin sesuatu tapi gak kedengeran lagi ngomongin apa?. Ya udah, terpaksa aku diam.
Lalu setelah beberapa detik, suara gebyar-gebyur air di kamar mandi berhenti. Kedenger suara kunci selot yang di buka. Dan keluarlah orang yang tadi baru mandi itu. Nah! Pas ngeliat orang itu aku langsung nganga. Nggak ngedip mata sama sekali, kayaknya aku aja serasa lupa nafas. Percaya atau enggak, Itu RIO kawan-kawan.
RIO Idola Cilik 3 yang terkenal dengan suara lembutnya yang bisa menyayat-nyayat hati (jiah lebay…)
Rio sih seperti biasa cakep-cakep aja. Layaknya baru keluar dari lorong backstage di panggung itu, dia keluar dengan senyum manis dan simpelnya, langsung terngiang suara serek-serek basahnya deh di telinga. Ganteng sih ganteng, Keren sih keren, cuma yang gue bingungin, Kenapa si Rio yang udah jelas-jelas keturuan adam yang keren ini mandi di kamar mandi eyang yang kayaknya udah jadi tempat istirahat kaum hawa saat itu??. Nggak make sense aja.
Sekali lagi, namanya juga mimpi. Oh iya, bajunya yang dia pake pas itu bernuansa putih hijau. Celananya panjang bermotif batik dengan warna hijau muda, lalu bajunya kaos putih oblong bertulisan nama sebuah band. Tapi aku nggak jelas apa nama bandnya. yang pasti dia pakai kalung dari tali coklat berbandulkan gading gajah kecil, dan mengenakan gelang rantai yang biasa ia pakai. Lalu Rio berlalu sambil membawa gayung warna hijau lime dengan sabun, odol, sikat gigi, dan juga shampoo nya. Kayaknya Rio baru keramas, dia nyeker di kamar eyang ku. Ngelewatin para tante dan ibu-ibu sambil sedikit membungkuk dan mengangguk sambil tersenyum kepada mereka semua.
Aku masih terus merhatiin Rio. Eh nggak disangka-sangka! Rio menatap aku terus nunduk dan tersenyum ramah.
Owh… hatiku merekah!… Jiah! Ha ha… nggak nyangka sekali lagi. Rio kan idola semua idola, eh sempet-sempenya aja senyum ke aku. Tapi iya yah… kayaknya aku rasa, belakangan ini (dari episode 4 besar idola cilik 3) Rio kelihatan rendah hati dan ramah banget di antara kontestan lainnya. Itu menurutku sih… Gak tau orang yang diluar sana (dikasih kesempatan bicara di kolom comment loh!^_^).
Ya udah deh… Akhirnya aku mandi.
…
Nah Rio udah nggak terlalu kelihatan setelah itu. Setelah selesai mandi, aku pun keluar dari kamar, melihat suasana acara yang udah lumayan penuh. Tapi ketika melihat keadaan di luar, langsung lewat satu buah ujaran di pikiranku. “Ini nikahan atau acara ngajian??..” Lah… Lagian, kok lagi mau ada acara nikahan, adanya malah karpet-karpet yang di gelar?. Terus aku baru nyadar, “Oh iya!.. yang namanya nikahan kan ada resepsi ada akad nikah, mungkin ini akad nikahnya..” gitu pikirku.
Lalu, ketika sedang melihat-lihat gambar berbagai kaligrafi di karpet, aku dipanggil tante dari jauh. Aku langsung ngedeketin tante, terus aku diajak duduk di salah satu ruangan di rumah. Mungkin karena undangannya sangat banyak, kita para cewek yang saat itu tidak terlalu berpengaruh dalam akad nikah di suruh untuk duduk di sudut lain rumah agar tidak menyesakkan area tempat akad nikah. Aku sih setuju-setuju aja. Kita berjalan di suatu koridor yang cerah dengan cat-cat tembok putih namun terkena cahaya lampu kuning, sehingga nuansanya jadi kuning cerah.
Hm… Kok nuansanya jadi bukan dirumah lagi yah?? kok jadi kayak di hotel??
Setelah beberapa menit, akhirnya kita sampai di depan suatu ruangan, ruangan itu kecil, paling… 2 m x 1m. Dan aku pun sadar kenapa ruangan itu sangat kecil. Kawan-kawan semua, jadi ternyata.. aku di ajak menunggu di kamar mandi??
Yup! Kamar mandi??… aku sendiri bertanya-tanya – kenapa??. Eh, pas lagi ngerutin kening kayak gitu, tante-tante dan kerabat keluarga ku mengambil satu orang masing-masing satu bantal, terus bantalnya di taroh di tehel kamar mandi buat alasan duduk.
Eheheh…
Aku ngerasa akward di sini. para kerabat dan tante ku, juga ada Biila di situ, mereka kelihatan fine-fine aja duduk di situ. Dan aku bertanya-tanya kenapa?. Well.. yang pasti aku langsung menolak ajakan untuk duduk di situ. Tentu saja dengan baik-baik seperti, “Eh… nggak usah terima kasih…” . Alasannya… Yah.. aku nggak niat aja duduk di atas tehel seperti itu. Nggak ada masalah sih tentang tehelnya, tapi aku nggak nyaman kalo suruh duduk di tempat lembab kayak gitu. Belom kesentuh aja aku udah ngebayangin basah-basahnya itu tehel. Ya udah, aku milih duduk di luar kamar mandi, di situ udah disediain tempat buat duduk kok. Tapi bukan buat keluarga ku sih… kayak buat umum gitu. Tapi toh nggak ada yang dudukin. Setidaknya untuk sementara aku bisa duduk di tempat kering itu.
Waktu terus berlanjut sampai beberapa menit. Aku lihat para kerabat-kerabat jauh mulai berdatangan. Dan setelah di perhatikan, ternyata tempat yang aku duduki itu adalah tempat duduk untuk keluarga lain. (kalo udah nikahan… istilahnya keluarga mertua). Ya udah… nggak tau kenapa aku ngerasa biasa-biasa aja duduk di situ. Cuek bebek, padahal orang-orang lain yang duduk di situ rata-rata cowok. Mana nggak sekeluarga lagi. Tapi tiba-tiba, mataku tertarik pada pemandangan di depanku. Ya! Oh my! This is a miracle!
Ray dan Alvin duduk di depanku dengan jarak kurang lebih 30 cm. Ah… senangnya! bisa melihat mereka dari dekat. Tapi kurasa ada yang terbalik disini. Ray… dia kan islam, dan Alvin… dia kan kristen. Tapi anehnya, malah Ray yang berbaju ala kristen, hitam, jas, dll. Sementara Alvin, dia pakai baju koko putih agak ke-krem-an. Terus Alvin pake peci yang warnanya senada dengan baju koko, dan sarung warna merah. Alvin pake baju itu tetep manis. Cueknya juga masih aja keliatan. Aduh Vin.. Vin..
Sebenernya masih banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi. Ada pas Nova tiba-tiba muncul, terus Ray ngejar Nova dan tiba-tiba aja ruangan berubah jadi seperti pasar mayestik, terus Nova bisa terbang. Tapi… ah… nanti kebanyakan. Mimpinya udah lama juga sih…
Well… udah ya… sampai sini aja. Thank you udah mau baca cerita mimpi yang agak nggak masuk akal ini.
Wassalam.. ^-^
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
No comments yet.