Posts Tagged ‘ Idola cilik

Ada Cinta_1

Assalamualaikum Wr. Wb.

Untuk para pembaca, terima kasih telah mengunjungi blog ini dan menyempatkan waktunya untuk membaca di sini. Setelah lama tidak menge-post cerita tentang ic (idola cilik) di sini, atas peermintaan salah satu pembaca, saya memutuskan untuk mem-publish kembali cerita ada cinta (kurang lebih tahun 2009-2010) di sini dalam versi ‘telah direvisi’. Setelah mengetahui ternyata banyak sekali kesalahan (penulisan tanda baca, dsb) yang dibuat dulu, semoga versi kali ini dapat lebih memuaskan para pembaca dan memperjelas cerita dengan lebih baik.

Semoga cerita ini masih dapat diterima dan disukai para pencinta ic dan pembacanya.

Oke, Happy Reading!! and please comment..

ps: Kalau mau dilanjutin, komen ya^^

Ada cinta_1

Ada cinta. Semua manusia memiliki hati, dengan begitu mereka punya cinta. Saat cinta itu dibantah, penderitaan pasti menjadi akhir sebuah cerita. Namun hidup itu perjuangan, pengembaraan dalam menemukan cinta, sekaligus menjaga yang telah ada. Walau kadang, kau harus mengorbankan
salah satunya“.

Hujan turun sangat deras siang ini dan kelihatannya tidak akan berhenti dalam tempo waktu yang dekat. Siang hari yang harusnya panas karena terik matahari, kini menjada dingin, mendung, abu-abu. Di sebuah sekolah di kota Bandung, beberapa anak eskul basket mengeluh karena seharusnya mereka latihan untuk kejuaraan bulan depan. Begitu juga anak eskul saman yang berlatih di mushola. Ternyata atap mushola sudah bocor. Kelihatannya mushola tidak dapat dipakai untuk beberapa hari kedepan. Sejadah-sejadah yang ditaruh berjejeran di lantai mushola ikut basah dan harus di cuci.

Mereka yang punya jemputan segera memanggil supir mereka untuk menjemput di sekolah secepatnya. Namun bagi yang tidak, mereka terpaksa menunggu sampai hujan lumayan reda. Atau mereka dapat pulang duluan kalau mereka punya payung, itu pun harus beresiko baju mereka basah kuyup. Beberapa anak yang memilih untuk tinggal di sekolah contohnya dua anak perempuan ini..

Agni dan Rahmi, adalah dua anak perempuan yang bersahabat sejak awal masuk SMP. Kini mereka sudah kelas 2 SMP. Kedua baju olah raga yang mereka pakai basah. Agni karena kehujanan saat istirahat latihan basket. Rahmi karena ia berada tepat di bawah atap yang bocor dan otomatis kena airnya.

Sekarang mereka sedang berganti baju di toilet lantai 2. Mereka mengganti baju olah raga menjadi baju putih-biru SMP. Rahmi sedang merapihkan kerudungnya, Sementara Agni mengancingkan bajunya dan menyisir rambutnya.
“Agni kok selalu pake dobelan kaos sih? emang nggak panas apa?” tanya Rahmi berbasa basi. Agni menengok dan membalas.
“Rahmi juga selalu pake tangan panjang, kan panas. Emang kenapa nanya kayak gitu?” tanya Agni balik.
“Nggak kok. dipikir-pikir, sebenernya kulit agni nggak item yah? paha sama tangannya belang tuh..” goda Rahmi bercanda.
“Haha..” Agni tertawa sejenak. “Emang. Cuma gara-gara sering main bola aja jadi item kali yah”
Agni menghadap ke cermin kecil di dinding, pinggir-pinggirnya retak. Tanpa sengaja rahmi melihat sebuah kalung di leher agni dari pantulan kaca yang retak itu. Kalung dari benda seperti batu yang diikatkan di sebuah tali merah.
“Cie… kalung dari siapa tuh?” goda rahmi.
“Kalung?” Agni balas bertanya.
“Alah.. pura-pura nggak tau. itu yang kamu pake di leher” Rahmi mendekati Agni dan meraih kalung itu. “Kok kalung dari batu sih?” tanya Rahmi lagi. Agni lalu tersenyum penuh makna.
“Asal sih dari batu, tapi artinya banyak tau… Ada kenangan di sini” jelas Agni misterius. Rahmi sontak langsung penasaran.
“Kenangan apa? ceritain dong!…” pintanya memohon.
“Iya, tapi sambil jalan ke kelas yah. Kita habis ini mau kerja kelompok kan sama yang lain?” balas Agni.
“He-eh. mereka lagi di atas tuh. nggak tau ngapain di kelas 7… Yuk” Rahmi mengangguk setuju dan mereka pun mulai melangkah ke luar toilet menuju kelas mereka berdua. Selangkah dua langkah, dan Agni pun mulai bercerita.
“aku dapet kalung ini sebelum ketemu sama kamu. 4 tahun lalu…”

— flash back

4 tahun lalu di Cibodas, puncak. Di sebuah terowongan teduh dari batu yang bagian atasnya dibiarkan terbuka, dirambati oleh akar-akar dan batang tumbuhan yang menjalar dengan daun berbentuk hati.
Agni berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki di sana. Nama laki-laki itu Gabriel dan dipanggil dengan Iyel.
“Agni mau kan jadi pacar aku?” tanya Gabriel polos.
“Eh… gimana yah? jangan ah, iyel…” Agni menjawab pelan. Tak kalah polos dengan anak laki-laki di depannya.
“Kenapa jangan?…” Gabriel bertanya dengan lesu, murung dan muka yang ditekuk. Cahaya matahari menyinarinya dari celah-celah daun yang terbuka.
“Soalnya… Agni belum yakin. Lagian, Agni belum tanya ke mama boleh atau enggak pacaran?” Agni menjawab lagi. Dan dibalas dengan anggukan Gabriel yang tenang, berusaha mengerti.
“Ya udah deh… tapi kalo udah boleh, Agni mau kan jadi pacar Iyel?”
“Emm…” Agni menggigit bibirnya sambil berpikir sebentar, lalu ia mengangguk dengan polosnya.
“Yes!” Gabriel berseru dengan senang. Ia merangkul Agni. “Kalo gitu kita balik kerombongan yuk” ajaknya.
“He-eh!” Agni mengangguk dan Gabriel mulai menuntun Agni jalan di terowongan.

“Oh… jadi waktu itu kamu lagi jalan-jalan bareng sesekolah?” tanya Rahmi menebak.
“Iya. Iyel minta aku berhenti dulu. Waktu itu aku lagi bareng Obiet, kita saling lihat hasil foto masing-masing” jawab Agni mengingat-ngingat memorinya dulu.
“Terus… pas kapan dia ngasih kalungnya?” tanya Rahmi makin penasaran.
Agni tersenyum lagi dengan manis, “Pas…”


“Pluk..” Benda kecil seperti biji jatuh dari atas terowongan. Ketika membentur tanah benda itu terbelah menjadi dua. Gabriel mengambil salah satu pecahan biji itu lalu mengikatkannya pada sebuah tali merah dari gelang yang ia pakai. Dan sekarang, biji itu menjadi sebuah kalung. Gabriel mendekati Agni dan tanpa ragu memasangkan kalung itu di leher Agni.
Agni agak terkejut menerima itu, namun ia tetap membiarkan Gabriel memasangkannya. “Kalungnya bagus banget..” ucap Agni kagum. “Iyel dapet dari mana?”
“Iya dong. Tadi ada biji jatuh, kebelah dua, aku jadiin kalung aja. Itu separuh hati aku buat Agni” kata Gabriel gombal.
“Hi hi… separuh hati..? Bisa aja” Agni tertawa mendengar kata-kata Gabriel yang gombal itu. Gabriel ikut tersenyum dan menarik Agni tiba-tiba, memintanya untuk berhenti sebentar.
“Oh iya!” ucap Gabriel. “Gimana kalo kita bikin perjanjian?”
“Perjanjian?” alis Agni mengkerut tidak mengerti. “Perjanjian apa?” tanya Agni melanjutkan.
“Emm… Kalo kalung itu masih ada di leher Agni, berarti Agni masih mau jadi pacar Iyel. Kalo enggak, berarti Agni udah gak mau lagi jadi pacar Iyel” jelas Gabriel lugas.
“Boleh…” Agni menjawab diiringi dengan senyuman. Lalu Gabriel mengacungkan jari kelingkingnya, mengajak Agni membuat ‘pinky promise’ dan Agni membalasnya.
“Iyel, kenapa nggak diambil aja potongan biji satunya? Biar buat Iyel. Aku kan juga mau lihat ‘sisa potongan hati’ Iyel gimana” kata Agni iseng.
“Jangan. Biar jadi kenangan aja..”

“Habis itu kita jalan lagi, sampai akhirnya ketemu sama Obiet. Terus jalan bertiga deh ke padang rumput” ucap Agni mengakhiri ceritanya.
“Eh iya! berarti dulu kamu se-kelas dong sama Obiet?” tanya Rahmi kaget.
“Ya iyalah, Mi” Agni membalas santai.
“Yah… Kalo se-kelas sama Obiet sama Iyel, berarti aku sendiri yah yang beda sekolah di geng kita…  Aku anak baru dong?…”
“Ha ha!.. Bukan anak baru! anak tua! kan Rahmi yang paling tua diantara kita-kita” canda Agni renyah. Rahmi pun ikut tertawa menyadarinya, dan ia kembali bertanya lagi tak lama setelah itu.
“Eh tunggu!… Kalo nggak salah kamu juga se-sekolah kan sama Cakka itu?”
Agni mengangguk. “Iya. Dari dulu sikapnya masih nyebelin. Kerjanya ngerjain orang mulu!” kata agni sebal. “Dia juga pernah ngerjain aku waktu jalan-jalan itu.”

“Ayo Agni pakai sepatunya. Sebentar lagi kita mau pulang” Bu guru berseru pada Agni yang masih di tempat kumpul acara. Bus ada di lapangan parkir tak jauh dari sana. Hampir semua anak telah naik kembali ke dalam bus namun Agni masih sibuk mondar-mandir di tempat acara.
“Iya, Bu. Saya sih lagi mau make sepatu. Tapi sepatunya nggak ada, Bu” sahut Agni dengan murung. Ia terus menengok kesana kemari mencari sepatunya.
“Mungkin kamu lupa letaknya dimana?” tanya Bu Guru heran.
“Enggak kok, Bu. Saya tadi naruh sepatunya di sini” kata Agni keras. Nadanya agak ngotot pasalnya ia yakin – sangat yakin kalau ia menaruh sepatunya di sekitar situ.
“Ya sudah… Kamu cari sebentar disini. Ibu minta supir bus-nya biar nunggu sebentar, yah…” kata bu guru dengan lembut.
“He-eh” Agni mengangguk dan kembali mencari sepatunya yang hilang. Namun tiba-tiba, seorang anak laki-laki datang dan menubruknya.

*Bruk!

“Ah..” Agni terjatuh. Kakinya lecet dan matanya langsung berkaca-kaca, tapi ia tahan air matanya karena gengsi. Agni menatap wajah anak laki-laki yang menubruknya itu dan anak laki-laki itu malah tertawa.
“Cakka jahat!! Hiks…” akhirnya Agni menangis. Ia terus menatap anak laki-laki itu yang bernama Cakka. Sementara Cakka malah memeletkan lidahnya, cuek.
“Biarin! Wleee! Ha ha ha ha…” tawa Cakka bagaikan menggema di telinga Agni. Cakka memang sangat bandel dan suka jailin orang, terutama anak perempuan.
“Eh, katanya kamu sepatunya ilang yah?” tanya Cakka.
“Hiks… He-eh” Agni mengangguk sambil menangis. Kadang ia hapus air matanya kalau sudah terlalu banyak.
“Kan sepatunya aku yang sembunyiin loh!” seru Cakka pede. Yang jadi maling malah ngaku sendiri. Memang aneh, namanya juga anak-anak.
“Balikin!!…” seru Agni keras. Ia memukuli kaki cakka dengan tangan kecilnya.
“Nggak ah!…  Cari aja sendiri!” lalu Cakka hanya berlari ke bus yang sekolah mereka tumpangi. Cakka membiarkan Agni menangis di situ, sendiri.
“Hinks… haaaaa…. Cakka mana sepatunya!…” Agni terus menangis. Makin lama Agni ditinggal, makin besar tangisannya. Dan  akhirnya hati Cakka luluh juga. Ia kembali menghampiri Agni, tapi tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba datang seorang anak laki-laki sebayanya mendekati Agni. Obiet Namanya. Ia berjongkok di sebelah Agni dan bertanya dengan perhatian.
“Agni, kenapa nangis?” Tanya obiet.
“Hiks… sepatu aku ilang…” kata Agni sambil sedikit-sedikit menghapus air matanya.
“Ng… kalo gitu, Agni pake sandal aku aja” Obiet lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang ia pegang, sebuah sandal yang sepertinya baru dibeli sebagai kenang-kenangan dari taman itu.
“Tapi itu punya obiet…” kata Agni, ia ragu untuk mengambilnya.
“Enggak pa-pa. Obiet ikhlas! Kalau Agni mau, ini sandal buat agni aja…  Mau?” tawar Obiet sambil tersenyum.
“Eh…” Agni pun mengangguk. Ia akan menerima sandal itu untuk dipinjam, tapi tidak untuk dimiliki.
Obiet lalu menaruh sandalnya di tanah dan berdiri. Agni juga berdiri dan memakai sandal itu. Untungnya ukurannya pas.
“Makasih obiet!” Agni berseru ceria. Kini ia tidak menangis lagi.
Obiet ikut tersenyum senang. “Dengan senang hati!” balasnya riang.
Lalu Obiet dan Agni pun jalan bareng ke bus mereka. Dan tentunya, berpapasan dengan Cakka.
“Kenapa cakka?” tanya obiet ketika Cakka sudah berdiri di depan mereka, menghadangnya.
“Enggak jadi! Tadinya aku mau ngasih tau dimana tempat aku nyembunyi-in sepatu Agni. Tapi kan Agni udah ditolongin, jadi… Nggak jadi!” Cakka lalu berlari dengan kencang dan naik ke bus-nya. Sebelum masuk ia memeletkan lidahnya ke Agni dan Obiet.
Agni dan Obiet sendiri tidak tau maksud Cakka memeletkan lidahnya apa. Ya sudahlah…

“Terus… sampai sekarang sepatu  kamu masih ada di tempat itu?” tanya Rahmi sambil menahan tawa.
“Sayangnya… iya…”
“Ya ampun… kasian banget sih kamu, Ag. Terus, sendalnya Obiet masih ada di kamu?” tanyanya lagi masih sambil tertawa.
“Enggak lah. Orang malemnya mama nelfon terus marahin aku. Suruh balikin sandalnya malam itu juga lagi. Besoknya aku ke sekolah pake sepatu kets putih, ya jelas dihukum.”
“ha ha ha ha ha!” Rahmi tertawa makin keras mendengar Agni makin apes setelah itu. Mendengar tawanya yang sangat merendahkan dan bikin Agni malu, Agni pun langsung protes nggak terima.
“Ah, si Rahmi ketawain aku mulu nih… aturan aku nggak usah ceritain deh..” ucapnya sebal.
“Ya.. sori deh… kocak tau.” ucap Rahmi berusaha mengatur nafasnya karena tertawa tanpa henti. “Tapi, pas dulu mereka masih pada polos-polos banget deh” komen Rahmi pada akhirnya.
“Iya bener, Mi. Aku aja nggak nyangka waktu itu aku nangis. Padahal aku udah tomboy loh” balas Agni menambahkan.
“Dan Gabriel… belum kamu jawab juga pertanyaannya?” tanya rahmi mulai serius.
“Yep… kayaknya kita sepakat ‘act as friend’ dulu sampai sekarang” jawab Agni.
“Kenapa nggak kamu jawab aja, Ag? Kamu suka nggak sama Gabriel?…”
“Hah??” Agni langsung kaget mendengar pertanyaan Rahmi yang mendadak itu.
“Jawab aja jujur. Suka atau enggak?” Rahmi terus bertanya.
“Em…” Agni jadi bingung membalasnya. Tapi ia pun pilih untuk percaya pada sahabatnya, Rahmi. “..sebenernya sih… suka” lanjutnya.
“Terus…  kenapa belum diterima, Ag?” tanya Rahmi heran.
“Soalnya… yah.. masih banyak alasan untuk menolak. Dan.. masih ragu kali” jawab Agni sambil memalingkan muka dari pandangan Rahmi.
“Coba aku tebak. Salah satu alasannya… karena kamu belum nanya ke mama kamu?” tanya Rahmi bercanda. Ia tau kalau Agni lumayan bisa dibilang anak alim.
“Mungkin?…” Agni menjawab singkat.
“Lagian mama kamu itu kok nggak pulang-pulang sih. Kerja mulu. Kayak nggak pernah ‘care’ sama anaknya.” tanpa sadar Rahmi asal bicara. Dan ia langsung terdiam saat melihat ekspresi wajah Agni yang tiba-tiba memurung. “Um… sori, Ag… bukan maksud aku…”
“Nggak papa kok.” Agni tersenyum kecil. “Mama emang gitu orangnya. Mungkin dia Cuma ‘care’ sama kakak aku aja, yang udah jadi pemimpin perusahaan batik di Jogja” Agni kembali tersenyum ke Rahmi, walaupun itu senyum yang dipaksakan.

*Brak!
Pintu kelas terbuka tiba-tiba. 2 anak laki-laki masuk dan saling kejar-kejaran di antara meja, sampai-sampai naik ke atas meja. Mereka adalah Obiet dan Gabriel.
“Astagfirullah!” Rahmi  mendengar suara dobrakan pintu kelas sampai latah.
“Hai, Ag.. Hai, Mi!” sapa keduanya sambil turun dari meja dan mengakhiri kejar-kejaran mereka. Well, sebelumnya mereka juga sempat injek-injekan kaki.
“Hai..” Rahmi menatap mata keduanya dengan tatapan yang mencurigakan.
“Kenapa?… kok ngeliatinnya gitu?” tanya Obiet yang mulai takut tambah was-was.
“Cie… yang masih nunggu…” kata Rahmi tiba-tiba. Mata Rahmi melirik ke Gabriel.
Gabriel hanya nyengir biasa. Padahal ia tidak terlalu tau apa maksud Rahmi.
“Agni enak banget deh… pagi-paginya di kasih kalung sama Gabriel… siangnya dipinjemin sandal sama Obiet” ujar Rahmi melanjutkan.
Lalu, tiba-tiba Agni menyelak Rahmi “kenapa, Mi?… Cemburu?”
“Ha ha ha…” obiet dan Gabriel yang mulai mengerti arah pembicaraan ini pun ikut tertawa bersama Agni.
“Ih ngapain cemburu?… Hari gini cemburu, Basiiii”
“Ha ha ha h…”

Tes… tess… tes…
Rintik hujan mulai membasahi jalan-jalan setapak kota. Suara deru motor melintas melewati depan café. “Café Ordelia Ordesilk” tulisan itu tertera tepat di atas pintu masuk café. Angin dingin merambat masuk ke dalam café, melewati jendela, membawa butir-butir debu jalanan masuk.

Sreek…

Tirai coklat menutupi jendela. Api lilin-lilin di meja café bergerak-gerak seperti hidup.

Hati mereka saat itu sakit, seperti terbakar api. Raganya mulai hangus. Kesadaran mereka hilang. Mereka telah menangis, namun api itu tak padam juga. Disini tak pernah ada hujan. Disini…
jarang hujan

Seorang gadis duduk lesu di bangku café. Kakinya ia naikan ke atas bangku karena ia ingin meringkuk. Ia kedinginan. Nama gadis itu Oik.
Embun jatuh dari cangkir teh panas miliknya yang telah berembun, jatuh ke sebuah lembaran kertas dari buku berwarna putih. Di bagian atas lembaran buku itu tertulis, “Diary Oik”
Ia menarik nafas sebentar lalu melepaskannya. Asap keluar dari mulutnya. Ia pun mulai menulis.

Dinding café ini terbuat dari kaca. Yang ada di dalam dapat melihat apa yang ada di luar. Dan seharusnya begitu juga yang ada di luar. Dan aku benci pernyataan itu. “aku benci kaca itu!”

Oik menunduk dalam dingin. Bayang-bayang kelam masa lalu kembali memasuki pikirannya. Mukanya mulai pucat, beku.

Sirine polisi berbunyi nyaring memenuhi gang itu.
“Jangan coba lari! Kalian telah dikepung!” Tegas seorang polisi yang keluar dari mobil patroli.
Gerombolan preman yang ada di sana berdiri dengan tampang sangar. Tak ada rasa takut maupun terancam walau polisi sudah ikut menangani. Mereka berkumpul di satu tempat. Seperti menyembunyikan sesuatu.
Tak lama kemudian, sepasang suami istri keluar dari mobil patroli. Para preman itu menatap tajam kepada bapak yang keluar dari mobil itu. Istrinya yang takut hanya bisa mencengkram tangan suaminya. Ia gemetaran saking takutnya.
Polisi itu berseru kepada ketua dari gerombolan preman.
“Dimana anak bapak ini?” ucap polisi itu dengan tegas, sambil menunjuk bapak yang keluar tadi.
“Heh! Mana kita tahu! Kenapa nanyanya ke kita?!” balas sang ketua preman tak kalah keras.
Polisi itu mengabaikan perkataan sang ketua preman dan meneruskan, “Kami tahu kalian yang menyembunyikannya!”
“Kita nggak tahu! Kalo mau, cari aja n’diri! Paling anaknya udah kelindes mobil terus mati!”
“Nggak!!! Oik belum meninggal!” Ibu yang dari tadi diam langsung membantah para preman. Suaranya serak, hampir habis.
“Oik belum meninggal, Pak!! Aku tahu! Aku ini ibunya…” kata ibu itu lagi. Mulutnya ikut gemetar sampai kalimat yang ia ucapkan tidak jelas.
“Ini?” Tiba-tiba ketua preman itu menarik seorang gadis kecil dari dalam kerubunan anak buahnya.
“Ini anak kalian?!” Gadis itu berteriak minta tolong. Ia menangis sekeras-kerasnya.

Sebelum bapak itu sempat menjawab, terdengar suara tembakan pistol mengenai kaca mobil patroli. Salah seorang preman tanpa segan melakukannya. Dalam detik itu juga, terjadi perkelahian antara para preman dengan polisi.

Polisi di sana hanya dibekali dengan peralatan pistol dan badan kekar. Dan mereka kalah telak dengan para preman, yang tak hanya berjumlah banyak, dilengkapi pistol dan badan kekar, ditambah kemampuan bela diri yang tinggi. Para polisi itu bahkan tidak tahu, bagaimana bisa para preman itu melakukan bela diri yang sempurna. Apakah mereka belajar dari seseorang?

Di tengah perkelahian yang sengit, diam-diam sang ketua dari preman itu memojokan sang bapak. Ia berbisik, “Jika kau mengakui anak itu, kami tidak akan segan-segan membunuhmu,” ancam si preman.
Mendengar acaman sang ketua preman, nyali bapak itu langsung kendur. Dan dengan satu kalimat, bapak itu menyelesaikan perkelahian.

“Bukanhh!” seru bapak itu ngos-ngosan. “Anak itu bukan anak kami!”
Sang ibu kaget setengah mati mendengarnya. “Bilang apa kamu, Pak?! Coba ulang lagi! Anak itu jelas-jelas Oik!!” sang ibu menangis tersedu-sedu. Sementara sang bapak hanya tertawa aneh.
Sesungguhnya bapak itu hanya ingin menekankan pernyataan bahwa ‘anak itu bukan anaknya’. Tapi terlalu dibuat-buat. Jelas ia tidak rela melepas anaknya, darah dagingnya sendiri. Namun pada akhirnya itu semua berakhir pada sebuah kesimpulan. ‘Bapak itu lebih mementingkan dirinya sendiri dibanding anaknya.’


Beberapa menit kemudian, polisi telah hengkang dari jalan tadi. Suami istri tadi ikut pergi bersama polisi dan meninggalkan anak kecil itu sendiri, kebingungan.

“Bah!… Orang tua payah!… Diancam segitu aja udah menciut. Padahal aku cuma bercanda!! Ha ha ha!..” Ketua preman itu tertawa terpingkal-pingkal sampai terbatuk. Anak buahnya juga ikut tertawa sambil sesekali memegang perut mereka yang melilit karena terlalu keras tertawa.
“Mau diapain nih anaknya?..” seru ketua preman itu sambil menarik kerah baju Oik ke atas.

Anak buahnya hanya tertawa renyah. Toh pada akhirnya semua keputusan berada di tangan ketua. Sang ketua preman menggeret masuk Oik kedalam sebuah bangungan. Sebuah Café yang sedang tutup namun tetap terlihat antik.

Ternyata café itu adalah café miliknya. Benar-benar sulit dipercaya bahwa preman-preman itu adalah orang yang mengelola café.
“Bisa kerja apa kamu?” tanya si ketua preman.
Oik hanya diam. Saking lamanya membuat preman itu bertanya lagi.
“Heh! Tuli apa kamu?! Bisanya apa?!”
“Oik nggak mau kerja di sini!” akhirnya oik berbicara.
“Udahlah! Kamu nggak usah bantah!”
“…nyanyi,” jawab Oik lirih.
“naik ke panggung sono!” suruh si ketua preman.


Oik menghentikan memorinya yang terlalu pahit. Namun ia tidak dapat memungkiri bahwa kenangan-kenangan itu selalu menghantuinya sampai sekarang. Kenangan yang makin memahit dengan dirinya mengetahui bahwa tak hanya meninggalkan dirinya, orang tuanya juga masih diteror oleh preman sampai sekarang karena sang Ibu tidak mau merelakan Oik kepada preman-preman itu.

Entah apa yang terjadi pada mereka sekarang. Hal yang paling buruk pun dapat terjadi pada mereka. Walau dihatinya telah tertanam kebencian yang mendalam, namun dalam lubuk hatinya, masih ada keinginan untuk bertemu. Meskipun hanya sekali.

*Klining Klining…*
Tiba-tiba bel yang digantung di pintu masuk café berbunyi. Membuyarkan semua memori yang tadi Oik resapi. Café baru buka dan rombongan pelanggan berebutan masuk. Kini, mereka telah memenuhi area café.
“Hey! Jangan diam saja disana! Pelanggan sudah menunggu!” seru pemilik café. Ya, ketua dari gerombolan preman yang dulu.

Dan Oik, sampai sekarang masih bekerja di café itu. Walaupun bayaran yang diberikan oleh ketua preman itu tak sepadan dengan apa yang Oik kerjakan, namun Oik tetap bersyukur. Setidaknya cukup untuk membayar tempat tinggalnya. Suatu kos tak terlalu jauh dari café itu.

Café itu sudah ramai sebelum Oik muncul. Tapi akan lebih ramai lagi kalau Oik ada di sana, bernyanyi untuk para pelanggan.

Oik menutup bukunya dan memasukan buku itu ke tas kecil miliknya. Ia berdiri dengan lesu, mencoba untuk tersenyum kepada pelanggan yang ia lewati. Sayang senyuman itu sungguh berbeda dari hatinya. Ia naik ke panggung, menatap keluar café. Di saat itulah pemandangan masa lalu yang menyakitkan terulang kembali.

Dulu, dari dalam cafe, ia melihat orang tuanya sendiri berjalan meninggalkannya. Tanpa satu ucapan selamat tinggal. Tanpa tatapan kasih sayang. Mereka hanya melewati café itu begitu saja. Kadang ia berharap kalau ia tidak dapat melihat. Andai saja dinding café itu tidak tembus pandang, ia tidak harus melihat pemandangan itu. Yang ia harapkan hanya satu. Saat orang tuanya meninggalkan dirinya begitu saja, tanpa kata selamat tinggal, ia harap itu artinya mereka dapat bertemu lagi lalu hidup bahagia untuk selamanya.

“Nyanyi apa?” tanya Oik pada ketua preman.
“Ya terserah kamu, lah” Ketua preman itu menjawab tak peduli. “Yang kamu pikir sesuai sama hati kamu. Yang penting pelanggan terhibur!” lanjutnya.
Oik mengangguk datar. Musik mengalun dan ia pun mulai bernyanyi. Ia selingi beberapa bagian dengan nada-nada falset, kemampuan utamanya yang paling membuat pengunjung terkesan. Improve yang tak kalah bagus juga membuat para pengunjung terkesima.

- ADA CINTA –

ucapkanlah kasih satu kata yg ku nantikan
sebab ku tak mampu membaca matamu
mendengar bisikmu
nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu

mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan

mengapa sulit mengaku cinta
padahal ia terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada

Duar!

Tiba-tiba petir menggelegar. Membuat Oik lumayan terkejut. Tepat saat petir itu menggelegar, hujan turun semakin deras. Suara alunan lagu dari atas panggung hampir tak terdengar. Oik sempat lupa lirik sebentar. Namun ia segera melanjutkannya. Untungnya tidak ada pelanggan yang protes.

nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu…

“Dah, Agni, Iyel! Sampai ketemu besok yah!” seru Rahmi dari luar kelas.
Rahmi dan Obiet sudah harus pulang. Orang tua Rahmi baru saja menjemput Rahmi dan kebetulan rumah Obiet searah dengan Rahmi, jadi Obiet ikut Rahmi. Sementara Gabriel dan Agni tinggal berdua di sekolah.
Agni duduk santai di meja depan sambil memainkan hp nya. Ia mulai bosan karena lama menunggu hujan reda. Gabriel menenteng tas-nya dan duduk di sebelah Agni. Setelah beberapa menit kemudian baru Gabriel berdiri dan membuka pembicaraan.
“Eh, udah ngerjain pr MTK belum?” tanya Gabriel.
“Hah?.. oh, udah” jawab Agni singkat lalu kembali pada hp-nya.
“Emm… boleh liat nggak?” tanya Gabriel lagi.
“Ooo…. intinya mau nyontek?” Agni bertanya, menebak dengan yakin. Lalu terbalas oleh cengiran Gabriel yang malu.
“He he… iya. Boleh ya, Ag… kamu kan jago MTK. Baik… mau dong bantu Gabriel” rayunya dengan ‘puppy dog eye’
“Terserah deh.”

Agni berdiri dari meja, meraih tasnya sambil berhadapan dengan Gabriel. Tasnya ia buka dan ia mulai mencari buku MTK-nya. Jaman sekarang anak SMP bukunya sudah banyak sekali. Paling sedikit tiga, buku cetak, buku tulis, dan buku Lks. Ditambah lagi kalau gurunya ingin buku tulisnya ada 2. Alhasil butuh kerja keras untuk mencari buku MTK itu.

Saat Agni sedang kebingungan mencari, Gabriel memperhatikan kalung yang ada di leher Agni. Tidak biasanya kalung itu terlihat, biasanya selalu tertutup oleh baju Agni. Dan disaat itu pula, suatu perasaan merasuki pikiran Gabriel. Ia tak tau apa rasa itu. Yang pasti rasa itu lama-lama makin besar dan tak terkendali.
Agni tidak menyadari apa yang terjadi hingga Gabriel menyebut namanya.
“Ag…”

Agni tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menoleh ke Gabriel. Tiba-tiba ia merasa ada rasa takut di dalam hatinya. Gabriel melangkah lebih dekat ke Agni. Agni tidak tau apa yang ingin dilakukan Gabriel. Sempat ia memanggil nama “iel” sekali. Tapi tak ada reaksi apapun. Gabriel masih mencoba mendekatinya. “Apa iel mau meluk aku?” tanya Agni dalam hati. Ia ingin mendorong Gabriel, namun dirinya seperti kaku. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasa takutnya makin besar. Namun ia bimbang apa harus menangis atau tidak. Ia sadar, Gabriel tidak hanya ingin memeluknya. Lebih dari itu. Dan Agni membiarkan Gabriel melakukan itu. Agni membiarkan Gabriel menciumnya.

Agni shock. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tadinya Agni ingin mendorong Gabriel, tapi tepat saat itu juga Gabriel menciumnya. Dalam seketika, tangannya lemah. Seluruh tubuhnya lemas. Ia akhirnya menangis. air mata telah membanjiri pipi Agni. Lepas dari itu, Gabriel masih belum melepaskan dirinya. Hingga akhirnya sang petir mengambil alih…

Duar!

Jendela dan pintu terbanting karena angin yang terlalu besar. Hujan kini semakin deras. Sekolah itu masih sunyi. Tidak ada tanda-tanda orang lewat di lantai dasar maupun atas. Namun di lantai dua…

Brak!

Pintu kelas terbuka. Agni berlari sekencang-kencangnya. ia tidak memperdulikan apa yang ada di belakangnya. Bahkan ia melupakan tasnya. Gabriel berulang-ulang memanggil Agni tapi itu tak ada gunanya. Agni telah pergi. Gabriel memukul papan tulis dengan keras, “Shi*”. Ia menunduk, merasa menyesal atas apa yang baru saja ia lakukan. Kenapa dirinya bisa lancang seperti itu? Memalukan!

Nafas Gabriel sontak tak beraturan. Tiba-tiba dadanya sesak, pandangannya kabur. Gabriel merasakan sakit yang baru sekali ini ia rasakan, sampai akhirnya ia jatuh tergeletak di lantai.

Agni turun dari tangga dan berlari keluar dari sekolah. Derasnya hujan jatuh di kepalanya. Bajunya basah kuyup dan Agni tidak memperdulikan itu. Agni hanya berlari, menjauh, pergi dari seseorang yang dulu ia percayai namun sekarang membuatnya ragu dan kacau, sampai akhirnya Agni berhenti di sebuah gang kecil. Ia berteduh disana. Air matanya masih mengalir deras, tak kalah dengan hujan yang turun saat itu. Ia tak percaya apa yang baru saja terjadi. Agni ingin pulang, tapi tidak ke rumahnya. Di rumahnya ia hanya mendapatkan kesepian. Ia ingin pulang…

mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan

mengapa sulit mengaku cinta
padahal ia terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada

……………..

So how???

Comment! Comment!~~

Saniyyah Ardina K.

Kingdom Of Dream_Part 13: Kelas Germstone dan Para Pelayan Pribadi

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream Part 12: Pagi Pertama

Sudah sebegitu lama aku nggak ngelanjutin cerita ini. Dikarenakan jadwal sekolah yang makin padat. Minggu-minggu ulangan mulai berdatangan nih. Maaf banget buat yang nunggu. Dan kayaknya habis part ini aku belum akan melanjutkan ceritanya sampai semester depan.

Sebagai penutup, semoga Part yang nggak begitu banyak ini memuaskan. Selamat membaca!

Kingdom Of Dream
Part 13: Kelas Germstone dan Para Pelayan Pribadi

Teng… teng… teng…

jam besar di menara kerajaan berbunyi nyaring. Suaranya menggema ke seluruh pelosok kerajaan. Kini seluruh pangeran dan putri Kingdom Of Dream sudah ada di kelas masing-masing. Semuanya di bagi menjadi 3 kelas. Kelas Princia, Kelas Regina, dan Kelas Germstone. 1 kelas di isi oleh 20 orang. Kelas Princia hanya di anggotai oleh para pangeran. Kelas Regina hanya di anggotai oleh para putri, dan Kelas Germstone di masuki oleh dua-duannya.

Agni, Oik, Cakka, Patton, Debo, Obiet, Irysad, dan Zevana masuk ke kelas Germstone. Mereka tentu sangat senang memasuki kelas yang sama. Seperti kata Patton, Anggota kelas Germstone sepertinya memang menarik. Dari bajunya saja sudah terlihat berbagai macam warna dan model yang berbeda. Ada Pangeran Ozy, Putri kupu-kupu Ify bersama temannya, Putri Dea, 3 putri awan, 3 Raika bersaudara, dan seorang pangeran dengan baju serba hitam dan kulit coklat pucat.

“Wah… kalo dihitung-hitung, sudah ada 18 orang yah. Tinggal kurang 2 lagi.” ujar Irsyad.

“he-eh.” Yang lain mengangguk. Kelas sudah penuh. Bangku yang tersisa hanya 1 di pojok depan dan 1 lagi di pojok belakang. Ify duduk bersampingan dengan Dea. Mereka sama-sama memilih tempat duduk depan, tempat dimana mereka dapat melihat guru paling jelas. Ozy duduk di sampingnya. 3 putri awan duduk di barisan tengah, berjejer ke belakang. Mungkin mereka ingin mendapat perhatian dari segala arah. Apalagi di atas mereka terpasang lampu yang paling besar di kelas itu. Cahayanya pun memantul ke baju mereka dan memantul lagi ke semua mata yang memandang. Barisan paling kiri diisi oleh para pangeran. 3 Raika bersaudara ada di sana, dan dibelakangnya duduk pangeran dengan baju hitam dan kulit coklat hitam, taring tajam, dengan tingkah seasalnya dan semaunya. ya.. kesimpulannya ia Sion.

“EHHEM!.” suara deheman keras terdengar dari pintu kelas yang ada di belakang ruangan. Seluruh perhatian pun tertuju pada seorang professor yang berdehem itu.

“Cukup istirahatnya. Sekarang sudah waktunya pelajaran.” ucap professor itu. “Sekarang kalian duduk di tempat masing-masing dan buka buku tulis yang sudah di siapkan di laci meja kalian.” lanjutnya sambil melangkah ke area guru di depan kelas yang 1 tingkat lebih tinggi dari pada area murid.

Professor itu berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu, ia memakai terusan rok yang panjangnya sampai selantai dan berwarna ungu. Sepatunya boots coklat dengan tali yang warnanya lebih muda satu tingkat dengan warna sepatunya. Lalu hampir semua itu ditutupi oleh jubah berwarna ungu dan berlambang bulan emas.

“Seenaknya menyuruh. Memang  kau siapa?”seru Lintar ketus.

Professor itu menghentikan langkahnya ketika ia mendengar kata-kata lintar dengan nada penuh ketidakhormatan. Ia menatap Lintar tajam. “Seenaknya bicara. Apa kau kira kau yang berkuasa di sini?” ucapnya tajam.

Professor itu kembali melangkah ke tempatnya. Mulutnya melanjutkan perkataannya tadi. “hati-hati nak, 1 kali lagi berbicara acuh namamu akan tertulis secara permanen dalam daftarku”

BUK. 3 buah buku diletakan dimeja guru yang terbuat dari kayu. “Hmm… Tapi benar.” Lanjut professor itu. Ia mengusap debu-debu yang ada di meja dan merapihkan beberapa peralatan yang ada di meja itu. “Aku adalah professor yang akan mengajar kalian mulai sekarang… Dan Sebagai murid, kalian harus tau siapa namaku.” ucapnya penuh wibawa.

“Namaku Dave, Panggil saja Professor Dave atau Prof Dave, itu terserah kalian.” jelas Professor Dave. Semua anak mengangguk kecil. Professor Dave tersenyum puas dan melanjutkan kata-katanya.“Baik.  Hari ini kita akan memulai pelajaran dengan Pre-Test!..”

“Yaaaaah….” mendengar kalimat terakhir Professor Dave anak-anak murid langsung ber-koor kecewa.

“Hei jangan mengeluh padaku. Ini kurikulum. coba saja cek guru lain, mereka pasti akan memulai pelajarannya dengan pre-test juga” jelas Professor Dave.

“Aah..” Sivia mengeluh kecewa. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan 1 buku tulis dengan tampang tidak niat sama sekali.

Tidak lama setelah itu…

Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Professor Dave menghelakan nafasnya panjang. “Huuh… baru hari pertama sudah ada saja murid yang terlambat..” keluhnya.

Professor Dave  duduk di kursinya, bersender dan mengarahkan tangannya ke pintu kelas yang ada jauh di belakang kelas.

“BRAK!”

Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar seperti ditiup angin. Suaranya menggema di dalam ruangan.

“Itu adalah bunyi pintu yang terbuka untuk anak yang terlambat… Dan kau! anak yang berdiri di depan pintu..” ucap Professor Dave tegas. “Kau terlambat!” lanjutnya dengan nada menghukum. Tangan kanannya menunjuk pada seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu kelas, yang menatapnya dingin.

Anak itu masuk. Tak peduli tentang pandangan professor Dave padanya. Professor Dave juga terlihat masih tenang. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati anak laki-laki yang terlambat itu. Ia menatap anak laki-laki itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lalu Professor Dave bertanya.

“Dari negari mana?” tanya Professor Dave sambil menatap muka anak itu.

“Daerah lembah hitam” jawab anak itu singkat.

“Oh.. Vampire..” Professor Dave berujar sesaat. Ia hafal kalau negeri yang terletak di daerah lembah hitam adalah negeri Vampire. “Siapa namamu?” tanya professor Dave lagi.

“Gabriel stevent Vulvoria”

“Oke. Stevent.. aku memberikan kau satu poin karena terlambat.” Professor Dave memberikan 1 buah kertas kecil berwarna merah dengan logo harpa.

Gabriel mengambil kertas itu. Professor Dave mempersilahkannya duduk. Namun ia enggan untuk segera duduk.

“Ehm…” ucapnya dengan jelas.

Professor Dave berbalik menatapnya.

“Aku tidak terbiasa dengan Stevent. Bisa panggil dengan Gabriel saja?” jelasnya singkat.

Professor Dave mengangguk mengerti dan menyuruh Gabriel duduk dengan lambaian tangan. Gabriel pun melangkah ke bangku kelas pojok belakang. Tepat di dekat kakaknya, Sion.

Sion melirik padanya dengan pandangan menertawakan. “Baru hari pertama… masa udah telat?” ejeknya pelan.

“Bukannya kau lebih tau sebabnya?” balas Gabriel agak kesal.

Ya, Sebenarnya yang menyebabkan Gabriel terlambat memang Sion sendiri. Sion menguncinya di toilet saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kelas.

Sementara di sisi lain. Oik yang sedari tadi melamun langsung terbangun oleh tepukan Agni di pundaknya.

“Apa sih?” tanya Oik agak sewot karena terganggu. Oik memang suka marah kalo tiba-tiba dibangunkan dari lamunannya.

Agni mendekatkan mulutnya ke telinga Oik dan berbisik.

“Pangeran yang itu…” katanya sambil menunjuk Gabriel. “Pangeran yang aku temuin di taman kediamannya Obiet..” ucapnya exited.

“Hah…” ucap Oik terkejut. Matanya yang tadi setengah terpejam jadi bangun kembali. Ia ikut menatap Gabriel meneliti. Ia lalu ngangguk-ngangguk. “Dari tampangnya keren yaa.. tadi perilakunya pas ngomong sama prof. Dave juga keren..” ujarnya sambil tersenyum.

“Alah… kayak kamu ngeliat dari tadi aja.. Bukannya kamu ngelamun, Ik?” balas Agni menyenggol pundak  Oik lagi.

“Yee… walau gitu kan suaranya masih kedengeran dikit.” kata Oik membela diri.

“Eh, pada ngomongin apa sih?” tanya Zevana.

“Ceritanya panjang, Zev. Panjaaang banget” jawab Agni.

“Iya. Yang udah tau tuh cuman Patton, Irsyad, sama Obiet” tambah Oik.

Patton yang mendengar namanya di sebut pun langsung ikutan ngombrol. “Cerita apa emangnya?” tanyanya.

“Itu loh, Ton. Yang pangeran di taman kediaman Obiet itu.” jawab Oik.

“Oh… udah tau pangerannya? mana-mana?” tanyanya lagi.

“Yang tadi terlambat” jawab Oik. Agni juga mengangguk sambil tersenyum dan menunjukan jari telunjuknya ke Gabriel yang berada di pojok kelas. “Keren yaa” tambah Oik iseng.

“Ah… terlambat di bilang keren. Nggak masuk akal..” ujar Irsyad yang nyambung tiba-tiba. “Kerenan aku..” katanya pede.

“Ya ampun syad.. syad…, Jauh!” balas Oik segera.

“Aha ha! Iya!..” Zevana yang dari tadi hanya mendengarkan ikut tertawa. “Hmm… kok selera kalian pada yang item-item sih?. Aku sih beda. Kalo menurut aku mending Cakka tuh.. Putih..” tambah Zevana.

Cakka yang ikut mendengarkan hanya senyum-senyum aja.

“Loh?… jadi Zevana kalo nanti milih pangeran maunya sama Cakka?” tanya Debo sekaligus menggoda Zevana.

“Ih nggak tuh.” jawab Zevana dengan dagu dicondongkan ke atas. “Kayak kata Oik tadi.. Jauh…” tambahnya. “Cakka tuh bukan tipe aku. Aku maunya yang bukan sesama ras kucing. Mau-nya yang jauh. Ikan misalnya.. jadi bisa mengenal belahan dunia lain yang beda banget dari semua yang pernah aku rasakan” balas Zevana mantap tanpa ragu sedikitpun.

“Ooo,.. ikan mas dong!” celoteh Debo.

“Wah… kalo nanti Zevana melanjutkan tahta kerajaan bareng raja ikan, repot dong. Nanti kalo laper, rajanya dimakan sama Zevana!.. Ha ha ha ha..” Patton yang jail mengomentari cerita Zevana dari sudut pandang yang berbeda. Ketawanya jahiiil banget. Bikin Zevana pingin menjitak si Patton yang tengil itu. Yang lain yang juga ikut menyaksikan jadi tertawa lepas deh.

Obiet yang dari tadi kaleem mulu. Menopang dagunya di telapak tangan ikut tertawa geli. Setelah beberapa saat, Obiet pun memulai topic baru di pembicaraan itu.

“Eh…  Kan Agni udah tau itu pangerannya tuh. Terus kalo udah tau, nanti mau ngapain lagi?” tanya Obiet memecahkan suasana yang tadi.

Agni pun terdiam, langsung terpikir olehnya. Kalo udah tau nama dan negara asal, nanti mau ngapain lagi?.

“Yah… kenalan lah. Iya kan Ag? tanya Cakka. Ia mulai pede sekarang ikut dalam pembicaraan mereka. Walau tidak tau dari awal, yang penting join aja.

“He-eh”Agni mengangguk akan tebakan Cakka. Ia juga merencanakan untuk kenalan.

“Tapi kayaknya, pangeran itu susah didekatin deh.” ujar Debo. “Lagian kan mereka makan darah. Vampire gitu..” tambahnya.

“Tapi aku yakin Vampire bangsawan macam mereka nggak bakal minum darah kita. Kan mereka sudah dilatih untuk memakan darah yang disediakan saja. Dan biasanya cuman dari binatang atau pelayan mereka yang memang sudah terikat janji. Itu pun di batasi. Lagi pula, kalau mereka bisa makan darah kita, mana mungkin diikut sertakan dalam acara seperti ini?” ucap Zevana mengeluarkan pendapatnya.

“Tapi aku setuju kok kalo kita akan coba ngedeketin dia. Kayaknya seru deh. Ayuk deh… kita deketin aja.. oh iya, yang duduk di belakangnya itu kakaknya kan? kalau perlu kita deketin kakanya juga.. gimana?” ucap Oik bersemangat.

“Aku sih setuju-setuju aja.” ucap Cakka. Obiet mengangguk dengan tenang dan mengatakan kalau ia setuju. Debo , Patton dan Zevana  setuju karena niatnya untuk mencari teman lebih banyak. Agni sudah pasti setuju. Lalu Irsyad, walau masih ngotot kalo dia lebih keren dari Gabriel tapi ia akhirnya juga setuju.

“Ya udah. Gimana kalo nanti siang di jam istirahat kita nyamperin dia dan kakaknya? Setuju? tanya Patton pada semuanya.

“Setuju!!”

Sementara itu di taman Palladius…

Suasananya terlihat sangat sumpek. Banyak sekali pelayan-pelayan pribadi yang ada di sana. Apalagi terik matahari yang sangat menyengat. Membuat suasana semakin panas. Untung sudah di sediakan dengan berderet, 5 meja beserta tempat duduknya di tengah-tengah taman. Satu buah meja mempunyai dua kursi yang masing-masing kursinya dapat diduduki oleh 6 orang. Para pelayan yang malas berdiri pun dapat mengistirahatkan kaki di sana. Sayangnya tidak di sediakan minum sama sekali. Jadi keadaan tidak jauh lebih baik.

Alvin, Nova, Siyenna, dan satu orang pelayan pribadi yang baru menjadi teman mereka tadi: Oliv, duduk di salah satu kursi yang disediakan. Mereka duduk berhadap-hadapan. Alvin duduk sederetan dengan Siyenna, sementara Nova dan Oliv duduk di depan mereka.  Namun tidak hanya mereka yang duduk di meja itu. Di meja itu duduk satu orang pelayan pribadi lagi yang terlihat sangat kaku hingga akhirnya mereka berempat memilih untuk mendiamkannya saja. Tadi sudah disapa oleh Oliv, tapi pelayan itu tetap diam memandang kosong kedepan.

“Eh..” bisik Siyenna pada Nova, Alvin, dan Oliv yang duduk di dekatnya. Nova menatap Siyenna siap untuk menyimak kata-kata Selanjutnya. Oliv yang duduk di sebelahnya langsung memperhatikan Siyenna sementara Alvin yang duduk di sebelah Siyenna hanya mengangguk agak cuek. Di kepalanya masih penuh dengan komentar “Panas, Panas, Panas..”

Siyenna pun melanjutkan. “.. Kok pelayan yang duduk di meja kita kayaknya ngeri banget deh…” bisik Siyenna mengeluh.

“Yeu…” Oliv langsung menunduk. Di kira Siyenna mau mengatakan sesuatu yang penting. Macam rahasia yang menarik. Ternyata cuman mau ngeluh dan curcol.

“Udah mana panas lagi… nggak dikasih minum pula..” keluh Siyenna terus menerus. “Bisa dehidrasi kita…”

Alvin pun menambahkan. “Setuju. Kenapa dikumpulinnya nggak di dalem aja sih?…” keluh Alvin sambil menatap ketiga temannya.

Oliv menggeleng-gelengkan kepalanya. “Udahlah… kita memang seharusnya menerima. Wajar kali… kita kan pelayan.. bukan putri atau pangeran..” katanya menengahi. Nova mengangguk-ngangguk setuju.

“Tapi kan harusnya kita di hormati juga. Kan kalo nggak ada kita: pelayan pribadi, para putri dan pangeran itu bisa kewalahan mengatur pekerjaannya.” balas Siyenna lagi. “Iya kan, Nov?” lanjut Siyenna meminta persetujuan dari Nova.

Nova yang kebingungan cuman bisa ngangguk-ngangguk lagi. Lalu Alvin tertawa kecil. “Tadi pas Oliv ngomong, Nova ngangguk. Pas Siyenna ngomong Nova juga ngangguk. Gimana sih Nova?…” candanya dengan tampang ceria.

Nova pun cuman cengengesan kecil.

“Ini aneh.” ujar Siyenna tiba-tiba.

“Apanya yang aneh?” tanya Oliv.

“Keputusan ini. Mengunci Para Pelayan Pribadi di satu tempat. Walaupun perkataannya ingin mengumpulkan tapi tetap saja sebenarnya kita dikunci di taman ini. Kalau niatnya ingin mengumpulkan para pelayan pasti tujuan pihak minister adalah mengumumkan sesuatu untuk para pelayan pribadi. Tapi dari tadi tidak ada yang keluar masuk taman. Yang ada di sini hanya pelayan pribadi saja.”

“Seperti di batasi ya?” tanya Nova.

“Hm. Tepat” jawab Siyenna menganggukan kepalanya.

“Oh. Iya, kalau tidak salah taman Palladius memang bisa di bilang taman yang paling tertutup di banding taman-taman lainnya di istana ini. Taman ini hanya bisa di jangkau melalui pintu gerbang taman dan satu pintu istana yaitu pintu istana timur yang ada di salah satu sisi taman ini.” ucap Alvin penuh misteri.

“Loh, bukannya hal-hal itu juga berlaku di taman barat. Taman barat kan hanya punya satu pintu gerbang, lalu terhubungnya dengan pintu istana barat kan?” sanggah Oliv.

“Oh.. Iya. Berarti aku salah..” ucap Alvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi seingatnya ada satu hal yang membuat taman ini sangat berbeda dengan taman-taman yang lainnya.

Sementara itu di suatu tempat yang gelap dan tersembunyi seperti gua. 3 minister utama, yaitu minister Syltha, Winda dan Vrone berkumpul dengan jubah yang menutupi kepala mereka. Vrone menatap pantulan cahaya air kolam yang berada di gua. Winda bersandar pada dinding gua seakan melafalkan sesuatu. Mereka kelihatan panik, kecuali minister Syltha yang hanya menatap tingkah keduanya bagaikan tak peduli.

“Bagaimana?.. apa dia sudah terlihat?” tanya Winda dengan tampang khawatir.

“Belum. Tak ada satupun tanda-tanda keberadaannya. Apa seluruh pelayan pribadi sudah berkumpul di sana?” Vrone balik bertanya untuk memastikan keadaan.

“Sudah.” jawab Winda

“Tanpa terkecuali?” Vrone meyakinkan.

“Ya. Tanpa terkecuali” jawab Winda kembali.

“Mungkin dia sudah keluar dari gerbang taman itu.” ujar Syltha dengan santainya.

“Tidak mungkin. Semua yang mencoba keluar dari gerbang akan langsung terlihat di pantulan kolam ini.” balas Winda.

“Mungkin saja. Siapa tau mereka mendapat ilmu baru dari seseorang. Seseorang yang bisa menutup sosoknya dari pandangan siapapun dan apapun. Dan setelah kuingat lagi… Reva masih belum terlihat sejak 4 bulan terakhir bukan?” Syltha membalas dan meniup asap putih dari pipa barunya.

Winda tersentak. Raut wajahnya tiba-tiba marah ketika ia mendengar balasan Syltha. “Reva tidak mungkin berkhianat. Dan dia tidak akan memberikan ilmu nya itu ke sembarang orang, terlebih lagi musuh kita” serunya tegas.

“Semua hal berubah. Mungkin Reva sudah berubah.” balas Syltha tanpa henti.

“Sudah! Diam kalian berdua!…” seru Vrone menengahi keadaan. “Winda, Syltha benar. ada banyak kemungkinan kalau kemampuan mereka dapat bertambah.”

“Vrone..” Winda tidak menyangka Vrone akan membela Syltha. Raut mukanya seketika murung. Syltha tersenyum licik.

“Sudahlah… Kita harus membuat seseorang menciptakan sebuah jebakan di gerbang itu…” tambah Vrone. “Apa ada seseorang diantara para pelayan pribadi yang bisa melakukan sihir berantai?”

“Ya.” jawab Syltha segera. “Ada dua orang.”

“Vrone! Jangan bilang kau ingin melakukan sihir boneka… Aku tidak berniat sedikitpun untuk melakukannya” seru Winda.

“Tidak usah repot. Aku yang akan melakukannya. Aku tidak mempermasalahkannya sedikitpun” Syltha menawarkan jasanya dengan senang hati. Senyumannya makin terlihat.

“Syltha!” Winda mencoba menghentikan, tapi Vrone sudah terlebih dulu menyelaknya.

“Pilih yang paling cocok untuk di korbankan” ucap Vrone jelas.

“Ya.. aku tau.” jawab Syltha.

Dalam waktu yang singkat Syltha sudah beranjak dari tempatnya. Segera melakukan tugasnya tanpa rasa ragu sedikitpun.

“Vrone…, mereka bisa terluka..” ucap Winda mengingatkan.

“Aku tau.. hanya demi putra putri mahkota kita. Tidak ada pilihan lain..”

Di taman Palladius di meja Alvin, Siyenna, Nova dan juga Oliv. Mereka masih sibuk memikirkan sebab-sebab mengapa mereka harus berada di sini. Menikmati panasnya siang yang membara. Alvin terus memutar kepalanya. Apa yang menyebabkan taman ini berbeda dengan yang lainnya?

“Ah! Iya aku ingat!!” seru Alvin tiba-tiba. Meja di depannya ia gebrak dengan kencang. Yang lainnya langsung terkejut sampai-sampai Oliv ngelatah

“Panas!!”

“Apaan sih?” tanya Siyenna penasaran.

“Aku ingat apa yang membedakan taman ini dengan taman lainnya..” lanjut Alvin dengan yakin. Oliv di tempatnya masih mengatur nafas sambil mengusap-ngusap dadanya karena terkejut. Nova langsung memperhatikan.

“Apa?” tanya Nova.

“Matahari. Hanya taman ini yang terkena sinar Matahari sepenuhnya di waktu siang. Makanya hawanya panas banget.” jawab Alvin.

“Lalu apa hubungannya dengan kita berkumpul di sini?” tanya Oliv.

“Coba lihat sekitar. Kata orang di negeriku. Untuk mengetahui sesuatu lebih dalam kadang kau harus melihat ke sekitar.” saran Siyenna. Ia langsung menajamkan matanya, mencoba melihat sekitar lekat-lekat.

“Aku tidak lihat apa-apa” ucap Oliv segera. Alvin masih sibuk melihat ke sekitar. Siyenna mencoba melihat ke atas di sekitar matahari. Dan berbeda dengan yang lainnya, Nova melihat ke bawah kakinya. yang ia selonjorkan ke samping. Sinar matahari yang panas membuatnya ingin segera memasukan kakinya ke balik meja lagi.

Karena bingung harus lihat apa, Nova pun berujar dengan asal sambil menatap kakinya yang selonjoran di bawah terik matahari.”Aku tidak bisa melihat bayanganku..”

“Bayangan!..” seru Siyenna.

“Bayangan? apa yang istimewa tentang bayangan?” tanya Oliv tidak mengerti.

“Tidak tau…” jawab Siyenna. “Tapi sepertinya ada sesuatu dibalik kata bayangan itu. Mendengarnya serasa tidak nyaman..”

Mereka berempat pun terdiam. Mencoba memikirkan sesuatu yang lain. Hingga akhirnya Oliv menyarankan Siyenna untuk mencoba menyapa pelayan pribadi yang dari tadi mereka diamkan. Dengan rasa sedikit ragu Siyenna pun mengiyakan saran Oliv.

“Udara di sini semakin panas ya…” ucap Siyenna mengawali topiknya. “Kalo.. menurutmu.. bagaimana?”

Alvin, Nova, dan Oliv langsung menatap pelayan pribadi itu seperti tidak ingin berkedip sedikitpun. Mereka penasaran respon apa yang akan diberikan? apa akan didiamkan seperti yang Oliv tadi?

“Hmm..” Akhirnya pelayan itu mau mengeluarkan suara. Hanya gumaman kecil sih.. Namun tetap saja mata Alvin, Nova, dan Oliv masih memperhatikan pelayan itu, bahkan mata mereka makin terbuka. Apalagi Siyenna yang duduk paling dekat. Makin penasaran dia dengan respon pelayan di sebelahnya.

“Aku harus ke gerbang taman Palladius.” tiba-tiba pelayan itu menjawab dengan random. Ia berdiri dari tempat duduk masih dengan pandangan kosong. Hendak melangkah ke gerbang taman.

“Hah??” Siyenna keheranan, begitu juga dengan yang lainnya.

“Apa tadi dia salah dengar ?” tanya Alvin di dalam hati.

“Mau apa?” tanya Siyenna pada pelayan itu.

Pelayan itu berhenti sejenak. Ia menjawab dengan nada datar. “Merangkai jaring laba-laba di sekitar gerbang.”

“Agar apa?” Siyenna yang semakin tidak mengerti bertanya kembali.

“Agar gelap yang ingin melewati gerbang taman tidak dapat lewat gampangnya.” jawabnya datar lagi.

“Hah??” Kini Siyenna dan Oliv sama-sama keheranan.

Nova masih terdiam mencoba mencerna maksud dari pelayan itu. “Kenapa tidak boleh masuk dengan gampangnya ke taman ini? Kenapa jaring laba-laba? Dan maksudnya dengan ‘gelap’ apa?” tanyanya dalam hati.

Di saat semuanya masih diam keheranan, pelayan itu melangkah keluar dari area tempat duduk dan pergi ke gerbang taman yang berada cukup jauh dan tertutup dari tempat mereka berkumpul.

“Hei!” seru Siyenna sebelum pelayan itu pergi semakin jauh. “Kalau kita mau keluar bagaimana?” tanya Siyenna melanjutkan.

Pelayan itu berhenti melangkah. Ia menjawab, “Para pelayan akan keluar melalui pintu timur istana, jadi tidak ada yang akan keluar melewati pintu gerbang taman.” ucap pelayan itu dengan datar.

“Kalau kita maunya keluar lewat pintu gerbang taman bagaimana?” tanya Siyenna lagi yang masih belum puas dengan jawaban Pelayan itu. Tapi pelayan itu hanya berlalu dan semakin menjauhi pandangan. Siyenna pun balik menatap meja dengan kepala tertunduk.

“AH… tidak jelas. Dan.. dari mana dia tau kalau kita akan keluar lewat pintu timur?” curcol Siyenna yang semakin malas.

Alvin mengangkat bahunya. Oliv menampakan ekspresi tidak tahu. Dan Nova berkomentar. “Kok.. kayaknya pelayan itu kayak kerasukan sih?”

“Iya yah. Aneh… aku ngerasa ada sesuatu yang akan terjadi nanti..” balas Siyenna ikut mengomentari.

Keadaan di taman Palladius pun berlangsung seperti tadi lagi. Panas menyengat, sebagian besar dari pelayan mengusap keringat mereka. Siang ini semakin tidak dimengerti. Dan tanpa orang-orang ketahui, di luar taman Paladius, ada 2 orang anak yang sedang berjalan dengan semangat dan penuh dengan keyakinan. Dengan rencana untuk memasuki gerbang taman Paladius.

Siapa mereka?
Apa yang akan terjadi nanti?
Do you feel the mystery today? Bisa jawab pertanyaan-pertanyaan mereka nggak?
Oh iya… part ini cukup, kedikitan, atau kepanjangan?

Feel free to comment ^_^ aku mengharapkan masukan semua…
Bonus Gambar akan masuk di Post berikutnya. (USBnya lagi sama Biila sih… ^,^)

Metrostar’s 6th Birthday!!

Hello for all human beings out there. How do yo do? for me, today is really really fun!

Jadi ternyata haari ini adalah hari ulang tahun metrostar AXIC yang ke-6. Waaah… gak kerasa ya, udah lama banget. Untuk ngerayain hari itu maka anggota-anggota metrostar termasuk ayahku pergi jalan-jalan ke puncak tepatnya di Alva Resort. Katanya sih kita nginep 2 hari 1 malam. Tapi mau nginep bagaimana pun, yang penting kan harus fun. Sama seperti namanya “AXIC” acara-acara yang  digelar sama anggota AXIC emang selalu asik!. Hari ini pun begitu. Setelah nyampe, kita langsung naruh barang di kamar terus ngumpul bareng temen-temen lainnya. Pada dasarnya emang aku nggak kenal banget sama satu-satu orang itu, tapi ada 1 adik kecil tadi yang lucuuuuu banget. Imut, ngegemesin, dia cewek, namanya putri. Kita senasib, datengnya cuma bareng ayahnya. Aku sama Biila juga cuman dateng bareng ayah. Terus aku langsung bilang deh, “Dek, dek, aku foto dulu yaah…” Si Putri sih diem-diem aja sambil natep aku polos gitu. terus, *Ckrek* ke foto deh. Cakep loh anaknya.

Tadi rombongan pada ngadain lomba. Ada buat anak kecil sama orang dewasa (papa-papanya). Buat anak kecil ada lomba mewarnai, aku gak bisa ikut lagi. Udah jauh dari jaman anak kecil. Cuman bisa jadi pengawas deh. Di sana ketemu sama Putri lagi, ternyata dia udah mandi. Terus dia nengok ke kita (aku dan Biila) senyum, terus nanya, “Kakak kok belum mandi?” dan tentu aja dengan nada polos juga. “Ehehehe…” kita bedua cuma bisa nyengir kuda. Curang deh! anak-anak lain pada dibantuin mamanya, walau sebenernya anak-anaknya gak niat gitu tuh. Aku yakin mama-mamanya yang pada kepingin ikut lomba ngewarnain, kembali ke masa-masa tk. Ha ha!..

Buat papa-papanya ada lomba makan kerupuk. Aku gak tau sih siapa yang menang,  waktu itu lagi nemenin Putri ngewarnain. Terus buat anak-anak around age 9-10 ada lomba bawa kelereng di sendok. Eh.. akhirnya mama sama papanya ikut juga. Seru! Lucu! ada yang pas sesi papa-papanya. Kan peserta di jadiin 2 orang. nanti ceritanya yang satu jalan ke depan, terus kelereng itu bakal di oper ke pasangannya pas pas mau balik ke tempat start. Lucu banget!! ada yang malah jalan kedepan. Terus belum nyampe ujung, pasangannya udah nyamperin dia aja dengan santai walau udah disorakin sama para penonton lomba. Akhirnya ketemu ditengah perjalanan dan otomatis sampe duluan lah.

Aku ketemu juga sama mba-mba yang mirip banget sama Shilla (IC) tapi mungkin ini versi udah gedenya kali ya. Kayaknya mba-mba itu udah kelas SMA-an deh. Sorenya habis main gitar aku bareng ayah sama Biila jalan-jalan disekitar penginapan. Enak banget penginapan ini. Ada tempat main biliard, main ping-pong, basket sama tenis/volly. Aku ngeliatin kaum-kaum adam main basket. Seru loh!! Jadi kepingin ikut! Ada satu anak kecil yang tinggalnya se-villa juga sama aku, umurnya paling muda diantara yang lainnya, lebih muda dari aku, tapi mainnya jago banget. Pasti di sekolah nilai basketnya bagus. Terus ada juga anak cowok se-SMP kali ya. Mainnya asik banget, penuh charisma (ciaellah..) tinggi juga pastinya. Aku se… dagunya kali ya. Tapi pada akhirnya aku nggak main basket sih. Padahal udah kepingin dari jauh hari.

Malem ini, aku akhirnya ngerasain kenapa bunda sebel banget kalo lagi harus nungguin ayah. Jadi harusnya kan malem ini kita makan malem di restoran di penginapan. Acara makan malemnya udah mulai dari tadi nih. Aku sama Biila juga udah siap dari tadi. Udah dandan, udah cakep, udah fresh, udah siap segala deh. Kita bahkan udah nunggu diluar kamar, di balkon villa. Tapi setelah ditunggu dan berlama-lama (nggak tau berapa lama, eh.. setengah jam??) si ayah belum keluar juga dari kamar. Padahal beberapa orang malah udah balik dari restoran itu. Muncul dugaan di benak aku kalo si ayah kemungkinan malah ketiduran. Uh… pantes aja bunda males banget kalo disuruh nungguin ayah. Habis ayah kadang kalo bilang sebentar artinya lama. Kalo lama, ya mungkin lebih lama lagi??. Sampai di sana, ya ampun malu banget deh. Piring yang disediain ternyata udah habis, tinggal sisa 3 pas banget sama kita bertiga dan itu berarti kemungkinan kita adalah orang yang terakhir dateng di acara itu. Hfft… dapet “seafood(baca sifud)” deh, sisa-sisa food.

Nyampe villa anak-anak lain yang udah pulang lagi pada nonton IMB. Ah… Fay udah keluar siih.. sebel! Nabiilah juga udah ngantuk. Ya udah, aku ikut masuk ke kamar deh. Aku masih mau coba ngetik cerita lagi deh. kayaknya ngetik di laptop ayah yang satu ini enak juga. Happy Birthday juga yah buat Metrostar. Moga-moga makin kekal persaudaraannya. Dan berlanjut terus sampai tua.  Okay then! Dan satu kesimpulan yang aku tau lagi dari diri aku. Kayaknya aku tambah nyaman main gitar deh.

Well, thats for today. See you tomorrow then! Bye.. ^_^

Kingdom Of Dream_Part 12: Pagi Pertama

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 11: Makan Malam Pertama, Utusan Cathiophia dan Happy Chipmunks Di dapur.

Astaghfirullah… Dengan sungguh aku meminta maaf sebesar-besarnya karena penundaan waktu publish part ini. Sungguh… aku sama sekali nggak ada niat untuk menghentikan ceritanya. Allhamdulillah akhirnya bisa aku post juga. Terimakasih ya Allah karena telah mengisi otak ku dengan ide-ide dan bahasa cerita itu. Dan nggak lupa terimakasih juga yang udah setia menunggu dan terus mau membaca cerita ini. Moga-moga nggak bosenin deh… Maaf yaa… Maaf juga kalo ternyata part ini kurang panjang (Aduh aku khawatirnya di situ).

Ya udah! Sekarang kalian baca deh kelanjutan cerita Kingdom Of Dream ini. Semoga puas yaa.. Wassalamualaikum wr. wb.

Kingdom Of Dream
Part 12 : Pagi Pertama

Terik matahari memasuki celah jendela kamar Pia Aluna yang terbuka setengahnya. Burung-burung berkicauan, embun pagi berkilauan, meluncur cepat di atas daun-daun hijau segar lalu jatuh membasahi tanah. Gemericik air kolam di kamar Pia aluna terdengar pelan, sangat teratur. Dan piano Pia masih terus mengalun dengan sendirinya, mengalunkan nada-nada ceria namun masih dalam tempo yang sedikit pelan, sangat cocok untuk memanjakan telinga di pagi hari ini.

Sulit dipercaya bahkan di malam hari piano itu masih terus mengalunkan nada-nada penghantar tidur yang indah. Sepertinya arwah Martiz memang tidak pernah tidur. Makan pagi kali ini menunya seafood segar yang dibakar. Tambah kekar semangat Oik untuk bangun pagi hari ini.

“Zeva!… nggak mau ikut ke ruang makan?” ajak Oik yang sudah siap dari tadi. Agni masih menyisir rambutnya tapi ia sudah sepakat dengan Oik akan ikut ke ruang makan pagi-pagi sekali.

Zevana masih mandi. Ia tidak biasa bangun pagi-pagi sekali. Sementara itu Agni yang sudah selesai merapihkan rambutnya langsung melapor dengan riang.

“Aku siap!” serunya. Oik menengok ke kamar mandi. Sekarang hanya putri Zevana yang masih belum siap dengan dandanannya.

“Kalian duluan saja!” seru Zevana dari dalam kamar mandi. “Nanti aku juga mau ke dapur dulu kok. Ketemu Rio!..” serunya makin keras.

Agni dan Oik pun berpandangan satu sama lain. Mengangguk dan berseru bersamaan.

“Ya udah!.. kita duluan ya!..”

“Iya!..”

*kepak. kepak*

Patton sedang bersiap untuk menyambut hari. Debo yang sedang memakai sepatu menyaksikan Patton dalam keadaan yang menurutnya sangat langka. Sekarang Patton sedang bertelanjang dada, mengepakan kedua sayap kecilnya yang bercorak coklat ke hitaman. Katanya ritual itu adalah kegiatan rutinnya untuk mengeringkan sayap kecilnya yang basah.

“Kenapa nggak di lap pakai handuk saja, Ton?” tanya Debo berbasa basi.

“Kalo pakai handuk nanti bulu-bulunya bisa rontok.” jelas Patton memberi tahu. Patton ini walaupun putra mahkota tapi umurnya masih tergolong cilik. Jadi sayapnya pun ikut cilik. Makanya ia masih bisa memakai baju-baju pangeran biasa yang punggungnya tidak di bolongi. Karena sayapnya dapat bersembunyi dengan baik.

“Haah… airnya segar banget!” ujar Cakka riang. Ia baru saja keluar dari kamar mandi Laven Lair. Sudah siap dengan kostum kucingnya, baju pangerannya, dan ia sudah siap untuk menjalani hari baru di Kingdom Of Dream ini. Ia gosok-gosok rambutnya dengan handuk yang sudah tersedia dan menghirup nafas panjang. Menjadi dirinya saat ini adalah hal yang cukup merepotkan. Ia harus memakai kostum kucing buatan Rahmi kapan pun dan di manapun ia berada. Kostumnya lumayan mengganggu kegiatan tidurnya.

Cakka menengok kesamping. Langsung terlihat ekspresi sebal Patton gara-gara sayap ciliknya di colek terus sama Debo. Ia makin manyun ketika Debo malah membalasnya dengan tertawaan jail.

“Waduh jangan sampai Debo narik telinga atau ekor aku nih..” gumam Cakka dalam hati.

Sementara itu di dapur istana…

“Nggak mau tau! pokoknya aku mau ada cemilan tambahan di kamarku malam ini!” tegas Zevana masih belum menyerah. Ia masih kekeuh sama keinginannya agar ada cemilan di malam hari. Kini ia sedang berhadapan dengan Rio. Tepatnya Rio yang merasa benar-benar berhadapan dengan the mighty Zevana. Bener-bener deh, kalo debat sama Zevana emang susah banget ngalahinnya.

Topik yang Rio junjung adalah ‘ini semua dikarenakan peraturan’. Sementara topic yang Zevana junjung adalah ‘peraturan utama kerajaan, intinya adalah melindungi para putra dan putri mahkota dan termasuk di dalamnya mood para putra dan putri mahkota kerajaan’.

“Kue-kue itu harus ada di kamarku setiap malam. Itu sudah menjadi kebiasaan semua putri kerajaan harimau. Tanpa itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak!” tegas Zevana sekali lagi. Sebenarnya kebiasaannya memakan cemilan itu memang turunan dari mamanya. Sifat turunan khusus yang melekat kuat sekali padanya. Jadi… mau bilang apa?

“Tapi bahan-bahan makanan yang sudah dipesan dan diantar di jam penerimaan bahan makanan hanya cukup untuk membuat menu makan malam saja. Walaupun ada bahan makanan yang diantar di luar jam itu, aku tidak bisa membuat kue apapun karena ketua pelayan menyuruhku untuk mencurigai semua bahan makanan yang dikirim setelah jam itu. Jadi maaf aku tidak bisa mengubah keadaan…” balas Rio mengatakan semua yang ia tahu. Sudah kewalahan dia meladeni kata-kata Zevana yang susah ditangkis.

“Tapi-..”

Brak!

Pintu dapur yang ada di belakang Zevana dibuka oleh seseorang. Padahal tak ada maksud membanting atau apapun, tapi pintu itu selalu otomatis terbuka dengan keras.

“Siyenna!” Rio berseru tiba-tiba. Ada nada riang dalam seruannya tadi. Melihat ada Siyenna di sana sekarang, ia sedikit agak lega. Setidaknya kalau harus berhadapan dengan Zevana ia tidak harus menghadapinya sendiri.

Tapi Zevana yang mendengar nama itu, tiba-tiba dalam otaknya muncul rekaman memori masa lalu. Kepalanya tiba-tiba panas, ujung alisnya naik ke atas, dahinya berkerut, menunjukan ekspresi marah yang dulu sempat terpendam. Zevana menengok ke belakang. Mengeker setiap bagian tubuh perempuan yang ada di belakangnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. *Cling* terbersit 1000 kilat di ruang imajinasi Zevana. Matanya seketika berapi-api, menatap perempuan di belakangnya dengan pandangan keji. Sementara itu si perempuan malah tersenyum tenang, dengan bahasa tubuh yang juga tenang namun pandangan agak meremehkan.

“Wow… hai, lama tidak bertemu. Masih ingat denganku?” sapa si perempuan alias Siyenna masih dengan senyuman dan aura misteriusnya. Pelayan pribadi yang satu ini memang tidak takut apapun.

Zevana hanya diam. Namun tidak mematung. Dada dan perutnya terlihat naik turun bergantian. Dan mukanya masih penuh dengan berbagai macam ekspresi marah. She’s in “red”.

Brak!

Pintu dapur yang hampir tertutup sendirinya di buka kembali oleh Zevana, lalu ia pergi dengan mood yang masih diliputi warna merah cerah (baca: api). “Ah.. sebal!” serunya dalam diam.

“Haah… akhirnyaa..” seru Rio legaaa sekali. Ia langsung menjatuhkan kepalanya ke meja dapur yang kinclong, baru dibersihkan. “Untung Siyenna datang..” tambahnya. Ia berterimakasih karena kalau Siyenna nggak datang mungkin dirinya sudah habis oleh Zevana.

“Hei, jangan malah malas-malasan seperti itu. Aku kan datang ke sini bukan ingin menyelamatkanmu..” balas Siyenna yang langsung duduk santai di bangku kayu sebelah Rio setelah Zevana berlalu.

“Oh iya yah..” Rio bangun dari posisinya, menatap Siyenna dengan senyum ramah seperti biasanya. “Jadi, ada perlu apa, Siyenna?”

“Mau pinjam mangkok.” jawab Siyenna to the poin.

Rio pun berdiri dan membuka lemari tempat mangkok di simpan.

“2 mangkok.” Siyenna menambahkan.

Rio pun mengambilkannya. “Untuk apa?” tanya Rio penasaran. Ia menyerahkan 2 mangkok itu ke tangan Siyenna. Siyenna menjawabnya enteng.

“Untuk tadahan minum darah.”

“Hah?!” Rio terkejut setengah mati. Ia baru ingat kalau Siyenna datang dari negeri vampire. Jangan-jangan ia yang akan jadi santapannya selanjutnya. Ekspresi Rio langsung takut-takut. Siap-siap lari ngibrit kalau ternyata memang benar si Siyenna ngincer darahnya.

“Haha!..” Siyenna tertawa geli, ia sudah bisa membaca apa yang ada dikepala Rio. “Nggak segitunya kali. Masa aku mau minum darah rekan kerja?.. Lagian bukan aku yang mau minum darah..” jelas Siyenna. Senyum masih terukir di bibirnya.

Tapi mau Siyenna ngomong apa, Rio tetep aja menganga. Nggak inget kalau lalat terdekat mungkin bakal penasaran dan masuk ke terowongan pink yang gelap alias mulut Rio.

“Buat para pangeran vampire.” tambah Siyenna lagi. Rio manggut-manggut, mulai sadar dari kekagetannya.

“Eh, ada pisau nggak?” tanya Siyenna dengan pandangan kesana-kemari, mencari pisau.

“Ada” Rio langsung menjawab. Ia akhirnya sadar sepenuhnya dan kembali pada state seperti biasanya. Pisau kecil yang cocok untuk ukuran Siyenna ada di sebelah sink dapur. Ia pun mengambil pisau itu dan hendak melangkah ke Siyenna, memberikan secara langsung pisaunya. Tapi Siyenna menyuruhnya ‘lempar aja’. Ya sudah.. biar nggak repot dan nggak buang waktu. Lagi pula Rio juga tau si Siyenna ini ceweknya diem-diem ahli masalah pedang/benda tarung nan tajam lainnya.

“Hap” Siyenna menangkapnya tanpa kesulitan. Ia lalu mendekatkan pisau itu ke lengan bawahnya agak dekat dengan pergelangan tangan dan berujar. “Pinjem bentar ya. Nanti aku cuci kok..”

Rio tidak mengerti sungguh-sungguh apa arti perkataan si Siyenna itu. Tapi matanya langsung terbelalak ketika melihat apa yang Siyenna lakukan setelahnya.

Syrats!

“Heh! Mau ngapain?!”

Sinar mentari pagi memancar dari jendela, menerangi sebagian kecil dari salah satu kamar tersembunyi yang dibuat oleh Sion. Arsitekturnya indah, permadaninya, lampunya, pahatan di jendela, segala perabot di sana terlihat sangat indah, dengan nuansa merah tua dan hitam. Namun auranya tetap… gelap…

Mawar merah yang hampir layu tersandar di vas bunga kecil dari kaca, ditaruh di meja kecil sebelah tempat tidur besar dengan tirai beludru merah tua berlapis-lapis. Mawar itu terlihat rapuh. di sebelah vas-nya, terlihat tangan seseorang pangeran yang belum sadar dari tidurnya tergeletak begitu saja.

Gabriel namanya. Pangeran kedua dari negeri vampire. Naluri vampire dalam dirinya yang berjumlah lebih dari kakak kandungnya, Sion, membuat dirinya memiliki lebih banyak kemampuan-kemampuan vampire yang menakjubkan. Suatu anugerah.., namun juga suatu kutukan. Diberikan kemampuan besar mengerikan bagai vampire di saat ia masih terlalu kecil untuk bisa mengendalikan sepenuhnya kekuatan itu. Membuatnya harus dikurung setiap saat, takut kekuatannya itu tiba-tiba keluar tak terkendali dan mencelakai siapa pun yang ada didekatnya. Burung merak dalam sangkar emas… Ia haus darah.

Tlek.

“Ugh..” Gabriel mengerang pelan. jari-jarinya bergerak menekuk, meregangkan setiap otot di dalam kulitnya. Salah satu kemampuan Gabriel adalah memiliki pendengaran tajam. Walau bukan kemampuan khusus vampire yang mencolok tapi ia melatih kemampuan ini sendiri. Kemampuan itu telah membangunkannnya dari tidur yang nyenyak. Salah satu bukti bahwa bagi Gabriel kemampuannya itu juga kutukan, dengan ini ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak seutuh-utuhnya.

“Bagus. Akhirnya kau meminum darahku juga..” ujar seseorang yang membuat suara ‘tlek’ tadi.

Tak tau apa maksud kata-kata orang di depannya, apakah lega atau tidak senang, Gabriel pun mengeluarkan respon.

“Siyenna?”

“Ya. Hari sudah pagi. Kau harus bangun sebentar lagi. Acara hari ini yang hampir seluruhnya pelajaran, tidak bisa kau lewati begitu saja” balas orang didepannya yang sebenarnya Siyenna. Ia datang untuk mengganti jatah makan malam Gabriel kemarin, yang bertadahkan cangkir kecil, dengan jatah makannya pagi ini yang baru saja ia buat dari lukanya di dapur istana tadi. Ingat kan insiden Rio kaget? Itu semua karena ini.

Gabriel melahap atau tepatnya meminum jatah sarapan paginya dengan lahap. Siyenna bersandar di meja kecil Gabriel, memperhatikan lukanya yang sudah diperban oleh Rio. Ia langsung ingat ekspresi Rio di dapur tadi. Panik setengah mati. Katanya Rio, dia panic banget karena nggak mau kalau sampai dirinya di tuduh mencelakai Siyenna dan masuk penjara. Dan dia sendiri nggak bakalan bisa membiarkan seorang cewek yang deket banget jaraknya dari dia, bunuh diri. Ha ha.. jadi dia pikir aku bunuh diri? ujar Siyenna dalam hati.

“Oh iya..”  ucap Gabriel, membuyarkan segala hal yang ada dalam pikiran Siyenna tadi. “Apa kamu nggak bakal sakit kalo aku sama kak Sion minum darahmu terus?” tanyanya.

“Tadi aku udah minta ke Rio minuman yang bisa menggantikan sel-sel darah yang hilang kok. Katanya dia-ada, dan bakal disiapin setiap hari. Jadi.. nggak usah khawatir lagi.” jawab Siyenna.

“Oke” Gabriel menyudahi pembicaraan. Ia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil baju untuk dikenakan hari itu.

Siyenna berbalik, hendak keluar kamar. Tapi sebelum itu, ia sempat memberi pesan peringatan singkat pada Gabriel. “Jangan bikin masalah ya. Kalau nggak, Aku dan Sion nggak akan segan-segan menghukum”

“Aah.. Sebel!…  Sebel! Sebel! Sebel!” Zevana mencak-mencak di ruang makan istana. Di sebelahnya duduk Agni dan Oik dan mereka sama-sama tidak tau harus berkata apa.

Zevana sudah mencak-mencak sejak ia masuk ke ruang makan. Bahkan mungkin di jalan ia sudah mencak-mencak duluan. Penyebabnya apalagi kalau bukan Siyenna.

“Ah… tampangnya itu loh. Gerak geriknya itu… Ihh!.. kayak gak tau derajat aja! udah tau dia pelayan aku putri raja. Suaranya… trus.. nada bicaranya itu! Argh!… nyebelin!” bentak Zevana sendiri. Dari tadi bentakannya nggak habis-habis. Ngalir aja kayak sungai

“Katanya Zevana, derajat seluruh orang di dunia ini sama..” ujar Agni mengingatkan.

“Ya tapi… dia kayak meremehkan… Ekspresinya… kayak gak pernah takut sama apapun dan siapapun..” keluh Zevana dengan tampang mumetnya.

“Ya mungkin dilahirkannya memang dengan muka seperti itu kali…” balas Oik asal. Yang ada di pikirannya memang itu sih. Kalau didengar dari cerita Zevana, Siyenna memang bagaikan tidak takut apapun.

“Ya tapi kan… Haah..” *Bruk* Zevana mendesah tidak kuat lagi. Sudah bingung mau ngeluh apalagi tentang Siyenna. Bagus lah, kalau ia tetap bersihkeras mencak-mencak bisa-bisa suaranya habis di tengah hari.

Agni menengok kesana kemari, mencari sesosok pangeran misterius yang kemarin ia lihat di taman belakang kediaman cranofile. Kini suasana di ruang makan masih sepi. Hanya ada kurang lebih 8-10 orang di sana. Beberapa kue kering, kue kecil, kue lucu, kue manis, pokoknya berbagai cemilan kue sudah ada di sana. Oik berpikir, mungkin kue-kue ini bisa menggantikan kue-kue malam yang kemarin tidak bisa Zevana makan. Tapi ternyata Zevana bilang, selera makannya memuncak hanya pada malam hari. Jadinya Oik deh yang paling banyak memakan kue-kue di sana. Saat Ray, Deva, dan Acha mengisi kembali piring-piring sedang yang kosong dengan kue baru yang masih hangat. Ray menggoda Oik.

“Makan nya jangan banyak-banyak, Ik. Nanti jadi gendut loh..” goda Ray dengan tampang jailnya. Tapi seseorang membalas godaan Ray.

“Nggak usah takut gendut, putri. Kan kuenya rendah kalori..” balas Acha sambil melirik tajam ke Ray. Sedikit meleletkan lidahnya sampai Ray mengacungkan kepalannya. Seakan berkata, “Awas loh!”

2 anak ini memang kayak kucing dan anjing. Suka berantem tiba-tiba, saling mukul tiba-tiba, saling ejek tiba-tiba. Gak harmonis deh.

Sementara Deva yang berada di tengah, memisahkan mereka, cuma cekikikan merhatiin tingkah 2 crazy chipmunk di sebelahnya.

“Eh, bentar lagi jam makannya dimulai kan?.. Cakka sama yang lainnya di mana ya? kok belum dateng-dateng?..” tanya Oik.

“Nggak tau…” jawab Zevana lemas. Ia masih berusaha menganggap acara pertemuannya dengan Siyenna tadi hanya mimpi. Males banget kalo setiap hari harus ketemu dia.. pikir Zevana.

Deva, Ray, Acha, dan Keke sudah kembali ke dapur. Rencananya nanti mereka akan masuk kembali ke ruang makan lewat pintu utama ruang makan dengan masing-masing membawa troli makanan bertatakan masakan-masakan lezat. Deva membawa troli bertatakan makanan pembuka, Ray makanan utama, Acha, makanan penutup, dan Keke jus serta susu murni.

*Teng.. Teng.. Teng..*

Dentingan jam dinding di ruang makan terdengar. Itu artinya jam makan sudah hampir dimulai. Para pangeran dan putri-putri yang sudah berdandan ayu berhamburan masuk ke dalam ruang makan. Baju-baju mereka terilhat cerah, indah, menarik, unik. Tapi yang paling unik adalah bajunya pangeran monyet, Ozy, tidak ada yang menyamainya masalah gaya baju yang dikenakan. Sementara dikalangan putri-putri, para putri awan lah yang bajunya paling menyita perhatian. Baju putih gemerlapan bagaikan semuanya terbuat dari berlian dengan segala bling blingnya. Dan di bagian seperti rok atau kerah, dan lengan mereka terdapat bulu-bulu putih bersih bagaikan bulu beruang kutub di kutub utara.

Agni tidak bisa mengalihkan pandangannya pada mereka, para putri awan. Bajunya terlalu mengkilap. Oik malah dengan sinisnya menyipitkan mata bagaikan terkena silau yang mematikan. “Ih.. norak.” komentarnya pedas.  Kepala Zevana masih tidak bisa bangun dari posisi ambruknya di meja makan. Sementara itu dari kejauhan 5 orang pangeran datang mendekati mereka dan menyapa riang.

“Agni!.. Oik!.. Zevana!..” sapa mereka. Mereka adalah Cakka, Obiet, Patton, Debo, dan Irsyad.

“Hai! Pagi!” balas para putri yang dipanggil. Mereka tersenyum manis ke 5 pangeran itu dan mempersilahkan mereka duduk di dekat kursi-kursi mereka.

“Menunggunya lama ya??… Maaf.. tadi ada kemacetan di tengah jalan” ucap Irsyad meminta maaf.

“Iya… lama banget.” keluh Oik. “Kok bisa sih? memang ada macet apa?” tanyanya.

5 pangeran itu tersenyum geli mendengar pertanyaan Oik. Karena persitiwa “macet” tadi memang lucu, dan sangat tidak disangka-sangka.

“Tadi tiga putri awan ternyata salah jalan. Terus mereka masuk ke kawasan permandian air panas di area laki-laki!..”

“Hah?!” Oik, Agni dan Zevana menganga tidak percaya.

“Iya! bener!.. nggak di sangka banget kan?. Harusnya kalian lihat ekspresi mereka!” seru Patton sambil ketawa ngakak.

“He-eh!” Irsyad nyambung ke pembicaraan. “Lucu banget!.. mereka langsung jerit-jerit histeris terus loncat-loncat nggak jelas gitu! padahal kan salah mereka sendiri. Asal jalan sih! nggak mau tau situasi sekitar. Jadinya masuk ke permandian cowok deh..”

“Ah… tapi kalo gitu doang kayaknya nggak ada hubungannya sama macet di jalan..” kata Agni bingung.

“Iya. Sebenernya akibat dari semua itu yang bikin macet. Jadi gara-gara kejadian itu pangeran-pangeran yang lagi mandi jadi ketawa. Terus  pas para pangeran lagi di lorong menuju ke ruang makan, mereka muncul. Tiba-tiba nyuruh kita yang ngetawain mereka minta maaf di depan mereka sambil membungkuk hormat” kata Patton. “Sok berkuasa banget yah. Padahal derajat mereka kan nggak ada bedanya sama kita”

*Melody*

Tiba-tiba terdengar dentingan melodi-melodi gitar yang berkombinasi membuat harmoni. Dentingan-dentingan tersebut keluar dari rongga-rongga dinding di tembok ruangan bagian atas. Alunan musik ringan mulai terdengar, menghiasi awal hari ini dengan nada-nada ceria. Pintu utama ruang makan terbuka. Dari sana muncul para pelayan café Happy Chipmunks. Seperti yang di ceritakan tadi, Deva, Ray, Keke dan Acha berjalan dari luar membawa troli-troli makanan cantik berhiaskan taplak kuning cerah berkilawan dari sutra. Mereka berjalan mengelilingi meja-meja makan dan membagikan jatah makanan para putra dan putri mahkota.

“Wah… ada suara gitar yang keluar dari rongga-rongga tembok itu. Pasti sihir dari salah satu professor..” tebak Obiet.

“Menurutmu professor siapa?” tanya Irsyad pada Obiet.

“Hm… mungkin… ketua minister?” tebak Obiet tidak terlalu yakin.

“Ketua minister tidak akan membuat sihir seperti ini. Sihirnya hanya dikeluarkan di saat-saat tertentu..” kata Patton memberi tahu.

“Kalau tidak salah, yang bisa membuat sihir seperti ini adalah professor Syltha” ucap Zevana ikut obrolan. Agni dan Oik yang duduk di sampingnya lebih konsentrasi pada makanan mereka.

“Ah masa?.. aku kira dia cuma bisa membuat sihir mistik. Yah… yang gelap dan sejenisnya..” balas Cakka tidak percaya.

“Kalau setauku. Yang ahli dalam sihir mistik seperti itu malah minister Heina” kata Zevana lagi.

Cakka berfikir sejenak. Ia ingat-ingat lagi siapa si professor yang Zevana sebutkan. “Oh… yang marahin aku kemarin ya?.. cocok sih…” ujar Cakka manggut-manggut.

“Emh.. iya!..” Agni berseru saat semuanya berhenti berbicara. Mulutnya masih penuh makanan. *Glek* ia telan habis makanan di mulutnya itu dan bertanya. “Hari ini ministernya nggak ada ya? kok meja makan di atas kosong?”

“Wah iya!… minister sama professornya nggak ada!” Patton berseru keras saking nggak nyangkanya. Riko yang kebetulan sedang berjalan di sebelah kanan kursi Patton langsung menangkap perkataan Patton. Ia pun berujar dengan suara yang agak keras.

“Berarti hari ini nggak ada pelajaran dong..”

“Hah? nggak ada pelajaran?” tanpa sengaja seorang pangeran yang duduk di kursi sebelah kanan Riko mendengar ujaran Riko tersebut. Kata-kata itu tersebar ke teman disebelahnya, dan teman di sebelahnya lagi, dan terus berlanjut sampai semua putra dan putri mahkota menerima kabar burung hasil ujaran Riko tersebut. 1…2…3 detik terlalui.. dan…,

“YEEEEEE!!!!…”

Whoa… semua pun bersorak kegirangan. Ada yang loncat-loncat, tos-an bareng teman-temannya, lempar sapu tangan keatas, dan lain-lain. Namun tiba-tiba…

*Ngiiiiing*

Tiba-tiba suara dengungan keras memekikan setiap telinga putra putri mahkota yang sedang bersorak sorai dengan gembira. Semuanya mengeluh sambil menutup telinga mereka rapat-rapat.

“Tidak!.. Hentikan sorak sorai itu. Kalian akan tetap mendapatkan pelajaran hari ini.” seru sebuah suara yang datang entah dari mana.

“Siapa yang bicara?” tanya Lintar lantang dari tempatnya duduk.

“Minister Heina. Siapa kau berani bertanya dengan nada seperti itu kepadaku?” balas si suara asing pada Lintar.

Lintar hanya mencibir kecil dan cuek bebek dengan kata-kata minister Heina lalu kembali menikmati sarapan paginya. “Hh.. Memangnya kita sampai harus hafal suara-suara minister?” ucap Lintar ketus di dalam hati.

“Ya sudah. Sebentar lagi waktu makan akan habis. Ketika jam dinding berbunyi kalian harus langsung siap-siap memasuki kelas kalian masing-masing!”

*Ngiiiing*

“Ah…” para putri dan putra mahkota mengeluh karena dengungan itu lagi.

*Jreng jreng jreng..*

Harmoni gitar kembali mengalun dan pengumuman pun berakhir. Sebagian besar dari putra putri mahkota di sana langsung mengeluh akan pengumuman yang baru berakhir tadi. Sementara Riko kembali berjalan ke tempat duduknya sambil berujar.

“Ah.. nggak asik.”

“Haaah… selesai juga… kenyang aku!” seru Patton. Ia bersandar ke tempat duduk dengan nyaman dan menepuk-nepuk perutnya yang membesar.

“Jangan tidur dulu, Ton. Hari baru mau dimulai..” kata Debo ikut menepuki perut Patton.

Oik meletakan sendok dan garpunya di piring. Ia puas sekali dengan sarapan pagi kali ini. Benar-benar “Right to the spot”

“Eh iya!… hari ini pelajaran pertama professornya siapa?” tanya Zevana.

“Professor Dusty” jawab Agni yakin.

“Hmm… aku penasaran bagaimana orangnya” balas Zevana.

Debo mengakhiri sesi makan paginya. Kini yang ia butuhkan hanya minuman. Ia pun mengajak yang lainnya untuk mengambil teh di pojok ruangan dekat meja makan professor dan minister, tapi tidak ada yang mau ikut. Akhirnya ia pun berjalan ke sana sendiri.

Tanpa Debo sadari, seorang putri kupu-kupu, Ify, juga ikut berjalan ke meja di pojok ruangan hendak mengambil minum juga.

Debo yang sama sekali tidak sadar saat ia mengambil salah satu gelas yang ada di sana dan berbalik untuk meminum teh di gelas tersebut sambil melihat suasana ruang makan pun menabrak Ify yang ada di belakangnya dan tidak sempat menghindar. Mereka berdua terkejut. Gelas yang Debo pegang pun tumpah ke bajunya, sementara gelas-gelas yang ada di meja juga jatuh dan airnya tumpah mengenai baju belakang Debo. Debo pun kena tumpahan air teh dari depan dan belakang. Bajunya sudah pasti basah kuyup.

“Maaf… aku nggak bermaksud nabrak kamu..” kata Ify meminta maaf.

Debo langsung salah tingkah. “Eh… nggak nggak… aku yang salah… harusnya aku liat-liat dulu. Tadi aku malah asal balik aja, nggak liat ada orang atau enggak di belakang aku..”

“Ini…” Ify meraih sapu tangan di saku bajunya. “Baju kamu basah banget. Di lap deh..”

“Nggak usah… itu kan sapu tangan kamu. Aku bisa ganti baju kok nanti..” Debo yang makin lama makin grogi pun langsung pamin undur diri ke tempat dia duduk bareng temen-temennya. Ify di sana mengangguk mempersilahkan Debo pergi walau dirinya masih merasa bersalah.

“Weh!.. kena apa kamu, Bo? bajunya basah depan belakang gitu…” tanya Irsyad.

Obiet yang melihat Debo seperti itu tertawa lucu sambil menunduk.

“Tadi tabrakan sama Ify..” ucap Debo malu. Seperti ingin buru-buru pergi dari sana. “Patton, anterin yuk… ke kamar. Ganti baju..” ucap Debo memohon.

“Hmh.. Enggak ah… perutku masih berat nih… masih mau duduk..” balas Patton mengelus-elus perutnya yang masih dalam keadaan gendut.

Debo pun langsung menatap ke teman sekamarnya yang lain. “Cakka!… anterin yuk…” mohon Debo lebih memelas.

Cakka tidak merasa keberatan. Ia pun berdiri dan mengiyakan ajakan Debo. Mereka berdua pun keluar dari ruang makan dan berjalan menuju kamar asrama mereka.

“Nanti…” ucap Obiet lambat. “Kelasnya dibagi tiga kan?” tanya Obiet.

“Iyah..” Oik mengangguk dan meminum teh nya yang sudah agak dingin.

“Kira-kira siapa yah yang sekelas sama kita?” tanya Obiet lagi. Matanya menerawang ke atas, ia berpikir dan menebak-nebak.

“Untungnya sih kita sekelas..” ujar Patton. “Kalo putri dan pangeran yang lain… yang pasti, aku rasa sifat-sifat mereka akan lebih menarik di banding semua putri dan pangeran di kelas lain. Yang aku tau, ada Ozy, Dea, Ify, 3 bersaudara, lalu putri awan juga ada.. ha ha..” Patton tertawa sebentar karena ingat akan insiden tadi pagi yang sangat menggemparkan. “Lalu… ada 2 orang pangeran lagi, dari negeri yang sama… aku tidak tau siapa mereka. Tapi aku yakin… mereka juga akan menarik” tambanya.

“Ya sudah… aku sudah selesai makan. Lebih baik kita mulai siap-siap ke kelas saja.” usul Zevana.

semuanya mengangguk setuju. Mereka pun meninggalkan bekas-bekas piring mereka di meja dan pergi ke kamar masing-masing.

Di balkon perpustakaan lantai tiga yang menghadap ke taman belakang, Nova sedang bersandar, menikmati angin segar yang bertiup sepoi-sepoi. Rambutnya berkibasan ke belakang. Ia menatap taman belakang, memperhatikan pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh subur di sana, dan juga Alvin yang sedang mengecek keadaan bunga-bunga di sana. Ia berkonsentrasi, mencoba mendekatkan pandangannya ke Alvin, namun konsentrasinya seketika buyar ketika terdengar lonceng pengumuman berbunyi menggema dari dalam perpustakaan.

“Pengumuman untuk para pelayan pribadi putra maupun putri mahkota Kingdom Of Dream. Di wajibkan pada kalian semua untuk berkumpul di dalam area taman Palladium sekarang juga”

*Teng teng*

Pengumuman berakhir. Nova mengirup udara segar sebisanya. Ia sebenarnya agak keberatan meninggalkan perpustakaan ini. Menginggalkan suasananya yang tenang, meninggalkan bayangan-bayangan indah yang dihasilkan bingkai-bingkai jendela yang tertepa cahaya mentari pagi. Meninggalkan bau bau buku yang penuh akan pengetahuan, meninggalkan angin-angin yang bertiup semilir, namun apa yang bisa ia lakukan? Ia adalah pelayan, harus mematuhi segala peraturan yang ada. Ya, itu hukumnya.

Nova melangkah pelan, mundur menjauhi balkon kedamaiannya. Lalu berjalan di tengah 2 rak penuh buku, memegang gagang pintu, dan keluar dengan suara kecil.

Klek..

Pintu tertutup.

“Ray!… Ray!..” Deva berlari buru-buru memasuki dapur. Ia menghampiri Ray dengan ekspresi gembira dan bersemangat. Mukanya berseri-seri, bagaikan baru saja mendapat ilham dari langit.

“Ini saatnya, Ray…” ucapnya sungguh-sungguh sambil memegang erat pundak Ray yang sedang sibuk merapihkan piring-piring di dapur.

“Saatnya apa?” tanya Ray nggak ngerti.

“Saatnya kita beraksi…” lanjut Deva. Ray malah tambah nggak ngerti. Ia mulai berpikir jangan-jangan temannya ini tiba-tiba sakit gara-gara kerja keberatan tadi pagi.

“Beraksi mau ngapain?… emang kamu sangka kita apa? pahlawan bertopeng?” balas Ray mencantumkan nama salah satu legenda yang diceritakan turun temurun oleh keluarganya.

“Ya bukan lah… maksud aku.. kita mau nyamperin Nova..” kata Deva nggak sabar. Pundak Ray yang tadi hanya dipegang sekarang sudah dicengkramnya.

“Oh.. itu…” Ray masih santai-santai aja. Nggak bisa ikut merasakan betapa bersemangatnya Deva saat itu. “Emang harus sekarang yah? gimana kalo nanti siang aja..” tanya Ray masih sempet tawar-tawaran.

“Enggak! pokoknya harus sekarang!.. memang kamu nggak denger pengumuman tadi? semua pelayan pribadi harus berkumpul di taman Palladium istana. Itu berarti Nova sudah pasti ada di sana, jadi kita nggak perlu susah susah nyari lagi keberadaan Nova… Ayo lah, Ray.. Cepet!” ucap Deva panjang lebar. Kini ia tarik baju Ray saking nggak sabarnya.

“Iya iya… eh tunggu!.. minta izinnya gimana?” tanya Ray lagi.

“Ya sama Rio lah… Ayo cepet!”

Akhirnya Ray pun menghentikan pekerajaannya yang tadi dan ikut Deva keluar dari dapur. Rio ada di ruang makan. Ia tidak sabar untuk meminta izin kepada Rio dan tentu saja pergi ke taman Palladium untuk bertemu dengan Nova.

“Palladium! Aku datang!..”

To be Continued to the next part >> Kingdom Of Dream part 13 : Perjuangan Deva

Thx for reading. Maaf kalo ada salah-salah kata…
see you

New Official Photos of Super Idola Band

from ify’s blog.

New Official Photos of Super Idola Band.

Sekarang udah ada Alvinnya tuh!

Super Idola Band

Super Idola Band

SIB masa depan musik Indonesia!

Lihat sekali lagi judul di atas. Sepertinya kalimat itu memang sangat mencerminkan existensi Super Idola Band sekarang. Dengan makin seringnya mereka tampil di acara-acara bergengsi, mereka pun makin menjadi masa depan musik Indonesia.

x2_1902be4

super idola band di dahsyat RCTI

Alumni-alumni idola cilik memang hebat-hebat. Super super!!. Bahkan, minggu kemarin mereka telah menampilkan performance yang menjanjikan di acara bergengsi AMI Award alias Anugerah Musik Indonesia.

x2_199465c

SIB di Kemilau Mandiri

SIB di undang untuk menjadi penghibur-penghibur pemirsa, bahkan salah satu lagu dari vokalis Super Idola Band ini, yaitu Debo,  masuk nominasi lagu anak-anak terbaik. Dan alhamdulillah menang!! Padahal dinilainya oleh para juri loh. Hebat yah!

x2_1933873

SIB di AMI Awards

Di AMI, mereka bersama Angel, Shilla, Zahra, dan Sivia (bagian dari icil diva) menyanyikan lagu bintang dengan genre yang benar-benar berbeda. Angel, Shilla, Zahra, dan Sivia menyanyikan lagu bintang ini dengan alunan musik yang mellow, mendayu-dayu, di jamin bikin pingin tidur. Apalagi mereka berdiri di atas layar yang bergambar awan-awan putih di malam hari. Bagaikan bidadari-bidadari yang turun dari langit, menyanyikan lagu selamat tidur untuk kita secara accapela dengan perpaduan suara yang indah. Membawa kita berangan-angan sampai ke bintang.

Lalu setelah bait reff kedua berakhir, suasana menjadi heboh dengan hadirnya suara-suara gitar listrik dan bass dari personil-personil SIB. Mereka pake Baju baru loh!! He he… bajunya keren banget. Harajukunya keliatan banget. Nuansa Hitam merah yang sering dipakai oleh SIB. Agni, Cakka, Debo, Gabriel, Ify, Ray, Zevana, dan Alvin membangunkan para penonton yang baru saja terdiam mendengarkan senandung para diva. Oh ya!! sepertinya aku belum memberitahukan. SIB mendapatkan personil baru!! Siapakah dia?? Ini dia!!

alvin korean face

Alvin

Alvin, adalah personil SIB yang baru masuk kira-kira… setelah IC 3 berakhir. Dia adalah juara ke-3 dari Idola Cilik 3 dan itu membuatnya pantas untuk masuk ke kumpulan anak-anak super Idola Cilik. Tampangnya tampang korea, agak-agak jepang, yaa pokoknya maniiis aja. Nyocok banget sama konsep harajuku SIB. Suaranya jernih, ringan dan enak didengar. Dan ia juga berteman baik dengan Gabriel, salah satu personil dari SIB.

Alvin anak yang berbakat sekaligus beruntung. Ia menjadi juara 3 IC 3 padahal kenyataan sebenarnya ia tidak mau jadi penyanyi dan tidak berniat untuk masuk ke Idola Cilik. “Aku pinginnya jadi pemain sepak bola” Itu kata Alvin saat ditanya mau apa kalau IC 3 udah selesai. Berbeda sekali dengan jawaban ke-2 temannya yang sesama finalis top 3, Rio dan Lintar. Mereka tentu saja sangat berniat untuk jadi pemenang IC 3 dan menjadi penyanyi yang sukses.

Tadinya, gosip kalau Alvin akan masuk ke SIB sempat diperdebatkan oleh banyak pihak di ICL, di Superidolaband.ning.com, dll. Termasuk olehku. Kenapa?? Dia kan punya modal banyak. Tampang cakep, Suara juga bagus, Keren juga tuh. Iya sih… aku juga nge-fans kok sama Alvin. Tapi sejujurnya, pas denger Alvin bakal masuk ke SIB, aku kayak nggak yakin sama dia. Soalnya, aku nge-rasa kalau formasi di SIB itu udah pas banget. Mereka udah nyatu satu sama lain. Kalo misalnya Alvin masuk, aku takut nanti formasinya jadi agak terganggu dan berubah lagi. Dan yang paling bikin aku nggak yakin adalah aura alvin. Dulu, di 6 besar komentator pernah berkata kalau auranya dia suka kalah kalo lagi duet. Padahal waktu itu kan duet sama Cakka, gitaris di SIB. Nah, Gimana kalo auranya dibandingin sama vokalis di SIB, Gabriel dan Debo, kemungkinan besar kan akan kalah juga. Apalagi yang ini ngelawan 2  aura. Terus, kadang kan suara Alvin kurang stabil, dan suaranya mungkin kalah besar dengan suara Debo dan Gabriel yang kalau menyanyi dengan lantang pasti keras banget.

Tapi ternyata, setelah di berikan pembuktiannya, Alvin cocok kok perform bareng SIB. Dia cocok menjadi bagian dari SIB dan mejadi formasi dari SIB. Alvin! Aku bangga jadi Alvinoszta!! Aku juga merasa sejak Alvin masuk SIB, kayaknya kepercayaan dirinya jadi bertambah, dan Aksi panggungnya makin asik. Interaksi penontonnya jadi paling bagus diantara anak-anak IC 3 lainnya (itu menurutku). Wah… point plus buat Alvin tuh. RCTI khususnya crew Idola Cilik memang tau yang terbaik. Hikmah yang aku dapat dari sana, jangan menduga-duga yang jelek dulu sebelum ketahuan hasilnya.

Well… semoga dengan hadirnya Alvin di SIB, SIB jadi tambah eksis! (soalnya fansnya Alvin kan banyak. kompak-kompak lagi). Pokoknya kita harus saling menjaga hubungan persahabatan dan kekeluargaan kita. Seperti nama Fans Super Idola Band aja. SIBLink (sibling) yang artinya saudara.

Oke, post kali ini selesai sampai di sini saja. Semoga semuanya hidup bahagia dan sehat selalu. He he.. =P Bonus buat kamu : foto-foto alvin yang aku edit.

alvin on SIB

alvin on SIB

alvin in the center

alvin in the center

IMG_1406copy

Alvin lagi senyum

Click to make it larger — Thank you for visiting and… See ya!! ^_^

New Design for SI cewek

Ini adalah 3 buah design baju yang di bikinnya termasuk dalam waktu dadakan. Mendadak gitu habis ngeliat perform mereka di kemilau mandiri fiesta. Hoooh!! Mereka keren-keren banget. Ify kayaknya jadi keikutan keren deh pas gabung sama SIB.

Si cewek

Si cewek lagi

ketik untuk memperbesar.

Warnanya gray scale/item-putih. Soalnya… ya… aku masih bingung warna yang cocok apa?? mungkin item merah seperti biasa, atau… well.. kasih usul yah. Komen juga oke!! ^_^

It’s so good to have you here…

Lagu Persembahan untuk Dunia dan Indonesia

Menurutku…

Lagu itu ada 2. Ada yang untuk dinikmati saja tanpa pesan tersendiri atau pesan yang dikhususkan untuk orang-orang, aku sebut lagu sekedar lagu. Dan  lagu yang berisi pesan atau diberikan dan dipersembahkan ke beberapa orang tertentu, yang aku sebut dengan lagu persembahan.

Biasanya lagu sekedar lagu, contohnya seperti lagu-lagu band dan solo pop di indonesia seperti “Mau dibawa kemana” Armada, “Aku bukan boneka” Rini idol, dkk.

Sementara lagu persembahan, biasanya muncul atau diciptakan di saat-saat tertentu. Untuk pesan pemersatu juga. Biasanya sering muncul di saat-saat bencana dan kritis. Di dunia ini ada beberapa contoh lagu persembahan. Contoh

1. “We are the world” (25 artist for haiti) Lagu yang bertujuan untuk mengajak semua orang yang ada di dunia agar saling membantu dan memberikan dana untuk korban bencana gempa haiti. Lagu yang ini merupakan new version dari lagu Michael jackson dulu. Ada Justin Bieber yang lagi nge-trend sekarang, ada Nicole pussy cat doll, ada Josh Groban yang suaranya ya allah bening banget, ada Jonas brothers, ada Miley Cyrus, dkk.

2.  “Wavin’ flag” (young artist for haiti) yang ini juga bertujuan sama seperti lagu we are the world. Tapi ini makna lagu ini seperti lebih menunjukan perasaan para korban bencana alam, dan membangkitkan semangat para korban bencana alam agar tetap semangat menjalani hidup ini.
*Sebenarnya juga untuk semua orang loh. Lagu ini menurutku malah seperti inspirasi yang sangat besar bagi semua orang di dunia*
Tadinya lagu ini milik k’naan dan di tunjukan untuk 2010 world cup anthem, tapi akhirnya dinyanyikan kembali oleh musisi-musisi dari Canada seperti Avril lavigne, Justin bieber juga *wah wah… justin laku banget. Ada di 2 lagu*, dan gak lupa pemilik original lagu ini dong.. K’naan.

Terus, Indonesia punya lagu seperti itu juga nggak sih??
Ya punya dong! Ada kok! Aku punya 2 contohnya, berikut silahkan dilihat.

1.  “Bersatulah Indonesia” (Indonesian Idol & Idola Cilik). Lagu ini dipersembahkan oleh RCTI untuk Indonesia. Melibatkan puluhan artis SMN-MNC group dan Video klipnya di syuting di daerah yang menunjukan cantiknya Negeri Indonesia ini, yaitu Pantai Anyer, Puncak, dan TMII. Di sini, ada Patton, Cakka, Kiki, Sivia, dan Zahra, sebagai perwakilan dari Idola cilik *yeay!*. Dan Jawara-jawara dari Indonesian Idol. Lagu ini di persembahkan dalam rangka misi sosial mengingatkan kembali kepada seluruh anak bangsa: bahwa perstauan merupakan tonggak terkuat bangsa Indonesia dalam menapak masadepan. Ayo Bersatulah Indonesia!

2. “Kita untuk mereka” (Indonesian Voices). Ini lagu dulu. Lagu ini diciptakan sebagai bentuk bela sungkawa atas peristiwa tsunami 2004. Sayang videonya nggak ada. Di lagu ini ada musisi-musisi dulu yang terkenal dan berjasa dalam dunia musik indonesia. Ada Gita Gutawa, ada Armand maulana, ada Om Duta juga loh! (duta Sheila on 7), terus ada Opick kayaknya. Di situ juga kayaknya ada penyanyi cilik . Ketahuan dari suaranya ada suara anak kecil. Kayaknya Tasya *atau sherina??* sama satu lagi penyanyi cilik cowok, tapi nggak tau siapa. Terus kalo nggak salah ada vokalis band cokelat juga. Lagunya bagus. Penuh jiwa yang mencerminkan indonesia; sebuah harmoni dunia.

Link downloadnya “kita untuk mereka”

Oke deh! Semoga yang tadi berguna untuk kita semua… ^-^

Wassalamualaikum wr. wb.

Gosip atau Fakta??… ICL??

Belakangan ini aku jarang ngebuka site ICL (idolaciliklovers.ning.com). Emang udah agak jarang aktif lagi di sana. Padahal dulu aku kan sering nulis cerita ya di sana?… Gara-gara hal sekolah makin banyak sih… Moga-moga masih bisa nulis.

Nah, walau jarang… tapi sekali-kali kan tetap saja aku kunjungi ICL nya. Lalu, ada beberapa discussion di sana. Banyak banget. Susah milihnya… malah kadang jadi-nggak jadi baca. Tapi ada beberapa discussion tentang grup-grup yang di bikin Idola cilik juga sih. Tentang super idola band, Icil divo, dll.

Kemarin-kemarin lagi maraknya ngomongin tentang sinetron dan Reunian Idola cilik. Tadinya aku juga cuma tau Reuniannya, sinetron mah nggak tau. Dan aku emang cuman ngarepin Reuninya doang. Kalo sinetron kayaknya nggak cocok sama imej icil yang lebih menunjukan nyanyian dari pada akting. Pokoknya setujunya sama Reuni!

Udah heboh-heboh tuh! Aku sama biila udah kesenengan banget sampai jingkrak-jingkrakan. Udah lagi ada bocorannya kalo nanti Ify mau nyanyi sambil main piano, Rio mau nyanyi pake gitar, terus Obiet juga mau nyanyi sambil main biola. Wah! pokoknya bayangannya udah seru-seru ajah!.. Eh ternyata… siang-siangnya. Idola cilik 3 nge-tweet,

dear sobat cilik
Wah! jadi ternyata itu gossip!! Hanya gossip belaka!! Aku kecewa berat. Nggak enak banget! Kenapa enggak coba?! Toh, kayaknya nggak ada ruginya. Kalo RCTI adaain tuh acara pasti pada seneng! terutama para penikmat IC. Dan sudah pasti penikmat IC itu banyak kan? Kalo enggak gimana bisa IC dapet penghargaan di banyak acara penganugerahan coba? Dan bagaimana bisa sms yang didapetin Rio, Lintar, Debo, Patton, Angel, Kiki dan yang lainnya kalau dihitung dapat mencapai juta-jutaan bahkan kalo dikalikan dengan modal smsnya dapat mencapai jutaan lebih alias Miliaran!!
Harusnya tuh RCTI balas budi ke kita semua para Idola cilik lovers!!..
Tuh kan! Udah sampai kelewat emosi nih!
Yah.. pokoknya masalah itu cukup sampai di sini saja.

Sekarang, aku mau ngomongin tentang pembicaraan baru nih. Nggak tau nih benar-benar fakta atau hanya gosip belaka?

Pembicaraannya tentang pengeluaran dan pemasukan anggota-anggota grup dari Idola cilik. *loh loh… kok jadi kayak distribusi?? He he… biarin*

Ya! kita mulai ke topik pertama.

“Katanya itu, Nanti Icil Divo personilnya bakal di tambahin. Dari yang tadinya hanya Kiki, Gabriel, Debo, Patton, Obiet, Cakka, dan Irsyad, lalu ditambah oleh Alvin, dan sekarang mau ditambah lagi oleh Lintar dan Rio”

Problematika = Apa nggak kebanyakan? Kalo malah tambah susah formasinya? Nanti suara mereka apakah benar bisa nyatu??

Nah di samping itu, ada lagi pihak yang bilang,

“Oh iya, nanti kan kalo nggak salah, Cakka, Iel sama Debo mau dikeluarin dari Icil Divo”

Problematika= Apa?! Kenapa?! kenapa mereka?! Ditambahin sih boleh, tapi kenapa harus dikurangin?! Yang dikurangin yang bagus-bagus lagi.. Padahal mereka kan keren-keren, punya suara nge khas, salah-satu jiwa dan asset penting di icil divo, para jago koreo. Kenapa coba di kurangin??
Kenapa nggak kiki?! hush pamali!

Kalo penambahan anggota itu sih… aku nggak ngomen banyak ah. Anggap aja RCTI tau yang terbaik. Dan Lintar+Rio kan juga grand finalis,jadi pantas untuk diberi kepercayaan. moga2 aja mereka semua bisa nyatu.

Kalo pengeluaran DebIelCak.. Yah… katanya sih pingin dikeluarin gara-gara takut kalo ada job bareng (ID dan SIB) nanti kecapekan. Walau kalau menurutku sih itu resiko. Lagian kan sekarang IC3 udah selesai, jadi job kayaknya nggak banyak banget lah.. kalo banyak juga-senggang waktunya antara penampilan 1 dan yang lain toh kayaknya bakal agak lama. Paling on lagi pas ada IC4, dan itu pun kita terpaksa nunggu kurang lebih 1 tahun lagi. *Aduh lama banget kali…*

Terus yang paling aku bimbangin adalah tentang Super Idola band. Itu kan musisi keluaran IC yang paling aku favoritkan.

“Katanya nanti Rio mau masuk Super Idola band loh..”

Problematika: Yaaa… kok gitu sih?… Bukannya aku nggak suka sama Rio. Malah aku nge-jagoin Rio di Idola Cilik 3. Tapi kan ini band. Kalo menurutku band itu adalah sesuatu yang harus menyatu antara satu dengan yang lainnya. Yang sesama personilnya tuh udah jadi kesatuan yang nyatu banget, yang sehati, yang udah satu tubuh yang bikin musik itu indah di dengarnya. Dan menurut aku masing-masing personil SIB sekarang udah nyocok banget dengan formasi mereka saat ini. Begitu juga dengan aku. Mereka kayak udah cs-an yang deket banget. Kalo misalnya di tambah Rio, berarti kan mereka harus masuk ke formasi baru lagi. Udah lagi kan, kalo di tambah Rio personilnya jadi 8 orang. Apa nggak kebanyakan tuh? apa nggak lebih?? soalnya kalo nggak salah, bukannya band itu paling banyak 7 personil ya?

Yah… lagi-lagi mendingan kita anggap kalo RCTI tau yang terbaik. tapi kalo misalnya tambah Rio nanti lagunya ngebaginya gimana ya?
Well… disamping semua kegalauan hati aku, kayaknya Rio bisa dikasih tanggung jawab kok jadi personil. Dia bisa nyanyi, dia bisa koreo dan atraktif, dia bisa stay cool dan asik bareng penonton, komunikasi ke penontonnya juga bagus. Jadi kenapa enggak?? Oh iya! udah lagi kan, Rio jago nyanyi yang slow. Kalo diperhatiin kan SIB lebih sering nampilin lagu energik dari pada slow*malah mungkin setiap penampilan energik*. Jadi Rio bisa ambil alih di bagian yang melow-melow dan damai.
Wah! apa jangan-jangan itu rencananya RCTI??

Sudahlah!… Biarkan waktu yang menjawab… kita hanya bisa berharap… kalau semua kan jadi yang terbaik untuk kita dan untuk mereka sendiri…
^-^

Pantun akhir..

Salam hangat dariku.. mari bertemu lain waktu.. ^-^

Super Idola Band at RGF IC3 : Performence

Lajutan dari Super Idola Band at RGF IC3 : Practice

SUPER IDOLA BAND at Rapor Grand Final Idola Cilik 3.

Wow!!.. keren ya?… bandnya juga baru tampil (2 hari kali 2 lagu =) 4 kali. Tapi sudah di undang ke GF. Bersama anak-anak idola cilik lainnya juga, mereka mengisi saat-saat grand final itu menjadi lebih meriah.

Gile bo’! kayaknya mereka tuh udah sama kerennya kayak kakak-kakak Nidji, D’massiv, dkk. Malahan menurutku, Mahkota, Salju, dan Goliath yang juga di undang pada saat itu malah kurang tenar dari pada mereka.*maaf… gak ada maksud apa-apa. Hanya pendapat sendiri*

Nah, penampilan pertama mereka di rapor GF ini berada di segmen ke-2 acara. Sebelum itu, kakak-kakak dari Nidji memulai segmen dengan menyanyikan lagu “Ku takkan bisa“. Pokoknya kakak-kakak Nidji emang udah nyatu banget deh sama sobat cilik. Benar-benar seorang kakak yang baik.

Lalu setelah menyanyikan lagu “Ku takkan bisa”, kak Giring tetap berada di panggung untuk mengucapkan sepatah 2 patah kata. Kirain mau ngapain?.. ternyata mau pidato. Atau mau dakwah?.. he he.. soalnya ngomongnya kayak usztad-usztad macam Aa-gym gitu deh.. :P
Trus sekarang baru nyadar. Kemarin kan kak Giring udah melaksanakan Ibadah haji. Jadi itu kali yah yang menyebabkan pelafalan pidato dan asalamualaikumnnya baik dan benar banget.

Kira-kira pidatonya kak Giring kayak gini..

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatu” *maaf gak tau ngejanya gimana*

“Kami… musisi-musisi Indonesia, sangat ingin berterimakasih kepada Idola cilik. Karena sejak ada idola cilik, dari idola cilik 1 sampai 3, kami… kini sudah bisa tidur nyenyak. Karena kami sudah tidak perlu susah-susah memikirkan lagi tentang masa depan musik indonesia. Karena masa depan musik Indonesia, sekarang sudah berada di tangan-tangan yang benar!…
Masa depan musik Indonesia sudah aman berada di tangan anak-anak idola cilik!!..”

*whooo!!! (semua penonton bersorak-s0rai)*

“Dan kini sambutlah! SUPER IDOLA!!!..”

Kak Giring menunjuk bagian tengah panggung. Dan di sana sudah ada anggota-anggota dari Super Idola, membawa alat musik mereka masing-masing *ya iyalah!*.

Lampu sorot dinyalakan, bersinar kesana-kemari membuat suasana panggung menjadi berwarna. Musik mengalun dan terdengar sahutan dari Debo.

“Terimakasih juga buat kakak-kakak Nidji!.. yang telah menjadi inspirasi.. bagi kita semua!!… Dan semoga Super Idola.. bisa menjadi kakak-kakak.. yang jadi Super staaar!!!…”

And that was the SUPER IDOLA BAND~Disco lazy time…

super idola Discolazytime pic

super idola Discolazytime stage pic

super idola Discolazytime BS photos

super idola Discolazytime BS photos

Penampilan kedua di segmen 8, mereka menjadi pembuka.

Semua di mulai saat lampu-lampu sorot masih redup. Yang ada hanya lampu sorot biru dari atas panggung, menimbulkan effect bayangan dari tubuh-tubuh anggota Super Idola band ini.

Mereka memulai penampilan dengan sesuatu yang berbeda! ya! sangat berbeda! Karena di saat-saat itu mereka akan bernyanyi bersama. Semua anggota dari Drummer, Gitaris, Keyboardist, Vokalis, sampai Bassist, semuanya bernyanyi dengan miq yang sudah di siapkan di atas panggung.

Nggak ada yang bisa nyamain!.. Band apa coba yang semua personilnya bisa nyanyi selain Super Idola?…

Mereka menyanyikan lagu “Ambilkan Bulanbu” ciptaan A. T. Mahmud ini pun memberikan cirikhas mereka yang masih muda-muda. Mereka memang pas banget menyandang status Idola Cilik.

Lagu ini pun dinyanyikan oleh mereka dengan cita rasa yang berbeda. *dikira makanan apa?* Lagunya jadi nge-rock dikit. Apalagi emang asal suara vokalis-vokalis mereka agak nge-rock. Pokoknya keren dah!

Lalu di tengah lagu, Ray menjauh dari miq-nya dan naik ke tempat drummer. Ia mengetuk drumnya tiga kali dan mereka semua ( kecuali Ray, yang lagi nge-drum) bernyanyi dengan dengan alunan musik band.

Sesi bernyanyi bersama pun berakhir. Mereka lalu menjauhi miq masing-masing dan menyanyikan lagu sebenarnya yang akan dinyanyikan segmen ini.

SUPER IDOLA BAND~Akulah Dia!!!…

And that was SUPER IDOLA BAND~Akulah dia!!…

super idola Akulah dia stage pic

super idola Akulah dia stage pic

super idola Akulah Dia BS pic

super idola Akulah Dia BS photos

Wah… makin bagus yah! Musiknya udah makin nyatu. Moga-moga penampilan selanjutnya tambah bagus deh! Dan aku pasti aminkan do’a Debo.

Semoga Super Idola bisa menjadi kakak-kakak yang bisa menjadi super star!!..

Well, thats for now. I hope you all satisfied with this post. Comment are really really needed.

Thank you…