Posts Tagged ‘ putri

Masa Kecil NaSa (Nabiilah & Saniyyah)

Hey Guys!! Can you guess who this is??

NaSa 5 th ultah

ultah 5 th

Well that’s me!! Actually me and my sister. I can’t believe how cute we are when we were little. I mean… we just like 2 cute dolls.  I found these photos in my dad’s laptop yesterday. I’m so glad we still have these photos. They’re so cute!! ^_^

Oh yeah, the photo before is the one when we were turning to 5. It’s our 5th birthday and we celebrate it in the kindergarten. Did you notice Nabiilah’s hat was falling to the cake?

-

And this is the next photo. My candle was already go out. And Nabiilah was trying to blow out her candle.

NaSa 5 th ultah

NaSa 5 th ultah (dari kiri: Saniyyah, Nabiilah)

When we were little, we also like to join many competition, especially drawing competition. I have won some of them. Nabiilah also have won the muslim dress contest.

NaSa lomba mewarnai (pas TK)

NaSa lomba mewarnai (pas TK) dari kiri: Saniyyah, Bunda, Nabiilah

Now this one is my favorite photo. Me and my sister looked like a princess there. I can’t even believed it’s me.

NaSa Princess

NaSa Princess (dari kiri: Saniyyah, Nabiilah)

Metrostar’s 6th Birthday!!

Hello for all human beings out there. How do yo do? for me, today is really really fun!

Jadi ternyata haari ini adalah hari ulang tahun metrostar AXIC yang ke-6. Waaah… gak kerasa ya, udah lama banget. Untuk ngerayain hari itu maka anggota-anggota metrostar termasuk ayahku pergi jalan-jalan ke puncak tepatnya di Alva Resort. Katanya sih kita nginep 2 hari 1 malam. Tapi mau nginep bagaimana pun, yang penting kan harus fun. Sama seperti namanya “AXIC” acara-acara yang  digelar sama anggota AXIC emang selalu asik!. Hari ini pun begitu. Setelah nyampe, kita langsung naruh barang di kamar terus ngumpul bareng temen-temen lainnya. Pada dasarnya emang aku nggak kenal banget sama satu-satu orang itu, tapi ada 1 adik kecil tadi yang lucuuuuu banget. Imut, ngegemesin, dia cewek, namanya putri. Kita senasib, datengnya cuma bareng ayahnya. Aku sama Biila juga cuman dateng bareng ayah. Terus aku langsung bilang deh, “Dek, dek, aku foto dulu yaah…” Si Putri sih diem-diem aja sambil natep aku polos gitu. terus, *Ckrek* ke foto deh. Cakep loh anaknya.

Tadi rombongan pada ngadain lomba. Ada buat anak kecil sama orang dewasa (papa-papanya). Buat anak kecil ada lomba mewarnai, aku gak bisa ikut lagi. Udah jauh dari jaman anak kecil. Cuman bisa jadi pengawas deh. Di sana ketemu sama Putri lagi, ternyata dia udah mandi. Terus dia nengok ke kita (aku dan Biila) senyum, terus nanya, “Kakak kok belum mandi?” dan tentu aja dengan nada polos juga. “Ehehehe…” kita bedua cuma bisa nyengir kuda. Curang deh! anak-anak lain pada dibantuin mamanya, walau sebenernya anak-anaknya gak niat gitu tuh. Aku yakin mama-mamanya yang pada kepingin ikut lomba ngewarnain, kembali ke masa-masa tk. Ha ha!..

Buat papa-papanya ada lomba makan kerupuk. Aku gak tau sih siapa yang menang,  waktu itu lagi nemenin Putri ngewarnain. Terus buat anak-anak around age 9-10 ada lomba bawa kelereng di sendok. Eh.. akhirnya mama sama papanya ikut juga. Seru! Lucu! ada yang pas sesi papa-papanya. Kan peserta di jadiin 2 orang. nanti ceritanya yang satu jalan ke depan, terus kelereng itu bakal di oper ke pasangannya pas pas mau balik ke tempat start. Lucu banget!! ada yang malah jalan kedepan. Terus belum nyampe ujung, pasangannya udah nyamperin dia aja dengan santai walau udah disorakin sama para penonton lomba. Akhirnya ketemu ditengah perjalanan dan otomatis sampe duluan lah.

Aku ketemu juga sama mba-mba yang mirip banget sama Shilla (IC) tapi mungkin ini versi udah gedenya kali ya. Kayaknya mba-mba itu udah kelas SMA-an deh. Sorenya habis main gitar aku bareng ayah sama Biila jalan-jalan disekitar penginapan. Enak banget penginapan ini. Ada tempat main biliard, main ping-pong, basket sama tenis/volly. Aku ngeliatin kaum-kaum adam main basket. Seru loh!! Jadi kepingin ikut! Ada satu anak kecil yang tinggalnya se-villa juga sama aku, umurnya paling muda diantara yang lainnya, lebih muda dari aku, tapi mainnya jago banget. Pasti di sekolah nilai basketnya bagus. Terus ada juga anak cowok se-SMP kali ya. Mainnya asik banget, penuh charisma (ciaellah..) tinggi juga pastinya. Aku se… dagunya kali ya. Tapi pada akhirnya aku nggak main basket sih. Padahal udah kepingin dari jauh hari.

Malem ini, aku akhirnya ngerasain kenapa bunda sebel banget kalo lagi harus nungguin ayah. Jadi harusnya kan malem ini kita makan malem di restoran di penginapan. Acara makan malemnya udah mulai dari tadi nih. Aku sama Biila juga udah siap dari tadi. Udah dandan, udah cakep, udah fresh, udah siap segala deh. Kita bahkan udah nunggu diluar kamar, di balkon villa. Tapi setelah ditunggu dan berlama-lama (nggak tau berapa lama, eh.. setengah jam??) si ayah belum keluar juga dari kamar. Padahal beberapa orang malah udah balik dari restoran itu. Muncul dugaan di benak aku kalo si ayah kemungkinan malah ketiduran. Uh… pantes aja bunda males banget kalo disuruh nungguin ayah. Habis ayah kadang kalo bilang sebentar artinya lama. Kalo lama, ya mungkin lebih lama lagi??. Sampai di sana, ya ampun malu banget deh. Piring yang disediain ternyata udah habis, tinggal sisa 3 pas banget sama kita bertiga dan itu berarti kemungkinan kita adalah orang yang terakhir dateng di acara itu. Hfft… dapet “seafood(baca sifud)” deh, sisa-sisa food.

Nyampe villa anak-anak lain yang udah pulang lagi pada nonton IMB. Ah… Fay udah keluar siih.. sebel! Nabiilah juga udah ngantuk. Ya udah, aku ikut masuk ke kamar deh. Aku masih mau coba ngetik cerita lagi deh. kayaknya ngetik di laptop ayah yang satu ini enak juga. Happy Birthday juga yah buat Metrostar. Moga-moga makin kekal persaudaraannya. Dan berlanjut terus sampai tua.  Okay then! Dan satu kesimpulan yang aku tau lagi dari diri aku. Kayaknya aku tambah nyaman main gitar deh.

Well, thats for today. See you tomorrow then! Bye.. ^_^

Kingdom Of Dream_Part 10: Vulvoria, Tigerlily, dan Sejarah Dunia Kingdom Of Dream

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 9: Pangeran Misterius dan Kamar Laven Lair.

Dan lagi-lagi aku minta maaf karena nge-post lanjutannya kelamaan. Haaa…. It’s just! my homework!! OMG!! (oops! sorry kok jadi curcol??). Well… semoga bisa tetep lanjut sampai tamat deh. Dan bisa menulis cerita yang sudah terbayangkan juga.

Sekali lagi maaf banget semuanya. Ini lanjutan dari kingdom of dream part sebelumnya. Jangan lupa comment yah.. ^_^

Kingdom Of Dream

Part 10 : Vulvoria, Tigerlily, dan sejarah dunia Kingdom Of Dream

Di sebuah kamar dengan nama Crimsone Red, seorang putra mahkota berbaju hitam duduk di sofa.

“Siyenna!..” panggilnya.

Pangeran itu bernama Sion Simbolo Vulvoria. Seorang pangeran dari kerajaan Vampire. Umurnya 2 tahun lebih tua dari putri-putri dan pangeran-pangeran lainnya. Dan sebentar lagi ia sudah bisa mengambil alih tahta kerajaan ayahnya.

Sesuai dengan ciri khas vampire, Baju, perabot, dan seluruh isi kamarnya bergaya ghotic. Bajunya hitam dari atas sampai ke bawah, hanya layer berumbainya yang berwarna putih, kontras dengan segala atribut pakaiannya. Warna dinding kamar didominasi oleh warna merah tua dengan gambar bunga mawar hitam. Lantainya dengan beludru, meja kayu berpahat rumit dan tirai sutra berwarna merah.

Sion kelihatan bingung. Orang yang ia panggil dari tadi tidak datang juga. Ia menengok ke sana ke mari, terlihat tidak tenang dan akhirnya memanggil orang itu kembali.

“Siyenna!..” seru Sion.

“Hmm?…” jawab seseorang dari luar kamar.

Sion tersenyum, kali ini ia mendapat sahutan. Ia pun menunggu selama 3 detik dan seorang gadis seumurannya muncul dari balik pintu kamar dengan tampang santai dan cara jalan yang sama sekali tidak tergesa-gesa. Percaya atau tidak gadis itu adalah Siyenna Sense Ventaurie, pelayan pribadi pangeran Sion yang mungkin lebih kelihatan sebagai teman atau partner. Namun Sion malah lebih suka menganggapnya sebagai sang penghibur.

Siyenna menatap Sion dengan pandangan bertanya. “Apa?” tanyanya tenang.

“Aku bosan..” Sion menjawabnya dengan keluhan.

“Terus?”

“Hmm…” Sion berpikir sejenak. “Hibur aku..” ucapnya di sebelah telinga Siyenna. Ia memainkan rambut panjang Siyenna yang diikat di atas kepala.

“Hh… lakukan saja sesuatu sendiri… jalan-jalan di luar kek..” Siyenna menolak permintaan Sion itu. Lagi pula ngehiburnya gimana coba?

“Ah… itu malah lebih membosankan..” keluh Sion lagi. “Ah, aku tau!” seru Sion tiba-tiba. Semangatnya terlihat jelas dari mata, ia memunculkan senyum liciknya.

“Tau apa?” tanya Siyenna agak cuek.

“Ha ha… aku tau apa yang ingin kulakukan sekarang..” ujar Sion bangga.

Siyenna diam dan menunduk malas. Ia sudah tau apa yang ada di pikiran Sion.

“Ramalkan sesuatu tentang Gabriel…” ucap Sion licik. “Apa yang ia lakukan tadi di pesta teh… dan… hm.. apa lagi ya?..” Sion mundur, kembali duduk di sofa merah tadi. Mimik mukanya menggambarkan kalau ia masih berpikir.

Siyenna mendesah pelan. Bagaimana pun juga Sion adalah tuannya. Dan sesuai dengan undang-undang kerajaan ia harus mematuhi apa kata Sion. Ia meraba meja kayu di depannya, mendekati 1 buah bet pesta teh di sana. Tangannya mulai menyentuh bet itu, ia memulai proses ramalannya. Tapi sebelum itu ia berkata.

“Hh… tidak kah kau merasa bersalah mengambil hak dan privasi adikmu?…”

“Kenapa harus merasa bersalah?…” tanya Sion balik. “Kita kan di sini juga untuk mengontrolnya… kalau tiba-tiba kekuatannya membesar dan tidak terkendali, kamu mau salah satu orang di sini terluka?…”

“Terserahlah…” Siyenna memejamkan matanya. Dan ketika matanya terbuka, pandangannya sudah kosong. Ia mengambil bet itu dan didekatkan ke mata.

“Oh ya!… apa yang ada dalam pikirannya sekarang?” cetus Sion tiba-tiba.

Siyenna memejamkan matanya sekali lagi, lalu ia membuka matanya kembali dan mejawab dengan tenang.

“Pikirannya masih sama… tentang kebebasan…” ia menggenggam bet itu lebih keras, hampir meremasnya.

“Dan di pesta teh… dia bertemu dengan… hh’..” Siyenna kelihatan terkejut untuk sesaat. Pandangannya tidak kosong lagi. Untuk beberapa detik ia sempat terdiam, namun tak lama setelah itu senyumnya mulai merekah. Ia sepertinya senang dengan apa yang baru saja ia lihat di benaknya tadi.

“Hi hi…” Siyenna tertawa kecil. Sion yang melihat itu langsung penasaran.

“Apa??… dia bertemu siapa??.. katakan!”

“Hm… seseorang…” jawab Siyenna dengan maksud menyembunyikan ramalannya.

“Seseorang?… siapa?!… kau pasti melihat orang itu!!”

“Aku memutuskan pandanganku sebelum melihat jelas orang itu” jawab Siyenna nge-les.

“Kalau begitu lakukan sekali lagi..”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Aku bosan”

“Haah… Siyenna…”

Agni dan Oik berjalan di lorong istana diiringi Alvin yang berada di depan mereka. Sekali-kali Alvin menatap ke belakang, melihat kedua majikannya berjalan dengan tenang mengikutinya.

“Alvin..” panggil Agni.

“Iya, putri?” sahut Alvin.

“Kita… maksudku Aku dan kak Oik tidak akan tidur di kamar putri istana lagi kan?”

“Ya. kalian akan tidur di salah satu kamar asrama” jawab Alvin.

“Lalu.. kalau misalnya kita mau masuk…, boleh nggak?” tanya Agni.

“Kalau hanya berkunjung sih boleh. Tapi jangan terlalu lama. Kalau untuk tidur, sementara ini tidak dibolehkan..” jelas Alvin.

Mereka bertiga terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan belokan memasuki lorong lain.

“Baik putri. Aku hanya akan mengantarkan sampai sini. Kamar kalian bernama ‘Pia Aluna’, ada di sisi kiri lorong ini. Aku permisi dulu…”

Agni dan Oik mempersilahkan Alvin pergi. Alvin berlalu dan hilang dari pandangan, baru setelah itu Agni dan Oik melangkah ke dalam lorong dan mencari kamar yang akan mereka tempati.

Setelah beberapa detik, mereka pun sampai di depan kamar mereka. Di atas pintunya terdapat pahatan berbentuk bunga tali putri, dan diantara batang-batangnya yang memutar terlilit satu buah papan nama yang bertuliskan,

“Pia Aluna”

Agni dan Oik pun memegang gagang pintu dengan rasa berdebar-debar. Sejujurnya mereka baru pertama kali memasuki area bangunan istana yang di jadikan asrama itu. Dulu bangunannya masih terkunci dan tidak boleh dimasuki. Professor juga berkata kalau bangunan itu hanya digunakan untuk acara-acara tertentu. Dan acara pengajaran ini merupakan acara tertentu yang pertama kalinya.

Pintu kamar Pia aluna dibuat dari bahan kayu putih. Warnanya memang benar-benar putih. Ini kayu asli dari hutan timur Kingdom Animalia. Di tubuhnya terlihat mata-mata kayu yang berwarna coklat tua, namun teksturnya halus. Pintu ini pun jadi terlihat seperti batangan coklat putih dengan caramel-caramel yang manis. Gagang pintunya terbuat dari bahan licin berwarna emas. (kayak aluminium/emas buatan) Itu bukan emas sungguhan, namun dari jauh akan terlihat seperti emas.

Cklek…

Pintu di buka, cahaya dari dalam kamar keluar menyinari lorong tertutup yang agak gelap. Ketika Agni dan Oik masuk, langsung terdengar alunan piano dari sudut kanan kamar. Tepat di seberang mereka terlihat jendela kaca yang besar, yang merupakan sumber datangnya cahaya dari kamar itu tadi.

Kamar Pia Aluna bernuansa naturan dan cerah. Kamar ini luas dengan air mancur kecil berbataskan batu-batu kecil di tengah kamar. Lantainya beralaskan permadani dengan abstrak indah dan di sisi kiri kamar terlihat 3 buah tempat tidur yang di tata berurutan depan belakang. Ketiganya memiliki tiang-tiang hitam dengan tirai-tirai sutra berwarna orange yang tembus pandang tergantung di atas tempat tidur.

Dinding kamar itu berwarna coklat krem, ada lukisan-lukisan hewan di sana. DI sisi kanan kamar, karpetnya lebih halus dengan beberapa bagian yang terbuat dari beludru. Ada bantal-bantal kecil maupun besar di sana. Meja kecil beserta lemari besar juga. Di dindingnya tergantung tempat untuk memajang berbagai hiasan, buku, dan pernak-pernik lainnya. Sementara di bawahnya ada peti putih yang cukup besar untuk di masuki oleh tubuh Oik.

Oik terkagum-kagum dengan keadaan kamar itu. Luas, nyaman, alami. Agni juga sama-sama kagum, namun perhatiannya lebih condong ke piano di sudut kamar.

Piano itu masih mengalun pelan, namun tidak ada orang yang memainkannya.

Oik ikut memperhatikan piano itu, matanya was-was karena ia tidak terlalu suka hal-hal berbau mistik. “Jangan-jangan itu piano hantu…” ucap Oik dengan suara gemetar, sama seperti tangannya yang sudah buru-buru sembunyi di balik bahu Agni.

“Bukan..” terdengar suara asing dari sisi kiri kamar. Suaranya datang dari balik tirai tempat tidur yang tergantung rapih di tiang-tiang atasnya.

Oik mulai berprasangka buruk. “Jangan-jangan itu hantunya!”

“Hei! siapa yang kau bilang hantu!” seru orang yang tadi.

Agni dan Oik menengok ke sumber suara, dan betapa tidak percaya nya mereka ketika melihat sesosok putri yang bisa di bilang terkenal di jajaran dunia Kingdom Of Dream. Putri itu berambut hitam panjang, lurus dengan ujung yang agak tajam, berkulit agak hitam namun manis, memakai gaun orange dan pita besar di kepala. Ia tersenyum imut, matanya agak menyipit lalu menyapa Agni dan Oik.

“Hai!… salam kenal.. namaku -“

“Tunggu!..” Agni menyelak perkataan putri itu. “Biar kutebak. Kamu… Putri Tigerlily kan?”

Oik mengangguk, ikut menebak dengan tebakan yang sama seperti Agni.

Putri itu tersenyum dan menambahkan. “Ya. Tigerlily,… lebih tepatnya, Zevana chetta Tigerlily. Tapi gampangnya panggil saja Zeva atau Zeze..” katanya riang.

Zevana Chetta tigerlily adalah seorang putri asal negara harimau. Ia adalah peraih prestasi di Kingdom Of Dream. Dia ahli debat dan sampai sekarang hampir tiap lawan di arena debat dikalahkannya. Kini ia telah meraih sebanyak 50 medali dalam lomba debat. Ia merupakan orang yang lumayan cocok menjadi pemimpin dan dikenal selalu up to date.

Sifatnya humble dan ceria, tapi kalau lagi marah akan susah untuk dikendalikan. Ia akan selalu ingat muka orang yang telah membuat dia marah hingga ia memaafkan orang itu. Sampai sekarang orang yang pernah menang debat darinya hanya satu. Itu pun bukan dalam lomba, melainkan 2 orang gadis yang memperebutkan limas perak di puncak menara freedom mountain.

Zevana sudah pasti ingat muka orang itu. Putri keluarga Ventaurie yang kini menjadi pelayan pribadi pangeran Vampire. Siyenna Sense Ventaurie.

“Kalau begitu giliran kami memperkenalkan diri..” kata Oik. “Namaku’..”

“Tunggu!” Zevana menyelak. “Aku ingin tebak. Kalian pasti Oik Unico Counelli & Agni Dosecca Counelli”

“Benar!” seru Oik. “kok bisa tau nama kami?… kami kan bukan siapa-siapa, hanya putri kerajaan biasa”

“Bukan siapa-siapa gimana?.. kalian terkenal dengan keceriaannya. Dan professorku sering mendengar cerita dari professor degor. Tentang kalian yang suka kabur ke belantara kota, bahkan keluar dari batas kota..” sanggah Zevana.

“Hah?!… yaah… aku jadi takut. Nanti jangan-jangan para professor lainnya sudah mengecap kita sebagai nakal..” ujar Oik.

“Kalau mereka bilang itu hal nakal, aku tidak akan setuju. Para putri dan pangeran kan seharusnya juga boleh bebas, tidak dikurung terus di istana. Kita punya hak untuk mengenal keadaan kota. Kalian malah beruntung dapat kesempatan keluar dari istana, setidaknya 1 kali. Aku tidak bisa melakukan semua itu..” Ucap Zevena panjang lebar, mengutarakan segala keluh kesahnya.

“Iya! kita juga berpikiran seperti itu..” kata Agni setuju.

Mereka bertiga saling mengangguk. Rupanya jalan pikiran mereka tidak terlalu berbeda. Mungkin kapan-kapan mereka akan berencana untuk kabur keluar istana bareng-bareng.

“Eh iya!” seruan Oik membangunkan Agni dan Zevana dari pikiran mereka. “Aku masih bingung… kenapa piano di sudut kanan kamar masih mengalun?.. kan tidak ada yang memainkan…”

Agni mengangguki pertanyaan Oik. Lalu mereka berdua sama-sama menatap Zevana. Sebagai putri yang selalu up to date seharusnya ia tau tentang piano misterius itu.

“Ya. Aku tau… piano itu adalah keistimewaan dari kamar kita” kata Zevana memulai penjelasannya. “Nama piano itu adalah Pia. Dan itu menjelaskan kenapa nama kamar kita ‘Pia Aluna’ yang artinya Alunan Pia. Setahuku piano itu peninggalan sebuah perkumpulan besar di kerajaan melodi yang sekarang sudah tidak ada lagi. Nama perkumpulannya aku tidak terlalu ingat, yang pasti di belakangnya ada kata-kata ‘café’. Mereka memang memulai masa nya dari acara perkumpulan di café. Ada beberapa orang yang menganggap kalau orang yang sekarang memainkan piano itu adalah arwah dari pemimpin perkumpulan itu yang memegang alat musik piano, kalau tidak salah namanya Martiz. Tapi aku tidak tau apakah itu benar atau tidak…”

“Wah… kalau misalnya benar, berarti sekarang arwah Martiz ada di kamar ini dong?…” tanya Agni.

“Ya… mungkin aja..” balas Zevana. Ia berdiri mendekati piano itu. “Tapi aku penasaran… sampai sekarang belum ada orang yang berani memainkan piano itu, mereka takut kerasukan arwah Martiz. Padahal mungkin Martiz terus memainkannya karena tidak ada orang yang memainkan piano itu. Kan kalau pianonya dibiarkan sendiri nanti jadi kesepian… terus… karatan..”

“Hi hi…” Oik terkikik kecil mendengar ujaran Zevana yang asal keluar dari mulut. “Kalo Martiz nya denger gimana ya?” pikirnya.

Irsyad dan Obiet berjalan menelusuri lorong asrama pria. Mereka menengok ke kanan dan ke kiri, mencari kamar yang bernama Laven Lair, tempat ke-2 teman mereka tinggal.

“Jadi…” Irsyad membuka pembicaraan. Dari tadi mereka hanya serius mencari kamar lave lair, suasana harus dicairkan.

“Hya! hya! hya!… ayo! buka topengmu, putih!”

Debo dan Patton berseru, sibuk bergulat di lantai dengan sosok yang tidak jelas rupanya karena tertutup oleh kasur yang agak tinggi. Topi mereka sudah terlontar ke pojok kamar, baju mereka sudah acak-acakan dan rambut mereka sudah tidak beraturan.

“Eh… Patton?..” Obiet bertanya dengan heran. Irsyad bengong dengan mulut menganga setengah.

“Ah!.. Irsyad! Obiet!…” seru Patton balik. Ia berlari menghampiri kedua tamunya dan menyambut dengan pertanyaan membingungkan. “Kalian!… coba tebak dari mana asal pangeran yang sedang Debo jatuhkan itu, dan siapa namanya?..”

Obiet diam karena tidak mengerti pertanyaan Patton. Irsyad bergeming sebentar, ia melirik kaki sosok pangeran itu yang putih mulus. Sepatu bootsnya baru lepas tadi karena kehebohan serangan Debo. Sosok itu mengerang minta tolong.

“Eh… awan?” tebak Irsad yang buntu ide. Padahal apa nyambungnya coba sama sosok itu? “Ya… warna kakinya agak putih… terus.. kayaknya empuk… itu kan ciri fisik awan..” ujarnya dalam hati.

“Heheh.. awan?…” tanya Patton balik. “Tebakanmu agak aneh..” ujarnya.

Irsyad hanya menutup mulutnya, ia tersenyum kecut dan mengangguk penuh pengakuan. Memang aneh kok..

“Ah! tapi siapa peduli?… Aku sendiri tidak tau tebakanmu salah atau benar. Tau kenapa?… karena pangeran itu memang tidak mau memberitahu identitasnya. Aku tidak terima!… ah.. nggak adil!” seru Patton kekanak-anakan.

Debo bangun, melepaskan cengkramannya dari tangan sosok yang hampir sekarat itu. “Iya! Patton benar!”. Ia mengambil sepatu boots kepunyaan sosok itu dan mengangkatnya bagaikan pedang atau pistol yang diarahkan ke dada sang pangeran. “Ayo! katakan atau kau akan tau akibatnya!” seru Debo lantang.

“Iya!… iya.. iya.. maaf…” kata sosok pangeran yang masih tidak terlihat oleh Obiet dan Irsyad. Ia meminta maaf dengan nada memelas. Lalu badannya bergerak ke samping, mencoba bangun tapi yang ada pinggangnya malah terpentuk dasar kasur.

Dak!

“Aduduh… Aa… sakit..”

“Ha ha..” Irsyad terkikik sebentar dan berbisik ke Obiet yang masih memperhatikan. “Kayaknya pangeran itu baru encok deh…”

“’hhaha..” Obiet tertawa tertahan mendengar ujaran Irsyad. Ia menutup mulutnya sebentar dengan telapak tangan sementara dirinya masih senyum-senyum sedikit. Tapi ia mulai merasa kalau suara pangeran itu familiar di telinganya. “Siapa ya?..” Obiet berusaha mengingat-ngingat. Ia pun mendekati pangeran itu dan melihat dengan mata sendiri muka sang pangeran.

“Hah!!…” Obiet terkejut. Matanya terbelalak melihat sosok pangeran itu. Benar-benar tidak terduga, pangeran itu adalah,

“Cakka?!”

Sementara itu di perpustakaan istana

Crsh… crsh…

Zevana mengunyah biscuit coklatnya dengan nikmat. Mungkin baginya biscuit coklatnya pada saat itu adalah makanan terenak di dunia ini. Agni dan Oik sibuk dengan kerjaannya masing-masing yaitu mencari buku-buku pengetahuan dan Geografi. Agni mencari buku pengetahuan untuk mencari tau tentang negara-negara yang ada di Kingdom Of Dream. Mungkin dengan itu ia akan dapat setidaknya satu petunjuk tentang pangeran misteriusnya. Sementara Oik, ia ingin mengobservasi beberapa tempat menarik yang ada di Kingdom Of Dream. Mungkin jika suatu saat ia bisa berkelana bebas di dunianya ia akan tau tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi.

“Hm… Zeva mungkin mau ikut..” pikir Oik.  Ia menengok ke Zevana yang dari tadi masih mengunyah biskuitnya tanpa rasa terganggu. “Zevana… bukan kah kita dilarang makan di perpustakaan?” tegurnya.

“Ya. mm… aku liat papannya.. crsh.. crsh.. tapi toh… nggak ada yang liat kan?” balas Zevana nakal.

“Ya… iya juga sih… kalo gitu… bagi dooong…” pinta Oik memelas. Sebenarnya ia juga lapar sih. Perutnya sudah bergetar dari tadi.

“Silahkan diambil sebanyak yang kau mau, putri…” sambut Zevana riang.

Oik tersenyum riang. Akhirnya… perut yang dari tadi lapar akan mendapat jatah makannya.

crsh crsh… Oik dan Zevana pun memakan biscuit-biskuit itu dengan gembira. Namun Agni masih serius pada buku yang ia baca. Ia menemukan beberapa informasi tentang negara-negara di Kingdom Of Dream. Ada negara Tikusika, yang merupakan negara Debo, Avesky negara asal Patton di mana semua jenis burung berkumpul jadi satu, dan masih banyak lagi. Tapi Ia bingung, arti kata ‘Animalia’ adalah seluruh hewan yang ada di dunia.

“Tapi kenapa hanya ada ras kelinci di kerajaan Animalia?” Tanya Agni setelah ia menceritakan beberapa informasi dari buku yang ia baca.

“Karena dulu.. jauh sebelum kita lahir, Kingdom Of Dream hanya terbagi menjadi 3 bagian” Zevana memulai ceritanya.

“Haah!… Benarkah??”

“Iya.” ucap Zevana sambil tersenyum, mengundang perhatian. Oik dan Agni memperhatikan dengan seksama dan ia pun mulai bercerita.

“Yaitu ‘Skyrea’, kerajaan langit, ‘Undertown’ kerajaan bawah tanah, dan kerajaan bumi yang disebut juga dengan ‘Animalia’. Tapi pada suatu saat, ketiga negara mengalami kekurangan persediaan untuk hidup. Skyrea kekurangan air, Animalia kekurangan panas, sementara Undertown kekurangan cahaya.

Skyrea dan Animalia mempunyai ide yang sama yaitu saling bertukar persediaan. Animalia memberikan airnya untuk Skyrea, Undertown memberikan panasnya untuk Animalia, dan Skyrea memberikan cahayanya untuk Undertown, tapi Undertown tidak menyetujui usulan itu. Ia tidak ingin membagi miliknya untuk siapapun. Akhirnya terjadilah pertempuran antara 3 negara.

Skyrea dan Animlia tentu bekerja sama untuk menaklukan Undertown. Namun walau Undertown hanya sendiri, ia mempunyai pasukan yang sangat besar sehingga perbandingan mereka hampir sama. Pada akhirnya yang menang adalah Skyrea dan Animalia. Tapi Undertown masih belum hancur, pemimpin dan beberapa pasukan dari Undertown masih bersembunyi di bawah bumi, dan legenda berkata bahwa mereka akan bangkit kembali dan menghancurkan Animalia serta Skyrea. Namun sampai sekarang masih belum diketahui kapan mereka akan bangkit.

Berkat perang itu tadi negara Animalia yang menjadi arena perang mengalami kerusakan yang lumayan parah. Dan saat Animalia memulai masa perbaikannya, masing-masing ras mulai berkumpul sendiri dan memisahkan diri dengan Animalia. Mereka membuat negara sendiri dan berusaha menghidupi rakyatnya sendiri. Dan pada akhirnya ras yang ada di kerajaan animalia pun hanya ras kelinci yaitu kalian” jelas Zevana panjang lebar.

“Aku mau Tanya” seru Agni sambil mengangkat tangannya.

“Apa?” sahut Zevana. Ia tidak keberatan untuk menjelaskan lebih rinci tentang pertempuran itu.

“Kenapa ras terakhir yang tersisa di kerajaan Animalia ras kelinci? Kenapa tidak harimau? atau yang lainnya” lanjut Agni.

“Karena… pada saat pertempuran itu, raja yang memimpin kerajaan Animalia ber-ras kelinci”

“Oh…” Agni manggut-manggut. Begitu juga dengan Oik yang ikut memperhatikan. Ternyata sejarah dunia mereka sangat menarik. Wawasan Zevana memang benar-benar luas.

Agni hendak bertanya lebih jauh lagi tentang kejadian itu, tapi tiba-tiba mereka bertiga dikagetkan oleh bunyi pintu perpustakaan yang terbuka dengan kencang. Sepertinya baru dibanting oleh seseorang. Tidak… ada 3 orang, dan mereka berjalan tergesa-gesa menghampiri 2 putri counelli. Hmm… Siapa ya mereka??

Tunggu kelanjutannya dan tetaplah bersabar. Orang sabar disayang tuhan. Ya allah… semoga bisa nulis lanjutannya secepatnya…

Bonus picture nya akan di post hari-hari mendatang. (komputer satunya, tempat aku nyimpen pic itu lagi kehilangan mouse) maklum dimakan mouse alias tikus. tikus memakan tikus. =P

Hooray! Komputernya sudah dalam keadaan baik lagi. Dan ini adalah bonus picturenya…

Siyenna's dress

Siyenna's dress

Thank you sekali lagi karena telah membaca ^_^ see you next part!!

Kingdom Of Dream_Part 9: Pangeran Misterius dan Kamar Laven Lair

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_part 8: Pesta Teh dan Perburuan Burung Pelangi (bag2).

Pertama-tama, Aku memohon maaf sebesar-besarnya karena kelamaan nggak ngelanjutin cerita ini. Mohon dimaklumi yah… tugas pelajar jaman sekarang emang banyak banget. Ya pr lah, presentasi, bikin rangkuman diketik terus di print, harus punya flash disk,… ah… makin pusing.

Pokoknya, semoga part ini bisa memuaskan. Menghibur semua yang membacanya. Jangan lupa baca next partnya (dan prev partnya juga bagi yang baru baca). Dan mohon di Comment.. ^-^

Kingdom Of Dream
Part 9: Pangeran Misterius dan Kamar Laven Lair

*Pak ketipak ketipuk ketipak ketipuk ketipak ketipuk*

Kereta-kereta kuda memenuhi jalan perbukitan menuju ke istana animalia. Cuaca kelihatannya mulai berangsur malam dan menjadi gelap, kecuali kalau itu semua hanya efek dari langit yang mendung.  Burung-burung masih berterbangan di langit, namun jumlahnya tidak sebanyak hari-hari biasanya. Angin yang tadi masih sepoi-sepoi kini mulai menggalak. Semak-semak serta pepohonan sedikit bergoyang karena sapuan angin yang keras. Daun-daun terlepas dari tangkainya. Ikut terbang mengikuti arah tiupan angin.

Di barisan paling belakang, kereta kuda berwarna hijau tua dan emas melaju dalam kecepatan sedang. Jalanan yang berbatu-batu membuat kereta itu seperti terguncang oleh gempa bumi. Sang pengemudi duduk sambil memegang topi di kepalanya agar topi itu tidak ikut terbang. Sesekali ia terjonjak karena guncangan yang besar. Ia kesulitan mengendalikan tali kemudi beserta kuda-kudanya yang suka lari tiba-tiba.

Orang-orang yang duduk di dalam kereta juga ikut terguncang. Untungnya bangku di dalam kereta dilapisi dengan sutra dengan busa-busa atau kapas di dalamnya. Maka saat mereka terguncang, mereka tetap dapat merasa nyaman.

Para putra dan putri mahkota kingdom of dream yang duduk di dalam kereta yakni Oik, Paton, Debo, Irsyad, Obiet dan juga Agni kelihatan tenang-tenang saja menghadapi guncangan tersebut. Mereka masih kelelahan dengan aktifitas di pesta teh yang cukup melelahkan. Dalam pesta itu mereka harus berdiri hampir setiap saat. Makanan dan minuman lezat yang memenuhi perut mereka juga menjadikan diri mereka mengantuk dan lelah. Makan kan juga perlu tenaga.

Ourel, putri minister yang kebetulan ikut naik kereta kuda mereka malah kelihatan sangat ceria. Dari tadi ia terus tersenyum, dan di setiap lompatan ia akan tertawa kecil dengan mata yang berbinar. Oik tersenyum meihat tingkah Ourel tersebut. Ia paham jiwa kanak-kanan Ourel yang masih berkembang, maka ia memakluminya.

Patton, Irsyad dan Debo tertunduk dengan lemasnya di bangku seberang Oik. Mata mereka sangat sayu, merem-melek merem melek melulu. Mungkin sebentar lagi mereka akan tertidur.

Obiet mengutak-atik perunggu limas kecilnya. Sebuah benda teka-teki peninggalan orang tuanya. Semacam permainan melatih otak. Benda itu terdiri dari bangun-bangun acak dari perunggu, yang bisa di gerak-gerakan sesuai dengan alurnya. Di permukaannya terdapat relief-relief dan pahatan, beberapa lambang masa lalu, serta tulisan-tulisan kuno layaknya prasasti. Namun relief-relief itu seperti teracak. Orang-orang kerajaannya seperti mentri pengadilan Chobits berkata, bahwa kelak ia akan memecahakn sebuah teka-teki yang ada di balik limas itu.

Agni duduk di sisi bangku sebelah jendela. Menopang dagunya di pergelangan tangan yang di sandarkan di jendela. Matanya menghadap ke luar jendela kereta yang terbuka. Sebagian rambutnya berkibaran tertiup angin. Oik lagi-lagi tersenyum. Agni kelihatan nyaman menikmati tiupan angin yang urung berhenti itu. Namun Yang Oik herankan adalah pandangan mata Agni yang kosong. Sepertinya Agni sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Agni..” panggil Oik pelan.

“Eh.. Hah?” Agni menoleh tiba-tiba ke Oik. Sepertinya dugaan Oik benar. Agni memang baru melamun.

“Ngelamunin apa?” tanya Oik.

“Oh… enggak kok.. bukan apa-apa” Agni langsung menggelengkan kepalanya. Ia seperti menutupi sesuatu.

Oik merasa ada yang berbeda dari Agni. Ia pun sengaja menebak dengan salah agar Agni mau menjawab pertanyaannya. “Oh… Pasti ngeliatin Nova sama Alvin yang ada di kereta depan ya?” ucapnya.

“Hah?… Bukan kok… Itu tadi aku… ketemu…” kata Agni terbata-bata. Ia agak ragu untuk menjawab rasa penasaran kakaknya itu.

“Ketemu?… ketemu siapa??” seperti yang sudah Agni kira, Oik makin penasaran dan antusias. Karena takut Oik marah padanya akhirnya Agni mau menceritakan hal yang sedang ia pikirkan dari tadi.

“Itu… tadi di halaman kediaman Cranofile, aku ketemu sama seseorang…”

“Hooh!…” Mata Oik langsung membesar, berbinar. Telinganya langsung on, wajahnya berseri-seri. Wah! Oik penasaran banget kali ini. Sekarang imajinasinya memang lagi on banget. “pasti seru!…” pikirnya.

orangnya gimana? Laki-laki atau perempuan??” tanya Oik yang langsung menanggapi cerita Agni.

“Em… laki-laki” balas Agni agak pelan.

“Laki-laki?!… woooh… trus trus! habis itu kalian ngapain?” tanya Oik lagi. Ia makin antusias. Kira-kira mengarah kemana ya pikirannya? Snow white? Cinderella? Beauty and the beast?

“Eng… kita nggak ngapa-ngapain kok” jawab Agni agak menunduk.

“Loh kok?… nggak kenalan??” keluh Oik. Kalo mau tau, Oik tuh bener-bener kecewa pas denger Agni nggak ngapa-ngapain. padahal harapannya udah jauh dari itu.

“Nggak sempet… Lagian… pas itu tiba-tiba aku nggak berani kenalan…” jawab Agni jujur.

“Yah…” Oik mengeluh. Agni juga ikut nunduk. Mereka sama-sama nyesel kali ya?

“Terus, orangnya kayak gimana?” tanya Oik lagi. Kalo nggak bisa kenalan setidaknya ia tau tampangnya kayak gimana.

“Orangnya… agak… ah susah di tebak!.” kata Agni. “Kalau dari bet yang dia pakai sih… harusnya dia pangeran..” lanjutnya.

“Pangeran??… terus ciri-cirinya seperti apa?” tanya Oik lagi.

“Eng… Negara asalnya nggak ketahuan. Tapi pakaiannya gelap. Kulitnya agak pucat, dan matanya…emm…”

“Apa??.. matanya kenapa?”

“matanya nggak papa kok. Cuman… pandangannya tajam…”

“Hoooh!… jadi dia adalah pangeran misterius?… hi hi.. aku jadi ingat saat-saat bunda menceritakan beberapa cerita tentang pangeran dan putri yang tanpa sengaja bertemu… coba aku bisa melihat peristiwa itu…” Oik berangan-angan.

Agni hanya bisa tersenyum. Ia juga ingat akan cerita bundanya itu. Akankah ia mengalami cerita yang sama?

“Jadi… pertanyaannya adalah, ‘Akankah Agni bisa bertemu lagi dengan pangeran’ hooh… aku jadi pingin liat pangerannya..” kata Oik penasaran. Ekor kelincinya goyang-goyang ke kanan dan ke kiri.

“Iya aku juga… tapi aku tidak tau apa-apa tentangnya…” balas Agni.

“Oh iya yah… kalau begitu, tanya saja ke Patton. Biasanya kan burung hantu pintar!…” usul Oik. Pikirannya seperti ini.., ‘Lambang professor apa?? Burung hantu kan?’

“Hah?… apa? ada yang manggil aku??” Patton yang mendengar namanya dipanggil langsung bangun dari posisinya. Sigap banget si Patton.

“Oh! gini Patton!…” Oik langsung bertanya. “Kalo misalnya kita mau nyari seseorang, tapi kita nggak tau orang itu namanya siapa, kita nyarinya gimana?”

“Wah… itu sih nggak bisa…” jawab Patton. Oik dan Agni jadi agak murung. Melihat itu, Patton pun langsung menanyakan lebih lanjut. “Memang ketemunya di mana?” tanyanya.

“Ketemunya di pesta teh tadi” jawab Oik segera. Kayaknya kok malah Oik yang antusias banget ingin bertemu dengan pangeran misterius itu. Agni agak… malu.

“Oh… pesta teh… itu sih bisa coba liat ke buku absennya” kata Patton lagi.

Agni dan Oik tidak mengetahui apa maksudnya buku absen? setelah itu pun Patton menjelaskan semuanya. Jadi ternyata, di pesta teh itu ada yang namanya buku absen. Buku yang dipegang oleh minister dan digunakan untuk mencatat siapa saja yang datang dan tidak datang ke pesta teh itu.

“Biasanya sih di bolehkan. Tapi… aku tidak tau juga. Mungkin hanya bisa kalau kita punya satu hubungan dekat dengan salah satu keluarga minister…” kata Patton mengakhiri penjelasannya.

Agni dan Oik mengangguk-nganggukan kepala mereka. Kini tinggal cari orang yang dekat dengan minister. Mereka masih sibuk berpikir, sampai akhirnya Patton menjentikan jarinya.

“Kalian tau?… sebenarnya tidak perlu susah-susah berpikir untuk mendapatkan buku itu..” Patton tersenyum jail. Jari telunjuknya mengarah ke Ourel yang sekarang sedang menatap mereka polos. Matanya berbinar dan sepertinya ia sudah penasaran duluan. Hmm.. kelihatannya dapat diajak kerja sama.

*Tess.. Plung..*

“Hah?!..”

Cakka terbangun oleh suara tetesan air yang jatuh ke sebuah genangan air. Ia membuka matanya. Keningnya agak dingin, tetesan air tadi sempat jatuh ke kepalanya dulu sebelum benar-benar jatuh ke genangan air. Keadaan di sekitar masih gelap baginya. Sungguh sangat gelap. Rasanya ia buta saat itu. Perasaan takut mulai merasuki hatinya. Dan tanpa ia sadari, seekor mahluk dengan dua pasang mata yang tadi sedang mengintainya dari jauh… kini mulai mendekat.

Bulu kuduk di belakang tubuh Cakka mulai berdiri. Jantungnya makin berdebar-debar. Matanya mulai was-was melihat ke sekitar, tapi apa yang ingin dilihat. Tidak ada satupun! Dan dalam jangka waktu dekat… satu buah tangan yang kasar akan menyentuh lehernya. Namun sebelum itu, persis di sebelah telinganya, satu suara yang mendesis akan memberikannya tanda akan kehadiran seekor mahluk. Mahluk… pemilik tempat ini.

“Ssss…”

GYUT!..

“AAaaah..”Cakka terkejut. Ia memekik perih. Mahluk itu telah menjerat lehernya bahkan hampir mencekiknya. Cakka seperti seekor semut melawan gajah.

“Ss… Diam kau!… sudah kukira akan ada satu putra mahkota yang berusaha lari dari istana” kata Mahluk itu masih dengan desisan kecil. Cakka berusaha melawan namun itu semua sia-sia. “H’h… Diam!… Kau akan kubawa!.. Jangan coba lari!”

Setelah menempuh perjalanan dari kediaman Cranofile, Agni, Obiet, Oik, Patton, Debo, Irsyad, dan juga Ourel akhirnya sampai di istana Animalia.

Debo, Patton dan Irsyad yang baru pertama kali berkunjung pun terpana dengan keindahan istana Animalia. Arsitekturnya yang megah dan royal membuat bangunan itu bermakna sangat penting. Dindingnya terbuat dari marmer-marmer berkilau.Tirai-tirai merah dan emasnya terbuat dari beludru. Pilar-pilar putih menjulang tinggi sampai langit-langit istana. Lantai dengan berbagai macam mozaiknya, dan juga langit-langit yang berlukiskan awan dengan dewa-dewi agungnya. Terlihat pahatan-pahatan bergambar hewan di pilar-pilar putih. Lantainya memantulkan sinar matahari yang masuk melalui atap yang terbuat dari kaca. Semuanya kelihatan sempurna untuk sebuah istana.

Debo berdecak kagum. “Istanamu hebat…” pujinya.

Oik menggeleng. “Ah… namanya juga istana. Istana kalian juga bagus kok..” balas Oik merendahkan diri. Tapi Debo tetap teguh akan statementnya.

“Tidak. Istanaku jauh lebih kurang dari pada ini. Istanaku agak… gelap” kata Debo mereka-reka. Yah… mau bagaimana lagi? Namanya juga istana tikus.

Tak lama kemudian, para pelayan istana datang. Lalu barang-barang mereka pun diambil oleh pelayan kerajaan dan langsung di bawa ke kamar yang telah di persiapkan. Mulai hari itu, Agni dan Oik tidak akan tidur di kamar mereka lagi. Melainkan di kamar lain yang sengaja di jadikan asrama.

Tadi di jalan, Nova dan juga Alvin sudah mendapat surat petunjuk tentang letak kamar putri dan pangeran mereka. Disana dikatakan kalau 1 kamar akan ditempati oleh tiga orang. Obiet dan Irsyad yang ternyata sekamar pun langsung diantar Nova ke kamar mereka. Patton dan Debo diantar oleh pelayan dan pendamping mereka, sementara Agni dan Oik diantar oleh Alvin.

Tok tok tok

Pintu kamar Laven Lair diketuk oleh Patton dan Debo.

“Ada orang?” tanya Patton lantang.

Suasana hening dan tidak ada jawaban mereka pun membuka pintar kamar tanpa beban sedikit pun. “Berarti untuk sementara, kamar ini milik kita..” ujar Patton. Dan mereka pun masuk.

“Whoaaa…” Mereka lagi-lagi takjub dengan kemegahan istana ini. Kamar yang luas, dinding putih tak bernoda, lantai marmer yang kinclong, 3 kasur empuk bersepraikan sutra merah muda soft, pajangan-pajangan antik beserta lampu-lampu yang bersinar terang.

“Hoooh… aku bahagia bisa tetap berada di Negara animalia ini” ujar Debo. “Setidaknya untuk sementara aku terlepas dari aura kamarku yang gelap. Aku tidak menyangka ternyata ada kamar asrama yang senyaman ini..” lanjutnya sambil berbaring di kasur pertama.

“Asrama?” Patton seperti bertanya. “Bukannya ini pengajaran khusus?”

“Huu… sudahlah terima saja. Walau dijelaskan seperti apapun, intinya system pengajaran ini tetap seperti asrama. Memang kenapa? kamu seperti sebal dengan system asrama, Patton” Debo balas bertanya.

“Tidak. Aku bukannya sebal dengan asrama. Hanya saja, asrama dipikiranku selalu terkait dengan yang namanya aturan. Dan kadang aturan itu membuatku bosan” jawab Patton dengan jujur. Ia duduk di kasur kedua sambil terus memandang Debo yang terus berguling ke kanan dan ke kiri.

Debo pun bangun dan memandang kasur ke-3 dengan penuh tanya. Patton juga mengikuti kerjaan Debo. Dan ia pun sadar ada kejanggalan di sini.

“Hei!… bukankah seharusnya kita bertiga dalam kamar?” tanya Patton heran.

“Hmm… mungkin pangeran lainnya belum datang” Debo menebak-nebak kemungkinan yang paling besar.

“Tidak mungkin!..” sanggah Patton tidak setuju. “Setauku, kereta kita adalah kereta terakhir yang sampai di istana. Kalau memang benar ada yang menempati kasur itu, pasti sudah ada barang-barang yang ditaruh di samping kasur itu” jelas Patton.

Debo pun melihat ke lantai sebelah kasur ke tiga. Dan ternyata benar, tidak ada satupun barang yang ditaruh di sana.

“Hmm… kalau begitu, ini kasurku” kata Debo sambil menduduki kasur ketiga yang sama nyamannya seperti kasur ke-1 dan ke-2.

“Ah!.. tapi aku juga mau…” kata Patton. Mereka berdua duduk di kasur dan saling dorong-dorongan, memperebutkan kasur terakhir yang ada di kamar Laven Lair. Waduh… padahal kan mereka sudah punya kasur masing-masing.

“Punyaku!” seru Patton.

“Aku!” Debo nggak mau kalah.

“Aku!”

“Aku!”

“Hei!… Dari pada berantem, mending kita bagi dua saja!” usul Patton.

“Wah!… bener tuh!…” Debo setuju. “Aku kiri!”

“Waa… enggak!.. Kamu kanan!” balas Patton.

“Kiri!”

“Kanan!”

“Kiri!”

“Kanan!”

“Hei!!..” Oh tidak!. Ada teguran dari luar kamar.

Debo dan Patton terkejut. Ternyata itu adalah salah satu professor yang mungkin akan menajar mereka nanti.

“Ah… jangan bilang kita dihukum. Tidak seharusnya professor datang ke kamar kita saat ini, kecuali ada hal penting yang harus disampaikan ke kita..” bisik Patton kepada Debo.

“Semoga sih bukan… kita tidak melakukan apapun yang melanggar kan?” Debo balas berbisik.

“Debo! Patton!” panggil professor.

“Iya?” balas mereka berdua.

“Bersikap baiklah pada teman baru kalian… Hei kamu!… Ayo masuk!”

Finally! Aku telah berhasil menge-post KOD part 9. Tapi aku takut juga… jangan-jangan part ini mengecewakan yah?? iya gak sih?… kurang banyak yah? Kalo mau kritik – kritik aja ya… selalu di terima kok. Commen ya commen. Maaf kalo part ini kurang, aku akan mengusahakan kalau part selanjutnya akan lebih baik lagi! (AMIN!… Bertekad mode: On!)

Oh iya! kisi-kisi part selanjutnya. Nanti kemungkinan disana ada krew-krew Café Happy Chipmunks, kamarnya Agni dan Oik, dan 3 tokoh baru beserta para pengajar di pengajaran khusus ini. Siapa ya??… mau tau?? baca aja part selanjutnya!…

salam manis ^_^

New Dress Design (yang ini buat Oik) ^^

Oik dress

1

2

2

dress 2's shoes

dress 2's shoes

Thank you… please comment! ^^

Kingdom Of Dream_Part 6: Si pelayan kerajaan dan Pangeran Chobits

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 5: Cafe Happy Chipmunks
Semoga pada suka. Soriii sebanyak-banyaknya karena ngepostnya lama banget. Ada halangan. You know lah!… sekolah..

Oh iya!… kali ini ada bonus gambarnya. Yaitu gambar baju/gaunnya putri Agni dan putri Oik.

Happy reading and I always hope you like it!
Don’t forget to comment… ^^

Kingdom Of Dream
part 6: Si pelayan kerajaan dan Pangeran Chobits

“Aku… aku tidak percaya… Aku… masuk ke Istana..”

Cakka terbengong-bengong akan nasibnya saat itu. Yang menurut Cakka sendiri, terlalu beruntung. Ia tidak habis pikir, kok bisa yah? Bocah yang bukan siapa-siapa seperti dirinya masuk ke Istana yang semegah itu? Istana tempat Agni dan Oik tinggal?. Bahkan ia sendiri belum percaya kalau dari tadi ia telah berteman dengan seorang putri raja. Padahal dulu Cakka tinggal di tempat biasa yang di bilang kumuh oleh teman-temannya. Hei!… tempat tinggal Cakka di bumi tidak kumuh kok. Hanya ekspetasi teman-temannya saja yang terlalu tinggi. But whatever it is… hal ini benar-benar Unbelievable.

“Cakka… mau cepat atau lambat… Cakka harus percaya, soalnya Cakka emang masuk ke istana..” kata Agni sambil merangkulnya, mengajaknya berputar di tengah kamar Agni dan Oik, melihat pemandangan kamar yang sungguh… sangat besar. Kamar mereka saja besarnya seperti sebesar 1 buah ruangan aula di sekolah Cakka, mungkin lebih. Jadi wajar saja kalau Cakka sampai menganga.

Saat Cakka sedang melihat-lihat langit-langit kamar yang berlukiskan awan-awan dengan peri-peri cupid, tiba-tiba saja Oik menepuk pundak Cakka.

“Cakka, sekarang kita mau mandi..” kata Oik sambil merangkul Agni. “Cakka mending mandi juga deh… bentar lagi kan para tamu dari kerajaan lain mau datang…” tambahnya.

“Obiet….” Agni memekik pelan. Ia tersenyum dengan mata yang menyipit, memandang ke Oik seperti berbicara sesuatu. Oik balas tersenyum, matanya juga menyipit dan tertawa pelan. Hmm… mungkin mereka punya bahasa sendiri. Tapi dari mata mereka, kelihatan mereka sedang berbicara tentang Obiet, teman lama mereka yang sudah lama tidak bertemu.

“Ya udah. Kita mau mandi… nanti Cakka tunggu aja di sini. Bakal ada Alvin, pelayan kerajaan kita yang setiaaaa banget!. Dia bakal nganterin kamu ke permandian laki-laki… bajunya udah ada di sana. Cakka mandi aja.. Oke!..”

Lalu setelah semua penjelasan itu, Oik dan Agni langsung cepat-cepat berlari ke permandian untuk para putri dan bersiap menyambut kedatangan teman-teman mereka yang datang dari kerajaan tetangga.

Seperti yang disuruh oleh Oik, Cakka menunggu. Dan setelah beberapa detik membisu, clingak-clinguk nggak jelas dan menghembuskan nafas, muncul lah seorang anak laki-laki yang kurang lebih sebaya dengan Agni dan Oik. Kulitnya putih, bermata sipit, tubuh tinggi, memakai kemeja tangan panjang berwarna putih, vest hitam kecoklatan, dan celana ¾ beserta boots warna coklat tua. Dari tampangnya, ia seperti artis-artis ngetop di korea. Dan yang tidak boleh sampai terlupakan, Ia memiliki telinga rubah, sama seperti Rahmi. Lalu anak itu berdehem, menyadarkan Cakka akan kehadirannya.

“Ehem…”

“Hah? Apa?…” Cakka terlonjak kaget dan langsung berdiri. Kursi yang ia duduki hampir saja terpelentang dan jatuh.

“Anda… Cakka?” tanya anak itu.

“Oh… iya” jawab Cakka agak kagok.

“Aku Alvin… pelayannya putri Oik. Kamu udah di kasih tau kan?… em… katanya putri Oik, kamu mau mandi…” jelas anak itu yang ternyata pelayan yang tadi Oik sebutkan, Alvin.

“Oh.. Eh, Iya…” Cakka mengangguk pelan dan sedikit tersenyum. Kalo dipikir-pikir gayanya Alvin lumayan mirip sama dia, terutama rambutnya.

Alvin pun balas tersenyum dengan kadar secukupnya. Kayaknya Alvin anaknya agak cuek. Nggak seramah si Deva, atau seseru si Ray. Gayanya bak anak cool yang eksistensinya tinggi, namun tau harga diri.

“Kalo gitu ikut aku…” lanjut Alvin.

Tanpa basa-basi, Cakka pun mengikuti Alvin yang berjalan menelusuri koridor dengan lantai keramik krem, dinding dinding bercat putih dengan lukisan-lukisan indah. Lalu berbelok ke koridor lainnya yang jalurnya tidak terlalu panjang, namun lebar. Dan tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan sebuah pintu besar dari batu alam, lantai koridor di sini juga berbahan batu alam yang agak lembab. Pintu itu di pahat dengan gambar daun-daun besar maupun kecil, huruf-huruf yang tidak diketahui oleh Cakka artinya, dan di tengah pintu ada pahatan berbentuk segitiga.

“Artinya apa?” tanya Cakka sambil menunjuk huruf-huruf asing di pintu dan juga lambang segitiga itu.

Alvin pun mejawab sebisanya. “Kalo tulisan kuno di atas, artinya permandian putra agung. Sementara lambang segitiga itu…” Alvin membentuk sebuah segitiga dan berkata. “Segitiga itu lambang laki-laki. Sementara segitiga terbalik..” kini Alvin membentuk segitiga terbalik dengan jari-jarinya. “…Lambang perempuan. Lambang-lambang itulah yang membedakan setiap (territory) untuk laki-laki dan perempuan di lingkungan istana”

“Oh…” Cakka manggut-manggut. Ia mengerti sekarang. Kenapa tadi saat memasuki ruangan dengan pintu berlambang segitiga terbalik di dalamnya hanya ada pelayan-pelayan wanita lalu ketika tau, Agni dan Oik langsung memarahinya. “Cakka nggak boleh masuk!.. itu lingkungan terlarang!…”

Cakka pun masuk ke ruangan di depannya, ditemani oleh Alvin. Ruangan itu adalah sebuah ruangan besar, di tengahnya ada sebuah kolam bear berisi air yang jernih, dan di sisi kolam itu terdapat pilar-pilar besar tiap jarak 3 meternya. “Kolam ini biasa di gunakan untuk berendam para putra mahkota dan kalangan lelaki berdarah biru” jelas Alvin.

“Ya sudah… aku harus kembali ke ballroom istana. Ada dekorasi yang harus diselesaikan. Cairan sparkly dust-nya ada di pojok ruangan, bersama bajunya. Kalo udah selesai berendam… langsung kembali ke kamar putri Agni dan putri Oik saja.. ” Dan Alvin pun meninggalkan Cakka di sana sendirian untuk mandi.

20 menit setelah itu…

Cakka sudah selesai mandi. Ia memasuki kamar Oik dan Agni dan mendapati Agni yang sedang duduk di kasurnya yang empuk dan bersepraikan sutra. Sementara Oik sedang duduk di meja rias, menatap kaca sambil sesekali memoles wajahnya dengan bedak berupa bubuk halus berwarna krem.

Kini mereka berdua sudah berubah. Sangat cantik… sunggu berbeda dari 2 anak cewek yang hobi lari dan kabur tadi. Sekarang Agni dan Oik sudah benar-benar seperti putri. Agni dan  Oik memakai gaun berwarna pink soft dengan paduan warna coklat tua dan sepatu berwarna krem, membuat diri mereka jadi seperti putri yang lemah lembut.

Tapi Agni kelihatan sangat berbeda. Ya!… sangat berbeda. Cakka baru sadar, rambut Agni sekarang jadi panjang, kurang lebih sebahu.

“Eh!… Cakka udah datang!” seru Agni.

Oik langsung menoleh ke pintu, melihat Cakka yang berjarak hanya 2 meter dari pintu kamar. Cakka berdiri diam di sana, ia agak ragu melangkah lebih dalam. Takut saltum kali ya? Salah kostum…

“Cakka kereeeen!…”

Agni dan Oik langsung berlari menghampiri Cakka. Ingin melihat Cakka lebih dekat.

“Hooh… keren!… ternyata bajunya nyocok sama Cakka, kak!…” seru Agni dengan gembira.

“Iya! Ha ha!..” Oik dan Agni bertos-an. Kayaknya Cakka nggak salah kostum tuh.

“Eh… Agni kenapa rambutnya tiba-tiba panjang?” tanya Cakka yang heran.

“Hoh?… Oh itu!… 2 hari kemarin aku dihukum sama professor Degor, rambutnya jadi pendek untuk beberapa hari. Tapi sekarang sihirnya professor udah hilang… hi hi” jawab Agni riang. Senang rasanya rambutnya kembali seperti semula. Apalagi mau ketemu sama Obiet.

“Ya udah!.. kalo gitu kita langsung ke taman aja!… kalo kelamaan disini nanti professor Degor keburu datang!..” kata Oik.

Agni dan Oik langsung mengangguk bersamaan, lalu kompak menyeret Cakka ke luar kamar, berlari-lari di sepanjang koridor Istana yang bermandikan cahaya matahari dari balik jendela istana yang panjang dari pinggang kita sampai ke atas ruangan dan lebarnya 1 meter. Pilar-pilar dari marmer mempercantik koridor itu, begitu juga tirainya yang terbuat dari beludru berwarna merah dengan rumbai-rumbai berwarna emas. Cakka tersenyum gembira. Istana Kingdom Animalia memang sangat menakjubkan. Namun tunggu sampai ia melihat padang ilalangnya. Cakka pasti akan merasa ia berada di surga. Sudah lagi ia akan bertemu dengan seseorang teman baru juga di sana.

Srrrr… Srrr…

Ini dia surga istana Animalia. Padang ilalang yang melambai-lambai. Bagaikan memanggil jiwa raga kita untuk berputar-putar disana. Bermain-main dengan senangnya. Melupakan segala masalah, sakit dan pedih. Padang ini akan selalu terang, padang ini akan selalu indah, dan padang ini akan selalu membuatmu bahagia.

Padang ilalang melambai. Kini Cakka, Agni dan Oik sudah sampai di padang itu. Segera setelah mereka berpijak, diri mereka seperti dihipnotis. Terhipnotis akan anginnya yang bertiup semilir, langitnya yang biru cerah tanpa celah, awan putihnya yang berarak dengan damai, dan daun ilalang yang menyentuh jari mereka dengan lembut. Seperti surga untuk sesaat. Dan dari kejauhan terlihat, seorang anak lelaki yang telah menunggu mereka dari tadi. Bajunya yang berupa jaket bernuansa biru tua, kemejanya bertangan panjang berwarna putih bersih, lace putih berumbai, dan kepalanya tertutup oleh topi classic berwarna biru tua, senada dengan jaketnya. Celananya berwarna coklat  tanah dan sepatunya adalah boots coklat bertali hitam. Anak itu berbalik, tersenyum, dan dalam sekejap alam seperti membalas senyumannya. Angin berhembus damai, waktu seperti terhenti, burung-burung berkicau riang dan berterbangan bebas di angkasa. Agni dan Oik langsung tersandar lemas di pundak Cakka. “Aah… manisnyaaa…” ujar mereka.

Lalu anak itu  melambaikan tangan dan menyapa.

“Oik!… Agni!… Lama nggak ketemu!…”

“Obieeeet!… Kita kangeeen!…”

Agni dan Oik langsung berlari menghampiri Obiet, dan seperti biasanya langsung memeluk Obiet dengan erat.

“Obieeet!… akhirnya kita bisa kumpul lagi!” seru Agni riang. Oik mengiyakan dan tetap memeluk Obiet.

Cakka mendekati Obiet perlahan, namun hanya berani sampai di belakang Agni dan Oik. Ia tidak mau menghalangi kekangenan Agni dan Oik terhadap Obiet.

“Oh iya!…” Obiet menghentikan aksi Agni dan Oik terhadapnya. Obiet menyadari akan kehadiran Cakka. “Kamu siapa?” tanya Obiet ke Cakka. Ia tersenyum ramah dan mukanya memancarkan aura friendly.

“Eh… Cakka” jawab Cakka.

“Oh… kenalin, aku Obiet… nama Obiet diambil dari nama sebangsaku yaitu sebangsa Chobits. Ch-obit-s… jadi Obieet..”

Cakka hanya diam. Hmm… mungkin lebih tepatnya konsentrasinya telah mengarah ke hal lain. Ia menatap Obiet dengan antusias. Layaknya menatap sebuah harapan, ilham, dan juga bantuan dari sang maha kuasa.

Criiing… matanya seperti bersinar ketika melihat Obiet yang berfisik layaknya manusia biasa, tanpa telinga hewan, tanpa ekor. “Akhirnya aku punya teman senasib…” pikir Cakka.

Cakka yang dari tadi tidak mendengarkan kata-kata Obiet langsung saja mendekati dan menjabat tangan Obiet sambil berkata ke Obiet. “Aku Cakka! Manusia!… akhirnya aku ketemu manusia lain di sini…”

“Hah? Manusia?” Obiet tampak bingung. Tidak mengerti satupun apa yang dikatakan Cakka barusan.

“Iya!… kamu manusia kan?” tanya Cakka meyakinkan.

“Oh bukan…” jawab Obiet masih dengan ramahnya. Sayang Cakka sudah keburu kecewa. Ia tak peduli, Ia langsung lepas topi Obiet dan mengecek apakah Obiet benar-benar manusia biasa, dan ternyata…

“Aku… Cho… chobi…ts..” Obiet yang baru terpisah dari topinya tiba-tiba loyo, lemes, berputar-putar seperti sedang melakukan jurus mabuk Jackie chan dan lama-lama terkapar sendiri di antara rimbunan ilalang lembut.

“Hah?” Kini gantian Cakka yang bingung.

“Aduh!… aku lupa! Tanduk Chobitsnya Obiet kan sensitive. Kena panas dikit langsung ngantuk. Haa…” Oik menyesal telah lupa akan kebiasaan Obiet itu. Tanduk Chobits Obiet memang agak sensitive, nggak tahan panas. Kalo kena cahaya matahari berlebih, matanya bisa langsung merasa silau dan langsung ngantuk.

Agni langsung membantu Oik membangunkan Obiet. Sementara Cakka makin bingung. Ternyata Obiet bukan manusia?… “Oh iya!” baru setelah itu Cakka ingat kalau Agni dan Oik pernah bilang, Obiet itu pangeran dari negeri Chobits. Langsung mukul kepala sendiri deh dia.

Hfft… Cak.. Cak..

Sementara itu, di lantai 3 istana animalia, Alvin keluar dari ballroom, berjalan mendekati balkon. Ia menghampiri seorang anak perempuan dengan baju berwarna hijau laut dan rambut hitam terurai. Anak perempuan yang ia hampiri itu adalah pelayan dari kerajaan chobits, datang tidak lain untuk menemani Obiet mewakili kerajaannya.

“Nova ngeliatin apa?” tanya Alvin sambil bersandar di balkon sebelah Nova, pelayan Obiet itu.

“Mmmh… enggak… aku cuma penasaran sama kereta kuda itu…” jawab Nova sambil menunjuk sebuah kereta kuda yang ditumpangi oleh orang-orang berbaju pelayan dengan telinga tupai.

“Oh… itu kereta kudanya café happy Chipmunks. Café yang nanti akan melayani para putri dan pangeran di pesta. Memang kenapa?” tanya Alvin lagi.

“Mm… nggak. Nggak kenapa-napa kok..” Nova kembali diam memperhatikan kereta café Happy Chipmunks.

Alvin pun kembali ke ballroom. Nova masih tetap di situ, memperhatkan kereta café Happy Chipmunks yang kini sudah berhenti, dan beberapa orang keluar dari sana. Anak yang paling tinggi, yang tadi mengendalikan kereta itu turun dari kursi [pengemudi] dan membuka pintu keretanya.

Ia menurunkan beberapa barang dari gerobak di belakang kereta dengan dibantu oleh anak laki-laki berambut sebahu yang lebih pendek darinya. Lalu keluar 2 orang anak perempuan, yang satu berambut ikal sebahu, dan yang satu lagi berambut panjang bergelombang dan diikat di atas. Lalu yang terakhir ada anak laki-laki berambut hitam yang langsung menutup pintu kereta tengah.

Kemampuan Nova untuk melihat keadaan lebih dekat langsung di gunakan. Matanya langsung terfokus pada anak laki-laki yang turun paling terakhir itu. Saat sedang memperhatikan, tiba-tiba anak laki-laki itu menatap kearahnya. Nova langsung mengalihkan pandangan dari sana. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Melepaksan focus dengan kecepatan yang berlebih membuat kepalanya mulai pusing. Namun pusingnya kepala itu tidak terlalu dipikirkannya. Ada suatu rasa asing yang muncul di hatinya ketika melihat anak laki-laki itu. Dan rasa itulah yang kini langsung mengambil tempat di otaknya. Nova sendiri bingung rasa untuk apa? Yang pasti rasa itu kuat. Rasa untuk mendekati… dan ingin mengenali…

Itu dia part 6 nya. maaf jika ada salah-salah kata. Mohon di maklumi. Kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Ini bonus picturenya…

Oik and Agni's dress at the garden

Thanks for reading!…
Keep waiting for the next part! ^^

Kingdom Of Dream_Part 4: Legenda Ice Dalia

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 3 : Di rumah Rahmi
Happy reading! I always hope you like it! ^_^
Don’t forget to comment…

Kingdom Of Dream
part 4: Legenda Ice Dalia

Matahari masih bersinar cerah. Agni, Cakka dan Oik berjalan di sebuah jalan setapak kecil di
hutan. Udara di sekitar mereka sangat sejuk. Tentu saja! Di kanan kiri mereka
ada deretan pohon yang rindang. Ranting-ranting pohon itu tumbuh panjang ke
samping, sampai-sampai ranting-ranting pohon di kanan menyatu dengan
ranting-ranting pohon di kiri. Jadi seperti berjalan di terowongan. Cakka
sangat menikmati saat-saat ia berada di Kingdom Animalia ini. Negara ini penuh
dengan keajaiban, dan keajaiban itu termasuk keajaiban yang menyenangkan.

“Cakka!” Oik memanggil Cakka dari kejauhan. “Cepetan kesini!… jangan lelet-lelet…”

He he… Cakka memang sudah tertinggal jauh. Mungkin karena terlalu menikmati pemandangan di
jalan setapak hutan.

“Iya iya… maaf…” Cakka langsung berlari mengejar ketertinggalannya. Lalu setelah ia
berada di tengah kedua manusia kelinci itu, ia bertanya.

“Kapan kita akan sampai di kota?”

Agni pun menjawab. “Tidak akan lama kok… Sebentar lagi kita akan melewati jembatan
besar, lalu kita akan memasuki gerbang besar dengan tinggi yang sama dengan
pohon-pohon pinus di hutan… Dan dibalik gerbang itu, kita akan memasuki
sebuah kota dengan bangunan-bangunan sederhana yang terbuat dari batu bata
merah dan kayu oldwork kerajaan animalia. Pokoknya Cakka dijamin akan puas!”
jelas Agni panjang lebar.

~~

Setelah 5 menit berjalan, mereka sudah semakin dekat dengan pintu gerbang kota Animalia.

“Ah! Suara air sungainya makin jelas!” seru Oik.

“Iya!” Agni menyetujuinya. Telinga mereka berdua langsung tegak dan saraf pendengarannya
menajam. Sementara Cakka, ia hanya bisa manggut-manggut. Telingannya memang tak
sepeka Agni dan Oik.

“Ayo! Sepertinya aku juga mendengar suara terompet-terompet pawai…” kata Agni agak khawatir.
“Bisa-bisa kita dihukum lagi…”

Oik langsung menarik tangan Cakka agar berlari dengan cepat. Agni sudah memimpin di depan.

“Oik, kalau tidak salah, di belokan ketiga kita akan sampai di sungai ‘Ice Dalia’ kan?” seru
Agni.

“Iyah!… sebentar lagi” balas Oik.

Sungai ‘Ice Dalia’, sungai itu adalah sebuah sungai besar yang mengitari kerajaan animalia.
Sungai itu sangat indah, alirannya tidak terlalu kencang. Warnanya cerah dan
bening jika disinari cahaya matahari. Dasar sungai, tumbuhan air beserta
ikan-ikan kecil akan terlihat jika sungai itu terkena cahaya matahari. Sungguh
indah… Namun, jikala malam datang, sungai itu akan berwarna sangat kelam,
sangat gelap dan dingin. Ada satu legenda yang sudah diceritakan sejak dulu di
kerajaan Animalia. Dan tentu saja cerita itu juga disampaikan kepada Oik dan
Agni oleh ibu mereka dulu.

“Agni, Oik… kita jalan aja deh… aku udah capek” kata Cakka dengan tampang loyo sekali.

“Hfft… Oke… kita juga udah capek nih… tidak seperti yang disangka-sangka, makin siang kok
makin panas… biasanya nggak sepanas ini” kata Agni sambil menyeka
keringatnya.

“Agni, Oik…”Cakka memanggil Agni dan Oik.

“Ya?” kata mereka berdua.

“Sungai ‘Ice Dalia’ itu apa?” tanya Cakka.

“Hm… gimana kalo kita certain legenda sungai ‘Ice Dalia’ sambil jalan ke gerbang?” kata Oik
member usul.

“Oh! Boleh tuh! Boleh! Ayo kita ceritain, kak” balas Agni dengan antusias.

Cakka sudah pasti tertarik dengan legenda-legenda kerajaan animalia. Negara ini sangat ceria,
namun kadang bisa misterius.

Dan mereka pun melanjutkan perjalanannya sambil bercerita.

Dahulu kala di kerajaan Animalia, saat malam bulan purnama, ada seorang putri yang kabur dari istana. Putri itu
bernama dalia. Ia sudah bosan dengan aturan-aturan yang ada di istananya. Maka
ia lari dari istana itu hingga akhirnya sampai di luar gerbang kerajaan
animalia. Saat putri itu melewati jembatan, tiba-tiba ia mendengar tangisan
seorang gadis seumurannya. Ia melihat kesekitar namun tidak ada tanda-tanda seorang
gadis, ia pun melihat ke permukaan air sungai yang ada di bawah jembatan.
Tadinya ia hanya melihat pantulan dirinya, namun tak lama setelah itu pantulan
dirinya berangsur-angsur berubah menjadi seorang gadis yang menangis. Putri
Dalia bertanya kepada gadis di permukaan air itu.
“Hai.. Mengapa kau menangis?…”
Gadis itu pun menjawab. “Aku bosan… aku kesepian disini… aku ingin
teman…”
“Aku juga sama sepertimu… aku juga bosan di istana, aku tidak bisa
bersenang-senang” kata Putri Dalia. Lalu
Putri Dalia dan gadis di pantulan danau itu sama-sama tersenyum. Putri Dalia
mulai tertarik dengan gadis di permukaan danau itu. Putri Dalia kembali
bertanya.
“Siapa namamu?”
Gadis itu menjawab. “Namaku Dalia”
“Hey, Namaku juga Dalia!” kata Putri Dalia dengan gembira. Ia semakin tertarik
dengan gadis di permukaan danau yang mempunyai nama yang sama sepertinya. “Apa
kau suka bunga dahlia?… aku selalu memetik bunga dahlia di taman kerajaan
jika aku sedang kesepian atau sedih… mungkin hatimu juga akan kembali ceria
jika aku petik-kan sebuah bunga dahlia untukmu. Kalau tidak salah, miss Norvea
pernah bilang ada deretan bunga dahlia di dekat jembatan ini… Sebentar ya,
Dahlia… aku akan mencari bunga itu”
Lalu Putri Dalia pun menyebrang ke tepi jembatan setibanya di tanah, ia
langsung menemukan satu pohon bunga dahlia yang indah sekali. Bahkan ia
menganggap bunga dahlia di tepi jembatan itu lebih indah dari pada bunga dahlia
di taman istananya. Ia segera memetik satu tangkai bunga itu dan kembali ke
tengah jembatan. Ia lihat lagi pantulan di sungai, Namun gadis yang bernama
dalia tadi tidak kelihatan lagi.
“Dalia?… Kau di mana?… Ayolah tunjukan dirimu… jangan tinggalkan aku
disini…” Kata putri Dalia memohon. Namun Dalia tak muncul juga. Putri pun
menangis tersedu, dan ia berkata.
“Aku bosan… aku kesepian disini… aku ingin teman…” Lalu putri Dalia
merenung sejenak. ‘Bukankah itu kata-kata yang diucapkan Dalia tadi..’
“Dalia… apakah kau adalah aku?” tanya Putri Dalia.
Suasana sungai tetap sunyi, tak ada jawaban.
“Dalia, ayolah… aku sudah memetik-kan satu tangkai bunga dahlia untukmu. Ayo
kita berteman… kalau perlu aku bisa mengajak putri-putri yang lain, yang
sekarang sedang berada di istana. Aku juga bisa mengajak teman-teman di kota.
Dalia…”
Putri Dalia berdiri, ia naik ke atas jembatan lalu menunduk. Tangan kirinya memegang
erat sisi jembatan sementara tangan kanannya yang memegang bunga dahlia
berusaha menyentuh permukaan sungai.
“Dalia… Ini bunga untukmu…”
Grack!
Tiba-tiba batu bata yang menahan tubuhnya retak, lalu pecah menjadi
bongkahan-bongkahan kecil yang bersinar. Beberapa dari bongkahannya jatuh ke
sungai, bongkahan-bongkahan kecil itu secara ajaib seperti berubah menjadi batu
mulia yang berkilauan memantulkan cahaya bulan purnama, seperti air mata yang
jatuh dan mengiringi Putri Dalia yang juga ikut terseret jatuh oleh pecahnya
batu itu.
Dan sejak saat itu, sungai yang membatasi kerajaan animalia dan hutannya
dinamakan dengan sungai ‘Ice Dalia’.

“Terus… putri dalia-nya tenggelam dong?” tanya Cakka kepada Agni dan Oik yang tadi
menceritakan legenda sungai ‘Ice Dalia’.

“Iya” jawab Agni singkat.

“Kenapa nama depannya Ice? Tanya Cakka lagi.

“Karena… sejak peristiwa itu terjadi, tiap malam sungai ‘Ice Dalia’ jadi selalu berkabut dan
dingin… sedingin… es” kata Oik.

“Iya” Agni menyetujui. “Apalagi di saat bulan purnama. Suhunya menjadi sangat dingin.
Makanya di setiap malam-terutama malam bulan purnama, kita dilarang keras
keluar dari rumah…” tambah Agni.

“Tepatnya setiap gadis di kota… dilarang keras keluar rumah malam-malam begitu, apa lagi
sampai keluar wilayah kota dan melewati jembatan ini…” kata Oik membenahi.

“Loh… bukannya setiap malam memang seharusnya sepeti itu?… berkabut… dingin…” tanya
Cakka.

“Memang seharusnya begitu… tapi mau bagaimana lagi… legenda itu memang sudah
bertahan kuat di kalangan masyarakat kerajaan animalia… padahal keluar malam
hari kan seru!” kata Agni yang sekalian curcol mengenai ketidaksetujuannya
terhadap legenda itu.

“Katanya yah… setiap malam bulan purnama akan terdengar tangisan seorang gadis dari sungai
ini, dan jika tangisan itu terdengar oleh para gadis di kerajaan animalia, kita
bisa terhipnotis untuk datang ke jembatan ini… lalu… yah… tenggelam di
sungai seperti putri Dalia” kata Oik lagi.

“Makanya, pasti setiap orang tua yang mempunyai anak perempuan selalu mengunci pintu jendela
maupun rumahnya rapat-rapat, agar anak perempuannya tidak akan kabur dari
rumah” kata Agni.

“Kalau kalian bagaimana?” tanya Cakka tiba-tiba.

“Maksud Cakka?” tanya Agni.

“Yah… kalian kan suka kabur-kabur gitu dari kota… iya kan? Malah… sampai melewati
jembatan sungai ‘Ice Dalia’..”

“Ya… tapi kan… kita keluarnya siang hari…” kata Oik nge-las.

“Iya! Lagi pula, nama kita kan bukan dalia. Jadi kita aman…” Lah… si Agni lebih ngaco lagi.

“Hei! Itu dia jembatannya!” seru Oik. Ia berlari ke tengah jembatan dan melambaikan tangannya
pada Cakka dan Agni yang masih berjalan santai di belakang. “Ayo, Agni!…
Cakka!…” seru Oik.

“Iya!…” Agni membalas seruan Oik dan menggandeng Cakka agar mau lari ke jembatan. Tapi
sebelum menapakan kakinya di jembatan, ia berhenti dan melihat ke samping.

“Woww… ini pasti bunga dahlianya…” kata Agni sambil jongkok di depan sebuah tanaman yang
berbunga kuning. Oik yang juga penasaran, kembali ke seberang jembatan dan
mendekati Agni beserta Cakka yang sedang jongkok berdua memperhatikan sebuah bunga
berwarna kuning.

“Woww…” Oik juga terkesima. “Bunganya bagus yah…” kata Oik.

“Iyah…” balas Agni. “Kira-kira arti bunganya apa yah?… apa persahabatan?” tanya Agni.

“Bukan…” kata Cakka dengan yakin. “Kalo kata kak Elang sih… artinya penghianatan..”

“Hohh?… penghianatan?” Agni dan Oik kaget. Tentu saja.. mereka heran, kenapa bunga yang
bagus seperti itu bermakna penghianatan.

“Hmm… berarti putri Dalia tenggelam gara-gara dirinya sendiri… dia salah kasih bunga ke
Dalia..”

Jiah… si Agni bisa aja. Makin lama makin ngaco khayalannya. Oik aja langsung memukul kepala
adiknya itu. Tapi dengan lembut… Sementara si Cakka cuma bisa ngetawain.

“Eh, jadi kita kapan nih masuk ke kotanya?” tanya Cakka.

“Oh iya!… ayo masuk!… lebih cepat lebih baik!” seru Agni dan Oik bersamaan.

Akhirnya mereka pun menyebrangi jembatan dan sampai di depan gerbang kota. Setelah mereka masuk
ke kota. Hm… ternyata kota tidak terlalu ramai. Wajar saja sih… gerbang ini
kan gerbang samping kota. Bukan yang depan. Tapi, biasanya banyak anak-anak
kecil bermain di sini.

“Mungkin karena pawai?” kata Agni.

“Yaa… bagus deh. Itu berarti pawai masih berlangsung lama di tengah kota… maka kemungkinan
tidak akan ada copcastle disini… jadi, untuk sementara, Kita… makan-makan dulu yuk!” seru Oik.

“Makan-makan?” tanya Cakka.

“Iya… perutku udah lapar lagi nih… belum puas makan di rumah Rahmi” kata Oik.

“Oh iya!… Cakka kan belum makan. Mending kita makan di kota aja” tambah Agni.

Wah, padahal Cakka baru nyadar tuh kalo dia belum makan.

“Kalau begitu, tujuan kita selanjutnya adalah café Happy Chipmunks!…” seru Oik.

“Yeay!!” Agni dan Oik tos-an dan berseru riang.

“Ayo, Cakka! Kita ke café Happy Chipmunks!” Oik dan Agni langsung menggandeng Cakka masuk ke
gang-gang kecil kota yang berliku-liku.

“Hm… Aku harap Rio masih di café… jadi café nya tidak tutup” kata Agni.

“Loh… Rio kan memang selalu ada di café. Kalau tidak salah, kemarin-kemarin Rio bilang tidak
akan ikut ke pawai. Ia harus menjaga di café” balas Oik.

“Yay!… asyik… aku mau minta dibikinin ‘sup brownball beef’ lagi ah…”

“Oh! Terus… Keke juga katanya mau tetep di café…” tambah Oik.

“Beneran?… Yeay! Agni tambah seneng…”

“terus… kalo nggak salah… Deva dan Ray juga tetep di café…”

“Asyiiiiik…. hari ini hari terseru dalam kehidupanku!…”


Wow… jadi sebenarnya seperti apa sih café Happy Chipmunks itu? Manusia setengah apa lagi
yang akan Cakka temui. Sepertinya petualangannya akan semakin seru.
Tetap setia menjadi pembaca yah! ^^
dikomen-dikomen..