Bulan kemarin tepatnya tgl. 24 Mei aku dan keluargaku jalan-jalan ke Singapore. Kota yang besarnya juga gak lebih dari Jakarta (mungkin singapore besarnya sekecamatan pesanggrahan doang) ternyata mempunyai tempat wisata yang begitu banyak. Dan dilihat dari suasana, transportasi, serta orang-orang yang tinggal di sana, sepertinya Singapore memang ada sebagai negara pariwisata.

Bunda, Aku, Biila
Ciri khasnya adalah kebersihannya yang bagus banget dan ketertibannya yang tentu juga ketat banget. Selain itu bis-bis di sana enak semua. Gak kayak di Jakarta, rata-rata setiap metro mini atau kopaja, dkk pasti banyak yang berkarat. Sementara di Singapore, bis nya tuh bersih banget, kinclong, dan biasanay di setiap bus pasti ada media publikasi tentang tempat-tempat wisata di Singapore. Seperti bis itu memang sengaja di buat untuk kenyamanan para turis. Pokoknya Singapore emang kota pariwisata banget deh.

Aku, Biila, Bus Singapore
Karena Singapore ini memang kota yang kecil, maka tidak butuh waktu lama untuk mengeksplore keseluruhan kota. Di hari pertama aku sekeluarga juga sudah mengunjungi banyak tempat wisata disana. Walau aku akui di beberapa tempat wisata kita cuma lewat di depan bangunannya aja. Habis kan harus bayar, sementara kita kan juga harus menghemat.

Biila, Aku, Ayah
Pada hari pertama, kita ke Art Museum, Singapore Historical Museum, Makamnya Rafles, berjalan di pinggir jalan singapore, Clarke Quay, Singapore Brigde, Budha temple, Beli beberapa oleh-oleh di China town, Merlion tentunya, dan ke Esplanade. Kita juga sempat pergi ke Mall Orchard, pusat pembelanjaan utama di Singapore dengan menaiki kereta bawah tanah. Hmm… Exited banget!

Singapore Historical Museum
Singapore Historical Museum mempunyai arsitektur yang keren banget. Pas masuk kita akan melihat gaya arsitektur classic dengan tiang-tiang putih besar, pahatan seperti di istana-istana barbie, dan juga langit-langit ruangan yang dihiasi dengan mozaik berbentuk lingkaran dengan gambar-gambar yang cerah. Tapi ketika masuk lebih dalam lagi, maka kita akan melihat percampuran arsitektur modern dan dulu. arsitektur di ruangan ke-4 (kalo gak salah) sudah berganti gaya dengan arsitektur modern, bahan-bahan mengkilap serta lampu-lampu merah yang berayun di langit-langit ruangan.

Langit-langit ruangan
Dan kebetulan juga, pada hari itu mungkin sedang di laksanakan suatu acara pameran di sana. Ada 3 buah tempat yang aku liat. Salah satunya yang menarik perhatianku merupakan tempat kita untuk berbagi pesan rahasia.

Langit-langit 2
Jadi kita harus mengambil kertas di meja pojok ruangan lalu menuliskan suatu pesan rahasia. Boleh di sampaikan ke siapa-saja, itu juga bisa merupakan kesan pesan atau perasaan di lubuk hati paling dalam. Nanti setelah di tuliskan, kita akan memasukan kertas itu ke salah satu kotak/tempat lainnya yang dapat diambil dan ditempelkan kembali ke dinding karena gaya magnet.

Aku membuka beberapa kotak (dan mendapat inspirasi**)
Setelah berjalan-jalan di beberapa tempat aku pun mengambil 1 buah kesimpulan. Singapore adalah surganya fotografer dan penyuka arsitektur. Di sini banyak tempat-tempat yang bagus untuk difoto oleh para fotografer dan arsitektur-arsitektur di negara ini benar-benar unik. Jauh lebih unik dari arsitektur jakarta.

Bunda, Biila, Aku, di jalanan singapore
Tapi aku masih bingung kenapa setiap tahun, Singapore selalu membangun 1 tempat wisata yang baru. Dan bunda pun menjawab, “Mungkin karena sumber daya Singapore itu terbatas. Sementara penghasilan negara ini kebanyakan berasal dari para turis. Kalo wisatanya gak di tambah-tambah, nanti turisnya juga berkurang kan. Makanya Singapore selalu membuat tempat-tempat baru untuk dipromosikan sebagai tempat pariwisata.”

Clarke Quay

Bhuda Temple

Biila dan Aku di Makam Rafles (kok kita jadi kayak hantu ya?)
Setelah pergi ke Clark Quay, Singapore Brigde, Budha temple, Beli beberapa oleh-oleh di China town, kita pun naik taksi ke Merlion. Di sana sudah banyak turis yang berkumpul juga. Dan ternyata, hari ini ada suatu acara pertunjukan menari.

Merlion
Sambil menunggu kita pun pergi ke Esplanade yang tempatnya di seberang Merlion.

Biila, Aku, Bunda di depan Esplanade
Sayang di Esplanade kita cuman bisa masuk ke lobby nya. Nggak bisa masuk ke theater-nya. Padahal masuk ke theater adalah obsesi pertama kenapa aku nanyain ‘kapan ke Esplanade’ mulu di sepanjang perjalanan. Tapi toh pada akhirnya kita aku nggak jadi nonton pertunjukan nge-dance di Merlion, karena hari sudah menjelang malam, kita pergi ke stasiun bawah tanah dan pesan tiket kereta bawah tanah menuju ke Mall Orchard.

Jembatan di Singapore
Di singapore susah banget cari makanan halal. Itu yang terjadi pada kita di mall Orchard. Udah masuk ke Mall-nya, masuk ke food court, tapi nggak jadi beli gara-gara makanannya nggak halal. Di sana hampir semua makanan di campur dengan penyedap minyak babi. Untuk sekedar Informasi, di sana minyak babi di sebut Pork. Pokoknya segala sesuatu tentang babi disebutnya Pork. Satu-satunya makanan yang halan di sana hanya nasi padang. Di jamin kedai nasi padangnya udah penuh oleh orang-orang yang berharap memakan makanan halal. Untungnya kita sempat menemukan tempat makanan halal yaitu Mc. Donal.

Di dalam Mall Orchard
Yang pasti hari itu cukup memuaskan lah. Pulang-pulang ke hotel kita menginap yaitu Victoria Hotel, kaki langsung pegel-pegel. Aku ngerasa kaki tuh udah rata banget. Untungnya bunda bawa Conterpain, jadi bisa digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri di persendian dan lain-lain. (Malam itu tidurnya susah banget. Aku kayaknya gak terlalu biasa tidur pake AC. Malah jadi kedinginan)
But, di samping segala kepegalan itu, aku puas kok. Hmm… next post is the next day! See ya!!