The Harmony of a Guitar. Secondhand serenade:your call
Siang ini aku sedikit merasa jenuh. Lagi-lagi guru yang harusnya mengajar, tidak hadir. Walau kelas sebenarnya ramai, tapi terasa tidak nyaman. Mungkin karena pengaruh Air Conditioner yang juga tidak bekeraja seperti seharusnya.
Hfft…
Aku menghela nafas panjang, menaruh kepalaku diatas kedua tangan yang sudah terlipat di atas meja. Kini aku sudah sukses menyelesaikan LKS PAI ku sampai kegiatan 31. Jadi… apa lagi yang harus kulakukan? Mengobrol ataupun saling ejek-ejekan dengan teman? Ngebicarain Justin Beiber?… hhh… I’m not in the mood…
…
*BRAK!*
“Weee… Ha ha ha!… Gitar! Gitar!…”
Dan saat itu juga wajahku mulai berkenan untuk tersenyum. Melihat para siswa laki-laki menyeruak masuk beriringan ke dalam kelas, membawa gitar akustik kesayangan sekolah. Dan itu berarti sedikit alunan musik ringan akan terdengar di sini. Ya… aku sangat menunggu alunan musik itu. Aku menunggu harmoninya. Sungguh hebat rasanya, alat musik se simple itu dapat mengeluarkan bunyi yang mendamaikan jiwa. Terlebih lagi alat musik itu selalu menghadirkan harmoni yang tak ada duanya.
“…Forever…”
Rafa, anak yang mengambil alih permainan gitar di sana terlihat senang menyanyikan lagu barat yang ia senandungkan.
Aku tau… Rafa bukan penyanyi yang baik. Terdengar nada-nada sumbang di beberapa bagian dan bagian-bagian itu banyak. Tapi mengenai penghayatan, mungkin boleh diacungi jempol. Kadang matanya menyipit dan terpejam saat menyanyikan nada-nada tinggi dan pelan.
Aku tidak terlalu tau mengenai hal musik. Tapi menurutku, gitar selalu menghadirkan kesan di setiap nada-nada dan harmoninya. Entah itu senang, tenang, liar, rapuh, sedih ataupun bahagia.
“Ya… aku suka gitar”
Dan saat gitar itu harus di tarik kembali dari tangan Rafa dan teman-temannya, harmoni yang sempat terdengar tadi masih terus terngiang di kepalaku.
Harmoni sebuah Gitar.
…
Secondhand Serenade
~Your Call~
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
No comments yet.