Caramel Chocho Milk ~ cream time ~
Hai!! Aku mau bikin cerita nih… Baca yaa
Dan seperti biasa ada bonus gambarnya^^
Ini addalah cerita fiksi, jadi nggak semuanya bener.
Ceritanya bermulai ketika kak oki mengumukan bahwa bintang tamu yang akan tampil di rapop IC 3 adalah Icil divo dan Oik, Agni, juga Rahmi. Maka semuanya datang dan bertemu kembali di RCTI untuk latihan. Ada yang kangen-kangenan, ada yang ngobrol bareng karena udah lama ketemu. Tapi mereka semua pasti sudah tumbuh besar kan? Pasti ada yang berbeda tentang mereka, entah sifatnya, penampilan, dll. Jadi bagaimana mereka melalui saat-saat reuni ini?… kira-kira masih pada akrab nggak yah??
—
1st Day….
Caramel Chocho Milk ~ cream time ~
….
Olah raga di taman sudah selesai. Sekarang anak-anak Icil divo, Rahmi, Agni, dan Oik dibolehkan beristirahat. Rahmi dari tadi udah kebelet, jadi setelah olahraga selesai ia langsung kabur ke belakang, sementara Agni dan Oik ditinggal begitu saja. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk jajan eskrim di abang-abang yang suka lewat depan taman. Mereka sudah langganan loh.
“Aump… mm” Oik melahap eskrim ‘Caramel Chocó Milk’ yang ia beli. “aust aust mmang palin nnak makan eklim… mm” Saking lahapnya ia makan eskrim, mulutnya sampai belepotan.
“Iya..” balas Agni. “tapi nggak usah segitunya kali, Ik… kamu makannya belepotan banget… kan udah gede… nggak malu apa diliat orang?” kata Agni yang juga memakan eskrim yang sama dengan Oik, tapi tidak sampai belepotan.
“Biarin aja… nggak ada orang ini… kan yang ada cuma kamu…” kata Oik. Ia melihat-lihat kesekitar, dan memang sedang sepi saat itu. Tidak ada orang selain mereka. “Lagian…” Oik menambahkan. “Aku kan imut…”
“terus?” tanya Agni.
“ walau lagi belepotan eskrim, orang juga bakal tetep nganggep aku imut kok..”
“Yah… narsis dia…”
“He he.. biarin…”
Oik dan Agni terus berjalan menuju halaman belakang. Disana ada banyak pohon rindang, dan pastinya akan jadi tempat yang nikmat untuk berteduh.
—
Mereka pun sampai di halaman belakang, dan ternyata tempat itu sudah diambil alih oleh para Icil divo. Kiki sedang duduk di bawah pohon sambil menghafal lirik yang akan ia nyanyikan di panggung nanti. Gabriel dan Debo sedang memperhatikan Irsyad yang sedang mencontohkan kepada mereka bagaimana melakukan kopral yang baik. Obiet dan Patton melatih koreo mereka bersama. Sementara Cakka menyendiri di tempat duduk taman sambil mendengarkan mp3 nya, menggoyang-goyangkan kepalanya seperti mengikuti tempo lagu, dan juga OL di hp Blackbery-nya.
“Kayaknya udah diambil penuh tuh…” kata Agni.
“He-eh… ke dalem aja yuk..”
Baru saja mereka berbalik, Gabriel dan Obiet langsung memanggil mereka bersamaan. “Oik.. Agni…”
Agni dan Oik pun menengok. “Apa?” Tanya Agni.
“Mau ngaso di sini yah?” tanya Debo yang langsung nyambung. Gabriel langsung memukul pundak Debo. “Ngaso… ngaso… bahasa apa itu?… kalo ngomong ke cewek yang bener..”
“Agni sama Oik mau istirahat di sini juga yah?” tanya Gabriel.
“Enggak kok…” jawab Oik.
“Iya… kak Gabriel sama yang lain kan lagi latihan… kita mau ke dalem aja..” tambah Agni.
“Oh… soal kita latihan mah nggak usah dipikirin… ikut duduk-duduk disini aja..” kata Debo.
“Kalo mau join, join aja. Malahan kita bisa latihan bareng… iya kan..” tambah Obiet.
Agni dan Oik saling pandang. Dan akhirnya mereka menggangguk bersamaan. “Oke… kita join”
Lalu Agni dan Oik berbaur bersama para Icil divo.
Ketika Agni baru menginjak rerumputan, Gabriel langsung mendekatinya. Agni tidak bisa melakukan apa-apa selain tersenyum, dan Gabriel membalas senyumannya.
“Kenapa kak?…” tanya Agni.
“Enggak…” Gabriel tiba-tiba menyentuh rambut Agni. “Ada sesuatu di rambut kamu…”
Aduh, iyel.. iyel… sesuatu apa “sesuatu”?… jangan-jangan Gabriel sengaja lagi bikin alasan biar bisa nyentuh rambut Agni. Bahkan mungkin sampai nyentuh hati Agni.
“Oh…” Agni langsung melepaskan tangan Gabriel dari rambutnya. Gabriel langsung murung deh.
“Katanya Agni udah nggak nge-fans lagi yah sama aku?…” tanya Gabriel dengan murung.
“Oh, masih kok… cuman nggak terlalu…” jawab Agni, berusaha menaikan derajat keceriaan idolanya itu.
“Kenapa, Ag?…”
“Yah… gitu aja” jawab Agni sangat singkat. Ia memang tidak tau lagi harus jawab apa.
“Terus kalungnya?… di buang?” tanya Gabriel.
“Oh! Enggak lah kak…” seketika muka Gabriel mulai berseri kembali. “Tapi ngilang kak…”
“Yah…” Gabriel menunduk lagi.
“Maaf ya kak… waktu itu nggak sengaja…”
“He he… nggak pa-pa kok”
Lalu Gabriel merangkul Agni tanpa membebaninya sedikit pun, dan Agni ia antar ke tempat Debo, dan Irsyad tadi berlatih kopral. Sepertinya bersikap gentleman sudah menjadi kebiasaan Gabriel. Obiet dan Patton juga ikut berkumpul bersama mereka. Oik juga sudah duduk di sana.
“Karena Agni udah nggak terlau nge-fans sama aku lagi… aku bakal bikin Agni nge-fans lagi sama aku”
“Hah?…”
“Iyah… beneran..”
“Ngarep nih?… emang kakak yakin bisa?…”
“Bisa dong… Lagian… nggak ada salahnya kan, berharap… apalagi yang diharapkan cewek semanis Agni” Owh… rayuannya Gabriel… mencuri hati.
Lalu setelah mereka sampai, Gabriel langsung melepas jaketnya dan menggelar jaket itu untuk alas Agni duduk.
“Nggak usah, kak…” Agni langsung menolaknya. “Itu kan jaket kakak… nanti mau di pakai lagi”
“Nggak pa-pa kok…” kata Gabriel dengan tulus.
“Nggak usah, kak… lagian aku pake jins ini…”
“Mau jins atau bukan sih sama aja… yang penting baju Agni nggak kotor..”
“Kalo gitu… buat Oik aja kak.. kan oik pake rok tuh… kainnya juga bagus..”
Oik pun langsung kesenengan. Dia udah senyum-senyum duluan. Ia baru berpikir bajunya kan susah di cuci, nanti kasihan ma’e kalo kotor. Bisa-bisa nyuci dua kali. Setelah dibujuk oleh Agni, akhirnya Gabriel menarik jaketnya kembali. Tapi belum sempat ia taruh jaket itu, Obiet sudah langsung mencegah.
“Jangan!… nggak usah”
Oik pun langsung kecewa. Padahal ia sudah sesenang itu, tapi kenapa, Biet?… kenapa nggak boleh??…
“Oik… mending pake jaket Obiet aja…”
Uhuhuhu… baik banget sih kamu, Biet. Oik nya langsung tersenyum lagi. Imuut sekali. Tapi… melihat Obiet seperti itu, kok lama-lama Oik jadi nggak tega yah?…
“Obiet… nggak usah deh…” kata Oik.
“Loh?… kenapa?…” tanya Obiet.
“Tiba-tiba nggak mau aja…” jawab Oik.
“Iya… aku juga nggak usah, kak..” kata Agni.
Hfft… akhirnya aksi gentlemen para divo tidak jadi dilakukan deh.
Lalu, setelah mengobrol beberapa lama, Irsyad pun bertanya kepada Agni dan Oik.
“Eh… kalian beli eskrim nya dimana sih?… lama-lama jadi tergiur aku..”
“Ini?… belinya di abang-abang yang biasanya lewat itu. Beli yang Caramel chocho milk deh.. enak loh” kata Oik.
“Aku mau beli ah… laper juga nih…” kata Debo.
Tiba-tiba, datang Kiki yang tertarik akan obrolan mereka. “Kalian… dari tadi ngobrolin apa sih?… kok kayaknya enak banget?”
“Itu loh, Ki… eskrim nya abang-abang yang suka lewat depan sini itu…” jawab Gabriel.
“Iyah” patton pun menambahkan. “Ada eskrim Caramel chocho milk… eskrim yang itu enak loh”
“Wah… kebetulan aku lagi laper nih… Abang-abang nya masih di situ kan?… mau beli nih” kata kiki.
“Mau?… kalo gitu aku juga ikut beli” kata Irsyad. “Ada yang mau nitip nggak?”
“Aku mau!” seru patton.
“Aku juga” kata Obiet.
“Aku iya dah” Gabriel juga ikut memesan.
“Debo mau!” seru debo juga.
“Jiah… kalo gitu, dari tadi bilang aja semuanya mesen…” kata Irsyad.
“Loh?… Cakka enggak?” tanya Agni. Oik mengangguk, ia juga ikut menanyakan.
“Cakka lagi dengerin mp3 nya… nggak boleh diganggu” kata Patton datar.
“Oke deh. Segitu aja yah?… yuk, Ki… capcus!…” Irsyad dan Kiki pun beranjak dari tempat. Kini tinggal tersisa Obiet, Patton, Debo, Gabriel, Agni, dan juga Oik. Agni bingung… kok rasanya Cakka udah berubah sekarang. Cakka jadi lebih tertutup. Agni jadi segan kalo deket-deket lagi. Sekarang diantara anak-anak Bo3 yang dekat dengannya jadi cuma Obiet dan Irsyad. Cakka jadi nggak deket lagi. Sebenarnya Agni ingin bertanya ada apa dengan Cakka?… tapi, mungkin sebaiknya di tanyakan lain kali saja.
—
“Eskrim dingin!.. Eskrim dingin!..” seru Irsyad dan Kiki. Mereka baru saja kembali, dengan membawa eskrim-eskrim milik anak-anak Icil divo, kecuali Cakka. Bawanya repooot banget. Satu tangan satu eskrim, ditangan kanan irsyad malah ada 2 eskrim. “Irsyad kan anak padang… experience nya lebih banyak dong” kata Kiki yang cari alasan biar bebannya dikurangi.
“Ini buat Obiet… buat Patton… buat Debo… buat Aku…” kata Irsyad sambil menyerahkan eskrim jatah masing-masing.
“Nih, yel…” kiki memberikan jatah eskrim Gabriel.
Sedangkan Agni memperhatikan Cakka. Kenapa Cakka nggak gabung aja ke sini?
Gabriel melihat Agni memperhatikan Cakka yang saat itu dingin sekali, namun Gabriel diam saja dan berpura-pura tidak melihat.
–
“Oh iya!… aku sama Agni nonton loh pas Icil divo tampil pertama kali di Idola cilik 3. Waktu itu nyanyi meraih mimpi sama luluh, kan?” kata Oik dengan semangat.
“Iya tuh… pas nyanyi luluh, dari awal kalian nyanyi sampai akhir, kayaknya penonton yang ada di studio nggak berhenti teriak” tambah Agni.
“He he… iya dong… Icil divo getooo” Mulai keluar deh narsisme mereka ber-6. Habis itu, langsung pada tos san.
“Kayaknya penontonnya bener-bener luluh” kata Oik.
“Iya” Agni menyetujuinya.
“Kalo kalian luluh nggak?” tanya Obiet.
“Ya… gitu deh..” kata Oik dan Agni.
“Wess… gitu deh berarti pada luluh!… Asyik!… berarti kita ada kemajuan!” seru Patton.
“Kalian pada nyanyi lagi dong…” kata Oik.
“Iya… suaranya bagus banget!.. Pingin denger lagi nih…” kata Agni.
Karena telah di sanjung oleh 2 cewek cantik, Obiet, Gabriel, Debo, Patton, Irsyad dan Kiki langsung semangat. “Ayuk!… iya boleh tuh!… nyanyi yuk, nyanyi..”
“Yess!” Agni dan Oik tos-an. Mereka mengambil eskrim Obiet, dan Irsyad. Gabriel sebagai seorang yang gentleman tidak mau merepotkan seorang wanita. Debo tidak ingin sesuatu terjadi kepada eskrimnya itu, maka ia akan memegangi eskrimnya sendiri. Sebagai anak yang paling tua di antara yang lainnya, Kiki juga ingin bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Sementara Patton, berdasarkan keinginannnya sendiri, ia akan menganggap eskrim itu orang yang membuatnya luluh, dan kepergian sang eskrim adalah karena dirinya memakan eskrim itu sendiri. Coba bayangin… kan kalo makan eskrim serasa *jess* luluh kan?… iyoto.. iyoto.. iyoto…
Gabriel, Obiet, Debo, Kiki, Patton, dan Irsyad pun berdiri. Mereka bersiap-siap untuk mengeluarkan suara emas mereka, demi menghibur hati 2 orang dara yang manis dan imut itu.
…..
Segenap hatiku luluh lantak
Mengiringi dukaku
Yang kehilangan dirimu
Ho uoo..
Sungguh ku tak mampu
Tuk meredam
Kepedihan hatiku
Untuk merelakan kepergianmu…
..
“haa… hatiku bener-bener luluh…” kata Oik hampir tak memakai suara. Lagu luluh itu dibawakan sangat sempurna… menyentuh hati. Agni speechless dan kagum, Ia hanya mengangguk-ngangguk setuju akan pernyataan Oik. Dan lagu pun mencapai saat klimaksnya.
..
Seegenap… hatiku luluh lantak…
Mengiringi.. dukaku… yang kehilangan dirimu…
Sungguh.. ku tak mampu.. tuk meredaam..
..
Owh… Agni dan Oik sangat tersentuh. Mereka saling mengenggam erat tangan satu sama lain. Dan tanpa sadar ada sesuatu yang dingin jatuh ke baju mereka.
“Loh, ik?… kok dingin yah?” tanya Agni yang selalu tanggap dengan situasi sekitar.
“Iya…” Oik melihat baju mereka yang terasa dingin itu.
“Yah!!… Eskrimnya luber! Melting!.. yah… apapun itu lah!” kata Oik mulai panik.
“Meleleh!” kata Agni.
“Iya itu!…”
Waduh… ternyata para Icil divo dahsyat banget. Nggak cuma hati penontonnya meleleh dan diluluhkan. Bahkan eskrimnya pun ikut meleleh.
“Ayo ke toilet!” Agni dan Oik langsung lari dari tempat.
..
“Merelakan kepergianmu… Yah! Oik! Agni! Tunggu!… Eskrimku…” Obiet bingung, ia juga ikut panik. Kok eskrim nya malah dibawa lari sama Agni dan Oik.
“Yah… Oik! Agni! Tunggu aku!… balikin eskrimnya duluuuu!…”
..
Te rereret!
~fin~
Lanjutannya bakal di post.. tunggu yah^^
Dan ini bonus pitcure (aku gambar sendiri) untuk yang udah baca.. terimakasih yaa^^ (mudah-mudahan bagus… gambarnya juga boleh di comment)
Makasih udah baca^-^
Please Comment!…
Saniyyah Ardina K.


