Posts Tagged ‘ saniyyah ardina ’
Greetings to all Shawols!! ^o^
We love SHINee isn’t it? We love them in the real live. But do we also love them in anime??
So, what thing that first pop in your head after read the Title of this post? Since SHINee already debuted in Japan, they got an offer to being a character in an anime?.. No no… sorry to say that this post doesn’t talk about it and they doesn’t get an offer to be an anime character in Japan.. YET. ( He he.. I said yet because maybe they will get an offer. Ah.. I hope so cuz I’m really gonna watch it ).
So.. actually In this post, I’m gonna show you some pictures of SHINee in anime form. Some of may have seen it a lot. Because many of this picture, I got it from a fansite, or other artsy site like deviant art, tumblr, we heart it. And one of them are also created by me. Hwa ha ha… Why am I feel so proud?? ^-^
And here it is…
Ah.. it’s so cute isn’t it?.. And there is more..
Now this one is so sweet… don’t you agree??,
While this one is an anime mixed of SHINee, his fellow mate F(x) and CNBlue. But what if SHINee go drunk?!
Well I wonder if they can really do that in the real live. But the most interesting about this picture is that the cafe waiter at the back looks also like SHINee. Haha.. I suddenly remmember about coffee prince. Now let me show you one more anime picture of them. It’s so funny,
He he he… so.. did you get what the picture meant? Did you get what I mean?
While this one is from me. I draw it. SHINee Taemin at the concert poster(When he wear black t-shirt)
I actually have more. There is a fanmade comic about them. and also a funfact about how they hair change every song, my other sketch (Onew & Key), and more. Just ask me if you want. (you can do it in comment thread. So please leave your comment ^ ^)
And this is the bonus picture..
PS : Every picture can be enlarged. Just click the picture.
Finally, thank you for visiting. Keep on visiting cause I will update it soon. See Ya’
Saniyyah Ardina K.
So guys, finally SHINee again releasing a single, their second japanese single which is “Juliette”!! >.< (fuuu)
I’m so exited. In all point of view, the teaser is awesome!! I think the lightning and setting obviously improved allot from Juliet Korean MV. But in personal, I don’t know I will like it or not. And actually this far, I don’t really like it. (aaah eotokae)
I like the setting and all. The building, and the stairs, and the ballroom where all white except SHINee and the ‘Juliette’ (BTW, the effect at that set [ballroom] is so cool!), but honestly I don’t really like the girl. It’s not as mysterious as Krystal in Korean ver MV. Gosh! Why not Krystal act as the Juliette again in the Japanese MV. Seriously I think Krystal is way better than the girl. (And why in the world there is a guy wearing helmet and someone with a racket in that ballroom?? I don’t understand, SHINee maskball concept always confusing me T,T)
So by the way, back to ‘Krystal as the Juliette’ topics again,
Who’s with me?!! Xo..
^o^ Ups.. kidding.. he he. lets not make a prejudge. This is my thought now, but I don’t know about later, maybe it would change?? So let’s just think positive okay guys?.
Hmm.. by the way SHINee members look older here. ha ha, I like the new 21st century mask (especially Onew’s), and the girl’s outfit is cute too (I like it).
I hope the MV will look better than the teaser. Go SHINee!
-
Lastly Sorry If my English or Korean grammar is bad. Thank you for visiting my blog and reading this post. I hope you like it. And Please comment! ^ ^
Ok then, this post should end here.
Thank you and See you in the next post, bye bye ^ ^
Saniyyah A.K
Assalamualaikum Wr. Wb.
Untuk para pembaca, terima kasih telah mengunjungi blog ini dan menyempatkan waktunya untuk membaca di sini. Setelah lama tidak menge-post cerita tentang ic (idola cilik) di sini, atas peermintaan salah satu pembaca, saya memutuskan untuk mem-publish kembali cerita ada cinta (kurang lebih tahun 2009-2010) di sini dalam versi ‘telah direvisi’. Setelah mengetahui ternyata banyak sekali kesalahan (penulisan tanda baca, dsb) yang dibuat dulu, semoga versi kali ini dapat lebih memuaskan para pembaca dan memperjelas cerita dengan lebih baik.
Semoga cerita ini masih dapat diterima dan disukai para pencinta ic dan pembacanya.
Oke, Happy Reading!! and please comment..
ps: Kalau mau dilanjutin, komen ya^^
–
Ada cinta. Semua manusia memiliki hati, dengan begitu mereka punya cinta. Saat cinta itu dibantah, penderitaan pasti menjadi akhir sebuah cerita. Namun hidup itu perjuangan, pengembaraan dalam menemukan cinta, sekaligus menjaga yang telah ada. Walau kadang, kau harus mengorbankan
“salah satunya“.
Hujan turun sangat deras siang ini dan kelihatannya tidak akan berhenti dalam tempo waktu yang dekat. Siang hari yang harusnya panas karena terik matahari, kini menjada dingin, mendung, abu-abu. Di sebuah sekolah di kota Bandung, beberapa anak eskul basket mengeluh karena seharusnya mereka latihan untuk kejuaraan bulan depan. Begitu juga anak eskul saman yang berlatih di mushola. Ternyata atap mushola sudah bocor. Kelihatannya mushola tidak dapat dipakai untuk beberapa hari kedepan. Sejadah-sejadah yang ditaruh berjejeran di lantai mushola ikut basah dan harus di cuci.
Mereka yang punya jemputan segera memanggil supir mereka untuk menjemput di sekolah secepatnya. Namun bagi yang tidak, mereka terpaksa menunggu sampai hujan lumayan reda. Atau mereka dapat pulang duluan kalau mereka punya payung, itu pun harus beresiko baju mereka basah kuyup. Beberapa anak yang memilih untuk tinggal di sekolah contohnya dua anak perempuan ini..
Agni dan Rahmi, adalah dua anak perempuan yang bersahabat sejak awal masuk SMP. Kini mereka sudah kelas 2 SMP. Kedua baju olah raga yang mereka pakai basah. Agni karena kehujanan saat istirahat latihan basket. Rahmi karena ia berada tepat di bawah atap yang bocor dan otomatis kena airnya.
Sekarang mereka sedang berganti baju di toilet lantai 2. Mereka mengganti baju olah raga menjadi baju putih-biru SMP. Rahmi sedang merapihkan kerudungnya, Sementara Agni mengancingkan bajunya dan menyisir rambutnya.
“Agni kok selalu pake dobelan kaos sih? emang nggak panas apa?” tanya Rahmi berbasa basi. Agni menengok dan membalas.
“Rahmi juga selalu pake tangan panjang, kan panas. Emang kenapa nanya kayak gitu?” tanya Agni balik.
“Nggak kok. dipikir-pikir, sebenernya kulit agni nggak item yah? paha sama tangannya belang tuh..” goda Rahmi bercanda.
“Haha..” Agni tertawa sejenak. “Emang. Cuma gara-gara sering main bola aja jadi item kali yah”
Agni menghadap ke cermin kecil di dinding, pinggir-pinggirnya retak. Tanpa sengaja rahmi melihat sebuah kalung di leher agni dari pantulan kaca yang retak itu. Kalung dari benda seperti batu yang diikatkan di sebuah tali merah.
“Cie… kalung dari siapa tuh?” goda rahmi.
“Kalung?” Agni balas bertanya.
“Alah.. pura-pura nggak tau. itu yang kamu pake di leher” Rahmi mendekati Agni dan meraih kalung itu. “Kok kalung dari batu sih?” tanya Rahmi lagi. Agni lalu tersenyum penuh makna.
“Asal sih dari batu, tapi artinya banyak tau… Ada kenangan di sini” jelas Agni misterius. Rahmi sontak langsung penasaran.
“Kenangan apa? ceritain dong!…” pintanya memohon.
“Iya, tapi sambil jalan ke kelas yah. Kita habis ini mau kerja kelompok kan sama yang lain?” balas Agni.
“He-eh. mereka lagi di atas tuh. nggak tau ngapain di kelas 7… Yuk” Rahmi mengangguk setuju dan mereka pun mulai melangkah ke luar toilet menuju kelas mereka berdua. Selangkah dua langkah, dan Agni pun mulai bercerita.
“aku dapet kalung ini sebelum ketemu sama kamu. 4 tahun lalu…”
— flash back
4 tahun lalu di Cibodas, puncak. Di sebuah terowongan teduh dari batu yang bagian atasnya dibiarkan terbuka, dirambati oleh akar-akar dan batang tumbuhan yang menjalar dengan daun berbentuk hati.
Agni berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki di sana. Nama laki-laki itu Gabriel dan dipanggil dengan Iyel.
“Agni mau kan jadi pacar aku?” tanya Gabriel polos.
“Eh… gimana yah? jangan ah, iyel…” Agni menjawab pelan. Tak kalah polos dengan anak laki-laki di depannya.
“Kenapa jangan?…” Gabriel bertanya dengan lesu, murung dan muka yang ditekuk. Cahaya matahari menyinarinya dari celah-celah daun yang terbuka.
“Soalnya… Agni belum yakin. Lagian, Agni belum tanya ke mama boleh atau enggak pacaran?” Agni menjawab lagi. Dan dibalas dengan anggukan Gabriel yang tenang, berusaha mengerti.
“Ya udah deh… tapi kalo udah boleh, Agni mau kan jadi pacar Iyel?”
“Emm…” Agni menggigit bibirnya sambil berpikir sebentar, lalu ia mengangguk dengan polosnya.
“Yes!” Gabriel berseru dengan senang. Ia merangkul Agni. “Kalo gitu kita balik kerombongan yuk” ajaknya.
“He-eh!” Agni mengangguk dan Gabriel mulai menuntun Agni jalan di terowongan.
—
“Oh… jadi waktu itu kamu lagi jalan-jalan bareng sesekolah?” tanya Rahmi menebak.
“Iya. Iyel minta aku berhenti dulu. Waktu itu aku lagi bareng Obiet, kita saling lihat hasil foto masing-masing” jawab Agni mengingat-ngingat memorinya dulu.
“Terus… pas kapan dia ngasih kalungnya?” tanya Rahmi makin penasaran.
Agni tersenyum lagi dengan manis, “Pas…”
—
“Pluk..” Benda kecil seperti biji jatuh dari atas terowongan. Ketika membentur tanah benda itu terbelah menjadi dua. Gabriel mengambil salah satu pecahan biji itu lalu mengikatkannya pada sebuah tali merah dari gelang yang ia pakai. Dan sekarang, biji itu menjadi sebuah kalung. Gabriel mendekati Agni dan tanpa ragu memasangkan kalung itu di leher Agni.
Agni agak terkejut menerima itu, namun ia tetap membiarkan Gabriel memasangkannya. “Kalungnya bagus banget..” ucap Agni kagum. “Iyel dapet dari mana?”
“Iya dong. Tadi ada biji jatuh, kebelah dua, aku jadiin kalung aja. Itu separuh hati aku buat Agni” kata Gabriel gombal.
“Hi hi… separuh hati..? Bisa aja” Agni tertawa mendengar kata-kata Gabriel yang gombal itu. Gabriel ikut tersenyum dan menarik Agni tiba-tiba, memintanya untuk berhenti sebentar.
“Oh iya!” ucap Gabriel. “Gimana kalo kita bikin perjanjian?”
“Perjanjian?” alis Agni mengkerut tidak mengerti. “Perjanjian apa?” tanya Agni melanjutkan.
“Emm… Kalo kalung itu masih ada di leher Agni, berarti Agni masih mau jadi pacar Iyel. Kalo enggak, berarti Agni udah gak mau lagi jadi pacar Iyel” jelas Gabriel lugas.
“Boleh…” Agni menjawab diiringi dengan senyuman. Lalu Gabriel mengacungkan jari kelingkingnya, mengajak Agni membuat ‘pinky promise’ dan Agni membalasnya.
“Iyel, kenapa nggak diambil aja potongan biji satunya? Biar buat Iyel. Aku kan juga mau lihat ‘sisa potongan hati’ Iyel gimana” kata Agni iseng.
“Jangan. Biar jadi kenangan aja..”
—
“Habis itu kita jalan lagi, sampai akhirnya ketemu sama Obiet. Terus jalan bertiga deh ke padang rumput” ucap Agni mengakhiri ceritanya.
“Eh iya! berarti dulu kamu se-kelas dong sama Obiet?” tanya Rahmi kaget.
“Ya iyalah, Mi” Agni membalas santai.
“Yah… Kalo se-kelas sama Obiet sama Iyel, berarti aku sendiri yah yang beda sekolah di geng kita… Aku anak baru dong?…”
“Ha ha!.. Bukan anak baru! anak tua! kan Rahmi yang paling tua diantara kita-kita” canda Agni renyah. Rahmi pun ikut tertawa menyadarinya, dan ia kembali bertanya lagi tak lama setelah itu.
“Eh tunggu!… Kalo nggak salah kamu juga se-sekolah kan sama Cakka itu?”
Agni mengangguk. “Iya. Dari dulu sikapnya masih nyebelin. Kerjanya ngerjain orang mulu!” kata agni sebal. “Dia juga pernah ngerjain aku waktu jalan-jalan itu.”
—
“Ayo Agni pakai sepatunya. Sebentar lagi kita mau pulang” Bu guru berseru pada Agni yang masih di tempat kumpul acara. Bus ada di lapangan parkir tak jauh dari sana. Hampir semua anak telah naik kembali ke dalam bus namun Agni masih sibuk mondar-mandir di tempat acara.
“Iya, Bu. Saya sih lagi mau make sepatu. Tapi sepatunya nggak ada, Bu” sahut Agni dengan murung. Ia terus menengok kesana kemari mencari sepatunya.
“Mungkin kamu lupa letaknya dimana?” tanya Bu Guru heran.
“Enggak kok, Bu. Saya tadi naruh sepatunya di sini” kata Agni keras. Nadanya agak ngotot pasalnya ia yakin – sangat yakin kalau ia menaruh sepatunya di sekitar situ.
“Ya sudah… Kamu cari sebentar disini. Ibu minta supir bus-nya biar nunggu sebentar, yah…” kata bu guru dengan lembut.
“He-eh” Agni mengangguk dan kembali mencari sepatunya yang hilang. Namun tiba-tiba, seorang anak laki-laki datang dan menubruknya.
*Bruk!
“Ah..” Agni terjatuh. Kakinya lecet dan matanya langsung berkaca-kaca, tapi ia tahan air matanya karena gengsi. Agni menatap wajah anak laki-laki yang menubruknya itu dan anak laki-laki itu malah tertawa.
“Cakka jahat!! Hiks…” akhirnya Agni menangis. Ia terus menatap anak laki-laki itu yang bernama Cakka. Sementara Cakka malah memeletkan lidahnya, cuek.
“Biarin! Wleee! Ha ha ha ha…” tawa Cakka bagaikan menggema di telinga Agni. Cakka memang sangat bandel dan suka jailin orang, terutama anak perempuan.
“Eh, katanya kamu sepatunya ilang yah?” tanya Cakka.
“Hiks… He-eh” Agni mengangguk sambil menangis. Kadang ia hapus air matanya kalau sudah terlalu banyak.
“Kan sepatunya aku yang sembunyiin loh!” seru Cakka pede. Yang jadi maling malah ngaku sendiri. Memang aneh, namanya juga anak-anak.
“Balikin!!…” seru Agni keras. Ia memukuli kaki cakka dengan tangan kecilnya.
“Nggak ah!… Cari aja sendiri!” lalu Cakka hanya berlari ke bus yang sekolah mereka tumpangi. Cakka membiarkan Agni menangis di situ, sendiri.
“Hinks… haaaaa…. Cakka mana sepatunya!…” Agni terus menangis. Makin lama Agni ditinggal, makin besar tangisannya. Dan akhirnya hati Cakka luluh juga. Ia kembali menghampiri Agni, tapi tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba datang seorang anak laki-laki sebayanya mendekati Agni. Obiet Namanya. Ia berjongkok di sebelah Agni dan bertanya dengan perhatian.
“Agni, kenapa nangis?” Tanya obiet.
“Hiks… sepatu aku ilang…” kata Agni sambil sedikit-sedikit menghapus air matanya.
“Ng… kalo gitu, Agni pake sandal aku aja” Obiet lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang ia pegang, sebuah sandal yang sepertinya baru dibeli sebagai kenang-kenangan dari taman itu.
“Tapi itu punya obiet…” kata Agni, ia ragu untuk mengambilnya.
“Enggak pa-pa. Obiet ikhlas! Kalau Agni mau, ini sandal buat agni aja… Mau?” tawar Obiet sambil tersenyum.
“Eh…” Agni pun mengangguk. Ia akan menerima sandal itu untuk dipinjam, tapi tidak untuk dimiliki.
Obiet lalu menaruh sandalnya di tanah dan berdiri. Agni juga berdiri dan memakai sandal itu. Untungnya ukurannya pas.
“Makasih obiet!” Agni berseru ceria. Kini ia tidak menangis lagi.
Obiet ikut tersenyum senang. “Dengan senang hati!” balasnya riang.
Lalu Obiet dan Agni pun jalan bareng ke bus mereka. Dan tentunya, berpapasan dengan Cakka.
“Kenapa cakka?” tanya obiet ketika Cakka sudah berdiri di depan mereka, menghadangnya.
“Enggak jadi! Tadinya aku mau ngasih tau dimana tempat aku nyembunyi-in sepatu Agni. Tapi kan Agni udah ditolongin, jadi… Nggak jadi!” Cakka lalu berlari dengan kencang dan naik ke bus-nya. Sebelum masuk ia memeletkan lidahnya ke Agni dan Obiet.
Agni dan Obiet sendiri tidak tau maksud Cakka memeletkan lidahnya apa. Ya sudahlah…
—
“Terus… sampai sekarang sepatu kamu masih ada di tempat itu?” tanya Rahmi sambil menahan tawa.
“Sayangnya… iya…”
“Ya ampun… kasian banget sih kamu, Ag. Terus, sendalnya Obiet masih ada di kamu?” tanyanya lagi masih sambil tertawa.
“Enggak lah. Orang malemnya mama nelfon terus marahin aku. Suruh balikin sandalnya malam itu juga lagi. Besoknya aku ke sekolah pake sepatu kets putih, ya jelas dihukum.”
“ha ha ha ha ha!” Rahmi tertawa makin keras mendengar Agni makin apes setelah itu. Mendengar tawanya yang sangat merendahkan dan bikin Agni malu, Agni pun langsung protes nggak terima.
“Ah, si Rahmi ketawain aku mulu nih… aturan aku nggak usah ceritain deh..” ucapnya sebal.
“Ya.. sori deh… kocak tau.” ucap Rahmi berusaha mengatur nafasnya karena tertawa tanpa henti. “Tapi, pas dulu mereka masih pada polos-polos banget deh” komen Rahmi pada akhirnya.
“Iya bener, Mi. Aku aja nggak nyangka waktu itu aku nangis. Padahal aku udah tomboy loh” balas Agni menambahkan.
“Dan Gabriel… belum kamu jawab juga pertanyaannya?” tanya rahmi mulai serius.
“Yep… kayaknya kita sepakat ‘act as friend’ dulu sampai sekarang” jawab Agni.
“Kenapa nggak kamu jawab aja, Ag? Kamu suka nggak sama Gabriel?…”
“Hah??” Agni langsung kaget mendengar pertanyaan Rahmi yang mendadak itu.
“Jawab aja jujur. Suka atau enggak?” Rahmi terus bertanya.
“Em…” Agni jadi bingung membalasnya. Tapi ia pun pilih untuk percaya pada sahabatnya, Rahmi. “..sebenernya sih… suka” lanjutnya.
“Terus… kenapa belum diterima, Ag?” tanya Rahmi heran.
“Soalnya… yah.. masih banyak alasan untuk menolak. Dan.. masih ragu kali” jawab Agni sambil memalingkan muka dari pandangan Rahmi.
“Coba aku tebak. Salah satu alasannya… karena kamu belum nanya ke mama kamu?” tanya Rahmi bercanda. Ia tau kalau Agni lumayan bisa dibilang anak alim.
“Mungkin?…” Agni menjawab singkat.
“Lagian mama kamu itu kok nggak pulang-pulang sih. Kerja mulu. Kayak nggak pernah ‘care’ sama anaknya.” tanpa sadar Rahmi asal bicara. Dan ia langsung terdiam saat melihat ekspresi wajah Agni yang tiba-tiba memurung. “Um… sori, Ag… bukan maksud aku…”
“Nggak papa kok.” Agni tersenyum kecil. “Mama emang gitu orangnya. Mungkin dia Cuma ‘care’ sama kakak aku aja, yang udah jadi pemimpin perusahaan batik di Jogja” Agni kembali tersenyum ke Rahmi, walaupun itu senyum yang dipaksakan.
*Brak!
Pintu kelas terbuka tiba-tiba. 2 anak laki-laki masuk dan saling kejar-kejaran di antara meja, sampai-sampai naik ke atas meja. Mereka adalah Obiet dan Gabriel.
“Astagfirullah!” Rahmi mendengar suara dobrakan pintu kelas sampai latah.
“Hai, Ag.. Hai, Mi!” sapa keduanya sambil turun dari meja dan mengakhiri kejar-kejaran mereka. Well, sebelumnya mereka juga sempat injek-injekan kaki.
“Hai..” Rahmi menatap mata keduanya dengan tatapan yang mencurigakan.
“Kenapa?… kok ngeliatinnya gitu?” tanya Obiet yang mulai takut tambah was-was.
“Cie… yang masih nunggu…” kata Rahmi tiba-tiba. Mata Rahmi melirik ke Gabriel.
Gabriel hanya nyengir biasa. Padahal ia tidak terlalu tau apa maksud Rahmi.
“Agni enak banget deh… pagi-paginya di kasih kalung sama Gabriel… siangnya dipinjemin sandal sama Obiet” ujar Rahmi melanjutkan.
Lalu, tiba-tiba Agni menyelak Rahmi “kenapa, Mi?… Cemburu?”
“Ha ha ha…” obiet dan Gabriel yang mulai mengerti arah pembicaraan ini pun ikut tertawa bersama Agni.
“Ih ngapain cemburu?… Hari gini cemburu, Basiiii”
“Ha ha ha h…”
—
Tes… tess… tes…
Rintik hujan mulai membasahi jalan-jalan setapak kota. Suara deru motor melintas melewati depan café. “Café Ordelia Ordesilk” tulisan itu tertera tepat di atas pintu masuk café. Angin dingin merambat masuk ke dalam café, melewati jendela, membawa butir-butir debu jalanan masuk.
Sreek…
Tirai coklat menutupi jendela. Api lilin-lilin di meja café bergerak-gerak seperti hidup.
–
Hati mereka saat itu sakit, seperti terbakar api. Raganya mulai hangus. Kesadaran mereka hilang. Mereka telah menangis, namun api itu tak padam juga. Disini tak pernah ada hujan. Disini…
“jarang hujan”
Seorang gadis duduk lesu di bangku café. Kakinya ia naikan ke atas bangku karena ia ingin meringkuk. Ia kedinginan. Nama gadis itu Oik.
Embun jatuh dari cangkir teh panas miliknya yang telah berembun, jatuh ke sebuah lembaran kertas dari buku berwarna putih. Di bagian atas lembaran buku itu tertulis, “Diary Oik”
Ia menarik nafas sebentar lalu melepaskannya. Asap keluar dari mulutnya. Ia pun mulai menulis.
Dinding café ini terbuat dari kaca. Yang ada di dalam dapat melihat apa yang ada di luar. Dan seharusnya begitu juga yang ada di luar. Dan aku benci pernyataan itu. “aku benci kaca itu!”
Oik menunduk dalam dingin. Bayang-bayang kelam masa lalu kembali memasuki pikirannya. Mukanya mulai pucat, beku.
—
Sirine polisi berbunyi nyaring memenuhi gang itu.
“Jangan coba lari! Kalian telah dikepung!” Tegas seorang polisi yang keluar dari mobil patroli.
Gerombolan preman yang ada di sana berdiri dengan tampang sangar. Tak ada rasa takut maupun terancam walau polisi sudah ikut menangani. Mereka berkumpul di satu tempat. Seperti menyembunyikan sesuatu.
Tak lama kemudian, sepasang suami istri keluar dari mobil patroli. Para preman itu menatap tajam kepada bapak yang keluar dari mobil itu. Istrinya yang takut hanya bisa mencengkram tangan suaminya. Ia gemetaran saking takutnya.
Polisi itu berseru kepada ketua dari gerombolan preman.
“Dimana anak bapak ini?” ucap polisi itu dengan tegas, sambil menunjuk bapak yang keluar tadi.
“Heh! Mana kita tahu! Kenapa nanyanya ke kita?!” balas sang ketua preman tak kalah keras.
Polisi itu mengabaikan perkataan sang ketua preman dan meneruskan, “Kami tahu kalian yang menyembunyikannya!”
“Kita nggak tahu! Kalo mau, cari aja n’diri! Paling anaknya udah kelindes mobil terus mati!”
“Nggak!!! Oik belum meninggal!” Ibu yang dari tadi diam langsung membantah para preman. Suaranya serak, hampir habis.
“Oik belum meninggal, Pak!! Aku tahu! Aku ini ibunya…” kata ibu itu lagi. Mulutnya ikut gemetar sampai kalimat yang ia ucapkan tidak jelas.
“Ini?” Tiba-tiba ketua preman itu menarik seorang gadis kecil dari dalam kerubunan anak buahnya.
“Ini anak kalian?!” Gadis itu berteriak minta tolong. Ia menangis sekeras-kerasnya.
Sebelum bapak itu sempat menjawab, terdengar suara tembakan pistol mengenai kaca mobil patroli. Salah seorang preman tanpa segan melakukannya. Dalam detik itu juga, terjadi perkelahian antara para preman dengan polisi.
Polisi di sana hanya dibekali dengan peralatan pistol dan badan kekar. Dan mereka kalah telak dengan para preman, yang tak hanya berjumlah banyak, dilengkapi pistol dan badan kekar, ditambah kemampuan bela diri yang tinggi. Para polisi itu bahkan tidak tahu, bagaimana bisa para preman itu melakukan bela diri yang sempurna. Apakah mereka belajar dari seseorang?
Di tengah perkelahian yang sengit, diam-diam sang ketua dari preman itu memojokan sang bapak. Ia berbisik, “Jika kau mengakui anak itu, kami tidak akan segan-segan membunuhmu,” ancam si preman.
Mendengar acaman sang ketua preman, nyali bapak itu langsung kendur. Dan dengan satu kalimat, bapak itu menyelesaikan perkelahian.
“Bukanhh!” seru bapak itu ngos-ngosan. “Anak itu bukan anak kami!”
Sang ibu kaget setengah mati mendengarnya. “Bilang apa kamu, Pak?! Coba ulang lagi! Anak itu jelas-jelas Oik!!” sang ibu menangis tersedu-sedu. Sementara sang bapak hanya tertawa aneh.
Sesungguhnya bapak itu hanya ingin menekankan pernyataan bahwa ‘anak itu bukan anaknya’. Tapi terlalu dibuat-buat. Jelas ia tidak rela melepas anaknya, darah dagingnya sendiri. Namun pada akhirnya itu semua berakhir pada sebuah kesimpulan. ‘Bapak itu lebih mementingkan dirinya sendiri dibanding anaknya.’
—
Beberapa menit kemudian, polisi telah hengkang dari jalan tadi. Suami istri tadi ikut pergi bersama polisi dan meninggalkan anak kecil itu sendiri, kebingungan.
“Bah!… Orang tua payah!… Diancam segitu aja udah menciut. Padahal aku cuma bercanda!! Ha ha ha!..” Ketua preman itu tertawa terpingkal-pingkal sampai terbatuk. Anak buahnya juga ikut tertawa sambil sesekali memegang perut mereka yang melilit karena terlalu keras tertawa.
“Mau diapain nih anaknya?..” seru ketua preman itu sambil menarik kerah baju Oik ke atas.
Anak buahnya hanya tertawa renyah. Toh pada akhirnya semua keputusan berada di tangan ketua. Sang ketua preman menggeret masuk Oik kedalam sebuah bangungan. Sebuah Café yang sedang tutup namun tetap terlihat antik.
Ternyata café itu adalah café miliknya. Benar-benar sulit dipercaya bahwa preman-preman itu adalah orang yang mengelola café.
“Bisa kerja apa kamu?” tanya si ketua preman.
Oik hanya diam. Saking lamanya membuat preman itu bertanya lagi.
“Heh! Tuli apa kamu?! Bisanya apa?!”
“Oik nggak mau kerja di sini!” akhirnya oik berbicara.
“Udahlah! Kamu nggak usah bantah!”
“…nyanyi,” jawab Oik lirih.
“naik ke panggung sono!” suruh si ketua preman.
–
Oik menghentikan memorinya yang terlalu pahit. Namun ia tidak dapat memungkiri bahwa kenangan-kenangan itu selalu menghantuinya sampai sekarang. Kenangan yang makin memahit dengan dirinya mengetahui bahwa tak hanya meninggalkan dirinya, orang tuanya juga masih diteror oleh preman sampai sekarang karena sang Ibu tidak mau merelakan Oik kepada preman-preman itu.
Entah apa yang terjadi pada mereka sekarang. Hal yang paling buruk pun dapat terjadi pada mereka. Walau dihatinya telah tertanam kebencian yang mendalam, namun dalam lubuk hatinya, masih ada keinginan untuk bertemu. Meskipun hanya sekali.
*Klining Klining…*
Tiba-tiba bel yang digantung di pintu masuk café berbunyi. Membuyarkan semua memori yang tadi Oik resapi. Café baru buka dan rombongan pelanggan berebutan masuk. Kini, mereka telah memenuhi area café.
“Hey! Jangan diam saja disana! Pelanggan sudah menunggu!” seru pemilik café. Ya, ketua dari gerombolan preman yang dulu.
Dan Oik, sampai sekarang masih bekerja di café itu. Walaupun bayaran yang diberikan oleh ketua preman itu tak sepadan dengan apa yang Oik kerjakan, namun Oik tetap bersyukur. Setidaknya cukup untuk membayar tempat tinggalnya. Suatu kos tak terlalu jauh dari café itu.
Café itu sudah ramai sebelum Oik muncul. Tapi akan lebih ramai lagi kalau Oik ada di sana, bernyanyi untuk para pelanggan.
Oik menutup bukunya dan memasukan buku itu ke tas kecil miliknya. Ia berdiri dengan lesu, mencoba untuk tersenyum kepada pelanggan yang ia lewati. Sayang senyuman itu sungguh berbeda dari hatinya. Ia naik ke panggung, menatap keluar café. Di saat itulah pemandangan masa lalu yang menyakitkan terulang kembali.
Dulu, dari dalam cafe, ia melihat orang tuanya sendiri berjalan meninggalkannya. Tanpa satu ucapan selamat tinggal. Tanpa tatapan kasih sayang. Mereka hanya melewati café itu begitu saja. Kadang ia berharap kalau ia tidak dapat melihat. Andai saja dinding café itu tidak tembus pandang, ia tidak harus melihat pemandangan itu. Yang ia harapkan hanya satu. Saat orang tuanya meninggalkan dirinya begitu saja, tanpa kata selamat tinggal, ia harap itu artinya mereka dapat bertemu lagi lalu hidup bahagia untuk selamanya.
“Nyanyi apa?” tanya Oik pada ketua preman.
“Ya terserah kamu, lah” Ketua preman itu menjawab tak peduli. “Yang kamu pikir sesuai sama hati kamu. Yang penting pelanggan terhibur!” lanjutnya.
Oik mengangguk datar. Musik mengalun dan ia pun mulai bernyanyi. Ia selingi beberapa bagian dengan nada-nada falset, kemampuan utamanya yang paling membuat pengunjung terkesan. Improve yang tak kalah bagus juga membuat para pengunjung terkesima.
- ADA CINTA –
ucapkanlah kasih satu kata yg ku nantikan
sebab ku tak mampu membaca matamu
mendengar bisikmu
nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu
mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan
mengapa sulit mengaku cinta
padahal ia terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada
Duar!
Tiba-tiba petir menggelegar. Membuat Oik lumayan terkejut. Tepat saat petir itu menggelegar, hujan turun semakin deras. Suara alunan lagu dari atas panggung hampir tak terdengar. Oik sempat lupa lirik sebentar. Namun ia segera melanjutkannya. Untungnya tidak ada pelanggan yang protes.
—
nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu…
“Dah, Agni, Iyel! Sampai ketemu besok yah!” seru Rahmi dari luar kelas.
Rahmi dan Obiet sudah harus pulang. Orang tua Rahmi baru saja menjemput Rahmi dan kebetulan rumah Obiet searah dengan Rahmi, jadi Obiet ikut Rahmi. Sementara Gabriel dan Agni tinggal berdua di sekolah.
Agni duduk santai di meja depan sambil memainkan hp nya. Ia mulai bosan karena lama menunggu hujan reda. Gabriel menenteng tas-nya dan duduk di sebelah Agni. Setelah beberapa menit kemudian baru Gabriel berdiri dan membuka pembicaraan.
“Eh, udah ngerjain pr MTK belum?” tanya Gabriel.
“Hah?.. oh, udah” jawab Agni singkat lalu kembali pada hp-nya.
“Emm… boleh liat nggak?” tanya Gabriel lagi.
“Ooo…. intinya mau nyontek?” Agni bertanya, menebak dengan yakin. Lalu terbalas oleh cengiran Gabriel yang malu.
“He he… iya. Boleh ya, Ag… kamu kan jago MTK. Baik… mau dong bantu Gabriel” rayunya dengan ‘puppy dog eye’
“Terserah deh.”
Agni berdiri dari meja, meraih tasnya sambil berhadapan dengan Gabriel. Tasnya ia buka dan ia mulai mencari buku MTK-nya. Jaman sekarang anak SMP bukunya sudah banyak sekali. Paling sedikit tiga, buku cetak, buku tulis, dan buku Lks. Ditambah lagi kalau gurunya ingin buku tulisnya ada 2. Alhasil butuh kerja keras untuk mencari buku MTK itu.
Saat Agni sedang kebingungan mencari, Gabriel memperhatikan kalung yang ada di leher Agni. Tidak biasanya kalung itu terlihat, biasanya selalu tertutup oleh baju Agni. Dan disaat itu pula, suatu perasaan merasuki pikiran Gabriel. Ia tak tau apa rasa itu. Yang pasti rasa itu lama-lama makin besar dan tak terkendali.
Agni tidak menyadari apa yang terjadi hingga Gabriel menyebut namanya.
“Ag…”
Agni tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menoleh ke Gabriel. Tiba-tiba ia merasa ada rasa takut di dalam hatinya. Gabriel melangkah lebih dekat ke Agni. Agni tidak tau apa yang ingin dilakukan Gabriel. Sempat ia memanggil nama “iel” sekali. Tapi tak ada reaksi apapun. Gabriel masih mencoba mendekatinya. “Apa iel mau meluk aku?” tanya Agni dalam hati. Ia ingin mendorong Gabriel, namun dirinya seperti kaku. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasa takutnya makin besar. Namun ia bimbang apa harus menangis atau tidak. Ia sadar, Gabriel tidak hanya ingin memeluknya. Lebih dari itu. Dan Agni membiarkan Gabriel melakukan itu. Agni membiarkan Gabriel menciumnya.
Agni shock. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tadinya Agni ingin mendorong Gabriel, tapi tepat saat itu juga Gabriel menciumnya. Dalam seketika, tangannya lemah. Seluruh tubuhnya lemas. Ia akhirnya menangis. air mata telah membanjiri pipi Agni. Lepas dari itu, Gabriel masih belum melepaskan dirinya. Hingga akhirnya sang petir mengambil alih…
Duar!
Jendela dan pintu terbanting karena angin yang terlalu besar. Hujan kini semakin deras. Sekolah itu masih sunyi. Tidak ada tanda-tanda orang lewat di lantai dasar maupun atas. Namun di lantai dua…
Brak!
Pintu kelas terbuka. Agni berlari sekencang-kencangnya. ia tidak memperdulikan apa yang ada di belakangnya. Bahkan ia melupakan tasnya. Gabriel berulang-ulang memanggil Agni tapi itu tak ada gunanya. Agni telah pergi. Gabriel memukul papan tulis dengan keras, “Shi*”. Ia menunduk, merasa menyesal atas apa yang baru saja ia lakukan. Kenapa dirinya bisa lancang seperti itu? Memalukan!
Nafas Gabriel sontak tak beraturan. Tiba-tiba dadanya sesak, pandangannya kabur. Gabriel merasakan sakit yang baru sekali ini ia rasakan, sampai akhirnya ia jatuh tergeletak di lantai.
Agni turun dari tangga dan berlari keluar dari sekolah. Derasnya hujan jatuh di kepalanya. Bajunya basah kuyup dan Agni tidak memperdulikan itu. Agni hanya berlari, menjauh, pergi dari seseorang yang dulu ia percayai namun sekarang membuatnya ragu dan kacau, sampai akhirnya Agni berhenti di sebuah gang kecil. Ia berteduh disana. Air matanya masih mengalir deras, tak kalah dengan hujan yang turun saat itu. Ia tak percaya apa yang baru saja terjadi. Agni ingin pulang, tapi tidak ke rumahnya. Di rumahnya ia hanya mendapatkan kesepian. Ia ingin pulang…
mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan
mengapa sulit mengaku cinta
padahal ia terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada
……………..
So how???
Comment! Comment!~~
Saniyyah Ardina K.
I’ve drift away by this song. I really love their melody, lyrics, and voice. F(x) truly are improved, a Lot.
And even more than that, Amber is singing here. With beautiful melody and lyrics that would make me speechless.
Well, let’s pass the chit chat for now on. Take a deep breath, relax, and enjoy this song. Singed specially by f(x) on their 1st Album,
So Into U
all hangul, roman, and sub are in the video.
PS: Don’t forget to buy their original album! ^_^ to apriciate the artist’s work.
I’m Saniyyah, See you next time..
Saniyyah A.K
Beautiful Goodbye…
One of the song that makes me love f(x) more.
It comes from their first album Pinocchio.
I like the melody especially the one before the chorus.
Well, keep going f(x)!! F(x) Hwaiting!!
And for the readers, I hope you enjoy the song.
Now, even though my official speech is gonna end here, I hope it’s a “Beautiful Goodbye”…
–
PS:I feel uncertain now, should I put the mp3 link or not?. Cuz, I’m afraid if I use an unofficial link then the artist wouldn’t take their advantage of the selling. So if you want the mp3, please search it your self, and after that, please buy the original CD of the artist; f(x), Okay?
I’ve already tried to buy the original song with Itunes but it’s a pity that I can’t buy it because it’s only available at US Itunes store. And it’s in dollar, and I don’t even have a credit card. Well maybe it wasn’t the time. I’m still hoping to buy the original CD though.
Tips: for the video, you better put it on 720p to make it HD. Seriously, the quality is really good
—
F(x), guys! They win 1st at Inkigayo!!
I’m so happy for them! Keep going f(x) I know you can do it!
And also, I like the songs on their first album especially ‘Beautiful Goodbye’ and ‘So into you’ (Cuz now I know now, fx also really good at singing those kind of mellow songs).
And also, after seeing their live performance singing chu and chocolate love in English version, I want them to do a studio version of that eng version (I want to hear the lyrics clearly. Back then on the performance, the fan chants are too loud).
Well I hope f(x) will have a shinier years to come!!
And (oh my god, I’m asking again??..), please make a Music Video of F(x) and SHINee’s ‘Lollipop’, SM. They really good together!!
Yay!!
Thanks for reading and visiting this blog of mine. I hope you enjoy.. Sorry if there’s a bad word or anything that disturbed you. And sorry if my gramar is bad (k k..)
Ok! See you again next time…!! ^_^
Saniyyah A.K
PS : I guess I’m gonna post the So Into You and Beautiful Goodbye song, plus.. the Chu~ english version performance after this. So check them out, okay?
Wow!! I’m so proud ‘of’ and ‘to be’ Indonesian!!
There’s a really shocking news!!
So Nyuh Shi Dae Jessica and Yuri is in Bali.
Surely for a purpose, a different purpose. Jessica was coming to Bali to do a photo shoot for “February issue(if I’m not wrong)” , while Yuri was coming to have a holiday with her family.
This is 2 pictures of Yuri in Bali. She’s with her family taking their luggage and walking at the bus stop.

Yuri at the airport (The one wearing yellow dress)

Yuri at the bus stop
—
While Yuri with her family, Jessica was doing her photoshoot at one of Bali’s inn. She was sitting in a couch full of batik pillow. The motif at the pillows really bring out her charisma. She look like a Goddess. And one thing that make me more happy is they use indonesian products; batik. Ah.. Jessica + Batik = Beautiful.
And this is the results of Jessica’s photosoot in Bali.
And at the end, Jessica took some pictures with a few children at Bali.
–
Okay! ^_^ That’s all I can share with you. I hope many Korean artist would come to Indonesia later. And make the friendship between Indonesia and Korea grew stronger than ever. Thank you for SNSD and every artist that have come to Indonesia. I love Indonesia!! I love SNSD!! I love Korea!!
- Saniyyah A. Khoirunnisa
Oke. Pertama, adalah gue bingung. Kemarin persis gue coba buka blog ini yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya (gue) dan ternyata beberapa post yang sempet gue publish kemarin hilang. Ludes semua tanpa jejak. Gue nggak tau kemana perginya itu post, dan yang lebih naas lagi sebagian besar post itu adalah postingan profile-nya SHINee yang udah gue bikin selengkap dan sebagus yang gue bisa, dengan gambar-gambarnya juga yang HD dan langka semua (menurut gue). Aah.. Jeongmal.. gimana bisa???.. Apa sistem WordPress lagi rusak yah pas itu?
Tapi ya udahlah. Biarkan yang berlalu, berlalu saja. Mari buka lembar baru yang lebih baik dan semoga postingan-postingan yang hilang itu juga bisa kembali muncul tak lama lagi.
Oh iya, ngomong-ngomong tentang postingan SHINee. Gue punya foto terbaru mereka nih (di ralat, silahkan di scroll ke bawah). Gak tau sih buat kalian. Siapa tau ini malah foto lama. Yang pasti gue baru lihat foto-foto ini sekali seumur hidup. Dan yang bikin gue makin seneng adalah salah satu khyalan / keinginan gue terkabul di situ.
SHINee Photoshoot with all Black hair. Yang dapat memperlihatkan kesan natural mereka seutuhnya. With no exsses make-up, accessorry, lens nor clothes . Soalnya kemarin gue mikirin terus, andaikan Taemin, Jonghyun, Minho, Onew, dan Key nggak jadi artis dan tidak di dandani ala SHINee yang nyentrik abis. Gue pingin ngelihat andaikan mereka jadi orang biasa, with a normal clothes, normal style, normal haircut, just normal them. Yang pasti gue melihat foto-foto ini bagai gue melihat personel-personel SHINee yang sebenarnya.
Onew yang sweet & loving
Minho yang classic & hardworking
Jonhyun yang manly, calm but caring.
Taemin yang pure & sincire, serta
Key yang highclass & stylish
-Gosh.. Key, kelihatan intelegence banget pakai kacamata.
Oh iya!.. yang Taemin pakai di photoshoot itu Sorban bukan sih? Keren banget kalau memang sorban. Karena pada dasarnya sorban berasal dari orang islam. Ha ha.. Langsung ngayal deh kalo Taemin bisa pindah agama jadi muslim. Amiiin. Biar bisa masuk surga bareng-bareng. Kalau bisa semua personel SHINee deh. Onew aja udah bilang ‘Assalamualaikum’ Ayo dong SHINee.. masa nggak dilanjutin sih?
— Saniyyah A. Khoirunnisa
–
Sorry!! Mianeee!.. Ralat semua!. Ternyata ini bukan foto baru melainkan foto paling lama mereka. This is their first photoshoot. Oh good.. untung gue nemuin keterangan foto ini di fanpop bahwa ini adalah photoshoot pertama mereka. Judulnya sudah di ganti, tapi kesan-kesanku terhadap 5 foto ini tetap sama. SHINee!.. Keep Shining okay!
first published on Feb 22, 2011 .. Updated @ Feb 27, 2011
Saniyyah Ardina K.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Mar | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||