Posts Tagged ‘ shilla

Kingdom Of Dream_Part 13: Kelas Germstone dan Para Pelayan Pribadi

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream Part 12: Pagi Pertama

Sudah sebegitu lama aku nggak ngelanjutin cerita ini. Dikarenakan jadwal sekolah yang makin padat. Minggu-minggu ulangan mulai berdatangan nih. Maaf banget buat yang nunggu. Dan kayaknya habis part ini aku belum akan melanjutkan ceritanya sampai semester depan.

Sebagai penutup, semoga Part yang nggak begitu banyak ini memuaskan. Selamat membaca!

Kingdom Of Dream
Part 13: Kelas Germstone dan Para Pelayan Pribadi

Teng… teng… teng…

jam besar di menara kerajaan berbunyi nyaring. Suaranya menggema ke seluruh pelosok kerajaan. Kini seluruh pangeran dan putri Kingdom Of Dream sudah ada di kelas masing-masing. Semuanya di bagi menjadi 3 kelas. Kelas Princia, Kelas Regina, dan Kelas Germstone. 1 kelas di isi oleh 20 orang. Kelas Princia hanya di anggotai oleh para pangeran. Kelas Regina hanya di anggotai oleh para putri, dan Kelas Germstone di masuki oleh dua-duannya.

Agni, Oik, Cakka, Patton, Debo, Obiet, Irysad, dan Zevana masuk ke kelas Germstone. Mereka tentu sangat senang memasuki kelas yang sama. Seperti kata Patton, Anggota kelas Germstone sepertinya memang menarik. Dari bajunya saja sudah terlihat berbagai macam warna dan model yang berbeda. Ada Pangeran Ozy, Putri kupu-kupu Ify bersama temannya, Putri Dea, 3 putri awan, 3 Raika bersaudara, dan seorang pangeran dengan baju serba hitam dan kulit coklat pucat.

“Wah… kalo dihitung-hitung, sudah ada 18 orang yah. Tinggal kurang 2 lagi.” ujar Irsyad.

“he-eh.” Yang lain mengangguk. Kelas sudah penuh. Bangku yang tersisa hanya 1 di pojok depan dan 1 lagi di pojok belakang. Ify duduk bersampingan dengan Dea. Mereka sama-sama memilih tempat duduk depan, tempat dimana mereka dapat melihat guru paling jelas. Ozy duduk di sampingnya. 3 putri awan duduk di barisan tengah, berjejer ke belakang. Mungkin mereka ingin mendapat perhatian dari segala arah. Apalagi di atas mereka terpasang lampu yang paling besar di kelas itu. Cahayanya pun memantul ke baju mereka dan memantul lagi ke semua mata yang memandang. Barisan paling kiri diisi oleh para pangeran. 3 Raika bersaudara ada di sana, dan dibelakangnya duduk pangeran dengan baju hitam dan kulit coklat hitam, taring tajam, dengan tingkah seasalnya dan semaunya. ya.. kesimpulannya ia Sion.

“EHHEM!.” suara deheman keras terdengar dari pintu kelas yang ada di belakang ruangan. Seluruh perhatian pun tertuju pada seorang professor yang berdehem itu.

“Cukup istirahatnya. Sekarang sudah waktunya pelajaran.” ucap professor itu. “Sekarang kalian duduk di tempat masing-masing dan buka buku tulis yang sudah di siapkan di laci meja kalian.” lanjutnya sambil melangkah ke area guru di depan kelas yang 1 tingkat lebih tinggi dari pada area murid.

Professor itu berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu, ia memakai terusan rok yang panjangnya sampai selantai dan berwarna ungu. Sepatunya boots coklat dengan tali yang warnanya lebih muda satu tingkat dengan warna sepatunya. Lalu hampir semua itu ditutupi oleh jubah berwarna ungu dan berlambang bulan emas.

“Seenaknya menyuruh. Memang  kau siapa?”seru Lintar ketus.

Professor itu menghentikan langkahnya ketika ia mendengar kata-kata lintar dengan nada penuh ketidakhormatan. Ia menatap Lintar tajam. “Seenaknya bicara. Apa kau kira kau yang berkuasa di sini?” ucapnya tajam.

Professor itu kembali melangkah ke tempatnya. Mulutnya melanjutkan perkataannya tadi. “hati-hati nak, 1 kali lagi berbicara acuh namamu akan tertulis secara permanen dalam daftarku”

BUK. 3 buah buku diletakan dimeja guru yang terbuat dari kayu. “Hmm… Tapi benar.” Lanjut professor itu. Ia mengusap debu-debu yang ada di meja dan merapihkan beberapa peralatan yang ada di meja itu. “Aku adalah professor yang akan mengajar kalian mulai sekarang… Dan Sebagai murid, kalian harus tau siapa namaku.” ucapnya penuh wibawa.

“Namaku Dave, Panggil saja Professor Dave atau Prof Dave, itu terserah kalian.” jelas Professor Dave. Semua anak mengangguk kecil. Professor Dave tersenyum puas dan melanjutkan kata-katanya.“Baik.  Hari ini kita akan memulai pelajaran dengan Pre-Test!..”

“Yaaaaah….” mendengar kalimat terakhir Professor Dave anak-anak murid langsung ber-koor kecewa.

“Hei jangan mengeluh padaku. Ini kurikulum. coba saja cek guru lain, mereka pasti akan memulai pelajarannya dengan pre-test juga” jelas Professor Dave.

“Aah..” Sivia mengeluh kecewa. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan 1 buku tulis dengan tampang tidak niat sama sekali.

Tidak lama setelah itu…

Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Professor Dave menghelakan nafasnya panjang. “Huuh… baru hari pertama sudah ada saja murid yang terlambat..” keluhnya.

Professor Dave  duduk di kursinya, bersender dan mengarahkan tangannya ke pintu kelas yang ada jauh di belakang kelas.

“BRAK!”

Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar seperti ditiup angin. Suaranya menggema di dalam ruangan.

“Itu adalah bunyi pintu yang terbuka untuk anak yang terlambat… Dan kau! anak yang berdiri di depan pintu..” ucap Professor Dave tegas. “Kau terlambat!” lanjutnya dengan nada menghukum. Tangan kanannya menunjuk pada seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu kelas, yang menatapnya dingin.

Anak itu masuk. Tak peduli tentang pandangan professor Dave padanya. Professor Dave juga terlihat masih tenang. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati anak laki-laki yang terlambat itu. Ia menatap anak laki-laki itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lalu Professor Dave bertanya.

“Dari negari mana?” tanya Professor Dave sambil menatap muka anak itu.

“Daerah lembah hitam” jawab anak itu singkat.

“Oh.. Vampire..” Professor Dave berujar sesaat. Ia hafal kalau negeri yang terletak di daerah lembah hitam adalah negeri Vampire. “Siapa namamu?” tanya professor Dave lagi.

“Gabriel stevent Vulvoria”

“Oke. Stevent.. aku memberikan kau satu poin karena terlambat.” Professor Dave memberikan 1 buah kertas kecil berwarna merah dengan logo harpa.

Gabriel mengambil kertas itu. Professor Dave mempersilahkannya duduk. Namun ia enggan untuk segera duduk.

“Ehm…” ucapnya dengan jelas.

Professor Dave berbalik menatapnya.

“Aku tidak terbiasa dengan Stevent. Bisa panggil dengan Gabriel saja?” jelasnya singkat.

Professor Dave mengangguk mengerti dan menyuruh Gabriel duduk dengan lambaian tangan. Gabriel pun melangkah ke bangku kelas pojok belakang. Tepat di dekat kakaknya, Sion.

Sion melirik padanya dengan pandangan menertawakan. “Baru hari pertama… masa udah telat?” ejeknya pelan.

“Bukannya kau lebih tau sebabnya?” balas Gabriel agak kesal.

Ya, Sebenarnya yang menyebabkan Gabriel terlambat memang Sion sendiri. Sion menguncinya di toilet saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kelas.

Sementara di sisi lain. Oik yang sedari tadi melamun langsung terbangun oleh tepukan Agni di pundaknya.

“Apa sih?” tanya Oik agak sewot karena terganggu. Oik memang suka marah kalo tiba-tiba dibangunkan dari lamunannya.

Agni mendekatkan mulutnya ke telinga Oik dan berbisik.

“Pangeran yang itu…” katanya sambil menunjuk Gabriel. “Pangeran yang aku temuin di taman kediamannya Obiet..” ucapnya exited.

“Hah…” ucap Oik terkejut. Matanya yang tadi setengah terpejam jadi bangun kembali. Ia ikut menatap Gabriel meneliti. Ia lalu ngangguk-ngangguk. “Dari tampangnya keren yaa.. tadi perilakunya pas ngomong sama prof. Dave juga keren..” ujarnya sambil tersenyum.

“Alah… kayak kamu ngeliat dari tadi aja.. Bukannya kamu ngelamun, Ik?” balas Agni menyenggol pundak  Oik lagi.

“Yee… walau gitu kan suaranya masih kedengeran dikit.” kata Oik membela diri.

“Eh, pada ngomongin apa sih?” tanya Zevana.

“Ceritanya panjang, Zev. Panjaaang banget” jawab Agni.

“Iya. Yang udah tau tuh cuman Patton, Irsyad, sama Obiet” tambah Oik.

Patton yang mendengar namanya di sebut pun langsung ikutan ngombrol. “Cerita apa emangnya?” tanyanya.

“Itu loh, Ton. Yang pangeran di taman kediaman Obiet itu.” jawab Oik.

“Oh… udah tau pangerannya? mana-mana?” tanyanya lagi.

“Yang tadi terlambat” jawab Oik. Agni juga mengangguk sambil tersenyum dan menunjukan jari telunjuknya ke Gabriel yang berada di pojok kelas. “Keren yaa” tambah Oik iseng.

“Ah… terlambat di bilang keren. Nggak masuk akal..” ujar Irsyad yang nyambung tiba-tiba. “Kerenan aku..” katanya pede.

“Ya ampun syad.. syad…, Jauh!” balas Oik segera.

“Aha ha! Iya!..” Zevana yang dari tadi hanya mendengarkan ikut tertawa. “Hmm… kok selera kalian pada yang item-item sih?. Aku sih beda. Kalo menurut aku mending Cakka tuh.. Putih..” tambah Zevana.

Cakka yang ikut mendengarkan hanya senyum-senyum aja.

“Loh?… jadi Zevana kalo nanti milih pangeran maunya sama Cakka?” tanya Debo sekaligus menggoda Zevana.

“Ih nggak tuh.” jawab Zevana dengan dagu dicondongkan ke atas. “Kayak kata Oik tadi.. Jauh…” tambahnya. “Cakka tuh bukan tipe aku. Aku maunya yang bukan sesama ras kucing. Mau-nya yang jauh. Ikan misalnya.. jadi bisa mengenal belahan dunia lain yang beda banget dari semua yang pernah aku rasakan” balas Zevana mantap tanpa ragu sedikitpun.

“Ooo,.. ikan mas dong!” celoteh Debo.

“Wah… kalo nanti Zevana melanjutkan tahta kerajaan bareng raja ikan, repot dong. Nanti kalo laper, rajanya dimakan sama Zevana!.. Ha ha ha ha..” Patton yang jail mengomentari cerita Zevana dari sudut pandang yang berbeda. Ketawanya jahiiil banget. Bikin Zevana pingin menjitak si Patton yang tengil itu. Yang lain yang juga ikut menyaksikan jadi tertawa lepas deh.

Obiet yang dari tadi kaleem mulu. Menopang dagunya di telapak tangan ikut tertawa geli. Setelah beberapa saat, Obiet pun memulai topic baru di pembicaraan itu.

“Eh…  Kan Agni udah tau itu pangerannya tuh. Terus kalo udah tau, nanti mau ngapain lagi?” tanya Obiet memecahkan suasana yang tadi.

Agni pun terdiam, langsung terpikir olehnya. Kalo udah tau nama dan negara asal, nanti mau ngapain lagi?.

“Yah… kenalan lah. Iya kan Ag? tanya Cakka. Ia mulai pede sekarang ikut dalam pembicaraan mereka. Walau tidak tau dari awal, yang penting join aja.

“He-eh”Agni mengangguk akan tebakan Cakka. Ia juga merencanakan untuk kenalan.

“Tapi kayaknya, pangeran itu susah didekatin deh.” ujar Debo. “Lagian kan mereka makan darah. Vampire gitu..” tambahnya.

“Tapi aku yakin Vampire bangsawan macam mereka nggak bakal minum darah kita. Kan mereka sudah dilatih untuk memakan darah yang disediakan saja. Dan biasanya cuman dari binatang atau pelayan mereka yang memang sudah terikat janji. Itu pun di batasi. Lagi pula, kalau mereka bisa makan darah kita, mana mungkin diikut sertakan dalam acara seperti ini?” ucap Zevana mengeluarkan pendapatnya.

“Tapi aku setuju kok kalo kita akan coba ngedeketin dia. Kayaknya seru deh. Ayuk deh… kita deketin aja.. oh iya, yang duduk di belakangnya itu kakaknya kan? kalau perlu kita deketin kakanya juga.. gimana?” ucap Oik bersemangat.

“Aku sih setuju-setuju aja.” ucap Cakka. Obiet mengangguk dengan tenang dan mengatakan kalau ia setuju. Debo , Patton dan Zevana  setuju karena niatnya untuk mencari teman lebih banyak. Agni sudah pasti setuju. Lalu Irsyad, walau masih ngotot kalo dia lebih keren dari Gabriel tapi ia akhirnya juga setuju.

“Ya udah. Gimana kalo nanti siang di jam istirahat kita nyamperin dia dan kakaknya? Setuju? tanya Patton pada semuanya.

“Setuju!!”

Sementara itu di taman Palladius…

Suasananya terlihat sangat sumpek. Banyak sekali pelayan-pelayan pribadi yang ada di sana. Apalagi terik matahari yang sangat menyengat. Membuat suasana semakin panas. Untung sudah di sediakan dengan berderet, 5 meja beserta tempat duduknya di tengah-tengah taman. Satu buah meja mempunyai dua kursi yang masing-masing kursinya dapat diduduki oleh 6 orang. Para pelayan yang malas berdiri pun dapat mengistirahatkan kaki di sana. Sayangnya tidak di sediakan minum sama sekali. Jadi keadaan tidak jauh lebih baik.

Alvin, Nova, Siyenna, dan satu orang pelayan pribadi yang baru menjadi teman mereka tadi: Oliv, duduk di salah satu kursi yang disediakan. Mereka duduk berhadap-hadapan. Alvin duduk sederetan dengan Siyenna, sementara Nova dan Oliv duduk di depan mereka.  Namun tidak hanya mereka yang duduk di meja itu. Di meja itu duduk satu orang pelayan pribadi lagi yang terlihat sangat kaku hingga akhirnya mereka berempat memilih untuk mendiamkannya saja. Tadi sudah disapa oleh Oliv, tapi pelayan itu tetap diam memandang kosong kedepan.

“Eh..” bisik Siyenna pada Nova, Alvin, dan Oliv yang duduk di dekatnya. Nova menatap Siyenna siap untuk menyimak kata-kata Selanjutnya. Oliv yang duduk di sebelahnya langsung memperhatikan Siyenna sementara Alvin yang duduk di sebelah Siyenna hanya mengangguk agak cuek. Di kepalanya masih penuh dengan komentar “Panas, Panas, Panas..”

Siyenna pun melanjutkan. “.. Kok pelayan yang duduk di meja kita kayaknya ngeri banget deh…” bisik Siyenna mengeluh.

“Yeu…” Oliv langsung menunduk. Di kira Siyenna mau mengatakan sesuatu yang penting. Macam rahasia yang menarik. Ternyata cuman mau ngeluh dan curcol.

“Udah mana panas lagi… nggak dikasih minum pula..” keluh Siyenna terus menerus. “Bisa dehidrasi kita…”

Alvin pun menambahkan. “Setuju. Kenapa dikumpulinnya nggak di dalem aja sih?…” keluh Alvin sambil menatap ketiga temannya.

Oliv menggeleng-gelengkan kepalanya. “Udahlah… kita memang seharusnya menerima. Wajar kali… kita kan pelayan.. bukan putri atau pangeran..” katanya menengahi. Nova mengangguk-ngangguk setuju.

“Tapi kan harusnya kita di hormati juga. Kan kalo nggak ada kita: pelayan pribadi, para putri dan pangeran itu bisa kewalahan mengatur pekerjaannya.” balas Siyenna lagi. “Iya kan, Nov?” lanjut Siyenna meminta persetujuan dari Nova.

Nova yang kebingungan cuman bisa ngangguk-ngangguk lagi. Lalu Alvin tertawa kecil. “Tadi pas Oliv ngomong, Nova ngangguk. Pas Siyenna ngomong Nova juga ngangguk. Gimana sih Nova?…” candanya dengan tampang ceria.

Nova pun cuman cengengesan kecil.

“Ini aneh.” ujar Siyenna tiba-tiba.

“Apanya yang aneh?” tanya Oliv.

“Keputusan ini. Mengunci Para Pelayan Pribadi di satu tempat. Walaupun perkataannya ingin mengumpulkan tapi tetap saja sebenarnya kita dikunci di taman ini. Kalau niatnya ingin mengumpulkan para pelayan pasti tujuan pihak minister adalah mengumumkan sesuatu untuk para pelayan pribadi. Tapi dari tadi tidak ada yang keluar masuk taman. Yang ada di sini hanya pelayan pribadi saja.”

“Seperti di batasi ya?” tanya Nova.

“Hm. Tepat” jawab Siyenna menganggukan kepalanya.

“Oh. Iya, kalau tidak salah taman Palladius memang bisa di bilang taman yang paling tertutup di banding taman-taman lainnya di istana ini. Taman ini hanya bisa di jangkau melalui pintu gerbang taman dan satu pintu istana yaitu pintu istana timur yang ada di salah satu sisi taman ini.” ucap Alvin penuh misteri.

“Loh, bukannya hal-hal itu juga berlaku di taman barat. Taman barat kan hanya punya satu pintu gerbang, lalu terhubungnya dengan pintu istana barat kan?” sanggah Oliv.

“Oh.. Iya. Berarti aku salah..” ucap Alvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi seingatnya ada satu hal yang membuat taman ini sangat berbeda dengan taman-taman yang lainnya.

Sementara itu di suatu tempat yang gelap dan tersembunyi seperti gua. 3 minister utama, yaitu minister Syltha, Winda dan Vrone berkumpul dengan jubah yang menutupi kepala mereka. Vrone menatap pantulan cahaya air kolam yang berada di gua. Winda bersandar pada dinding gua seakan melafalkan sesuatu. Mereka kelihatan panik, kecuali minister Syltha yang hanya menatap tingkah keduanya bagaikan tak peduli.

“Bagaimana?.. apa dia sudah terlihat?” tanya Winda dengan tampang khawatir.

“Belum. Tak ada satupun tanda-tanda keberadaannya. Apa seluruh pelayan pribadi sudah berkumpul di sana?” Vrone balik bertanya untuk memastikan keadaan.

“Sudah.” jawab Winda

“Tanpa terkecuali?” Vrone meyakinkan.

“Ya. Tanpa terkecuali” jawab Winda kembali.

“Mungkin dia sudah keluar dari gerbang taman itu.” ujar Syltha dengan santainya.

“Tidak mungkin. Semua yang mencoba keluar dari gerbang akan langsung terlihat di pantulan kolam ini.” balas Winda.

“Mungkin saja. Siapa tau mereka mendapat ilmu baru dari seseorang. Seseorang yang bisa menutup sosoknya dari pandangan siapapun dan apapun. Dan setelah kuingat lagi… Reva masih belum terlihat sejak 4 bulan terakhir bukan?” Syltha membalas dan meniup asap putih dari pipa barunya.

Winda tersentak. Raut wajahnya tiba-tiba marah ketika ia mendengar balasan Syltha. “Reva tidak mungkin berkhianat. Dan dia tidak akan memberikan ilmu nya itu ke sembarang orang, terlebih lagi musuh kita” serunya tegas.

“Semua hal berubah. Mungkin Reva sudah berubah.” balas Syltha tanpa henti.

“Sudah! Diam kalian berdua!…” seru Vrone menengahi keadaan. “Winda, Syltha benar. ada banyak kemungkinan kalau kemampuan mereka dapat bertambah.”

“Vrone..” Winda tidak menyangka Vrone akan membela Syltha. Raut mukanya seketika murung. Syltha tersenyum licik.

“Sudahlah… Kita harus membuat seseorang menciptakan sebuah jebakan di gerbang itu…” tambah Vrone. “Apa ada seseorang diantara para pelayan pribadi yang bisa melakukan sihir berantai?”

“Ya.” jawab Syltha segera. “Ada dua orang.”

“Vrone! Jangan bilang kau ingin melakukan sihir boneka… Aku tidak berniat sedikitpun untuk melakukannya” seru Winda.

“Tidak usah repot. Aku yang akan melakukannya. Aku tidak mempermasalahkannya sedikitpun” Syltha menawarkan jasanya dengan senang hati. Senyumannya makin terlihat.

“Syltha!” Winda mencoba menghentikan, tapi Vrone sudah terlebih dulu menyelaknya.

“Pilih yang paling cocok untuk di korbankan” ucap Vrone jelas.

“Ya.. aku tau.” jawab Syltha.

Dalam waktu yang singkat Syltha sudah beranjak dari tempatnya. Segera melakukan tugasnya tanpa rasa ragu sedikitpun.

“Vrone…, mereka bisa terluka..” ucap Winda mengingatkan.

“Aku tau.. hanya demi putra putri mahkota kita. Tidak ada pilihan lain..”

Di taman Palladius di meja Alvin, Siyenna, Nova dan juga Oliv. Mereka masih sibuk memikirkan sebab-sebab mengapa mereka harus berada di sini. Menikmati panasnya siang yang membara. Alvin terus memutar kepalanya. Apa yang menyebabkan taman ini berbeda dengan yang lainnya?

“Ah! Iya aku ingat!!” seru Alvin tiba-tiba. Meja di depannya ia gebrak dengan kencang. Yang lainnya langsung terkejut sampai-sampai Oliv ngelatah

“Panas!!”

“Apaan sih?” tanya Siyenna penasaran.

“Aku ingat apa yang membedakan taman ini dengan taman lainnya..” lanjut Alvin dengan yakin. Oliv di tempatnya masih mengatur nafas sambil mengusap-ngusap dadanya karena terkejut. Nova langsung memperhatikan.

“Apa?” tanya Nova.

“Matahari. Hanya taman ini yang terkena sinar Matahari sepenuhnya di waktu siang. Makanya hawanya panas banget.” jawab Alvin.

“Lalu apa hubungannya dengan kita berkumpul di sini?” tanya Oliv.

“Coba lihat sekitar. Kata orang di negeriku. Untuk mengetahui sesuatu lebih dalam kadang kau harus melihat ke sekitar.” saran Siyenna. Ia langsung menajamkan matanya, mencoba melihat sekitar lekat-lekat.

“Aku tidak lihat apa-apa” ucap Oliv segera. Alvin masih sibuk melihat ke sekitar. Siyenna mencoba melihat ke atas di sekitar matahari. Dan berbeda dengan yang lainnya, Nova melihat ke bawah kakinya. yang ia selonjorkan ke samping. Sinar matahari yang panas membuatnya ingin segera memasukan kakinya ke balik meja lagi.

Karena bingung harus lihat apa, Nova pun berujar dengan asal sambil menatap kakinya yang selonjoran di bawah terik matahari.”Aku tidak bisa melihat bayanganku..”

“Bayangan!..” seru Siyenna.

“Bayangan? apa yang istimewa tentang bayangan?” tanya Oliv tidak mengerti.

“Tidak tau…” jawab Siyenna. “Tapi sepertinya ada sesuatu dibalik kata bayangan itu. Mendengarnya serasa tidak nyaman..”

Mereka berempat pun terdiam. Mencoba memikirkan sesuatu yang lain. Hingga akhirnya Oliv menyarankan Siyenna untuk mencoba menyapa pelayan pribadi yang dari tadi mereka diamkan. Dengan rasa sedikit ragu Siyenna pun mengiyakan saran Oliv.

“Udara di sini semakin panas ya…” ucap Siyenna mengawali topiknya. “Kalo.. menurutmu.. bagaimana?”

Alvin, Nova, dan Oliv langsung menatap pelayan pribadi itu seperti tidak ingin berkedip sedikitpun. Mereka penasaran respon apa yang akan diberikan? apa akan didiamkan seperti yang Oliv tadi?

“Hmm..” Akhirnya pelayan itu mau mengeluarkan suara. Hanya gumaman kecil sih.. Namun tetap saja mata Alvin, Nova, dan Oliv masih memperhatikan pelayan itu, bahkan mata mereka makin terbuka. Apalagi Siyenna yang duduk paling dekat. Makin penasaran dia dengan respon pelayan di sebelahnya.

“Aku harus ke gerbang taman Palladius.” tiba-tiba pelayan itu menjawab dengan random. Ia berdiri dari tempat duduk masih dengan pandangan kosong. Hendak melangkah ke gerbang taman.

“Hah??” Siyenna keheranan, begitu juga dengan yang lainnya.

“Apa tadi dia salah dengar ?” tanya Alvin di dalam hati.

“Mau apa?” tanya Siyenna pada pelayan itu.

Pelayan itu berhenti sejenak. Ia menjawab dengan nada datar. “Merangkai jaring laba-laba di sekitar gerbang.”

“Agar apa?” Siyenna yang semakin tidak mengerti bertanya kembali.

“Agar gelap yang ingin melewati gerbang taman tidak dapat lewat gampangnya.” jawabnya datar lagi.

“Hah??” Kini Siyenna dan Oliv sama-sama keheranan.

Nova masih terdiam mencoba mencerna maksud dari pelayan itu. “Kenapa tidak boleh masuk dengan gampangnya ke taman ini? Kenapa jaring laba-laba? Dan maksudnya dengan ‘gelap’ apa?” tanyanya dalam hati.

Di saat semuanya masih diam keheranan, pelayan itu melangkah keluar dari area tempat duduk dan pergi ke gerbang taman yang berada cukup jauh dan tertutup dari tempat mereka berkumpul.

“Hei!” seru Siyenna sebelum pelayan itu pergi semakin jauh. “Kalau kita mau keluar bagaimana?” tanya Siyenna melanjutkan.

Pelayan itu berhenti melangkah. Ia menjawab, “Para pelayan akan keluar melalui pintu timur istana, jadi tidak ada yang akan keluar melewati pintu gerbang taman.” ucap pelayan itu dengan datar.

“Kalau kita maunya keluar lewat pintu gerbang taman bagaimana?” tanya Siyenna lagi yang masih belum puas dengan jawaban Pelayan itu. Tapi pelayan itu hanya berlalu dan semakin menjauhi pandangan. Siyenna pun balik menatap meja dengan kepala tertunduk.

“AH… tidak jelas. Dan.. dari mana dia tau kalau kita akan keluar lewat pintu timur?” curcol Siyenna yang semakin malas.

Alvin mengangkat bahunya. Oliv menampakan ekspresi tidak tahu. Dan Nova berkomentar. “Kok.. kayaknya pelayan itu kayak kerasukan sih?”

“Iya yah. Aneh… aku ngerasa ada sesuatu yang akan terjadi nanti..” balas Siyenna ikut mengomentari.

Keadaan di taman Palladius pun berlangsung seperti tadi lagi. Panas menyengat, sebagian besar dari pelayan mengusap keringat mereka. Siang ini semakin tidak dimengerti. Dan tanpa orang-orang ketahui, di luar taman Paladius, ada 2 orang anak yang sedang berjalan dengan semangat dan penuh dengan keyakinan. Dengan rencana untuk memasuki gerbang taman Paladius.

Siapa mereka?
Apa yang akan terjadi nanti?
Do you feel the mystery today? Bisa jawab pertanyaan-pertanyaan mereka nggak?
Oh iya… part ini cukup, kedikitan, atau kepanjangan?

Feel free to comment ^_^ aku mengharapkan masukan semua…
Bonus Gambar akan masuk di Post berikutnya. (USBnya lagi sama Biila sih… ^,^)

Metrostar’s 6th Birthday!!

Hello for all human beings out there. How do yo do? for me, today is really really fun!

Jadi ternyata haari ini adalah hari ulang tahun metrostar AXIC yang ke-6. Waaah… gak kerasa ya, udah lama banget. Untuk ngerayain hari itu maka anggota-anggota metrostar termasuk ayahku pergi jalan-jalan ke puncak tepatnya di Alva Resort. Katanya sih kita nginep 2 hari 1 malam. Tapi mau nginep bagaimana pun, yang penting kan harus fun. Sama seperti namanya “AXIC” acara-acara yang  digelar sama anggota AXIC emang selalu asik!. Hari ini pun begitu. Setelah nyampe, kita langsung naruh barang di kamar terus ngumpul bareng temen-temen lainnya. Pada dasarnya emang aku nggak kenal banget sama satu-satu orang itu, tapi ada 1 adik kecil tadi yang lucuuuuu banget. Imut, ngegemesin, dia cewek, namanya putri. Kita senasib, datengnya cuma bareng ayahnya. Aku sama Biila juga cuman dateng bareng ayah. Terus aku langsung bilang deh, “Dek, dek, aku foto dulu yaah…” Si Putri sih diem-diem aja sambil natep aku polos gitu. terus, *Ckrek* ke foto deh. Cakep loh anaknya.

Tadi rombongan pada ngadain lomba. Ada buat anak kecil sama orang dewasa (papa-papanya). Buat anak kecil ada lomba mewarnai, aku gak bisa ikut lagi. Udah jauh dari jaman anak kecil. Cuman bisa jadi pengawas deh. Di sana ketemu sama Putri lagi, ternyata dia udah mandi. Terus dia nengok ke kita (aku dan Biila) senyum, terus nanya, “Kakak kok belum mandi?” dan tentu aja dengan nada polos juga. “Ehehehe…” kita bedua cuma bisa nyengir kuda. Curang deh! anak-anak lain pada dibantuin mamanya, walau sebenernya anak-anaknya gak niat gitu tuh. Aku yakin mama-mamanya yang pada kepingin ikut lomba ngewarnain, kembali ke masa-masa tk. Ha ha!..

Buat papa-papanya ada lomba makan kerupuk. Aku gak tau sih siapa yang menang,  waktu itu lagi nemenin Putri ngewarnain. Terus buat anak-anak around age 9-10 ada lomba bawa kelereng di sendok. Eh.. akhirnya mama sama papanya ikut juga. Seru! Lucu! ada yang pas sesi papa-papanya. Kan peserta di jadiin 2 orang. nanti ceritanya yang satu jalan ke depan, terus kelereng itu bakal di oper ke pasangannya pas pas mau balik ke tempat start. Lucu banget!! ada yang malah jalan kedepan. Terus belum nyampe ujung, pasangannya udah nyamperin dia aja dengan santai walau udah disorakin sama para penonton lomba. Akhirnya ketemu ditengah perjalanan dan otomatis sampe duluan lah.

Aku ketemu juga sama mba-mba yang mirip banget sama Shilla (IC) tapi mungkin ini versi udah gedenya kali ya. Kayaknya mba-mba itu udah kelas SMA-an deh. Sorenya habis main gitar aku bareng ayah sama Biila jalan-jalan disekitar penginapan. Enak banget penginapan ini. Ada tempat main biliard, main ping-pong, basket sama tenis/volly. Aku ngeliatin kaum-kaum adam main basket. Seru loh!! Jadi kepingin ikut! Ada satu anak kecil yang tinggalnya se-villa juga sama aku, umurnya paling muda diantara yang lainnya, lebih muda dari aku, tapi mainnya jago banget. Pasti di sekolah nilai basketnya bagus. Terus ada juga anak cowok se-SMP kali ya. Mainnya asik banget, penuh charisma (ciaellah..) tinggi juga pastinya. Aku se… dagunya kali ya. Tapi pada akhirnya aku nggak main basket sih. Padahal udah kepingin dari jauh hari.

Malem ini, aku akhirnya ngerasain kenapa bunda sebel banget kalo lagi harus nungguin ayah. Jadi harusnya kan malem ini kita makan malem di restoran di penginapan. Acara makan malemnya udah mulai dari tadi nih. Aku sama Biila juga udah siap dari tadi. Udah dandan, udah cakep, udah fresh, udah siap segala deh. Kita bahkan udah nunggu diluar kamar, di balkon villa. Tapi setelah ditunggu dan berlama-lama (nggak tau berapa lama, eh.. setengah jam??) si ayah belum keluar juga dari kamar. Padahal beberapa orang malah udah balik dari restoran itu. Muncul dugaan di benak aku kalo si ayah kemungkinan malah ketiduran. Uh… pantes aja bunda males banget kalo disuruh nungguin ayah. Habis ayah kadang kalo bilang sebentar artinya lama. Kalo lama, ya mungkin lebih lama lagi??. Sampai di sana, ya ampun malu banget deh. Piring yang disediain ternyata udah habis, tinggal sisa 3 pas banget sama kita bertiga dan itu berarti kemungkinan kita adalah orang yang terakhir dateng di acara itu. Hfft… dapet “seafood(baca sifud)” deh, sisa-sisa food.

Nyampe villa anak-anak lain yang udah pulang lagi pada nonton IMB. Ah… Fay udah keluar siih.. sebel! Nabiilah juga udah ngantuk. Ya udah, aku ikut masuk ke kamar deh. Aku masih mau coba ngetik cerita lagi deh. kayaknya ngetik di laptop ayah yang satu ini enak juga. Happy Birthday juga yah buat Metrostar. Moga-moga makin kekal persaudaraannya. Dan berlanjut terus sampai tua.  Okay then! Dan satu kesimpulan yang aku tau lagi dari diri aku. Kayaknya aku tambah nyaman main gitar deh.

Well, thats for today. See you tomorrow then! Bye.. ^_^

Kingdom Of Dream_Part 12: Pagi Pertama

Kelanjutan dari Kingdom Of Dream_Part 11: Makan Malam Pertama, Utusan Cathiophia dan Happy Chipmunks Di dapur.

Astaghfirullah… Dengan sungguh aku meminta maaf sebesar-besarnya karena penundaan waktu publish part ini. Sungguh… aku sama sekali nggak ada niat untuk menghentikan ceritanya. Allhamdulillah akhirnya bisa aku post juga. Terimakasih ya Allah karena telah mengisi otak ku dengan ide-ide dan bahasa cerita itu. Dan nggak lupa terimakasih juga yang udah setia menunggu dan terus mau membaca cerita ini. Moga-moga nggak bosenin deh… Maaf yaa… Maaf juga kalo ternyata part ini kurang panjang (Aduh aku khawatirnya di situ).

Ya udah! Sekarang kalian baca deh kelanjutan cerita Kingdom Of Dream ini. Semoga puas yaa.. Wassalamualaikum wr. wb.

Kingdom Of Dream
Part 12 : Pagi Pertama

Terik matahari memasuki celah jendela kamar Pia Aluna yang terbuka setengahnya. Burung-burung berkicauan, embun pagi berkilauan, meluncur cepat di atas daun-daun hijau segar lalu jatuh membasahi tanah. Gemericik air kolam di kamar Pia aluna terdengar pelan, sangat teratur. Dan piano Pia masih terus mengalun dengan sendirinya, mengalunkan nada-nada ceria namun masih dalam tempo yang sedikit pelan, sangat cocok untuk memanjakan telinga di pagi hari ini.

Sulit dipercaya bahkan di malam hari piano itu masih terus mengalunkan nada-nada penghantar tidur yang indah. Sepertinya arwah Martiz memang tidak pernah tidur. Makan pagi kali ini menunya seafood segar yang dibakar. Tambah kekar semangat Oik untuk bangun pagi hari ini.

“Zeva!… nggak mau ikut ke ruang makan?” ajak Oik yang sudah siap dari tadi. Agni masih menyisir rambutnya tapi ia sudah sepakat dengan Oik akan ikut ke ruang makan pagi-pagi sekali.

Zevana masih mandi. Ia tidak biasa bangun pagi-pagi sekali. Sementara itu Agni yang sudah selesai merapihkan rambutnya langsung melapor dengan riang.

“Aku siap!” serunya. Oik menengok ke kamar mandi. Sekarang hanya putri Zevana yang masih belum siap dengan dandanannya.

“Kalian duluan saja!” seru Zevana dari dalam kamar mandi. “Nanti aku juga mau ke dapur dulu kok. Ketemu Rio!..” serunya makin keras.

Agni dan Oik pun berpandangan satu sama lain. Mengangguk dan berseru bersamaan.

“Ya udah!.. kita duluan ya!..”

“Iya!..”

*kepak. kepak*

Patton sedang bersiap untuk menyambut hari. Debo yang sedang memakai sepatu menyaksikan Patton dalam keadaan yang menurutnya sangat langka. Sekarang Patton sedang bertelanjang dada, mengepakan kedua sayap kecilnya yang bercorak coklat ke hitaman. Katanya ritual itu adalah kegiatan rutinnya untuk mengeringkan sayap kecilnya yang basah.

“Kenapa nggak di lap pakai handuk saja, Ton?” tanya Debo berbasa basi.

“Kalo pakai handuk nanti bulu-bulunya bisa rontok.” jelas Patton memberi tahu. Patton ini walaupun putra mahkota tapi umurnya masih tergolong cilik. Jadi sayapnya pun ikut cilik. Makanya ia masih bisa memakai baju-baju pangeran biasa yang punggungnya tidak di bolongi. Karena sayapnya dapat bersembunyi dengan baik.

“Haah… airnya segar banget!” ujar Cakka riang. Ia baru saja keluar dari kamar mandi Laven Lair. Sudah siap dengan kostum kucingnya, baju pangerannya, dan ia sudah siap untuk menjalani hari baru di Kingdom Of Dream ini. Ia gosok-gosok rambutnya dengan handuk yang sudah tersedia dan menghirup nafas panjang. Menjadi dirinya saat ini adalah hal yang cukup merepotkan. Ia harus memakai kostum kucing buatan Rahmi kapan pun dan di manapun ia berada. Kostumnya lumayan mengganggu kegiatan tidurnya.

Cakka menengok kesamping. Langsung terlihat ekspresi sebal Patton gara-gara sayap ciliknya di colek terus sama Debo. Ia makin manyun ketika Debo malah membalasnya dengan tertawaan jail.

“Waduh jangan sampai Debo narik telinga atau ekor aku nih..” gumam Cakka dalam hati.

Sementara itu di dapur istana…

“Nggak mau tau! pokoknya aku mau ada cemilan tambahan di kamarku malam ini!” tegas Zevana masih belum menyerah. Ia masih kekeuh sama keinginannya agar ada cemilan di malam hari. Kini ia sedang berhadapan dengan Rio. Tepatnya Rio yang merasa benar-benar berhadapan dengan the mighty Zevana. Bener-bener deh, kalo debat sama Zevana emang susah banget ngalahinnya.

Topik yang Rio junjung adalah ‘ini semua dikarenakan peraturan’. Sementara topic yang Zevana junjung adalah ‘peraturan utama kerajaan, intinya adalah melindungi para putra dan putri mahkota dan termasuk di dalamnya mood para putra dan putri mahkota kerajaan’.

“Kue-kue itu harus ada di kamarku setiap malam. Itu sudah menjadi kebiasaan semua putri kerajaan harimau. Tanpa itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak!” tegas Zevana sekali lagi. Sebenarnya kebiasaannya memakan cemilan itu memang turunan dari mamanya. Sifat turunan khusus yang melekat kuat sekali padanya. Jadi… mau bilang apa?

“Tapi bahan-bahan makanan yang sudah dipesan dan diantar di jam penerimaan bahan makanan hanya cukup untuk membuat menu makan malam saja. Walaupun ada bahan makanan yang diantar di luar jam itu, aku tidak bisa membuat kue apapun karena ketua pelayan menyuruhku untuk mencurigai semua bahan makanan yang dikirim setelah jam itu. Jadi maaf aku tidak bisa mengubah keadaan…” balas Rio mengatakan semua yang ia tahu. Sudah kewalahan dia meladeni kata-kata Zevana yang susah ditangkis.

“Tapi-..”

Brak!

Pintu dapur yang ada di belakang Zevana dibuka oleh seseorang. Padahal tak ada maksud membanting atau apapun, tapi pintu itu selalu otomatis terbuka dengan keras.

“Siyenna!” Rio berseru tiba-tiba. Ada nada riang dalam seruannya tadi. Melihat ada Siyenna di sana sekarang, ia sedikit agak lega. Setidaknya kalau harus berhadapan dengan Zevana ia tidak harus menghadapinya sendiri.

Tapi Zevana yang mendengar nama itu, tiba-tiba dalam otaknya muncul rekaman memori masa lalu. Kepalanya tiba-tiba panas, ujung alisnya naik ke atas, dahinya berkerut, menunjukan ekspresi marah yang dulu sempat terpendam. Zevana menengok ke belakang. Mengeker setiap bagian tubuh perempuan yang ada di belakangnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. *Cling* terbersit 1000 kilat di ruang imajinasi Zevana. Matanya seketika berapi-api, menatap perempuan di belakangnya dengan pandangan keji. Sementara itu si perempuan malah tersenyum tenang, dengan bahasa tubuh yang juga tenang namun pandangan agak meremehkan.

“Wow… hai, lama tidak bertemu. Masih ingat denganku?” sapa si perempuan alias Siyenna masih dengan senyuman dan aura misteriusnya. Pelayan pribadi yang satu ini memang tidak takut apapun.

Zevana hanya diam. Namun tidak mematung. Dada dan perutnya terlihat naik turun bergantian. Dan mukanya masih penuh dengan berbagai macam ekspresi marah. She’s in “red”.

Brak!

Pintu dapur yang hampir tertutup sendirinya di buka kembali oleh Zevana, lalu ia pergi dengan mood yang masih diliputi warna merah cerah (baca: api). “Ah.. sebal!” serunya dalam diam.

“Haah… akhirnyaa..” seru Rio legaaa sekali. Ia langsung menjatuhkan kepalanya ke meja dapur yang kinclong, baru dibersihkan. “Untung Siyenna datang..” tambahnya. Ia berterimakasih karena kalau Siyenna nggak datang mungkin dirinya sudah habis oleh Zevana.

“Hei, jangan malah malas-malasan seperti itu. Aku kan datang ke sini bukan ingin menyelamatkanmu..” balas Siyenna yang langsung duduk santai di bangku kayu sebelah Rio setelah Zevana berlalu.

“Oh iya yah..” Rio bangun dari posisinya, menatap Siyenna dengan senyum ramah seperti biasanya. “Jadi, ada perlu apa, Siyenna?”

“Mau pinjam mangkok.” jawab Siyenna to the poin.

Rio pun berdiri dan membuka lemari tempat mangkok di simpan.

“2 mangkok.” Siyenna menambahkan.

Rio pun mengambilkannya. “Untuk apa?” tanya Rio penasaran. Ia menyerahkan 2 mangkok itu ke tangan Siyenna. Siyenna menjawabnya enteng.

“Untuk tadahan minum darah.”

“Hah?!” Rio terkejut setengah mati. Ia baru ingat kalau Siyenna datang dari negeri vampire. Jangan-jangan ia yang akan jadi santapannya selanjutnya. Ekspresi Rio langsung takut-takut. Siap-siap lari ngibrit kalau ternyata memang benar si Siyenna ngincer darahnya.

“Haha!..” Siyenna tertawa geli, ia sudah bisa membaca apa yang ada dikepala Rio. “Nggak segitunya kali. Masa aku mau minum darah rekan kerja?.. Lagian bukan aku yang mau minum darah..” jelas Siyenna. Senyum masih terukir di bibirnya.

Tapi mau Siyenna ngomong apa, Rio tetep aja menganga. Nggak inget kalau lalat terdekat mungkin bakal penasaran dan masuk ke terowongan pink yang gelap alias mulut Rio.

“Buat para pangeran vampire.” tambah Siyenna lagi. Rio manggut-manggut, mulai sadar dari kekagetannya.

“Eh, ada pisau nggak?” tanya Siyenna dengan pandangan kesana-kemari, mencari pisau.

“Ada” Rio langsung menjawab. Ia akhirnya sadar sepenuhnya dan kembali pada state seperti biasanya. Pisau kecil yang cocok untuk ukuran Siyenna ada di sebelah sink dapur. Ia pun mengambil pisau itu dan hendak melangkah ke Siyenna, memberikan secara langsung pisaunya. Tapi Siyenna menyuruhnya ‘lempar aja’. Ya sudah.. biar nggak repot dan nggak buang waktu. Lagi pula Rio juga tau si Siyenna ini ceweknya diem-diem ahli masalah pedang/benda tarung nan tajam lainnya.

“Hap” Siyenna menangkapnya tanpa kesulitan. Ia lalu mendekatkan pisau itu ke lengan bawahnya agak dekat dengan pergelangan tangan dan berujar. “Pinjem bentar ya. Nanti aku cuci kok..”

Rio tidak mengerti sungguh-sungguh apa arti perkataan si Siyenna itu. Tapi matanya langsung terbelalak ketika melihat apa yang Siyenna lakukan setelahnya.

Syrats!

“Heh! Mau ngapain?!”

Sinar mentari pagi memancar dari jendela, menerangi sebagian kecil dari salah satu kamar tersembunyi yang dibuat oleh Sion. Arsitekturnya indah, permadaninya, lampunya, pahatan di jendela, segala perabot di sana terlihat sangat indah, dengan nuansa merah tua dan hitam. Namun auranya tetap… gelap…

Mawar merah yang hampir layu tersandar di vas bunga kecil dari kaca, ditaruh di meja kecil sebelah tempat tidur besar dengan tirai beludru merah tua berlapis-lapis. Mawar itu terlihat rapuh. di sebelah vas-nya, terlihat tangan seseorang pangeran yang belum sadar dari tidurnya tergeletak begitu saja.

Gabriel namanya. Pangeran kedua dari negeri vampire. Naluri vampire dalam dirinya yang berjumlah lebih dari kakak kandungnya, Sion, membuat dirinya memiliki lebih banyak kemampuan-kemampuan vampire yang menakjubkan. Suatu anugerah.., namun juga suatu kutukan. Diberikan kemampuan besar mengerikan bagai vampire di saat ia masih terlalu kecil untuk bisa mengendalikan sepenuhnya kekuatan itu. Membuatnya harus dikurung setiap saat, takut kekuatannya itu tiba-tiba keluar tak terkendali dan mencelakai siapa pun yang ada didekatnya. Burung merak dalam sangkar emas… Ia haus darah.

Tlek.

“Ugh..” Gabriel mengerang pelan. jari-jarinya bergerak menekuk, meregangkan setiap otot di dalam kulitnya. Salah satu kemampuan Gabriel adalah memiliki pendengaran tajam. Walau bukan kemampuan khusus vampire yang mencolok tapi ia melatih kemampuan ini sendiri. Kemampuan itu telah membangunkannnya dari tidur yang nyenyak. Salah satu bukti bahwa bagi Gabriel kemampuannya itu juga kutukan, dengan ini ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak seutuh-utuhnya.

“Bagus. Akhirnya kau meminum darahku juga..” ujar seseorang yang membuat suara ‘tlek’ tadi.

Tak tau apa maksud kata-kata orang di depannya, apakah lega atau tidak senang, Gabriel pun mengeluarkan respon.

“Siyenna?”

“Ya. Hari sudah pagi. Kau harus bangun sebentar lagi. Acara hari ini yang hampir seluruhnya pelajaran, tidak bisa kau lewati begitu saja” balas orang didepannya yang sebenarnya Siyenna. Ia datang untuk mengganti jatah makan malam Gabriel kemarin, yang bertadahkan cangkir kecil, dengan jatah makannya pagi ini yang baru saja ia buat dari lukanya di dapur istana tadi. Ingat kan insiden Rio kaget? Itu semua karena ini.

Gabriel melahap atau tepatnya meminum jatah sarapan paginya dengan lahap. Siyenna bersandar di meja kecil Gabriel, memperhatikan lukanya yang sudah diperban oleh Rio. Ia langsung ingat ekspresi Rio di dapur tadi. Panik setengah mati. Katanya Rio, dia panic banget karena nggak mau kalau sampai dirinya di tuduh mencelakai Siyenna dan masuk penjara. Dan dia sendiri nggak bakalan bisa membiarkan seorang cewek yang deket banget jaraknya dari dia, bunuh diri. Ha ha.. jadi dia pikir aku bunuh diri? ujar Siyenna dalam hati.

“Oh iya..”  ucap Gabriel, membuyarkan segala hal yang ada dalam pikiran Siyenna tadi. “Apa kamu nggak bakal sakit kalo aku sama kak Sion minum darahmu terus?” tanyanya.

“Tadi aku udah minta ke Rio minuman yang bisa menggantikan sel-sel darah yang hilang kok. Katanya dia-ada, dan bakal disiapin setiap hari. Jadi.. nggak usah khawatir lagi.” jawab Siyenna.

“Oke” Gabriel menyudahi pembicaraan. Ia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil baju untuk dikenakan hari itu.

Siyenna berbalik, hendak keluar kamar. Tapi sebelum itu, ia sempat memberi pesan peringatan singkat pada Gabriel. “Jangan bikin masalah ya. Kalau nggak, Aku dan Sion nggak akan segan-segan menghukum”

“Aah.. Sebel!…  Sebel! Sebel! Sebel!” Zevana mencak-mencak di ruang makan istana. Di sebelahnya duduk Agni dan Oik dan mereka sama-sama tidak tau harus berkata apa.

Zevana sudah mencak-mencak sejak ia masuk ke ruang makan. Bahkan mungkin di jalan ia sudah mencak-mencak duluan. Penyebabnya apalagi kalau bukan Siyenna.

“Ah… tampangnya itu loh. Gerak geriknya itu… Ihh!.. kayak gak tau derajat aja! udah tau dia pelayan aku putri raja. Suaranya… trus.. nada bicaranya itu! Argh!… nyebelin!” bentak Zevana sendiri. Dari tadi bentakannya nggak habis-habis. Ngalir aja kayak sungai

“Katanya Zevana, derajat seluruh orang di dunia ini sama..” ujar Agni mengingatkan.

“Ya tapi… dia kayak meremehkan… Ekspresinya… kayak gak pernah takut sama apapun dan siapapun..” keluh Zevana dengan tampang mumetnya.

“Ya mungkin dilahirkannya memang dengan muka seperti itu kali…” balas Oik asal. Yang ada di pikirannya memang itu sih. Kalau didengar dari cerita Zevana, Siyenna memang bagaikan tidak takut apapun.

“Ya tapi kan… Haah..” *Bruk* Zevana mendesah tidak kuat lagi. Sudah bingung mau ngeluh apalagi tentang Siyenna. Bagus lah, kalau ia tetap bersihkeras mencak-mencak bisa-bisa suaranya habis di tengah hari.

Agni menengok kesana kemari, mencari sesosok pangeran misterius yang kemarin ia lihat di taman belakang kediaman cranofile. Kini suasana di ruang makan masih sepi. Hanya ada kurang lebih 8-10 orang di sana. Beberapa kue kering, kue kecil, kue lucu, kue manis, pokoknya berbagai cemilan kue sudah ada di sana. Oik berpikir, mungkin kue-kue ini bisa menggantikan kue-kue malam yang kemarin tidak bisa Zevana makan. Tapi ternyata Zevana bilang, selera makannya memuncak hanya pada malam hari. Jadinya Oik deh yang paling banyak memakan kue-kue di sana. Saat Ray, Deva, dan Acha mengisi kembali piring-piring sedang yang kosong dengan kue baru yang masih hangat. Ray menggoda Oik.

“Makan nya jangan banyak-banyak, Ik. Nanti jadi gendut loh..” goda Ray dengan tampang jailnya. Tapi seseorang membalas godaan Ray.

“Nggak usah takut gendut, putri. Kan kuenya rendah kalori..” balas Acha sambil melirik tajam ke Ray. Sedikit meleletkan lidahnya sampai Ray mengacungkan kepalannya. Seakan berkata, “Awas loh!”

2 anak ini memang kayak kucing dan anjing. Suka berantem tiba-tiba, saling mukul tiba-tiba, saling ejek tiba-tiba. Gak harmonis deh.

Sementara Deva yang berada di tengah, memisahkan mereka, cuma cekikikan merhatiin tingkah 2 crazy chipmunk di sebelahnya.

“Eh, bentar lagi jam makannya dimulai kan?.. Cakka sama yang lainnya di mana ya? kok belum dateng-dateng?..” tanya Oik.

“Nggak tau…” jawab Zevana lemas. Ia masih berusaha menganggap acara pertemuannya dengan Siyenna tadi hanya mimpi. Males banget kalo setiap hari harus ketemu dia.. pikir Zevana.

Deva, Ray, Acha, dan Keke sudah kembali ke dapur. Rencananya nanti mereka akan masuk kembali ke ruang makan lewat pintu utama ruang makan dengan masing-masing membawa troli makanan bertatakan masakan-masakan lezat. Deva membawa troli bertatakan makanan pembuka, Ray makanan utama, Acha, makanan penutup, dan Keke jus serta susu murni.

*Teng.. Teng.. Teng..*

Dentingan jam dinding di ruang makan terdengar. Itu artinya jam makan sudah hampir dimulai. Para pangeran dan putri-putri yang sudah berdandan ayu berhamburan masuk ke dalam ruang makan. Baju-baju mereka terilhat cerah, indah, menarik, unik. Tapi yang paling unik adalah bajunya pangeran monyet, Ozy, tidak ada yang menyamainya masalah gaya baju yang dikenakan. Sementara dikalangan putri-putri, para putri awan lah yang bajunya paling menyita perhatian. Baju putih gemerlapan bagaikan semuanya terbuat dari berlian dengan segala bling blingnya. Dan di bagian seperti rok atau kerah, dan lengan mereka terdapat bulu-bulu putih bersih bagaikan bulu beruang kutub di kutub utara.

Agni tidak bisa mengalihkan pandangannya pada mereka, para putri awan. Bajunya terlalu mengkilap. Oik malah dengan sinisnya menyipitkan mata bagaikan terkena silau yang mematikan. “Ih.. norak.” komentarnya pedas.  Kepala Zevana masih tidak bisa bangun dari posisi ambruknya di meja makan. Sementara itu dari kejauhan 5 orang pangeran datang mendekati mereka dan menyapa riang.

“Agni!.. Oik!.. Zevana!..” sapa mereka. Mereka adalah Cakka, Obiet, Patton, Debo, dan Irsyad.

“Hai! Pagi!” balas para putri yang dipanggil. Mereka tersenyum manis ke 5 pangeran itu dan mempersilahkan mereka duduk di dekat kursi-kursi mereka.

“Menunggunya lama ya??… Maaf.. tadi ada kemacetan di tengah jalan” ucap Irsyad meminta maaf.

“Iya… lama banget.” keluh Oik. “Kok bisa sih? memang ada macet apa?” tanyanya.

5 pangeran itu tersenyum geli mendengar pertanyaan Oik. Karena persitiwa “macet” tadi memang lucu, dan sangat tidak disangka-sangka.

“Tadi tiga putri awan ternyata salah jalan. Terus mereka masuk ke kawasan permandian air panas di area laki-laki!..”

“Hah?!” Oik, Agni dan Zevana menganga tidak percaya.

“Iya! bener!.. nggak di sangka banget kan?. Harusnya kalian lihat ekspresi mereka!” seru Patton sambil ketawa ngakak.

“He-eh!” Irsyad nyambung ke pembicaraan. “Lucu banget!.. mereka langsung jerit-jerit histeris terus loncat-loncat nggak jelas gitu! padahal kan salah mereka sendiri. Asal jalan sih! nggak mau tau situasi sekitar. Jadinya masuk ke permandian cowok deh..”

“Ah… tapi kalo gitu doang kayaknya nggak ada hubungannya sama macet di jalan..” kata Agni bingung.

“Iya. Sebenernya akibat dari semua itu yang bikin macet. Jadi gara-gara kejadian itu pangeran-pangeran yang lagi mandi jadi ketawa. Terus  pas para pangeran lagi di lorong menuju ke ruang makan, mereka muncul. Tiba-tiba nyuruh kita yang ngetawain mereka minta maaf di depan mereka sambil membungkuk hormat” kata Patton. “Sok berkuasa banget yah. Padahal derajat mereka kan nggak ada bedanya sama kita”

*Melody*

Tiba-tiba terdengar dentingan melodi-melodi gitar yang berkombinasi membuat harmoni. Dentingan-dentingan tersebut keluar dari rongga-rongga dinding di tembok ruangan bagian atas. Alunan musik ringan mulai terdengar, menghiasi awal hari ini dengan nada-nada ceria. Pintu utama ruang makan terbuka. Dari sana muncul para pelayan café Happy Chipmunks. Seperti yang di ceritakan tadi, Deva, Ray, Keke dan Acha berjalan dari luar membawa troli-troli makanan cantik berhiaskan taplak kuning cerah berkilawan dari sutra. Mereka berjalan mengelilingi meja-meja makan dan membagikan jatah makanan para putra dan putri mahkota.

“Wah… ada suara gitar yang keluar dari rongga-rongga tembok itu. Pasti sihir dari salah satu professor..” tebak Obiet.

“Menurutmu professor siapa?” tanya Irsyad pada Obiet.

“Hm… mungkin… ketua minister?” tebak Obiet tidak terlalu yakin.

“Ketua minister tidak akan membuat sihir seperti ini. Sihirnya hanya dikeluarkan di saat-saat tertentu..” kata Patton memberi tahu.

“Kalau tidak salah, yang bisa membuat sihir seperti ini adalah professor Syltha” ucap Zevana ikut obrolan. Agni dan Oik yang duduk di sampingnya lebih konsentrasi pada makanan mereka.

“Ah masa?.. aku kira dia cuma bisa membuat sihir mistik. Yah… yang gelap dan sejenisnya..” balas Cakka tidak percaya.

“Kalau setauku. Yang ahli dalam sihir mistik seperti itu malah minister Heina” kata Zevana lagi.

Cakka berfikir sejenak. Ia ingat-ingat lagi siapa si professor yang Zevana sebutkan. “Oh… yang marahin aku kemarin ya?.. cocok sih…” ujar Cakka manggut-manggut.

“Emh.. iya!..” Agni berseru saat semuanya berhenti berbicara. Mulutnya masih penuh makanan. *Glek* ia telan habis makanan di mulutnya itu dan bertanya. “Hari ini ministernya nggak ada ya? kok meja makan di atas kosong?”

“Wah iya!… minister sama professornya nggak ada!” Patton berseru keras saking nggak nyangkanya. Riko yang kebetulan sedang berjalan di sebelah kanan kursi Patton langsung menangkap perkataan Patton. Ia pun berujar dengan suara yang agak keras.

“Berarti hari ini nggak ada pelajaran dong..”

“Hah? nggak ada pelajaran?” tanpa sengaja seorang pangeran yang duduk di kursi sebelah kanan Riko mendengar ujaran Riko tersebut. Kata-kata itu tersebar ke teman disebelahnya, dan teman di sebelahnya lagi, dan terus berlanjut sampai semua putra dan putri mahkota menerima kabar burung hasil ujaran Riko tersebut. 1…2…3 detik terlalui.. dan…,

“YEEEEEE!!!!…”

Whoa… semua pun bersorak kegirangan. Ada yang loncat-loncat, tos-an bareng teman-temannya, lempar sapu tangan keatas, dan lain-lain. Namun tiba-tiba…

*Ngiiiiing*

Tiba-tiba suara dengungan keras memekikan setiap telinga putra putri mahkota yang sedang bersorak sorai dengan gembira. Semuanya mengeluh sambil menutup telinga mereka rapat-rapat.

“Tidak!.. Hentikan sorak sorai itu. Kalian akan tetap mendapatkan pelajaran hari ini.” seru sebuah suara yang datang entah dari mana.

“Siapa yang bicara?” tanya Lintar lantang dari tempatnya duduk.

“Minister Heina. Siapa kau berani bertanya dengan nada seperti itu kepadaku?” balas si suara asing pada Lintar.

Lintar hanya mencibir kecil dan cuek bebek dengan kata-kata minister Heina lalu kembali menikmati sarapan paginya. “Hh.. Memangnya kita sampai harus hafal suara-suara minister?” ucap Lintar ketus di dalam hati.

“Ya sudah. Sebentar lagi waktu makan akan habis. Ketika jam dinding berbunyi kalian harus langsung siap-siap memasuki kelas kalian masing-masing!”

*Ngiiiing*

“Ah…” para putri dan putra mahkota mengeluh karena dengungan itu lagi.

*Jreng jreng jreng..*

Harmoni gitar kembali mengalun dan pengumuman pun berakhir. Sebagian besar dari putra putri mahkota di sana langsung mengeluh akan pengumuman yang baru berakhir tadi. Sementara Riko kembali berjalan ke tempat duduknya sambil berujar.

“Ah.. nggak asik.”

“Haaah… selesai juga… kenyang aku!” seru Patton. Ia bersandar ke tempat duduk dengan nyaman dan menepuk-nepuk perutnya yang membesar.

“Jangan tidur dulu, Ton. Hari baru mau dimulai..” kata Debo ikut menepuki perut Patton.

Oik meletakan sendok dan garpunya di piring. Ia puas sekali dengan sarapan pagi kali ini. Benar-benar “Right to the spot”

“Eh iya!… hari ini pelajaran pertama professornya siapa?” tanya Zevana.

“Professor Dusty” jawab Agni yakin.

“Hmm… aku penasaran bagaimana orangnya” balas Zevana.

Debo mengakhiri sesi makan paginya. Kini yang ia butuhkan hanya minuman. Ia pun mengajak yang lainnya untuk mengambil teh di pojok ruangan dekat meja makan professor dan minister, tapi tidak ada yang mau ikut. Akhirnya ia pun berjalan ke sana sendiri.

Tanpa Debo sadari, seorang putri kupu-kupu, Ify, juga ikut berjalan ke meja di pojok ruangan hendak mengambil minum juga.

Debo yang sama sekali tidak sadar saat ia mengambil salah satu gelas yang ada di sana dan berbalik untuk meminum teh di gelas tersebut sambil melihat suasana ruang makan pun menabrak Ify yang ada di belakangnya dan tidak sempat menghindar. Mereka berdua terkejut. Gelas yang Debo pegang pun tumpah ke bajunya, sementara gelas-gelas yang ada di meja juga jatuh dan airnya tumpah mengenai baju belakang Debo. Debo pun kena tumpahan air teh dari depan dan belakang. Bajunya sudah pasti basah kuyup.

“Maaf… aku nggak bermaksud nabrak kamu..” kata Ify meminta maaf.

Debo langsung salah tingkah. “Eh… nggak nggak… aku yang salah… harusnya aku liat-liat dulu. Tadi aku malah asal balik aja, nggak liat ada orang atau enggak di belakang aku..”

“Ini…” Ify meraih sapu tangan di saku bajunya. “Baju kamu basah banget. Di lap deh..”

“Nggak usah… itu kan sapu tangan kamu. Aku bisa ganti baju kok nanti..” Debo yang makin lama makin grogi pun langsung pamin undur diri ke tempat dia duduk bareng temen-temennya. Ify di sana mengangguk mempersilahkan Debo pergi walau dirinya masih merasa bersalah.

“Weh!.. kena apa kamu, Bo? bajunya basah depan belakang gitu…” tanya Irsyad.

Obiet yang melihat Debo seperti itu tertawa lucu sambil menunduk.

“Tadi tabrakan sama Ify..” ucap Debo malu. Seperti ingin buru-buru pergi dari sana. “Patton, anterin yuk… ke kamar. Ganti baju..” ucap Debo memohon.

“Hmh.. Enggak ah… perutku masih berat nih… masih mau duduk..” balas Patton mengelus-elus perutnya yang masih dalam keadaan gendut.

Debo pun langsung menatap ke teman sekamarnya yang lain. “Cakka!… anterin yuk…” mohon Debo lebih memelas.

Cakka tidak merasa keberatan. Ia pun berdiri dan mengiyakan ajakan Debo. Mereka berdua pun keluar dari ruang makan dan berjalan menuju kamar asrama mereka.

“Nanti…” ucap Obiet lambat. “Kelasnya dibagi tiga kan?” tanya Obiet.

“Iyah..” Oik mengangguk dan meminum teh nya yang sudah agak dingin.

“Kira-kira siapa yah yang sekelas sama kita?” tanya Obiet lagi. Matanya menerawang ke atas, ia berpikir dan menebak-nebak.

“Untungnya sih kita sekelas..” ujar Patton. “Kalo putri dan pangeran yang lain… yang pasti, aku rasa sifat-sifat mereka akan lebih menarik di banding semua putri dan pangeran di kelas lain. Yang aku tau, ada Ozy, Dea, Ify, 3 bersaudara, lalu putri awan juga ada.. ha ha..” Patton tertawa sebentar karena ingat akan insiden tadi pagi yang sangat menggemparkan. “Lalu… ada 2 orang pangeran lagi, dari negeri yang sama… aku tidak tau siapa mereka. Tapi aku yakin… mereka juga akan menarik” tambanya.

“Ya sudah… aku sudah selesai makan. Lebih baik kita mulai siap-siap ke kelas saja.” usul Zevana.

semuanya mengangguk setuju. Mereka pun meninggalkan bekas-bekas piring mereka di meja dan pergi ke kamar masing-masing.

Di balkon perpustakaan lantai tiga yang menghadap ke taman belakang, Nova sedang bersandar, menikmati angin segar yang bertiup sepoi-sepoi. Rambutnya berkibasan ke belakang. Ia menatap taman belakang, memperhatikan pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh subur di sana, dan juga Alvin yang sedang mengecek keadaan bunga-bunga di sana. Ia berkonsentrasi, mencoba mendekatkan pandangannya ke Alvin, namun konsentrasinya seketika buyar ketika terdengar lonceng pengumuman berbunyi menggema dari dalam perpustakaan.

“Pengumuman untuk para pelayan pribadi putra maupun putri mahkota Kingdom Of Dream. Di wajibkan pada kalian semua untuk berkumpul di dalam area taman Palladium sekarang juga”

*Teng teng*

Pengumuman berakhir. Nova mengirup udara segar sebisanya. Ia sebenarnya agak keberatan meninggalkan perpustakaan ini. Menginggalkan suasananya yang tenang, meninggalkan bayangan-bayangan indah yang dihasilkan bingkai-bingkai jendela yang tertepa cahaya mentari pagi. Meninggalkan bau bau buku yang penuh akan pengetahuan, meninggalkan angin-angin yang bertiup semilir, namun apa yang bisa ia lakukan? Ia adalah pelayan, harus mematuhi segala peraturan yang ada. Ya, itu hukumnya.

Nova melangkah pelan, mundur menjauhi balkon kedamaiannya. Lalu berjalan di tengah 2 rak penuh buku, memegang gagang pintu, dan keluar dengan suara kecil.

Klek..

Pintu tertutup.

“Ray!… Ray!..” Deva berlari buru-buru memasuki dapur. Ia menghampiri Ray dengan ekspresi gembira dan bersemangat. Mukanya berseri-seri, bagaikan baru saja mendapat ilham dari langit.

“Ini saatnya, Ray…” ucapnya sungguh-sungguh sambil memegang erat pundak Ray yang sedang sibuk merapihkan piring-piring di dapur.

“Saatnya apa?” tanya Ray nggak ngerti.

“Saatnya kita beraksi…” lanjut Deva. Ray malah tambah nggak ngerti. Ia mulai berpikir jangan-jangan temannya ini tiba-tiba sakit gara-gara kerja keberatan tadi pagi.

“Beraksi mau ngapain?… emang kamu sangka kita apa? pahlawan bertopeng?” balas Ray mencantumkan nama salah satu legenda yang diceritakan turun temurun oleh keluarganya.

“Ya bukan lah… maksud aku.. kita mau nyamperin Nova..” kata Deva nggak sabar. Pundak Ray yang tadi hanya dipegang sekarang sudah dicengkramnya.

“Oh.. itu…” Ray masih santai-santai aja. Nggak bisa ikut merasakan betapa bersemangatnya Deva saat itu. “Emang harus sekarang yah? gimana kalo nanti siang aja..” tanya Ray masih sempet tawar-tawaran.

“Enggak! pokoknya harus sekarang!.. memang kamu nggak denger pengumuman tadi? semua pelayan pribadi harus berkumpul di taman Palladium istana. Itu berarti Nova sudah pasti ada di sana, jadi kita nggak perlu susah susah nyari lagi keberadaan Nova… Ayo lah, Ray.. Cepet!” ucap Deva panjang lebar. Kini ia tarik baju Ray saking nggak sabarnya.

“Iya iya… eh tunggu!.. minta izinnya gimana?” tanya Ray lagi.

“Ya sama Rio lah… Ayo cepet!”

Akhirnya Ray pun menghentikan pekerajaannya yang tadi dan ikut Deva keluar dari dapur. Rio ada di ruang makan. Ia tidak sabar untuk meminta izin kepada Rio dan tentu saja pergi ke taman Palladium untuk bertemu dengan Nova.

“Palladium! Aku datang!..”

To be Continued to the next part >> Kingdom Of Dream part 13 : Perjuangan Deva

Thx for reading. Maaf kalo ada salah-salah kata…
see you

Kingdom Of Dream_Part 11: Makan Malam Pertama, Utusan Catiophia dan Happy Chipmunks di Dapur

Kelanjutan dari Cerita Kingdom Of Dream_Part 10: Vulvoria, Tigerlily, dan Sejarah Dunia Kingdom Of Dream.

Part yang ini cukup panjang. Oke, menurutku sangat panjang. Semoga semuanya jadi puas karena part ini panjang. Aku kan ngepost part yang ini lama banget. Sori ya bikin nunggu.. Well, baca aja deh ya. Dan menurutku, malam ini adalah malam misteri. Jadi bersantailah di tempat duduk anda dan nikmati bacaan dariku ini dengan senang hati.

Selamat Membaca.. jangan lupa dicomment yah..^_^

Kingdom Of Dream

Part 11: Makan malam pertama, Utusan Catiophia dan Happy Chipmunk di dapur

BRAK!!

Pintu perpustakaan istana dibuka dengan keras. 3 orang pria masuk dengan buru-buru ke dalam seluk beluk rak perpus. Bunyi bantingan pintunya merambat sampai ke ujung-ujung ruangan. Oik yang baru saja melahap kue kering Zevana sampai keselek. Mukanya langsung merah dan tubuhnya melompat-lompat panik mencari pertolongan. Agni langsung menolong kakaknya dari situasi kritis itu. Ia memukul-mukul punggung kakaknya namun sayang kekuatannya terlalu besar. Oik malah jadi batuk-batuk. Sementara Zeva sibuk menadahkan kue-kue keringnya yang jatuh gara-gara piringnya oleng ke samping.

“Untung rok aku lebar” ucapnya dalam hati.

“Agni! Oik!” Seru salah satu pria yang tadi pasuk ke perpus.

Oik dan Agni langsung menengok. Kini keseleknya juga ikutan hilang. “..Obiet, Irsyad?… eh… hai!” Oik langsung menyapa 2 orang yang masuk ke perpus tadi walau ia sempat nge-blank selama dua detik saking kagetnya. 2 orang tersebut adalah Obiet dan Irsyad.

Agni langsung nanya to the point. “Kenapa kesini?” tanyanya. Ia bertanya seperti itu karena ia ingat kalau tadi Obiet sempat berkata kalau mereka akan ketemu lagi paling lambat saat makan malam.

“Ada hal penting yang harus aku tanyakan” kata Obiet tegas. Raut mukanya serius, membuat Agni dan Oik langsung khawatir. Apa mereka melakukan kesalahan? sepertinya tidak. Irsyad sih dari tadi ikut-ikut aja sama Obiet. Sementara Zevana, bengong sendiri di depan meja rak.

“Hal apa?” tanya Agni lagi.

“Ini!” Obiet langsung mengarahkan tangannya ke kanan. Ia meraih sesuatu yang sembunyi di balik rak perpus. Dan tangannya pun terlihat kembali, sedang menarik satu-ekor kucing.

Jrebb..

Akhirnya bentuk keseluruhan benda yang ditarik Obiet pun terlihat. Siapa lagi kalau bukan…

“Cakka?!… kok bisa?” seru Oik dan Agni bersamaan.

“Itu dia yang ingin aku tanyakan” kata Obiet. “Tadi kan Cakka tidak dapat undangan ke pesta teh yang seharusnya dikirimkan ke semua putri dan pangeran yang ada di sini. Tapi kok ia bisa masuk ke dalam istana, lalu ke dalam asrama, lalu masuk sebagai pangeran lagi” lanjutnya panjang lebar.

“Dia jadi teman sekamar Patton dan Debo” tambah Irsyad sambil menunjuk ke Cakka.

Cakka cuma bisa cengar-cengir. Mau ngomong apa coba? kalau salah sedikit kan bisa bahaya. Ancaman copcastle dari Rahmi langsung terngiang-ngiang di kepalanya. Saat ini ia sedang mempertaruhkan masa hidup matinya. Dan malaikat yang bisa menolongnya hanya 2 putri animalia di depannya itu.

“Jadi… siapa sebenarnya Cakka ini?” tanya Obiet.

“Ya…” Oik kebingungan. Ia tidak bisa menjawab.

“Cakka memang pangeran” kata Agni dengan yakinnya. “Ia datang dari negara Catiophia”

“Hah?” Oik menatap Agni tajam. “Dari mana kamu yakin dia dari Catiophia. Emang Negara itu ada?” tanyanya sambil berbisik pada Agni.

“Tenang aja. Negara itu ada kok. Tadi aku baca di buku pengetahuan Kingdom Of Dream. Negara itu ber-ras kucing” bisik Agni pada kakaknya.

“Hei ada apa sih ini?” tanya Zevana yang masih belum nyambung.

“Oh iya! Zeva, kenalin… ini Cakka temen kita. Dari Negara Catiophia” kata Agni riang. Ia menyuruh Cakka untuk say hi ke Zevana.

Tapi Zevana malah kelihatan tambah bingung. “Catiophia?” tanyanya. “Bukannya Negara itu sudah punah ya?”

Dan Agni pun kena batunya. Ia baru sadar, buku yang ia baca tadi kan edisi dulu. “Oops…”

Akhirnya permasalahan pun berakhir dengan Cakka yang mengaku kalau dia adalah utusan terakhir dari Negara catiophia itu dan ia membuat pernyataan kalau Catiophia itu belum punah, cuma hampir punah. Walaupun mengada-ngada untungnya semua percaya dengan perkataannya. Dan karena waktu sudah hampir malam, mereka pun kembali ke kamar masing-masing dan bersiap-siap untuk makan malam yang akan di adakan di ruang tengah istana.

Di tengah jalan Agni, Oik dan Zevana bertemu dengan Alvin. Oik meminta Alvin untuk mengantarkan beberapa baju pangeran untuk Cakka. Alvin mengangguk dan segera melakukan tugasnya.

Sementara itu di dapur, kawan-kawan Happy Chipmunks sedang bercengkerama sambil mengecek stok-stok makan malam. Kini waktu memasuki saat-saat terakhir sebelum makan malam pertama dimulai.

“Deva, tadi pas pesta teh mau dimulai kamu kemana aja?” tanya Ray sambil mengelap piring-piring kecil yang akan di taruh di meja makan nanti. Rio masih berada di ruang makan. Mengatur letak-letak makanan di meja makan. Sementara Keke dan Acha berada di ruang ganti, merias diri mereka.

“Nggak kemana-mana kok. Orang aku ngambil bunga di taman belakang kediaman Cranofile” jawab Deva.

“Ah bohong. kalo ngambil bunga paling 1-2 menit doang. Kok yang tadi sampai 10 menitan?” tanya Ray tidak percaya.

“Ya… nggak tau..” jawab Deva lagi.

“Udah… jujur aja. Pasti ketemu seseorang ya?… pasti… ketemu cewek yah?” goda Ray.

“Loh?…” Deva serasa ke tangkap basah. ‘Kok Ray tau?’ tanyanya dalam hati.

“Kaget ya aku tau?…” tanya Ray pede.

“Iya. kok tau sih?” tanya Deva penasaran.

“Ya iyalah… orang aku yang nyuruh Agni nyari kamu. Agni kan cewek” ucap Ray dengan tampang polosnya.

“Jiah… bukan itu, Ray..” kata Deva sambil memukul paha Ray.

“Aw!..” Ray balas memukul pelan dan mengusap-ngusap pahanya. “… emang apa?” tanya Ray ingin tahu.

“Aku ketemu cewek yang aku tabrak di dapur tadi pagi..” kata Deva excited. “Namanya Nova”

“Oh… trus?” Ray bertanya lagi.

“Ya terus seneng lah!..” jawab Deva. “walau… gara-gara harus ngebungkus pecahan pot di taman itu, sapu tanganku jadi hilang sih..”

“Hah?.. hilang di mana?”

“Ish! si Ray ini nggak ngerti perumpamaan yah?… maksudku saputangannya malah jadi bahan membungkus pecahan pot itu..” ucap Deva agak kesal dengan sifat Ray yang kadang susah ngerti. “Tapi, nggak papa sih. Setidaknya sapu tangannya ada di tangan Nova. Hi hi… jadi pingin ketemu lagi” Deva menghelakan nafas panjang dan kembali mengelap piring-piring istana.

“Hm… kenapa nggak diambil lagi aja, Dev?” tanya Ray polos.

“Ih! ni anak. Ya nggak lah.. kan kesannya jadi… eh… iya juga ya?” tiba-tiba terlintas ide yang cukup cemerlang di kepala Deva. “Iya!… kenapa aku nggak kepikiran dari tadi?… ya ampun Ray, ternyata kamu pinter juga ya?” seru Deva sambil menepuk pundak Ray.

“Pinter? Pinter apanya?… emang aku bilang apa sampai-sampai aku bisa jadi pinter?”

“Ah!.. masa kamu nggak ngerti juga sih?…” Deva menempeleng kepala Ray karena tingkah Ray yang tiba-tiba polos banget. “Aku bakal ketemu Nova lagi dengan alasan pingin minta balik sapu tangan itu. Gimana?.. bagus nggak idenya?” kata Deva dengan semangat.

“Oh.. iya iya! Semua Ide Deva mah selalu bagus..” ucap Ray sambil mengacungkan jempolnya.

“He he..” Deva tersenyum bangga. Ia tersanjung telah dipuji oleh Ray.

“Tapi aku nggak ikut ya.” kata Ray datar.

“Yah!… ikut dong, Ray. Kita kan sohiban… bantuin aku dong…” mohon Deva sepenuh hati.

“Aah.. nggak ah… banyak kerjaan.” tolak Ray.

“Ya kan tinggal bilang ke Rio baik-baik. Lagian ada Gita kok. Terus ada Acha pula. Ayolah Ray… besok doang kok” pinta Deva sambil memelas.

“Hh… Iya deh. tapi ada gantinya ya. Besok kamu harus bikinin aku air panas buat mandi sore. He he..” seru Ray semangat. Senyum usilnya muncul seketika.

“Ah… si Ray mah… gituu..”

Raja siang kini telah kembali pada tempat peristirahatannya. Dewi bulan menggantikan tempatnya di alam semesta ini. Saat itu bintang-bintang masih terlihat samar dan kecil. Para pangeran dan putri di kerajaan animalia dapat melihat pemandangan langit malam itu di ruangan besar istana animalia yang kini digunakan untuk ruang makan. Beberapa pangeran dan putri kingdom of dream sudah ada di ruang makan itu. Begitu juga dengan Agni, Oik, dan teman-teman mereka. Patton, Irsyad, Obiet, Debo, Agni, Oik, Zevana, dan tentu juga Cakka duduk berdekatan di barisan tengah meja makan panjang ke-2. Zevana, Cakka, Agni dan Oik duduk bersebelahan di sebelah kanan meja. Sementara Obiet, Irsyad, Patton, dan Debo duduk di depan mereka.

Ruangan sudah mulai penuh. Para putri dan pangeran bergiliran masuk ke ruang makan itu. Deva berdiri di sebelah pintu masuk ke ruang makan. Ia menyambut para putri dan pangeran yang masuk dengan senyum yang ramah. Waktu makan malam belum benar-benar dimulai. Tapi memakan kue-kue kecil yang sudah disediakan di 4 meja makan sudah diperbolehkan.

Agni memperhatikan para pangeran dan putri yang dari tadi masuk ke ruang makan. Baju-baju mereka unik. Sangat bagus dan kelihatan royal. Zevana seperti biasa sedang menikmati santapan manis di depannya. Kue-kue masakan Rio memang pantas untuk diacungkan jempol. Debo dan Patton, terutama Debo lagi-lagi terkesima melihat salah satu ruangan di istana animalia. Obiet kembali mencoba mengutak-atik limas perunggunya sementara Irsyad yang duduk di sebelahnya terus menatap ke jam dinding besar di dinding kanan ruangan. Lalu Cakka memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Oik yang mulai bosan, hanya menopang dagunya di tangan dan menghembuskan nafas dengan pelan.

“Woaa… ruang makan kalian besar sekali, Oik. Jadi setiap jam makan kalian akan makan di sini?” tanya Debo penasaran.

“Hmm?…” Oik sadar. Ia menegakan punggungnya dan menjawab. “Enggak. Aku dan Agni belum pernah makan di sini. Yah… habis, ruangan ini sebenarnya kan bukan ruang makan”

“Hah?” Debo terkejut.

“Iya.” Oik mengangguk. “Tadinya ruangan ini hanya ruangan besar yang kosong. Alvin lah yang mendekorasi ruangan ini sampai terlihat seperti ruang makan. Dia mengatur semua dekorasi dan tata letak ruangannya. Hebat yaa..” ujar Oik.

“Oh.. iya..” Debo manggut-manggut. Ia melihat ke sekeliling lagi. Dekorasinya memang bagus sekali.

“Eh.. nanti yang bakal ngajarin kita di pengajaran ini… siapa saja sih?” tanya Patton.

“Hm… yang aku tau, professor nya Oik dan Agni termasuk salah satunya” jawab Zevana.

“Professor ku juga ikut mengajar” balas Obiet dengan semangat. Limas perunggunya sudah ia taruh di kantong bajunya.

“Bagaimana sifat professormu? Serem nggak?…” tanya Patton lagi.

“Ah… nggak serem sama sekali. Dia kan perempuan, cantik lagi. Orangnya ramah, terbuka, dan jarang marah..” jelas Obiet.

“Enak banget…” seru Oik dan Agni bersamaan. Mereka langsung ingat raut-raut muka professor Degor kalau sedang mengajar. Dan hukumannya…

“Terus, kalo misalnya lagi istirahat. Kamu dibolehin keluar istana nggak?” tanya Zevana antusias. Ia mau coba membandingkan professornya dengan professor lain di kingdom of dream.

“Yah… pada dasarnya sih nggak boleh. Tapi, kalo ada pelajaran yang lebih baik dilakukan di luar istana, kita akan belajar di luar istana” jelas Obiet lagi.

Mendengar itu Zevana langsung loyo. “Hh… aku merasa tertindas…” ujarnya tanpa gairah.

“Memang kenapa, Patton?..” tanya Irsyad yang mulai ikut kedalam pembicaraan.

“Ya… aku penasaran aja. Terus, sekalian jaga-jaga. Kalo tau-tau ada guru-guru yang nyeremin, aku bisa jauh-jauh dari guru itu” jawab Patton sambil tersenyum jail.

“Ah… kalo aku, lebih tertarik untuk tau tentang putri-putri dan pangeran yang ada di sini” ucap Agni mengubah arah pembicaraan.

“Iya. Kadang kita malah harus lebih hati-hati sama teman-teman yang lain. Apalagi mereka yang tidak terlalu dekat. Mungkin mereka bisa langsung berbuat jahat ke kita kalau mereka tidak suka” tambah Cakka. Akhirnya ia mencoba berbaur dengan sesama. Kan biar nggak mencurigakan. Dan usulannya barusan juga keluar berdasarkan kehidupannya di bumi.

“Wah… Cakka pinter juga ya” ujar Zevana.

“He he..” tanpa sadar Cakka pun cengengesan ke Zevana.

“Hm… kalau mau tau tentang putri dan pangeran di ruangan ini. Tanyakan saja padaku. Aku kenal 50% dari mereka, walau tidak kenal dekat” usul Patton mempromosikan dirinya.

“Hm… kalo gitu, aku mau tanya… pangeran yang itu!” seru Irsyad. Ia menunjuk ke pangeran yang duduk di bangku kanan meja ketiga barisan tengah.

Berdasarkan pikiran Cakka, pangeran yang ditunjuk oleh Irsyad memakai baju seperti baju alladin di salah satu film disney. Ia memiliki ekor yang panjang dan rambut hitamnya dipotong agak acak.

“Oh… itu Ozy, pangeran monyet. Orangnya ramah, baik, tapi lumayan usil sih kadang. Tapi… dia juga cinta damai. Jadi dia paling nggak suka kalo ada orang yang berantem” jelas Patton.

Semuanya ngangguk-ngangguk mengerti. Lalu giliran Debo bertanya.

“Kalo putri yang iris matanya berwarna ungu dan putri yang di sebelahnya itu siapa?”

“Kalo yang iris matanya ungu itu Dea, putri beruang. Lihat kan telinga bulatnya yang berwarna putih?. Nah.., yang disebelahnya itu Ify, dia putri kupu-kupu. Kalau dilihat sekarang, dia tidak punya sayap kupu-kupu, tapi sebenarnya ia mengubah sayap kupu-kupunya menjadi tato di punggung. Kalau ia perlu untuk terbang, ia bisa mengubah tato itu menjadi sayap kupu-kupu kapan saja ia mau” jelas Patton tanpa kesulitan.

“Hei,.. kalau 3 orang pangeran yang mengganggu seseorang di situ siapa?” tanya Zevana dengan pandangan sinis pada 3 orang pangeran yang ia sebut tadi sambil menunjuk dengan dagunya.

Patton menjawab dengan raut muka yang juga tidak senang. “Raika 3 bersaudara. Mereka yang harusnya kita waspadai. Aku dengar mereka sering menindas para putri dan pangeran yang mereka rasa lebih bawah derajatnya dari mereka”

“Tidak adil!.. Mereka kira mereka siapa?!.. semua derajat putri dan pangeran di sini kan sama!..” ujar Zevana kesal. Ia paling tidak suka hal-hal yang bersangkutan dengan pelanggaran hak mahluk hidup.

“Yah… kita berdoa saja supaya mereka cepat dapat balasannya” balas Patton setuju.

Agni, Oik, Cakka, Obiet, dan yang lainnya ikut melihat apa yang dilakukan Reika 3 bersaudara itu. Dan mereka turut prihatin juga dengan pangeran landak yang ditindas oleh 3 bersaudara itu.

“ugh, cukup. Aku akan memberikan mereka balasan” geram Zevana kesal. Ia hampir saja bangun dari kursi tapi di tahan oleh Patton yang duduk di depannya.

“Tidak usah. Ini kan baru hari malam pertama. Jangan cari masalah dulu. Lagi pula 3 bersaudara itu tidak akan dengan gampangnya melupakan seseorang yang melawan mereka” kata Patton.

“Oh ya?… sama halnya denganku. Aku juga tidak akan melupakan orang yang membuatku kesal” balas Zevana dingin. Rebel side dari dirinya mulai keluar sementara pandangan sinisnya masih terus tampak.

“Siapa nama masing-masing bersaudara itu. Tidak mungkin kan mereka hanya bisa dipanggil dengan sebutan 3 bersaudara Reika saja..” ucap Cakka ingin tahu.

Patton pun menjelaskan. “Yang sedang duduk di meja itu Lintar Reika, yang berdiri di tengah Rizki Reika, dan yang sedang memegang bola bening milik si pangeran landak yang ditindas namanya Riko Reika”

dari kejauhan..

Si pangeran landak memohon agar bola beningnya di kembalikan. Tanpa sengaja tangan Riko terkena air panas dan bola bening itu pun terlontar ke tempat Agni duduk.

“Hap!” Agni menangkap bola itu. Si pangeran landak terlihat lega. 3 Reika bersaudara menatap Agni dengan pandangan dingin namun tak lama setelah itu mereka hanya berlalu ke tempat lain.

“..’Aku harus memperingati pihak dapur. Bisa-bisanya mereka menaruh air panas sial itu di sini’.. itu kata Riko” ucap Irsyad memberi informasi cuma-cuma.

Yang lainnya tampak tidak mengerti. Irsyad pun langsung menepuk dahinya pelan. “Oh iyya!.. sudahkan kalian aku beri tahu?.. aku bisa membaca pikiran orang lain” ucap Irsyad riang. Yang lain, masih bengong saking nggak nyangkanya.“Mm… kurasa belum. Yah… sekarang kalian tahu..” Irsyad hanya mengangkat bahu sekali dan memakan kue coklat di depannya seperti tak terjadi apapun.

“Ja… jadi.. jadi..” Zevana masih tidak percaya, Oik dan Agni juga masih speechless.

“Wah… aku harus waspada nih sama Irsyad” ujar Obiet iseng.

“Hei!…” seru pangeran landak dari tempatnya duduk. “Kalau tidak keberatan. Boleh tidak kau menyerahkan bola bening itu padaku sekarang?”

“Oh iya! Aku baru ingat” seru Agni. “Ini!” Agni hampir melemparkan bola bening itu pada pemiliknya. Tapi si pangeran mencegah.

“Tu.. tunggu!… jangan dilempar. Bola itu sangat berharga, aku tidak mau kalau bola itu jatuh dan pecah” serunya.

‘Hm… kalo gitu aku harus menyerahkan padanya secara langsung’ pikir Agni. Agni pun berdiri dan melangkah ke tempat pangeran itu duduk. Tapi di tengah jalan rok nya tersangkut pada salah satu kaki kursi. Ia langsung menarik bajunya agar terlepas dari kaki kursi itu.

“Hm… eh!” rok Agni terlepas. Ia berjalan kembali. Tapi tanpa ia sadari ada 3 orang putri yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia pun menabrak putri-putri itu.

Bruk!

“Hei!!.. kalau jalan liat-liat!!” salah satu putri yang tertabrak olehnya membentak kesal dan mendorong Agni ke samping. Untungnya Agni bisa berpegangan pada kursi kosong di sebelahnya, tapi bola bening milik pangeran tadi jadi terlepas dari genggamannya.

“Hah? Bolanya!..”

“Hap”

Agni terkejut. Ia kira bola itu akan jatuh membentur lantai dengan keras dan pecah berkeping-keping. Tapi ada seseorang yang menangkap bola itu saat jaraknya tinggal 10 cm dari lantai.

“Ini..”

Agni menengadahkan kepalanya, menatap seseorang yang tadi menangkap bola bening itu. Seorang gadis, dengan baju terusan merah tua, rambut hitam panjang yang terikat di atas kepala, dan sorot mata yang begitu tenang. Siyenna.

“Eh..” Agni masih tidak tau harus berkata apa. Ia mengambil bola bening itu kembali dan berdiri dengan tegap.

“Hati-hati jika berada di dekat 3 putri awan. Mereka tidak terlalu ramah pada orang asing” ucap Siyenna tenang. Ia tersenyum ramah dan berlalu melewati Agni. Padahal Agni baru mau berkata ‘terimakasih’.

Agni langsung saja cepat-cepat berjalan ke pangeran pemilik bola bening. Mengurangi kesempatan kalau bolanya akan jatuh kembali.

Sementara itu Siyenna dan Sion memperhatikan dari jauh.

“Tidak biasanya Siyenna lembut..” ujar Sion dengan lirikan iseng.

*Gemplannng!..*

“Jadi kau bilang aku kasar?” balas Siyenna sambil memberikan pukulan nampan untuk Sion.

“Ah!!.. Sakit, Siyenna!” seru Sion.

“Salah sendiri..” balas Siyenna lagi.

“Hei, memang memukul tuanmu tidak kasar?” tanya Sion.

“Aku kan hanya kasar kalau orangnya menyebalkan” Siyenna mengelak lagi.

“Siy, aku ini tuanmu”

“Hm.. aku tidak pernah mengakui telah dimiliki oleh siapapun. Tidak ada yang berkuasa penuh atas diriku selain aku”

“Yah… sudahlah. Setidaknya hari-hari tidak akan membosankan dengan adanya kau di sini”

“Aku mau ke balkon”

“Hm?” Sion bertanya meyakinkan. Ia rasa pendengarannya mungkin sedang salah.

“Ada janji dengan pelayan pribadi putri animalia” kata Siyenna sambil mulai beranjak dari sisi Sion.

“Hei!… pelayannya cowok kan?… kalian mau ngapain?” tanya Sion serius.

“Pfh.. tidak usah seserius itu. Posisimu di hatiku belum terganti kok” goda Siyenna dari jauh.

Sion langsung cemberut. Walau bagi dirinya itu melegakan juga. “Tapi tunggu…” Sion terdiam untuk sesaat. “’Belum’ katanya?..”

“Patton,..” panggil Agni setelah ia duduk nyaman di kursinya. “Kalau 3 putri yang sedang berjalan itu siapa? Tau tidak?”

Patton melihat ke sekitar dan ia pun menemukan 3 putri yang Agni maksud.

“Oh.. itu… mereka Sivia, Shilla, dan Angel. Mereka putri awan” kata Patton sambil tersenyum.

“Kelihatannya tidak ramah..” ucap Agni dengan nada mengeluh. Dagunya pun ikut ditopang pada telapak tangannya.

“Ha ha… memang tidak” balas Patton layaknya memaklumi tindakan Agni.

“Maksudnya putri awan apa?” tanya Oik.

“3 putri itu berasal dari kerajaan langit. Dekat dengan kerajaanku” ucap Patton.

“Kerajaan langit?” Oik masih belum sepenuhnya mengerti.

“Kerajaan langit.. kalian tau kan? Tanya Zevana, ia pasti tau” kata Patton sambil menunjuk ke Zevana. Zevana langsung mengangguk sambil tersenyum ke Patton lalu ke Oik.

“Oh!..” dan Oik pun ingat saat-saat di perpustakaan tadi sore. “Maksudnya Skyrea ya?”

“Ya. Mereka memang jarang datang ke acara pertemuan seperti ini. Dan seperti awan kumulus, mereka kadang bisa menyengat perasaan orang seperti petir-petir di awan kumulus itu”

“Tubuh mereka juga agak gemuk, kayak awan kumulus.. empuk.. he he..” canda irsyad.

“Ya… tampang fisik itu juga bisa masuk ke dalam perumpamaan” balas Patton sambil tersenyum jail.

Teng… teng… teng…

Jam menunjukan pukul 6 sore. 15 menit lagi waktu makan malam akan dimulai. Semua putri dan pangeran terdiam saat menyaksikan para minister dan para professor memasuki ruangan dan duduk di Meja besar yang letaknya di sisi utara ruangan. Pijakan di daerah sana lebih tinggi dari lantai ruangan, jadi semua putri dan pangeran dapat melihat para minister dan professor dengan jelas.

“Eh, itu kan orang yang menangkapku di hutan terlarang tadi..” bisik Cakka ke Agni.

Agni memperhatikan sosok yang disebut Cakka dari belakang. Tubuhnya tinggi besar, memakai jubah hitam dan kulitnya bersisik dibeberapa bagian.

“Patton, itu siapa?” tanya Agni sambil menunjuk ke sosok yang disebut oleh Cakka tadi.

“Itu…kalau tidak salah dia minister Syltha. Dia jarang terlihat. Lebih sering bekerja di tempat persembunyiannya” jelas Patton.

*Ting ting ting…*

“Perhatian semuanya. Waktu makan malam akan dimulai sebentar lagi. Sebelum kalian semua dibolehkan memakan santapan. Kami mohon untuk mendengarkan sedikit pengumuman dari kepala minister” ucap seorang professor wanita yang sudah lumayan tua. Mempersilahkan sang ketua minister berdiri di podium utama.

Semua orang yang ada di ruangan itu diam memperhatkan sang ketua Minister. Membuktikan charisma nya yang begitu besar. Ia adalah seorang laki-laki berumur kira-kira 24 tahun dengan tattoo segitiga di dahinya, tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan rambut hitamnya panjang terurai sampai punggung.

“Para putri dan putra mahkota semuanya. Aku Alltar Monarchi, ketua minister di sini” ucapnya.

“Wah.. muda ya..” ujar Obiet.

“Zaman seperti ini orang muda memang memimpin, Biet..” balas Irsyad iseng.

“Sekarang aku akan menjelaskan sedikit tentang sistem pengajaran di sini. Kami para minister memutuskan untuk membagi jenis pelajaran yang ada menjadi 2, yaitu pengetahuan umum dan keahlian khusus. Seperti yang kalian tau, kelas pengetahuan umum akan mencangkup imlu geografi, alam, sosial, bahasa, sejarah, dan pengetahuan dasar lain yang setiap anak wajib ketahui. Sedangkan kelas keahlian khusus akan mengajarkan pelajaran tambahan lain diluar mata pelajaran kelas pengetahuan umum. bagi para pangeran kelas ini akan mengambil tempat belajar lebih banyak di luar bangunan istana. Seperti berkuda, memanah, bertarung, dan sebagainya untuk para pangeran. Sementara para putri akan diajarkan memasak, pengobatan, menyulam, dan kegiatan lain yang dapat meningkatkan keterampilan kalian.”

“Eh..” Agni bergumam sebentar. Tangannya mengepal seperti menahan sesuatu di dirinya.

“Kenapa, Ag?” tanya Debo.

“Eh, boleh nanya nggak sih?” Agni balas bertanya.

“Kalo lagi pengumuman gini mending diem aja..” usul Patton. “Mau nanya apa?” ucap Patton lagi dengan suara dikecilkan.

“Aku males kalo harus nyulam sama masak doang… boleh gak sih tuker pelajaran. Jadi aku ikut pelajarannya pangeran-pangeran.”

*Sank!*

“Hah!” Agni dan Patton terkejut bukan main. ada garpu tajam kecil yang tiba-tiba saja menancap di depan mereka.

“Kalian berdua!.. diam kalau minister sedang berbicara!” seru salah satu minister yang tadi melempar garpu itu.

Agni dan Patton langsung diam. Mereka tidak berani berbicara lagi.

“..Dan bertukar pelajaran antara putri dan pangeran…” sang ketua minister memulai dengan permasalahan yang diucapkan oleh Agni. “…tidak dibolehkan.”

“Ugh!..” Agni langsung loyo. Dengan refleksnya kepalanya langsung jatuh ke meja.

Sang ketua minister pun melanjutkan. “Selain itu, ada juga kelas tambahan khusus yang diikuti oleh pangeran maupun putri yaitu kelas ramuan dan kelas pengasahan bakat. Di kelas ramuan kalian akan belajar tentang berbagai jenis ramuan dan cara membuatnya, sedangkan di kelas pengasahan bakat, kalian dibimbing untuk mengasah bakat terpendam yang ada, yang masing-masing ras-nya juga berbeda”

Sang ketua minister terus menjelaskan sistem-sistem pengajaran yang akan dilaksanakan nanti. Semua putri dan pangeran di sana kelihatan serius memperhatikan. Namun berbeda dengan yang lainnya, bukannya menaruh seluruh perhatian pada kata-kata ketua minister, Irsyad malah asyik membaca pikiran teman-temannya. Itu juga disebabkan oleh ucapan ketua minister yang mengatakan sesuatu tentang bakat terpendam. Ia kan sudah lumayan mengetahui tentang bakat terpendamnya. Terlintas di pikiran Irsyad untuk membaca apa yang ada di pikiran 3 putri awan yang duduk di meja panjang ke-4. Irsyad pun mengambil segelas air dan meminumnya perlahan. Padahal ia hanya ingin agar tindakannya itu tidak terlihat.

‘waah… kira-kira kelas merias ada nggak ya?..’

“Hmpphf!..” Irsyad langsung keselek mendengar itu. Maklum, dia kan bukan cewek. Bagaimana kalau nanti memang ada kelas merias?. Air yang ia minum muncrat setengahnya. Untung tidak terlalu banyak dan para minister tidak menyadari itu. Walau ada sih korbannya. Oik yang duduk di depannya langsung cemberut berat karena bajunya jadi basah.

“Maaf..” Irsyad langsung saja menaruh gelas itu dan menepukan ke-2 telapak tangannya di depan mukanya.

“…Dan yang terpenting adalah, kalian tidak boleh melanggar aturan yang telah kami buat pada hari kemarin di rapat minister” ucap ketua minister.

“Aturan?… aku harap aturannya tidak banyak” kata Patton dalam hati.

“Nah… hal terakhir yang akan aku sampaikan adalah… tentang orang-orang yang akan menjadi pengajar kalian di pengajaran khusus ini” ketua minister terus menjelaskan. “Professor pertama adalah Professor Degor” katanya sambil menatap Professor Degor dengan penuh hormat.

Professor Degor pun berdiri dan pada saat itu juga Oik dan Agni langsung merasa lebih semangat. Professor Degor kelihatan berwibawa di sana.

“Professor Degor akan mengajarkan kalian di kelas geografi” ketua minister melanjutkan. “Yang kedua adalah Professor Winda. Dia akan mengajar di kelas pengasahan bakat”

Dan seorang wanita berparas cantik dan anggun pun berdiri dari kursi meja makan professor serta minister.

“Nah, itu dia professor ku” bisik Obiet ke teman-temannya.

Professor Winda memang kelihatan sangat ramah. Pasti dia bukan seseorang yang akan dipanggil guru killer di pengajaran itu. Tampangnya berbalik  dengan seorang minister disebelahnya. Manusia setengah ular yang tadi siang menangkap Cakka.

“Nah, ini adalah Minister Syltha yang juga menjabat sebagai Professor. Dia akan mengajarkan para pangeran di kelas bertarung” jelas ketua Minister.

“Ah.. bagaimana bisa?… minister brutal itu?.. menjadi pengajar?… dapat bagian mengajar pangeran pula..” keluh Cakka.

“Tenang saja, walau tampangnya seram begitu… aku dengar ia tidak terlalu keras dalam mengajar kok” bisik Patton.

Sang ketua minister terus mengenalkan para pengajar-pengajar di sana. kira-kira ada 6 pengajar lain yang dikenalkan pada para putri dan pangeran kingdom of dream. Setelah itu pengumuman di akhiri dan semua diperbolehkan untuk menyantap makan malamnya. Tapi sebelum itu, salah satu minister yang tadi melemparkan garpunya ke depan Patton dan Agni meminta semua pangeran dan putri menyerahkan bet pesta teh mereka kepada petugas istana yang sudah dikerahkan oleh minister itu. Semua tidak keberatan, lagi pula 1 jam sebelumnya para putri dan pangeran juga telah diberitahu untuk membawa bet pesta teh mereka. Tapi masalahnya, Cakka tidak memiliki bet pesta teh apapun. Dan ia pun harus terpaksa dibawa ke ruang peristirahatan minister di sebelah ruang makan.

“Siapa kau! Katakan dengan jujur! aku tau kau utusan dari kegelapan!” bentak minister yang menangkap Cakka.

“Bukan!..” bantah Cakka.

“Jangan bohong!”

“Aku tidak tau apa itu kegelapan!… sama sekali tidak tau!”

“Bohong!” Minister itu membentak tanpa ampun. Ia mengangkat tangannya keatas dan mengayunkan tangannya ke leher Cakka.

“Heina!.. biarkanlah dia menjelaskan semuanya dulu..” Professor Winda mencegah Minister itu memukul leher Cakka.

Minister Heina yang masih marah terus mencengkram tubuh Cakka. Muka Cakka mengkerut, cengkraman itu sangat kuat. Namun 3 detik kemudian keuatan cengkraman Heina berangsur hilang. Ia mundur dan Cakka bisa melihat kakinya yang berbulu seperti elang. Cakka pun mengerti kenapa cengkraman minister Heina sangat kuat. Ia adalah manusia setengah elang.

“Nak,..” Minister Syltha menatap Cakka dingin. asap putih dari pipa coklatnya (kayak rokok) mengepul pelan dari mulutnya. “Dari mana kau berasal?”

“Aku… dari…” Cakka bingung harus menjawab apa. kalau ia jawab Catiophia, mungkin para minister dan professor disana akan menyangka ia berbohong. Karena Catiophia saja sudah punah. Professor Winda menatapnya penuh iba. Jika Cakka tidak bisa menjawab apapun, maka ia tidak dapat menolongnya sekali lagi. “Catiophia…”

“Catiophia?!.. yang benar saja!.. negara itu sudah punah sejak dulu!” bentak minister Heina.

“Tidak.” minister Syltha masih berdiri dengan tenang. “anak ini mungkin utusan terakhir Catiophia. benar bukan?” tanyanya pada Cakka.

“Eh.. iya” Cakka mengangguk cepat. Ia tidak tau apa yang ia lakukan benar atau salah. Yang pasti tubuhnya gemetaran saat itu.

“Jika ia utusan terakhir..” ucap Syltha. “Maka kau tau apa artinya..” Syltha melirik tajam pada Winda dan Heina. Seperti mengirimkan suatu pesan lewat mata. Heina tidak bereaksi, tapi Winda.. akhirnya ia tau maksud Syltha.

“Hh’!.. jangan bilang… ramalan itu..”

“Ya.” Alltar muncul dari balik pintu. “Jika dia memang utusan terakhir Catiophia… maka kemungkinan besar keberuntungan berada di pihak kita..” Ia berjalan mendekati Cakka, lalu menepuk-nepuk rambutnya. “Cakka, kan?”

“Ya” jawab Cakka gugup.

“Kembalilah ke teman-temanmu. Makanlah sebanyak-banyaknya. Besok kemungkinan akan sangat melelahkan.”

Cakka pun kembali ke tempatnya makan tadi. Dan pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang semua itu. “Ramalan?… apa maksudnya?”

3 jam kemudian..

Agni, Oik dan Zevana masuk ke dalam kamar mereka. Lalu hal yang pertama Agni lakukan adalah menghempaskan tubuh di kasurnya. Oik mengaca di pantulan air kolam. Ia rasa ia tidak akan perlu meja berkaca lagi. Sementara Zevana, ia mengeluh habis-habisan.

“Tidak bisa dipercaya!.. apa ini?!” keluh Zevana sambil memegang sebuah surat kecil di meja kecil kamar.

“..’Para putri dan pangeran di istana hanya dibolehkan makan di waktu-waktu makan yang telah ditentukan. Dan hanya boleh di ruang makan. Para putri dan pangeran hanya dibolehkan memakan makanan buatan istana animalia. Itu artinya tidak ada cemilan pada waktu-waktu diluar jam makan. Ini semua untuk menjamin keselamatan semua putri dan pangeran kingdom of dream. Mohon dimengerti. Rio, kepala pelayan dapur’?!… Nggak adil!!” keluh Zevana lagi. Ia meremas-remas kertas surat dari Rio setelah selesai membacanya. Lalu membuang kertas itu ke lantai.

Bek Bek Bek! Zevana menginjak-nginjak kertas itu dengan penuh perasaan kesal.

*Ting ting*

Terdengar suara bel kamar dibunyikan. Oik membuka pintu kamar dan menemukan satu buah surat di depan kamar.

“Ini untuk Zevana!” seru Oik sambil membolak-balik sampul suratnya, mencari-cari nama pengirimnya. “Eh… pengirimnya nggak dicantumin” lanjutnya sambil menggaruk-garuk kepala.

“Berikan padaku!” seru Zevana dengan mood yang masih tidak stabil.

Oik memberikan surat itu pada Zevana dan membiarkan Zevana membuka suratnya sendiri.

“Dari Rio lagi?!” kata Zevana hampir meledak. “..’sekali lagi maaf jika hal ini membuat putri kesal. Tapi ini memang sudah jadi aturan pengajarannya. Lagi pula, professor anda juga berkata. Hal ini dapat digunakan untuk kesempatan diet putri.’..” ucap Zevana membacakan isi surat Rio. “Apa?!!.. Diet?!.. Diet katanya?!… coba lihat diriku!.. apa aku gendut?!..” seru Zevana tidak terima.

Oik dan Agni diam menatap Zevana dengan pandangan takut.

“Ah! sudahlah! liat saja! aku pasti bisa melanggar aturan ini. Aku masih punya persediaan makanan yang banyak di tas ku. Aku akan melaporkan hal ini pada professor. Pasti ada yang tidak beres dengan pelayanan konsumsi di sini” Zevana berbicara pada dirinya sendiri. Ia mengambil alat komunikasi di tasnya dan menghubungi sang professor.

Oik menghampiri Agni, ikut duduk di kasur Agni. “Hei, menurutmu mungkin nggak Rio berbuat seperti itu?” tanya Oik.

“Enggak” jawab Agni pasti. “Itu pasti karena aturannya yang memang ketat. Lihat… aku juga dapat surat pemberitahuan” kata Agni memperlihatkan surat yang ia dapat.

..

Berikut uraian peraturan selama pengajaran:

- Bangun dan tidur harus tepat pada waktunya.

- Selama pelajaran dilarang keluar dari tempat belajar

- Tidak boleh makan sembarangan. Hanya dibolehkan memakan makanan dari dapur istana

- Makan hanya pada jam tertentu

- Dilarang keluar pada waktu malam hari

- Dilarang memasuki perpustakaan barat istana

…<dst.>

..

“Ah.. membosankan..” keluh Agni.

Oik mengangguk setuju. Ia bangun dari kasur Agni dan mencoba berbaring di kasurnya sendiri. *Sekk..sek..* “Hei, apa ini?” Oik merasakan sesuatu mengganggu bagian punggungnya. Ia bangun dan menemukan sebuah surat di atas kasurnya. Oik pun membuka surat itu dan membaca isinya keras-keras.

“Jadwal pelajaran untuk besok ada di peti besar di kamar kalian. Disertai juga dengan buku-buku dan peralatan yang mungkin akan dibutuhkan besok. Semoga tidak akan ada keluhan dihati putri/pangeran. Terimakasih. Kepala pengajar..”

“Oh.. jadi tinggal ngambil di peti?” tanya Agni.

“Ya” Oik menjawab dengan singkat.

“Ya sudah. Aku mau tidur saja. Sudah ngantuk… Hoaaam..”

“Ya.. aku juga. Zeva, tidak tidur?” kata Oik memanggil Zevana yang masih serius di alat komunikasinya.

“Aku tidur belakangan. kalian duluan saja..” kata Zevana.

“Oke.” Oik mengangguk dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. “Hoaam.. semoga besok bisa lebih menyenangkan”

Di balkon..

“Oh ya, sebelum kau pergi… Deva bilang tadi kau membantu putri Agni..” kata Alvin. Menunggu penjelasan sebenarnya dari mulut Siyenna.

“Oh… iya. Tapi hanya sedikit kok” balas Siyenna.

“Boleh aku tau alasannya kenapa?” tanya Alvin.

Siyenna mengangguk pelan. “..20 % karena aku memang tidak suka putri-putri awan itu.. dan 80%… karena aku menganggap putri Agni-mu itu spesial..”

“Spesial?” tanya Alvin lagi. Ia belum mengerti.

“Hm… bagaimana menjelaskannya ya?” ujar Siyenna bingung. “… mm.. Agni terlibat di salah satu peristiwa penting bagi salah satu pangeranku”

“Ah?”

“Ah.. sudahlah. Lupakan… kau memang tidak seharusnya tau kok. Sudah dulu ya.. daah…”

Malam sudah semakin larut. Lampu-lampu istana sudah hampir dimatikan seluruhnya. Siyenna dan Sion masih berjalan di salah satu lorong istana. Sinar bulan dan bintang di langit malam terpancar jelas dari balik kaca jendela. Mereka menikmati itu sepenuhnya.

Mereka menuju ke kamar Sion. Ia memang mempunyai aturan sendiri untuk pelayan pribadinya. Ia sudah menyiapkan kamar tersembunyi di dalam dinding kamarnya. Dan di setiap malam, Siyenna tidak akan tidur di tempat para pelayan pribadi tidur, melainkan di kamar yang sudah disiapkan Sion itu. Membuat tempat tersembunyi, itu adalah keahlian Sion. Dan keahliannya itu sudah sangat sering membantunya dalam hidup ini.

“Ugh… makan malam tadi mengecewakan..” keluh Sion. “Tadinya aku sudah semangat dengan menu makan malamnya. Daging segar!.. tapi aku lupa.. maksud daging segar di sini kan daging yang sudah bersih, bukan daging yang masih penuh darah” lanjut Sion mengutarakan ketidakpuasannya. “Aku masih lapar…”

Siyenna juga masih diam. Dari pertama mereka memasuki lorong, ia belum mengeluarkan sepatah kata pun.

“Jadi… apa yang kau bicarakan dengan si pelayan pribadi di balkon?” tanya Sion memulai pembicaraan.

“Hm?… Oh.. Alvin?” tanya Siyenna balik.

“Ya” jawab Sion.

Siyenna menunduk sedikit. Seperti ada sesuatu perasaan yang mengganggunya barusan. “Bukan hal penting bagimu kok. Dia hanya penasaran dengan motif tattoo di pergelangan tanganku. Sepertinya ia sadar akan tattoo itu saat aku sedang mencuci tangan di dapur”

“Memang ada apa dengan tattoo itu?” tanya Sion berbasa-basi.

“Katanya… orang tuanya dibunuh oleh seseorang dengan tattoo yang sama denganku..” Siyenna menyembunyikan raut wajahnya. Perasaannya bimbang.

“Tattoo itu,… turun temurun dari keluarga kan?” tanya Sion lagi.

“Ya..”

“Jadi maksudnya… salah satu dari keluargamu pernah membunuh orang tua pelayan itu?”

“Tidak tau…” Siyenna menghela nafas pelan. “Lagi pula… aku belum benar-benar melihat seperti apa orang tua ataupun kakek nenekku. Mereka hanya bilang aku keluarga ventaurie… ditakdirkan untuk menjaga nama kerajaan vampire. Apa-apaan itu?… aku tidak pernah sepenuhnya setuju..”

“Hei,… maaf… kalau aku memang menyebalkan…” ucap Sion jujur dari hati.

“Hm?…” Siyenna agak tidak percaya. Tidak biasanya tuannya berkata gentle seperti itu.

“Em.. malam ini.. kau boleh melakukan apapun yang kau mau” ucap Sion sungguh-sungguh. Walau agak berat mengatakannya. Karena sifat Sion sebenarnya memang tidak seperti ini. Tapi ia memang sedikit tersentuh oleh perkataan Siyenna. Entah kenapa, ada satu bagian dari hati Sion yang merasa bersalah.

“Ha?… ha ha!.. jangan terharu seperti itu.” Ucap Siyenna sambil tertawa kecil. Ia menepuk-nepuk pundak Sion yang raut mukanya tidak seenergik biasannya. “Sebenarnya aku juga kadang bosan kalau kau tidak menyebalkan. Dan karena makan malam hari ini tidak memuaskan… malam ini aku akan membiarkanmu meminum darahku”

“Hah?! Benarkah?!..” tanya Sion tidak percaya. Mungkin malam itu akan jadi malam yang paling nikmat dalam hidupnya.

“Ya..”

“Yes!..”

Sion dan Siyenna pun melanjutkan langkah mereka dengan senyum riang. Vampire memang seperti itu. Masa paling aktifnya pada malam hari. Tapi meminum darah sesama Vampire sebenarnya tidak akan benar-benar memuaskan kehausan mereka. Lalu kenapa Sion mau meminum darah Siyenna? Itu karena, walau Siyenna berasal dari negara vampire, ia bukan seorang vampire.

“Oh iya, satu hal sebelum kau meminum darahku..” ucap Siyenna pada Sion. “Jangan minum banyak-banyak. Sisakan untuk adikmu… pasti ia juga lapar”

Krik krik…

“Degor, sudah ku kira hal ini akan terjadi. Di malam pertama, sudah ada putri dan pangeran yang mengeluh tentang aturan di malam hari” ucap professor Dema khawatir.

“Lalu.. siapa saja mereka?”

“Para binatang malam tentunya. Beberapa binatang yang lebih aktif di malam hari, dan termasuk didalamnya putri didik ku Tigerlily”

Professor Degor hanya diam membisu. Memandang langit malam bintangnya mulai hilang.

“Jadi… apa yang harus kita lakukan?”

“Tak ada satupun” professor Degor menjawab. “Jika kita ingin para putri dan putra makhota itu tetap aman, mereka harus mematuhi aturannya. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Selama kegelapan masih ada di tempat ini, kita tidak boleh membiarkan satupun dari putri dan putra mahkota keluar dari batas perisai istana. Atau mereka akan ditelan oleh kegelapan”

And the 11th part stop here… To be continued to the next part.

Thank you for reading. Terimakasih telah membaca. Terus tunggu lanjutannya. Aku harap semuanya puas membaca ini. Terus sabar menunggu part selanjutnya yah.

Bonus picture is now here.

ify's tattoo

ify's tattoo

Click to make it larger

Terimakasih… ^_^

SIB masa depan musik Indonesia!

Lihat sekali lagi judul di atas. Sepertinya kalimat itu memang sangat mencerminkan existensi Super Idola Band sekarang. Dengan makin seringnya mereka tampil di acara-acara bergengsi, mereka pun makin menjadi masa depan musik Indonesia.

x2_1902be4

super idola band di dahsyat RCTI

Alumni-alumni idola cilik memang hebat-hebat. Super super!!. Bahkan, minggu kemarin mereka telah menampilkan performance yang menjanjikan di acara bergengsi AMI Award alias Anugerah Musik Indonesia.

x2_199465c

SIB di Kemilau Mandiri

SIB di undang untuk menjadi penghibur-penghibur pemirsa, bahkan salah satu lagu dari vokalis Super Idola Band ini, yaitu Debo,  masuk nominasi lagu anak-anak terbaik. Dan alhamdulillah menang!! Padahal dinilainya oleh para juri loh. Hebat yah!

x2_1933873

SIB di AMI Awards

Di AMI, mereka bersama Angel, Shilla, Zahra, dan Sivia (bagian dari icil diva) menyanyikan lagu bintang dengan genre yang benar-benar berbeda. Angel, Shilla, Zahra, dan Sivia menyanyikan lagu bintang ini dengan alunan musik yang mellow, mendayu-dayu, di jamin bikin pingin tidur. Apalagi mereka berdiri di atas layar yang bergambar awan-awan putih di malam hari. Bagaikan bidadari-bidadari yang turun dari langit, menyanyikan lagu selamat tidur untuk kita secara accapela dengan perpaduan suara yang indah. Membawa kita berangan-angan sampai ke bintang.

Lalu setelah bait reff kedua berakhir, suasana menjadi heboh dengan hadirnya suara-suara gitar listrik dan bass dari personil-personil SIB. Mereka pake Baju baru loh!! He he… bajunya keren banget. Harajukunya keliatan banget. Nuansa Hitam merah yang sering dipakai oleh SIB. Agni, Cakka, Debo, Gabriel, Ify, Ray, Zevana, dan Alvin membangunkan para penonton yang baru saja terdiam mendengarkan senandung para diva. Oh ya!! sepertinya aku belum memberitahukan. SIB mendapatkan personil baru!! Siapakah dia?? Ini dia!!

alvin korean face

Alvin

Alvin, adalah personil SIB yang baru masuk kira-kira… setelah IC 3 berakhir. Dia adalah juara ke-3 dari Idola Cilik 3 dan itu membuatnya pantas untuk masuk ke kumpulan anak-anak super Idola Cilik. Tampangnya tampang korea, agak-agak jepang, yaa pokoknya maniiis aja. Nyocok banget sama konsep harajuku SIB. Suaranya jernih, ringan dan enak didengar. Dan ia juga berteman baik dengan Gabriel, salah satu personil dari SIB.

Alvin anak yang berbakat sekaligus beruntung. Ia menjadi juara 3 IC 3 padahal kenyataan sebenarnya ia tidak mau jadi penyanyi dan tidak berniat untuk masuk ke Idola Cilik. “Aku pinginnya jadi pemain sepak bola” Itu kata Alvin saat ditanya mau apa kalau IC 3 udah selesai. Berbeda sekali dengan jawaban ke-2 temannya yang sesama finalis top 3, Rio dan Lintar. Mereka tentu saja sangat berniat untuk jadi pemenang IC 3 dan menjadi penyanyi yang sukses.

Tadinya, gosip kalau Alvin akan masuk ke SIB sempat diperdebatkan oleh banyak pihak di ICL, di Superidolaband.ning.com, dll. Termasuk olehku. Kenapa?? Dia kan punya modal banyak. Tampang cakep, Suara juga bagus, Keren juga tuh. Iya sih… aku juga nge-fans kok sama Alvin. Tapi sejujurnya, pas denger Alvin bakal masuk ke SIB, aku kayak nggak yakin sama dia. Soalnya, aku nge-rasa kalau formasi di SIB itu udah pas banget. Mereka udah nyatu satu sama lain. Kalo misalnya Alvin masuk, aku takut nanti formasinya jadi agak terganggu dan berubah lagi. Dan yang paling bikin aku nggak yakin adalah aura alvin. Dulu, di 6 besar komentator pernah berkata kalau auranya dia suka kalah kalo lagi duet. Padahal waktu itu kan duet sama Cakka, gitaris di SIB. Nah, Gimana kalo auranya dibandingin sama vokalis di SIB, Gabriel dan Debo, kemungkinan besar kan akan kalah juga. Apalagi yang ini ngelawan 2  aura. Terus, kadang kan suara Alvin kurang stabil, dan suaranya mungkin kalah besar dengan suara Debo dan Gabriel yang kalau menyanyi dengan lantang pasti keras banget.

Tapi ternyata, setelah di berikan pembuktiannya, Alvin cocok kok perform bareng SIB. Dia cocok menjadi bagian dari SIB dan mejadi formasi dari SIB. Alvin! Aku bangga jadi Alvinoszta!! Aku juga merasa sejak Alvin masuk SIB, kayaknya kepercayaan dirinya jadi bertambah, dan Aksi panggungnya makin asik. Interaksi penontonnya jadi paling bagus diantara anak-anak IC 3 lainnya (itu menurutku). Wah… point plus buat Alvin tuh. RCTI khususnya crew Idola Cilik memang tau yang terbaik. Hikmah yang aku dapat dari sana, jangan menduga-duga yang jelek dulu sebelum ketahuan hasilnya.

Well… semoga dengan hadirnya Alvin di SIB, SIB jadi tambah eksis! (soalnya fansnya Alvin kan banyak. kompak-kompak lagi). Pokoknya kita harus saling menjaga hubungan persahabatan dan kekeluargaan kita. Seperti nama Fans Super Idola Band aja. SIBLink (sibling) yang artinya saudara.

Oke, post kali ini selesai sampai di sini saja. Semoga semuanya hidup bahagia dan sehat selalu. He he.. =P Bonus buat kamu : foto-foto alvin yang aku edit.

alvin on SIB

alvin on SIB

alvin in the center

alvin in the center

IMG_1406copy

Alvin lagi senyum

Click to make it larger — Thank you for visiting and… See ya!! ^_^

More my sets_all things icil

I have made a promise right?
to post some of my other sets that connected to icil (idola cilik)…
so I’m gonna post it right now.

some of them are for banners, and… well… just enjoy it^^ okay?

enjoy! ^-^

1. ……………………………………..

Ada Cinta (title)

"Ada Cinta (title)"

( Jadi… ini buat temen-temen, kakak-kakak, di icl, maupun di seluruh indonesia/dunia, makasih udah mau baca ceritaku… dan nabiilah juga, terimakasih udah mau bantuin aku kalo aku kebingungan cari kata-kata. dan juga kebingungan milih kata-kata yang bagus buat quote-nya. Ini untuk kalian semua… terimakasih…^^)

2. ……………………………………….

Anyer adventure

"Anyer adventure"

( Oke… tiba-tiba jadi ingat masa-masa lalu nih. Pas nulis cerita anyer adventure, ngebaca comment-comment dan kritiknya… ( termasuk juga buat “Ada Cinta” dan “Gapai Mimpimu Versi NaSa” ) itu semua adalah masa-masa yang paling menyenangkan ^^ )

—-

Nah… sekarang mulai tentang IC!

3. ………………………………………………….

ini buatSo3

banner So3 star

"banner So3 star"

( Aku akui…. aku kecewa…. kayaknya kualitas gambarnya menurun pas di snap sama acsesories window 7. “Lagi… bukannya pake paint..” untung yang benerannya masih ada di polyvore..)

4. …………………………………………..

Momiji girl of IC

"Momiji girl of IC"

( Coba tebak, siapa saja mereka??…
waktu itu, aku milih boneka buat cewek-cewek Ic 3-nya ngasal. Nyocok nggak yah sama anak-anak Ic 3 sebenernya??… )

5. ………………………………………….

So3 bg 2

"So3 bg 2"

( Ya… gitu aja… apa yang harus aku jelaskan lagi? Ini adalah banner yang kedua )

6. ………………………………………

So3 pitcure

So3 pitcure

( Yang ini iseng aja… set ketiga yang aku bikin… moga2 bagus deh.. )

7. …………………………………………

Cagni_uji kemampuan

"Cagni banner"

( Harusnya ini buat discus “Uji Kemampuan” Cagni school di cakkagnilovers. Tapi katanya nggak boleh pake photofunia.. eh… yang kayak gituan deh, aku bingung namanya. jadi aku takut nggak boleh pake site design di internet (misal: polyvore.  Tapi aku tetep buat… itu dia diatas ^^)

Nah… segitu dulu yah… sebenernya masih banyak yang mau aku bagi. tapi ya sudahlah… waktu harus memisahkan kita untuk saat ini…

Sampai jumpa lagi! ^-^